URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV ONLINE
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
MUKTAMAR RISYWAH? 
  Penulis: Pejuang Islam  [3/10/2021]
   
BELAJAR TAWADHU’ 
  Penulis: Pejuang Islam  [28/9/2021]
   
TUJUAN DUNIAWI 
  Penulis: Pejuang Islam  [27/9/2021]
   
DIALOG SEPUTAR KONTRADIKSI ISLAM NUSANTARA 
  Penulis: Pejuang Islam  [27/9/2021]
   
SIKAP KEPADA SANG GURU 
  Penulis: Pejuang Islam  [23/9/2021]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Sabtu, 23 Oktober 2021
Pukul:  
Online Sekarang: 1 users
Total Hari Ini: 27 users
Total Pengunjung: 5446428 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
MUKTAMAR RISYWAH? 
Penulis: Pejuang Islam [ 3/10/2021 ]
 
APA BENAR DI MUKTAMAR ADA RISYWAH?



Luthfi Bashori

Dunia politik uang (RISYWAH) dalam urusan mencari jabatan, saat ini cukup marak terjadi, baik untuk mencari jabatan di pemerintahan, atau di instansi-instansi pekerjaan, atau dalam dunia organisasi Islam pun tak ketinggalan marak pula terjadi.

Kabar burung hingga sampai ke telinga penulis, bahwa pada muktamar NU yang bakal digelar di Lampung tahun ini, juga ada isu tidak sedap, yaitu rawan terjadi praktek politik uang (suap menyuap), sebagaimana isu yang pernah terjadi pada muktamar Makassar berikut jejak digitalnya:
https://www.liputan6.com/news/read/269676/isu-politik-uang-beredar-di-muktamar-nu

Demikian juga pada muktamar Jombang, berikut jejak digitalnya:
https://news.detik.com/berita/d-2981123/gus-solah-menduga-ada-upaya-money-politic-di-muktamar-ke-33-nu

Saat ini pun beredar isu di kalangan tertentu, bahwa patut diduga adanya calon ketua umum, yang berusaha mempengaruhi atau bahkan sudah ada yang menggelontorkan sejumlah dana kepada calon para peserta muktamar.

Ada oknum diduga mendapat dana besar dari Yahudi Israel, yang akan dipergunakan membiayai pencalonan dirinya.

Ada pula dugaan oknum yang didukung oleh para pengusaha yang katanya disebut 9 Naga dan konglomerat China untuk membiayai pencalonannya.

Tak pelak persaingan ‘bos asuh’ ini pun terjadi, hingga isu-isu pun mencuat di kalangan sebagian warga nahdliyyin, bahwa calon A kini tengah berseteru dengan calon B, padahal semula mereka itu satu tim, namun karena diduga adanya sumber dana dan kepentingan yang berbeda, maka terjadi persaingan yang tidak sehat.

Siapakah pihak yang sangat potensi ikut berdosa ‘memakan’ uang sogokan muktamar tersebut?

Jika isu-isu tak sedap ini benar-benar terbukti, tentunya para calon pemilih yang tidak memiliki sifat amanah dan wara’ dalam mengemban kewajiban berorganisasi sangat rawan terlibat.


Calon pemilih yang tidak dapat memilah mana dana yang halal dan mana yang haram. Atau calon pemilih yang mudah dirayu oleh setan, hingga tidak memiliki rasa takut ancaman siksa akhirat, adalah potensial ikut merusak marwah organisasi.

Risywah (suap menyuap) itu tidak akan berlaku, jika para pemilih itu tahu dasar hukum secara syariat Islam, tentunya tidak ada satu pun dari oknum pemilih yang mau menerima uang suap nantinya.


Karena Rasulullah SAW pernah bersabda: “Ada tiga perkara, barang siapa ketiganya berada dalam dirinya, ia pasti mendapat pahala dan keimanan yang sempurna, yaitu: akhlak baik yang disandangnya dalam kehidupan bermasyarakat; sifat wara’ (berhati-hati) yang mencegahnya dari hal-hal yang diharamkan Allah SWT; dan sifat penyantun yang membuatnya memaafkan kebodohan orang yang jail terhadap dirinya.” HR. Al-Bazzar melalui Sayyidina Anas RA

Wara’ yang dimaksud adalah sifat menjauhkan diri dari hal-hal yang syubhat (hukumnya samar-samar), apalagi terhadap hal-hal yang diharamkan oleh Allah.

Padahal urusan suap menyuap itu sangat jelas sekali diharamkan dalam syariat, sebagaimana ketika Rasulullah SAW bersabda: "Yang menyuap dan yang disuap itu akan masuk neraka." (HR. Imam Ath-Thabrani).

   
 Isikan Komentar Anda
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
 
 
 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2009-2021 Oleh Pejuang Islam