URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV ONLINE
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
MUKTAMAR RISYWAH? 
  Penulis: Pejuang Islam  [3/10/2021]
   
BELAJAR TAWADHU’ 
  Penulis: Pejuang Islam  [28/9/2021]
   
TUJUAN DUNIAWI 
  Penulis: Pejuang Islam  [27/9/2021]
   
DIALOG SEPUTAR KONTRADIKSI ISLAM NUSANTARA 
  Penulis: Pejuang Islam  [27/9/2021]
   
SIKAP KEPADA SANG GURU 
  Penulis: Pejuang Islam  [23/9/2021]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Sabtu, 23 Oktober 2021
Pukul:  
Online Sekarang: 1 users
Total Hari Ini: 19 users
Total Pengunjung: 5446417 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
BELAJAR TAWADHU’ 
Penulis: Pejuang Islam [ 28/9/2021 ]
 
BELAJAR TAWADHU’

Luthfi Bashori


Tawadhu’ diartikan juga sebagai sikap rendah hati. Secara bahasa, arti tawadhu’ adalah ketundukan dan rendah hati. Asal katanya dari Tawaadha`atil ardhu yang berarti tanah itu lebih rendah daripada tanah di sekelilingnya.

Memiliki sifat tawadhu’ berarti merasa dirinya sebagai orang biasa, sekalipun memiliki banyak kelebihan. Dengan sifat tawadhu’ maka senantiasa akan merendahkahkan diri kepada Allah dan tidak berbuat semena-mena, atau tidak memandang remeh terhadap sesama.

Tawaddhu’ itu sangatlah mulia, bahkan memiliki keistimewaan yang laur biasa, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW:

“Rendah hati itu tidak menambah kepada seorang hamba kecuali pengangkatan derajat, karena itu berendah-hatilah kalian, niscaya Allah akan mengangkat derajat kalian. Memaafkan tidaklah menambah kepada seorang hamba kecuali kemuliaan, karena itu perbanyaklah pemberian maaf kalian niscaya Allah akan memuliakan kalian. Tiadalah sedekah itu melainkan makin menambah banyak harta, karena itu bersedekahlah kalian, niscaya Allah merahmati kalian.” (HR. Imam Ibnu Abid dun-ya).

Barang siapa yang bertawadhu’ karena Allah, niscaya Allah akan mengangkat kedudukannya, dan barang siapa yang memaafkan karena Allah, niscaya Allah akan memuliakannya, dan barang siapa yang bersedekah karena Allah, niscaya Allah akan memperbanyak hartanya.

Di antara tata cara bertawadhu’ kepada Allah, adalah dengan memperbanyak ibadah kepada-Nya. Orang yang rajin beribadah, baik ibadah yang wajib maupun yang sunnah, berarti ia rajin menghambakan-diri kepada Allah, di sinilah letak makna ketawadhu’an kepada Allah.

Rasulullah SAW menggambarkan bagaimana pentingnya agar setiap orang itu, harus bersegera apabila berurusan dengan ibadah kepada Allah.

“Pelan-pelan dalam segala sesuatu itu adalah hal yang baik, terkecuali dalam amal akhirat.” (HR. Imam Abu Daud).

Maksudnya, bersikap tenang atau perlahan-lahan dalam segala urusan itu merupakan hal yang baik karena sifat ini berasal dari Allah. Kecuali dalam urusan beribadah kepada Allah, demi mempersiapkan urusan akhirat, maka harus dilakukan dengan segera dan tidak boleh ditunda-tunda.

   
 Isikan Komentar Anda
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
 
 
 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2009-2021 Oleh Pejuang Islam