URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV ONLINE
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
PENEGAKAN SUPREMASI HUKUM ISLAM  
  Penulis: Pejuang Islam  [18/11/2021]
   
MEMBEBASKAN UTANG SI MISKIN 
  Penulis: Pejuang Islam  [17/11/2021]
   
PERLUKAH BERKHALWAT? 
  Penulis: Pejuang Islam  [14/11/2021]
   
BERILAH NAMA TERBAIK UNTUK ANAK KALIAN ! 
  Penulis: Pejuang Islam  [13/11/2021]
   
BERKHIDMAT KEPADA UMAT 
  Penulis: Pejuang Islam  [19/10/2021]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Senin, 29 November 2021
Pukul:  
Online Sekarang: 3 users
Total Hari Ini: 279 users
Total Pengunjung: 5476832 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
WAHAI KAUM WAHHABI, AYO ... ! 
Penulis: Pejuang Islam [ 5/9/2016 ]
 
WAHAI KAUM WAHHABI, AYO ... !


Luthfi Bashori


*Anda tidak suka ziarah kubur? Itu maklum, karena anda tidak senang kepada Nabi SAW yang memerintahkan : Kuntu nahaitukum `an ziyaaratil qubuuri, alaa fazuuruuha (dulu aku melarang kalian berziarah kubur, tetapi kini berziarah kuburlah. HR. Muslim)

Berziarah kubur ternyata bukan amalan yang baru dilaksanakan oleh umat Islam dewasa ini.

 Tetapi ziarah kubur sudah diperintahkan oleh Nabi SAW, tentunya di saat beliau SAW masih hidup berdampingan dengan para shahabat.

Karena itu banyak riwayat hadits yang menerangkan betapa dianjurkannya ummat Islam untuk menziarahi kuburan sesama muslim.
 
Baik itu kuburan para kerabat, handai taulan, tetangga dan teman, apalagi berziarah ke makam Nabi SAW dan para shalihin, tentu lebih sangat dianjurkan oleh syariat. Karena berziarah kubur dengan mendoakan mayyit yang berada di dalam kuburan itu, dapat mengingatkan seseorang agar selalu ingat kehidupan akheratnya kelak.

 * Anda tidak senang membaca shalawat dan pujian kepada Nabi SAW? Ya sangat dimaklumi, karena anda tidak senang kepada Nabi SAW dan anda tidak pernah tahu sejarah bagaimana para penyair di kalangan shahabat semisal Hassan bin Tsabit saat mengubah syair-syair pujian kepada Nabi SAW dengan bahasa-bahasa yang indah sebagai makna shalawat kepada Nabi SAW.



Sejarah juga mencatat, bahwa Nabi SAW menyenangi apa yang dipersembahkan oleh Shahabat Hassan bin Tsabit itu, dan beliau SAW bahkan menugaskan Hassan bin Tsabit untuk menggubah syair-syair perjuangan, demi memotivasi para pejuang Islam dari kalangan para Shahabat.

 * Anda tidak senang meng-haul-i (berdoa setiap tahun) untuk keluarga muslim? Ya sangat dimaklumi, karena anda sangat sulit memahami bahwa Nabi SAW dalam banyak riwayat yang dinukil dalam kitab-Kitab hadits : ternyata `alaa raksi haulin (setiap tahun=haul) beliau SAW berziarah kepada makam para syuhada dan membacakan doa untuk para syuhada Baqi` dan Uhud itu (HR. Baihaqi).



Jadi Nabi SAW berkenan untuk menghauli para shahabat yang telah mendahului beliau mengadap Allah, dengan cara mendoakan mereka pada setiap tahunnya.

 Inilah salah satu landasan ummat Islam dalam kegiatan menghauli sanak familinya yang terlebih dahulu dipanggil oleh Allah

Bahkan Nabi SAW setiap kali berziarah ke makam Uhud, beliau SAW mengucapkan salam khusus kepada pamanda beliau SAW, yaitu Sayyidina Hamzah : .Salaamun `alaikum bimaa shabartum fini`ma uqbad daar.



* Anda tidak senang ikut dzikir berjamaah, sangatlah maklum karena ada tidak pernah memahami Hadits Qudsi, Allah berfirman yang artinya: Barang siapa yang menyebut (berdzikir) kepada-Ku dalam kelompok yang besar (berjamaah), maka Aku (Allah) akan menyebut (membanggakan) nya dalam kelompok (malaikat) yang lebih besar (banyak) pula (HR. Bukhari-Muslim)

Jika telah apriori terhadap hadits riwayat Bukhari-Muslim, lantas riwayat hadits mana lagi yang akan anda pergunakan untuk menolak amalan warga Ahlus sunnah wal jamaah ini ?



Ayo, kembalilah kepada pemahaman Ulama Salaf Ahlussunnah wal Jamaah dalam menjalani kehidupan beragama, agar mendapatkan keberkahan hidup dari Allah, dan selamat dalam menjalani hidup di dunia hingga akherat nanti.
   
 Isikan Komentar Anda
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
 
 
1.
Pengirim: Abu Nur al-Dununiyy  - Kota: Dungun, Terengganu, Malaysia
Tanggal: 7/2/2010
 
   
Sila layari http://al-dununiyy.blogspot.com dan http://al-masabihul-munawwirah.blogspot.com untuk berkongsi informasi.  
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Jazakumullah khairan, mudah-mudahan para pengunjung dapat mengambil manfaat. Amin.

2.
Pengirim: hermansyah  - Kota: Bekasi
Tanggal: 9/2/2010
 
Assalamualaikum Wr. Wb
Ustadz , afwan sebelumnya , ane terimakasih diberikan hadist diatas, saya senang , karena buat menambah perbendaharaan hadist saya untuk menghadapi kaum wahabi, saya mohon doanya dari ustadz supaya selalu bisa menerapkan Ahlu sunah Wal jamaah di mesjid kami. tapi lebih baik lagi kalo ustadz mau dateng ke mesjid kami untuk diskusi. saya sangat seneng sekali.soalnya di mesjid kami banyak sekali wahabi yang selalu melarang saya sholawat dan tahlil.itu saja keluh kesah dari saya .terimakasih ustadz,saya hanya bisa mendoakan untuk ustadz semoga diberikan panjang umur amien ya Allah
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kami persilahkan, mudah-mudahan bermanfaat.

3.
Pengirim: fatimah  - Kota: Jakarta
Tanggal: 9/2/2010
 
Bismillah, saya kira apa yang anda nisbatkan kepada wahabi, sangat tidak sesuai, mereka selalu bergerak pada asa Al qur'an dan sunnah, saya adalah contoh masyarkat awam yang tersadarkan dengan wahabi, coba bergaul dan dalami mereka, bagaimana kitabnya, bagaimana akhlaknya, anda pasti akan terkejut, ternyata hanya fitnah yang selalu mereka terima dari kelompok yang menentang kebenaran, AYO BUKTIKAN.... KARENA DALAM AL QUR'AN QTA DIWAJIBKAN UNTUK BERTABAYYUN DALAM MENGAHADAPI SEBUAH ISU. AYO 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Jumhur Wahhabi mengafirkan kelompok di luar golongannya, mereka membantai dengan sadis dan amat mengerikan kaum muslimin yg mnjadi pengikut mahdzab Syafi'i, Maliki, Hanafi, & Hanbali di Najd dan Timur Tengah pada umumnya, dll (kisah pembantaian ini dapat dibaca dalam tarikh Najd karya Husain bin Ghannam Al-najdi yang juga murid Muhammad bin Abdul Wahhab Al-najdi). Bin Baaz tokohj Wahhabi kontemporer juga berfatwa bahwa "Orang yang tidak meyakini matahari yang mengelilingi bumi termasuk orang kafir sesat & menyesatkan,harus bertaubat, jika tidak bertaubat maka wajib dibunuh sebagai org kafir murtad, dan harta miliknya menjadi fa'i utk baitul mal kaum musalimin". Fatwa ini termaktub dalam buku karyanya yg berjudul Al-adillah an-naqliyah wa al-hissiyah 'ala jarayani asy-syamsi wa sukunin al-ardhi wa imkani ash-shu'ud ila al-kawakib. Buku bin Baaz tsb juga disupport oleh Abdullah Duwaisy dalam buku kecilnya Al-mawrid az-zulal fi tanbih 'ala akhtha' adz dzilal.
Kami sendiri tahun 1983-1991 hidup di Saudi Arabiyah, sudah terbiasa mendengar khothbah Jumat dari tokoh-tokoh Wahhabi yang mengatakan bahwa para penziarah kubur itu adalah kaum musyrikun. Bahkan Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra khalifah ke empat. dituduh pembunuh oleh panutan kaum wahhabi: Ibn Taimiyyah berfatwa bahwa "adapun peperangan jamal & shiffin maka Ali ra. telah menyebutkan bahwa tidak ada nash dari Nabi SAW tentangnya. Ia hanya sekedar pendapat. Kebanyakan sahabat tidak setuju dengannya dalam peperangan itu. Peperangan itu adalah peperanan fitnah dengan ta'wil: ia tidak wajib juga tidak mustahab. Ali membunuh banyak kaum muslimin yg menegakkan shalat, membayar zakat, berpuasa, dan shalat" (minhaj as-sunnah,6/356) Adapaun penisbatan kalimat Bid'ah sesat sudah menjadi stempel setiap hari bagi umat Islam yang berbeda amalan dengan mereka. Orang membaca shalawat Nabi SAW yang dilagukan saja bisa dituduh ahli neraka oleh kaum Wahhabi. Jika tidak percaya cobalah anda minta kepada tokoh-tokoh Wahhabi agar menulis buku bahwa: Membaca shalawat dengan dilagukan dalam acara maulid Nabi SAW akan mendapatkan pahala shalawat. Peringatan Maulid Nabi SAW tidak sesat bahkan membawa hikmah yang besar. Berkumpul dengan sesama muslim untuk memohonkan ampun kepada Allah bagi keluarganya yang telah meningal dunia adalah perbuatan terpuji. Bersedekah memberi makan tamu yang hadir tahlilan adalah termasuk shadaqah yang terpuji. Memperingati peristiwa Isra dan Mi'raj adalah sangat dianjurkan karena termasuk bentuk pendidikan kepada umat Islam, dan lain sebagainya yang menjadi 'lagu wajib' warga Ahlus sunnah wal Jamaah. Apa kaum wahhabi kira-kira bersedia ? Kami sendiri Alhamdulillah banyak menulis tema-tema tersebut dalam artikel di situs ini beserta dalilnya, dan beberapa amalan masyarakat yang sering dituduh sesat oleh kelompok Wahhabi. Silahkan membacanya.

4.
Pengirim: Yayak  - Kota: Waruw
Tanggal: 19/2/2010
 
Perbedaan lain??? 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Al-albani sebagai salah satu tokoh panutan Wahhabi berfatwa: "Warga muslim Palestina harus meninggalkan negerinya ke negara lain. Semua orang yang masih bertahan di Palestina adalah KAFIR" (fatawa Al-albani, yang dihimpun oleh Ukasyah Abdul Mannan, hal.18)

5.
Pengirim: hendra  - Kota: malang
Tanggal: 3/3/2010
 
bismillah, kenyataannya banyak umat antum yang gak paham syariat dengan benar..nanti dihari qiamat sama-sama kita buktikan 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Komentar anda sama sekali tidak ilmiyah, mohon maaf kami menyediakan kolom ini untuk diskusi ilmiyah syar'iyyah.

6.
Pengirim: Abu Fauzan  - Kota: karawang
Tanggal: 3/3/2010
 
Assalamu alaikum.
"Anda tidak suka ziarah kubur? Itu maklum, karena anda tidak senang kepada Nabi SAW yang memerintahkan : Kuntu nahaitukum `an ziyaaratil qubuuri, alaa fazuuruuha (dulu aku melarang kalian berziarah kubur, tetapi kini berziarah kuburlah. HR. Muslim)"
betul ziarah kubur tidak di larang yang di larang adalah ziarah kubur yang bisa menghantarkan kepada pengkultusan yang akhirnya menjerumuskan dalam kesyirikan. dari sedikit pernyataan anda tadi tahu tentang siapa itu wahabi, bagaimana pemahaman orang yang di nisbatkan kepada wahabi.
Kemudian dari pemahaman anda kepada tafsir hadits saya simpulkan anda orang yang tidak faham kepada tafsir hadits. karena anda menafsirkan hadits dengan pemahaman nalar bukan dengan pemahaman para ahli hadits.
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kami tidak pernah menafikan adanya ummat Islam dewasa ini siapapun figurnya, dan apapun kelompoknya, pasti pernah berbuat salah kepda Allah dalam menjalankan syariat, siapa orangnya yang tidak permah bermaksiat kepada Allah ? Hampir di semua rumah tangga umat Islam terdapat TV sumber kemaksiatan bagi anggota tubuh kan ? Tapi kemaksiatan2 itu tidak mengeluarkan umat Islam dari keislaman dan keimanan mereka. Kecuali yang sengaja menuhankan TV secara yakin dan nyata. Sekalipun demikian tidak sedikit dari kalangan umat Islam yang menjadikan TV sebagai media dakwah untuk mencari pahala dari Allah, dan langkah dakwah inipun tidak dilarang oleh syariat. Nah, orang berziarah kubur sesuai anjuran Nabi SAW adalah yang memanfaat syariat ziarah kubur ini untuk mendoakan mayyit dengan membaca Alquran, dzikir dan berdoa kepada Allah, serta melakukan amalan ibadah kepada Allah yang lainnya, dan mayoritas warga Ahlussunnah wal Jamaah mengamalkan ajaran Islam yang baik ini. Namun jujur saja ada sejumlah oknum yang mengaku dirinya Islam lantas datan ke kuburan untuk mancari aji-aji kasaktian, mencari wangsit untuk menjadi dukun, dan yang semisalnya, bahkan hingga mengkultuskan penghuni kuburan tersebut dengan ritual tertentu, maka prilaku ini adalah ajaran KEJAWEN yang harus kita perangi, karena bukan ajaran Islam. Dan kini penganut kejawen ini sudah sering nongol di kamar-kamar pribadi kita masing-masing lewat TV dalam iklan ramalan nasib. Sayangnya anda dan jutaan umat Islam tidak kuasa menolak tayangannya, apalagi membuang TV nya. Artinya, ada wilayah-wilayah tertentu yang ternyata kita tidak mampu selain hanya mengingkarinya.

7.
Pengirim: fuad  - Kota: cirebon
Tanggal: 4/3/2010
 
assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh
semoga pancaran cahaya ilahi selalu menerangi hati kita dan semoga ustadz selalu diberikan kesehatan oleh allah agar selalu bsa mendakwahkan ajaran sayyidina muhamma saw, amiin,
mohon maaf ustadz sebelumnya, ada beberapa pertanyaan yg msh mengganjal d hati saya
1. masalah sholawat nariyah, apakah betul dalam sholawat nariah itu ada salahsatu kalimat d dalamnya yg bertentangan dngan islam?jika ustadz berkenan mohon d jelaskan sejelas - jelasnya, karena kebanyakan teman - teman di unit kerohanian islam kampus saya menganggap seperti itu
2. ustadz apakah baik bila saya mengikuti kajian liqo' atau mentoring bersama mereka(orang2 yg saya sebut di atas)?
3. dalam salah satu opsi pencapaian mentoring itu adalah tidak berhubungan dengan jin, apakah kalangan ahlussunah juga melarang kita untuk berhubungan dengan jin?
4. pandangan ustadz tentang syeikh hasan albana bagaimana apakah beliau termasuk dalam jajaran ahlussunah wal jama'ah? lalu bagaimana dengan organisasi ikhwanul muslimin yang didirikan oleh beliau?
5. afwan ustadz 1 lg, bagaiman pandangan ustadz dalam penambahan kata sayyidina dalam tahiat? apakah boleh?
mohon maaf ustadz saya yang dhoěf ini merepotkan ustadz dengan petanyaan - pertanyaan saya yang kurang bermuu., sekian, ustadz mohon bimbingan dari ustadz
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
1. Kelompok minoritas Wahhabi mempermasalahkan sholawat Nariyah, sedang para ulama dan mujtahid kalangan Ahlus sunnah tidak mendapatkan sedikitpun dalam sholawat Nariyah yang dianggap bertentangan dg ajaran Islam, baik tawwasul maupun pujian yang sempurna untuk Nabi Muhammad SAW adalah boleh dan dianjurkan, selagi tidak menuhankan Beliau SAW, dan tidak ada satupun dari kalangan Ahlus sunnah yang menuhankan Beliau SAW.
2. Jika akhi belum mantap mendalami ajaran Ahlus sunnah, maka sebaiknya menjauhi pergaulan dengan kelompok Wahhabi, karena akhi akan disesatkan sehingga akan lebih mengikuti pendapat minoritas, dan menyalahkan pendapat mayoritas, padahal Nabi SAW berwasiat : 'Alaikum bis sawaadil a'dham, (Kalian wajib mengikuti golongan mayoritas).
3. Nabi SAW juga berhubungan dengan jin dan mendakwahi mereka, bahkan Alquran mengabadikan masalah jin dalam surat Al-jin, orang berhubungan dengan jin tidak secara otomatis berkonotasi negatif dalam pemahaman yang sempit. Nabi Sulaiman juga mempunyai pasukan jin, dan banyak dari kalangan ulama yag diberi kemampuan oleh Allah untuk dapat mengajari bangsa jin tentang syariat Islam, karena Allah berfirman yang artinya : Tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali hanyalah untuk menyembah-Ku, berarti jin juga perlu belajar agama kepada para ulama.
4. Terhadap Hasan Albanna kami mengacungkan jempol atas perjuangannya melawan dominasi kelompok Nasionalis Sekuler yang memegang tampuk kekuasaan di Mesir.
5. Tidak ada masalah siapapun orannya yang mengaku sebagai pecinta Rasul SAW yang sejati untuk memanggil Beliau SAW denga sebutan Sayyidina, Maulana, Qudwatuna dan ribuan kata-kata pujian lainnya, baik di dalam shalat maupun di luar shalat, hanya orang-orang yang kluper saja yang tidak dapat menghornati kedudukan dan ketinggian derajat Sayyidina wa habibina wa qurrati a'yunina Muahammad SAW yang telah bersabda : Ana sayyidu waladi aadama wa laa fakhar (Aku adalah Sayyid-nya anak cucu Adam, dan ini bukan kesombongan). Dengan menambah kata-kata Sayyid untuk memanggil Beliau SAW berarti sesuai dengan sabda Beliau SAW dan termasuk tawaddhu' kita sebagai umatnya. Padahal, apa kebaikan sih yang dapat kita sombongkan di hadapan Beliau SAW, sehingga berani-beraninya melarang orang yang memanggil Sayyid kepada Nabi kita Muhammad SAW.

8.
Pengirim: mohammad hafidz  - Kota: pasuruan
Tanggal: 4/3/2010
 
sebagai orang awam ( meski lahir dari kalangan nahdliyyin ),terus terang saya masghul dengan berbagai tulisan,komentar atau apalah namanya yang menuding amalan amalan kaum nahdliyyin selama ini adalah bid'ah, sesat dsb. namun dengan membaca tulisan KH. Luthfi Bashori semoga saya akan semakin yakin tetntang kebenaran kebenaran amalan kaum nahdliyyin selama ini. Amiiin... toh, Allah-lah yang memiliki kebenaran sejati... 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Mudah-mudahan kita termasuk dalam kategori sabda Nabi SAW : Alaikum bis sawaadil adham, kalian wajib mengikuti kelompok mayoritas. Alhamdulillah, keberadaan Ahlus sunnah adalah kelompok mayoritas di dunia ini. Ciri-ciri paling mudah adalah beramalkan tahlilan, baca maulid Nabi, mentalqin mayyit dll.

9.
Pengirim: edi  - Kota:
Tanggal: 4/3/2010
 
tidak komentar ah.

Biasanya kalau komentar dihapus, yang tampil hanya yang setuju.

Anda pengikut agama syi'ah bukan ? 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kami menentang aliran Wahhabi yang berciri khas terbiasa menvonis sesat dan syirik kepada umat Islam yang hanya berbeda pendapat dalam masalah-masalah furu'iyyah, seperti amalan warga Ahlussunnah saat merayakan periringatan maulid Nabi SAW, bertawassul kepada para wali, dsb sekalipun kami punya dalil Alquran dan Haditsnya. Kami juga menentang penyebaran Aliran Syiah Imamiyah Iraniyah Khomeiniyah yang mempunyai kitab rujukan utama, Alkafi yang isinya banyak mengandung kalimat murtad dan kufur, seperti keyakinan Syiah yang mengingkari kemurnian dan keaslian Alquran, mereka meyakini bahwa Alquran (versi Syiah) besar dan banyaknya ayat adalah tiga kali lipat dari mushaf milik umat Islam. Alhamdulillah kami tetap istiqomah bermadzhab Sunny Syafi'i. Kadang2 ada komentar yg sengaja kami hapus, seperti komentarnya Si Wahhabi yang mengatasnamakan diri dg Albdullah, bertema ttg Muktamar NU, karena sudah sering diulang2 dan sudah kami jawab pada pengiriman sebelumnya.

10.
Pengirim: abudzarr  - Kota: bogor
Tanggal: 6/3/2010
 
assalamu'alaikum pejuang islam,semoga kalian dan saya alloh ta'ala tunjuki kepada jalan yg lurus jalannya minal muhajirin wal ansor.yang jelas dari tulisan di atas tampak sekali bahwa yg menulis tersebut kurang MENUNTUT ILMU,sehingga hanya TUDUHAN-TUDUHAN semata yg bisa di paparkan.semoga alloh ta'ala melindungi kita dari sifat gampang menuduh,karena kelak di yaumil akhir apa apa yg kita katakan akan di mintai pertanggung jawabannya.wassalam 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Jumhur Wahhabi mengafirkan kelompok di luar golongannya, mereka membantai dengan sadis dan amat mengerikan kaum muslimin yg menjadi pengikut mahdzab Syafi'i, Maliki, Hanafi, & Hanbali di Najd dan Timur Tengah pada umumnya, dll (kisah pembantaian ini dapat dibaca dalam tarikh Najd karya Husain bin Ghannam Al-najdi yang juga murid Muhammad bin Abdul Wahhab Al-najdi). Bin Baaz tokoh Wahhabi kontemporer juga berfatwa bahwa "Orang yang tidak meyakini matahari yang mengelilingi bumi termasuk orang kafir sesat & menyesatkan,harus bertaubat, jika tidak bertaubat maka wajib dibunuh sebagai org kafir murtad, dan harta miliknya menjadi fa'i utk baitul mal kaum musalimin". Fatwa ini termaktub dalam buku karyanya yg berjudul Al-adillah an-naqliyah wa al-hissiyah 'ala jarayani asy-syamsi wa sukunin al-ardhi wa imkani ash-shu'ud ila al-kawakib. Buku bin Baaz tsb juga disupport oleh Abdullah Duwaisy dalam buku kecilnya Al-mawrid az-zulal fi tanbih 'ala akhtha' adz dzilal.
Kami sendiri tahun 1983-1991 hidup di Saudi Arabiyah, sudah terbiasa mendengar khothbah Jumat dari tokoh-tokoh Wahhabi yang mengatakan bahwa para penziarah kubur itu adalah kaum musyrikun. Bahkan Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra khalifah ke empat. dituduh pembunuh oleh panutan kaum wahhabi: Ibn Taimiyyah berfatwa bahwa "adapun peperangan jamal & shiffin maka Ali ra. telah menyebutkan bahwa tidak ada nash dari Nabi SAW tentangnya. Ia hanya sekedar pendapat. Kebanyakan sahabat tidak setuju dengannya dalam peperangan itu. Peperangan itu adalah peperanan fitnah dengan ta'wil: ia tidak wajib juga tidak mustahab. Ali membunuh banyak kaum muslimin yg menegakkan shalat, membayar zakat, berpuasa, dan shalat" (minhaj as-sunnah,6/356) Adapaun penisbatan kalimat Bid'ah sesat sudah menjadi stempel setiap hari bagi umat Islam yang berbeda amalan dengan mereka. Orang membaca shalawat Nabi SAW yang dilagukan saja bisa dituduh ahli neraka oleh kaum Wahhabi. Jika tidak percaya cobalah anda minta kepada tokoh-tokoh Wahhabi agar menulis buku bahwa: Membaca shalawat dengan dilagukan dalam acara maulid Nabi SAW akan mendapatkan pahala shalawat. Peringatan Maulid Nabi SAW tidak sesat bahkan membawa hikmah yang besar. Berkumpul dengan sesama muslim untuk memohonkan ampun kepada Allah bagi keluarganya yang telah meningal dunia adalah perbuatan terpuji. Bersedekah memberi makan tamu yang hadir tahlilan adalah termasuk shadaqah yang terpuji. Memperingati peristiwa Isra dan Mi'raj adalah sangat dianjurkan karena termasuk bentuk pendidikan kepada umat Islam, dan lain sebagainya yang menjadi 'lagu wajib' warga Ahlus sunnah wal Jamaah. Apa kaum wahhabi kira-kira bersedia ? Kami sendiri Alhamdulillah banyak menulis tema-tema tersebut dalam artikel di situs ini beserta dalilnya, dan beberapa amalan masyarakat yang sering dituduh sesat oleh kelompok Wahhabi. Silahkan membacanya.

11.
Pengirim: MISHALL  - Kota: GOMBAK
Tanggal: 7/3/2010
 
Assalamualaikum..
bagi pendapat saya..wahabbi tidak seperti yang ustaz tafsirkan.. ustaz tidak boleh mengwahhabikan orang..
saya harap ustaz lebih baik mengkaji semula..jangan nak suka2 untuk m'wahhabikan orang kerana kita tak tahu dimata Allah siapa yang lebih baik.
w'slm 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kami hidup di kota Madinah selama 3 tahun (1983 - 1986) dan hidup di Makkah selama 5 tahun (1986 - 1991). Selama 8 tahun kerap kali mendengarkan khothbah Jumat maupun pengajian kaum Wahhabi yang menuduh sesat, menuduh syirik hingga menuduh kafir kepada para Ulama Ahlus sunnah Wal jamaah, bahkan Ibn Mani' tokoh Wahhabi dalam bukunya Hiwar ma'a Almaliki juga menuduh seperti itu kepada Guru Besar kami Abuya Sayyid Muhammad Almaliki. Jadi bukan asumsi pribadij kami, melainkan secara riil terjadi. Coba sajalah anda minta petuah dari tokoh Wahhabi tentang amalan warga NU yang aktif ziarah ke makam kuburan Walisongo. Apa mereka mendukung dan mau ikut bergabung dg warga NU ? Kalau mau bergabung, berarti itu adalah figur Wahhabi hebat.

12.
Pengirim: ridwan  - Kota: probolinggo
Tanggal: 8/3/2010
 
Tuham Kaum Wahhâbi/Salafi Mujassimah Berbagi Jatah Tempat Duduk Dengan Nabi Muhammad saw. di Atas Arsy-Nya

Tak henti-hentinya akidah kaum Wahhabi/Salafi Mujassimah membuat kita geli dan sekaligus prihatin terhadap kekerdilan akal dan pikiran mereka yang begitu mudah dipermainkan oleh dongeng-dongen palsu… kalau dahulu kita menggeleng-gelengkan kepala kita lantaran heran menyaksikan kehajilan masyarakah Yahudi di zaman Nabi Musa as. yang dengan mudahnya, mereka dibodohi oleh Samiri agar mau mengimani patung anak sapi sebagai tuhan mereka…. Kini kita ternyata harus berhadapan dengan sekawanan manusia yang jauh lebiih kerdil dan jahil dari bani Isra’il yang menjadikan patung anak sapi sebagai sesembahan mereka….

Kaum Mujassimah yang sekarang (diakui atau tidak) diwakili oleh kaum Wahhâbi/Salafi berkeyakinan bahwa Allah duduk di atas Arsy-Nya yang terkadang mereka katakan dipikul delapan ekor kambing hutan jantang di atas laingit ke tujuh dan mengapung di atas air… dan dalam kesempatan lain mereka yakini Arsy yang di atasnya Allah duduk/bersemayam sambil bersandar (leye’-leye’) yang menyelonjorkan kedua kakinya itu dipikul oleh empat malaikat… Tidak cukup demikian, kaum Wahhâbi/Salafi Mujassimah berkeyakinan bahwa kelak di hari kiamat Allah menyisakan sedikit tempat di Arsy-Nya untuk mendudukkan Nabi mulia-Nya. Tidak puas meyakininya, kaum Mujassiamh itu menvonis sesiapa yang menolak keyakinnan in sebagai telah keluar dari Islam… sebagai Jahmiyah, kelompok sesat dan ahli bid’ah dan zindiq yang kafir!!!

Tokoh-tokoh kebanggaan kaum Wahhâbi/Salafi Mujassimah yang nama mereka selalu menghiasi bibir-bibir dan/atau tulisan-tulisan para ustadz dan misionaris sekte ini, seperti nama Abu Bakr al Khallâl, Abu bakr ash Shâghâni, Abu Daud as Sijistâni, Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim dkk. Berebut angkat suara memekikkan akidah sumbang yang terang-terangan mendesain Allah sebagai Dzat yang berjism/berpostur yang butuh kepada tempat dan akan dan akan duduk bersandingan dengan Nabi kesayangan-Nya; Muhammad saw.

Mereka mengaitkan akidah “super ngawur” ini dengan sebuah ayat AlQur’an yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kesesatan akidah mereka itu. Yaitu ayat:

وَ مِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نافِلَةً لَكَ عَسى‏ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقاماً مَحْمُوداً

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.”(QS. Al Isrâ’[17]; 79)





Komentar Para Tokoh Sekte Salafi Mujassimah

Seperti telah disinggung bahwa para tokoh sekte Mujassimah berebut menyuarakan akidah sumbang ini dengan berbagai penegasan dan tidak jarang juga dibumbuhi dengan ancaman bagi yang menolak dan mempermasalahkannya. Untuk menghemat waktu pambaca saya sajikan langsung komentar mereka.

* Abu Bakar al Khallâl

Dalam masalah duduknya Allah seperti digambarkan di atas, Abu Bakr Al Khallâl menegaskan:

وإنّ هذا الحديث لا ينكره إلا مبتدع جهمي ، فنحن نسأل الله العافية من بدعته وضلالته …

“Dan hadis ini (yaitu hadis duduknya Allah bersanding dengan Nabi di Arsy-Nya) tiidak mengingkarinya melainkan ahli bid’ah, berfamah Jahmiyah. Kami memohon kepada Allah keselamatan dari bid’ah dan kesesatannya… “ [1]

Ia juga berkata meyakinkan:

وقد سمعت هذا الحديث من غير واحد من مشيختنا ما رأيت أحداً رد هذا.

“Aku telah mendengar hadis ini dari banyak masyâikh. Tiada satupun dari mereka yang menolaknya.”[2]

* Ash Shâghâni

Al Khallâl menukil pernyataan Abu Bakr Muhammad ibn Ishaq ash Shâghâni yang berkomentar keras meyakinkan kita akan akidahnya dan mengecam keras sesiapa yang mengingkarinya. Ia berkata:

لا أعلم أحداً من أهل العلم ممن تقدم ولا في عصرنا هذا إلا وهو منكر لما أحدث الترمذي من رد حديث محمد بن فضيل عن ليث عن مجاهد في قـوله : ( عسى أنْ يبعثك ربك مقاماً محموداً ) قال : يقعده على العرش، فهو عندنا جهمي يهجر ، ونحذر عنه ، فقد حدثنا به هارون بن معروف قال : حدثنا محمد بن فضيل ، عن ليث ، عن مجاهد في قوله : (عسى أنْ يبعثك ربك مقاماً محموداً ) قال : يقعده على العرش ، وقد روي عن عبد الله بن سلام قال : يقعده على كرسي الرب جل وعز ، فقيل للجريري : إذا كان على كرسي الرب فهو معه ؟ قال : ويحكم ، هذا أقر لعيني في الدنيا ، وقد أتى عليّ نيف وثمانون سنة ، ما علمت أنّ أحداً رد حديث مجاهد إلا جهمي ، وقد جاءت به الأئمة في الأمصار ، وتلقته العلماء بالقبول ، منذ نيف وخمسين ومائة سنة ، وبعد فإني لا أعرف هذا الترمذي ولا أعلم أني رأيته عند محدث ، فعليكم رحمكم الله بالتمسك بالسنة والإتباع

“Aku tidak mengatahui ada seorang pun di antara baik yang telah lalu maupun di zaman ini melainkan ia menginkari apa yang dimunculkan oleh si at Turmudzi yaitu penolakan atas hadis Fudhail dari Laits dari Mujahid tentang firman Alllah: “mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji” ia berkata, “Allah mendudukkan Nabi di Arsy-Nya. Dan telah diriwayatkan dari Abdullah ibn Sallâm, ia berkata, “Allah mendudukkannya di atas Kursi Tuhan Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi.” Lalu ada yang berkata kepada al Jariri, “Jika Nabi duduk di Kursi Tuhan berarti ia bersangding dengan Tuhan?” Ia berkata, “Celakalah engkau. Hal ini lebih mendinginkan mataku di dunia ini. Aku telah mencapai usia delapan puluh tahun lebih, aku tidak mengetahui ada seorang yang menolak hadis Mujahi ini melainkan seorang berfaham Jahmiyah. Para imam telah menbawa/menyebarkan hadis ini di berbagai penjuru negeri dan para ulama pun telah menyambut dengan penerimaan sejak seratus lima puluh tahun lebih. Dan setelah ini aku tidak mengenal siapa si at Turmudzi ini dan aku juga tidak mengetahui bahwa aku pernah melihatnnya di sisi ahli hadis. Maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan Sunnah dan mengikutinya.[3]”



* Abu Bakr ibn Yahya ibn Abi Thalib

Sekali lagi al Khallâl menukil pernyataan Abu Bakr ibn Yahya ibn Abi Thalib yang tidak kalah keras dan kakunya dari pernyataan sebelumnya. Ia berkata:

لا أعرف هذا الجهمي العجمي لا نعرفه عند محدث ولا عند أحد من إخواننا ، ولا علمت أنّ أحداً رد حديث مجاهد : يقعد محمداً (ص) على العرش ، رواه الخلق عن ابن فضيل ، عن ليث ، عن مجاهد ، واحتمله المحدثون الثقات ، وحدثوا به على رؤوس الأشهاد ، لا يدفعون ذلك ، يتلقونه بالقبول والسرور بذلك ، وأنا فيما أرى أني أعقل منذ سبعين سنة ، والله ما أعرف أحداً رده ، ولا يرده إلا كل جهمي مبتدع خبيث يدعوا إلى خلاف ما كان عليه أشياخنا وأئمتنا ، عجل الله له العقوبة ، وأخرجه من جوارنا ، فإنه بلية على من ابتلى به ، فالحمد لله الذي عدل عنا ما ابتلاه به ، والذي عندنا والحمد لله أنا نؤمن بحديث مجاهد ، ونقول به على ما جاء به ، ونسلم الحديث وغيره مما يخالف فيه الجهمية من الرؤية والصفات ، وقرب محمد (ص) منه ، وقد كان كتب إلي هذا العجمي الترمذي كتاباً بخطه ودفعته إلى أبي بكر المروذي ، وفيه أنّ من قال بحديث مجاهد فهو جهمي ثنوي ، وكذب الكذاب المخالف للإسلام ، فحذروا عنه …. ، فهذا ديني الذي أدين الله عز وجل به ، أسأل الله أنْ يميتنا ويحيينا عليه .

“Aku tidak mengetahui si Jahmi Ajami (non Arab). Kami tidak mengenalnya di kalangan ahli hadis atau seorang pun dari saudara-saudara kami. Dan aku tidak mengetahui bahwa ada seorang yang menolak hadis Mujahid: Allah mendudukkan Muhammad saw. di atas Arsy. Hdis itu telah diriwayatkan oleh banyak kalangan dari Ibnu Fudhail dari Laits dari Mujahid. Para ahli hadis yang terpercaya pun telah menerimanya dan mereka pun menyampaikan di hapana khalayak ramai dan merekapun tidak menolaaknya; mereka meneriman sepenuhnya dengan penuh gembira. Dan aku sepanjang pengetahuanku, aku telah menyadarinya sejak tujuh puluh tahun lalu. Deemi Allah aku tidak mengetahui ada seorang pun yang menolaknya melainkan seorang berfaham Jahmiyah, pembid’ah yang jahat yang mengajak kepada menyelisihi para masyâikh dan para imam kita. Semoga Allah mempercepat siksa atasnya dan mengusirnya dari negeri-negeri kita, sebab ia adalah bencana atas yang terpengaruh olehnya. Dan segala puji bagi Allah yang telah mengylamatkan kita dari bencana itu. Yang kami yakini –alhamdulillah- adalah bahwa kami meyakini hadis Mujahid dan menrimanya sesuai apa yang tertara dan kami menerima hadis ini dan lainnya yang menyelisihi kaum Jahmiyah dalam masalah pelihat Allah dengan meta telanjang dan sifat-sifat lain serta kedekatan Muhammad saw. kepada Tuhannya. Si ajami yang bernama at Turmudzi ini telah menulias surat kepadaku lalu aku serahkan kepada Abu bakr al Marűdzi, dalam surat itu ia mengatakan bahwa yang meyakini apa yang ada dalam hadis Mujahid adalah kaum Jahmiyah Tsanawi (yang menakini ada dua tuhan). Dan berbohonglah ia si ppembohong atas nama Islam. Maka para ulama memperingatkan orang-orang darinya … ini adalah agama yang aku yakini dan aku memohon agar Allah menghidupkan dan mematikanku di atasnya.”[4]



* Ali ibn Daud al Qanthari

Abu Bakr al Khlallâl juga menukil pernyataan serupa dari al Qanthari. Ia berkata:

أما بعد ، فعليكم بالتمسك بهدي أبي عبد الله أحمد بن محمد بن حنبل رضي الله عنه ، فإنه إمام المتقين…. وأنّ هذا الترمذي الذي طعن على مجاهد برده فضيلة النبي (ص) مبتدع ، ولا يرد حديث محمد بن فضيل عن ليث عن مجاهد : ( عسى أنْ يبعثك ربك مقاماً محموداً ) [الإسراء : 79] قال : يقعده معه على العرش ، إلا جهمي ، يهجر ولا يكلم ، ويحذر عنه وعن كل من رد هذه الفضيلة ، وأنا أشهد على هذا الترمذي أنه جهمي خبيث …..

“Amma ba’du, maka hendaknya kalian berpegang teguh dengan petunjuk Abu Abdillah; Ahmad ibn Muhammad Hanbal ra. Beliau adalah imam kaum muttaqîn/yang bertaqwa…. Dan sesungguhnya si at Turmudzi ini yang mencacat Mujahid dengan menolak keutamaan Nabi saw. adalah seorang ahli bid’ah. Dan tidak menolak hadis Muhammad ibn Fudhail dari Laits dari Mujahid tentang firman Alllah: “mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji” ia berkata, “Allah mendudukkan Nabi di Arsy-Nya… melainkan seorang berfaham Jahmiyah. Ia harus diboikot dan tidak diajak bicara dan orang-orang harus diperingatkan darinya dan dari siapapun yang menolak keutamaan ini. Dan aku bersaksi bahwa si at Turmudzi ini adalah seorang berfaham jahmiyah yang jahat …. .”[5]



* Ibrahim al Harbi

Al Khallâl juga menukil sebuah pernyataan dari Ibrahim al Harbi yang secara keras dan tegas mempertahankan akidah ini. Ia berkata:

الذي نعرف ونقول به ونذهب إليه ما سبيل من طعن على مجاهد وخطأه ، إلا الأدب والحبس ، حدثنا هارون بن معروف ، عن ابن فضيل ، عن ليث ، عن مجاهد : ( عسى أنْ يبعثك ربك مقاماً محموداً ) قال : يقعده على العرش ، وإني لأرجو أنْ تكون منزلته عند الله تبارك وتعالى أكثر من هذا ، ومن رد على مجاهد ما قاله من قعود محمد (ص) على العرش وغيره فقد كذب ، ولا أعلم أني رأيت هذا الترمذي الذي ينكر حديث مجاهد قـط في حديث ولا غير حديث

“Yang kami ketahui dan kami yakini bahwa sikap yang harus diterapkan atas orang yang mencacat (hadis) Mujahid dan menyalahkannya adalah harus diberi pelajaran dan dipenjarakan. Harun ibn Ma’rűf telaah menyampaikan hadis kepada kami dari Ibnu FFudhail dari Liats dari Mujahid tentang firman Alllah: “mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji” ia berkata, “Allah mendudukkan Nabi di Arsy-Nya. dan aku berharap bahwa kedudukan Nabi di sisi Allah lebih dari itu. Dan barang siapa yang menolak apa yang dikatakan Mujahid yaitu didudukkannya Nabi di atas Arsy dan ucapan-ucapannya yang laon maka ia benar-benar telah berbohong. Aku sama sekali tidak pernah menyaksikan si at Turmudzi yang mengingkari hadis Mujahid ini baik dalam snad hadis maupun selainnya.”[6]

Selain nama-nama tokoh Mujassimah yang disebut di atas, Al Khallâl juga menyebutkan banyak nama lainnya, seperti Adu Daud as Sijistâni, Muhammad ibn Ismail as Sulami, Abil Abbas Harun ibn Abbas al Hâsyimi yang menvonis secara gana siapapun yan menolak pendapat Mujahid di atas. Ia berkata:

من رد حديث مجاهد فهو عندي جهمي ، ومن رد فضل النبي (ص) فهو عندي زنديق لا يُستتاب ويقتل ، لأنّ الله عز وجل قد فضله على الأنبياء عليهم السلام ، وقد روي عن الله عز وجل قال : لا أذكر إلا ذكرت معي ، ويروى في قوله : ( لعمرك) [ الحجر : 72] قال : بحياتك ، ويروى أنه قال : يا محمد لولاك ما خلقت آدم . فاحذروا من رد حديث مجاهد ، وقد بلغني عنه أخزاه الله أنه ينكر أنّ الله عز وجل ينزل ، فمن رد هذا وحديث مجاهد فلا يكلم ولا يصلى عليه .

“Barang siapa yang menolak hadis (ucapan) Mujahid maka ia menurut saya adalah seorang berfamah jahmiyah. Dan barang siapa yang menolak keutamaan Nabi saw.(bahwa beliau didudukkan bersanding Allah SWT) maka menurutku ia seorang zindiq (kafir). Tidak perlu diminta taubat (tetaapi langsung dibunuh). Sebab Allah –Azza wa Jalla- telah mengutamakan Nabi Muhammad di atas para nabi-Nya as. dan telah diriwayatkan dari Allah (dalam hadis Qudsi), Ia berfiaman: ‘Tidaklah Aku disebut melainkan engkau (hai Nabi) disebut juga.’ Dan telah diriwayatkan tentang ayat: ( لعمرك) maksudnya: ‘Demi kehidupanmu (hai Muhammad)’. Dan telah diriwayatkan bahwa Allah berfiaman: ‘Andai bukan karena engkau Aku tidak ciptakan Adam.’ Maka waspadalah dari menolak hadis (ucapan) Mujahid. Telah sampai kepadaku darinya –semoga Allah menghinakannnya- bahwa ia menolak bahwa Allah turun (dari langit/Arsy-Nya). Maka barang siapa yang menolak ini dan menolak hadis (ucapan) Mujahid ini ia harus tidak boleh diajak bicara dan (jika ia mati) tidak boleh dishalatkan (jenazahnya).’[7]



* Abu Ali Ismail ibn Ibrahim al Hasyimi

Al Khallâl menyebutkan pernyataan Abu Ali al Hasyimi yang barkata:

أنّ هذا المعروف بالترمذي عندنا مبتدع جهمي ، ومن رد حديث مجاهد فقد دفع فضل رسـول الله (ص) ، ومن رد فضيلة الرسول فهو عندنا كافر مرتد عن الإسلام …

“Sesungguhnya seorang yang dikenal dengan nama at Turmudzi ini menurut kami adalah seorang Ahli Bid’ah berfaman Jahmiyah. Barang siapa menolak ucapan Mujahid maka sesungguhnya ia telah menolak keutamaan Rasulullah saw.. dan barang siapa yang menolak keutamaan rasulullah maka menurut kami ia seorang kafir yang telah murtad dari agama Islam…. “[8]

Setelah menyebutkan beberapa nama-nama tokoh Mujassimah lainnya seperti Adu Daud as Sijistâni, Muhammad ibn Ismail as Sulami dan Abu Bakr Muhammad ibn Hammâd al Muqri, al Khallâl mempertegas vonis apa yang harus dijatuhkan, bukan lagi atas orang yang menolak ucapan dan pendapat Mujahid, tetapi atas orang yang sekedar diam saja dan tidak memberikan komentar yang mencacat hadis (ucapan/pendapat) yang diyakini oleh Mujahid. Al Khallâl berkata:

قال أبو بكر بن حماد : من ذكرت عنده هذه الأحاديث فسكت عنها فهـو متهم ، فكيـف من ردها وطعن فيها أو تكـلم فيها .

“Abu Bakr ibn Hammâd bewrkata, “Barang siapa yang disebut di sisinya hadis-hadis ini lalu ia diam maka ia tertuduh. Lalu bagaimana dengan yang menolak dan mencacatnya atau berbicara tentangnya.”

Inilah beberapa kutipan yang kami nukil dari apa yang dicecer oleh tokoh besar sekte Salkafi Mujassimah yang begitu dibanggakan kaum Salafi Modern dan mereka yang tertipu dengan kemasan palsu akidah yang diatas namakan Mazhab Para Salaf Shaleh (Mazhab PS2)

Dan darinya Anda dapat melihat kenaifan dan kekerdilan cara berfikir tokoh-tokoh kebanggan sekte ini… bagaimana mareka memperuncing kesimpulan untuk memberikan justifikasi bagi mereka untuk menvonsi sesat, ahli bid’ah, jahmiyah dan kafir murtad…. Semoga umat Islam diselamatkan dari keganasan kaum Ganas Brutal yang sok berpegang dengan Mazhab PS 2!

Setelahnya, saya ajak Anda menyaksikan komentar Ibnu Qayyim dan Ibnu Tamiyah sebagai dua tokoh yang hamper-hampir mereka sejajarkan dengan para nabi yang tak pernah melakukan kesalahan dalam akidah dan pendapat-pendapatnya!



* Komentar Ibnu Qayyim

Dalam kitab Badâi’ al Fawâid-nya, ia berkata:

فائدة : إقعاده على العرش وذكر أقوال من قال بذلك

“Faidah: tentang didudukkannya Nabi di atass Arsy dan penyebutan pendapat ulama tentangnya. (demikian disebutkan dalam cetakan Maktabah Nizâr Mushthafa al Bâz. Mekkah al Mukarramah,4/841. Thn. 1416 H/1996M)

Adapun dalam terbitan: Al maktabah al ‘Ashriyah, Beirut. Thn.1422 H/2001 M, 4/45 disebutkan demikian:

فائدة : ذكر من قالوا بقعود النبي (ص) على العرش .

“Faidah: Penyebutan ulama yang mengatakab bahwa Nabi di udukkan di atas Arsy.

Ibnu Qayyim berkata:

صنف المـروزي كتـاباً في فضيلـة النبي (ص) وذكر فيه إقعاده على العرش ، قال القاضي : وهو قول أبي داود وأحمد بن أصرم ويحي بن أبي طالب وأبي بكر بن حماد وأبي جعفر الدمشقي وعياش الدوري ، وإسحاق بن راهويه وعبد الوهاب الوراق ، وإبراهيم الأسبهاني وإبراهيم الحربي وهارون بن معروف ومحمد بن إسماعيل السلمي ومحمد بن مصعب العابد وأبي بكر بن صدقة ومحمد بن بشر بن شريك وأبي قلابة وعلي بن سهل وأبي عبد الله بن عبد النور وأبي عبيد والحسن بن فضل وهارون بن العباس الهاشمي وإسماعيل بن إبراهيم الهاشمي ومحمد بن عمران الفارسي الزاهد ومحمد بن يونس البصري وعبد الله بن الإمام أحمد والمروزي وبشر الحافي .

“Al Marwazi telah menulis sebuah kitab tentang keutamaan Nabi saw.. di dalamnya ia menyebutkan bahwa Nabi didudukkan di atas Arys. Qadhi berkata, “Ini adalah pendapat Abu Daud, Ahmad ibn Ashram, Yahya ibn Abi Thalib, Abu Bakr ibn Hammad, Abu Ja’far ad Dimasyqi. Ayâsy ad Dűri, Ishaq ibn Rahawaih, Abdul Wahhâb al Warrâq, Ibrahim al Asbahâni, Ibrahim al Harbi, Harun ibn Ma’rűf, Muhammad ibn Ismail as Sulami…. Abdullah putra Imam Ahmadd, al Marwazi dan Bisyr al Hâfi.”

Setelahnya ia berkata:

وهو قول ابن جرير الطبري ، وإمام هؤلاء كلهم مجاهد إمام التفسير ، وهو قول أبي الحسن الدارقطني

“Ini adalah pendapat Ibn Jarir ath Thabari, dan pemimpin/imam mereka semua adalah Mujahid imamnya ahli tafsir. Dan ia adalah pendapat Abul hasan ad Dâruquthni.”



* Komentar Ibnu Taimiyah

Ibnu Tamiyah berkoamtar mempertegas akidah tajsim ini dengan mengatakan:

فقد حدّث العلماء المرضيون وأولياؤه المقبولون أنّ محمداً رسول الله صلى الله عليه وسلم يجلسه ربه على العرش معه روى ذلك محمد بن فضيل ، عن ليث ، عن مجاهد في تفسير : ( عسى أنْ يَبْعَثَكَ رَبُكَ مَقَاماً مَحْمُوداً ) ، وذكر ذلك من وجوه أخرى مرفوعة وغير مرفوعة ، قال ابن جرير : وليس هذا مناقضاً لما استفاضت به الأحاديث من أنّ المقام المحمود هو الشفاعة باتفاق الأئمة من جميع من ينتحل الإسلام ويدعيه ، لا يقول أنّ إجلاسه على العرش منكراً ، وإنما أنكره بعض الجهمية ولا ذكره في تفسير الآية منكر .

“Para ulama yang telah diridhai (diterima keulamaannya) dan para wali-wali Allah yang diterima telah menyebutkan bahwa Muhammad Rasululah saw. telah diidudukkan Tuhannya di atas Arsy bersandingan bersama-Nya. Pernyataan itu telah disampiakan oleh Muhammad ibn Fudhail dari Laits dari Mujahid tentang tafsir ayat: : “mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji” Pendapat/tafsiran itu telah disebutkan dari jalur-jalur lain yang bersambung kepada Nabi dan yang tidak bersambung kepada Nabi. Ibnu Jarir berkata, “Tidaklah hal ini bertentangan dengan apa yang telah beredar dengan banyak dalam hadis-hadis bahwa Maqam mahműd yang dimaksud adalah maqam Syafa’at berdasarkan kesdepatan para imam dari seluruh umat Islam dan tidaklah didudukknnya Nabi di atas Arsy itu sesuatu yang mungkar. Hanya saja sebagian penganut faham Jahmiyah mengingkarinya dan juga mengingkarinya orang tidak menyebutkannya dalam tafsir ayat itu.”[9]

[1] As Sunnah; Al Khallâl,1/231. Terbitan Dâr ar Râyah- Riyadh AS. (Arab Saudi) Thn. 1415 H/1994 M.

[2] Ibid.232.

[3] Ibid. 232-233.

[4] Ibid.234.

[5] Ibid.234-235.

[6]

[7] Ibid.237.

[8] Ibid.237-238.

[9] Majmű’ Fatâwa Ibn Tamiyah,4/374.
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Syukran, kami online untuk pengunjung.

13.
Pengirim: ridwan  - Kota: probolinggo
Tanggal: 8/3/2010
 
Ibnu Jauzi Mengecam dan Menghujat Kaum Salafi Mujasimah

Seperti diketahui bersama bahwa kitab Da’fu Syubah at Tasybîh ditulis Ibnu Jauzi untuk melacak kesesatan dan penyimpangan akidah kaum Mujassimah yang diwakili oleh tiga tokoh sentral sekte itu di masanya, maka pastilah akidah unggukan kaum Mujassimah ini akan mendapat sorotan tajam dari tokoh Ahli Tanzîh/kelompok yang menyucikan Allah dari akidah sesat tempelan kaum Mujasimah Musyabbiha yang mengaku pewaris tunggal dan sejati “Mazhab PS 2”.

Dalam komentarnya atas hadis dengan nomer 39, Ibnu Jauzi menyebutkan terlebih dahulu dalil andalan kaum Mujassimah/Musyabbihah yang tak pernah malu memalsu atau menimati kepalsuan atas nama para sahabat dan/atau tabi’în dan para pembesar ulama. Ibnu Jauzi menyebtukan riwayat yang disandarkan kepada Aisyah ra., ia berkata, “Rasulullah saw. pernah ditanya tentang Maqâm Mahműd, maka beliau bersabda: “Tuhanku menjanjikan kepadaku untuk mendudukkanku di atas Arsy.”

Ibnu Jauzi berkata, “Ini adalah hadis palsu, sama sekali tidak shahih dari Rasulullah saw.

Ibnu Hâmid si Mujassim itu berkata, “Kita harus/wajib mengimani apa yang datang tentang adanya bersentuhan dan kedekatan Tuhan kepada Nabi saw. dan didudukkannya beliau di atas Arsy. Ibnu Jauzi berkata, “Ia berkata, ‘Ibnu Umar berkata tantang ayat:

وَ إِنَّ لَهُ عِنْدَنا لَزُلْفى‏ وَ حُسْنَ مَآبٍ

“Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik.” (QS. Shâd [38];40(

Ia berkata, “Allah menyebut kedekatan darii-Nya sehingga dia menyentuh sebagian dari Dzat Allah.”[10]

Ibnu Jauzi berkata, “Ini adalah sebuah kepalsuan atas nama Ibnu Umar. Dan barang siapa yang menyebut pembagian Dzat Allah kepada bagian-bagian maka ia telah kafir berdasarkan kesepakatanumat Islam/ijmâ’.”

Qadhi Abu Ya’lâ si Mujassim berkata, “Allah kelak mendudukkan Nabi-Nya di atas Arsy dengan arti mendekatkan Nabi-Nya dari Dzat-Nya. Pengertian ini didukung oleh firman:

فَكانَ قابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنى‏

“Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi).” (QS. An najm 53]; 9)

Ibnu Abbas berkata, “Jarak antaara Dia Tuhan dan Nabi adalah sedekat dua busur panah.”

Aku (Ibnu Jauzi) berkata, “yng dimaksud dengannya adalah malaikat Jibril bukan Allah SWT. Dan barang siapa membolehkan adanya sesuatu yang mendekat kepada Dzat Allah maka ia telah membilehkan terjadinya persentuhan/mulâshaqah. Dan apa yang yakini Qadhi Abu Ya’lâ adalah terang-tarangan kayakinan Tajsîm.”[11]

[11] Daf’u Syubah at Tasybîh:244-246. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Syukran, kami online untuk pengunjung.

14.
Pengirim: ridwan  - Kota: probolinggo
Tanggal: 8/3/2010
 
eberapa catatan penting seputar masalah ini dan sikap kaum Salafi Mujassimah-Musyabbihah.



A) Semangat 45 Kaum Salafi Mujassimah Dalam Menyebarkan Akidah Tajsîm Ini

Seperti kita perhatikan bagaimana al Khallâl misalnya dalam kitab as Sunnah-nya begitu berapi-api dalam menyajikan akidah tajsîm yang sangat bertentangan dengan kemurnian inti Tauhid. Sampai-sampai ia bersusah-susah dalam menyebutkan tidak kurang dari 85 komentar para tokoh Mujassimah dan yang sangat kuat kemungkinan sebagiannya masih layak disangsikan.

Namun yang menarik perhatian di sini ialah bahwa hampir seluruh komentar yang ia sebutkan itu bermuara pada pendapat seorang tabi’in bernama Mujahid dengan periwayatan yang lemah!

Lebih dari itu semua bahwa al Khallâl, -seperti juga kaum Wahhâbi/Salafi Mujassimah lainnya- i tidak segan-segan menampakkan taring kebengisannya dengan menteror siapapun yang tidak meyakini apa yang ia sebutkan itu sebagai Jahmi, Zindiq dan akhirnya kafir![12]

Sebuah kegilaan sikap yang tak terbayangkan. Dimana keimanan diteror sebagai kekafiran dan kekafiran diyakini sebagai inti keimanan. Tapi apa hendak dikata? Kalau ttidak galak yaa bukan Salafi namanya!!



B) Ketidak Konsistenan Sikap kaum Salafi Mujassimah

Kaum Salafi dalam rangka menjaering kaum awam selalu memekikkan slogan kembali kepada Al Qur’an dan Sunnnah Nabi saw. Dengan pemahaman Salaf Shaleh! Akan tetapi anehnya, di sini dalam kasus ini, kaum Salafi Mujassimah jusretu mmblakangi Al Qur’an dan Sunnah Nabi saw. serta pernyataan para Salaf generasi Sahabat dan Tabi’în. Sebab sabda Nabi saw. dalam menafsirkan ayat Maqâm Mahmud sudah sangat tegas bahwa yang dimaksudkan adalah maqam syafa’at di mana Allah memberikan kedudukan kepada Nabi saw. berupa pemberian syafa’at demi diringankannya umat manusia dari kedahsyatan mengerikan di padang mahsyar dan diberinya beliau maqam syafa’at untuk menyelamatkan para pendosa dari siksa api neraka. Maqam syafa’at itulah yang dimaksud dengan Maqâm Mahműd. Pemaknaan ini juga telah dikuatkan oleh penafsiran para sahabat dan negerasi Salaf lainnya.

Tetapi anehnya, di sini kaum Salafi Mujassimah justeru tertarik kepada pendapat seorang tabi’în dan bersandar kepada beberapa riwayat palsu yang mengatakan bahwa kelak di hari kiamat Allah berbagi tempat duduk di atas Arsy-Nya. Lebih dari itu bahwa periwayatan pendapat irtu dari Mujahid itu diriwayatkan dari jalur yang lemah. Dan selain itu telah diriwayatkan juga dari Mujahid pendapat yang menyamai pendapat para sahabat dan Salaf umat lainnya (yang sesuai dengan sabda Nabi saw.), tetapi kaum Salafi jusretu mengabaikan pendapat Mujahid yang ini dan menelan mentah-mentah pandapatnya yang lain.

Kasus lain ketidak jujuran kaum Salafi Mujassimah Musyabbihah, mereka menyanjung Mujahid yang pendapat miring yang dinisbatkan kepadanya dan mengecam habis-habisan siaipun yang berani menyentuh atau mencacat pendapat Mujahid, sementara itu ketika meerka menemukan Mujahid menafsirkan ayat -yang biasa mereka jadikan pijakan untuk mengatakan bahwa Allah itu dapat dilihat dengan mata kepala- dengan tafsiran yang menegsakan bahwa yang dimaksud adalah menanti anugrah dan pahala Allah (bukan melihat Allah), maka kaum Salafi Mujassimah segera mencampakkan Mujahid dan menganggapnya seakan tidak pernah ada dalam dunia tafsir dan akidah dan seakan pendapatnya adalah sekedar isapan jempol yang tak yalak dihraukan!!! Subhanallah!

Apakah ini yang namanya berpegang teguh dengan Al Qur’an dan Sunnah?

Apakah ini yang duisebut konsiten di atas pendapat da akidah Salaf Shaleh? Atau jusretu sikap seperti itu adalah penyembahan terhadap hawa nafsu. Salah Shaleh hanya tunggangn yang dipakai saat berguna untuk mendukung kesesatan akidah mereka. Jika Salaf Shaleh kebanggaan mereka berseberangan dengan hawa nafsu mereka, mereka segera mencampakkannya di belakang punggung mereka… contoh paling nyata adalah sikap damai dan menyanjung terhadap Yazid yang penjagal keluarga Nabi Muhammad; Sayyinida Husain dan keluarganya di padang Karbala, sementara Imam kebanggan mereka; Imam Ahmad ibn Hanbal telah menegaskan dibolehkannya melaknat Yazid dan beliau pun telah melaknatnya! Namun apa yang kita saksikan dari kaum Salafi? Mereka membuang akidah Imam mereka di saat terbutki Imam mereka bersama kebanarann dan menyelisihi hawa nafsu kecintaan kepada kaum munafik yang sangat kental ada pada jiwa busuk mereka!!



C) Ibnu Tamiyah Bapak Akidah Akidah Tajsîm

Dari keterangan Ibnu Jauzi yang kami sebutkan di atas dapat dimengerti betapa bahaya akidah tajsîm dalam mencoreng kemurnian akidah Tauhid dan ia berdampak kepada kekafiran. Dari sini tidak benar apabila kita bertoleransi dalam menyikapi akidah Tajsîm dan Tasybîh yang disebar-luaskan oleh kaum Mujassimah. Sebagaimana tidak benar pula apabila kita teledor dalam mebongkar kesesatan akidah tersebut. Sebab –disadari atau tidak, seorang Mujassim pada dasarnya mempertuhankan arca/shanam. Karenanya Imam Nawawi menegaskan dalam kitab al majmű’-nya,4/253:

فَمِمَّن يَكْفر مَنْ يجَسِّمُ اللهَ تَجْسيمًا صَرٍيحًا.

“Di antara kaum yang kafir adalah orang yang mentajsim Allah dengan tajsîm sharîh/terang.”

Dan setelah ini coba perhatikan penegasan tegas tentang akidah tajsîm yang disuarakan Ibnu Taimiyah dalam kitabnya yang berjudul at Ta’sîs Fi Asâs at Taqdîs,1/101:

و ليس في كتاب الله ولا سنة رسولِه ولا قول أحد من سلف الأمة وأئمتها أنه ليس بجسمٍ , و أنّ صفاته ليست أجساما ولا أعراضا. ففِي نفيٍ المعاني الثابتة بالشرع و العقل بنفي ألفاظ لم ينف معناها شرعٌ ولا عقلٌ جهلٌ و ضلالٌ.

“Dan tidaklah dalam Kitab Allah (Alqur’an), Sunnah Rasul-Nya dan ucapan seorang dari kalangan Salaf dan para imam umat ini penegasan bahwa Allah itu bukan jism dan sifat-sifat-Nya bukan berupa jism atau bendawi. Maka menafikan makna-makna yang telah tetap berdasarkan Stara’ dan akal dengan menafikan lafadz-lafadz yang mana Syara’ dan akal tidak menafikannya adalah sebuah kajahilan dan kesesatan.”

Demi Allah renungkan apa yang katakan di sini, adakah kesamaran padanya akan kekentalan akidah tajsim? Kalau yang demikian itu belum dianggap tajsim, lalu pada yang bagaimana tajsim itu?!

Tidakkah cukup ayat yang sangat tegas yang menerangkan kepada kitab bahwa Allah SWT tidak menyerupai-Nya apapun dari ciptaan-Nya sebagai bukti tegas akidah Tauhid yang diajarkan Alqur’an?

Apakah Imam Ja’far ash Shadiq ra. yang berkata: “Barang siapa mengaku bahwa Allah itu bertempat pada sesuatu dari sesuatu atau di atas sesuatu maka ia benar-benar telah menyekutukan Allah!! Sebab jika Dia bertempat di dalam sesuatu berarti ia terbatasi. Dan jika Dia berada di atas sesuatu beberti ia dipikul/mahműl.. dan jika Dia berasal dari sesuatu maka berarti Dia ciptaan/muhdats.” itu bukan seorang tokoh Salaf dan imam umat ini, sehingga Ibnu Taimiyah tidak kengindahkan ucapannya?!

Apakah penegasan Abu Hanifah (murid Imam Ja’far ash Shadiq) bahwa: “Ada dua pendapat/akidah jahat yang datang dari negeri timur; Jahm datang membawa Ta’thîl dan Muqatil datang membawa Tasybîh.” Demikian disebutkan adz Dzahabi dalam Siyar A’lâm-nya[13]

Apakah Imam Abu Hanifah (yang wafat tahun 150 H) bukan seorang imam generasi Salaf?!



D) Jangan Mudah Tertipu Dengan Lebel Salaf!

Kaum Salafi Mujassimah –seperti sering saya katakan- selalu berbangga dengan akidah yang dicetuskan oleh orang-orang atau generasi yang mereka sebut dengan istilah Salaf. Ketika hendak meyakinkan kaum awam mereka selalu berboros-boros dalam menyebut nama-nama Salaf (tentunya yang menyesuai akidah Tajsîm/Tasybîh mereka), demi membangun opini bahwa demikianlah Akidah Islam sejati yang dijarkan genarasi Salaf Shaleh! Akan tetapi perlu dimengerti bahwa tidak semuaa Salaf itu Shaleh! Dan tidak semua Salaf Shaleh itu boleh dijadikan panutan dan diandalkan pendapat dan pandangannya, tidak juga harus disakralkan pemahaman agamanya! Bukankah sekte-sekte sesat lagi menyesatkan itu bermunculan di generasi Salaf yang mereka banggakan?

Jadii jangan mudah digertak dengan gertakan murahan!

Kalau memang mereka jujur dari klaim menyanjung pandangan dan pemahana Salaf Shaleh, lalu mengapakan mereka mencampakkan pandangan dan akidah Tauhid murni yang diajarkan oleh keluarha/Ahlul bait Nabi saw., seperti Sayyidina Imam Ali Zainal Abidin putra Imam Husain, Sayyidina Imam Muhammad al Baqir putra Imam Zainal Abidin, Sayyidina Imam Ja’far ash Shadiq putra Imam Muhammad al Baqir ra.? Mengapa mereka tidak pernha menggubris ucapan dan mutiara hikmah mereka yang sarat dengan pengaungan Alah SWT dengan sifar-sifat kemaha sucian dan ajaran menyebarkan semerbak aaroma wangi konsep Tauhid musri?

Mengapa kalian kaum Salafi Mujassimah yang sok mengaku sebagai pawaris konsep Tauhid Salaf Shaleh tidak mau merenungkan kalimat nurani yang pernah disampaikan Sayyidina Imam Ja’far ash Shadiq ra.: Syaikhuna Syihâbuddîn ibnu Jahbal (w.733 H0)[14] –yang hidup sezaman dengan gempong sekte Mujassimah; Ibnu Taimiyah, yang menulis bantahan khusus atas kitab Aqidah al Hamawiyah al Kubrâ yang ditulis Ibnu Taimiyah- berkaata menukil kalimat Sayyidina Imam Ja’far ash Shadiq ra. Sebagai bantahan atas sikap Ibnu Taimiyah yang bersandar dalam masalah ‘Uluw/ketinggian fisikal Allah di atas Arsy-Nya kepada ucapan ulama biiasa dari generasi terbelakang, “Duhai anehnya dia (Ibnu Taimiyah) ini , bagaimana ia berhujjah dengan uccapan orang itu dan meninggalkan pribadi agung seperti Ja’far ash Shadiq….

Setelahnya ia menyebutkan kalimat Sayyidina Imam Ja’far ash Shadiq ra.:Dan Sang pemilik kedudukan agung, nasab yang mulia, penghulu para ulama, pewaris tunggal Khairul Anbiyâ’; Ja’far ash Shadiq –semoga keridahaan Allah atasnya- telah berkata:

مَن زعم أنَّ اللهَ في شيئٍ, أو من شيئٍ, أو على شيئٍ فقد أشرك!! إذ لو كان في شيئٍ لكان محصورًا, لو كان على شيئٍ لكان مَحْمولاً, لو كان من شيئٍ لكان مَحْدثًا.

“Barang siapa mengaku bahwa Allah itu bertempat pada sesuatu dari sesuatu atau di atas sesuatu maka ia benar-benar telah menyekutukan Allah!! Sebab jika Dia bertempat di dalam sesuatu berarti ia terbatasi. Dan jika Dia berada di atas sesuatu beberti ia dipikul/mahműl.. dan jika Dia berasal dari sesuatu maka berarti Dia ciptaan/muhdats.”

Karena kalimat dan mutiarah hikmah penuh makna yang selalu terucap dari mulut-mulut suci hamba-hamba pilihan Allah dari keturunan Nabi Muhammad saw. ini kurang digemari oleh kaum Wahhâbi/Salafi Mujassimahh Musyabbihah, maka pasti mereka akan sangat keberatan mendengarnya apalagi menerima dan menjadikannya sebagai hujjah dan panutan dalam agama… Dan pasti akan segera mencari-cari serinu alasan untuk mencampakkannya dan menuduh penukilnya sebagai Syi’ah Rafidhah atau paling tidak terpengaruh ajaran dan doktrin ajaran Syi’ah!!

Tetapi jika Anda menukil sebuah ucapan dari Ka’ab al Ahbâr, Muqatil ibn Sulaiman, Ikirimah dkk..maka mereka akan mengacungkan jempol dan memuji Anda sebagai penyandang akidah tauhid murni, berada di atas Sunnah wal Jama’ah dan pernganut Salafi sejati!

Kalimat Sayyidina Imam Ja’far ash Shadiq ra. Sekali gus sebagai bantahan atas klaim palsu Ibnu Taimiyah yang saya sebutkan pada poin sebelumnya.

[10] Tafsir sesat di atas juga telah disebutkan al Khallâl dalam kitab as Sunnah-nya: 263 dari riwayat Ubaid ibn Umair: Alah bersentuhan dengannya.

[11] Daf’u Syubah at Tasybîh:244-246.

[12] Lebih lanjut baca kitab as Sunnah:215-216.

[13] Siyar A’lâm an Nubalâ’,7/202.

[14] Risalah yang ditulis oleh Ibnu Jahbal ini memiliki nilai penting karena 1) Ia ditulis di masa hidup Ibnu Taimiyah. 2) Ia menutup dengan tantangan kepada Ibnu Taimiyah agar membantah balik hujatan yang ia tulis, tetapi anehnya hingga kematian merengut Ibnu Taimiyah, ia terdiam tidak menjawabnya. Padahal al Hamawiyah al Kubra itu ia ajarkan di tahun 698 H. Risalah Ibnu jahbal itu telah dimuat lengkap oleh as Subki dalam kitab Thabaq^at asy Syâfi’iyah,9/35-91.
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Syukran, kami online untuk pengunjung.

15.
Pengirim: ridwan  - Kota: probolinggo
Tanggal: 8/3/2010
 
apakah benar bahwa rasul bisa melihat Allah dengan mata telanjang ???
karena ada hadits Riwayat Imam Bukhari:
Imam Buhkari meriwayatkan dengan sanad dari ‘Âmir dari Masrűq, ia berkata kepada Aisyah ra.:

يا أمتاه هل رأى محمد صلى الله عليه وسلم ربه ؟ فقالت لقد قَفَّ شعري مما قلت ! أين أنت من ثلاث من حدثكهن فقد كذب: من حدثك أن محمداً صلى الله عليه وسلم رأى ربه فقد كذب ثم قرأت : لا تُدْرِكُهُ الْأَبْصارُ وَ هُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصارَ وَ هُوَ اللَّطيفُ الْخَبيرُ. وَ ما كانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلاَّ وَحْياً أَوْ مِنْ وَراءِ حِجابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولاً فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ ما يَشاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكيمٌ. ومن حدثك أنه يعلم ما في غد فقد كذب ثم قرأت : الْأَرْحامِ وَ ما تَدْري نَفْسٌ ما ذا تَكْسِبُ غَداً. ومن حدثك أنه كتم فقد كذب ثم قرأت : ا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ ما أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ… (الآية)، ولكنه رأى جبرئيل عليه السلام في صورته مرتين .

“Wahai Bunda, apakah (Nabi) Muhammmad saw. melihat Tuhannya? Maka Aisyah berkata, “Benar-benar bulu romaku merinding dari apa yang engkau katakana! Kemana engkau dari tiga perkara, siapa yang berbicara kepadamu tentang tiga perkara itu pastilah ia benarr-benar telah berbohong; siapa yang berkata kepadamu bahwa Muhammad saw. telah melihat Tuhannya maka ia benar-benar telah berbohong. Kemudian ia membacakan ayat: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al An’âm;103)
Shahih Bukhari,6/50.

Dalam riwayat lain Imam Bukhari juga meriwayatkan dari jalur Sya’bi dari Masrűq dari Aisyah ra., ia berkata:

من حدثك أن محمداً صلى الله عليه وسلم رأى ربه فقد كذب، وهو يقول : لا تدركه الاَبصار، ومن حدثك أنه يعلم الغيب فقد كذب، وهو يقول : لا يعلم الغيب إلا الله .

“Barang siapa berbicara kepadamu bahwa Muhammad aw. melihat Tuhannya maka ia benar-benat telah berbohong. Allah berfirman: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata.” Dan barang siapa berbicara kepadamu bahwa dia (Nabi) mengetahui berita ghaib maka ia benar-benat telah berbohong. Allah berfiman: “Tiada mengetahui ghaib kecuali Allah.”
Ibid.8/166 dan hadis-hadis serupa juga telah ia riwayatkan dalam banyak kesempatan lain.

 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kami online untuk pengunjung

16.
Pengirim: ahmad  - Kota: probolinggo
Tanggal: 8/3/2010
 
Peringatan Haul para Pendahulu

Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW selalu berziarah ke makam para syuhada di bukit Uhud pada setiap tahun. Sesampainya di Uhud beliau memanjatkan doa sebagaimana dalam surat Al-Qur’an Surat Ar-Ra’d ayat 24:
سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.

Inilah yang menjadi sandaran hukum Islam bagi pelaksanaan peringatan haul atau acara tahunan untuk mendoakan dan mengenang para ulama, sesepuh dan orang tua kita.

Diriwayatkan pula bahwa para sahabat pun melakukan apa yang telah dilakukan Rasulullah. Berikut ini adalah kutipan lengkap hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi:
وَ رَوَى الْبَيْهَقِي فِي الشَّعْبِ، عَنِ الْوَاقِدِي، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَزُوْرُ الشُّهَدَاءَ بِأُحُدٍ فِي كُلِّ حَوْلٍ. وَ إذَا بَلَغَ رَفَعَ صَوْتَهُ فَيَقُوْلُ: سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّار

Al-Baihaqi meriwayatkan dari al-Wakidi mengenai kematian, bahwa Nabi SAW senantiasa berziarah ke makam para syuhada di bukit Uhud setiap tahun. Dan sesampainya di sana beliau mengucapkan salam dengan mengeraskan suaranya, “Salamun alaikum bima shabartum fani’ma uqbad daar” –QS Ar-Ra’d: 24– Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.

Lanjutan riwayat:
ثُمَّ أبُوْ بَكْرٍ كُلَّ حَوْلٍ يَفْعَلُ مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ عُثْمَانُ. وَ كاَنَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا تَأتِيْهِ وَ تَدْعُوْ. وَ كاَنَ سَعْدُ ابْنِ أبِي وَقَّاصٍ يُسَلِّمُ عَلَيْهِمْ ثُمَّ يَقْبَلُ عَلَى أصْحَابِهِ، فَيَقُوْلُ ألاَ تُسَلِّمُوْنَ عَلَى قَوْمٍ يَرُدُّوْنَ عَلَيْكُمْ بِالسَّلَامِ

Abu Bakar juga melakukan hal itu setiap tahun, kemudian Umar, lalu Utsman. Fatimah juga pernah berziarah ke bukit Uhud dan berdoa. Saad bin Abi Waqqash mengucapkan salam kepada para syuhada tersebut kemudian ia menghadap kepada para sahabatnya lalu berkata, ”Mengapa kalian tidak mengucapkan salam kepada orang-orang yang akan menjawab salam kalian?”

Demikian dalam kitab Syarah Al-Ihya juz 10 pada fasal tentang ziarah kubur. Lalu dalam kitab Najhul Balaghah dan Kitab Manaqib As-Sayyidis Syuhada Hamzah RA oleh Sayyid Ja’far Al-Barzanji dijelaskan bahwa hadits itu menjadi sandaran hukum bagi orang-orang Madinah untuk yang melakukan Ziarah Rajabiyah (ziarah tahunan setiap bulan Rajab) ke maka Sayidina Hamzah yang duitradisikan oleh keluarga Syeikh Junaid al-Masra’i karena ini pernah bermimpi dengan Hamzah yang menyuruhnya melakukan ziarah tersebut.

Para ulama memberikan arahan yang baik tentang tata cara dan etika peringatan haul. Dalam al-Fatawa al-Kubra Ibnu Hajar mewanti-wanti, jangan sampai menyebut-nyebut kebaikan orang yang sudah wafat disertai dengan tangisan. Ibnu Abd Salam menambahkan, di antara cara berbela sungkawa yang diharamkan adalah memukul-mukul dada atau wajah, karena itu berarti berontak terhadap qadha yang telah ditentukan oleh Allah SWT.

Saat mengadakan peringatan haul dianjurkan untuk membacakan manaqib (biografi yang baik) dari orang yang wafat, untuk diteladani kebaikannya dan untuk berbaik sangka kepadanya. Ibnu Abd Salam mengatakan, pembacaan manaqib tersebut adalah bagian dari perbuatan taat kepada Allah SWT karena bisa menimbulkan kebaikan. Karena itu banyak para sahabat dan ulama yang melakukannya di sepanjang masa tanpa mengingkarinya.

Demikianlah. Dalam muktamar kedua Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah atau jam’iyyah tarekat-tarekat di lingkungan NU di Pekalongan Jawa Tengah pada 8 Jumadil Ula 1379 H bertepatan dengan 9 November 1959 M para kiai menganjurkan, sedikitnya ada tiga kebaikan yang bisa dilakukan pada arara peringatan haul:

1. Mengadakan ziarah kubur dan tahlil
2. Menyediakan makanan atau hidangan dengan niat sedekah dari almarhum.
3. Membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an dan memberikan nasihat agama, antara lain dengan menceritakan kisah hidup dan kebaikan almarhum agar bisa diteladani.

KH Aziz Mashuri
Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang, mantan Ketua Umum Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI)
(Disarikan dari buku kumpulan hasil kesepakatan muktamar Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah Nahdlatul Ulama 1957-2005) 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Syukran, kami online untuk pengunjung.

17.
Pengirim: habsyi  - Kota: Jogja
Tanggal: 21/3/2010
 
Gaya bahasa yg bgs.. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Terima kasih

18.
Pengirim: Wildan Hasan  - Kota: Bekasi
Tanggal: 22/3/2010
 
Jika pengunjung website ini ingin tahu lebih banyak lagi tentang keanehan2 yang ada pada kaum wahabi silahkan diklik http://abu-syafiq.blogspot.com 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Syukran.

19.
Pengirim: Budi bin Nazar  - Kota: Tanjung Pinang
Tanggal: 24/4/2010
 
Assalamua'laikum....ana merasa senang dengan banyak nya website yang memberi nuansa ilmu kepada kita 2 yang tidak sempat menimba ilmu di pesantren........JazakALLAH khoir... 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Mudah-mudahan barakah.

20.
Pengirim: Yahya Ridwan  - Kota: Jambi
Tanggal: 21/6/2010
 
Ya Akhi, wahabi itu bukan nama bagi orang yang mengikuti jejak salafush sholeh wahabi itu adalah nama yang diberikan oleh kaum - kaum Hizbiyin, Syi'ah,dan sebagainya untuk mengkaburkan pendapat umat tentang islam yang dibawa oleh Nabi MUhammad Shalallahu Alaihi Wa Salam, tentang ziarah kubur dan mendoakan itu sunnah adapun berdo'a dikuburan dengan keyakinan bahwa itu sunnah maka itu bukan dari sunnah, kalo bukan sunnah tentu bid'ah, pahamilah Al-Qur'an dan Sunnah dengan bimbingan ulama terkhusus Para Sahabat dan orang - orang yang mengikuti mereka dengan baik, bukan dengan pemahaman sufi yang rusak, syi'ah yang ghuluwm khawarij yang ekstrem dan Hizbi yang jahil,  
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kelompok yang selalu menvonis bid'ah dhalalah terhadap amalan warga Sunni Syafi'i seperti mendoakan mayyit di tempat makam pekuburan, demi mendapatkan maghfirah dari Allah bagi si mayyit, atau menvonis bid'ah dhalalah terhadap amalan tahlilan, perayaan maulid Nabi SAW, mentalqin mayyit dan sebagainya, maka kelompok ini sangat tepat dijuluki sebagai KAUM WAHHABI, karena mereka mengikuti pemahaman 'sesat' Muhammad bin Abdul Wahhab yang menyerang amalan warga Sunni muslim mayoritas penghuni planet bumi ini. Padahal setiap amalan yang dilakukan oleh warga Sunni Syafi'i adalah berdasarkan dalil syar'i baik dari Alquran maupun Hadits, dan warisan amalan ulama salaf Ahlus sunnah wal jamaah. Adapun ajaran Ulama salaf Ahlus sunnah antara lain memperbolehkan pengamalan hadits dhaif yang tidak sampai kepada derajat matruukul hadits untuk kepentingan fadhaailul a'maal. Apalagi suatu amalan yang bedasarkan hadits hasan, padahal ladasan amalan warga Sunni Syafi'i justru mayoritas menggunakan ayat Alquran, Hadits Shahih dan Hadits Hasan. Demikianlah hujjah kami, Wahai kaum Wahhabi !!

21.
Pengirim: Mirza  - Kota: Singosari
Tanggal: 29/9/2010
 
@Wahabi: "lanaa a'maalunaa wa lakum a'maalakum"

Bagi kami amalan kami, dan bagimu amalanmu. (Ustadz H. M. Sa'idun, Rogonoto Singosari) 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Ya, benar.

22.
Pengirim: abu  - Kota: MALANG
Tanggal: 13/10/2010
 
ANDA BODOH SEKALI..., WAHABI ITU GELAR YG DIBERIKAN OLEH MUSUH ISLAM AGAR ORANG ISLAM JAUH DARI ISLAM YG BENAR.. ORANG˛ YG ANDA TUDUH WAHABI LAH YG TELAH MENJALANKAN TUNTUNAN SESUAI NABI KITA YG MULIA. LAGIAN SALAH PENISBATAN ENTE... SEHARUSNYA BUAKN WAHABI TP MUHAMMADY, KRN NAMANYA MUHAMMAD BIN ABDULWAHAB.. JADI KLO ENTE NYEBUTKAN WAHABI DG MAKSUD MENJELEKKAN ITU UNTK NJELEKKIN BAPAKNY SYAIKH MUHAMMAD. TAU GAK , YG NYEBARIN NAMA WAHABI ADALAH ORNG˛ DILUAR ISLAM YG MAU MEMECAH ISLAM. KLO GA PERCAYA ENTE DATANG AJA KE KAJIAN SALAFY, PENUH DG ILMU QURAN DAN SUNNAH, BUKAN KAYAK KAJIAN ENTE YG BID'AH DAN MENYESSATKKAN.... 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
He he he, Kaum Wahhabinya marah. Lah orang Saudi Arabiah saja yang menganut aliran Wahhabi, nggak ada yang protes dijuluki Wahabi looh ... !

23.
Pengirim: Aswaja  - Kota: Probolinggo
Tanggal: 15/10/2010
 
Memang sering kita dengar atau baca, kebanyakan penganut sekte bentukan Muhammad ibn Abdil Wahhâb merasa begitu gusar disebut sebagai kaum Wahhâbi alias bermadzhab Wahhâbi, seperti yang ditampakkan juga oleh seorang Misionaris Wahhabiyah bernama ABU - MALANG, sementara kalimat/istilah/penyebutan itu tidak mengandung konotasi pujian atau celaan. Ia bukan celaan, andai mereka mengku bahwa apa yang mereka anut itu adalah sebuah mazhab. Sebab sebuah mazhab yang ditegakkan di atas dalil-dalil yang shahihah tidak akan dicemari dengan nama baru yang disandangnya atau penamaan baru yang disematkan orang kepadanya!

Saya benar-benar terheran-heran terhadap para muqallidin (yang hanya pandai bertaqlid buta, tanpa kefahaman, namun tidak pernah mau mengakuinya) yang tak henti-hentinya menampakkan kegusaran mereka dan mengeluhkan bahwa istilah Wahhâbi itu sengaja digelindingkan musuh-musuh dawah dengan konotasi mengejek, sementara itu perlu mereka sadari bahwa penamaan itu di luar area pertikaian. Ini yang pertama.
Kedua, berapa banyak ulama Wahhâbi sendiri menerima dengan lapang dada penamaan itu. Mereka tidak malu-malu atau enggan menyebut diri mereka sebagai Wahhâbi, bahkan sebagian mereka menulis buku atau risalah bertemakan Akidah Wahhâbiyah. Itu semua tidak semestinya dirisaukan.
Di antara ulama Wahhâbi yang menggunakan istilah atau menamakan aliran/mazhab mereka dengan nama Wahhâbi adalah Sulaiman ibn Sahmân, dan sebelumnya Muhammad ibn Abdil Lathîf. Baca kitab ad-Durar as Saniyyah,8/433, serta masih banyak lainnya. Demikian juga para pembela Wahhâbi, seperti Syeikh Hamid al Faqi, Muhammad Rasyid Ridha, Abdullah al Qashîmi, Sulaiman ad Dukhayyil, Ahmad ibn Hajar Abu Thâmi, Masud an Nadawi, Ibrahim ibn Ubaid penulis kitab at Tadzkirah- dan banyak lagi selain mereka. Mereka semua menggunakan istilah atau nama tersebut untuk merujuk kepada aliran yang dibawa Muhammad ibn Abdil Wahhâb at Tamimi an Najdi. Kendati Syeikh Hamid al Faqi terkesan meragukan itikad baik mereka yang menggunakan nama itu dan ia mengusulkan lebih tepatnya ajakan Muhammad ibn Abdil Wahhâb itu dinamai dengan Dawah Muhammadiyah mengingat nama pendirinya adalah Muhammad bukan Abdul Wahhâb! Dan sikap ini diikuti oleh sebagian Misinioris dan jugu dawah serta aktifis sekte ini, seperti Shaleh ibn Fauzân ketika ia mengecam Abu Zuhrah dan lainnya.
Tuntutan Syeikh Fauzân dan Hamid al Faqi agar nama Wahhâbi dijauhkan dari penggunaan dan sebagai gantinya nama Dawah Muhammadiyah mengingat pendiri sekte ini adalah Muhammad adalah tuntutan yang aneh bin ajaib, dengan satu alasan yang sederhana, yaitu bahwa kebanyakan mazhab-mazhab yang ada di kalangan kaum Muslimin tidak dinisbatkan kepada nama pendirinya, akan tetapi dinisbatkan kepada nama ayah-ayah atau kakek-kakek mereka.
Mazhab Hanbali misalnya, dinisbatkan kepada kakek Imam Ahmad, sebab nama beliau adalah Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal. Sementara itu syeikh Fauzân dan al Faqi serta para penganut Wahhâbi tidak sediktpun memprotes penamaan tersebut, mereka tidak mengatakan bahwa mazhab Imam Ahmad itu seharusnya dinamakan dengan nama Mazhab Ahmadi!
Begitu juga dengan Mazhab Syafii, ia dinisbatkan kepada Syafi -kakek keempat Imam Syafii -sebab nama lengkap beliau adalah Muhammad ibn Idris ibn Abbas ibn Utsman ibn Syafi. Lalu mengapa mereka tidak memprotesnya dengan mengatakan penamaan itu tidak benar, sebab nama pendiri mazhab itu adalah Muhammad, jadi penamaan yang tepat adalah Mazhab Muhammadi!
Begitu juga dengan Mazhab Hanafi, ia dinisbatkan kepada Abu Hanifah, sementara Hanifah itu sendiri bukan nama pendirinya, nama pendirinya adalah Numân ibn Tsabit.
Hal yang sama kita jumpai dalam penamaan Mazhab Teoloqi/Kalam Asyari, para penganut mazhab tersebut dipanggil dengan nama Asyâirah (bentuk jamak Asyari) dengan dinisbatkan kepada Abu al Hasan al Asyari, sementaa nama Asyar adalah nama kakek Abu al Hasan yang kesekian sejak masa jahilah sebelum kedatangan Islam yang menjadi moyang bani Asyairah, yaitu Asyar ibn Adad ibn Zaid ibn Yasyjab ibn Arîb ibn Zaid ibn kahlan ibn Saba. Dapat kita perhatikan bahwa antara Abu al Hasan pendiri mazhab- dan Asyar terdapat puluhan ayah begitu pula dengan Mazhab Ibadhiyah salah satu sekte Khawarij yang masih eksis hingga sekarang- ia dinisbatkan kepada Abdullah ibn Ibâdh. Dan begitu seterusnya.

Selain itu, sering kita saksikan bahwa para Wahhâbiyun dengan seenaknya sendiri menyebut kelompok-kelompok tertentu dengan sebutan dan gelar dengan kesan kental mengejek, seperti al Jâmiyyîn, Al Bâziyyîn, al Quthbiyyîn, al Bannaiyyîn, al Albâniyyîn, al-Sururiyyin, al Kuburiyyun, dan lain-lain.
Bahkan yang mengherankan ialah ternyata Shaleh ibn Fazân yang keberatan digunakannya istilah Wahhabi- ternyata dengan serampangan menggunakan istilah Surűriyah untuk pengikut Muhammad ibn Surűr ibn Nâyif ibn Zainal Âbidîn. Mengapa ia tidak menamainya dengan nama Muhammadiyah/Muhammadi mengingat pendirinya/pimpinan kelompok itu bernama Muhammad dan bukan Surűr?!!
Banyak ulama wahhabi indonesia mengatakan bahwa kaum NU adalah Kuburiyyun.
Namun, apa hendak dikata, kaum Wahhâbiyah tidak pernah ingin dibatasi dengan aturan main dan etika dalam berkomunikasi! Apa yang mau mereka lakukan, ya mereka lakukan, jangan ada yang menanyakan mengapa? Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai. (QS.21[Al Anbiyâ];23)
Atau jangan-jangan keberatan mereka atas penamaan/penisbatan itu sebenarnya bersifat politis dan demi kepentingan Dawah Pemurnian Tauhidi ala mereka, agar kaum awam tidak lagi mengingat potret kelam pendiri sekte Mazhab ini yang akrab dengan doktrin pengafiran dan pencucuran darah-darah suci kaum Muslimin lain selain pengikut mazhabnya, sebab kalau mereka menyadari hal itu pasti mereka akan merasa jijik terhadapnya! Bisa jadi itulah alasan hakiki dibalik keberatan itu, namum kami tidak ingin bersepekulasi atau sűdzdzan, mungkin ada alasan lain yang luhur. Wallahu Alam.
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Wah, jangan-jangan penganut Wahhabinya tambah ... Marah nich !

24.
Pengirim: Ahmad Syafi'i  - Kota: Malang
Tanggal: 10/11/2011
 
Assalaamualaikum
Hadits "Kuntu nahaitukum `an ziyaaratil qubuuri, alaa fazuuruuha. Ustad, terdapat dalam kitab apa. mohon penjelasan
Wasalaamualaikum 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Banyak terdapat dalam kitab-kitab para ulama, antara lain kitab Tahqiqulaamal dan kitab Mafahim yajibu an tushahhah karangan Abuya Sayyid Muhammad Almaliki,

25.
Pengirim: pencinta Nabi  - Kota: ujungpandang
Tanggal: 27/11/2011
 
tidak benar tuduhan anda ya Ustaad,ini tiada lain adalah fitnah...silahkan cek lagi maraji' ulama dari kalangan wahabi 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Mohon maaf, rupanya anda saja yang kurang peduli terhadap permasalahan warga Alhus sunnah wal jama'ah yang selalu menjadi sasaran tembak kaum Wahhabi yang menuduh warga Ahlus sunnah sebagai pelaku Bid'ah (SESAT), serta calon penghuni neraka.

Kalau anda mau bukti kongkrit, tanpa harus repot-repot mencari kitab rujukan segala, coba anda klik artikel kami KULLU BID'ATIN DHALALAH, anda cermati semua komentar yang masuk. Bahkan dalam artikel ini, serta artikel IKUT TAHLILAN YOOK ! juga artikel NYEKAR BUNGA DI KUBURAN, dan artikel kami lainnya, maka anda sudah bisa dapat jawabannya, bahwa terbukti sekte Wahhabi benar-benar mengingkari kebenaran amalan-amalan warga Ahlus sunnah wal jamaah, dan menuduhnya sebagai amalan SESAT.

Jadi, kalau ada penganut Wahhabi yang tidak merasa seperti itu, ibarat ada orang yang mengaku termasuk pemain inti PSSI / TIMNAS tapi dirinya tidak bisa bermain bola. Jadinya yaa lucu saja.

26.
Pengirim: Ahmad alQuthfby, S.Pd  - Kota: Probolinggo
Tanggal: 27/11/2011
 
Menanggapai komentar pencinta nabi – ujung pandang....
Sebenarnya, yg penimbul fitnah dan pencinta fitnah ya kaum wahabi itu. Anda ne baru beberapa detik masuk wahabi? Kok bisa2nya nanya maraji’ artikel yai luthfi bashori? Ya Alloh, tp tdk apa2, sy berusaha sebisa mungkin ngemani aqidah smpean yg patut diduga telah kerasukan doktrin wahabi.
Asal anda tau, pada tanggal 23 Juli 2011, ketika guru saya mengisi acara Daurah pemantapan Ahlussunnah Wal-Jama’ah di Pondok Pesantren Sunan Pandan Aran, Sleman Yogyakarta yang diasuh oleh KH. Mu’tashim Billah Mufid. Ketika sampai pada sesi tanya jawab, salah seorang peserta mengajukan pertanyaan kepada guru saya tentang hukum selamatan kematian, Tahlilan dan Yasinan yang mengakar di Nusantara sejak ratusan tahun yang silam. Tidak hanya biara, penanya tersebut juga menyodorkan selebaran Manhaj Salaf, setebal 14 halaman, dengan artikel utama berjudul Imam Syafie Mengharamkan Kenduri Arwah, Tahlilan, Yasinan dan Selamatan.
Selebaran tersebut disebarkan dari pintu ke pintu di daerah Sleman dan sekitarnya oleh kaum Wahabi. Anehnya dalam selebaran tersebut, tidak tertera siapa nama penulis atau penanggung jawabnya dan di mana alamatnya. Ternyata, setelah guru saya mengamati selebaran tersebut, isinya penuh dengan pemutarbalikan fakta, pemalsuan dan distorsi terhadap pernyataan para ulama madzhab Syafi’i. Pada acara tersebut, guru saya sengaja mengecek kutipan-kutipan dalam selebaran itu dan membandingkannya dengan sumber-sumber aslinya. Hasilnya, peserta Daurah menjadi yakin, bahwa selebaran tersebut memang banyak melakukan kecurangan dan distorsi ilmiah.
Ketika guru saya sedangkan menyelesaikan jawaban ilmiah terhadap selebaran Manhaj Salaf – yang lebih tepatnya Manhaj Wahabi, guru saya menerima kiriman paket buku dengan judul TAHLILAN Penelusuran Historis atas Makna Tahlilan di Indonesia, yang ditulis oleh Sholeh So’an. Dalam buku tersebut, Sholeh So’an banyak mengajukan gugatan terhadap tradisi Tahlilan yang berkembang di Indonesia sejak ratusan tahun yang silam. Oleh karena itu, dalam buku guru saya yg akan terbit tsb, guru saya memberikan catatan terhadap beberapa pernyataan Sholeh So’an yang perlu dijawab secara ilmiah.
Atau mungkin sekarang ada aliran wahabi arus baru yg lebih sunni, yakni kaum wahabi yg mengakui bolehnya tahlilan, maulidan, dan amalan2 yg selama ini kaum wahabi pertentangkan.

 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Seorang penyair mengatakan :

Wa kullun yadda'i wushlan bi lailaa #
Wa lailaa laa tuqirru lahuu bi dzaaka

Semua orang (yang bernama Qais) mengaku sebagai kekasih Laila, tetapi Laila tidak mengakui hal itu (kecuali hanya Qais putra sang paman).

Syair di atas terdapat pada hikayat Qais dan Laila atau Majnun Laila atau Laila Majnun.

Banyak orang mengaku sebagai pecinta Nabi SAW, tetapi masalahnya apakah Nabi SAW mengakui orang-orang tersebut sebagai para pecinta beliau?)

Tentunya seseorang dapat dikatakan sebagai Pecinta Sejati Nabi SAW harus memenuhi 'Rukun dan Syaratnya' antara lain, dapat memahami ajaran agama Islam secara benar sesuai yang diwarisi oleh para Ulama Ahlussunnah wal jamaah yang keberadaannya adalah mayoritas di dunia ini. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW: 'Alaikum bis sawaadil a'dham (hendaklah kalian berpegang teguhh kepada kelompok ulama yang mayoritas).

Sedangkan keberadaan kaum Wahhabi di dunia ini adalah tergolong minoritas.

27.
Pengirim: iputu swastika  - Kota: Kendal
Tanggal: 14/12/2011
 
Ust, mohon maklumatnya.

Adab Ziarah Kubur yang biasa dilakukan oleh para shahabat, tabi'at, tabi'at tabi'in dalam beradab ziarah kubur bagaimana ?

Kemudian, doa-doa atau amalan apa saja yang dituntunkan oleh Rasulullah saw tatkala berziarah kubur tersebut.

Jazakallah khairan katsira. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
1. Mengucapkan salam kepada ahlil qubuur (para penduduk kuburan). Amalan ini telah dicontohkan oleh Nabi SAW, salah satunya tatkala beliau SAW berziarah ke kuburan Sy. Hamzah di gunung Uhud, beliau mengucapkan salam : Saalamun 'alaikum bimaaa shabartum, fini'ma uqbad daaar.

2. Nabi SAW bersabda : Iqrauu yaasiin 'alaa mautaaakum (bacalah surat Yasiin untuk para mayyit kalian). HR. Ahmad, Abu Dawud, Annasai dan Ibnu Hibban. Ini sangat tepat jika diamalkan dalam berziarah kubur.





28.
Pengirim: afianmuftoni  - Kota: salatiga
Tanggal: 19/3/2012
 
assalamualaikum.wr.wbkt
ustad sekarang ini banyak sekali aliran sesat yg mengaku islam ,sekarang sudah berapa yg masuk keindonesia ,tolong beritahu agar masyarakat islam waspada dan bersatu padu memberantasnya 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Insyaallah dengan aktif membaca artikel-artikel di situs Pejuang Islam, minimal dapat membantu masyarakat untuk mengetahui aqidah dan pemahaman yang benar.

29.
Pengirim: Rudi Irawan  - Kota: Maros Sul-Sel
Tanggal: 19/4/2013
 
Bissmillahirahmanirahim.
Terimakasih atas hadistznya Pak Ustadz, Semoga bermanfaat untuk umat, Amin 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Alhamdulillah, semoga bermanfaat untuk umat Islam.

30.
Pengirim: Syamsul Bahri  - Kota: Kuala Tungkal
Tanggal: 28/5/2014
 
"Kuntu nahaitukum `an ziyaaratil qubuuri, alaa fazuuruuha" (dahulu) Aku telah melarang ziarah kubur, tetapi (sekarang) ziarah kuburlah. (HR. Muslim)
Disana sudah jelas, kata "Kuntu nahaitukum" dengan menggunakan fi'il madhi, yg berrti Nabi memang pernah melarang ziarah kubur. Kemudian setelah itu Nabi memerintahkannya dengan hadits selanjutnya "fazuruha" dengan fiil amar artinya perintah yg pertama menasakh larangan pertama. Sekarang ziarahilah atau kalian boleh bersiarah ke kuburan..
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Alhamdulillah.

 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2009-2021 Oleh Pejuang Islam