URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
Hari ini: Jumat, 25 Juli 2014 - Pejuang Islam, melestarikan kemurnian Ahlussunnah wal Jamaah
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Sekilas Profil
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV NU GARIS LURUS
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
SINKRETISME MEMBAHAYAKAN AKIDAH ISLAM 
  Penulis: Pejuang Islam  [6/7/2014]
   
Penjelasan Ulama Tentang Hadist Ghadir Khum 
  Penulis: Pejuang Islam  [1/7/2014]
   
INGIN PANJANG UMUR ? 
  Penulis: Pejuang Islam  [30/6/2014]
   
JAGALAH AGAMA ALLAH, NISCAYA ALLAH MENJAGAMU 
  Penulis: Pejuang Islam  [27/6/2014]
   
Pandangan Ulama: Hukum Pengkafiran Terhadap Para Shahabat 
  Penulis: Pejuang Islam  [25/6/2014]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Jumat, 25 Juli 2014
Pukul:  
Online Sekarang: 12 users
Total Hari Ini: 559 users
Total Pengunjung: 1505875 users
 
 
Untitled Document
PROFIL PIQ - Pengasuh PIQ 

Pengasuh PIQ
KHM. Bashori Alwi, Pengasuh Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
Singosari Malang

Pengasuh & Ketua
Pengasuh Pesantren Ilmu al-Quran, KHM. Bashori Alwi
bersama
Ketua umum Pesantren Ilmu al-Quran, KH. Luthfi Bashori

(pejuangislam)


                                                                    KATA PENGANTAR

Beberapa teman bertanya : Bagaimana hukumnya seorang imam Jum’at membaca kalimat dalam Al Quran yang semestinya dibaca panjang satu alif atau dua harakat (seperti mat thabi’i), namun dibaca pendek (satu harakat), sah kah shalatnya dan shalat makmumnya?. Saya jawab : Itu tafsil, kalau tidak salah seperti  (مَالِكِ)       dibaca (مَلِكِ) tidak mengapa, karena diperbolehkan dan kedua bacaan itu sama benar. Kalau salah seperti)  (صِرَاطَ dibaca  (صِرَطَ)       atau  (إِيَّاكَ)  dibaca  (إِيَّكَ)  ini batal shalatnya.

Alhamdulillah sesudah itu penulis temukan suatu keterangan di dalam kitab tajwib yang mu’tabar “Nihayatu al Qouli al Mufidi fi Ilmi at Tajwidi” karangan Asy Syekh Muhammad Makki Nashr di bawah catatan “FAEDAH” sebagaimana disajikan di tulisan ini untuk jadi pegangan bagi setiap pembaca Al Quran

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua pihak di dunia dan di akhirat. Amin.
  Singosari, 8 Februari 2009
           Penulis

بسم الله الرحمن الرحيم
(فَائِـــــدَةٌ)

FAEDAH

الأَخْذُ عَنِ الشُّيُوْخِ عَلىَ نَوْعَيْن
Mengambil qiraat (mempelajarinya) dari guru-guru Al Quran ada dua macam :
(أَحَدُهُمَا) أَنْ يَسْمَعَ مِنْ لِسَانِ اْلمَشَايِخِ وَهُوَ طَرِيْقَةُ اْلمُتَقَدِّمِيْنَ
Pertama : Pelajar mendengarkan bacaan/ qiraat dari lisan guru-guru. ini adalah metode ulama’-ulama’ qiraat yang terdahulu.
(وَثَانِيْهِمَا) أَنْ يَقْــــرَأَ فِى حَضَـــــرَتِهِمْ وَهُــــــمْ يَسْمَعـُوْنَهَا وَهَذَا مَسْلَكُ اْلمُتَأَخِّرِيْنَ
Kedua : Pelajar membaca al Quran di hadapan guru-guru sedang guru-guru tersebut men-dengarkannya. Ini adalah metode ulama’-ulama’ qiraat belakangan. 
وَاخْتُلِفَ أَيُّهُمَا أَوْلىَ ؟ وَاْلأَظْهَرُ أَنَّ الطَّرِيْقَةَ الثَّانِيَةَ بِالنِّسْبَةِ إِلىَ أَهْلِ زَمَانِنَا أَقْرَبُ إِلىَ اْلحِفْظِ
Diperselisihkan yang mana dari kedua metode tersebut yang paling utama?. Pendapat  yang menang bahwa metode yang kedua dalam hubungannya dengan ahli jaman kita sekarang adalah lebih dekat kepada terpeliharanya bacaan Al Quran.
نَعَمْ، اَلْجَمْعُ بَيْنَهُمَا أَعْلىَ لِمَا ذُكِرَ فِى "اَلْمَصَابِيْح" أَنَّهُ جَرَتِ السُّنَّةُ بَيْنَ اْلقُرَّاءِ أَنْ يَقْرَأَ اْلأُسْتَاذُ لِيُسْمِعَ التِّلْمِيْذَ ثُمَّ يَقْرَأَ اْلتِلْمِيْذُ
Memang, mengumpulkan antara kedua metode tersebut  adalah lebih unggul karena apa yang telah di sebutkan di dalam kitab "Al Mashabih", bahwasannya telah berlaku As Sunnah (tradisi) antara para Qurra’ (ahli-ahli qiraat) bahwa hendaklah guru membaca untuk memperdengar-kan bacaannya kepada pelajar kemudian pelajar membacanya (menirunya).
ِلأَنَّ رَسُــــوْلَ اللهِ صَـــلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَــــلَّمَ قَالَ ِلأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ اللهَ اَمَرَنِى أَنْ اَقْرَأَ اْلقُرْاَنَ عَلَيْكَ
Karena Rasulullah s.a.w. telah bersabda kepada shahabat Ubay bin Ka’ab r.a. bahwa Allah telah menyuruhku agar aku membacakan Al Quran kepadamu.
وَاْلمُرَادُ مِنْ قِرَاءَتِهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ عَلىَ أُبَىٍّ تَعْلــِيْمُه ُوَاِرْشَــــادُهُ وَهُـــوَ أَوَّلُ قُــــرَّاءِ الصَّحَابَةِ وَاَشَدُّهُمْ اِسْتِعْـــدَادًا لِتَلَقُّفِ اْلقُرْاَنِ مِنْهُ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَـــــلَّمَ. كَتَلَـــقُّفِهِ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ مِنْ اَمِيْنِ اْلوَحْيِ فَلِذَلِكَ خُصَّ بِذَلِكَ
Dan yang dimaksud dengan qiraat atau bacaan Nabi ‘Alaihissalam kepada Ubay adalah mengajarkannya dan memberinya petunjuk, sedang Ubay adalah orang pertama dari qari’-qari’ shahabat dan orang yang paling sangat/kuat kesiapannya untuk menangkap cepat bacaan Al Quran  dari Rasulullah s.a.w seperti beliau cepat menangkap bacaan Al Quran dari Aminul Wahyi (Malaikat Jibril). Oleh karena itu Ubay ditunjuk khusus untuk hal tersebut.
فَتَنَبَّهْ يَا أَخِى وَأَيْقِظْ هِمَّتَكَ وَحِّرِكْ عَزِيْمَتَكَ وَاسْتَعِدْ لِفَهْمِ مَا يُلْقَى اِلَيْكَ وَقَبُوْلِ مَا يُمْلَى عَلَيْكَ
Maka ingatlah engkau wahai saudaraku !, bangkitkan himmahmu, hidupkan tujuanmu dan bersiagalah untuk memahami apa yang disampaikan kepadamu serta menerima apa yang dituntunkan kepadamu.
فَإِنَّ النَّاسَ فِى قِرَاءَةِ اْلقُرْاَنِ بَيْنَ مُحْسِنٍ مَأْجُوْرٍ وَمُسِىءٍ آثِمٍ اَوْ مَعْذُوْرٍ
Karena sesungguhnya manusia  dalam bacaan Al Quran itu antara pembaca yang baik yang diberi pahala, dan pembaca yang jelek (salah) yang berdosa atau yang terhalang (karena cacat lisan atau tak mungkin belajar).
فَانْظُرْ! مِمَّنْ أَنْتَ ؟ فَإِنْ كُنْتَ مِمَّنْ هُوَ مُحْسِنٌ فَاشْكُرِ اللهَ تَعَالىَ فَإِنَّكَ مَأْجُوْرٌ
Maka lihatlah !  termasuk orang yang mana engkau ? Kalau engkau termasuk pembaca yang baik maka bersyukurlah kepada Allah s.w.t. karena engkau diberi pahala.
وَإِنْ كُنْتَ مِمَّنْ هُوَ مُسْتَغْـنٍ بِنَفْسِهِ مُسْتَبِدٌّ بِرَأْيِهِ وَحَدْسِهِ مُتَّكِلٌ عَلىَ مَا اَلِفَهُ مِنْ حِفْظِهِ مُسْتَكْبِرٌ عَنِ الرُّجُوْعِ إِلىَ عَالِمٍ يُوْقِفُهُ عَلىَ تَصْحِيْحِ  لَفْظِهِ فَلاَ شَكَّ أَنَّكَ مُقَصِّرٌ مَغْرُوْرٌ وَمُسِىءٌ آثِمٌ غَيْرُ مَعْذُوْرٍ
Dan kalau engkau termasuk orang yang merasa cukup dengan diri sendiri, sewenang-wenang dengan pendapat dan perkiraannya serta berpasrah diri pada apa yang ia biasakan dari hafalannya, lagi sombong dari rujuk (tidak mau kembali) kepada seorang ‘alim yang bisa membawanya kepada koreksi lafadz bacaannya, maka tidak diragukan lagi bahwa engkau adalah seorang yang teledor, tertipu diri, dan pembaca jelek (salah) yang berdosa  tanpa diampuni.
فَإِنْ كُنْتَ مِمَّنْ لاَ يُطَاوِعُهُ اْللِسَانُ أَوْ لاَيَجِدُ مَنْ يَهْـــدِيْهِ إِلىَ الصَّـــوَابِ بِالْبَيَـــانِ. فَاعْْــــلَمْ أَنَّ اللهَ تَعَــــالىَ لاَ يُكَلِّفُ نَفْسًـا إِلاَّ وُسْعَـهَــــا لَكِنْ يَجِبُ عَلَيْكَ أَنْ تَجْتَهِدَجُهْدَكَ لَعَلَّ اللهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذَلِكَ أَمْرًا
Dan jika engkau termasuk orang yang tidak cocok lisannya dengan bacaan atau tidak menemukan orang yang memberinya petunjuk kepada bacaan yang benar dengan jelas, maka ketahuilah bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali menurut kemampuannya. Akan tetapi wajiblah engkau bersungguh-sungguh dengan ketekunan-mu boleh jadi Allah akan menjadikan sesudah itu perkara (kemudahan).
فَإِنَّ اْلعَمَلَ بِالتَّجْوِيْدِ فَرْضُ عَيْنٍ لاَزِمٌ لِكُلِّ مَنْ يَقْرَأُ شَيْأً مِنَ اْلقُرْاَنِ لاَسِيَمًا فىِ الصَّلاَةِ
Karena sesungguhnya mengamalkan tajwid itu fardhu ‘ain yang tetap bagi setiap orang yang membaca sedikit dari Al Quran lebih-lebih di dalam shalat.
لأَنَّ اللهَ تَعَــــالىَ اَنْـزَلَهُ بِالتَّجْـــوِيْدِ حَيْثُ قَـــالَ - وَرَتِّلِ اْلقُرْاَنَ تَرْتِيْلاً- أَىْ جَوِّدْهُ تَجْوِيْدًا فَإِذَا كَانَ التَّجْـــوِيْدُ فَرْضًــا فِيْهِ يَكُوْنُ مَــايُنَــافِيْهِ
وَهُوَ اْللَحْنُ حَرَامًا فِيْهِ اهـ.(بَرْكَوِىْ)
Karena Allah s.w.t. telah menurunkannya dengan tajwid dimana Dia berfirman : “Dan tartilkanlah Al Quran itu dengan  sesungguh-sungguh tartil”. Artinya perbaguslah baca Al Quran itu dengan sebagus-bagusnya. Maka apabila tajwid itu suatu kewajiban di dalam baca Al Quran maka apa yang menafikannya yaitu lahn (salah baca) adalah haram. (Barkawi).


الترتيل واللحن فى القراءة

TEPAT DAN SALAH BACA
DALAM AL QURAN

Dinukil dengan ringkas oleh :

H.M. BASORI ALWI
Pengasuh Pesantren Ilmu Al Quran (PIQ)

Dari Kitab
التبيين في أحكام تلاوة الكتاب المبين
للشخ عبد اللطيف فايزدريان


Diterbitkan oleh :
PESANTREN ILMU AL QURAN (PIQ)
Jl. Raya 107/123 Singosari – Malang 65153
Telp (0341) 458340 – 458008
Email:piqsgs@telkom.net

بسم الله الرحمن الرحيم
Alhamdulillah, dengan rahmat dan takdir Allah s.w.t. meski dengan segala keterbatasan, saya berhasil memenuhi harapan banyak sahabat dan teman untuk menghimpun seperti risalah ini.

Meski singkat, semoga bermanfaat. Sudah barang tentu menunggu tegur sapa untuk ke sempurnaan dan kebenarannya.

Himbauan para teman dan sahabat tadi, sudi kiranya para Khatib dan Imam Jum’at dimana-pun, untuk menyempatkan diri memusyawarah-kan Qira’ahnya sebagai orang-orang yang ber-tanggungjawab soal tersebut di dunia dan di Akhirat.

Terima kasih dan mohon maaf atas segala kekurangan dan kekurangsopanan.
Singosari, 1 Juli 2002
                            
Penulis

MEMBACA AL QURAN DENGAN BENAR
DAN HUKUMNYA SALAH BACA

Seluruh Ulama’ (Sahabat Nabi dan lainnya) sejak turunnya Al Quran hingga kini telah berijma’ (bersepakat) bahwa membaca Al Quran dengan benar (bertajwid) adalah wajib ’ain (fardhu ‘ain). Dan membacanya dengan salah (dengan lahn) adalah haram, dan wajib diingatkan dan dibetulkan berdasarkan Hadits Nabi s.a.w. :
عَنْ  أَبـِيْ الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعَ النَّبـِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ رَجُلاً قَرَأَ فَلَحَنَ. قَالَ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَرْشِدُوْا أَخَاكُـمْ. ( أَخْرَجَهُ اْلحَاكِـمُ )
Dari Abi Darda’ r.a. Ia berkata : “Nabi s.a.w. telah mendengar seorang laki-laki membaca       Al Quran lantas salah baca”. Nabi s.a.w. pun bersabda : “Berilah petunjuk saudara kalian (Betulkanlah kesalahannya).”

MACAM – MACAM LAHN
1. Jali (kesalahan yang mencolok), yang Ulama’ khusus maupun orang ‘awam biasa mengetahuinya seperti :
﴿ أَنْـعَـــــمْـــتَ ﴾  dibaca ﴾  ﴿ عَنْـعَــمْــتَ   atau
اَلْـحَمْدُ ِللهِ ﴾ ﴿   dibaca  ﴿اَلْـحَمْدَ ِللهِ ﴾  atau
﴿ وَلاَالضَّآلِّيْنَ ﴾ dibaca﴿ وَلاَالدَّالِيْنَ ﴾  atau
﴿ اَلَّذِيْنَ ﴾ dibaca﴿ اَلَّزِيْنَ ﴾   dan
هَــــــذَا﴾ ﴿ dibaca  ﴾ ﴿ هَـــــزَا
2. Khofi (kesalahan ringan), seperti :
عَلَيْهِمْ ﴾ ﴿ Kasrohnya Ha’ dibaca Hem, tidak   dibaca Him.
أَنْتُـــــمْ ﴾ ﴿  Dlommahnya Ta’ dibaca Tom, tidak dibaca Tum.
قُــــــلْ ﴾ ﴿  Dlommahnya Qof dibaca Qol, tidak dibaca Qul.

Kesalahan ini hanya diketahui oleh Ulama’ khusus yang mengerti praktek tajwid.
Termasuk Khofi, adalah :
a. Tidak membaca Ghunnah (tidak mendengung- kan bacaan yang semestinya berdengung).
b. Membaca Qoshr (1 alif) yang semestinya dibaca 3 alif, seperti :
وَلاَالضَّآلِّيْنَ ﴾ ﴿ dibaca وَلاَالضَّالِيْنَ ﴾ ﴿ dan sebagainya.

HUKUM SHALAT BAGI ORANG
YANG LAHN/SALAH BACA AL QURAN

1. Salah baca dalam I’rab (susunan kalimat) yang merusak arti, seperti :
اَلْبَارِئُ اْلمُصَوِّرُ ﴾  ﴿ dibaca ﴿ اَلْبَارِئُ اْلمُصَوَّرُ ﴾
إِنِّـمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ اْلعُلَمَآءُ ﴾ ﴿
dibaca
إِنَّـمَا يَخْشَى اللهُ مِنْ عِبَادِهِ اْلعُلَمَآءَ ﴾ ﴿
Adalah membatalkan shalat menurut Ulama’ terdahulu. Sedangkan Ulama’ belakangan berselisih :
a. Menurut sekelompok mereka tidak memba- talkan.
b. Menurut sekelompok yang lain, mengikuti pendapat Ulama’ terdahulu yang mem-batalkan shalat adalah yang lebih berhati-hati.
Adapun mengikuti yang tidak mem-batalkan shalat adalah memberi kelonggaran karena manusia umumnya tidak mengetahui segi-segi I’rab.
Salah I’rab juga menurut umumnya Ulama’ adalah, tidak mentasydidkan yang tasydid dan tidak memanjangkan yang panjang itu sama dengan salah di dalam I’rab seperti baca :
رَبِ اْلعَالَـمــِيْنَ ﴾  ﴿ dan إِيَاكَ نَعْبُدُ﴾  ﴿ atau
وَلاَ الضَّالِّيْنَ ﴾  ﴿ dibaca 1 alif.
Menurut kebanyakan mereka hal tersebut membatalkan shalat. Sedangkan yang Ashah (paling benar) adalah tidak merusak shalat.
2. Salah baca huruf, seperti :
أَصْحَابَ السَّعِيْرِ  dibaca  أَصْحَابَ الشَّعِيْرِ
اَلْـحَيُّ اْلقَيُّوْمُ   dibaca   اَلْـحَيُّ اْلقَيَّامُ
قَوْسَرَةٌ   dibaca terbalik   قَسْوَرَةٌ
membatalkan shalat
3. Menambah huruf, seperti :
يس * وَاْلقُرْآنِ اْلـحَكِـيْمِ *
 وَإِنَّكَ لَـمِنَ اْلـمُرْسَلِيْنَ *
yang betul إِنَّكَ ﴾  ﴿tanpa  وَ ﴾  ﴿
إِنَّ سَعْيَكُـمْ لَشَتَّى 
dibaca
وَإِنَّ سَعْيَكُـمْ لَشَتَّى
mestinya tanpa وَ ﴾  ﴿ membatalkan shalat.
4. Mengurangi huruf
a. Kalau tidak merusak arti, seperti :
جَآئَـتْــهُمْ ﴾ ﴿ dibaca  جَآءَهُمْ ﴾  ﴿ tidaklah membatalkan shalat.
b. Kalau merusak arti, seperti :
وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلىَّ....
مَاخَلَقَ الذَّكَرَ وَاْلأُنْـثــَى.
yang seharusnya dibaca
وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلىَّ....
وَمَاخَلَقَ الذَّكَرَ وَاْلأُنْـثــَى
ini membatalkan shalat.

HUKUM BERMAKMUM
KEPADA IMAM YANG SALAH

Menurut Ulama’ Syafi’iyah, bermakmum kepada Imam yang salah baca yang tidak merusak makna, seperti :
لِلَّهِ﴾ ﴿ِ dibacaلِلَّهُ ﴾  ﴿ adalah sah shalatnya. Kalau merusak makna, seperti : أَنْعَمْتَ ﴾  ﴿ dibaca            أَنْعَمْتِ ﴾/أَنْعَمْتُ ﴿ tidaklah sah shalatnya, baik imam tadi bisa belajar atau tidak.
Adapun makmum yang Qori’ (yang baik/ benar bacaannya) tidaklah sah bermakmum kepadanya. Sedangkan imam tadi bila bisa belajar, tidak sah shalatnya, dan bila tidak bisa belajar, maka sahlah shalatnya.

Adapun imam dan makmum yang sama-sama Ummy (tidak bisa baca dengan benar) dan tidak bisa belajar, maka sahlah shalat mereka.

Orang yang salah baca fatihah tanpa sengaja (sabqul lisan) dan tidak mengulangi lagi dengan benar, maka tidak sahlah shalatnya dan juga shalat makmumnya, jika keduanya sama-sama mengetahuinya.

Bila salah baca diluar fatihah, seperti membaca :
إِنَّ اللهَ بَرِيْءٌ مِنَ اْلـمُشْرِكِـيْنَ وَرَسُوْلِهِ
yang semestinya dibaca وَرَسُوْلُهُ ﴾  ﴿ maka sahlah shalatnya dan juga shalat makmumnya, jika keduanya tidak bisa belajar atau bodoh tentang keharaman membaca demikian itu, atau lupa kalau keduanya didalam shalat.

Adapun lahn pada lain fatihah yang karena lupa atau karena bodoh atau karena tak mampu baca benar, maka sahlah shalatnya dan sahlah qari’-qari’ bermakmum kepadanya dengan makruh.

Semoga tulisan ini membawa manfaat dan barakah
kepada kita semua yang senantiasa mencari kebenaran. Amin.

 
NASEHAT
UNTUK PARA PEMBACA AL QURAN

Dinukil dari kitab:
Nihayatu al Qauli al Mufidi fi Ilmi at Tajwidi
Karangan :
Asy Syekh Muhammad Makki Nashr


Alih Bahasa :
H.M. BASORI ALWI

 Diterbitkan oleh :

Pesantren Ilmu Al Quran (PIQ)
Jln. Raya 107/123 Singosari Malang 65153
Telp (0341) 458340-458008

 =======================================================================                                                               

                                                              SHALAT DUA HARI RAYA
                                                      (SHALAT HARI RAYA FITRI DAN ADHA)


Shalat Idul Adha lebih utama karena telah datang dalam firman Allah s.w.t. :
(فََصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ )
Artinya: “Maka shalatlah engkau pada Tuhanmu dan berkurbanlah”.

? HUKUMNYA :

Sunnah,bahkan dia shalat sunnah yang paling utama. Ada yang mengatakan fardhu kifayah. Dan menurut Imam Abi Hanifah adalah wajib.

? WAKTUNYA :

Sejak terbitnya matahari sampai zawal (tergelincir) pada hari raya Idul Fitri: (Tanggal 1 Syawal) dan pada hari raya Adha: (Tanggal 10 Dzul Hijjah).

? SUNNAH-SUNNAHNYA:

1. Mengakhirkan hingga matahari naik seukuran ujung tombak.

2. Dilakukannya di masjid, jika menampung  dan jika tidak maka di lain masjid. Wanita-wanita yang haid berdiri di pintu masjid perlu mendengarkan khutbah.

3. Menghidupkan kedua malam hari raya dengan ibadah.

4. Mandi sejak pertengahan malam.

5. Berwangi-wangian dan berhias: Bagi yang duduk di rumah dan yang keluar, yang tua-tua dan anak-anak kecil,baik yang shalat maupun yang tidak. Dan disunnahkan bagi wanita-wanita yang tidak mempunyai rupa menarik disunnahkan keluar dengan pakaian keseharian. Adapun wanita muda dan yang mempunyai rupa menarik maka makruhlah mereka mendatangi kedua shalat hari raya, sedang shalat mereka di rumah lebih utama.

6. Berpagi-pagi ke masjid bagi selain imam.
7. Berjalan kaki ke tempat shalat waktu berangkat dan pulang melalui jalan lain yang lebih dekat, karena pahala berangkat lebih besar, maka disunnahkan memperpanjang per-jalanan untuk memperbanyak pahala dengan banyaknya langkah,dan agar diminta fatwanya jika ia orang ahli ilmu serta bershodaqoh dalam kedua perjalanan tersebut. Dan agar supaya kedua jalan tersebut menjadi saksi baginya.

8. Bersegera shalat Idul Adha di awal waktunya agar luas waktu berkurban sesudah shalat.

9. Mengakhirkan shalat Idul Fitri hingga naiknya matahari seukuran dua ujung tombak agar menjadi luas waktu mengeluarkan zakat fitrah sebelum shalat.

10. Makan pagi sbelum shalat Idul Fitri. Yang lebih utama makan kurma dengan ganjil agar istimewa hari raya itu dari hari sebelumnya dengan bercepat-cepat makan.
11. Imsak (tidak makan) sejak terbit fajar dalam Idul Adha hingga rampung shalat ‘id dan menyembeleh kurban serta makan dari daging kurban tersebut.

? TATA CARA SHALAT HARI RAYA:

Yaitu dua rakaat yang di dalam keduanya disunnahkan:
1. Bertakbir pada rakaat pertama 7x dengan yakin antara do’a istiftah dan ta’awwud dan dalam rakaat kedua 5x takbir.

2. Mengangkat kedua tangan di dalam takbir.

3. Mengeraskan suara takbir bagi Imam, makmum dan yang shalat sendiri.

4. Antara tiap dua takbir membaca :          ”Al Baaqiyaat as Sholihat”.

 

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ ِللهِ وَلاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَاَكْبَرُ  

 
5. Meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di bawah dada pada antara setiap dua takbir.

6. Menyambung  takbir - takbir tersebut dengan ta’awwud.

7. Membaca dalam kedua rakaat tersebut dua surat : (ق) dan (اِقْتَرَبَتْ) atau surat (اَلأَعْلىَ) dan  (اَلْغَاشِيَةُ).

? SUNNAH-SUNNAH KHUTBAH :

1. Jika shalat berjama’ah disunnahkan sesudah shalat berkhutbah dua, seperti kedua khutbah Jum’at mengenai rukun-rukun dan sunnah - sunnahnya, tidak mengenai syarat - syaratnya, seperti; berdiri menutup aurat, suci dan duduk antar dua khutbah. Jika shalat sendiri tidak usah berkhutbah.

2. Sebelum dua khutbah, hendaklah duduk sebentar seukuran duduk karena adzan di dalam jum’at.

3. Membaca takbir di dalam pembukaan pertama 9x dan di dalam khutbah kedua 7x.

4. Di dalam dua khutbah tersebut hendaklah menerangkan apa yang cocok dengan keadaan, seperti mengemukakan hukum-hukum zakat fitrah di dalam Idul Fitri dan hukum-hukum berkurban di dalam Idul Adha.

? BEBERAPA MASALAH DALAM HARI RAYA :

1. Disunnahkan tahni’ah (mengucapkan salam) pada hari raya. Dan masuknya waktu tahni’ah Idul Fitri pada waktu terbenamnya matahari malam hari raya, dan dalam Idul Adha pada subuh hari ‘Arafah.

2. Andaikata ternyata –Sebelum zawal (tergelincirnya matahari) pada tanggal 30 Ramadhan- bahwa hari itu hari raya dengan persaksian rukyatul hilal sedang waktu untuk menghimpun manusia dan shalat masih ada, haruslah mereka melakukan berbuka ( tidak puasa ) dan melakukan shalat ‘id secara ada’.

3. Andaikata ternyata hal tersebut terjadi sebelum zawal sedang waktu untuk shalat tidak mencukupi, atau hal tersebut terjadi sesudah zawal namun persaksian sebelum terbenamnya matahari bisa dipandang adil maka haruslah mereka berbuka (tidak puasa) lantas mereka mengqodho’ shalat ‘id karena waktu shalat ‘id sudah habis.

4. Andaikata ternyata hal tersebut (Berita Rukyatul Hilal) terjadi sesudah ter-benamnya matahari maka merekapun shalat ‘id besok paginya secara ada’.

? TAKBIR KEDUA HARI RAYA :


Disunnahkan takbir dengan mengeraskan suara bagi pria, dan lafadznya yang datang dari Nabi s.a.w. :

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَِللهِ اْلحَمْدُ، اَللهُ اَكْبَرُكَبِيْرًا وَاْلحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّاَصِيْلاً، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَـدَقَ وَعْـدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَاَعَـزَّ جُنْدَهُ وَهَـزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْـبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَـرِهَ اْلكَافِرُوْنَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَِللهِ الْحَمْدُ.

? MACAM TAKBIR : MURSAL DAN MUQOYYAD.

1. Mursal ialah mutlak (bebas) dari kaitan dengan shalat, maka orang bisa bertakbir dalam segala waktu dan takbir ini di dalam hari raya Fitri dan hari raya Adha.

Waktunya :

Mulai dari terbenamnya matahari malam hari raya sampai waktu takbiratul ihram shalat hari raya.

2. Muqoyyad: Sesudah shalat, baik fardhu maupun sunnah, ada’ atau qodho’ sekalipun shalat jenazah; dan takbir muqoyyad ini hanya pada idul Adha.


Waktunya:
? Bagi yang tidak beribadah haji :

Sejak subuh hari ‘Arafah hingga Ashar akhir hari-hari tasyriq.

? Adapun bagi yang ibadah haji :

Dia bertakbir sejak dhuhur hari Nahar (Adha) hingga subuh akhir hari-hari tasyriq. Kalau dia telah tahallul maka dia bertakbir hingga Ashar. Dan takbir Mursal bagi Idul Fitri lebih utama dari takbir mursal bagi Idul Adha. Adapun takbir muqoyyad bagi Idul Adha adalah lebih utama dari pada keduanya (Mursal Fitri dan Mursal Adha).


KURBAN

1. Kurban artinya hewan yang disembeleh untuk pendekatan diri kepada Allah s.w.t. dengan niat karena-Nya pada hari Idul Adha dan tiga hari tasyriq (tanggal 11,12,13 Dzul Hijjah).

2. Hewan kurban hanyalah domba, lembu dan unta.Tidak sah selain tiga tersebut.

3. Permulaan waktu penyembelehan adalah sebubar shalat Idul Adha dan khutbahnya berakhir pada tanggal 13 Dzul Hijjah sebelum maghrib.

4. Umur Kurban:
• Bagi domba/kibasy genap setahun ke atas atau telah tanggal giginya.
• Bagi kambing kacangan dua tahun ke atas.
• Bagi lembu genap dua tahun ke atas.
• Bagi unta genap lima tahun ke atas.

5. Tidak cukup berkurban dengan hewan yang tidak berotak atau bersum-sum. Ini tampak pada kekurusan yang sangat. Tidak cukup juga yang putus sebagian ekornya atau putus telinganya dengan nampak jelas, sekalipun sedikit. Juga yang timpang kakinya, rusak mata sebelah dan nampak jelas sakitnya. Tidak mengapa yang robek telinganya.

HUKUMNYA

1. Untuk Nabi Muhammad s.a.w wajib. Untuk ummatnya sunnah muakkad bagi setiap orang sunnah a’in dan sunnah kifayah bagi satu keluarga.

2. Kurban bagi seseorang bisa berubah menjadi wajib, jika dinadzarkan.

Contoh Nadzar :

? Aku bernadzar akan berkurban pada Idul Adha ini.

? Kambing ini kunadzarkan untuk kurban.

Kedua contoh ini adalah bentuk nadzar hakiki. Adapula yang hukumnya sama dengan nadzar walaupun tidak disebutkan perkataan nadzar, seperti :

? Hari ini aku akan menyembeleh kurban.
? Kambing ini kujadikan kurban.
? Aku akan membeli kambing untuk kurban.
? Menjawab pertanyaan: “Untuk apa kambing itu”? Jawab : ”Untuk kurban”.
? Mengucapkan niat waktu menyembeleh kurban dengan lisan : “Aku berniat menyembeleh kurban karena Allah”.

Contoh-contoh seperti di atas adalah nadzar hukmi. Hukumnya sama dengan nadzar hakiki. Nadzar hakiki atau hukmi  menyebabkan hewan kurban menjadi kurban wajib.

3. Kurban sunnah sebagian dagingnya boleh dimakan oleh si pengurban dan orang kaya. Kedua orang ini hanya boleh makan dan memanfaatkannya, tidak boleh memlikinya. Karena itu tidak boleh menjualnya, menukarkannya dengan barang lain atau menjadikannya sebagai ongkos penyem-belehan. Begitu pula mengenai kulitnya.

4. Kurban sunnah tidak sah kalau sebagian dagingnya yang mentah tidak diberikan kepada si fakir atau si miskin walaupun hanya sedikit. Tetapi yang terbaik diberikan semua atau sebagian besar kepada fuqoro’ dan masakin.

5. Kurban wajib seluruhnya wajib diberikan kepada fuqoro’/ masakin sebagai milik. Artinya mereka boleh makan, meman-faatkannya dan menjualnya. Bagi pengurban dan orang kaya haram ikut makan dan memanfaatkannya.

6. Jalan keluar agar supaya status kurban itu tetap sunnah, seseorang yang menyebutkan kurbannya agar menambah dengan perkataan sunnah, misalnya :

? “Ini kurban  sunnahku”.
? “Aku akan kurban sunnah”.
? “Aku wakilkan kurban sunnahku ini penyembelehannya padamu”.
? Waktu ditanya panitia: ”Kurban siapa ini?” Jawab: “Kurban sunnahku”.dsb.

(Lihat I’anah at Thalibin juz II hal 331 baris ke 17 dari atas) tentang pengucapan niat dan kitab Bughiyatul Mustarsyidin hal 258).


MEWAKILKAN

1. Boleh dan sah orang mewakilkan kepada orang lain yang islam untuk membeli kambing, menyembeleh dan sekaligus meniatkan berkurban untuk yang mewakilkan tadi.

2. Boleh dan sah juga pengurban meniatinya waktu membeli kambing, kemudian menyerahkan penyembelehannya kepada  orang lain sekalipun yang diserahi tidak diberitahu, bahwa itu kambing kurban.
3. Jika orang menyerahkan / mengirimkan kurbannya kepada pantia, sebaiknya diniati sendiri terlebih dahulu.

Contoh  berniat :

• Aku berniat kurban dengan kambing ini karena Allah. (kalau diniatkan hanya dalam hati).

• Aku berniat kurban sunnah dengan kambing ini karena Allah (Kalau diniatkan di dalam hati dan diucapkan dengan lisan).

MENGORBANI ORANG LAIN

1. Sah seseorang mengurbani keluarganya yang nafkah hidupnya menjadi tanggungannya tanpa seijin mereka baik mereka yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal.

2. Seseorang sah mengurbani orang lain yang bukan keluarganya hanya dengan seijinnya dalam keadaan ia masih hidup atau wasiatnya dalam keadaan yang dikurbani sudah wafat. Mengurbani orang lain tanpa seijin atau tanpa wasiatnya adalah tidak sah sebagai kurbannya yang mengurbani dan yang dikurbani, jelasnya masing-masing tidak memperoleh pahala.

KURBAN PATUNGAN/ KOLEKTIF

1. Seekor kambing sah menjadi kurban hanya oleh seorang pengurban. Tidak sah dipatung sebagai kurban oleh dua orang ke atas.

2. Seekor unta atau lembu sah dijadikan kurban patungan/ kolektif hanya oleh tujuh orang yang berarti masing-masing sepertujuh bagian.

3. Berpatungan kambing kurban oleh dua orang ke atas tidak sah. Sedangkan mematungkan pahala kurban untuk orang lain walaupun banyak, hukumnya sah dan seluruhnya memperoleh pahala kurban itu.


Contoh kurban patungan :

? A dan B berserikat membeli seekor kambing lantas dikurbankan oleh keduanya. Tidak sah.

? A dan B berserikat membeli dua ekor kambing dan dikurbankan untuk dua orang tersebut tanpa kejelasan, kambing yang mana milik A dan yang mana milik B. Tidak sah.

Contoh mematungkan / menserikatkan pahala:

? Seseorang menyembeleh kurbannya dengan niat pahalanya untuk dirinya dan untuk orang lain. Seperti waktu menyembeleh ia mengucapkan :
” Aku niat berkurban sunnah untukku dan untuk Fulan atau untuk keluargaku”. dsb.

===============================================================

KHUTBAH PERTAMA
Khutbah Idul Fitri


يوم الجائزة


Oleh :
Abuya Dr. As Sayyid Muhammad Bin Alwi
Al Maliki Al Hasani.


Alih bahasa oleh:
HM. Basori Alwi Murtadho.
 
اَلْخُطْبَةُ اْلأُوْلَى
اَللهُ اَكْبَرُ X9
اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُِللهِ كَـثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّأَصِيْلاً، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَِللهِ اْلحَمْدُ.
اَلْحَمْدُِللهِ الَّذِيْ تَجَلَّى عَلىَ عِبَادِهِ فيِ مَوَاسِمِ الْعِبـَادَةِ، وَمَنـَحَ الْعَامِلِيْنَ فِيْهَا اْلحُسْنَى وَزِيَادَةٌ، وَقَبِلَ التَّائِبـِيْنَ وَضَاعَفَ اْلجَزَاءَ ِلمَنْ شَكَرَهُ.أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْــدُهُ وَرَسُــوْلُهُ وَمُجْتَبـاَهُ.وَالصَّـلاَةُ وَالسَّـــلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ اللهِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ الَّذِيْ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُـوْنَ بلِـِقَائِهِ عَلىَ اْلحَوْضِ الْمَوْرُوْدِ وَ عَلىَ أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، وَاتبَّـَعَ هُدَاهُ إِلَىَ يَوْمِ الْقِياَمَةِ.
أَمَّابَعْدُ، فَيَا إِخْوَتِيْ عِباَدَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ مَنْ أَطَاعَهُ وَ اتَّقـَاهُ.
أَيـُّهَـا اْلمُسْلِمُــوْنَ : هَذَا الْيـَـوْمَ يـَـوْمٌ عَظِــيْمٌ وَعِيْــــــدٌ كَـرِيـْــمٌ شَــرَعَ اللهُ لِلْمُـؤْمِنِيْنَ لِيَفْــرَحُوْا فِيْهِ بِإِتمْاَمِ صِيَامِهِمْ وَيـَشْكُرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْهِمْ. نَـعَـمْ، إِنَّهُ يـَوْمُ الصَّـــائِمِـيْنَ فَلاَحَــظَّ فِيْـــهِ ِللْمُفْطِــرِيْنَ، إِنَّهُ يـَوْمُ الْقَائِمِيْنَ الرَّاكِـعِيْنَ السَّاجِدِيْنَ فَلاَحَــظَّ فِيْــهِ لِلْمُهْـمِـلِـيْنَ وَلاَ لِلْمُضَيِّعِـيْنَ، إنَِّـــهُ
 يـَوْمُ الطَّائـِعِيْنَ فَلاَ حَظَّ فِيْهِ لِلْفَاجِرِيـْنَ وَلاَ لِلْفَاسِقِيْنَ.


Jama’ah shalat idul fitri yang berbahagia, rahima-kumullah.

Hari ini adalah hari yang agung, dan hari raya yang mulia, yang disyari’atkan oleh Allah untuk orang-orang yang beriman supaya mereka berbahagia karena telah menyempurnakan ibadah puasa mereka dan bersyukur atas segala nikmat Allah yang telah dikaruniakan kepada mereka. Benar ! Hari ini adalah hari bahagia bagi orang-orang yang berpuasa, maka tidak ada jatah di hari raya ini bagi orang-orang yang tidak berpuasa. Dan hari ini adalah hari bahagia bagi orang-orang yang menegakkan shalat taraweh yang rukuk dan bersujud, maka tidak ada jatah di hari raya ini bagi orang-orang yang tidak peduli dan orang-orang yang menyia-nyiakan bulan mulia ini. Hari ini adalah hari bahagia bagi orang-orang yang  taat, maka tidak ada jatah di hari raya ini bagi orang-orang yang yang lacut dan fasik.
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا كَانَ يـَوْمُ عِيْدِ اْلفِطْرِ وَقَفَتِ اْلمَلاَئـِكَةُ عَلىَ أَبْوَابِ الـطُّرُقِ فَنَادَوْا، أُغْــدُوْ ياَمَعْشَــرَاْلمُسْلِمِـيْنَ إِلىَ رَبٍّ كَرِيْـمٍ يَمُــنُّ بِاْلخَــيْرِ   ثُمَّ يُثـِيْبُ عَلَيْهِ الْجَزِيْـلَ، لَقَـدْ أُمِرْتُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَقُـمْتُمْ وَأُمـِرْتُمْ بِصِيَامِ النَّهَارِ فَصُمْتُمْ وَأَطَعْتُمْ رَبـَّكُمْ، فَاقْبِضُوْا جَوَائِـزَكُمْ. فَإِذَا صَلـَّوْا نَادَى مُنَادٍ: أَلاَ إِنَّ رَبَّكُـمْ قَدْغَفَـرَ لَكُمْ فَارْجِعُـــوْا رَاشِــــدِيْنَ إِلىَ رِحَالِكُمْ. فَهُــوَ يـَوْمُ اْلجَائِزَةِ، وَيُسَمَّى ذَلِكَ اْليَوْمُ فىِ السَّمَاءِ يـَوْمَ اْلجَائِـزَةِ.
Bersabdalah Rasulullah s.a.w. :
Artinya :”Jika telah tiba hari raya idul fitri maka berdirilah para malaikat di pintu-pintu masuk di semua jalan lantas mereka berseru : Wahai kaum muslimin! Berangkatlah pagi-pagi memenuhi panggilan Tuhan Yang Mulia yang meng-anugerahkan amal kebajikan kemudian memberi pahala yang sempurna karena amal kebajikan tersebut”. Sungguh kalian telah diperintah untuk shalat taraweh lantas kalian mengamalkannya, dan kalian diperintah berpuasa di siang hari lantas kalian berpuasa. Kalian mentaati perintah Tuhan kalian maka terimalah sekarang ! Ijazah/ sertifikat kalian. Jika mereka shalat maka berserulah malaikat penyeru:  Ingat ! Sungguh Tuhan kalian telah mengampuni dosa-dosa kalian maka pulanglah kalian ke rumah tempat berangkat kalian dengan memperoleh petunjuk. Maka hari ini adalah hari pemberian ijazah/ sertifikat; dan di langit hari ini dinamakan hari pemberian ijazah.”

لَقَدْ جَعَلَ اللهُ ذَلِكَ اْليَوْمَ الْكَرِيْمَ عِيْدًا ِلأَهْلِ اْلإِسْلاَمِ، وَاخْتَتَمَ بِهِ شَهْرَ الصِّيَامِ، وَافْتَتَحَ بِهِ أَشْهُرَ اْلحَجِّ إِلىَ بَيْتِ اْلحَرَامِ، فَشَوَّالُ وَذُواْلقَـعْدَةِ َوأَيَّامُ ذِي اْلحِجَّةِ كُلُّـهَا أَيـَّامٌ لِلْحَجِّ وَ أَوْقَاتٌ لِلنُّسُكِ.
Sungguh Allah telah menjadikan hari yang mulia ini sebagai hari raya bagi orang-orang Islam dan Allah menutup bulan puasa dengan hari raya ini, dan membuka dengan hari ini bulan-bulan ibadah haji ke Baitil haram, maka bulan-bulan Syawwal, Dzul Qo’dah dan Dzul Hijjah semuanya adalah hari-hari dan waktu-waktu untuk melaksanakan ibadah haji.
قَالَ اللهُ تَعَالىَ: اَلـْحَـجُّ أَشْهُـرٌ مَعْلـُوْمَاتٌ.
Allah s.w.t. berfirman : ” Waktu-waktu ihram haji itu adalah beberapa bulan yang telah maklum”.

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.

شَـرَعَ اللهُ اْلأَعْيَادَ للِْـعَطْـفِ وَ الـبِّرِ وَ الصـَّدَقَةِ وَ الصِّــلَةِ وَاْلبَـذْلِ وَالْعَـطَاءِ، وَآيَةُ ذَلِكَ أَنـَّهُ شَرَعَ الضَّحِيَّةَ فيِ عِيْدِ اْلأَضْحَى كَمَاشَـرَعَ صَدَقَةَ اْلفِطْرِ فيِ عِيْدِاْلفِطْـرِ وَجَعَــلَ قَبـُوْلَ الصِّيَامِ مَوْقُـوْفاً عَلَى دَفــْعِ الـزَّكَاةِ.

Allah s.w.t. telah mensyari’atkan hari raya-hari raya untuk kasih sayang, berbuat baik, shadaqoh, silatur rahimi, mengerahkan dan menyampaikan pemberian. Buktinya, bahwa Allah s.w.t. mensyari’atkan penyembelehan kurban di hari raya Adha sebagaimana mensyariatkan zakat fitrah di hari raya fitri dan menjadikan dikabulkannya puasa tergantung pada diberikan-nya zakat fitrah.
وَشَرَعَ اللهُ اْلأَعْيَادَ فَرَحًا بِإِتْمَامِ الطَّاعَاتِ وَابْتِهَاجًا بِإِكْمَالِ اْلعِبَادَاتِ وَإِظْهَارًا لِشَعَائِرِ اْلإِسْلاَمِ. وَلِذَلِكَ يُسْتَحَبُّ الذَّهَابُ إِلىَ صَلاَةِ اْلعِيْدِ فيِ طَرِيـْقٍ وَالرُّجُوْعُ فيِ طَرِيْقٍ أُخْرَى، وَفيِ ذَلِكَ مِنْ فـَوَائِدِ اْلحِسِّيَّةِ وَاْلمَعْنـَوِيَّةِ مَا لاَيـَخْـفَى كَإِظْـهَارِ ذِكـْرِاللهِ وَإِظْهَـارِشَعَائـِرِالدِّيـْنِ.

Allah s.w.t. mensyari’atkan hari raya-hari raya tersebut sebagai waktu gembira karena telah menyem-purnakan ketaatan dan sebagai waktu bersenang-senang karena telah menyempurna-kan semua ibadah serta menampakkan syiar-syiar Islam. Oleh karena itu disunnahkan orang berangkat ke shalat hari raya melalui suatu jalan dan pulang melalui jalan yang lain. Dan dalam hal tersebut tidak samar lagi faedah-faedah visual/ Hissiyyah serta moral/ Maknawiyyah, seperti mengeraskan bacaan takbir dan menampakkan syi’ar-syi’ar agama Islam yang lain.
وَشَرَعَ اللهُ اْلعِيْدَ تَأْلِيْفًـا لِـقـُلُوْبِ اْلمُـؤْمِنِـيْنَ بِاْلتِقَــائـِهِمْ فيِ صَعِيْدٍ وَاحِدٍ يَتَبَادَلُوْنَ فِيْهِ التَّعَاطُفَ وَالتَّوَادُدَ وَالتَّرَاحُمَ وَالتَّـهْنِيْئَــةَ وَالتَّبْرِيـْكَ، فَيَسْتَمِـعُ النَّــاسُ جَمِيْعًـا بِاْلبَهْـجَةِ وَاْلحُبُوْرِ وَالشُّعُوْرِ بِاْلأُخُوَّةِ الشَّامِلَةِ، وَلِذَلِكَ قَالَ اْلعُلَمَــاءُ مِنَ السُّنَّـةِ تَهْنِيْـئَةُ اْلمُسْلِمِـيْنَ بَعْضُـهُمْ بَعْـضًا يَـوْمَ اْلعِيْدِ.
Allah s.w.t. telah mensyariatkan hari raya untuk merukunkan semua hati kaum mukminin dengan pertemuan mereka di tempat yang satu dimana mereka saling memberikan kesayangan, kecintaan dan belas kasihan serta memberikan ucapan selamat dan do’a keberkahan, maka seluruh manusia menikmati gembira dan suka ria dan rasa persaudaraan yang menyeluruh, oleh karena itu para Ulama’ mengatakan : “Termasuk sunnatlah ucapan selamat oleh sebagian kaum muslimin kepada sebagian yang lain pada hari raya”.
وَقَدْعَقَدَ اْلإِمَامُ الْبُخَارِيُّ لِذَلِكَ بَاباً فيِ جَامِعِهِ الصَّحِيْحِ فَقَالَ:بَابُ مَاُروِيَ فيِ قَوْلِ النَّاسِ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ فيِ الْعِيْدِ : تقَبَّلَ اللهُ مِنَّاوَمِنْكُمْ، وَسَاقَ أَخْبَارًا وَآثَارًا يَحْتَجُّ بِهَا جَزَاهُ اللهُ خَيْرًا.
Imam Bukhori meriwayatkan ucapan tersebut ialah : “Taqobbalallah minna wa minkum”
وَشَرَعَ اللهُ الْعِيْــدَ لِيَكُـوْنَ مَظْـهَـرًا صَادِقًا ِلأَدَاءِ الشُّــكْرِ الْجَـزِيـْلِ ِللهِ سُبْحَانَهُ وَتَـعَالَى عَلىَ نِعَمِــهِ الْعُظْــمَى الَّتىِ اَفَاضَهاَ عَلىَ اْلأُمَّـةِ اْلمُحَمَّدِيَّةِ فيِ هَذَا الشَّهْــرِ اْلكَـرِيـْمِ، فَقَـدْمَـنَّ عَلَيْـهِمْ بِأَنْ اَقَامَ لَهُمْ دَوْلَةَ اْلإِيـْمَانِ بِنُزُوْلِ الْقُرْآنِ، وَدَوْلَةَ السُّلْطَانِ فيِ يَوْمِ بَدْرٍ وَفَتَحَ بَلَدَهُ اْلحَرَامَ وَأَزَالَ عَنْهُ َاْلأَوْثـاَنَ وَسَطَعَتْ عَلَيْهِ شَمْسُ اْلإِيـْمَانِ لِكَلِمَةِ التَّوْحِيْدِ وَاخْتَصَّهُمْ بِلَيْلَةٍ هِيَ أَعْظَمُ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ وَيَسَّرَ لَهُمْ ثَوَابَهَا وَكَـتَبَ لَهُمْ فَضْلَهاَ بِـأَيـْسَرِ وَأَقَلِّ الْعَمَلِ.وَبَعْدَ هَذَا اِطْمَئَـنَّتْ قُلُـوْبـُهُمْ بِإِتمْاَمِ رُكْنٍ عَظِيْمٍ مِنْ أَرْكَانِ اْلإِسْلاَمِ.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Allah s.w.t. telah mensyariatkan hari raya ini agar menjadi fakta yang benar untuk menyampaikan syukur yang sempurna kepada Allah s.w.t. atas segala nikmat-Nya yang agung yang dianugerah-kan kepada umat Muhammad s.a.w. di dalam bulan yang mulia ini. Sungguh Allah s.w.t. dalam menganugerahkan kepada mereka bahwa Allah s.w.t. telah menegakkan kekuasaan beriman dengan turunnya Al Quran dan kekuasaan bernegara dengan memberikan kemenangan di perang Badar dan terbukanya negeri Tanah haram bagi kaum muslimin dan menghilangkan semua berhala dari Tanah haram tersebut dan memancarkan padanya surya iman bagi kalimat tauhid serta memberi mereka khusus suatu malam yang lebih agung dari pada seribu bulan (yaitu Lailatul Qodar) dan memudahkan bagi mereka memperoleh pahala lailatul qodar tersebut dan mencatat untuk mereka keutamaannya dengan amal yang paling ringan dan paling sedikit. Dan setelah itu menjadi tenteramlah hati mereka karena dapat menyempurnakan rukun agung dari rukun-rukun Islam.

فَكُلُّ نِعْمَةٍ مِنْ هَذِهِ النِّعَـمِ تَسْتَحِقُّ أَنْ يَكُـوْنَ لَـهَا عِيْـدٌ نَشْكُـرُاللهَ فِيْهِ عَلَى مَا أَنْـعَمَ وَتـَفَضَّلَ وَنَحْمَدُ اللهَ حَمْدًا كَـثِـيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّـناَ وَيَـرْضَى.
Maka setiap nikmat dari nikmat-nikmat ini berhaklah untuk memperoleh hari raya dimana kita syukuri seluruh nikmat dan anugerah tersebut dan kita panjatkan puji kepada Allah s.w.t. dengan pujian yang banyak, indah lagi penuh barokah sebagaimana Tuhan kita mencintai dan meridhoi.
وَلـِذَلِكَ يُعْـلِنُ النَّاسُ كُلُـّهُمْ فيِ هَذَا اْليَوْمِ  أَنَّ هَذِهِ النِّعَمِ لَـيْسَتْ كَبِيْرَةً أَوْ عَظِيْمَةً بِالنِّسْبَةِ لِلـَّذِيْ مـَنَّ بِــهَا وَوَهَبَهَا.فَإِنَّهُ أَكْـبَرُ وَأَعْظَمُ مِنْ ذَلِكَ وَلاَيـَزَالُ يُعْطِيْ وَيـَهَبُ وَاللهُ ذُو اْلفَضْلِ الْعَظِيْمِ.

Oleh karena itu manusia seluruhnya pada hari ini sama menyampaikan pengakuannya bahwa (Betapapun besar atau agungnya) nikmat-nikmat ini adalah tidak besar atau agung (artinya kecil) jika dibanding dengan Kemahaagungan Allah yang telah menganugerahkan dan memberika-nya. Maka Allah itu adalah Maha Besar dan Maha Agung dari semuanya tersebut dan Allah tiada henti-hentinya memberi dan meng-anugerahi, dan Allah adalah Dzat Yang Maha memilki keutamaan dan keagungan.

يُعَبِّرُ عَنْ هَذَا اْلمَعْنىَ َالْكلَِمَةُ الْعَظِيْمَةُ الَّتِيْ يـُرَدِّدُهَا النَّاسُ فيِ هَذِهِ الْمُنَاسَبَةِ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ َأكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.
Arti ini diungkapkan oleh kalimat yang agung yang diulang-ulang oleh manusia dalam momen-momen ini yaitu Allahu Akbar….Allahu Akbar….Allahu Akbar….
قَالَ صَـلىَّ اللهُ عَلَـيْهِ وَسَلَّـمَ: {زَيـِّنـُــوْا أَعْـيَادَكُمْ بِالتَّكْـبِيْرِ}
Sabda Nabi s.a.w.:” Hiasilah hari raya-hari raya mu dengan mengucapkan takbir”.

قاَلَ اللهُ تَعَالَى: {شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْ أُنــْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِج   فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ صلى وَمَنْ كاَنَ مَرِيـْضًا أَوْ عَلىَ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيـَّامٍ أُخَرَ قلى يُرِيْدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَ لاَ يـُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِـلُوْا الْعِدَّةَ وَلـِتُكَـبِّرُوْا اللهَ عَلىَ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُـمْ تَشْكُـرُوْنَ}.
بَـارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فيِ الْقُـرْآنِ الْعَـظِيْمِ، وَنَفَـعَـنِيْ وَإِيَّـاكُـمْ بِاْلأَياَتِ وَالذِّكْرِ الْحِكِـيْمِ وَتَقَـبَّـلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تـِلاَوَتَهُ  إِنَّـهُ هُوَ السَّمِيْـعُ الْعَلِيْمُ.أَقُـوْلُ قَـوْليِْ هَذَا وَاَسْتَغْـفِـرُ اللهَ الْعظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلـِوَالدَيَّ وَ لمَِشَايِخِيْ وَ لِسَائِر ِالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِـمَاتِ، فَاسْتَغْفِـرُوْهُ  إنَِّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

==================================================================


Khutbah Idul Adha (1)

اَلْخُطْبَةُ اْلأُوْلَى
اَللهُ اَكْبَرُ (X9)

اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، وَ ِللهِ اْلـحَمْــدُ، اَللهُ اَكْبَرُ كَبِــــيْرًا، وَاْلـحَمْدُ ِللهِ كَثِـيْرًا، وَ سُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً  وَ أَصِيْلاً. اَللهُ اَكْبَرُ مَا أَشْرَقَتْ شَمْسُ هَذَا اْليَوْمِ اْلأَغَرِّ إِلىَ يَـوْمِ الدِّيـْنِ.اَللهُ اَكْبَرُ مَا ارْتَفَعَتْ حَنَاجِرُ اْلـمُسْلِمِيْنَ بِالدُّعَاءِ فىِ هَذَا اْليَوْمِ اْلـمَيْمُــوْنِ.اَللهُ اَكْبَرُ مَا لَبىَّ اْلـمُلَبـُّـوْنَ، وَطَافَ الطَّائِـفُـوْنَ، وَاَهْـــدَى الـمُضِحُّوْنَ. اَللهُ اَكْبَرُ مَا سَعَى اْلـحَجِيْجُ بَـيْنَ الصَّفَا وَاْلـمَرْوَةَ     وَذَكَـرَ الذَّاكِـرُوْنَ. اَللهُ اَكْبَرُ مَاعَنَتِ اْلوُجُوْهُ لِلْحَيِّ اْلقَيُّـــوْمِ.َاللهُ اَكْبَرُ مَا سَعَتِ اْلأَقْــدَامُ  لِـزِيَــارَةِ سَيِّـــــدِ اْلأَناَمِ.َاللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، وَ ِللهِ اْلـحَمْدُ.
اَلحَمْــــدُ ِللهِ. وَأَشْهَـــــدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَشْهَــــــــــدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْــــدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَصَلىَّ اللهُ وَسَلَّمَ وَبَــارَكَ عَلىَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَنْصَارِهِ ِإلىَ يَـوْمِ يُبْعَثُوْنَ.
أَمَّا بـَعْدُ، فَياَ إِخْـــوَتىِ عِبَـــــادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ  وَ نَفْسِـــــىَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ اْلـمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعاَلىَ فىِ كِتَابِهِ اْلكَرِيْمِ :
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْىَ قَالَ ياَ بُنَيَّ ِإنىِّ أَرَى فِى اْلـمَنَامِ أَنىِّ أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى، قَالَ يَآأبَتِ افْعَـلْ مَا تُــؤْمـَرُ، سَتَجِــدُنىِ اِنْ شَــاءَ اللهُ مِنَ اْلصَبِرِيْنَ ? فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِـــيْنَ ? وَ نَدَيْنَهُ اَنْ يآ إِبْرَهِيْـــمُ ? قَدْ صَدَّقْتَ الرُّأْياَ، إِناَّ كَذَلِكَ نَجْزِى اْلـمُحْسِنِيْنَ ? اِنْ هَذَا لَـهُـوَ اْلبَلَـؤُا اْلمُبِيْنَ ? وَفَدَيـْنَهُ بِذِبْـحٍ عَظِيْمٍ ? وَتـَرَكْنَا عَلَيْهِ فىِ الآخِرِيْنَ ? سَلَمٌ عَلىَ اِبْرَهِيْمَ ? كَذَلِكَ نَجْزِى اْلـمُحْسِنِيْنَ ? إِنَّـهُ مِنْ عِبَــــــــادِناَ اْلـمُـؤْمِنِـيْنَ?.{ الصفات:  102 }
Maka tatkala Nabi Ismail menjelang dewasa (umur di mana ia bisa membantu ayahnya dalam beberapa pekerjaan dan hajatnya) – para ahli tafsir berkata umur 13 tahun -, berkatalah Nabi Ibrahim kepadanya: Hai anakku!, sesungguhnya aku telah memperoleh wahyu dalam impian, bahwa aku diperintah menyembelihmu. Maka pikirkanlah, bagaimana pendapatmu ?. Nabi Ismail berkata: Wahai ayahku!, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Ayah akan mendapatiku insya Allah termasuk orang-orang yang sabar. Maka ketika kedua ayah dan anak tersebut telah berserah diri kepada Allah, dan Ibrahim telah menggelimpangkan wajah anaknya, maka kami (Allah) memanggilnya: Hai Ibrahim ! Sungguh engkau telah membenarkan wahyu dalam impian itu. Sesungguhnya demikianlah kami membalas orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya hal ini pastilah ujian yang nyata. Dan kami tebus Ismail dengan domba yang gemuk (menurut sahabat Ibnu Abbas kambing yang telah dipelihara di surga selama 40 tahun). Dan telah kami tetapkan pujian untuknya pada umat-umat sesudahnya. Salam kehormatan untuk Ibrahim. Begitulah kami membalas orang-orang yang berbuat baik. Sungguh Ibrahim itu termasuk dari hamba-hamba-Ku yang mukmin.

معاشر المسلمين رحمكم الله !
Inilah sejarah singkat tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang diabadikan di dalam Al Quran. Beliau berdua ini adalah teladan berkorban yang tinggi dan teladan ikhlas yang sempurna dalam menyerahkan diri kepada Allah dan dalam mematuhi segala perintah-Nya.
Nabi Ibrahim mengorbankan putranya yang amat dicintainya dan sangat didambakan kelan jutan hidupnya, sedang Nabi Ismail mengorbankan nyawanya yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun harganya.
الله اكـبر 3×
معاشر المسلمين رحمكم الله !
Agar berkesinambungan amal berkurban ini,  Allah mensyari’atkan ibadah berkurban untuk umat Nabi Muhammad saw, yaitu melalui firman-Nya:
فَصَلِّ لِرَبـِّكَ وَ انْحَرْ. {الكوثر : ?}
Artinya :”Dan bersembahyanglah engkau hai Muhammad dan menyembelihlah !”.

Bersembahyang   di sini menurut ahli tafsir adalah sembahyang hari raya Idul Adha. Dan menyembelih di sini adalah menyembelih kurban. Perintah berkurban ini untuk Nabi Muhammad adalah perintah wajib, dan untuk umatnya adalah perintah sunah.

 

Di lain ayat Allah berfirman :

وَ اْلبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللهِ لَكُمْ فِيْهَا خَيْرٌ، فَاذْكُــرُوْا اسْــمَ اللهِ عَلَـيْهَا صَــــوَافَّ، فَاِذَا وَجَبَتْ جُنُـوْبـُهَا فَكُلُـوْا مِنْهَا وَ أَطْعِمُوْا اْلقَانِعَ وَ اْلمُعْتَرَّ، كَذَلِكَ سَخَّرْناَهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ. {الحج : ?6 }

“ Dan unta-unta yang gemuk itu telah kami jadikan untuk kalian, sebagai syiar-syiar agama Allah (tanda-tanda syariat Allah). Bagi kalian di dalamnya terdapat kebaikan (kata sahabat Ibnu Abbas: Manfaat di dunia dan pahala di akhirat). Maka sebutkanlah oleh kalian nama Allah ketika semuanya berbaris, lantas apabila telah roboh (disembeleh), maka makanlah dari padanya dan berilah makan dari padanya orang miskin, baik yang meminta maupun yang tidak. Demikianlah kami tundukkan binatang itu untuk kalian agar kalian bersyukur.”

Di ayat selanjutnya Allah berfirman :
لَنْ يَنــاَلَ اللهَ لحُُـُوْمُهَا وَلاَدِمـاَؤُهاَ وَلَكِـنْ يَنَــــالُهُ التَّقْـــوَى مِنْكُمْ، كَذَلِكَ سَخَّـــرَهَا لَكُمْ لِتُكَـبِّرُوْا اللهَ عَلىَ مَـاهَدَيـكُمْ، وَ بَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ. {الحج : ?7 }
Tidak akan sampai kepada Allah (tidak akan diterima oleh Allah) daging-daging kurban itu dan darah-darah kurban, akan tetapi sampai kepada Allah (diterima Allah) taqwa kalian. Demikianlah Allah menundukkan binatang-binatang itu untuk kalian, agar kalian bertakbir mengagungkan nama Allah sesuai dengan hukum yang ditunjukkan oleh-Nya kepada kalian. Dan berilah kabar gembira hai Muhammad kepada orang-orang yang berbuat baik itu. Taqwa dalam hal melaksanakan amal kurban ini adalah melaksanakannya dengan penuh keikhlasan karena Allah, dan dengan penuh ketundukan kepada syariat yang mengaturnya.

Misalnya seekor lembu hanya sah dibuat patungan oleh tujuh orang. Tidak sah oleh lebih dari tujuh orang. Seekor kambing tidak sah dibuat kurban patungan oleh dua orang. Seekor kambing hanya sah dibuat kurban oleh satu orang. Maka apa yang biasa kita saksikan pelaksanaan kurban seekor kambing dengan patungan yang hampir membudaya di mana-mana perlu diluruskan kembali, karena hal itu selain tidak sah, juga bertentangan dengan syari’at Islam.
Kiranya perlu juga disampaikan bahwa kurban itu hukumnya tetap sunah selagi tidak dinadzarkan. Jika dinadzarkan ia menjadi wajib. Jika kurban itu berstatus sunah, maka selain dagingnya dalam keadaan mentah harus diberikan kepada fuqoro dan masakin, maka orang yang berkurban dan keluarganya boleh juga ikut memakannya seperti juga orang kaya boleh ikut memakannya. Dan orang yang berkurban serta orang kaya boleh juga memanfaatkan kulitnya dan tanduknya, tetapi tidak boleh menjualnya atau menukarkannya dengan barang lain atau menjadikannya ongkos penyembelihan dan pemotongan. Hanya orang fakir dan miskin sajalah yang boleh menjual daging dan kulit kurban itu apabila telah diterima sebagai miliknya.
Termasuk juga dihukumi nadzar orang yang mengatakan :

- “Besok aku akan menyembelih kurban”
- “Kambingku ini kujadikan kurban”
- “Aku akan membeli kambing kurban”, dsb.

Perkataan-perkataan ini menyebabkan kurban berstatus wajib. Kalau kurban berstatus wajib maka seluruh daging, kulit dan lainnya wajib disedekahkan hanya kepada foqoro dan masakin. Si Pengurban dan juga orang kaya haram untuk ikut memakan dan memanfaatkannya. Oleh karena itu agar status kurban itu tetap sunah, maka sebaiknya ia menyebutkan:

- “Ini adalah kurban sunah”
- “Aku akan berkurban sunah”
- “Ini kurban sunahku”
- “Aku wakilkan kurban sunahku penyembelihannya kepadamu”, dsb.
الله اكـبر 3×
معاشر المسلمين رحمكم الله !
Kiranya, apakah hikmahnya Allah memerintah Nabi Ibrahim menyembelih putranya ? Nabi Ibrahim ini adalah Kholilullah, kekasih Allah. Tentu saja beliau cinta kepada putranya. Maka beliau pun diuji apakah cintanya kepada sang putra itu akan mengalahkan cintanya kepada Tuhannya, maka diujilah Nabi Ibrahim dengan perintah tersebut. Dan ternyata Nabi Ibrahim lulus. Sebagaimana difirmankan oleh Allah :
وَإِذِ ابْتلَىَ إِبـْرهِيْـــمَ رَبُّهُ بِكلَِمَتٍ فَأَتَـمَّــهُـنَّ قَالَ إِنىِّ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا... الآية. {البقرة : ??4}
(Dan sebutkanlah Muhammad !) Ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa perintah maka ia pun menunaikannya dengan sempurna. Lantas Allah berfirman: Sungguh akan kujadikan engkau seorang pemimpin bagi manusia.

معاشر المسلمين رحمكم الله !
Kita sebagai hamba Allah telah dianugerahi banyak nikmat di dunia ini, ada yang berupa ilmu, ada yang berupa harta, ada pula yang berupa pangkat dan kedudukan. Kitapun diuji oleh Allah sampai di mana kecintaan kita kepada nikmat Allah itu. Apakah kecintaan kita kepada harta akan menghambat ketaatan kita kepada Allah ? Apakah kecintaan kita kepada pangkat dan kedudukan akan merintangi ketundukan kita kepada perintah Allah ? Apakah ilmu kita akan keduniaan membuat kita makin jauh dari kepatuhan kita kepada Allah ? Pendeknya selama hidup kita diuji oleh Allah swt, ikhlaskah kita mengorbankan kesenangan untuk semata-mata menaati agama Allah yang kita anut dan kita peluk ini ?
الله اكـبر 3×
معاشر المسلمين رحمكم الله !
Kita semua selalu ingat di dalam sejarah bahwa umat Islam dahulu kala di jaman Rasul dan sahabat selalu jaya di dalam segala hal. Ini disebabkan mereka mau mengorbankan harta, jiwa dan raga dengan tulus iklas demi kepentingan agama. Mereka mau mengorbankan kepentingan pribadi dan kepentingan kelompok mereka untuk kepentingan agama.
Sahabat Muhajirin sudi mengurbankan dan meninggalkan negerinya, harta dan kekayaannya, demi membela kepentingan agama. Sahabat Anshar di Madinah sudi mengurbankan hartanya, rumah-rumahnya, yaitu memberikannya kepada sahabat Muhajirin demi membela agama Allah.
Perpaduan dan kesatuan kaum Muhajirin dan Anshar yang sama-sama sudi berkorban inilah yang menjadi sumber kejayaan agama Islam dan kaum muslimin di waktu itu.
Semoga kita dan anak turun kita menjadi orang-orang yang rela berkorban untuk kepentingan agama.

باَرَكَ اللهُ لِى وَ لَكُمْ فِى اْلقُـرْاَنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَـنـِى  وَ إِيَّاكُمْ بِاْلأَيـاَتِ وَ الذِّكْــرِ اْلـحَكِيْمِ، وَ تَـقَبَّــــلَ مِنىِّ      وَ مِنْكُمْ تِلاَوَتَـــــهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ.


Khutbah Idul Adha (2)


اَلْخُطْبَةُ اْلأُوْلَى
اَللهُ اَكْبَرُ (X9)

اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، وَ ِللهِ اْلـحَمْــدُ، اَللهُ اَكْبَرُ كَبِــــيْرًا، وَاْلـحَمْدُ ِللهِ كَثِـيْرًا، وَ سُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً  وَ أَصِيْلاً. اَللهُ اَكْبَرُ مَا أَشْرَقَتْ شَمْسُ هَذَا اْليَوْمِ اْلأَغَرِّ إِلىَ يَـوْمِ الدِّيـْنِ.اَللهُ اَكْــبَرُ مَا ارْتَفَـعَـتْ حَنَــــاجِرُ اْلـمُسْلِــمِيْنَ بِالدُّعَاءِ فىِ هَذَا اْليَوْمِ اْلـمَيْمُــوْنِ. اَللهُ اَكْبَرُ مَــــا لَبىَّ اْلـمُلَبـُّوْنَ، وَطَافَ الطَّائِـفُـوْنَ، وَ اَهْـدَى الـمُضِحُّـوْنَ. اَللهُ اَكْـــبَرُ مَا سَــعَى اْلـحَجِـــيْجُ بَـيْنَ الصَّفَـــا وَاْلـمَـرْوَةَ     وَ ذَكَــرَ الذَّاكِــرُوْنَ.اَللهُ اَكْــبَرُ مَا عَنَتِ اْلوُجُـوْهُ لِلْحَيِّ اْلقَيُّـــوْمِ.َاللهُ اَكْبَرُ مَا سَعَتِ اْلأَقْـــدَامُ لِزِيَارَةِ سَيِّـــدِ اْلأَناَمِ.َاللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، وَ ِللهِ اْلـحَمْدُ.
اَلحَمْــــدُ ِللهِ. وَأَشْهَـــــدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَشْهَــــــــــدُ أَنَّ مُحَمَّدً اعَبْـــدُهُ وَ رَسُوْلُهُ. وَصَلىَّ اللهُ وَسَلَّمَ وَبَــارَكَ عَلىَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَنْصَارِهِ ِإلىَ يَـوْمِ يُبْعَثُوْنَ.
أَمَّا بـَعْـدُ، فَياَ إِخْــوَتىِ عِبَــــــادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ      وَ نَفْسِـــــىَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَــدْ فَازَ اْلـمُتَّقُـوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعاَلىَ فىِ كِتَابِهِ اْلكَرِيْمِ :
 اِنّـَا أَعْطَيْنَـكَ اْلكَــوْثَرَ ? فَصَـــلِّ لِرَبـِّكَ وَ انْحَـــرْ ?   إِنَّ شَانِـئَـكَ هُـوَ اْلأَبْتَرُ ? {الكوثر : 3- 1}

معاشر المسلمين رحمكم الله !
Beragam peringatan disyari’atkan di dalam agama kita. Maulid Nabi, Isra dan Mi’raj serta peringatan-peringatan serupa yang lain. Hal ini bertujuan agar kita bisa berkaca kepada tokoh dari peringatan tersebut. Selanjutnya kita bisa mengukur seberapa jauh kita melangkah, berapa banyak hasil yang kita peroleh, kesalahan apa saja yang telah kita lakukan dan berapa yang sudah kita perbaiki, guna menghadap Allah Dzat Yang Maha Adil.
Hari ini kembali Allah mengingatkan sosok yang begitu agung lagi mulia, Kholilullah, Ibrahim as. Seorang nabi yang begitu istimewa di hadapan Allah, hingga Dia perlu mensyari’atkan Idul Adha dan ibadah haji sebagai monument peringatan sepanjang masa, lambang keikhlasan dan kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya.
Ibrahim di dalam hidupnya dikenal sebagai sosok yang teguh pendirian dan istiqamah memegang prinsip-prinsip ketauhidan. Dorongan ekonomi yang terus menghimpit, lingkungan pergaulan yang semakin sempit dan tantangan jaman yang semakin rumit, tidak membuat beliau hidup dalam keterpaksaan sehingga menghalalkan segala cara. Justeru tekad beliau semakin membaja karena sesulit apapun yang ada di dunia ini hanyalah bersifat sementara.
Beliau diutus di tengah masyarakat yang penuh dengan penyimpangan, khurafat, kesyirikan dan pelanggaran-pelanggaran agama yang sudah biasa dilakukan. Namun beliau tidak larut di dalamnya. Dukungan yang nyaris tidak ada dan ancaman teror dari orang yang memusuhinya sama sekali tidak menyurutkan langkahnya untuk menegakkan kalimat tauhid di tengah kaumnya, bahkan dengan tegas beliau sampaikan misi Tuhannya ini di hadapan kaum dan pamannya yang membesarkannya serta di hadapan raja Namrudz yang begitu diktator di jamannya. Sekalipun beliau sadar bahwa hal itu mengancam nyawanya. Hal ini terangkum dalam surat Al Anbiya’ ayat : 66 – 67 :

قَـالَ أَفَتَـعـْبُـدُوْنَ مِـنْ دُوْنِ اللهِ مَــا لاَ يَنْـفَـعُـــــكُـمْ شَيْئًــــــا
 وَلاَ يَضُرُّكُمْ ? أُفٍّ لَكُــمْ وَ لمِــاَ تَعْبُـــــدُوْنَ مِـنْ دُوْنِ اللهِ ،  أَفَـلاَ تَعْقِــــــلُـوْنَ ? {الأنبياء: 66?67}
“Ibrahim berkata : Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu ?. Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?”
الله اكبر 3×، و لله الحمد.
معاشر المسلمين رحمكم الله !
Nabi Ibrahim juga bukan tipe orang yang ala kadarnya dalam menjalankan perintah Tuhannya. Apapun yang diperintahkan Tuhannya tidak hanya sebagai penggugur kewajiban, lebih dari itu beliau tuntaskan dengan sempurna, tidak hanya hal-hal yang wajib saja, tetapi yang sunah pun tak ketingalan. Begitu pula tidak hanya laranganNya saja yang beliau jauhi, tetapi juga hal-hal yang diperbolehkan tapi tidak disuka oleh Tuhannya (dalam bahasa agama disebut makruh). Firman Allah dalam surat Al Baqarah : 124

وَ إِذِ ابْتلَىَ إِبْرَهِيْمَ رَبُّهُ بِكلَِمَتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنىِّ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا... الأية.  { البقرة :  ??4}
“Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya dengan sempurna. Lantas Allah berfirman: Sungguh akan kujadikan engkau seorang pemimpin bagi manusia.”

Maka Allah pun begitu mencintainya. Ketika cinta kekasihnya itu terbagi untuk anak yang puluhan tahun didambakannya, Allahpun berkenan untuk menguji seberapa besar kecintaan Ibrahim kepadaNya dengan adanya sang anak. Lantas Allah membuat rencana untuk mengusir Siti Hajar dan memerintahkan untuk menyembelih Ismail. Hal ini adalah untuk mengembalikan kemurnian cinta Ibrahim kepada Allah, dan Ibrahim pun sukses melewatinya.
Kebenaran yang pasti dari syariat yang dibawanya sama sekali tidak membuat Ibrahim mengesampingkan upaya dialog di dalam menyampaikan ajarannya kepada kaumnya. Di antaranya sebagaimana tersebut dalam surat Al An’am : 76 – 78. Di sana beliau mengajak kaumnya untuk berpikir tentang bintang, bulan dan matahari yang telah lama dipercayai kaumnya sebagai Tuhan dengan konsep tauhid yang ditawarkannya. Tentu ini bukan berarti meragukan kepercayaan mereka, akan tetapi agar mereka bisa menerima ajarannya dengan kesadaaran dari diri mereka sendiri. Hal yang sama bahkan beliau terapkan pada putranya yang jelas-jelas di bawah kendalinya dan perintah menyembelih benar-benar dari Tuhannya. Dialog ini diabadikan oleh surat As Shaffat: 102 :
 فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْىَ قَالَ ياَ بُنَيَّ ِإنىِّ أَرَى فِى اْلـمَنَامِ أَنىِّ أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى.
“Maka tatkala Nabi Ismail menjelang dewasa (umur di mana ia bisa membantu ayahnya dalam beberapa pekerjaan dan hajatnya) , berkatalah Nabi Ibrahim kepadanya: Hai anakku, sesungguhnya aku telah memperoleh wahyu dalam impian, bahwa aku diperintah menyembelihmu. Maka pikirkanlah, bagaimana pendapatmu ?”.

Sikap demikian ini tentu hanya bisa dilakukan oleh orang yang rendah diri dan mengesampingkan semua sanjungan dan pujian, pangkat dan martabat mulia yang dia dapatkan. Sikap ini kembali diperlihatkan oleh Ibrahim dalam sebaris doanya yang terekam dalam surat Al Baqarah 128 :
وَأَرِناَمَنَاسِكَـناَ وَتُبْ عَلَيْناَ، إِنـَّكَ اَنـْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.
“Dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesunguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagiMaha Penyayang.”

Status beliau sebagai seorang nabi dan rasul tidak membuat beliau enggan untuk meminta taubat kepada Tuhannya. Segala ilmu yang telah dianugerahkan oleh Allah kepadanya tidak membuatnya merasa cukup, bahkan beliau terus memacu diri untuk mencari tambahan ilmu demi perbaikan kualitas ibadahnya.
الله اكبر 3×، و لله الحمد.
معاشر المسلمين رحمكم الله !
Kesibukan beliau dalam berdakwah tidak mengurangi rasa tanggungjawabnya kepada keluarga-nya. Beliau memiliki cita-cita  yang begitu tinggi untuk istri dan anak cucunya. Cita-cita itu terlantun dalam salah satu doa beliau yang disitir oleh surat Ibrahim ayat : 40 ;
رَبِّ اجْعَلْنىِ مُقِيْمَ الصَّلَوةِ وَ مِنْ ذُرِّيَتىِ، رَبـَّنَا وَ تَقَبـَّلْ دُعَاءِ. {ابراهيم : 40}
“Ya Tuhanku, jadikalah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doa kami.”

Dalam masalah akhirat, beliau selalu menanamkan kepada putra-putranya, bahwa masa depan yang haqiqi adalah akhirat. Di sanalah manusia akan menuai hasil jerih payahnya selama di dunia. Dan Islam sebagai satu-satunya pegangan hidup sampai mati. Hal itu tercantum dalam surat Al Baqarah 132 :
وَوَصَّى بِهَا إِبْرهِيْمُ بَنِيْهِ وَ يَعْقُوْبُ يَبَنِىَّ إِنَّ اللهَ اصْطَفَى لَكُــمْ الــدِّيـْنَ فَـلاَ تَـمُـــوْتـُنَّ إِلاَّ وَ أَنْتُمْ مُسْلــِمُــــوْنَ. {البقرة : 132}
“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. Ibrahim berkata : Hai anak-anakku ! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan memeluk agama Islam.”
 معاشر المسلمين رحمكم الله !
Demikianlah Nabi Ibrahim menjalani hidupnya. Maka pantaslah apabila Allah begitu mencintainya bahkan memberikan pujian setinggi langit kepada beliau, sebagaimana termaktub dalam surat An Nahl 120 – 121 :

إِنَّ إِبْرهِيْمَ كَانَ أُمَّةً قًانـِتًا ِللهِ حَنِيْفًا وَلَمْ يـَكُ مِنَ اْلمُشْـرِكِــيْنَ? شَاكِــرًا ِلأَنـْعُـــــمِهِ، إِجْتَبـَـهُ وَ هَـدَـهُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ. {النحل : 121?120}
Enam pangkat yang disematkan kepada beliau adalah:
1. Ummatan, karena beliau menjadi teladan dan panutan semua penganut agama samawi yang pernah ada.
2. Qoonitan, karena ketaatan beliau yang luar biasa kepada Allah.
3. Haniifan, karena keberanian beliau melawan arus keyakinan sesat yang ada dengan segala resikonya.
4. Ghoiru musyrikin, karena amal yang beliau lakukan hanya semata mengharap ridlo Allah, tidak mempedulikan penghargaan dari orang lain.
5. Syakiran, karena beliau mampu mendaya-gunakan nikmat apapun yang diperolehnya sebagai motor pendorong ibadah.
6. Muhtadan, karena beliau telah dipilih dan diberi petunjuk oleh Allah s.w.t. kepada jalan yang lurus.

Dan sebagai balasannya, beliau menjadi orang yang sukses di dunia dan berbahagia di akhirat. Janji Allah dalam surat An Nahl : 122 ;
وَ ءَاتَـيْنَــهُ فىِ الدُّنـْيَـــــا حَسَنَــةً، وَ إِنّـــَهُ فىِ اْلآخِــــرَةِ   لمَِنَ الصَّلِحـــــِيْنَ.{النحل : 122}
“Dan kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akherat benar-benar termasuk orang-orang yang shaleh.”


Demikianlah sosok Ibrahim sebagaimana yang dikisahkan dalam Al Quran. Semoga kita senantiasa diberi taufiq dan hidayah-Nya sehinga bisa meneladani perilaku dan akhlaq beliau. Amin.
باَرَكَ اللهُ لِى وَ لَكُمْ فِى اْلقُـرْاَنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَـنـِى  وَ إِيَّاكُمْ بِاْلأَيـاَتِ وَ الذِّكْــرِ اْلـحَكِيْمِ، وَ تَـقَبَّــــلَ مِنىِّ      وَ مِنْكُمْ تِلاَوَتَـــــهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA


Versi Pertama :
الخطبة الثانية
اَللهُ اَكْبَرُ  x 7
اَلحَمْـــدُ ِللهِ مُوَفِّـقِ اْلعَامِلِيْنَ، وَ أَشْهَــدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَلِىُّ اْلمُتَّـقِيْنَ، وَ أَشْهَـدُ أَنَّ مُحَمَّـدًا رَّسُــوْلُ اللهِ الصَّـــادِقُ اْلأَمِيْنَ.اَللَّــهُمَّ صَلِّ وّسَـــلِّمْ وَبَـارِكْ عَلىَ سَيِّـــــدِناَ مُحَمَّـــــدٍ وَأَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالتاَّبِعِــيْنَ وَتاَبِِعِيْـــهِمْ بِاِحْسَانٍ اِلىَ يَوْمِ الدِّيـْنِ.اَمَّا بـَعْدُ: 
فَيَا عِبَادَ الله ! ِاتَّقُـــوْا اللهَ وَ اعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنـَفْسِهِ، وَ ثَنىَّ بِمَلاَئِـكَـةِ قُدْسِهِ،   وَأَيـَّدَبِالْمُـؤْمِنِيْنَ مِنْ عِبَادِهِ، فَقَالَ وَ لَمْ يـَزَلْ قَائِلاً عَلِيـْمًا: {إِنَّ اللهَ  وَ مَلاَئكَِـتَهُ يُصَلُّوْنَ  عَلىَ النَّبِىِّ، يَأَيـُّهـَا الَّذِيـْنَ أَمَنُوْا صَلـُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَــا صَلَّيْتَ عَلىَ سَيِّــدِناَ اِبْرَاهِيْمَ  وَ عَلىَ أَلِ سَيِّــــدِناَ إِبْرَاهِيْمَ. وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّـــدِناَ مُحَمَّـــدٍ وَعَلىَ أَلِ سَيِّــدِناَ مُحَمَّدٍ، كَمَا باَرَكْتَ عَلىَ سَيِّـــدِناَ إِبْرَاهِيْـــمَ وَ عَلىَ أَلِ سَيِّـــدِناَ اِبْرَاهِيْـمَ، فىِ اْلعَالمَِيْنَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. سَادَاتِنَا أَبىِ بَكْرٍ وَعُمَـرَ وَعُثْمَـانَ وَعَلِىٍّ وَعَنْ بـَقِـيَّةِ أَصْحَابِ رَسُـــوْلِ اللهِ أَجْمَـعِيْنَ  وَالتاَّبِعِيْنَ وَ تاَبِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يـَوْمِ الدِّيـْنِ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا وَلِوَالِدِيْناَ وَارْحَمْهُمْ كَماَ رَبـَّوْناَ صِغَارًا، وَلمََََشَايِخِـنَا وَمُعَلِّمِيْناَ، وَذَوِي الْحُقُوْقِ عَلَيْناَ، وَلجَِمِيْعِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ، َاْلأَحْياَءِ منْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، مِنْ مَشَارِقِ اْلأَرْضِ وَمَغَارِبـِهاَ.
اَللَّهُـمَّ اجْعَلْ حَجَّناَحَجًّا مَبْرُوْرًا، وَسَعْيَنـاَ سَعْيـاً
مَشْكُوْرًا، وَذَنـْبَناَ ذَنْباً مَغْفُوْرًا وَتِجَارَتَنَاَ تِجَارَةً لَنْ تَبُوْرَ،   يَا عَزِيْـزُ  يَاغَـفُـــوْرُ.
َاللَّهُمَّ اُكْـتُبِ السَّلاَمَةَ وَالسَّعَادَةَ لِلحُجَّاجِ وَالعُمَّارِ إِلىَ بَيْتِ اللهِ الْحَرَامِ، مِنْ مَشَارِقِ اْلاَرْضِ وَمَغَارِبِـهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا.
رَبـَّناَ اَتِنَا فيِ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَ فيِ اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَـــذَابَ النَّارِ.
عِباَدَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ باِلْعَـــدْلِ وَ اْلإِحْسَانِ،   وَ إِيـْتــــاَءِ ذِى اْلقُـــرْبىَ وَ يَنْهَــى عَنِ اْلفَحْشَـــــاءِ وَ اْلمُنْكَرِ      وَ اْلبَغْىِ، يـَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَ اشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَ لَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.


Versi Kedua :
الخطبة الثانية
اَللهُ اَكْبَرُ  x 7
اَلحَمْـــدُ ِللهِ مُوَفِّـقِ اْلعَامِلِيْنَ، وَ أَشْهَــدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَلِىُّ اْلمُتَّـقِيْنَ، وَ أَشْهَـدُ أَنَّ مُحَمَّـدًا رَّسُــوْلُ اللهِ الصَّـــادِقُ اْلأَمِيْنَ.اَللَّــهُمَّ صَلِّ وّسَـــلِّمْ وَبَـارِكْ عَلىَ سَيِّـــــدِناَ مُحَمَّـــــدٍ وَأَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالتاَّبِعِــيْنَ وَتاَبِِعِيْـــهِمْ بِاِحْسَانٍ اِلىَ يَوْمِ الدِّيـْنِ.اَمَّا بـَعْدُ: 
فَيَا عِبَادَ الله ! ِاتَّقُـــوْا اللهَ وَ اعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنـَفْسِهِ، وَ ثَنىَّ بِمَلاَئِـكَـةِ قُدْسِهِ،   وَأَيـَّدَبِالْمُـؤْمِنِيْنَ مِنْ عِبَادِهِ، فَقَالَ وَ لَمْ يـَزَلْ قَائِلاً عَلِيـْمًا: {إِنَّ اللهَ  وَ مَلاَئكَِـتَهُ يُصَلُّوْنَ  عَلىَ النَّبِىِّ، يَأَيـُّهـَا الَّذِيـْنَ أَمَنُوْا صَلـُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَــا صَلَّيْتَ عَلىَ سَيِّــدِناَ اِبْرَاهِيْمَ  وَ عَلىَ أَلِ سَيِّــــدِناَ إِبْرَاهِيْمَ. وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّـــدِناَ مُحَمَّـــدٍ وَعَلىَ أَلِ سَيِّــدِناَ مُحَمَّدٍ، كَمَا باَرَكْتَ عَلىَ سَيِّـــدِناَ إِبْرَاهِيْـــمَ وَ عَلىَ أَلِ سَيِّـــدِناَ اِبْرَاهِيْـمَ، فىِ اْلعَالمَِيْنَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. سَادَاتِنَا أَبىِ بَكْرٍ وَعُمَـرَ وَعُثْمَـانَ وَعَلِىٍّ وَعَنْ بـَقِـيَّةِ أَصْحَابِ رَسُـــوْلِ اللهِ أَجْمَـعِيْنَ  وَالتاَّبِعِيْنَ وَ تاَبِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يـَوْمِ الدِّيـْنِ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ اْلمُؤْمِناَتِ وَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُسْلِمَاتِ، وَ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِــهـِمْ وَ انْصُرْهُمْ عَلىَ عَدُوِّكَ وَ عَدُوِّهِمْ.
اَللَّهُـمَّ وَفِّــقْ وُلاَةَ أُمـُوْرِناَ إِلىَ ماَ فِيْهِ عِـزُّ اْلاِسْـــلاَمِ   وَ اْلمُسْــلِمِيْنَ، وَ اِلىَ مــاَ فِيْــهِ خَيْرُ اْلبِلاَدِ وَ اْلعِـبــاَدِ بِجَاهِ سَيِّدِ اْلمُرْسَلِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. رَبَّناَ أَتِناَ فىِ الدُّنْيــــاَ حَسَنَــةً وَفىِ اْلأَخِــــرَةِ حَسَنَةً وَقِـنــاَ عَــذَابَ النَّارِ.
عِباَدَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ باِلْعَــدْلِ وَ اْلإِحْسَـانِ، وَ إِيـْتــاَءِ ذِى اْلقُــرْبىَ وَ يَنْهَـــى عَنِ اْلفَحْشَـــاءِ وَ اْلمُنْكَرِ وَ اْلبَغْىِ، يـَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَ اشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَ لَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

 

RUJUKAN KITAB :

• I’anah At Thalibin
• Al Baajuri
• Bughiyah Al Mustarsyidin
• At Taqriraat As Sadidah fi Masail Al Mufidah
    

==================================================================

BUKU – BUKU KARANGAN PENULIS :

1. Madarij Al Durus Al ‘Arabiyah Gaya Lama (jilid I,II dan III).
2. Madarij Al Durus Al ‘Arabiyah Gaya Baru (jilid I,II,III dan IV).
3. Pokok-pokok Ilmu Tajwid dan Waqof Ibtida’.
4. Hukum Islam (Jilid I dan II).
5. Terjemah Waraqat Imam Haramain (Ushul Fiqh).
6. Tafsir dan Terjemah Juz ‘Amma.
7. Petunjuk Singkat Manasik Haji.
8. Pengantar Ilmu Ahli Sunnah Wal Jama’ah.
9. Perbandingan Aqidah.
10. Pedoman Tauhid (Terjemah Nadzaman Aqidatil Awam).
11. Dalil-Dalil Hukum Islam.
12. Kumpulan Khutbah Jum’at.
13. At Tartil Wal Lahn fi Al Qira’ah.(Tepat dan salah baca dalam Al Quran)
14. Bina Ucap Makhraj dan Sifat Huruf-huruf Al Quran.
15. Nikah Beda Agama Dalam Pandangan Syari’at.
16. Terjemah Mukhtashor Ihya’ Ulumuddin Karangan Imam Al Ghozali.
17. Fatwa Syekh Muhammad Alwi Al Maliki Tentang Selamatan dan Tahlil Untuk Mayit.
18. Zakat dan Pendayagunaannya menurut Syari’at Islam.
19. Pedoman singkat Imam dan Khotib.
20. Petunjuk Singkat tentang kurban.
21. Petunjuk Singkat Shalat dua hari raya (Idul Fitri & Adha) dan Berkurban.
22. Miqot Udara Haji Indonesia.
23. Terjemahan syari’atullah Al Kholidah karangan sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki.
24. Ghoroib Tilisan Mushaf Utsmani.
25. Idhahu Al Qowaid Al Fiqhiyyah, (Penjelasan kaidah-kaidah Fiqih dan terjemahnya).
26. At- Tabyin fi Ahkami Tilawati Al Kitab Al Mubin.
27. Fiqh Jum’at yang dipermudah untuk para makmum.
28. Beberapa masalah penting tentang Haji dan Umrah yang banyak dipertanyakan.
29. Sekilas tentang Ulumul Quran.
30. Ahli Sunnah-Syi’ah dan Bermadzhab.

 

 
  Situs © 2014 Oleh Pejuang Islam