URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
Hari ini: Jumat, 24 Oktober 2014 - Pejuang Islam, melestarikan kemurnian Ahlussunnah wal Jamaah
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Sekilas Profil
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV NU GARIS LURUS
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
BAHAYA MENYAKITI TENTANGGA 
  Penulis: Pejuang Islam  [3/10/2014]
   
BERMANFAAT BAGI EMPAT KETURUNAN 
  Penulis: Pejuang Islam  [3/10/2014]
   
KISAH AL-‘UTBI DALAM BERTAWASSUL 
  Penulis: Pejuang Islam  [22/9/2014]
   
MASYARAKAT MADANI DI PERSIMPANGAN - (3) 
  Penulis: Pejuang Islam  [21/9/2014]
   
MASYARAKAT MADANI DI PERSIMPANGAN - (2) 
  Penulis:  [19/9/2014]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Jumat, 24 Oktober 2014
Pukul:  
Online Sekarang: 36 users
Total Hari Ini: 350 users
Total Pengunjung: 1833918 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
TENTANG TV RODJA  
Penulis: [ 9/6/2013 ]
 
TENTANG TV RODJA

Luthfi Bashori

Seorang pengunjung Situs www.pejuangislam.com mengirim SMS kepada penulis yang isinya membahas keprihatinannya tentang perkembangan Islam di Tanah Air tercinta Indonesia dewasa ini, hingga terjadi diskusi dengan penulis sebagaimana berikut:

PENGUNJUNG: Assalamu`alaikum wr wb. Trm ksh kyai. Setelah membaca tuntas tulisan kyai tentang "TV RODJA, BID`AH-NYA KAUM WAHHABI" lengkap dgn komentar2nya. Saya jdi semakin yakin berguru dan belajar kpd kyai. Saat SMA di Magelang saya sempat stress menerima ajaran Islam aneh, yang baru saya ketahui dr ust Rosyad dan dr kyai, ternyata mereka adalah Wahabi..trm kasih kyai.

PEJUANG: Mudah2an bermanfaat unt umat.

PENGUNJUNG: Aamiin. Terima kasih kyai. Ijin kyai, saya sempat aktif mengikuti radio Rodja..teman2 yg aktif di radio Rodja, sllu memberi pembelaan.. Islam itu sdh sempurna sejak jamannya Rasul. Jd tdk perlu ditambah2i lagi, sehingga timbul bid`ah..sebenarnya maksud "sempurna" tsb apa kyai?

PEJUANG : Kaedah fiqih: Kalimatu haqqin uriida bihal bathil (ada kata2 yg benar namun dipergunakan unt tujuan salah/jahat). Contohnya: Emas itu berwarna KUNING (berarti warna KUNING itu pertanda bagus). Tapi jika warna KUNING diniati unt TUJUAN SALAH/JAHAT, jadinya NEGATIF. Misalnya ada yang mengatakan dengan serius: Hai kawan, GIGI mu berwarna KUNING... ! Nah, pasti sang kawan akan marah dan tersinggung...!

Kalimat: Islam itu adalah agama yg SEMPURNA, jadi TIDAK PERLU ditambahi yg BID`AH ! kata2 ini BENAR dan POSITIF, tapi oleh Wahhabi dipergunakan unt tujuan JAHAT. Karena mereka menuduh TAHLILAN itu BID`AH, padahal TAHLILAN itu berdasarkan DALIL ALQURAN dan HADITS. Demikian juga terhadap amalan2 warga Aswaja lainnya, semisal Maulid Nabi, Talqin mayit, dll mereka tuduh BID`AH... Tentu saja tuduhannya itu adalah SALAH.

Coba misalnya kalau ada orang WAHHABI menguraikan `kaedah` (yang BENAR semisal): Warna kulit bangsa Indonesia itu adalah SAWO MATANG...! Kemudian tatkala si WAHHABI ini ketemu ORANG AMBON/IRIAN, lantas mengatakan dg serius: Kamu itu penduduk asing, bukan bangsa Indonesia, buktinya kulitmu berwarna HITAM ! Tentu saja Orang Ambon/Irian itu tidak terima, dan marah2. Apalagi jika ia dapat menunjukkan bukti KTP Indonesia..., tapi ternyata si WAHHABI ngotot: "Aku nggak mau tahu, biarpu kamu menunjukkan KTP Indonesia kek, KK Indonesia kek, Peta wilayah Ambon/Irian di kepulauan Indonesia kek, atau bukti apa saja, pokoknya MENURUT AKU, kamu ini adalah warga Asing karena warna kulitmu HITAM... !"

Kira-kira demikianlah gambaran keangkuhan kaum WAHHABI yg menuduh warga Aswaja adalah Ahli Bid`ah. Ironisnya, kaum WAHHABI sendiri justru banyak mengerjakan AMALAN BID`AH menurut definisi mereka sendiri, seperti PENAYANGAN TV RODJA sebagai media Dakwah ala Wahhabi, jelas-jelas perbuatan Wahhabi ini tidak pernah ada di Jaman Nabi SAW. Karena ajaran Islam sudah sempurna di kala itu.

PENGUNJUNG: Na`am kyai. Saya sdh baca semua komentar mereka dan pelan2 saya pahami jawaban kyai. Trm ksh kyai.. Alhamdulillah, saya berkesempatan belajar kpd kyai..trm ksh kyai..

PEJUANG: Alhamdulillah jika umat Islam dapat mengambil manfaat dari keterangan kami. Semoga tujuan baik kami itu selalu dibimbing oleh Allah.

PENGUNJUNG: Aamiin.. Saya dinas di intel kodam bagian analisa data kyai.. Semua laporan informasi seluruh bidang masuk ke staf saya.. MasyaAllah, perpecahan dlm dunia Islam semakin bermunculan..Islam seakan kehilangan wibawa kyai..

PEJUANG: Mohon jangan dikatakan perpecahan dalam dunia Islam secara mutlak. Tapi katakanlah perpecahan di dalam tubuh umat Islam Indonesia. Karena asli muslim Indonesia itu adalah bermadzhab SUNNI SYAF`I (coba baca artikel kami berjududl ASLI MUSLIM INDONESIA).

Kemudian akhir-akhir ini umat Islam Indonesia kemasukan `virus` dari para pendatang baru, yg membawa `penyakit` pemahaman aqidah baru, yg bertabrakan dg Islam mainstream negeri ini.

Akibatnya sering terjadi konflik atas nama agama, baik terjadi kerusuhan fisik maupun debat ilmiah secara lisan dan tulisan. Runyamnya banyak tokoh nasional di negeri ini yang tidak berusaha menjaga kepentingan dan kelestarian aqidah umat Islam mainstream sebagai penduduk mayoritas, yg jauh-jauh sebelumnya selalu dalam keadaan kondusif dalam menjalankan kewajibannya sebagai warna negara yang baik.

Terkadang para tokoh itu justru memberi peluang kepada para pendatang baru dengan pemahaman aqidah yg baru pula, lantas membiarkan penyebarkan keyakinan barunya kepada umat Islam mainstream yang rawan menimbulkan gejolak. Keadaan ini sangat berbeda dengan kebijakan pemerintah Brunai dan Malaysia, karena undang-undang mereka memastikan bahwa Islam yg resmi dianut oleh seluruh warga negara adalah madzhab SUNNI SYAFI`I, maka jika didapati ada warga yg berpaham selain SUNNI SYAFI`I adalah termasuk kejahatan bernegara, dan dapat dihukum sesuai undang-undang negara mereka itu.

PENGUNJUNG: Mohon maaf apabila saya salah berucap kyai.. Rindu suasana beribadah layaknya jaman Orba dulu.. Skrg sekuleris, liberalis, kapitalis, demokratis yg salah semakin berkembang.

PEJUANG: Ya, benar sekali.

PENGUNJUNG: Mhn ijin kyai, dlm penjelasan ttg karya Imam Nawawi yg berisi dalil2 ttg Allah memiliki bentuk layaknya makhluk-Nya.. Hadist2 tersebut apa benar ada kyai?

PEJUANG: Saat ini banyak tokoh2 Wahhabi kontemporer yg berani menggubah isi kitab para ulama Salaf (termasuk kitabnya Imam Nawawi) lantas disesuaikan dg keyakinan mereka. Coba baca artikel di kolom Media Global dg judul : KEJAHATAN INTELEKTUAL WAHHABI TERHADAP KITAB AL-ADZKAR.

PENGUNJUNG: Trm ksh kyai.. Sbg org awam, saya jd sangat penasaran ingin belajar banyak lagi, mana yg benar..?

PEJUANG: Ada pepatah yg mengatakan: Berhati-hatilah terhadap apa2 yang datang dari musuh anda, sekalipun itu suatu kebenaran... !

Contohnya, jika musuh anda menyuguhi minuman teh (= seperti kebenaran), maka tetap perlu diwaspadai, jangan2 tehnya itu dicampuri racun. Jika Wahhabi menyuguhkan dalil dari pendapat Salaf (= seperti kebenaran), maka waspadailah, jangan2 termasuk pendapat palsu hasil gubahan Wahhabi itu sendiri lantas dinisbatkan kpd para ulama Salaf.

PENGUNJUNG: Mereka jg selalu mengatakan "Islam datang asing dan akan kembali asing" dengan pemahaman amalan mereka yg berbeda dgn amalan masyarakat indonesia pada umumnya mereka anggap sebagai asing nya mereka.

PEJUANG: Itu juga kalimatu haqqin uriida bihal baathil (kalimat yg hak, namun dipergunakan untuk tujuan buruk/jahat). Yg dikatakan asing yg kedua itu semestinya bukan ditujukan kepada umat Islam mayoritas bangsa Indonesia, tapi ditujukan kepada non muslim (dan antek2nya, seperti kaum SEPILIS (Sekuler, Pluralis dan Liberalis). Nabi SAW bersabda: `Alaikum bis sawaadil a`dham (Hendaklah kalian mengikut kelompok mayoritas). HR. Ahmad.

Nah, umat Islam Indonesia yg bermadzhab Sunni Syafi`i ini ternyata kini adalah menjadi umat Islam terbesar dunia. Jadi termasuk kelompok mayoritas di samping para pengikut 3 madzhab lainnya (Hanafi, Maliki dan Hanbali).

PENGUNJUNG: Subhanallah, baru saya dengar hal tsb kyai..trm ksh kyai..

PEJUANG: Alhamdulillah, semoga bermanfaat.

PENGUNJUNG: Ijin kyai, dlm tulisan "Kejahatan Intelektual Wahabi Terhadap Kitab `AL-ADZKAR`, penulis menyebutkan Ulama Saudi (baca Wahabi). Apa di Saudi Arabiah mayoritas ulamanya Wahabi, kyai?

PEJUANG: Ulama yg menjadi corong penguasanya didominasi Wahhabi, tapi para ulama di kalangan masyarakatnya adalah SUNNI.

PENGUNJUNG: Terima kasih, kyai.
   
 Isikan Komentar Anda
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
Tulis Kode Di Bawah
 
 
1.
Pengirim: Muthoin Tsamma Amiin  - Kota: DKI Jakarta
Tanggal: 10/6/2013
 
Assalamualikum warahmatullohi wabarakatuh....
Ana doakan Ammy sekeluarga dikuatkan jasmani dan ruhani sehingga bisa terus mensyiarkan Islam.....
Mohon doanya ya Ammy atas terkabulnya hajat ana. Insya Alloh kalau tidak hari kamis atau senin depan hajat besar ana ya Ammy....
Allohumma shollimalab sayyidina Muhammad....
Wasswrwb... 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Semoga tujuan baik akhi terkabulkan. Amiin.

2.
Pengirim: joni  - Kota: yogya
Tanggal: 11/6/2013
 
Izinkan saya untuk memberikan komentar tentang kalimat “Hai kawan, GIGI mu berwarna KUNING... ! Nah, pasti sang kawan akan marah dan tersinggung...! “ , menurut saya apabila ada kawan yang menyampaikan bahwa gigi saya kuning, maka akan saya tanggapi dengan kepala dingin, apabila memang gigi saya kuning karena jarang gosok gigi, maka saya akan mengucapkan terimakasih kepada kawan saya tersebut karena dia telah menunjukan kelemahan saya dan mulai saat itu saya akan rajin menggosok gigi. Namun apabila ternyata gigi saya putih tapi dibilang kawan saya kuning maka saya akan tersenyum, berarti teman saya tidak bisa membedakan warna kuning dan putih alias buta warna. Kita tidak usah marah atau tersinggung. Jadi kesimpulannya kalau ada kawan yang memberi nasehat kepada kita harus kita terima kalau memang yang disampaikan itu kebebenaran walaupun yang menyampaikan seorang anak kecil. Berarti kita mempunyai teman yang jujur bukan teman yang (maaf) seorang penjilat yang tidak berani menyampaikan kebenaran. Tapi sebaliknya kita yang diberi nasehat tidak usah merasa direndahkan walaupun kedudukan kita tinggi atau seorang yang dihormati. Demikian sharing yang bisa saya sampaikan mohon maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan. Terimakasih 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Maaf, kayaknyam anda sudah lupa kalau JURAGAN anda, Syeikh Nashiruddin Al-Albani salah satu tokoh sentral Wahhabi telah mengharamkan anggotanya menonton TV, sebagaimana dimuat oleh Majalah Assunnah edisi 04/Tahun I/1422 H, bahkah beberapa tokoh Wahhabi sekelas Syeikh Ustaimin dan Syeikh Muqbil, ikut-ikutan menjatuhkan fatwa haramnya menonton TV. (sumber: www.muqbel.net).

Lebih-lebih, sebagian tokoh-Wahhabi itu ada yang memberi solusi jitu bagi para anggota Wahhabi kelas bawah demi memudahkan pengamalan fatwa-fatwa Wahhabi Teras, agar anggota Wahhabi kelas bawah dapat menghancurkan pesawat-pesawat TV, jika mereka menemukannya dimana saja berada.

Mencermati fatwa Nashiruddin Al-Albani serta tokoh-tokoh Wahhabi Teras lainnya, yang menghukumi bahwa siaran TV adalah Bid'ah Dhalalah karena tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW maupun para ulama Salaf, serta menghukumi semua tanyangan TV adalah haram, karena memuat gambar-gambar makhluk hidup (manusia dan hewan). Namun patut disayangkan, ternyata anda sebagai Wahhabi Indonesia tergolong Wahhabi Bandel yang tidak taat terhadap fatwa-fatwa sang Juragan. Anda malah bedla-belain TV Rodja segala. TV Rodja itu adalah HARAM menurut hukum produk Wahhabi.

3.
Pengirim: joni  - Kota: yogya
Tanggal: 12/6/2013
 
Terimakasih atas jawabannya, mohon maaf ustadz, sy cuma mengomentari kalimat "Hai kawan, GIGI mu berwarna KUNING... ! Nah, pasti sang kawan akan marah dan tersinggung...!", jd tidak ada maksud lain, kalau masalah TV Rodja itu sudah masuk pembahasan tingkat tinggi, yang ilmunya harus seperti ustadz, kalau saya belum sampai ilmunya. Sekali lagi maaf ustadz, kalau komentar saya kurang berkenan di hati ustadz.  
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Ya gak apa-apa..., wong akhi cuma sekedar komentar saja,,,, kan tidak mempengaruhi pemahaman pembaca, bahwa TV Rodja itu memang BID'AH-nya kaum Wahhabi.

4.
Pengirim: sholehuddin Al-Ghozali  - Kota: surabaya
Tanggal: 12/6/2013
 
assalamu'alaikum kyai....
semoga Allah melimpahkan seluruh Rahmat-Nya agar Kyai diberi kemudahan dalam berdakwah Ahlussunnah wal jama'ah. dan mohon sebesar-besarnya kyai karena dulu saya pernah mengira bahwa situs ini milik wahabi.
karena dalam facebook saya pernah mendapati oknum wahabi memposting situs ini dan dikatakan milik golongan mereka (salafi-wahabi)

Insya Allah saya juga akan mengajak teman-teman yang lain untuk 'menengok' situs ini, daripada mengengok situs wahabi. hehehe

wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.....

mohon maaf terdapat salah kata atau kurang sopan dalam tutur kata :) 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Ada kesamaan antara Wahhabi. Syiah dan JIL dalam menyikapi Situs kami ini, mereka saling mengklaim dan menuduh, tujuannya agar kami dimusuhi oleh semua pihak. Ada pihak yang menuduh kami ini Wahhabi (para penuduh ini adalah dari kelompok Syiah dan JIL), adapun yang menuduh kami ini Syiah, adalah dari kelompok Wahhabi). Atau banyak juga yang membalik-balik fakta di lapangan tentang jati diri kami, karena dalam Situs ini banyak kami ungkap kesesatan-kesesatan Wahhabi, Syiah, JIL, LDII, dan pemahaman sesat lainnya. Kami sendiri adalah Pengurus Komisi Fatwa MUI Malang dan Pengurus MWCNU Kecamatan Singosari.

5.
Pengirim: Achmad alQuthfby  - Kota: Probolinggo
Tanggal: 12/6/2013
 
Pengirim: joni - Kota: yogya
Tanggal: 11/6/2013 Izinkan saya untuk memberikan komentar tentang kalimat “Hai kawan, GIGI mu berwarna KUNING... ! Nah, pasti sang kawan akan marah dan tersinggung...! “ , menurut saya apabila ada kawan yang menyampaikan bahwa gigi saya kuning, maka akan saya tanggapi dengan kepala dingin, apabila memang gigi saya kuning karena jarang gosok gigi, maka saya akan mengucapkan terimakasih kepada kawan saya tersebut karena dia telah menunjukan kelemahan saya dan mulai saat itu saya akan rajin menggosok gigi. Namun apabila ternyata gigi saya putih tapi dibilang kawan saya kuning maka saya akan tersenyum, berarti teman saya tidak bisa membedakan warna kuning dan putih alias buta warna. Kita tidak usah marah atau tersinggung. Jadi kesimpulannya kalau ada kawan yang memberi nasehat kepada kita harus kita terima kalau memang yang disampaikan itu kebebenaran walaupun yang menyampaikan seorang anak kecil. Berarti kita mempunyai teman yang jujur bukan teman yang (maaf) seorang penjilat yang tidak berani menyampaikan kebenaran. Tapi sebaliknya kita yang diberi nasehat tidak usah merasa direndahkan walaupun kedudukan kita tinggi atau seorang yang dihormati. Demikian sharing yang bisa saya sampaikan mohon maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan. Terimakasih

- “Hai kawan, GIGI mu berwarna KUNING... !” adalah sebuah kalimat untuk menggambarkan betapa jahatnya kaum wahabi yang memlintir maksud firmanNya sehingga sesuai kemauannya. Jika anda orang Indonesia dan punya kultur ketimuran maka anda akan menyadari bahwa itu adalah sebuah kalimat celaan dan diberikan tanda seru diakhir kalimat. Dan perlu diingat Gigi itu tercipta dengan warna putih, bukan kuning. “Hai kawan, GIGI mu berwarna KUNING... !” adalah sebuah kritik negative, jika kritik positif maka si pengkritik akan menambahkan “sebaiknya kamu melakukan gosok gigi dg rutin”. Lontaran Pernyataan “Hai kawan, GIGI mu berwarna KUNING... !” itu lebih menitik beratkan kepada celaan bukan kepada nasehat.

Wahhabi memang selalu mendalilkan ayat: “Pada hari ini aku sempurnakan bagimu agamamu dan aku sempurnakan bagimu nikmat-Ku.” (QS. al-Maidah : 3)”.

Ayat 3 dalam surat al-Maidah tsb tidak
berkaitan dengan bid’ah hasanah. Karena yang dimaksud dengan
penyempurnaan agama dalam ayat tersebut, seperti dikatakan oleh para ulama
tafsir, adalah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah menyempurnakan kaedah kaedah
agama. Seandainya yang dimaksud dengan ayat tersebut, tidak boleh
melakukan bid’ah hasanah, tentu saja para sahabat sepeninggal Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam tidak akan melakukan bid’ah hasanah. Sayidina Abu
Bakar menghimpun al-Qur’an, Sayyidina Umar menginstruksikan shalat tarawih
secara berjamaah, dan Sayyidina Utsman menambah adzan Jum’at menjadi dua
kali, serta beragam bid’ah hasanah lainnya yang diterangkan dalam kitab-kitab
hadits. Dalam hal ini tak seorang pun dari kalangan sahabat yang menolak hal hal
baru tersebut dengan alasan ayat 3 surat al-Maidah tadi. Jadi, ayat yang
selalu disebutkan gerombolan kaum wahabi tidak ada kaitannya dengan bid’ah hasanah. Justru bid’ah
hasanah masuk dalam kesempurnaan agama, karena dalil-dalilnya terdapat
dalam sekian banyak hadits Rasul shallallahu alaihi wa sallam dan perilaku para
sahabat.
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kami punya kawan, kebetulan namanya Joni, dan giginya memang sangat Kuning sekali, karena sudah lama dia nggak pernah sikat gigi, dan yang lebih kebetulan dia sekarang jadi aktifis Wahhabi. Rupanya sejak dia masuk Wahhabi, maka dia tidak mau sikat gigi sama sekali, karena takut terjerumus ke dalam kubangan bid'ah menurut definisinya sendiri. Dia pernah berdalil bahwa Nabi SAW itu tidak pernah sikat gigi dengan alat sikat gigi dan pasta, tapi Nabi SAW itu bersiwak, jadi orang-orang yang sikat gigi dengan pasta itu sudah terjerumus dalam bid'ah dhalalah/sesat. Sedangkan di daerah tempat tinggal Joni yang kawan kami itu, kebetulan tidak ada yang jual miswak (kayu siwak). Kami jadi kasihan sama kaum Wahhabi yang tidak pernah mau sikat gigi hanya karena ketakutan oleh ulahnya sendiri itu, seperti Joni kawan kami itu, jadinya Giginya sangat Kuning sekali, dan bau busuknya sangat menyengat.

Yaa sebatas itulah rupanya standar pemahaman kaum Wahhabi itu.

6.
Pengirim: Abul Bashar  - Kota: Palangka Raya
Tanggal: 14/6/2013
 
'Hai kawan, gigi kamu kuning '

Hahaha....
Bisa saja kyai kalo membuat kalimat bid'ah menjadi sangat indah dan ilmiyah.

Betapa semakin tampaklah keteledoran kaum wahhabi ini dalam membaca dan mengolah kalimat.

Sudah jelas2 itu adalah kalimat perumpamaan, dan kalau dlm Ilmu Bahasa Indonesia, kalimat itu adalah digunakan sebagai majaz.
Kenapa malah dipahami dg arti serius?
Di bawahnya kan jg ada perumpamaan yg malah ceritanya lebih panjang, yaitu mengenai warna kulit. Kenapa tidak dibahas juga oleh Mang Joni?
Hmm...sebetulnya kami sudah sangat tahu jawabannya. Ya karena kaum wahhabi (Mang Joni) itu hobi memenggal kisah, kalimat, ayat, beserta makna2nya. Jadinya semua dianggap aneh dan bid'ah.

Oh Mang Joni, nasibmu selalu bermasalah jika acapkali berdiskusi ilmiyah dg Ahlussunnah.

Yaa..setidaknya, komentar dari Mang Joni ini semakin menambah jumlah nyata dr kelompok mereka.
Semoga warga awam yg lain semakin tersadar berkat adanya artikel2 cerdas nan cerdik ini.

'Hai Joni, gigi kamu kuning'
Hahaha.. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Hai Joni, gigi kamu memang kuning, awaaas... jangan sampai disikat dengan odol, karena Nabi SAW tidak pernah menggunakan odol.

7.
Pengirim: Adam  - Kota: Pasuruan
Tanggal: 14/6/2013
 
Mengenai TV Rodja, bid'ahnya kaum wahhabi, hanyalah salah satu contoh kesesatan fatal kelompok radikal yg satu ini.

Dalam kesempatan yg lain, ada teman pengguna facebook memposting tulisan tentang haramnya alat2 musik dan nyayi2an. Hingga pada akhir tulisannya, dia mendeskreditkan shalawatan dan hadrah dan lantunan2 qasidah yg umum di Indonesia.
Yang tak luput dr pentahriman dia, yaitu grup shalawat asuhan Hb. Syaikh ibn Abd. Qadir as-Segaf. Pengguna facebook itu menghujat habis2an apa yg dilakukan Hb. Syaikh beserta krunya.

Maka komentar pro-kontra pun bermunculan dr berbagai pihak. Termasuk kami yg merasa terhujat oleh ulah dan komentar mereka.

Namun pada kasus yang lain, sebuah fakta yang sangat ironis terjadi di ruang lingkup mereka sendiri.
Kelompok ahlit takfir ini tanpa menyadari telah memasukkan ekstrakurikuler musik dan grup band ke dalam kurikulum mereka. Bahkan, even konser skala nasional yang menghadirkan musisi2 ibu kota menjadi program rutin di salah satu kampus terbesar di Kota Malang yang mayoritas staf pengajarnya berideologi wahhabi tersebut.

Maka, alangkah baiknya jika sosok semacam 'Joni' berpikir sejuta kali dulu sebelum ikut memberikan komentarnya atau bahkan menyampaikan argumennya. Karena hanya akan menambah daftar panjang kebodohan kelompok narsis itu. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Hai Joni si Gigi Kuning, jangan sekali-kali engkau pakai ''Odol Bid'ah'' untuk membersihkan gigimu, biarkan saja gigimu kuning keemas-emasan, tentu akan menambahi ketampanan wajahmu. Orang Wahhabi itu akan lebih manis jika giginya semakin kuning, dan tidak digosok dengan sikat gigi dan odol.

8.
Pengirim: joni  - Kota: yogya
Tanggal: 17/6/2013
 
Terimakasih kepada saudara-saudaraku semua yang telah memberikan masukan kepada saya, semoga menjadi amal baik saudara semua ...amin. Saya juga mohon maaf kalau komentar saya kurang berkenan di hati saudara-saudaraku semua. Semoga kedepannya saya bisa lebih baik lagi... mohon doanya dari saudara-saudaraku semua. Maturnuwun. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Jika ingin selamat dunia akhirat, ikuti aqidah Aswaja, jangan ikut Wahhabi agar tidak tersesat di jalan.

9.
Pengirim: amir  - Kota: cibinong
Tanggal: 17/6/2013
 
Assalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Sesungguhnya apa yang saya fikirkan dan rasakan tentang TV dan Radio Rodja adalah bahwa media ini adalah sebuah media kajian terbaik dari yang ada, dan sarat dengan ilmu yang menekankan pada Al-Qur'an dan hadist dengan pemahaman para sahabat.
Tidak ada pendapat ataupun uraian yang disampaikan kecuali sarat dengan dalil yang shahih ataupun ijma ulama. lain halnya dengan kebanyakan media lain yang hanya menyampaikan agama sebatas pendapat pribadi yang tidak didasari oleh hujjah yang kuat.
Sebagai bukti bahwa dakwah ini bisa diterima oleh orang yang berfikir adalah Radio ini merupakan Radio komunitas terbesar di Indonesia (versi Trans7).
Stigmatisasi WAHABI bagi orang yang menjalankan sunnah tentu tidak lepas dari beberapa kritik:
a. WAHABI merupakan kata yang diambil dari Asma Allah, ataupun bagi orang yang tidak mengerti bahasa Arab ditolerir utk nama Abdul Wahab. Walaupun yang dimaksud adalah Muhammad bin Abd wahab. Jadi seharusnya laqob yang benar adalah MUHAMMADI, bukan WAHABI. Bisa jadi penamaan WAHABI ini murni dari orang yang terganggu dari dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.
2. Sering terdengar ucapan orang tanpa ilmu tanpa dasar yang menyebutkan bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah adalah dedengkot WAHABI. Padahal Ibnu Taymiyah lahir lahir lebih dahulu daripada Muhammad bin Abd Wahab. Bagaimana mungkin orang yang lahir duluan mendapat laqob orang yang lahir belakangan.

Selanjutnya yang menjadi tanda tanya saya terhadap klaim yang menyatakan bahwa Fiqih yg dipegang adalah Imam Syafi'i akan tetapi Aqidah yang dianut lain. kenapa yang dipakai bukan Aqidah Imam Syafi'i? Apakah Imam Syafi'i tdk memiliki Aqidah? (Allahu musta'an)

 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Berikut tulisan Sdr. Ahmad Alquthfby yang menjawab pertanyaan penganut Wahhabi yang senada dengan Sdr. Amir:

kebanyakan penganut sekte bentukan Muhammad ibn Abdil Wahhâb merasa begitu gusar disebut sebagai kaum Wahhâbi alias bermadzhab Wahhâbi, sementara kalimat/istilah/penyebutan itu tidak mengandung konotasi pujian atau celaan. Ia bukan celaan, andai mereka mengaku bahwa apa yang mereka anut itu adalah sebuah mazhab. Sebab sebuah mazhab yang ditegakkan di atas dalil-dalil yang shahihah tidak akan dicemari dengan nama baru yang disandangnya atau penamaan baru yang disematkan orang kepadanya!. Kalo agak represif bicara: Terserah saja orang mau mengistilahkan apapun sekte wahabi tersebut, apalagi istilah wahabi, sekali lagi tidak mengandung celaan atau pujian.

Saya benar-benar terheran-heran terhadap para muqallidin (yang hanya pandai bertaqlid buta, tanpa kefahaman, namun tidak pernah mau mengakuinya) yang tak henti-hentinya menampakkan kegusaran mereka dan mengeluhkan bahwa istilah Wahhâbi itu sengaja digelindingkan “musuh-musuh da’wah” dengan konotasi mengejek, sementara itu perlu mereka sadari bahwa penamaan itu di luar area pertikaian. Ini yang pertama.

Kedua, berapa banyak ulama Wahhâbi sendiri menerima dengan lapang dada penamaan itu. Mereka tidak malu-malu atau enggan menyebut diri mereka sebagai Wahhâbi, bahkan sebagian mereka menulis buku atau risalah bertemakan Akidah Wahhâbiyah. Itu semua tidak semestinya dirisaukan.
Di antara ulama Wahhâbi yang menggunakan istilah atau menamakan aliran/mazhab mereka dengan nama Wahhâbi adalah Sulaiman ibn Sahmân, dan sebelumnya Muhammad ibn Abdil Lathîf. Baca kitab ad-Durar as Saniyyah,8/433, serta masih banyak lainnya. Demikian juga para pembela Wahhâbi, seperti Syeikh Hamid al Faqi, Muhammad Rasyid Ridha, Abdullah al Qashîmi, Sulaiman ad Dukhayyil, Ahmad ibn Hajar Abu Thâmi, Mas’ud an Nadawi, Ibrahim ibn Ubaid –penulis kitab at Tadzkirah- dan banyak lagi selain mereka. Mereka semua menggunakan istilah atau nama tersebut untuk merujuk kepada aliran yang dibawa Muhammad ibn Abdil Wahhâb at Tamimi an Najdi. Kendati Syeikh Hamid al Faqi terkesan meragukan i’tikad baik mereka yang menggunakan nama itu dan ia mengusulkan lebih tepatnya ajakan Muhammad ibn Abdil Wahhâb itu dinamai dengan Da’wah Muhammadiyah mengingat nama pendirinya adalah Muhammad bukan Abdul Wahhâb! Dan sikap ini diikuti oleh sebagian Misinioris dan juru da’wah serta aktifis sekte wahabi, seperti Shaleh ibn Fauzân ketika ia mengecam Abu Zuhrah dan lainnya.

sebenarnya bukan hany mas micko yang cukup alergi dengan istilah wahabi, tuntutan Syeikh Fauzân dan Hamid al Faqi agar nama Wahhâbi dijauhkan dari penggunaan dan sebagai gantinya nama Da’wah Muhammadiyah mengingat pendiri sekte ini adalah Muhammad adalah tuntutan yang aneh bin ajaib, dengan satu alasan yang sederhana, yaitu bahwa kebanyakan mazhab-mazhab yang ada di kalangan kaum Muslimin tidak dinisbatkan kepada nama pendirinya, akan tetapi dinisbatkan kepada nama ayah-ayah atau kakek-kakek mereka.

Mazhab Hanbali misalnya, dinisbatkan kepada kakek Imam Ahmad, sebab nama beliau adalah Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal. Sementara itu syeikh Fauzân dan al Faqi serta para penganut Wahhâbi tidak sediktpun memprotes penamaan tersebut, mereka tidak mengatakan bahwa mazhab Imam Ahmad itu seharusnya dinamakan dengan nama Mazhab Ahmadi!

Begitu juga dengan Mazhab Syafi’i, ia dinisbatkan kepada Syafi’ -kakek keempat Imam Syafi’i -sebab nama lengkap beliau adalah Muhammad ibn Idris ibn Abbas ibn Utsman ibn Syafi’. Lalu mengapa mereka tidak memprotesnya dengan mengatakan penamaan itu tidak benar, sebab nama pendiri mazhab itu adalah Muhammad, jadi penamaan yang tepat adalah Mazhab Muhammadi!

Begitu juga dengan Mazhab Hanafi, ia dinisbatkan kepada Abu Hanifah, sementara Hanifah itu sendiri bukan nama pendirinya, nama pendirinya adalah Nu’mân ibn Tsabit.

Hal yang sama kita jumpai dalam penamaan Mazhab Teoloqi/Kalam Asy’ari, para penganut mazhab tersebut dipanggil dengan nama Asyâ’irah (bentuk jamak Asy’ari) dengan dinisbatkan kepada Abu al Hasan al Asy’ari, sementaa nama Asy’ar adalah nama kakek Abu al Hasan yang kesekian sejak masa jahilah sebelum kedatangan Islam yang menjadi moyang bani Asya’irah, yaitu Asy’ar ibn Adad ibn Zaid ibn Yasyjab ibn Arîb ibn Zaid ibn kahlan ibn Saba’.

Dapat kita perhatikan bahwa antara Abu al Hasan –pendiri mazhab- dan Asy’ar terdapat puluhan ayah…

Selain itu, sering kita saksikan bahwa para Wahhâbiyun dengan seenaknya sendiri menyebut kelompok-kelompok tertentu dengan sebutan dan gelar dengan kesan kental mengejek, seperti al Jâmiyyîn, Al Bâziyyîn, al Quthbiyyîn, al Bannaiyyîn, al Albâniyyîn, al-Sururiyyin dan lain-lain.

Bahkan yang mengherankan ialah ternyata Shaleh ibn Fazân –yang keberatan digunakannya istilah Wahhabi- ternyata dengan serampangan menggunakan istilah Surûriyah untuk pengikut Muhammad ibn Surûr ibn Nâyif ibn Zainal Âbidîn. Mengapa ia tidak menamainya dengan nama Muhammadiyah/Muhammadi mengingat pendirinya/pimpinan kelompok itu bernama Muhammad dan bukan Surûr?!!

Namun, apa hendak dikata, kaum Wahhâbiyah tidak pernah ingin dibatasi dengan aturan main dan etika dalam berkomunikasi! Apa yang mau mereka lakukan, ya mereka lakukan, jangan ada yang menanyakan mengapa? “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.” (QS.21[Al Anbiyâ’];23)

Atau jangan-jangan keberatan mereka atas penamaan/penisbatan itu sebenarnya bersifat politis dan demi kepentingan “Da’wah Pemurnian Tauhidi ala mereka”, agar kaum awam tidak lagi mengingat potret kelam pendiri sekte Mazhab ini yang akrab dengan doktrin pengafiran dan pencucuran darah-darah suci kaum Muslimin lain selain pengikut mazhabnya, sebab kalau mereka menyadari hal itu pasti mereka akan merasa jijik terhadapnya! Bisa jadi itulah alasan hakiki dibalik keberatan itu, namum kami tidak ingin bersepekulasi atau sû’dzdzan, mungkin ada alasan lain yang luhur.
Wallahu A’lam.

CATATAN PEJUANG ISLAM:

Aqidahnya Imam Ahmad bin Hanbal sekalipun beliau mujtahid mutlak dalam madzhab fiqih, belaiu tetap mengikuti aqidah gurunya, yaitu Imam Syafi'i. Demikian pula Imam Syafi'i yang termasuk mujtahid mutlak dalam fiqih beliau mengikuti aqidahnya Imam Malik sebagai gurunya. Sedangkan Imam Malik, beliau adalah mujtahid mutlak dalam fiqih, beliau juga mengikuti aqidah seniornya yaitu Imam Hanafi yang termasuk mujtahid mutlak pula dalam ilmu fiqih. Aqidah Imam Hanafi mengikuti aqidah guru-guruny yaitu generasi para Tabi'in (alias murid-murid para shahabat Nabi SAW), antara lain :
1. Imam Akramah Maula Abdullah bin Abbas wafat 104 H.
2. Imam Atha' bin Abu Rubah wafat 114 H.
3. Na'fi Maula Ibn Umar wafat 117 H.
4. Hamad bin Abu Sulaiman wafat 129 H.

Aqidah para Tabi'in ini sering juga diistilahkan dengan aqidah Ahli Hadits.

Adapun Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Syafi'i, Imam Malik dan Imam Hanafi, beliau berempat adalah ulama ahli Hadits, hanya saja ilmu fiqih mereka lebih dikenal dan lebih masyhur di kalangan umat Islam. Mereka hidup sekitar tahun 80 H hingga 241 H. Jadi aqidah mereka berempat adalah mengikuti dan selaras dengan aqidah para Ahli Hadits yang hidup sebelumnya.

Sedangkan Imam Abu al-Hasan bin Isma'il al-Asy'ari, beliau lahir tahun 260 H dan wafat tahun 324 H. Beilau adalah seorang pemikir muslim pendiri paham Asy'ari. Latar Belakang namanya Abul al-Hasan Ali bin Ismail al-Asy'ari keturunan dari Abu Musa al-Asy'ari, salah seorang perantara dalam sengketa antara Ali bin Abi Thalib dan Mu'awiyah.

Imam Asy'ari lahir di Basrah, namun sebagian besar hidupnya di Baghdad. Pada waktu kecilnya beliau berguru pada seorang Mu'tazilah terkenal, yaitu Al-Jubbai, mempelajari ajaran-ajaran Muktazilah dan mendalaminya. Aliran ini diikutinya terus ampai berusia 40 tahun, dan tidak sedikit dari hidupnya digunakan untuk mengarang buku-buku kemuktazilahan.

Namun pada tahun 300 H, beliau mengumumkan diri keluar dari paham Mu'tazilah, dan mendirikan teologi baru yang kemudian dikenal sebagai Asy'ariyah.

Ketika mencapai usia 40 tahun beliau bersembunyi di rumahnya selama 15 hari, kemudian pergi ke Masjid
Basrah. Di depan banyak orang beliau menyatakan bahwa beliau mula-mula mengatakan Quran adalah makhluk; Allah Swt tidak dapat dilihat mata kepala; perbuatan buruk adalah manusia sendiri yang memperbuatnya (semua ini pendapat aliran
Muktazilah).

Kemudian beliau mengatakan: "Saya tidak lagi memegangi pendapat-pendapat tersebut; saya harus menolak paham-paham orang Muktazilah dan menunjukkan keburukan-keburukan dan kelemahan-kelemahanya".

Beliau cenderung kepada pemikiran Aqidah Ahlussunnah Wal jama'ah yang dianut oleh para ulama Ahi Hadits termasuk 4 Imam Mujtahid Madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hanbali). Beliau mengembangkan ajaran seperti sifat Allah 20.

Banyak tokoh pemikir Islam yang mendukung pemikiran-pemikiran Imam Asy'ari ini, salah satu yang terkenal adalah "Sang hujjatul Islam" Imam Al-Ghazali, terutama di bidang ilmu kalam/ilmu tauhid/ushuluddin. Orang-orang yang mengikuti/mendukung pendapat/faham Imam Asy'ari ini dinamakan kaum/pengikut
"Asyariyyah".

Di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim Aswaja mengikuti paham Imam Asy'ari yang dipadukan dengan paham ilmu Tauhid yang dikembangkan oleh Imam Abu Manshur Al- Maturidi. Ini terlihat dari metode pengenalan sifat-sifat Allah yang terkenal dengan nama "20 sifat Allah", yang banyak diajarkan di pesantren-pesantren berbasiskan Ahlussunnah Wal Jama'ah atau Nahdhatul Ulama (NU) khususnya.

10.
Pengirim: amir  - Kota: cibinong
Tanggal: 18/6/2013
 
Barokallahi Fiik Ustadz.

Terima kasih atas informasi runutan Imam2 Madzhab yang berujung pada Para Tabi'in.
yang menjadi pertanyaan saya adalah mengapa Aqidah yang dipakai oleh manhaj tertentu tidak langsung mengikuti manhaj Aqidah generasi terdahulu (Sahabat, Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in). Apakah pemahaman Aqidah Abul hasan al-Asy'ari Rohimahullah lebih baik atau lebih benar dibandingkan Imam Syafi'i Rohimahullah atau generasi Tabi'in? Apalagi dalam hal ini kita sepakat bahwa beliau pernah berfaham Mu'tazilah.. kemudian menjadi Al-Asy'iroh. Dan terakhir beliau rahomahullah ruju' pada Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah (maaf kalo beda pandangan fase ketiga Aqidah Abul Hasan Al-Asy'ari ini).

kepada saudaraku yang ingin memberikan komentar, silahkan sampaikan dengan cara yang baik.
Syukron Ustadz atas respons nya. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Ini sangat mudah jawabannya, hanya cukup diberi contoh saja. Tradisi umat Islam (para ulama) menggunakan hukum terhadap hadits dengan derajat shahih, hasan, dhaif, mengapa kok harus mengambil dari Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Imam Abu Dawud, Imam Nasa'i, Imam Ibnu Majah, dan yang sekurun dengan mereka yang hidup setelah tahun 200 H, mengapa kok tidak langsung saja mengambil hukum dari para Shahabat atau minimal para Tabi'in? Apa para ulama ini salah langkah? Bahkan mengapa kaum Wahhabi berani menghukumi derajat suatu hadits, justru mengambil dari perkataan Nashiruddin Al-albani yang lahir jauh belakangan, yaitu tahun 1333 H ?

11.
Pengirim: joni  - Kota: yogya
Tanggal: 19/6/2013
 
Maaf ustadz kalau ada hal yang kurang berkenan, saya baca2 ada artikel seperti ini.
Syeikh Muhammad Nashiruddin al Albani berkata :

التلفزيون اليوم لا شك أنه حرام، لأن التلفزيون مثل الراديو والمسجل، هذه كغيرها من النعم التي أحاط الله بها عباده كما قال: {وإن تعدوا نعمة الله لا تحصوها}، فالسمع نعمة والبصر نعمة والشفتان نعمة واللسان، ولكن كثيرا من هذه النعم تصبح نقما على أصحابها لأنهم لم يستعملوها فيما أحب الله أن يستعملوها؛ فالراديو والتلفزيون والمسجل أعتبرها من النعم ولكن متى تكون من النعم؟ حينما توجه الوجهة النافعة للأمة.
التلفزيون اليوم بالمئة تسعة وتسعون فسق، خلاعة، فجور، أغاني محرمة، إلى آخره، بالمئة واحد يعرض أشياء قد يستفيد منه بعض الناس. فالعبرة بالغالب، فحينما توجد دولة مسلمة حقا وتضع مناهج علمية مفيدة للأمة حينئذ لا أقول : التلفزيون جائز، بل أقول واجب.

Jawaban beliau, “Tidaklah diragukan bahwa hukum menonton televisi pada masa kini adalah haram. Televisi itu seperti radio dan tape recorder. Benda-benda ini dan yang lainnya adalah di antara limpahan nikmat Allah kepada para hamba-Nya.

Sebagaimana firman Allah yang artinya, “Dan jika kalian menghitung nikmat Allah niscaya kalian tidak bisa menghitungnya”

Pendengaran adalah nikmat Allah. Penglihatan juga merupakan nikmat. Dua bibir dan lidah juga nikmat. Akan tetapi, banyak dari berbagai nikmat yang menjadi sumber bencana bagi orang yang mendapatkan nikmat tersebut karena mereka tidak mempergunakan nikmat dalam perkara yang Allah inginkan.

Radio, televisi dan tape recorder adalah nikmat ketika dipergunakan untuk perkara yang mendatangkan nikmat bagi umat. Isi televisi pada masa kini 99 persen adalah kefasikan, pornografi atau porno aksi, kemaksiatan, nyanyian yang haram dan seterusnya.

Sedangkan hanya 1% saja dari tontonannya yang bisa diambil manfaatnya oleh sebagian orang. Sedangkan kaedah mengatakan bahwa nilai sesuatu itu berdasarkan unsur dominan dalam sesuatu tersebut.

Ketika ada negara Islam yang sesunggunnya lalu negara membuat program acara TV yang ilmiah dan bermanfaat bagi umat maka –pada saat itu- kami tidak hanya mengatakan bahwa hukum menonton TV adalah boleh bahkan akan kami katakan bahwa menonton TV hukumnya wajib" (Silahkan lihat : http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=37470) 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Waduh, kok bisa-bisanya Al-albani mengatakan:

Ketika ada negara Islam yang sesunggunnya lalu negara membuat program acara TV yang ilmiah dan bermanfaat bagi umat maka –pada saat itu- kami tidak hanya mengatakan bahwa hukum menonton TV adalah boleh bahkan akan kami katakan bahwa menonton TV hukumnya wajib"

Tolong sebutkan dalil shahihnya baik dari Alquran maupun hadits Nabi SAW, tentunya yang bukan hasil pemikiran Al-albani. Karena hukum syarait itu (menurut Wahhabi) harus ada Nas qath'i dari Alquran dan Hadits, agar sampean tidak Taqlid buta kepada Al-albani, kecuali kalau Al-albani sudah mengaku menjadi Nabi, mak dia boleh menentukan hukum yang langsung dari dirinya sendiri.

Maksud kami sih, agar kaum Wahhabi tidak seperti: Maling teriak maling, karena seringkali mengatakan, tidak boleh bertaqlid dalam berhukum syariat kepada siapapun selain kepada Allah dan Rasul-Nya. Tentunya juga haram bertaqlid kepada Al-albani kaaan ?

12.
Pengirim: joni  - Kota: yogya
Tanggal: 20/6/2013
 
Terimakasih ustadz atas jawabannya, sy hanya menampilkan pendapat Syeikh Albani untuk melengkapi komentar yg ustadz tulis di komentar nomor 2. Maaf ustadz kalau ada hal-hal yang kurang berkenan, semoga bermanfaat..amin. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Makanya harus diyakin, bahwa TV RODJA adalah BID'AHNYA KAUM WAHHABI. Ternyata betapa 'marahnya' orang Islam yang niat beramal baik, tiba-tiba dituduh PELAKU BID'AH SESAT, sebut saja PENGAMAL TAHLILAN, MAULID, TALQIN, dll dengan alasan Nabi SAW tidak pernah mengamalkannya, tapi tatkala Kaum Wahhabi mengamalkan amalan dakwah yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi SAW yaitu MEMBUAT TAYANGAN TV RODJA, lantas dituduh Bid'ah, ternyata Wahhabinya MARAH-MARAH. Nah, sekarang baru tau rasa, gimana sakitnya dituduh Bid'ah dhalalah.

13.
Pengirim: Abu Raihan  - Kota: Palangkaraya
Tanggal: 20/6/2013
 
Assalamu alaikum Kyai,
(Mohon maaf sebelumnya,
saya jarang membuka situs ini, dikarenakan kesibukan mencari nafkah,sehingga tidak mengikuti semua diskusi/ informasi disini).
Kiranya perlu saya sampaikan kpd Kyai, bahwa saya bukanlah pengikut Wahabi, mengapa saya utarakan hal ini, agar tdk salah persepsi saja, bahwa mungkin saja pendapat saya berbeda dengan pendapat Kyai atau kebanyakan pengunjung situs ini, dan apabila ada perbedaan bukanlah berarti itu faham Wahabi. Saya rasa itu cukup obyektif.
Sebagai penuntut ilmu, saya suka dengan TV Rodja, karena apa yang diutarakan semuanya berdasarkan dalil, namun demikian bukan berarti saya menolak pihak/ media lain. Saya siap menerima apa saja yang datangnya dari Alloh dan rasul Nya (tentu hal ini kelihatannya diplomatis, karena disana sini menjajakan kebenaran, yang muaranya dari Alloh dan RosulNya). Demikian juga apabila ada keyakinan yang diyakini oleh Syaikh Bin Baz, Syaikh Al Bani, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, atau Ibnu Taimiyah misalnya yang mana keyakinan itu sesuai dalil yang shohih ya pastinya saya akan terima. Namun demikian saya juga meyakini bahwa Kyai adalah manusia biasa, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah munusia biasa, jadi bisa salah dan bisa benar. Nah apa-apa yang benar(tentunya berdasarkan dalil) maka kita terima dan apa yang tidak cocok dengan dalil kita tolak. Sebagian saudara-saudara kita salah persepsi dengan penjelasan pengisi materi di Rodja TV, katanya ustadz Rodja TV suka meng KAFIR kan, mem BID'AH kan, Men SESAT kan pihak/ orang lain, yang saya ketahui tidaklah demikian, tetapi menjelaskan barang siapa berbuat begini begitu maka jatuh kepada kekafiran, maka itu adalah bid'ah, maka itu sesat, dengan berdasarkan dalil (Al qu'ran dan al hadist). Kiranya demikian Kyai pendapat saya thdp Rodja TV. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Anda kan sudah sering komentar di Situs ini, jadi kami sudah mengenal hakikat jati diri anda. Bahkan jika anda mengatakan kalau anda adalah penganut Syiah, maka kami tetap mengenal anda sebagai penganut Wahhabi tulen. Apalagi anda mengaku pengikut Aswaja, maka anda sudah terlanjur kami kenal sebagai Penganut Wahhabi tulen.

Bersyukurlah kami telah mengenal anda sebagai kaum Wahhabi sudah sejak lama, jadi kami tidak mudah terkecoh oleh omongan anda sendiri.

Yang terpenting, kami telah memberitahu kepada anda dan teman-teman Wahhabi anda, bahwa TV RODJA adalah BID'AHNYA KAUM WAHHABI.

Kami juga bisa memastikan, bahkan kami berani bersumpah, bahwa Nabi SAW dan para ulama Salaf, tidak pernah berdakwah lewat TV RODJA.

Jadi pembuatan dan penayangan TV Rodja itu jelas-jelas bukan berasal dari syariat Islam, karena menurut definisi Bin Baz dan Cs-nya, bahwa amalan syariat itu harus berdasaarkan Alquran dan Hadits.
Coba saja kawan-kawan Wahhabi anda suruh mencarikan Dalil shahih tentang bolehnya menayangkan dakwah lewat TV RODJA. Ada apa tidak ada ?

14.
Pengirim: joni  - Kota: yogya
Tanggal: 21/6/2013
 
Alhamdulillah, semakin banyak yang memberikan masukan, semoga semakin lengkap diskusi ini dan semoga diberkahi oleh Allah SWT. Semoga pak ustadz diberi kesabaran dan kesehatan dalam memberikan jawaban2nya kepada para pengunjung web ini...amin 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Benar, maka masyarakat akan semakin tahu jika TV RODJA ADALAH BID'AHNYA KAUM WAHHABI.

15.
Pengirim: amir  - Kota: cibinong
Tanggal: 21/6/2013
 
Barokallahi Fiik Ustadz,

ustadz, Sebagai orang terlahir dari lingkungan Islam tradisional, saya merasakan betapa Kehadiran TV dan Radio Rodja menmabah semangat belajar tentang Islam. Dibandigkan selama ini saya menyaksikan kajian yang dipertontonkan di TV nasional pada umumnya. Sangat berbeda jauh kalau ditinjau dari sisi keilmuan.
Penisbatan Kafir, Bid'ah, dan syirik disampaikan atas dasar hujjah yang kuat dan tidak serampangan (asal-asalan). Adapun media lain banyak menampilkan dakwah ger-ger-an, cengengesan dan sering menyampaikan agama tanpa ilmu (hawa nafsu/pendapat pribadi).
Coba saya tanya kan ke antum ustadz, tunjukkan kepada saya TV ataau radio kajian yang bisa memenuhi dahaga akan ilmu agama saya?

Syukron. Mohon kepada saudaraku yang akan berkomentar, sampaikan dengan cara yang baik dgn nuansa keilmuan. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Pengelola TV/RADIO RODJA adalah beraliran Wahhabi. Untuk mengetahui cuplikan aqidah Wahhabiyah yang dipuji oleh Sdr. Amir, maka kami nukilkan artikel baguuus sekali untuk pengunjung:

Kesamaan Aqidah Wahabiyah dan Aqidah Yahudi

Tema ini merupakan kenyataan dan bukan rahasia lagi bagi orang yang mengetahui hakekat keyakinan kelompok Wahabiyah dan keyakinan Yahudi.

Lebih jelasnya kami akan memaparkan keyakinan Yahudi terhadap Allah ta’ala dan apa yang mereka nisbatkan kepada-Nya berupa sifat-sifat yang tidak layak, penyerupaan, tajsim (mengatakan Allah berbentuk), bertempat pada suatu tempat, berada pada arah dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan keyakinan-keyakinan lainnya yang menyimpang dari aqidah yang benar. Kenyataannya apa yang kita temukan pada Wahabiyah sama dengan keyakinan Yahudi. Baca dan renungkanlah sambil memohon perlindungan kepada Allah dari syetan yang terkutuk dan para pengikutnya sebagaimana Allah telah berfirman tentang mereka:

إِنَّمَا يَدْعوُا حِزْبَهُ لِيَكُوْنُوْا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيْرِ

Maknanya: “Mereka mengajak golongannya, agar mereka menjadi penduduk neraka Jahannam“.

~~~~

Perbandingan Aqidah Wahabiyah dan Aqidah Yahudi

Yahudi mensifati Allah ta’ala dengan duduk dan bersemayam, mempunyai berat, berukuran dan bentuk, semoga Allah melindungi kita dari kekufuran mereka.

Dalam naskah Taurat palsu yang menjadi dasar agama mereka disebutkan dalam Safar al Muluk al Ishhah 22 no.19-20 orang-orang Yahudi semoga Allah melaknat mereka mengatakan: “Maka dengarkanlah kata-kata Tuhan, kamu telah melihat Tuhan duduk di atas kursiNya dan seluruh tentara langit berdiri di kanan dan kiriNya“.

Dan dalam buku yang mereka beri nama Safar Mazamir: al Ishhah 47 no.8 orang-orang Yahudi –semoga Allah melaknat mereka- mengatakan: “Allah duduk di atas kursi kesucian-Nya”.

~~~~

Wahabiyah Mengatakan Allah Duduk

-Ini Adalah Kekufuran-

Apa yang telah disebutkan di atas adalah sebagian keyakinan yang terdapat dalam kitab-kitab Yahudi yang terkenal secara jelas menyebutkan kekufuran, mensifati Allah duduk. Bandingkan dengan nash perkataan kelompok Wahabi berikut ini.

Dalam kitab Majmu’ al Fatawa jilid 4 hal. 374 karya Ibn Taimiyah al Harrani yang oleh Wahabiyah para pengikut Muhammad ibn Abdul Wahhab dianggap sebagai imam mereka mengatakan: “Sesungguhnya nabi Muhammad, Allah mendudukkannya di atas Arsy bersama-Nya”.

Dalam kitab yang sama jilid 5 hal. 527 dan kitab Syarh hadits al Nuzul cetakan Dar al Ashimah hal. 400 Ibn Taimiyah mengatakan: Apa yang disebutkan dalam atsar dari Nabi bahwa kata duduk pada hak Allah ta’ala seperti yang disebutkan dalam hadits Ja’far ibn Abi Thalib dan Hadits Umar hendaknya tidak diserupakan dengan sifat-sifat jisim para hamba.” Kita memohon perlindungan kepada Allah dari kekufuran ini, beraninya ia menisbatkan kebohongan kepada Allah, Rasul Nya, para sahabat dan para imam umat Islam.

Pada hal. yang sama ia mengatakan: “Jika Allah tabaraka wa ta’ala duduk di atas kursi maka terdengar gesekan suara seperti suara pelana kuda yang masih baru”.

Kitab yang berjudul Syarh Hadits an-Nuzul isinya memuat perkataan Ibn Taimiyah yang menyesatkan dan jauh dari kebenaran. Kitab tersebut dicetak di Riyad tahun 1993 oleh penerbit Darul ‘Ashimah dan dita’liq oleh Muhammad al Khumais yang seaqidah dengan Ibn Taimiyah dalam tasybih dan tajsim.

Perlu diketahui bahwa kata duduk tidak ada penisbatannya pada Allah dalam al Qur’an ataupun dalam hadits. Itu hanyalah bid’ah Ibn Taimiyah yang kufur dan para pengikutnya Wahabiyah al Musyabbihah dan orang yang sepaham dengan mereka.

Dalam kitab al Asma wa ash-Shifat min Majmu’ al Fatawa juz 1 cetakan Dar al Kutub al Ilmiyah tahqiq Mushthafa Abdul Qadir ‘Atha hal. 81 al Mujassim Ibn Taimiyah mengatakan: Ibn Hamid al Mujassim berkata Apabila Allah datang kepada mereka dan duduk di atas kursiNya maka bumi akan terang dengan cahaya-cahaya-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kekufuran semacam ini.

Dalam kitab Radd ad-Darimi’ala Bisyr al Marisiy cetakan Dar al Kutub al Ilmiyah hal. 74 ta’liq Muhammad Hamid al Faqi, lihatlah kelicikannya dalam berdusta kepada Allah dan kepada agamanya ad-Darimi[1] pengarangnya mengatakan: “Sesungguhnya kursiNya seluas langit dan bumi, dan Dia benar-benar duduk di atasnya dan besar-Nya tidak lebih dari kursi itu kecuali kira-kira seukuran 4 jari, dan ketika itu terdengar suara seperti suara pelana hewan tunggangan yang masih baru jika ditunggangi beban yang berat“. Dan ia menisbatkan kekufuran ini pada Nabi semoga Allah melindungi kita. Kitab ini dijadikan rujukan oleh Wahabiyah.

Dalam kitab yang sama hal. 71 al Darimi berbohong atas nama Rasulullah, bahwa Rasulullah mengatakan: “Aku mendatangi pintu surga, kemudian dibukakan untukku, kemudian aku melihat Tuhanku dan Ia sedang di atas kursiNya kadang kala dengan DzatNya Ia ada di atas Arsy dan terkadang dengan DzatNya Ia ada di atas kursi”. Ini adalah kekufuran yang sungguh mengherankan.

Pada hal. 73 ad-Darimi mengatakan: Rasulullah bersabda: “Tuhan turun dari Arsy-Nya menuju kursi-Nya. Dan dia mengatakan: “Seorang perempuan berkata: pada suatu hari raja duduk di atas kursi”. Betapa beraninya ia menisbatkan kekufuran terhadap nabi .

Orang-orang yang beriman pasti merinding jika membaca kitab ini karena buruknya kekufuran yang ada di dalamnya. Kitab ini menjadi rujukan mereka, padahal di dalamnya penuh dengan kekufuran dan kesesatan, hal itu dikarenakan fanatik buta terhadap Ibn Taimiyah yang telah memuji kitab ini dan menganjurkan untuk membacanya. Ia juga mengklaim secara bohong bahwa kitab tersebut memuat aqidah para sahabat dan ulama salaf.

Pujian Ibn Taimiyah ini dikutip oleh seorang muridnya yang bernama Ibn Qayyim al Jauziyah yang selalu mengikuti kesesatan Ibn Taimiyah dalam kitabnya Ijtima’ al Juyusy.

Pada hal. 85 dari kitab tersebut al Darimi- semoga Allah melindungi kita dari kekufuran ini- mengatakan: “Ada riwayat yang sampai kepada kami bahwa mereka (para malaikat) ketika membawa Arsy dan di atasnya ada al Jabbar (Allah) dengan kemulyaan dan keagunganNya, kadang mereka merasa berat hingga akhirnya mereka membaca la haula wala quwwata illa billah sehingga mereka merasa ringan dengan kekuasaan dan kehendak Allah. Kalau seandainya mereka tidak melakukan itu maka Arsy tidak akan ringan bagi mereka, juga para malaikat yang membawanya, begitu pula langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada padanya. Jika Allah menghendaki maka pastilah ia akan bersemayam di atas punggung nyamuk sehingga mudah untuk membawaNya dengan kekuasaanNya dan kelembutan ketuhananNya, maka bagaimana di atas Arsy yang agung”. Lihatlah pada agama Wahabiyah pengikut Ibn Taimiyah, Ibn al Qayyim al Jauzi, Muhammad ibn Abdul Wahhab, Ibn Baz dan Ibn Utsaimin, betapa piciknya agama mereka agama tasybih dan tajsim mereka mengatakan nyamuk membawa Allah dan terbang denganNya. Sungguh picik akal mereka yang menggambarkan Allah lebih kecil dari nyamuk atau kadang lebih besar dari Arsy bentuknya.

Dalam kitab Syarh al Qashidah an-Nuniyah karya Ibn Qayyim al Jauziyah yang ditulis oleh Muhammad Khalil Haras al Mujassim yang terang-terangan menyebutkan kekufuran pada hal. 256 mengatakan: “Mujahid berkata (ini adalah kebohongan yang dinisbatkan kepada Mujahid) bahwa Allah mendudukkan RasulNya bersamaNya di atas Arsy”.

Dalam kitab Thabaqat al Hanabilah juz 1 cetakan Dar al Kutub al Ilmiyah cetakan pertama 1997 karya Abu Ya’la al Mujassim panutan wahabiyah mengatakan pada hal. 32: “Dan Allah azza wa jalla di atas Arsy dan al kursi adalah tempat kedua telapak kakiNya”.

Dalam kitab Ma’arij al Qabul karya Hafidz Hukmi yang diberi catatan kaki oleh Shalah ’Uwaidhah dan Ahmad al Qadiri cetakan I terbitan Darul Kutub al Ilmiyah juz 1 hal.235 mengatakan: nabi bersabda: “Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia dan di setiap langit Dia memiliki kursi. Apabila Ia turun ke langit dunia, Dia duduk di atas kursiNya kemudian membentangkan dua lengannya. Dan ketika subuh Ia naik dan duduk di atas kursiNya.” Mereka berdusta kepada Allah dan RasulNya dan tidak merasa malu, itulah tabiat Wahabiyah.

Pada hal. 236 ia mengatakan: Nabi bersabda: “Kemudian Allah memandang pada jam dua di surga Adn yang menjadi tempat tinggalNya.”

Pada hal. 250-251 pengarangnya mengatakan: Nabi bersabda: “Dan Allah turun dinaungi awan dari Arsy ke kursi.” Lihatlah bagaimana mereka menisbatkan kekufuran pada Nabi.

Pada hal. 257 Mujassim ini mengatakan: “Apabila datang hari Jum’at Allah turun di atas kursiNya di atas lembah sana”.

Pada hal. 267 ia menisbatkan kebohongan kepada Nabi bahwasanya beliau bersabda: “Kemudian aku datang kepada Tuhanku dan dia berada di atas kursiNya atau di atas tempat tidurNya”.

Pada hal. 127 Musyabbih ini mengatakan, seorang perempuan berkata: “Pada hari dimana seorang raja duduk di atas kursi dan membalas kedhaliman orang yang berbuat dhalim”.

Dalam kitab yang berjudul Bada’ii al Fawaid cetakan Dar al Kutub al Arabi 4/40 karya Ibn Qayyim al Jauziyah murid Ibn Taimiyah mengatakan: “Dan janganlah kalian mengingkari bahwasanya Dia (Allah) duduk dan janganlah kalian mengingkari bahwasanya Ia mendudukkannya (Muhammad)”. Dan dia telah berdusta dalam menisbatkan bait syair ini kepada al Daruquthni.

Dalam kitab yang berjudul Fathul Majid syarh Kitab at Tauhid karya Abdurrahman ibn Hasan ibn Muhammad ibn Abdul Wahhab cetakan Dar Nadwah al Jadidah Beirut hal. 356 cucu Muhammad ibn Abdul Wahhab ini mengatakan perkataan yang sama dengan aqidah Yahudi: Ad Dzahabi mengatakan: Waki’ menyebutkan hadits dari Israil: “Apabila Tuhan duduk di atas kursi.” Kekufuran macam apa ini??!

Dan pembesar da’i mereka yaitu Ibn Baz telah melakukan muraja’ah (koreksi) terhadap kitab ini dan setuju untuk mencetaknya dengan hasyiyah yang ditulis oleh Muhammad al Faqi dan merekomendasikannya serta banyak memujinya.

~~~~

Kesimpulan:

Apa yang telah kami sebutkan –yang hanya sedikit- menjelaskan kepada pembaca kesamaan dan kesesuaian antara aqidah Yahudi dan keyakinan Wahabiyah dalam menisbatkan sifat duduk pada Allah. Allah maha suci dari sifat tersebut.

Amatilah dengan bijak pada apa yang digunakan oleh Wahabiyah mulai dari pemukanya Ibn Taimiyah sampai dengan para pengikutnya masa sekarang ini dalam penggunaan ungkapan-ungkapan kufur yang sama persis dengan ungkapan yang terdapat dalam kitab-kitab Yahudi. Jelas, Wahabiyah adalah kelompok yang serupa dengan Yahudi dalam masalah aqidah. Meskipun mereka berusaha untuk menghilangkan cap tasybih dari para pemimpin mereka, akan tetapi hati mereka telah dirasuki oleh paham tajsim sebagaimana orang Yahudi yang telah dirasuki kecintaan kepada anak sapi sehingga membekas dalam hati mereka.

Mereka yang tertipu dan fanatik terhadap Ibn Taimiyah serta membelanya karena kebodohan atau fanatik buta mereka bahkan mereka menyebarkan kitab-kitabnya dan kebatilan-kebatilannya. Jika disebutkan pada mereka perkara ini dari Ibn Taimiyah yakni penisbatan duduk kepada Allah maka mereka membelanya, dan terkadang mereka sengaja menafikan hal itu dari Ibn Taimiyah. Kami tidak cukup hanya mengutip perkataan para ulama yang terpercaya dalam beberapa karya mereka seperti yang disebutkan oleh Abu Hayyan al Andalusi dalam kitab tafsirnya an Nahru al Mad dan al Hafidz as Subki dan al Faqih Taqiyyuddin al Husni as Syafi’i dan Qadhi Badruddin ibn Jama’ah, al Hafidz al Ala’i, Shalahuddin as Shafadi, dan banyak lagi selain mereka. Akan tetapi kita juga dapatkan dari buku-buku Ibn Taimiyah yang dia tulis sendiri menjadi bukti kuat aqidah sesat tersebut. Apalagi kitabnya itu dicetak dan disebar luaskan oleh para pengikut dan pecintanya, maka hal itu menjadi bukti atas kekufuran mereka dan rusaknya aqidah mereka yang serupa dengan aqidah Yahudi. Dalam pasal berikutnya akan dipaparkan penjelasan yang lebih luas mengenai hal tersebut.
_____________

[1] Dia bernama Ustman ibn Said al Darimi seorang musyabbih yang wafat tahun 282H. Dia bukan al Imam al Hafidz al Sunni Abu Muhammad Abdullah ibn Bahram al Darimi –semoga Allah merahmatinya- pengarang kita al Sunan yang wafat tahun 255H.

16.
Pengirim: Achmad alQuthfby  - Kota: Probolinggo
Tanggal: 22/6/2013
 
Pengirim: amir - Kota: cibinong
Tanggal: 18/6/2013 Barokallahi Fiik Ustadz.

Terima kasih atas informasi runutan Imam2 Madzhab yang berujung pada Para Tabi'in.
yang menjadi pertanyaan saya adalah mengapa Aqidah yang dipakai oleh manhaj tertentu tidak langsung mengikuti manhaj Aqidah generasi terdahulu (Sahabat, Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in). Apakah pemahaman Aqidah Abul hasan al-Asy'ari Rohimahullah lebih baik atau lebih benar dibandingkan Imam Syafi'i Rohimahullah atau generasi Tabi'in? Apalagi dalam hal ini kita sepakat bahwa beliau pernah berfaham Mu'tazilah.. kemudian menjadi Al-Asy'iroh. Dan terakhir beliau rahomahullah ruju' pada Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah (maaf kalo beda pandangan fase ketiga Aqidah Abul Hasan Al-Asy'ari ini).

kepada saudaraku yang ingin memberikan komentar, silahkan sampaikan dengan cara yang baik.
Syukron Ustadz atas respons nya

- ini argumentasi org awam yg ketipu dg ajaran wahhabi. Bagaimana kita mau mengambil ajaran rasul tanpa melalui sanad para ulama. Perjalanan imam asyari itu hanya 2 fase bukan 3 fase. Tesis 3 fase tu sngat lmah baik secara histories maupun scara ilmiyyah. Mungkin hal ini adakan dibahas di forum lain

Pengirim: joni - Kota: yogya
Tanggal: 19/6/2013 Maaf ustadz kalau ada hal yang kurang berkenan, saya baca2 ada artikel seperti ini.
Syeikh Muhammad Nashiruddin al Albani berkata :

التلفزيون اليوم لا شك أنه حرام، لأن التلفزيون مثل الراديو والمسجل، هذه كغيرها من النعم التي أحاط الله بها عباده كما قال: {وإن تعدوا نعمة الله لا تحصوها}، فالسمع نعمة والبصر نعمة والشفتان نعمة واللسان، ولكن كثيرا من هذه النعم تصبح نقما على أصحابها لأنهم لم يستعملوها فيما أحب الله أن يستعملوها؛ فالراديو والتلفزيون والمسجل أعتبرها من النعم ولكن متى تكون من النعم؟ حينما توجه الوجهة النافعة للأمة.
التلفزيون اليوم بالمئة تسعة وتسعون فسق، خلاعة، فجور، أغاني محرمة، إلى آخره، بالمئة واحد يعرض أشياء قد يستفيد منه بعض الناس. فالعبرة بالغالب، فحينما توجد دولة مسلمة حقا وتضع مناهج علمية مفيدة للأمة حينئذ لا أقول : التلفزيون جائز، بل أقول واجب.

Jawaban beliau, “Tidaklah diragukan bahwa hukum menonton televisi pada masa kini adalah haram. Televisi itu seperti radio dan tape recorder. Benda-benda ini dan yang lainnya adalah di antara limpahan nikmat Allah kepada para hamba-Nya.

Sebagaimana firman Allah yang artinya, “Dan jika kalian menghitung nikmat Allah niscaya kalian tidak bisa menghitungnya”

Pendengaran adalah nikmat Allah. Penglihatan juga merupakan nikmat. Dua bibir dan lidah juga nikmat. Akan tetapi, banyak dari berbagai nikmat yang menjadi sumber bencana bagi orang yang mendapatkan nikmat tersebut karena mereka tidak mempergunakan nikmat dalam perkara yang Allah inginkan.

Radio, televisi dan tape recorder adalah nikmat ketika dipergunakan untuk perkara yang mendatangkan nikmat bagi umat. Isi televisi pada masa kini 99 persen adalah kefasikan, pornografi atau porno aksi, kemaksiatan, nyanyian yang haram dan seterusnya.

Sedangkan hanya 1% saja dari tontonannya yang bisa diambil manfaatnya oleh sebagian orang. Sedangkan kaedah mengatakan bahwa nilai sesuatu itu berdasarkan unsur dominan dalam sesuatu tersebut.

Ketika ada negara Islam yang sesunggunnya lalu negara membuat program acara TV yang ilmiah dan bermanfaat bagi umat maka –pada saat itu- kami tidak hanya mengatakan bahwa hukum menonton TV adalah boleh bahkan akan kami katakan bahwa menonton TV hukumnya wajib" (Silahkan lihat : http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=37470)

- al Albani itu memang slalu ngawur. Bukan hanya TV, tp Imam Bukhari pun tak luput dari fatwa kafirnya, karena tidak sesuai dengan pmehamannya.

Pengirim: Abu Raihan - Kota: Palangkaraya
Tanggal: 20/6/2013 Assalamu alaikum Kyai,
(Mohon maaf sebelumnya,
saya jarang membuka situs ini, dikarenakan kesibukan mencari nafkah,sehingga tidak mengikuti semua diskusi/ informasi disini).
Kiranya perlu saya sampaikan kpd Kyai, bahwa saya bukanlah pengikut Wahabi, mengapa saya utarakan hal ini, agar tdk salah persepsi saja, bahwa mungkin saja pendapat saya berbeda dengan pendapat Kyai atau kebanyakan pengunjung situs ini, dan apabila ada perbedaan bukanlah berarti itu faham Wahabi. Saya rasa itu cukup obyektif.
Sebagai penuntut ilmu, saya suka dengan TV Rodja, karena apa yang diutarakan semuanya berdasarkan dalil, namun demikian bukan berarti saya menolak pihak/ media lain. Saya siap menerima apa saja yang datangnya dari Alloh dan rasul Nya (tentu hal ini kelihatannya diplomatis, karena disana sini menjajakan kebenaran, yang muaranya dari Alloh dan RosulNya). Demikian juga apabila ada keyakinan yang diyakini oleh Syaikh Bin Baz, Syaikh Al Bani, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, atau Ibnu Taimiyah misalnya yang mana keyakinan itu sesuai dalil yang shohih ya pastinya saya akan terima. Namun demikian saya juga meyakini bahwa Kyai adalah manusia biasa, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah munusia biasa, jadi bisa salah dan bisa benar. Nah apa-apa yang benar(tentunya berdasarkan dalil) maka kita terima dan apa yang tidak cocok dengan dalil kita tolak. Sebagian saudara-saudara kita salah persepsi dengan penjelasan pengisi materi di Rodja TV, katanya ustadz Rodja TV suka meng KAFIR kan, mem BID'AH kan, Men SESAT kan pihak/ orang lain, yang saya ketahui tidaklah demikian, tetapi menjelaskan barang siapa berbuat begini begitu maka jatuh kepada kekafiran, maka itu adalah bid'ah, maka itu sesat, dengan berdasarkan dalil (Al qu'ran dan al hadist). Kiranya demikian Kyai pendapat saya thdp Rodja TV.

- pernyataan anda: “katanya ustadz Rodja TV suka meng KAFIR kan, mem BID'AH kan, Men SESAT kan pihak/ orang lain, yang saya ketahui tidaklah demikian, tetapi menjelaskan barang siapa berbuat begini begitu maka jatuh kepada kekafiran, maka itu adalah bid'ah, maka itu sesat, dengan berdasarkan dalil (Al qu'ran dan al hadist)” iya itu sama saja. Klarifikasi dulu dalil2 amaliah yg disesatkan tsb secara mendalam, Betapa banyak tokoh wahhabi Indonesia yg sdh berdialog terbuka dg Guru Kami Ust. Muhammad Idrus Ramli, yg mengakui keshahihan amaliah kaum Nahdliyyin.

Saya ajak kepada Ust. Firanda agar berani untuk mengadakan dialog terbuka dengan Ust. Muhammad Idrus Ramli

Pengirim: amir - Kota: cibinong
Tanggal: 21/6/2013 Barokallahi Fiik Ustadz,

ustadz, Sebagai orang terlahir dari lingkungan Islam tradisional, saya merasakan betapa Kehadiran TV dan Radio Rodja menmabah semangat belajar tentang Islam. Dibandigkan selama ini saya menyaksikan kajian yang dipertontonkan di TV nasional pada umumnya. Sangat berbeda jauh kalau ditinjau dari sisi keilmuan.
Penisbatan Kafir, Bid'ah, dan syirik disampaikan atas dasar hujjah yang kuat dan tidak serampangan (asal-asalan). Adapun media lain banyak menampilkan dakwah ger-ger-an, cengengesan dan sering menyampaikan agama tanpa ilmu (hawa nafsu/pendapat pribadi).
Coba saya tanya kan ke antum ustadz, tunjukkan kepada saya TV ataau radio kajian yang bisa memenuhi dahaga akan ilmu agama saya?

Syukron. Mohon kepada saudaraku yang akan berkomentar, sampaikan dengan cara yang baik dgn nuansa keilmuan.

- Banyak sekali, TV9, dan radio2 yg diasuh oleh para murid Hb. Umar bin Hafidz. Dll..

Penisbatan Kafir, Bid'ah, dan syirik kepada pengamalian tradisi yg umunnya direalisasikan oleh kaum nahdliyyin adalah sebuah kebohongan. Jika memang ada dasar / hujjah yg kuat silahkan keluarkan disini..


 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Utsaimin, Bin Baz dan Muqbil adalah duplikatnya Al-albani, sedangkan Al-albani adalah duplikatnya Muhammad bin Abdul Wahhab Annajdi. Nah, Muhammad bin Abdul Wahhab Annajdi ini adalah penerus Ibnu Taimiyah.

17.
Pengirim: Abu Raihan  - Kota: Palangka Raya
Tanggal: 22/6/2013
 
Assalamu alaikum
membaca artikel yg Kyai paparkan ttg kesamaan yahudi dan wahabi, apbl itu benar pendapatnya ibnu Taimiyah spt apbl Alloh duduk di kursi terdengar suara kresek kresek mk ketahuilah Kyai, sy tdk memiliki keyakinan spt itu, sungguh manusia yg memiliki keyakinan spt itu adalah keyakinan kufur krn menyamakan Alloh dg makhluk. Mk saksikan Kyai keyakinan sy tdk spt itu. Ttp apbl Alloh ber istiwa alal arsy, ya sy yakin demikian krn itulahyg Alloh terangkan dlm firmanNya. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Seperti itulah Ustadz-ustadz Wahhabi meyakininya, sebut saja Yazid Jawas, Firanda dan sebagainya, mereka adalah aktifis TV/RADIO RODJA. Jika akhi tidak seperti mereka, maka kami ajak akhi untuk memerangi kesesatan TV/RADIO RODJA. Karena itu memang BID'AHNYA KAUM WAHHABI. Mudah2an akhi menyambut ajakan kami dengan senang hati. Karena mereka yang keberatan terhadap atas ajakan kami ini, maka kami golongkan sebagai antek-antek sekte Wahhabi. Apalagi jika mengajak persatuan dg kaum Wahhabi.

18.
Pengirim: Aisyah  - Kota:
Tanggal: 29/6/2013
 
Maaf Pak Kyai, sepengetahuan saya yg di maksud bid'ah adalah membuat sesuatu yg baru dalam syari'at, bukan sesuatu yg baru dalam sarana. he he he
Sampeyan itu kyai kok gk tau apa yg dimaksud bid'ah dalam syari'at Islam. Apa sampeyan itu sebenarnya pemain dagelan srimulat ? 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Loh, lah mana dalilnya baik dari Alquran maupun hadits shahihnya, kok berani-beraninya sampean memutuskan seperti itu. Karena menurut Wahhabi, suatu definisi agama itu harus berasal dari tekstual Alquran maupun hadits shahih, bukan dari pemahaman seseorang. Apa sampean sudah berani mengaku jadi Nabi? Kok berani-beraninya membuat definisi agama segala.

NB: MOHON MAAF BEBERAPA KOMENTAR SENGAJA TIDAK KAMI MUAT, KARENA TIDAK ILMIYAH, SEDANGKAN SITUS INI KAMI KHUSUS UNTUK PEMBAHASAN ILMIYAH ISLAMIYAH. SEKERAS APAPUN YANG DISAMPAIKAN LEWAT SITUS INI, JIKA DIBAHAS SECARA ILMIAH, INSYALLAH AKAN KAMI MUAT DAN KAMI RESPON DENGAN ILMIYAH PULA.

SEBAIKNYA BAGI YANG INGIN KOMENTAR TIDAK ILMIYAH, MOHON DIPOSTING SAJA DI FB-NYA MASING-MASING.

19.
Pengirim: amir  - Kota: cibinong
Tanggal: 1/7/2013
 
“Bid‘ah adalah suatu cara yang diada-adakan dalam agama, yang bentuknya menyerupai syari‘at, dan yang dimaksud dari penerapannya adalah sama dengan yang dimaksud dari penerapan syari‘at.” [Lihat al-I’tishaam (I/37)]

Kalo radio, TV, motor bukan bagian dari syariat ustadz.

Karena tahlilan kematian menyerupai syariat berarti itu bid'ah. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Itu definisi bukan dari Nash Dalil secara Tekstual baik dari ayat Alquran maupun Hadits Shahih.

Kami sedang mengikuti dan mengamalkan kebandelan (cengkalnya) ilmu dan pahamnya kaum Wahhabi, jadi kami tidak menerima definisi dari Al-i'tisham itu.

Tapi menuntut anda untuk menghadirkan tekstual ayat Alquran maupun Haditsnya, dan itupun kalau anda akan menghadirkan dalil dari Hadits, maka kami syaratkan harus Hadits Shahih, dalam menentukan definisi bid'ah, kok hanya anda batasi dalam syariat saja.

Sekali lagi, untuk kali ini kami tidak mau menerima kontekstual dari dalil Alquran maupun Hadits, tapi kami hanya akan menerima definisi yang ada tekstual dalilnya, agar tidak membuat-buat sendiri apa yang tidak dikatakan oleh Allah maupun Nabi SAW.

Ini kan gaya-mu...!

20.
Pengirim: Henry  - Kota: Bogor
Tanggal: 1/7/2013
 
Assalamulaikum

[Pejuang Islam Menanggapi] BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM Seperti itulah Ustadz-ustadz Wahhabi meyakininya, sebut saja Yazid Jawas, Firanda dan sebagainya, mereka adalah aktifis TV/RADIO RODJA. Jika akhi tidak seperti mereka, maka kami ajak akhi untuk memerangi kesesatan TV/RADIO RODJA. Karena itu memang BID'AHNYA KAUM WAHHABI. Mudah2an akhi menyambut ajakan kami dengan senang hati. Karena mereka yang keberatan terhadap atas ajakan kami ini, maka kami golongkan sebagai antek-antek sekte Wahhabi. Apalagi jika mengajak persatuan dg kaum Wahhabi.

Allahuakbar...!!

Anda berani bilang Radio/TV Rodja sesat...!!! sungguh anda telah membuat Fitnah yang luar biasa...!!!

Bersediakah antum untk bermubahalah dengan Ust Firanda/Yazid untuk meluruskan syubhat yg menjadi Fitnah ini ?

Mengenai Bid'ah tidak kah cukup dalil berikut ini menjelaskanya :

1. "Barangsiapa mengada-adakan perkara baru dalam urusan agama kami ini yang bukan termasuk darinya,maka ia tertolak"! HR. Al-Bukhari (2697) dan Muslim (1718)

2. ....." Amma Ba'du. Sesungguhnya,sebaik-baik perkataan adalah kitabullah,dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad,dan sejelak-jelak perkara adalah perkara baru yang diada-adakan (dalam agama) dan seluruh bid'ah adalah sesat" HR. Muslim (867)

Atau sebaliknya coba jelaskan maksud kedua Hadits diatas....

 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Maksud hadits yang akhi tanyakan menurut Aswaja, Bid'ah itu dibagi dua:

1. Bid'ah Dhalalah, conohnya kaum liberal mengadakan Doa Bersama Lintas Agama.

2. Bid'ah Hasanah, contohnya warga Aswaja mengadakan Tahlilan untuk mayit, Perayaan Maulid Nabi, Dzikir berjamaan di alun-alun, dst.

Pemahaman ini diambil dari kontekstual dari Hadits yang akhi sebut, karena Sy, Umar juga mengistilahkan pengumpulan shalat Tarawih berjamaah yang beliau koordinir sebulan suntuk saat bulan Ramadhan di Masjid Nabawi dengan atsarnya: Ni'matil BID'ATU hadzihi
(Ni'matnya Bid'ah itu ya seperti ini). Arti ni'mat adalah baik, dan bahasa Arabnya baik adalah hasan, maka Aswaja mengatakannya sebagai Bid'ah Hasanah.

Lah, kalau kaum Wahhabi mengingkari adanya Bid'ah Hasanah sesuai Definisi yang diciptakan oleh para ulama dengan dasar kontekstual Hadits, bukan tekstualnya, sehingga Tahlilan, Perayaan Maulid Nabi, Dzikir berjamaah itru menjadi Bid'ah HJasanah yang sangat boleh, bahkan penanyangan Dakwah lewat TV juga menjadi Bid'ah Hasanah.

Terus bagaimana akhi menerangkan hadits yang akhi tanyakan itu sendiri, dalam kaitannya dengan Dakwah lewat tayangan TV, Perayaan Maulid Nabi SAW dan Baca Yasin untuk mayit (Tahlilan) yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi SAW?

21.
Pengirim: Kyai  - Kota: probolinggo
Tanggal: 1/7/2013
 
Pengirim: amir - Kota: cibinong
Tanggal: 1/7/2013 “Bid‘ah adalah suatu cara yang diada-adakan dalam agama, yang bentuknya menyerupai syari‘at, dan yang dimaksud dari penerapannya adalah sama dengan yang dimaksud dari penerapan syari‘at.” [Lihat al-I’tishaam (I/37)]

Kalo radio, TV, motor bukan bagian dari syariat ustadz.

Karena tahlilan kematian menyerupai syariat berarti itu bid'ah.

- Itu definisi syatibi. Kalo sebuah inovasi tsb tidak pernah diajarkan oleh rasul apakah itu juga termasuk bid’ah???

 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Benar, karena ternyata orang Wahhabinya sendiri mengatakan, bahwa TV Rodja itu ternyata bukan termasuk urusan agama apalagi untuk niat ibadah, sehingga orang Wahhabi tidak mau mengakui jika TV Rodja Bid'ahnya Kaum Wahhabi, maka umat Islam tidak perlu menonton TV Rodja, karena sangat sayang sekali jika umurnya umat Islam hanya dipergunakan untuk nonton TV Duniawi (TV Rodja), yang tidak bernilai ibadah sama sekali.

22.
Pengirim: Johansyah  - Kota: Jakarta
Tanggal: 1/7/2013
 
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ . Saya baru baca website ini. Klaim penulis di websitet sangat disayangkan dan pemikirannya sangat naif. Menganggap bid'ah naik mobil, naik pesawat ketika haji dll ssangat tidak masuk akal. Sesuatu yang belum ada di jaman Rasulullah dan sahabat manalah bisa dilakukan oleh beliau dan sahabat. Sedangkan amalan2 bid'ah yg dilakukan sebagian golongan sekarang pastilah bisa dan sudah dilakukan oleh Rasulullah dan sahabat kalau seandainya itu baik. Semoga Allah memberikan hidayah dan membuka pintu hati dan menjernihkan pemikiran saudara kita ini. aamiin, wallahu a'lam 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Terus berhaji naik mobil, naik pesawat, nonton TV Rodja, apa ada adlil yang memperbolehkannya? Dan apakah Tahlilan, Maulid Nabi SAW dan Istighatsah, akhi bisa mencarikan dalil pelarangannya dari Syariat?

Kalau sama-sama gak ada tekstual dalil dari Alquran maupun Hadits Shahih, lah mengapa akhi dan kaum Wahhabi lainnya kok gemar amat membid'ah-bid'ahkan amalan warga NU, Allah yahdiik.

Akhi perlu tahu, bahwa wibsite ini sudah menerangkan semua dalil-dalil yang menjadi amaliyah warga NU, hanya akhi saja yang belum membacanya, coba, sebutkan amalan mana yang akhi keberatan dan akhi anggap bid'ah.

23.
Pengirim: amir  - Kota: cibinong
Tanggal: 2/7/2013
 
ustadz,
berikut komentar antum:
Kalau sama-sama gak ada tekstual dalil dari Alquran maupun Hadits Shahih, lah mengapa akhi dan kaum Wahhabi lainnya kok gemar amat membid'ah-bid'ahkan amalan warga NU, Allah yahdiik."

Yang sy tanyakan ke antum, Apakah tujuan pelaksanaan TAHLILAN utk IBADAH? atau ISENG2? atau WASTING TIME? atau apa?

Sy yakin jawaban antum adalah untuk IBADAH.

Adapun IBADAH, harus disandarkan pd adanya dalil yg memerintahkannya, bukan dicari dalil yg melarang.

Disinilah kebesaran Islam yg memudahkan ummatnya. Logikanya, Kalo dicari dalil yg melarang, tentu agama ini akan sangat ribet karena akan sgt banyak buku Hadist yg isinya larangan. Dan akan sangat banyak kreatifitas manusia untuk melakukan ibadah dan ini terus berkembang sesuai peradaban manusia.

maka dari itu cukupkan lah kaidah Ibadah pada adanya dalil yang memerintahkan.

Berikut Hadist Aisyah r.a. tentang kaidah ibadah:


مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa mengerjakan suatu amalan (ibadah) yang tidak berdasarkan perintah kami maka ia tertolak.[2] 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Wah, anda ternyata tidak paham hadits Nabi SAW: Iqra-uu Yaasiin 'alaa mautaakum/Bacakanlah surat Yasin untuk mayit kalian. (HR. Abu Dawud). Tahlilan yang kami amalkan adalah pembacaan surat Yasin untuk mayit kami. Ringkas toh jawabannya.

Atau anda mau jadi 'nabi tandingan' yang berani melarang orang baca surat Yasin untuk para mayit karena mengikuti perintah Nabi Muhammad SAW tersebut di atas?

Trus, anda kira tokoh-tokoh Wahhabi yang nongol di TV RODJA itu hanya untuk mejeng dan kongkow-kongkow semata, seperti artis sinetron, bukan niat Ibadah? Anda harus minta maaf kepada mereka kalau meyakini seperti itu.

Pasti anda akan mengatakan mereka nongol di TV RODJA itu untuk niat Ibadah Dakwah kaan ? Lah mana dalil syar'inya dari Alquran dan Hadits Shahih secara tekstual yang perintah Ibadah dakwah dengan metode Tayangan TV RODJA ?

Tidak ada kaaan ?

Makanya kami tegaskan: TV RODJA, BID'AHNYA KAUM WAHHABI.

24.
Pengirim: Kyai  - Kota: probolinggo
Tanggal: 7/7/2013
 
WAHABI AMIR: Yang sy tanyakan ke antum, Apakah tujuan pelaksanaan TAHLILAN utk IBADAH? atau ISENG2? atau WASTING TIME? atau apa? Sy yakin jawaban antum adalah untuk IBADAH. Adapun IBADAH, harus disandarkan pd adanya dalil yg memerintahkannya, bukan dicari dalil yg melarang. Disinilah kebesaran Islam yg memudahkan ummatnya. Logikanya, Kalo dicari dalil yg melarang, tentu agama ini akan sangat ribet karena akan sgt banyak buku Hadist yg isinya larangan. Dan akan sangat banyak kreatifitas manusia untuk melakukan ibadah dan ini terus berkembang sesuai peradaban manusia. maka dari itu cukupkan lah kaidah Ibadah pada adanya dalil yang memerintahkan. Berikut Hadist Aisyah r.a. tentang kaidah ibadah:


مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa mengerjakan suatu amalan (ibadah) yang tidak berdasarkan perintah kami maka ia tertolak.[2]

SUNNI: Kaedah yang Anda
sebutkan (Adapun IBADAH, harus disandarkan pd adanya dalil yg memerintahkannya, bukan dicari dalil yg melarang ) tidak dikenal dalam ilmu fiqih. Dan seandainya kaedah yang Anda sebutkan ada dalam ilmu fiqih, maka kaedah tersebut tidak menolak adanya bid’ah hasanah. Karena Anda tadi mengatakan, bahwa dalam soal ibadah tidak boleh membuat-buat sendiri. Tadi sudah kami buktikan, bahwa bid’ah hasanah banyak sekali dalilnya. Berarti, kaedah Anda membenarkan mengamalkan bid’ah hasanah, karena dalilnya jelas.

Meskipun Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Jabir bin Abdullah berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Sebaik-baik ucapan adalah kitab Allah. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk
Muhammad. Sejelek-jelek perkara, adalah perkara yang baru. Dan setiap bid’ah
itu kesesatan.” (HR. Muslim [867]).

Termyata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:
“Jarir bin Abdullah al-Bajali radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang memulai perbuatan baik dalam
Islam, maka ia akan memperoleh pahalanya serta pahala orang-orang yang
melakukannya sesudahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan
barangsiapa yang memulai perbuatan jelek dalam Islam, maka ia akan
memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang melakukannya sesudahnya
tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka.” (HR. Muslim [1017]).
Dalam hadits pertama, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menegaskan,
bahwa setiap bid’ah adalah sesat. Tetapi dalam hadits kedua, Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam menegaskan pula, bahwa barangsiapa yang
memulai perbuatan baik dalam Islam, maka ia akan mendapatkan pahalanya
dan pahala orang-orang yang melakukannya sesudahnya. Dengan demikian,
hadits kedua jelas membatasi jangkauan makna hadits pertama “kullu bid’atin
dhalalah (setiap bid’ah adalah sesat)” sebagaimana dikatakan oleh al-Imam al-
Nawawi dan lain-lain. Karena dalam hadits kedua, Nabi shallallahu alaihi wa
sallam menjelaskan dengan redaksi, “Barangsiapa yang memulai perbuatan
yang baik”, maksudnya baik perbuatan yang dimulai tersebut pernah
dicontohkan dan pernah ada pada masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam, atau
belum pernah dicontohkan dan belum pernah ada pada masa Nabi shallallahu
alaihi wa sallam. Di sisi lain, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam seringkali
melegitimasi beragam bentuk inovasi amaliah para sahabat yang belum pernah
diajarkan oleh beliau.

Dalam sebuah hadist diriwayatkan:
“Rifa’ah bin Rafi’ radhiyallahu anhu berkata: “Suatu ketika kami shalat bersama
Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ketika beliau bangun dari ruku’, beliau berkata:
“sami’allahu liman hamidah”. Lalu seorang laki-laki di belakangnya berkata:
“rabbana walakalhamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fih”. Setelah
selesai shalat, beliau bertanya: “Siapa yang membaca kalimat tadi?” Laki-laki itu
menjawab: “Saya”. Beliau bersabda: “Aku telah melihat lebih 30 malaikat
berebutan menulis pahalanya”. (HR. al-Bukhari [799]).
Kedua sahabat di atas mengerjakan perkara baru yang belum pernah
diterimanya dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, yaitu menambah bacaan dzikir
dalam i’tidal. Ternyata Nabi shallallahu alaihi wa sallam membenarkan perbuatan
mereka, bahkan memberi kabar gembira tentang pahala yang mereka lakukan,
karena perbuatan mereka sesuai dengan syara’, di mana dalam i’tidal itu tempat
memuji kepada Allah. Oleh karena itu al-Imam al-Hafizh Ibn Hajar al-’Asqalani
menyatakan dalam Fath al-Bari (2/267), bahwa hadits ini menjadi dalil bolehnya
membuat dzikir baru dalam shalat, selama dzikir tersebut tidak menyalahi dzikir
yang ma’tsur (datang dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam), dan bolehnya
mengeraskan suara dalam bacaan dzikir selama tidak mengganggu orang lain.
Seandainya hadits “kullu bid’atin dhalalah (setiap bid’ah adalah sesat)”, bersifat
umum tanpa pembatasan, tentu saja Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam akan
melarang setiap bentuk inovasi dalam agama ketika beliau masih hidup.
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kami posting untuk Mas Amir. Mudah2an bermanfaat untuk pengunjung. Hitung-hitung nambah ilmu.

25.
Pengirim: ahmad.s  - Kota: jambi
Tanggal: 11/7/2013
 
ijin pak kyai,saya pernah didalam tulisan sebuah artikel tentang Mimbar jum,at mungkin karya tulisan kaum wahabi disitu ada sebuah hadist yang di Shahihkan oleh perawi mungkin baru kali namanya shaikh Albani pertanyaannya siapa sih albani itu ?kenapa dia berani mensyahihkan suatu hadis ........... 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Dia tokoh Wahhabi yang terhitung 'baru' muncul, figurnya sangat kontradiksi, banyak kesalahan yang dia lakukan, bahkan dia berani menyalahkan hingga mengkafirkan Imam Bukhari. Pendapatnya tidak diterima oleh dunia Islam, kecuali oleh kelompok Wahhabi saja.

26.
Pengirim: ALI AWAN  - Kota: masohi
Tanggal: 22/8/2013
 
maaf mbah yai ini ada perkataan orang bijak yang bisa jadikan dalil buat mbah yai
fa'lam anaka saafihun wasaalithul lisan wafaakhishotulqouli uskut ya sobiy
maknanya mbaaaah "ketahuilah bahwasannya engkau yang menjadi judul adalah seorang yang dangkal ilmunnya tajam ucapannya kotor lisannya maka diamlah orang yang berbicara sesungguhnya yang banyak bicara adalah seorang yang dungu...
maaf klw tidak berkenan mudah-mudahan tidak kembali kepada yang menulis
Hasbunallah wani'mal wakiil.... 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
PERNYATAAN TOKOH WAHHABI TENTANG RADIO/TV RODJA

Untukmu Yang Masih Bertanya Tentang Radio Rodja Sebenarnya penjelasan tentang pertanyaan radio rodja sudah dijelaskan oleh ustadz-ustadz kita di antaranya oleh Ustadz Muhammad Umar As-Sewwed, Ustadz Luqman Ba’abduh, Ustadz Usamah Mahri, Ustadz Afifudin dan yang lainnya yang dengan mudah kita bisa mendengarkan via internet Alhamdulillah.

Dan jawaban mereka cukup insya Allah bagi yang ingin mengetahui tentang radio rodja. Namun berhubung pertanyaan ini masih terdengar ditanyakan oleh sebagian ikhwah kepada Asatidzah oleh karena itulah pada kesempatan ini saya yang ingin mengatakan bagi orang yang bertanya tentang radio rodja bahwa cukup bagi kita untuk mendengarkan kajian, muhadhoroh ustadz-ustadz kita.

Apa yang ada dari ilmu, faedah, pembahasan yang dibahas oleh pengisi radio rodja ada pada ustadz-ustdaz kita dan apa yang ada pada ustadz-ustadz kita tidak ada pada para pengisi rodja (dan itu semua karunia Allah yang Allah berikan kepada siapa yang Allah kehendaki).

Apa yang ada pada ustadz-ustadz kita dan tidak ada pada para pengisi Rodja di antaranya adalah apa yang saya akan sebutkan di bawah ini : 1. Ustadz-ustadz kita Alhamdulillah sangat menjaga pergaulan mereka, mereka tidak bergaul dengan ahlu bid’ah, hizbiyyin, orang- orang menyimpang, yayasan hizbi atau satu organisasi dan satu wadah dengannya.

Dan seperti inilah manhaj yang haq manhaj ahlus sunnah. Mari kita simak perkataan a’imah salaf (para Imam Salaf) yang dai-dai rodja mengaku mengikuti mereka..!

Tetapi praktek dan amalannya menyelisihi bahkan bertolak belakang dengan pengakuannya. Berkata Abu Qilabah Rahimahullah :

ﻻ ﺍﻮﺴﻟﺎﺠﺗ ﻞﻫﺃ ﺀﺍﻮﻫﻷﺍ ، ﻻﻭ ﻢﻫﻮﻟﺩﺎﺠﺗ ، ﻲﻧﺈﻓ ﻻ ﻦﻣﺁ ﻥﺃ ﻢﻛﻮﺴﻤﻐﻳ
ﻢﻬﻴﻠﻋ ﺲﺒﻟ ﺎﻣ ﺾﻌﺑ ﻦﻳﺪﻟﺍ ﻲﻓ ﻢﻜﻴﻠﻋ ﺍﻮﺴﺒﻠﻳ ﻭﺃ ، ﺔﻟﻼﻀﻟﺍ ﻲﻓ

Janganlah kalian duduk bersama ahlu ahwa’ (ahlu bid’ah –ed) dan janganlah mendebat mereka dikarenakan sesungguhnya aku tidak merasa aman mereka menjerumuskan (menenggelamkan) kesesatan kepada kalian atau menyamarkan (merancukan – ed) kepada kalian perkara agama, sebagian perkara agama yang mereka samarkan.” (Asyari’ah Al-Ajuri : 56 – Al Ibnah Ibnu Bathah : 2/437)

ﻝﺎﻗ ﻞﻴﻋﺎﻤﺳﺇ ﻦﺑ ﺔﺟﺭﺎﺧ ﺙﺪﺤﻳ ﻝﺎﻗ : ﻞﺧﺩ ﻥﻼﺟﺭ ﻰﻠﻋ ﺪﻤﺤﻣ ﻦﺑ ﻦﻳﺮﻴﺳ ﻦﻣ ﻞﻫﺃ ﺀﺍﻮﻫﻷﺍ ، ﻻﺎﻘﻓ : ﺎﻳ ﺎﺑﺃ ﺮﻜﺑ ﻚﺛﺪﺤﻧ ﺚﻳﺪﺤﺑ ؟ ﻝﺎﻗ : ﻻ ﻻﺎﻗ : ﺃﺮﻘﻨﻓ ﻚﻴﻠﻋ ﺔﻳﺁ ﻦﻣ ﺏﺎﺘﻛ ﻪﻠﻟﺍ ﺰﻋ ﻞﺟﻭ ؟ ﻝﺎﻗ : ﻻ ، ﻦﻣﻮﻘﺘﻟ ﻲﻨﻋ ﻭﺃ
ﻦﻣﻮﻗﻷ

Ismail bin Khorijah menceritakan, beliau berkata : “Dua orang dari ahlu ahwa’ (ahlu bid’ah) masuk menemui Muhammad bin Siriin mereka berdua berkata : ‘Wahai Abu Bakar, kami akan menyampaikan satu hadits kepadamu?’ Berkata (Ibnu Siriin) : ‘Tidak.’ Berkata lagi dua orang tersebut : ‘Kami akan membacakan satu ayat kepadamu dari Kitabullah (al-Qur’an) Azza Wajjala?’ Berkata (Ibnu Siriin) : ‘Tidak. Kalian pergi dariku atau aku yang pergi.’” (Asyari’ah Al-Ajuri : 57 – Al Ibanah Ibnu Bathah : 2/446)

Berkata Imam Al Barbahari Rahimahullah:

ﺭﺬﺣﺎﻓ ﻢﺛ ﺭﺬﺣﺍ ﻞﻫﺃ ﻚﻧﺎﻣﺯ ﺔﺻﺎﺧ ﺮﻈﻧﺍﻭ ﻦﻣ ﺲﻟﺎﺠﺗ ﻦﻤﻣﻭ ﻊﻤﺴﺗ ﻦﻣﻭ
ﻢﻬﻨﻣ ﻪﻠﻟﺍ ﻢﺼﻋ ﻦﻣ ﻻﺇ ﺓﺩﺭ ﻲﻓ ﻢﻬﻧﺄﻛ ﻖﻠﺨﻟﺍ ﻥﺈﻓ ﺐﺤﺼﺗ

Berhati-hatilah dan berhati-hatilah kepada orang-orang yang hidup sezaman denganmu secara khusus, dan lihatlah siapa teman dudukmu, dan dari siapa engkau mendengar dan dengan siapa engkau berteman, dikarenakan manusia hampir saja menjadi murtad dari agamanya karena sebab teman bergaulnya kecuali orang yang Allah jaga. (Syarh Sunnah Lilbarbahari).

Adapun dai-dai rodja maka mereka bergaul, berteman, bermuamalah dengan yayasan hizbi, ahlu bid’ah, dan orang-orang yang menyimpang. Seperti Abu Qatadah, Zaenal Abidin LC, Khalid Syamhudi LC dan yang lainnya yang menjadi da’i dan pengisi Yayasan Hizbi Al-Sofwa Lenteng Agung Jakarta, lihat juga bagaimana kelakuan Abu Qatadah yang mengisi bareng, duduk berdampingan satu meja dengan Hartono Ahmad Jaiz, Amin Jamaludin di DDII dengan Tema : “Aliran dan Paham Sesat di Indonesia” yang ketika itu ana masih ingat (ketika masih ngaji dengan mereka) Amin Jamaludin berbicara membolehkan demonstrasi pada majelis tersebut.

Begitu juga Abu Qatadah merekrut ustadz yang pernah belajar di Abul Hasan Al-Misri yang para ulama telah memvonisnya sebagai hizbi, mubtadi’ dan ustadz tersebut belum bertaubat darinya dan belum lama ini pun (belum ada satu tahun) Abu Qatadah menerima orang yang baru pulang setelah belajar 7 tahun di Markaznya Abul Hasan Al Misri di Yaman diterima dan disambut untuk mengajar di pondoknya sampai sekarang.

Di samping itu Abu Qatadah menyalurkan dana ihyaut turats kepada pondok yang bermanhaj khawarij, Pondok Al-Muaddib Cilacap yang di pimpin oleh mertuanya seorang teroris bernama Nurdin M. Top yang bernama Baridin.

Begitu juga Yazid Jawwas dan kawan-kawannya berkerja sama dengan salah seorang pembesar ikhwani DR. Hidayat Nurwahid, sama seorang hizbi Farid Okbah, sama sesepuh sururi dan orang yang ditokohkan oleh HASMI (Harakah Sunniyyah Untuk Masyarakat Islam) Taufiq Shalih Al Katsiri dalam muraja’ah tafsir ibnu katsir jilid 1 Pustaka Imam Syafi’i.

Tak ketinggalan Abdul Hakim bin Amir Abdat di antara penyimpanggnya dia mengisi satu majelis dengan pembesar atau seseorang yang di Syaikhkan dari ihyaut turats Kuwait di Malaysia.

Dan contoh-contoh lainnya yang sangat banyak yang hal ini merupakan manhaj da’i-da’i rodja sepanjang yang saya ketahui. Dan apa yang mereka lakukan bukanlah sekedar kesalahan “manusiawi“ (seperti lupa, atau tidak tahu itu seorang hizbi, atau seorang yang menyimpang,
ahlu bid’ah atau diundang ngisi tanpa tahu ada pembicara selain dirinya ternyata ada pembicara lain dari kalangan orang-orang yang menyimpang atau ahlu bid’ah atau kesalahan yang mereka telah ruju’ darinya dan lain-lain) tidak, tetapi yang saya sebutkan ini adalah manhaj mereka.

Mereka tahu penyimpangan Ihyaut Turats, Al-Sofwa, DDII, Al-Irsyad, L-Data, Taruna Al-Qur’an, Abdurrahman Abdul Khaliq, Abul Hasan Al-Misri, Thariq Suwaidan, Hidayat Nurwahid, Amin Jamaluddin, Taufiq Shalih Al-Katsiri, Yusuf Utsman Ba’isa dan yang lainnya tetapi mereka tetap bermuamalah dengan mereka bahkan membela sebagian mereka.Wallahu musta’an.

2. Alhamdulillah ustadz-ustadz kita, sikap mereka tegas dengan ahlu bid’ah apalagi sama tokoh dan para pembesarnya, hal ini bisa kita lihat dan dengarkan dalam ceramah-ceramah mereka dalam muhadhoroh-muhadhoroh mereka yang tak jarang memberi peringatan kepada ummat dari bahaya ahlu bid’ah.

Hal ini yang tidak ada pada mereka (ustadz-ustadz rodja), secara umum pengisi radio rodja -sebatas yang ana tahu- plintat plintut dalam menyikapi sebagian ahlu bid’ah, tidak membantahnya atau diam atas penyimpangan mereka, seperti tidak membantah atau diam atas penyimpangan Abdurrahman Abdul Khaliq, Abul Hasan Al Misri dan yang lainya sebagaimana diamnya Firanda MA, Abdullah Taslim MA dan selainnya atas kesesatan dan penyimpangan Abdurrahman Abdul Khaliq dan Yayasan Ihyaut Turats yang mereka berdua mengaku mengetahui dan mempunyai bukti-bukti kesesatan Abdurrahman Abdul Khaliq dan penyimpangan yang ada di tubuh Ihyaut Turats.

Bahkan salah seorang dari pembicara rutin radio rodja yaitu Ali Subana malah memuji seorang ahlu bid’ah dan bahkan pembesar ahlu bid’ah pada zaman ini yaitu DR. Yusuf Al-Qardhawi.

Sebagaimana hal ini diceritakan oleh salah seorang ikhwan (Abu Aisyah) yang dulu pernah tinggal bersama keluarganya di Qatar dan dia ikut majelisnya Ali Subana di sana.

Suatu ketika Ali Subana pernah ditanya tentang Yusuf Qardhawi dengan pertanyaan, ‘Siapakah Yusuf Qardhawi?’ Kata seorang penanya yang ikut di majelisnya di Qatar, lalu Ali Subana menjawab, “Yusuf Qardhawi termasuk ulama pada abad ini.” Lalu ikhwan kita ini berkata ketika menceritakannya kepada saya : “Ana mendengar sendiri dengan telinga ana bahwa Ali Subana menjawab seperti itu.”

Atau cerita salah seorang ikhwan dari Jakarta yang baru saja mengenal ta’lim satu sampai dua tahun yang pernah bertanya kepada ana tentang radio rodja, lalu ana jelaskan tentang pemateri di radio Rodja sampai tentang Ali Subana yang memuji Yusuf Qardhawi lalu ia pun berkata: “Ia.., ana pernah dengar di radio rodja Ali Subana menukilkan perkataan Yusuf Qardhawi ana pun kaget setahu ana Yusuf Qardhawi sesat.”

Insya Allah kita semua tahu siapa DR. Yusuf Qardhawi, seorang tokoh dan pembesar ikhwanul muslimin, seorang tokoh sesat yang sangat terkenal yang sangat jelas kesesatannya, kalau yang seperti ini saja masih direkomendasi sama salah seorang dari pembicara radio Rodja lalu bagaimana dengan tokoh sesat dan menyimpang lainnya..?!

Di antaranya seperti Ali Hasan bin Abdul Hamid dan Salim bin Ied Al-Hilali jelas lebih mereka rekomendasi dan bela walaupun para ulama telah menjarhnya dan sebagian telah mentabdi’nya.

3. Alhamdulillah ustadz-ustadz kita tidak ada yang mengambil dana dari yayasan hizbi penyebar manhaj khawarij Ihyaut Turats bahkan ustadz-ustadz kita memperingatkan dari bahaya bermuamalah dengan Ihyaut Turats dan bahaya pendirinya yaitu Abdurrahman Abdul Khaliq adapun sebagian mereka mengambil bahkan menjadi gembong dan kaki tangan dari yayasan hizbi Ihyaut Thurats seperti Abu Qatadah dan Abu Nida LC.

Dan lihat juga kelakuan salah satu pembicara radio rodja yang bernama Firanda
MA. yang membela mati-matian yayasan hizbi Ihyaut Turats, padahal dalam banyak kesempatan dia dan Abdullah Taslim MA. mengakui bahwasanya dia mengetahui penyimpangan Ihyaut Turats dan mempunyai data-data penyimpangannya, sekarang kita tanyakan kepada mereka Firanda dan Abdullah Taslim yang keduanya menjadi pembicara radio rodja, “Mana bantahan kalian terhadap Abdurahman Abdul Khaliq atau Ihyaut Turats atau Al Sofwa dalam ceramah, muhadoroh, dan tulisan-tulisan kalian..?! Bukankah kalian mengetahui penyimpangan Ihyaut Turats, Abdurahaman Abdul Khaliq sebagaimana pengakuan kalian sendiri, lalu mana pengamalanmu pada hadits ini wahai Firanda..?!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : ْﻦَﻣ ﻯَﺃَﺭ ﺍًﺮَﻜْﻨُﻣ ْﻢُﻜْﻨِﻣ ِﻩِﺪَﻴِﺑ ُﻩْﺮِّﻴَﻐُﻴْﻠَﻓ ْﻢَﻟ ْﻥِﺈَﻓ ِﻪِﻧﺎَﺴِﻠِﺒَﻓ ْﻊِﻄَﺘْﺴَﻳ ْﻢَﻟ ْﻥِﺈَﻓ
ِﻥﺎَﻤﻳِﻹﺍ ُﻒَﻌْﺿَﺃ َﻚِﻟَﺫَﻭ ِﻪِﺒْﻠَﻘِﺒَﻓ ْﻊِﻄَﺘْﺴَﻳ

Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya, maka apabila tidak bisa ubahlah dengan lisannya, maka apabila tidak bisa maka dengan hatinya yang demikian selemah-lemah iman. (HR. Muslim dari Abu Sa’id Al Khudry).

Justru kalian malah membantah orang yang membantah ihyaut turats dan Abdurhaman Abdul Khaliq. Katanya kalian tahu tentang penyimpangan Abdurahman Abdul Khaliq dan ihyaut turats, lalu kenapa tidak membantah, menjelaskan penyimpangan orang yang melakukan penyimpangan (Abdurrahaman Abdul Khaliq) supaya ummat secara sebab selamat dari bahaya penyimpangan mereka, kok malah membantah orang yang membantah penyimpangan Abdurahman Abdul Khaliq dan Ihyaut Turats. Kemana akal sehatmu wahai Firanda..!

4. Ustadz-ustdaz kita Alhamdulillah menjaga pakaiannya dan adab-adabnya dengan memakai sarung atau jubah di kesehariannya, adapun sebagian mereka (pengisi) radio rodja tidak sedikit yang memakai banthalun, atau bahkan celana yang agak ketat yang memperlihatkan lekuk tubuh mereka (maaf –pantat mereka-) bahkan ketika shalat dan ta’lim.

Saya punya pengalaman buruk ketika masih ikut ta’lim dengan salah satu pengisi radio rodja tentang celana banthalun, yang saya malu untuk menceritakannya di sini. Wallahu musta’an

Inilah sedikit penjelasan dari saya untuk saudaraku yang bertanya tentang radio rodja yaitu untuk mencukupkan dengan mendengar kajian ustadz-ustadz kita karena apa yang ada pada pengisi radio rodja dari ilmu dan faedah ada pada ustadz-ustadz kita dan sebaliknya apa yang ada pada ustadz-ustadz kita (yang telah saya sebutkan di atas) tidak ada pada ustadz-ustadz rodja.

Selain dari itu sama-sama kita ketahui dari perkataan Ibnu Siriin yang Insya Allah menutup “perjumpaan kita”, yang beliau berkata :

ْﻢُﻜَﻨﻳِﺩ َﻥﻭُﺬُﺧْﺄَﺗ ْﻦَّﻤَﻋ ﺍﻭُﺮُﻈْﻧﺎَﻓ ٌﻦﻳِﺩ َﻢْﻠِﻌْﻟﺍ ﺍَﺬَﻫ َّﻥِﺇ

Sesunguhnya ilmu ini adalah agama maka perhatikanlah oleh kalian dari siapa kalian mengambil agama kalian.” Dan perkataan Syaikh ‘Abdullah Mar’i Hafidzahullah : “Jangan sampai mereka yang dulunya salafiyyin (ketika mendengar radio rodja –ed) menjadi Khalafiyyin (orang menyelisihi manhaj salaf –ed)”

(sumber : rekaman pertemuan Tanah Abang Jakarta) . Wallahu muwwafiq.
(Ditulis oleh : Abu Ibrahim Abdullah bin Mudakir)

27.
Pengirim: Abdul  - Kota: Muara Jawa
Tanggal: 24/8/2013
 
Bismillahirrohmanirrohim,
Assalamualaikum Warohtullahi wabarokatuhu...Kita ini beragama karena sejarah yang telah sudah dilalui oleh orang yang Mulia yaitu Raulullah Muhammad SAW dan semua sabda beliau ditulis dan di hafal oleh orang-orang pilihan Allah.beliau-beliu ini jumlahnya sangat banyak dan terkenal dengan kehebatan hafalannya.

Saran saya : Cobalah untuk tidak menyalakan kelompok tertentu jika berdakwah.cukup hanya menyampaikan bahwa Bid'ah itu begini,sesat itu begini.tidak perlu mengatakan kelompok ini sesat,kelompok itu sesat.biarlah publik yang menilai sendiri.kami jenuh membaca dan mendenga ahli ilmu saling menjelekkan,menuduh,berprasangka buruk kepada sesama Muslim.yang jelas siapa saja yang mengingkari Rasulullah Muhammad SAW dan Para Sahabat beliau yang dijamin masuk surga oleh Allah berarti dia sudah sesat dari jalan Allah yang lurus.

Semoga Allah memberi hidayah bagi kita semua. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
\Perlu anda ketahui, kelompok yang rajin dan gemar menuduh Bid'ah Seat kepada umat Islam adalah kaum Wahhabi Saudi Arabiah dan alumnusnya, khususnya terhadap amalan warga Aswaja seperti Tahlilan, Maulid Nabi SAW, dll. Coba anda klik di google satu contoh saja: Hukum tahlilan menurut Salafi/Wahhabi, maka akan tampil puluhan situs/FB yang menuduh Tahlilan sebagai Bid'ah Sesat, padahal menurut Aswaja Tahlilan berdasarkan dalil Alquran dan Hadits hukumnya adalah sunnah untuk diamalkan.

Kami sarankan, jika akhi mau berkomentar, maka pelajari dulu permasalah yang dibahas dengan seksama secara riil yang terjadi di tengah masyarakat.

28.
Pengirim: kandar  - Kota: pamekasan
Tanggal: 29/8/2013
 
Assalamualikum warahmatullohi wabarakatuh , ana mau tanya . apa meletakkan pakaian diatas mata kaki dan memanjangkan jenggot termasuk sunnah ?
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Ya. Sunnah itu jika dikerjakan, maka akan mendapatkan pahala, jika ditinggalkan maka tidak mendapat dosa. Banyak pekerjaan Sunnah Nabi SAW yang belum dikerjakan oleh umat Islam khususnya di jaman sekarang. Misalllllnya, Nabi SAW selalu menggunakan Imamah (sorban yang melilit di kepala), maka kalangan awam umat Islam jarang yang menirunya. Nabi SAW selalu bersiwak dan membawanya ke mana-mana, juga jarang umat Islam yang mengamalkannya, dll. Namun karena hal itu hukumnya sunnah, maka yang belum mengamalkannya tidak berdosa.

29.
Pengirim: Nuruddin azzaky  - Kota: Boyolali
Tanggal: 15/5/2014
 
.kenapa sih bnyak kelompok kelompok yang apabila berbeda pendapat suka merendahkan kelompok lain.. Menurut gw itu dah yang bikin islam itu gak kuat... 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Tergantung perbedaan pendapatnya gimana dulu...., Aswaja sudah ratusan tahun hidup di Indonesia dg aqidah Asy'ari-Maturidinya, serta fiqih Syafi'inya, tiba-tiba ada pendatang baru (Wahhabi) yg belum sepuluh tahunan muncul, tiba-tiba menvonis mayoritas amalan Aswaja itu bid'ah sesat.... padahal dalil-dalil Aswaja sangat kuat, sedangkan pemahaman Wahhabi sangat sempit.

 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2014 Oleh Pejuang Islam