URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
Hari ini: Senin, 20 Oktober 2014 - Pejuang Islam, melestarikan kemurnian Ahlussunnah wal Jamaah
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Sekilas Profil
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV NU GARIS LURUS
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
BERMANFAAT BAGI EMPAT KETURUNAN 
  Penulis: Pejuang Islam  [3/10/2014]
   
KISAH AL-‘UTBI DALAM BERTAWASSUL 
  Penulis: Pejuang Islam  [22/9/2014]
   
MASYARAKAT MADANI DI PERSIMPANGAN - (3) 
  Penulis: Pejuang Islam  [21/9/2014]
   
MASYARAKAT MADANI DI PERSIMPANGAN - (2) 
  Penulis:  [19/9/2014]
   
MASYARAKAT MADANI DI PERSIMPANGAN - (1) 
  Penulis: Pejuang Islam  [18/9/2014]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Senin, 20 Oktober 2014
Pukul:  
Online Sekarang: 31 users
Total Hari Ini: 597 users
Total Pengunjung: 1813592 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
APA SIH TAWASSUL MENURUT ASWAJA ITU ? 
Penulis: Pejuang Islam [ 30/5/2013 ]
 
APA SIH TAWASSUL  MENURUT ASWAJA ITU ?

Luthfi Bashori

Banyak orang yang salah pengertian di dalam memahami arti Tawwsul yang selama ini  dilaksanakan oleh warga Aswaja, lantas mereka yang tidak memahaminya itu sering kali dengan  serta merta menuduh negatif (seperti  tuduhan syirik dan bid’ah) terhadap amaliah Tawassulnya warga Aswaja. Sayangnya tuduhan itu terlontar hanya berdasarkan asumsi (pandangan dari luar) semata, bukan berdasarkan  sesuatu yang riil dilakukan oleh warga Aswaja itu sendiri. Padahal, tuduhan yang tidak berdasarkan fakta ilmiah itu dapat dikategorikan sebagai syahadatuz zuur (tuduhan bohong) yang dosanya sangat besar di sisi Allah.

Coba misalnya, ada seorang lelaki yang berprofesi sebagai dokter kulit dan alat lelamin, tiba-tiba didatangi seorang wanita pelacur yang ingin berobat karena terkena penyakit kulit & kelamin. Apa bisa si dokter lelaki ini langsung dituduh sebagai lelaki hidung belang ahli berzina, hanya  berdasarkan asumsi karena si dokter itu telah memasukkan seorang pelacur wanita di ruang kerjanya?

Tentu dalam kode etik kedokteran tidak sedemikian negatifnya, dan tentunya dalam ruang praktek kedokteran spesialis kulit & alat kelamin itu ada asisten, yang bertugas di samping melayani kepentingan dokter dalam urusan mengobati pasennya, juga berfungsi sebagai kontrol sosial bagi pekerjaan kedokteran itu sendiri, sekalipun kemungkinan besar fungsi asisten sebagai kontrol sosial  ini tidak tercatat dalam kode etik secara resmi.

Intinya, suatu hukum itu itu tidak dapat dijatuhkan kepada seseorang, hanya berdasarkan asumsi semata, maka Islam mengajarkan bahwa penentuan suatu hukum itu dapat dijatuhkan harus berdasarkan fakta dan bukti nyata. Baik bentuk fakta dan buktinya itu sesuai dengan kejadian di lapangan, misalnya si dokter tadi benar-benar berzina dengan pasen sang pelacur dan disaksikan oleh empat orang lelaki dewasa, maupun fakta dan bukti tertera dalam kaidah syariat yang tertulis  bersumber dari Alquran, Hadits, Ijma’ dan Qiyas.

Kembali kepada pembahasan hakikat Tawassul yang diamalkan oleh warga Aswaja, adalah merupakan amalan ibadah sunnah sebagai berikut:

1.  Tawassul adalah salah satu bentuk metode berdoa yang benar-benar memohon  kepada Allah secara murni, bukan kepada siapa-siapa selain Allah.

2. Tawassul adalah doa murni kepada Allah, hanya saja orang yang bertawassul itu menggunakan jasa  ‘pihak lain’ (perantara) untuk menyampaikan doanya kepada Allah.

3.  Orang yang bertawassul itu boleh menggunakan jasa ‘pihak lain’ sebagai perantara, yang biasanya ‘pihak lain’ itu adalah amal ibadahnya sendiri yang baik, atau berdoa dengan perantara Al-asmaul husna (nama-nama Allah), atau perantara doa Nabi SAW untuk umatnya, atau perantara doa orang tua untuk anak-anaknya, atau perantara doa seorang kiai untuk murid-murudnya, atau perantara doa orang shalih untuk jama’ahnya. Namun semua doa itu tetap ditujukan kepada Allah semata, bukan kepada ‘pihak lain’ yang dijadikan perantara.

Seseorang itu boleh saja berdoa secara independen, tanpa harus menggunakan jasa perantara. Namun syariat juga memperbolehkan seseorang itu berdoa dengan menggunakan jasa perantara.

Sebenarnya, hal semacam ini lumrah-lumrah saja terjadi di kalangan masyarakat atau umat Islam. Contohnya, seseorang itu boleh-boleh saja bepergian jauh (misalnya dari Malang menuju Surabaya, sebut saja jaraknya 100 km) secara independen tanpa dengan perantara apapun termasuk tanpa perantara alat transportasi, yaitu sengaja ditempuh dengan jalan kaki, misalnya dilakukan oleh seorang olah ragawan, atau seorang penghobi jalan kaki.

Atau boleh juga pergi dengan menggunakan perantara berupa angkutan, sebut saja naik bis. Atau berangkat dengan naik mobil yang disupir  sendiri, atau disupiri orang lain. Semuanya itu boleh-boleh saja, yang penting tidak melanggar lalu lintas di jalan dalam bentuk apapun, maka akan aman hingga tujuan.

Demikian juga, umat Islam yang akan berdoa kepada Allah, mereka boleh-boleh saja berdoa sendiri langsung memohon kepada Allah, tapi boleh juga meminta tolong orang tuanya untuk mendoakan dirinya kepada Allah demi terwujud harapannya, atau minta tolong orang lain yang dianggap shalih karena secara dhahir adalah ahli ibadah dan dekat dengan Allah, agar menyampaikan harapannya (mendoakan untuk dirinya) kepada Allah.

Nah, baik berdoa dengan perantara orang tua maupun orang lain yang shalih inilah yang namanya Tawassul versi Aswaja. Jadi bukan berdoa memohon kepada orang tuanya sendiri atau kepada orang lain yang shalih, agar orang tua dan orang lain yang shalih itulah yang mengabulkan doanya.

Jika orang tadi menyakini bahwa yang dapat mengabulkan harapan dan doanya itu adalah orang tuanya sendiri  atau orang lain yang dijadikan perantara untuk mendoakannya itu, maka keyakinan semacam demikian ini adalah sebuah kesyirikan yang nyata. Karena baik orang tua maupun orang lain itu, bukanlah Tuhan yang dapat mengabulkan doa-doanya.

Demikian juga, jika ada orang yang ingin berdoa dengan menggunakan metode perantara (Tawassul), namun yang dipergunakan Tawassul (perantara) itu adalah sebuah kejahatan atau orang jahat (ahli maksiat), misalnya lewat dukun dan paranormal, maka perilaku ini jelas-jelas bertentangan dengan syariat, karena Allah dan Rasul-Nya tidak pernah memerintahkan umat Islam untuk berbuat kejahatan dan kemaksiatan. Bahkan orang tadi dapat terjerumus ke dalam kesyirikan.

Jadi bertawassul itu tetap dianjurkan, tentunya harus memenuhi kaidah-kaidah yang telah ditentukan, dan tidak melanggar larangan syariat. Adapun anjuran bertawassul ini datangnya langsung dari Allah sebagaimana berikut ini:

Dalil anjuran tawassul dalam firman Allah yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (bertawassullah) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.(QS. Almaidah, 35).

Sedangkan para shahabat Nabi SAW juga mengamalkan Tawassul sebagai berikut:  

Dari Anas bin malik bahwa Sy. Umar bin Khattab ketika menghadapi kemarau panjang, beliau dan para shahabat meminta hujan kepada Allah melalui Sy. Abbas bin Abdul Muttalib, lalu Sy. Abbas berkata: Wahai Tuhanku, sesungguhkan kami bertawassul (berperantara) kepada-Mu melalui Nabi kami, maka turunkanlah hujan, dan kami bertawassul dengan paman Nabi kami maka turunkanlau hujan kepada kami, lalu turunlah hujan. (HR. Bukhari, juz 1 hal 137)

   
 Isikan Komentar Anda
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
Tulis Kode Di Bawah
 
 
1.
Pengirim: Khudlori  - Kota: Jepara
Tanggal: 31/5/2013
 
Assalamu alaikum wr. wb.

Pak Kiyai, Saya pernah berziarah ke makam Sultan Hadirin, didesa Mantingan Jepara. Disana Saya melihat dan mendengar org yg habis tahlilan, dgn lantang dia mengucapkan "Wahai Sultan Hadirin kekasih Allah, mohonkanlah kami kpd Allah SWT, agar kami sehat walafiat, selamat dunia akhirat, rizqi halal, dst, krn engkaulah yg dekat dgn-Nya".
Tawassul seperti ini apakah boleh Pak Kiyai ?

Sebelumnya, matur nuwun !

Semoga Pak KH. Luthfi bersama keluarga dalam lindungan Allah SWT, dlm penjagaan-Nya dan diberkahi oleh-Nya. Amin

Assalmu alaikum wr. wb. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Boleh menurut ulama Aswaja. Karena para Nabi, para wali, para syuhada itu hakikatnya mereka tetap hidup di alam kubur (bal ahyaa-un 'inda rabbihum yurzaquun/bahkan mereka hidup -yakni di alam kubur- dan diberi rezeki di sisi Tuhannya). Mereka juga dapat mendengarkan pembicaraan orang-orang yang masih hidup di atas bumi, jadi mereka dapat menjadi perantara dalam amalan bertawassul kepada Allah.

2.
Pengirim: Abul Bashar  - Kota: Palangka Raya
Tanggal: 31/5/2013
 
Itulah kelebihan intelektualitas kelompok Aswaja, selalu hadir dg dalil dan penjelasan yg riil dr setiap amaliyahnya.

Tawassul sendiri juga pernah dilakukan oleh Nabi Adam a.s tatkala akan menikah dg Ibu Hawa atas perintah Allah s.w.t. Nabi Adam diminta utk menghaturkan shalawat dan salam kepada Rasulullah s.a.w sebagai mahar atas nikahnya dg Ibu Hawa.

Sahabat yang paling disegani, yaitu Sy. Umar ibn Khattab juga pernah bertawassul kepada seorang tabiin atas perintah Rasulullah s.a.w, yaitu Sy. Uwais al-Qarni.

Jadi, tawassul itu bukan barang baru, dan juga bukan sesuatu yg syirik. Karena para Nabi juga mengamalkannya. Para sahabat yang mulia-pun tidak lepas dr amaliyah tawassul ini. Hingga kini, kelompok aswaja sejatinya berusaha dg teguh utk tidak keluar dr amaliyah yg bersifat 'masyruiyah', yang bersumber dr al-Quran dan al-Hadits.

Maka, jika ada kelompok yang menuduh amalan ini bid'ah dan sesat, sejatinya mereka tidak tahu apa yg mereka tuduhkan. Seharusnya mengenal dulu secara kaaffah baru boleh mengambil sikap.

Semoga artikel tawassul ini bisa membuka jalan pikir mereka yang buntu dan gelap itu. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Amiiin, khususnya untuk doa pada baris terakhir.

3.
Pengirim: Khudlori  - Kota: Jepara
Tanggal: 3/6/2013
 
Assalamu alaikum

Pak Kiyai, apakah sampai jatuh kedalam SYIRIK apabila bertawassul menggunakan kalam berikut :
"Wahai Sultan Hadirin kekasih Allah SWT ! Mohonkanlah kpd-Nya untuk Kami *sehat wal afiat dst, krn engkaulah yg dekat dgn-Nya"
* Kalimat "sehat " ditarkib menjadi maf'ul bih, milik fi'il doa yaitu "mohonkanlah".

Sebelumnya, maturnuwun !

Wassalamu alaikum 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Tidak syirik, karena jelas-jelas meminta kepada Allah. Kalimat MOHONKANLAH kami kepda-NYA, ini sudah cukup sebagai bukti permintaannya itu kepada Allah. Tidak perlu ditakwili macam-macam.

4.
Pengirim: Khudlori  - Kota: Jepara
Tanggal: 3/6/2013
 
Assalamu alaikum

Injih Pak Kiyai, Saya tidak mentakwili yg neko2, Saya hanya ingin tahu bertawassul yg benar dgn minta penjelasan seterang-terangnya kpd panjenengan. Dan sekarang Saya sdh jelas dan mantap.

Matur nuwun sebanyak-banyaknya !

Wassalamu alaikum 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Alhamdulillah kalau demikian. Mohon maaf, karena memang ada kelompok yang sengaja mendramatisir bolehnya Tawaasul menjadi seakan-akan diharamkan, dengan alasan syirik, mereka sering kali mencari-cari kesalahan yang tidak mendasar. Karena itu kami memberi keterangan seperti di atas.

5.
Pengirim: Ahmad  - Kota: Magetan
Tanggal: 10/6/2013
 
Assalamu'alaikum, ustadz..

Mohon penjelasan bagaimana dengan ayat ini?

"Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar". [Fathir : 22]

Terima kasih. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Berikut cuplikan artikel bagus untuk akhi baca sbb:

IBNU KATSIR MENJELASKAN AYAT DIATAS SBB:
وَمَا يَسْتَوِي الأحْيَاءُ وَلا الأمْوَاتُ إِنَّ اللَّهَ يُسْمِعُ مَنْ يَشَاءُ وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ

“Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar.” [QS. Fathir: 22]
يقول تعالى: كما لا تستوي هذه الأشياء المتباينة المختلفة، كالأعمى والبصير لا يستويان، بل بينهما فرق وبون كثير، وكما لا تستوي الظلمات ولا النور ولا الظل ولا الحرور، كذلك لا تستوي الأحياء ولا الأموات، وهذا مثل ضربه الله للمؤمنين وهم الأحياء، وللكافرين وهم الأموات،
{ وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ } أي: كما لا [يسمع و] ينتفع الأموات بعد موتهم وصيرورتهم إلى قبورهم، وهم كفار بالهداية والدعوة إليها، كذلك هؤلاء المشركون الذين كُتِب عليهم الشقاوة لا حيلةَ لك فيهم، ولا تستطيع هدايتهم.

Alloh berfirman: Sebagaimana ketidaksamaan beberapa perkara yang memiliki beragam penjelasan seperti antara buta dan melihat keduanya tidaklah sama, tetapi antara keduanya memiliki banyak perbedaan, dan seperti ketidaksamaan antara kegelapan dan sinar terang, keteduhan dan kepanasan, begitu pula ketidaksamaan antara orang yang hidup dan orang yang mati. Dan ini sebuah perumpamaan Alloh atas orang-orang mukmin itu sebagai orang yang hidup, dan bagi orang-orang kafir itu orang yang mati.
{Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar}yaitu: sebagaimana [tdk bisa mendengar dan] bermanfa’at buat orang mati setelah kematiannya dan setelah mereka kembali ke kubur mereka. Mereka itu adalah orang-orang kafir dengan memberi petunjuk dan seruan [berbuat baik] atasnya. Demikian pula mereka orang-orang musyrik yang telah ditetapkan atas mereka kecelakaan tidak ada bagimu daya dan kemampuan untuk menunjukkannya.

IMAM AL-QURTHUBI MENJELASKAN AYAT DIATAS SBB:

.{ وَمَا يَسْتَوِي الأَحْيَاءُ وَلا الأَمْوَاتُ } قال ابن قتيبة: الأحياء العقلاء، والأموات الجهال. قال قتادة: هذه كلها أمثال؛ أي كما لا تستوي هذه الأشياء كذلك لا يستوي الكافر والمؤمن. { إِنَّ اللَّهَ يُسْمِعُ مَنْ يَشَاءُ } أي يسمع أولياءه الذين خلقهم لجنته. { وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ } أي الكفار الذين أمات الكفر قلوبهم؛ أي كما لا تسمع من مات، كذلك لا تسمع من مات قلبه.

{Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati}Ibnu Qutaibah berkata: Orang yang hidup adalah orang yang berakal [pandai], dan orang yang mati adalah orang yang jahil [bodoh]. Qotadah berkata: ini semua adalah perumpamaan; yaitu sebagaimana ketidaksamaan beberapa perkara begitu pula ketidaksamaan orang kafir dengan orang mukmin. {Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya} yaitu para kekasih-NYA yang mereka telah dijadikan untuk menempati surga-Nya. {Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar}yaitu orang kafir, mereka itu orang-orang yang telah mati hatinya, yaitu sebagaimana tidak mendengarnya orang yang sudah mati. Demikian halnya tidak bisa mendengarnya orang yang telah mati hatinya.

IMAM ATH-THOBARI MENJELASKAN AYAT DIATAS SBB:

وقوله ( وَمَا يَسْتَوِي الأحْيَاءُ وَلا الأمْوَاتُ ) يقول: وما يستوي الأحياء القلوب بالإيمان بالله ورسوله، ومعرفة تنزيل الله، والأموات القلوب لغلبة الكفر عليها، حتى صارت لا تعقل عن الله أمره ونهيه، ولا تعرف الهدى من الضلال، وكل هذه أمثال ضربها الله للمؤمن والإيمان والكافر والكفر

Dan firman Alloh: {Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati} dikatakan: tidaklah sama orang yang hidup hatinya dengan beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya, mengetahui apa yang diturunkan Alloh, dan orang yang mati hatinya yang meliputi orang-orang kafir sehingga jadilah ketidaktahuan akan perintah-perintah dan larangan-larangan Alloh, dan tidak mengetahui petunjuk dan kesesatan. Dan ini semua adalah perumpamaan Alloh untuk orang-orang mukmin dan keimanan, orang-orang kafir dan kekufuran.

MENURUT IBNU TAIMIYAH [MAJMU’ FATAWA BAB. JANAIZ]

وسئل ـ رَحمه اللّه:
هل يتكلم الميت في قبره أم لا ؟
فأجاب:
يتكلم، وقد يسمع ـ أيضاً ـ من كلمه، كما ثبت في الصحيح عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: (إنهم يسمعون قرع نعالهم). وثبت عنه في الصحيح: أن الميت يسأل في قبره فيقال له: من ربك ؟ وما دينك؟ ومن نبيك؟ فيثبت اللّه المؤمن بالقـول الثابت، فيقول: اللّه ربي، والإسلام ديني، ومحمد نبيي، ويقال له: ما تقول في هذا الرجل الذي بعث فيكم؟ فيقول المؤمن: هو عبد اللّه ورسوله، جاءنا بالبينات والهدي، فآمنا به، واتبعناه. وهذا تأويل قوله تعالى: {يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ} [إبراهيم: 27]. وقد صح عن النبي صلى الله عليه وسلم أنها نزلت في عذاب القبر.

Ditanyakan kepada (Syeikhul islam Ibnu Taimiyah) rohimahulloh (semoga Alloh merohmatinya), “Apakah mayyit bisa berbicara di dalam kuburnya atau tidak?”

Maka beliau menjawab, “Berbicara, juga mendengar tentang perkataannya, seperti yang terbukti dan telah ditetapkan dalam hadits Shahih bahwa Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ (Mereka [amwat] mendengar suara langkah kaki mereka (zaa-ir)). Dan diriwayatkan dalam hadits Shahih bahwa orang mati ditanya dalam kuburnya. dikatakan kepadanya: Siapa Tuhanmu?, Apa agamamu?, dan siapa Nabimu? Maka Alloh meneguhkan (iman) kepada orang mukmin dengan jawaban yang teguh. Maka (mayit) berkata, “Allah adalah Tuhanku, Islam agamaku, dan Nabi Muhammad Nabiku,” dan dikatakan kepadanya, “Apa yang kamu katakan (ketahui) kepada orang ini (Muhammad) yang diutus kepadamu?” Maka orang mukmin berkata, “Dia (Muhammad) adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, telah datang kepada kami bukti-bukti dan petunjuk, dan kami beriman dengannya serta mengikutinya. Dan ini adalah takwil dari firman Alloh (Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki) [QS. Ibrahim: 27] Sungguh benar bahwa dari Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam sesungguhnya ayat tersebut turun berkenaan dengan siksa kubur.

Diriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa orang-orang yang ikut dalam perang Badar setelah wafat dapat mendengar apa yang dikatakan Rasulullah SAW kepada mereka. Hadis tersebut diriwayatkan dalam Musnad Ahmad 1/26 no 182.
حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا يحيى بن سعيد وأنا سألته ثنا سليمان بن المغيرة ثنا ثابت عن أنس قال كنا مع عمر بين مكة والمدينة فتراءينا الهلال وكنت حديد البصر فرأيته فجعلت أقول لعمر أما تراه قال سأراه وأنا مستلق على فراشي ثم أخذ يحدثنا عن أهل بدر قال إن كان رسول الله صلى الله عليه و سلم ليرينا مصارعهم بالأمس يقول هذا مصرع فلان غدا إن شاء الله تعالى وهذا مصرع فلان غدا إن شاء الله تعالى قال فجعلوا يصرعون عليها قال قلت والذي بعثك بالحق ما أخطئوا تيك كانوا يصرعون عليها ثم أمر بهم فطرحوا في بئر فانطلق إليهم فقال يا فلان يا فلان هل وجدتم ما وعدكم الله حقا فإني وجدت ما وعدني الله حقا قال عمر يا رسول الله أتكلم قوما قد جيفوا قال ما أنتم بأسمع لما أقول منهم ولكن لا يستطيعون أن يجيبوا

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dan aku bertanya padanya, ia berkata telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Mughirah yang berkata telah menceritakan kepada kami Tsabit dari Anas yang berkata “Kami bersama Umar di antara Mekkah dan Madinah, dan kami sama-sama melihat bulan sabit. Aku termasuk orang yang tajam penglihatan sehingga aku dapat melihatnya. Aku berkata kepada Umar”Tidakkah engkau akan melihatnya?”. Umar berkata “Aku akan melihatnya ketika aku terkapar di tempat tidurku”. Dia kemudian menceritakan kepada kami tentang para Ahli Badar. Dia berkata “Sesungguhnya Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam telah memperlihatkan kepada kita tempat kematian mereka kemarin”. Beliau bersabda “Ini tempat kematian fulan besok jika Allah menghendaki dan ini tempat kematian fulan besok jika Allah menghendaki”. Mereka kemudian meninggal dunia di tempat itu. Aku berkata “Demi Yang mengutusmu dengan membawa kebenaran tidaklah mereka melangkah untuk itu. Mereka dibantai di tempat itu”. Beliau kemudian memerintahkan agar mereka dimasukkan kedalam sumur. Beliau Shollallohu ‘alaihi wa sallam mendatangi mereka dan bersabda “Wahai fulan dan fulan, apakah kalian telah menemukan apa yang Allah janjikan kepada kalian sebagai suatu kebenaran?. Sesungguhnya Aku telah menemukan apa yang Allah janjikan kepadaKu sebagai suatu kebenaran”. Umar berkata “Ya Rasulullah, apakah Engkau sedang berbicara dengan suatu kaum yang telah menjadi bangkai?. Beliau menjawab “Tidaklah kalian lebih dapat mendengar apa yang aku katakan daripada mereka. Hanya saja mereka tidak dapat menjawab”

Hadis ini sanadnya Shahih sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim. Syaikh Ahmad Syakir dalam Syarh Musnad Ahmad no 182 berkata “sanadnya shahih”. Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam Musnad Ahmad tahqiq beliau berkata
إسناده صحيح على شرط الشيخين

Sanadnya shahih sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim.

6.
Pengirim: sugeng dp  - Kota: pasuruan
Tanggal: 17/6/2013
 
Asswrwb.saya mau tanya pak kyai,bagaimana kalau kita tawasul kemakam makam walisongo atau kemakam makam yg dianggap orng sholeh,trimakasih 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Ya, boleh menurut syariat

7.
Pengirim: ami  - Kota: cibinong
Tanggal: 18/6/2013
 
Assalamu alaikum ustadz,

dari artikel yang saya baca dari tulisan antum, disana hanya dijelaskan tentang bolehnya bertawassul dengan orang yang masih hidup. baik itu dari Hadist tentang Abbas Rodhiallahu anhu, maupun Uwais r.a.

Yang menjadi pertanyaan saya adalah adakah hujjah yang mendukung bolehnya bertawassul ke makam orang-orang shalih?

Berikut ini adalah hal-hal yang mungkin bisa dijadikan pertimbangan (disarikan dari Hadist Nabi) terkait tawassul dengan kubur orang-orang Sholih:

a. Tujuan utama ziaroh makam adalah untuk mengingat kematian.

b.Rosulullah melarang orang yang melakukan shafar dalam rangka beribadah, kecuali menuju ke-3 masjid yaitu Masjidil Harom, Masjidil Aqsa dan Masjid Nabawi.

Berdasarkan kondisi ini, apakah masih memungkinkan ummat Islam melakukan tawassul ke kuburan orang Sholih apalagi sampai pada tahap melakukan Shafar?

Mohon penjelesannya ustadz..

 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Tidak ada bedanya bertawassul dengan orang yang masih hidup maupun dengan orang yang telah wafat, kedua-duanya telah dicontohkan pengamalannya oleh para murid Nabi SAW, yaitu kalangan para shahabat.

“Dari Utsman bin Hunaif: “Suatu hari seorang yang buta datang kepada Rasulullah e berkata: “Wahai Rasulullah, ajarkan saya sebuah doa yang akan saya baca agar Allah mengembalikan penglihatan saya”. Rasulullah berkata: “Bacalah doa (artinya): “Ya Allah sesungguhnya aku meminta-Mu dan menghadap kepada-Mu melalui Nabi-Mu yang penuh kasih sayang, wahai Muhammad sesungguhnya aku menghadap kepadamu dan minta Tuhanmu melaluimu agar dibukakan mataku, Ya Allah berilah ia syafaat untukku dan berilah aku syafaat. Kemudian ia berdoa dengan doa tersebut, ia berdiri dan telah bisa melihat”. (HR. Hakim dalam al-Mustadrak). Beliau mengatakan bahwa hadits ini adalah shahih dari segi sanad walaupun Imam Bukhari dan Imam Muslim tidak meriwayatkan dalam kitabnya. Imam Dzahabi mengatakatan bahwa hadits ini adalah shahih, demikian juga Imam Turmudzi dalam kitab Sunannya bab Daa'wat mengatakan bahwa hadits ini adalah hasan shahih gharib.

“Diriwayatkan dari Utsman bin Hunaif (perawi hadis yang menyaksikan orang buta bertawassul kepada Rasulullah) bahwa ada seorang laki-laki datang kepada (Khalifah) Utsman bin Affan untuk memenuhi hajatnya, namun sayidina Utsman tidak menoleh ke arahnya dan tidak memperhatikan kebutuhannya. Kemudian ia bertemu dengan Utsman bin Hunaif (perawi) dan mengadu kepadanya. Utsman bin Hunaif berkata: Ambillah air wudlu' kemudian masuklah ke masjid, salatlah dua rakaat dan bacalah: “Ya Allah sesungguhnya aku meminta-Mu dan menghadap kepada-Mu melalui nabi-Mu yang penuh kasih sayang, wahai Muhammad sesungguhnya aku menghadap kepadamu dan minta Tuhanmu melaluimu agar hajatku dikabukan. Sebutlah apa kebutuhanmu”. Lalu lelaki tadi melakukan apa yang dikatakan oleh Utsman bin Hunaif dan ia memasuki pintu (Khalifah) Utsman bin Affan. Maka para penjaga memegang tangannya dan dibawa masuk ke hadapan Utsman bin Affan dan diletakkan di tempat duduk. Utsman bin Affan berkata: Apa hajatmu? Lelaki tersebut menyampaikan hajatnya, dan Utsman bin Affan memutuskan permasalahannya”. (HR. Al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwwah). Ulama Ahli hadits al-Hafidz al-Haitsami berkata: “Dan sungguh al-Thabrani berkata (setelah al-Thabrani menyebut semua jalur riwayatnya): Riwayat ini sahih”. (Majma’ al-Zawaid, II/565).

Adapun hadits: Janganlah kalian bersusah payah melakukan perjalanan jauh kecuali menuju ke tiga masjid: Masjidku ini (Masjid Nawabi), Masjid Al-Haram (di Makkah), dan Masjid Al Aqsha. (HR. Al-Bukhari no. 1115 dan Muslim no. 1397).
Hadits ini tidak ada kaitannya dengan pelarangan Rasulullah ziarah qubur maupun Tawassul dengan orang shalih (ahli qubur), hadits ini berfungsi menerangkan akan keutamaan ke 3 masjid tsb daripada masjid-masjid lainnya,

8.
Pengirim: amir  - Kota: cibinong
Tanggal: 21/6/2013
 
Barokallahi Fiik.
Ustadz, dalil yang antum cantumkan terkait riwayat ustman bin hunaif tentang orang buta yang meminta didoakan Rasulullah tersebut sepakat bahwa sanad hadistnya shahih.
Adapun Riwayat yang kedua tentang bertemunya Ustman bin Hunaif dengan seorang laki-laki yang memenuhi hajatnya kemudian berdoa dengan kedudukan Nabi, maka Syaikh Al-Albani men-takhrij bahwa hadist ini adalah Dhoif dan Munkar, karena 3 hal:

1. Lemahnya Hafalan Perawi yang sendirian meriwayatkan cerita ini.
2. Adanya kontroversi dari matan hadist dari jalur perawi tersebut.
3. perawi tersebut menyelisihi perawi lain yang lebih tsiqoh, yang tidak meriwayatkan cerita tersebut.

satu saja dari 3 hal tersebut dapat menjadikan hadist ini menjadi Dhoif, apalagi ada ketiga-tiganya.

Adapun bertawassul dengan orang yang sudah wafat baik itu nabi ataupun orang-orang sholih, maka cukuplah kita perhatikan riwayat tentang paceklik melanda, apakah pada saat Rasulullah hidup kiranya para sahabat duduk di rumah masing-masing kemudian berdo'a :'" Ya Allah dg Nabi-mu MUhammad dan segala kehormatannya di sisimu, berilah kami hujan..." atau mereka mendatangi DIRI RASULULLAH, lalu meminta do'a dari beliau agar Allah menurunkan hujan? kemudian setelah Rasulullah wafat, Umar r.a dan para sahabat tidak mendatangi kuburan beliau untuk minta didoakan. Selanjutnya para sahabat beralih mendatangi Abbas r.a untuk meminta kan do'a darinya. Bukankah Rasulullah lebih Mulia dan afdhol dari pada Abbas r.a?

Ini sebagai bukti bahwa bertawassul dengan orang sdh wafat tidak memiliki hujjah yang kuat.

Wallahu a'lam.
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Wah, afwan... ternyata anda bertaqlid buta kepada Al-albani. Padahal kami 100% menolak perkataan Al-albani, dan Al-albani bukan tipe tokoh yang kami akui keilmuannya. Karena itu takhrijnya pun kami tolak mentah-mentah. Ayook ikut kami meneliti figur Al-albani sbb:


Kesalahan Dalam Karya-Karya Syaikh Albani
Moh. Ma'ruf Khozin
(Anggota LBM PWNU Jatim)

Kesalahan Albani tidak hanya diakui oleh murid-muridnya sendiri. Kenyataan di atas juga diakui oleh Syaikh Yusuf Qardhawi di dalam tanggapan beliau terhadap al-Albani yang mengomentari hadis-hadis di dalam kitabnya berjudul 'al-Halal wal-Haram fil-Islam', sebagai berikut: “Oleh sebab itu, penetapan Syaikh al-Albani tentang dha’if-nya suatu hadits bukan merupakan hujjah yang qath’i (pasti) dan sebagai kata pemutus. Bahkan dapat saya katakan bahwa Syaikh al-Albani hafizhahullah kadang-kadang melemahkan suatu hadits dalam satu kitab dan mengesahkannya (menshahihkannya) dalam kitab lain”. (Lihat Halal dan Haram, DR. Yusuf Qardhawi, Robbani Press, Jakarta, 2000, hal. 417). Syaikh Yusuf Qardhawi juga banyak menghadirkan bukti-bukti kecerobohan al-Albani dalam menilai hadis yang sekaligus menunjukkan sikapnya yang “tanaqudh”.
Berikut beberapa bukti kongkrit kontradiksi Albani dalam menilai hadis yang telah diteliti oleh Syaikh Hasan bin Ali Assegaf (Cucu Sayyid Abdurrahman Assegaf pengarang kitab Syarah Fathul Muin, Tarsyih al-Mustafidin) dalam kitab beliau yang bernama 'Tanaqudhat al-Albani al-Wadhihat':

Hadis Pertama
حديث عن محمود بن لبيد قال : أخبر رسول الله صلى الله عليه وآله عن رجل طلق امرأته ثلاث تطليقات جميعا ، فقام غضبان ، ثم قال : (أيلعب بكتاب الله عزوجل وأنا بين أظهركم ؟ !) حتى قام رجل فقال : يا رسول الله ألا أقتله ؟ ! رواه النسائي . ضعفه الالباني في تخريج (مشكاة المصابيح) الطبعة الثالثة ، بيروت - سنة 1405 ه‍ المكتب الاسلامي (2 / 981) فقال : ورجاله ثقات لكنه من رواية مخرمة عن أبيه ولم يسمع منه . اه‍ ثم تناقض فصححه في كتاب (غاية المرام تخريج أحاديث الحلال والحرام) طبعة المكتب الاسلامي ، الطبعة الثالثة 1405 ه‍ صفحة (164) حديث رقم (261)
"Albani menilainya dlaif dalam Misykat al-Mashabih (Juz II hal. 981. Cetakan III, Beirut, 1405 H, al-Maktab al-Islami). Kemudian ia menilainya sahih dalam Kitab Ghayat al-Maram Takhrij Ahadits al-Halal wa al-Haram (Hal. 164 No hadis: 261, Cetakan III, Maktab al-Islami, 1405 H)"
Hadis Kedua
حديث : إذا كان أحدكم في الشمس فقلص عنه الظل وصار بعضه في الظل وبعضه في الشمس فليقم) أقول : صححه الالباني فقال في صحيح الجامع الصغير وزيادته (1 / 266 / 761) صحيح الاحاديث الصحيحة : 835 . اه‍ ثم تناقض فضعفه في : تخريج (مشكاة المصابيح) (3 / 1337 / برقم 4725 الطبعة الثالثة) وقد عزاه في كل من الموضعين إلى سنن أبي داود .
"Albani menilainya sahih dalam Kitab Sahih al-Jami' ash-Shaghir wa Ziyadatuhu (I/266) dan Sahih al-Hadits ash-Shahihah No 835. Kemudian Albani menilainya dlaif dalam Kitab Misykat al-Mashabih (Juz III, hal. 1337 No hadis: 4725 Cetakan III)"
Hadis Ketiga
حديث : الجمعة حق واجب على كل مسلم ... ضعفه الالباني في : تخريج (مشكاة المصابيح) (1 / 434) : فقال : رجاله ثقات وهو منقطع كما أشار أبو داود اه‍ بمعناه ومن التناقضات أنه : أورد الحديث في إرواء الغليل (3 / 54 / برقم 592) وقال : صحيح . اه‍ فتدبروا يا أولي الالباب .
Albani menilai dlaif dalam Kitab Misykat al-Mashabih (I/434), ia berkata: Perawinya terpercaya tetapi hadis ini terputus sebagaimana isyarah Abu Dawud. Namun hadis ini dicantumkan oleh Albani dalam Kitab Irwa' al-Ghalil (III/54 No hadis: 592). Albani berkata: "Hadis ini sahih"
Hadis Keempat
حديث : عبد الله بن عمرو مرفوعا : (الجمعة على من سمع النداء) رواه أبو داود . صححه الالباني في : (إرواء الغليل) (3 / 58) فقال : حسن . اه‍ وناقض نفسه فضعفه في : تخريج مشكاة المصابيح 1 / 343) (برقم 1375) حيث قال : سنده ضعيف . اه‍
"Albani menilai sahih dalam Kitab Irwa' al-Ghalil (III/58). Albani berkata: "Hadis ini hasan". Tetap Albani menilainya dlaif dalam Kitab Misykat al-Mashabih (I/343 No hadis 1375). Albani berkata: "Sanadnya dlaif"
Hadis Kelima
حديث أنس بن مالك أن رسول الله صلى الله عليه وآله كان يقول : (لا تشددوا على أنفسكم فيشدد الله عليكم فإن قوما شددوا على أنفسهم فشدد الله عليهم . . .) رواه أبو داود . ضعفه الالباني في : (تخريج المشكاة) (1 / 64) فقال : بسند ضعيف اه‍ . ثم تناقض فحسنه في آخر تخريجه في (غاية المرام) ص (141) بعد أن حكم عليه هناك أيضا بالضعف فقال : فلعل حديثه هذا حسن بشاهده المرسل عن أبي قلابة . اه‍
"Albani menilai dlaif dalam Kitab Misykat al-Mashabih (I/64). Albani berkata: "Diriwayatkan dengan sanad yang dlaif. Tapi Albani menilainya hasan dalam Kitab Ghayat al-Maram hal. 141, setelah menghukuminya dlaif, Albani berkata: "Semoga hadis ini hasan dengan dalil penguat secara Mursal dari Abu Qilabah"
Hadis Keenam
حديث السيدة عائشة رضي الله عنها قالت : (من حدثكم أن النبي صلى الله عليه وآله كان يبول قائما فلا تصدقوه ما كان يبول إلا قاعدا) رواه أحمد والترمذي والنسائي . ضعفه الالباني في تخريج (مشكاة المصابيح) (1 / 117) فقال : اسناده ضعيف اه‍ ثم من تناقضاته أنه صححه في سلسلة الاحاديث الصحيحة (1 / 345 برقم 201) فتأمل أخي القارئ
"Albani menilai dlaif dalam Kitab Misykat al-Mashabih (I/171). Albani berkata: "Sanadnya dlaif". Tapi Albani menilainya sahih dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah (I/345 No hadis 201)"
Hadis Ketujuh
حديث : ثلاثة لا تقربهم الملائكة جيفة الكافر والمتضمخ بالخلوق والجنب إلا أن يتوضأ) رواه أبو داود . صححه الالباني في (صحيح الجامع الصغير وزيادته) (3 / 71 برقم 3056) فقال : حسن تخريج الترغيب (1 / 91) . اه‍ ومن تناقضاته أنه ضعفه في تخريج (مشكاة المصابيح) (1 / 144 برقم 464) فقال : ورجاله ثقات لكنه منقطع بين الحسن البصري وعمار فإنه لم يسمع منه كما قال المنذري في الترغيب (1 / 91) .
"Albani menilainya sahih dalam kitab Sahih al-Jami' No 3056, ia berkata: "hadis ini hasan". Tetapi Albani menilainya dhaif dalam Kitab Tajhrij Misykat al-Mashabih No 464. Albani berkata: "Perawinya terpercaya, tetapi hadis ini terputus antara Hasan Bashri dan Ammar"
Syaikh Hasan bin Ali Assegaf dalam Kitabnya 'Tanaqudhat al-Albani al-Qadhihat' dalam Juz Pertama memuat 249 kesalahan Albani, baik dari sahih ke dhaif maupun sebaliknya. Tulisan Syaikh Hasan bin Ali al-Saqqaf yang berjudul Tanaqudhat al-Albani al-Wadhihat merupakan kitab yang menarik dan mendalam dalam mengungkapkan kesalahan fatal al-Albani tersebut. Beliau mencatat seribu lima ratus (1500) kesalahan yang dilakukan al-Albani lengkap dengan data dan faktanya. Bahkan menurut penelitian ilmiah beliau, ada tujuh ribu (7000) kesalahan fatal dalam buku-buku yang ditulis al-Albani. Dengan demikian, apabila mayoritas ulama sudah menegaskan penolakan tersebut, berarti Nashiruddin al-Albani itu memang tidak layak untuk diikuti dan dijadikan panutan.
Di antara Ulama Islam yang mengkritik al-Albani adalah al-Imam al-Jalil Muhammad Yasin al-Fadani penulis kitab al-Durr al-Mandhud Syarh Sunan Abi Dawud dan Fath al-’Allam Syarh Bulugh al-Maram; al-Hafizh Abdullah al-Ghummari dari Maroko; al-Hafizh Abdul Aziz al-Ghummari dari Maroko; al-Hafizh Abdullah al-Harari al-Abdari dari Lebanon pengarang Syarh Alfiyah al-Suyuthi fi Mushthalah al-Hadits; al-Muhaddits Mahmud Sa’id Mamduh dari Uni Emirat Arab pengarang kitab Raf’u al-Manarah li-Takhrij Ahadits al-Tawassul wa al-Ziyarah; al-Muhaddits Habiburrahman al-A’zhami dari India; Syaikh Muhammad bin Ismail al-Anshari seorang peniliti Komisi Tetap Fatwa Wahhabi dari Saudi Arabia; Syaikh Muhammad bin Ahmad al-Khazraji menteri agama dan wakaf Uni Emirat Arab; Syaikh Badruddin Hasan Dayyab dari Damaskus; Syaikh Muhammad Arif al-Juwaijati; Syaikh Hasan bin Ali al-Saqqaf dari Yordania; al-Imam al-Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki dari Mekkah; Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin dari Najd (ulama Wahabi-red) yang menyatakan bahwa al-Albani tidak memiliki pengetahuan agama sama sekali; dan lain-lain. Masing-masing ulama tersebut telah mengarang bantahan terhadap al-Albani (sebagian dari buku-buku al-Albani dan bantahannya ada pada perpustakaan Tim PCNU Jember).

Syaikh Albani Mendhaifkan Hadis Bukhari-Muslim
Kesalahan fatal dan sembrono Albani juga nampak jelas ketika ia banyak menilai dhaif dalam kitab sahih Bukhari dan Sahih Muslim, yang telah dinobatkan oleh umat sebagai kitab yang paling valid (sahih) setelah al-Quran. berikut bukti-bukti nyata:

Hadis Pertama:
حديث : (قال الله تعالى : ثلاثة أنا خصمهم يوم القيامة : رجل أعطى بي ثم غدر ، ورجل باع حرا فأكل ثمنه ، ورجل استأجر أجيرا فاستوفى منه ولم يعطه أجره)) . قال الالباني في ضعيف الجامع وزيادته) (4 / 111 برقم 4054) : رواه أحمد والبخاري (2114) عن أبي هريرة (ضعيف) ! ! !
"Albani berkata: "Hadis ini dhaif" (Dhaif al-Jami' ash-Shaghir No 4054). Hadis ini Diriwayatkan oleh al-Bukhari No 2114"
Hadis Kedua:
حديث : (لا تذبحوا إلا بقرة مسنة ، إلا أن تتعسر عليكم فتذبحوا جذعة من الضأن) . قال الالباني في (ضعيف الجامع وزيادته) (6 / 64 برقم 6222) : رواه الامام أحمد ومسلم (1963) وأبو داود والنسائي وابن ماجه عن جابر (ضعيف) ! ! ! .
"Albani berkata: "Hadis ini dhaif" (Dhaif al-Jami' ash-Shaghir No 6222). Hadis ini Diriwayatkan oleh Muslim No 1963"
Hadis Ketiga:
حديث : (إن من شر الناس عند الله منزلة يوم القيامة الرجل يفضي إلى امرأته ، وتفضي إليه ثم ينشر سرها) . قال الالباني في (ضعيف الجامع وزيادته) (2 / 197 برقم 2005) : رواه مسلم (1437) عن أبي سعيد " (ضعيف) ! ! ! .
"Albani berkata: "Hadis ini dhaif" (Dhaif al-Jami' ash-Shaghir No 2005). Hadis ini Diriwayatkan oleh Muslim No 1437"
Hadis Keempat:
حديث : (إذا قام أحدكم من الليل فليفتتح صلاته بركعتين خفيفتين) قال الالباني في (ضعيف الجامع وزيادته) (1 / 213 برقم 718) : رواه الامام أحمد ومسلم (768) عن أبي هريرة (ضعيف) ! !
"Albani berkata: "Hadis ini dhaif" (Dhaif al-Jami' ash-Shaghir No 719). Hadis ini Diriwayatkan oleh Muslim No 769"
Hadis Kelima:
حديث : (أنتم الغر المحجلون يوم القيامة ، من إسباغ الوضوء ، فمن استطاع منكم فليطل غرته وتحجيله) (1) قال الالباني في (ضعيف الجامع وزيادته) (14 / 2 برقم 1425) : رواه مسلم (246) عن أبي هريرة (ضعيف بهذا التمام) .
"Albani berkata: "Hadis ini dhaif" (Dhaif al-Jami' ash-Shaghir No 1425). Hadis ini Diriwayatkan oleh Muslim No 246"
Hadis Keenam:
حديث : (إن من أعظم الامانة عند الله يوم القيامة الرجل يفضي إلى امرأته . . .) (2) . قال الالباني في (ضعيف الجامع وزيادته) (2 / 192 برقم 1986) : رواه أحمد ومسلم (1437) وأبو داود عن أبي سعيد (ضعيف) ! ! .
"Albani berkata: "Hadis ini dhaif" (Dhaif al-Jami' ash-Shaghir No 1986). Hadis ini Diriwayatkan oleh Muslim No 1437"
Hadis Ketujuh:
حديث : (من قرأ العشر الاواخر من سورة الكهف عصم من فتنة الدجال). قال الالباني في (ضعيف الجامع وزيادته) (5 / 233 برقم : 5772 رواه أحمد ومسلم (809) والنسائي عن أبي الدرداء (ضعيف) ! !
"Albani berkata: "Hadis ini dhaif" (Dhaif al-Jami' ash-Shaghir No 1986). Hadis ini Diriwayatkan oleh Muslim No 1437"
Hadis Kedelapan:
حديث : (كان له صلى الله عليه وسلم فرس يقال له اللحيف) . قال الالباني في ضعيف الجامع وزيادته) (4 / 208 برقم 4489 : رواه البخاري (2855) عن سهل بن سعد (ضعيف) ! ! ! .
"Albani berkata: "Hadis ini dhaif" (Dhaif al-Jami' ash-Shaghir No 4489). Hadis ini Diriwayatkan oleh al-Bukhari No 2855"

Penutup
Walhasil, Syaikh Nashiruddin al-Albani bukan al-Hafidz yang berhak memberi penilaian status hadis. Jangankan menjadi al-Hafidz, untuk memenuhi criteria sebagai 'Muhaddits' masih sangat jauh. Masihkah anda lebih percaya pada takhrij Albani yang berlumur kontradiksi dengan mengalahkah ulama sekaliber al-Hafidz Ibnu Hajar, al-Hafidz as-Suyuthi, al-Hafidz adz-Dzahabi, dan ahli hadis lainnya?

9.
Pengirim: amir  - Kota:
Tanggal: 21/6/2013
 
Terkait terlarang melakukan shafar dalam rangka ibadah kecuali menuju ketiga masjid. bagaimana mungkin antum cuma menjelaskan bahwa itu hanya keutamaan ketiga masjid tersebut?

Pemahaman yang saya pegang adalah ber shafar dalam rangka menuju ke suatau masjid saja terlarang, toh apalagi sebagian dari kita bersusah payah melakukan wisata ziaroh makam.. yang sebenarnya amalan ini hanya sebagai zikrul maut.
Wallahu a'lam. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Masyaallah. anda kok jadi pelupa sama tema pembahasannya, padahal judul kami sudah jelas bahwa pembahasan ini adalah dalil tentang BOLEHNYA BERTAWASSUL DENGAN ORANG YANG MASIH HIDUP MAUPUN YANG SUDAH WAFAT.

Mungkin anda perlu membaca artikel kami 10 x agar dapat memahami tema yang kami bahas dalam judul ini.

Afwan, tolong anda jangan suka melebarkan masalah agar anda tidak dikenal oleh pengunjung bahwa anda senang nge-les (menghindar) terus kalau tidak dapat menolak dalil-dalil kongkrit tentang bolehnya Tawassul yang kami ajukan.

10.
Pengirim: Achmad alQuthfby  - Kota: Probolinggo
Tanggal: 22/6/2013
 
Pengirim: Ahmad - Kota: Magetan
Tanggal: 10/6/2013 Assalamu'alaikum, ustadz..

Mohon penjelasan bagaimana dengan ayat ini?

"Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar". [Fathir : 22]

Terima kasih –

- Ayat diatas diperuntukkan kepada orang non muslim. Belajar lagi mas biar faham!
Didalam pelbagai ayat quran & hadist disebutkan bahwa mayit muslim mendengar.
Quran: Ali Imran:169; al Baqarah:154; dll
Hadist: Sunnahnya mengucapkan salam kepada ahli kubur, dan ahli kubur akan menjawab salamnya. Dan masih banyak hadist yg lainnya.

Kebiasaan wahhabi adalah menggunakan dalil yg khusus org kafir, lantas dituduhkan kepada org mukmin.

Pengirim: ami - Kota: cibinong
Tanggal: 18/6/2013 Assalamu alaikum ustadz,

dari artikel yang saya baca dari tulisan antum, disana hanya dijelaskan tentang bolehnya bertawassul dengan orang yang masih hidup. baik itu dari Hadist tentang Abbas Rodhiallahu anhu, maupun Uwais r.a.

Yang menjadi pertanyaan saya adalah adakah hujjah yang mendukung bolehnya bertawassul ke makam orang-orang shalih?

Berikut ini adalah hal-hal yang mungkin bisa dijadikan pertimbangan (disarikan dari Hadist Nabi) terkait tawassul dengan kubur orang-orang Sholih:

a. Tujuan utama ziaroh makam adalah untuk mengingat kematian.

b.Rosulullah melarang orang yang melakukan shafar dalam rangka beribadah, kecuali menuju ke-3 masjid yaitu Masjidil Harom, Masjidil Aqsa dan Masjid Nabawi.

Berdasarkan kondisi ini, apakah masih memungkinkan ummat Islam melakukan tawassul ke kuburan orang Sholih apalagi sampai pada tahap melakukan Shafar?

Mohon penjelesannya ustadz..

- Ziaroh wali adalah tujuannya tentu saja tidak hanya untuk mengingat kematian, melainkan utk bertawassul dan bertabarruk, sesuai dengan firmanNya: “Carilah jalan (wasilah) yang mendekatkan diri kepadaNya” (QS. Al Maidah: 35)

“la tasyaddurrahalu illa ilaa tsalatsah masaajid, Almasjidil haram, wa masjidirrasul shallallahu a’laihi wasallam, walmasjidil Aqsha” jangan berusaha untuk mengadakan perjalanan atau memaksakan diri untuk mencapai kecuali 3 tempat yaitu Masjidil Haram, Masjidinnabiy dan Masjidil Aqsa. Maksudnya bukanlah larangan untuk pergi ke masjid lain atau ke tempat lain tapi hadits ini dijelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari makna hadits ini adalah tasyjii’ wattarghib, laysa littahrim. Makna hadits ini bukan berarti seseorang itu haram pergi ke masjid lainnya akan tetapi memberikan semangat dari Nabi saw, tidak ada tempat yang lebih baik dari dituju di muka bumi melebihi Masjidil Haram, Masjid Nabawiy dan Masjid Al Aqsa. 3 tempat termulia yang ada di muka bumi. Kalau bawa anak, tamasya, ziarah, mengadakan dalam perjalanan, boleh – boleh saja tapi tidak ada yang melebihi 3 kemuliaan tempat ini.
Disini laisa bittahriim, tap Tasyjii’ wattarghiib, bukan haram pergi ke masjid lain, karena di dalam riwayat Shahih Bukhari Nabi saw pergi ke masjid quba setiap hari sabtu. Masji d Quba bukanlah masjid haram, bukan masjil Aqsa, bukan masjid nabawiy, tapi Nabi saw setiap hari sabtu pergi ke masjid Quba.
Menunjukkan pergi ke masjid – masjid lain juga boleh. Memaksakan perjalanan ke masjid lain juga boleh tapi tidak ada tempat yang lebih agung di muka bumi melebihi Masjidil Haram wa Masjidirrasul wa Masjidil Aqsa.
Al Imam Ibn Hajar di dalam Fathul Baari bisayarah Shahih Bukhari menjelaskan bahwa makna hadits ini terlepas dari keinginan seseorang daripada ziarah kepada pekuburan shalihin (orang – orang shalih) karena yang dituju bukan masjidnya tapi pekuburannya. Sebagaimana Rasul saw berziarah ke Baqi’ dan ke tempat lainnya. Demikian pula kita kalau seandainya berziarah ke tempat – tempat para shalihin maka hal itu adalah sunnah. Akan tetapi kalau kita bicara masjid, tidak ada yang lebih mulia di muka bumi selain 3 masjid (Masjidil Haram wa Masjidirrasul wa Masjidil Aqsa). 3 tempat yang Allah jadikan perjuangan dan kemuliaan langkah – langkah Nabi Muhammad Saw.
Masjidil Haram adalah tempat lahirnya Rasulullah Saw, Masjid Nabawiy adalah makamnya Rasulullah Saw, Masjidil Aqsa adalah tempat Isra dan Mi’rajnya Rasulullah Saw. Dijadikan Nya (oleh Allah swt) tempat yang didatangai Nabiyunna Muhammad Saw dan mencatat sejarah agung itu sebagai tempat tempat suci dan mulia.


Pengirim: amir - Kota: cibinong
Tanggal: 21/6/2013 Barokallahi Fiik.
Ustadz, dalil yang antum cantumkan terkait riwayat ustman bin hunaif tentang orang buta yang meminta didoakan Rasulullah tersebut sepakat bahwa sanad hadistnya shahih.
Adapun Riwayat yang kedua tentang bertemunya Ustman bin Hunaif dengan seorang laki-laki yang memenuhi hajatnya kemudian berdoa dengan kedudukan Nabi, maka Syaikh Al-Albani men-takhrij bahwa hadist ini adalah Dhoif dan Munkar, karena 3 hal:

1. Lemahnya Hafalan Perawi yang sendirian meriwayatkan cerita ini.
2. Adanya kontroversi dari matan hadist dari jalur perawi tersebut.
3. perawi tersebut menyelisihi perawi lain yang lebih tsiqoh, yang tidak meriwayatkan cerita tersebut.

satu saja dari 3 hal tersebut dapat menjadikan hadist ini menjadi Dhoif, apalagi ada ketiga-tiganya.

Adapun bertawassul dengan orang yang sudah wafat baik itu nabi ataupun orang-orang sholih, maka cukuplah kita perhatikan riwayat tentang paceklik melanda, apakah pada saat Rasulullah hidup kiranya para sahabat duduk di rumah masing-masing kemudian berdo'a :'" Ya Allah dg Nabi-mu MUhammad dan segala kehormatannya di sisimu, berilah kami hujan..." atau mereka mendatangi DIRI RASULULLAH, lalu meminta do'a dari beliau agar Allah menurunkan hujan? kemudian setelah Rasulullah wafat, Umar r.a dan para sahabat tidak mendatangi kuburan beliau untuk minta didoakan. Selanjutnya para sahabat beralih mendatangi Abbas r.a untuk meminta kan do'a darinya. Bukankah Rasulullah lebih Mulia dan afdhol dari pada Abbas r.a?

Ini sebagai bukti bahwa bertawassul dengan orang sdh wafat tidak memiliki hujjah yang kuat.

Wallahu a'lam.

- alhamdulillah anda mengakui hujjah KH. Luthfi dengan hadits mengenai orang buta adalah shahih. ini artinya anda mengakui secara jujur dalil mengenai tawassul.

Perlu saya jelaskan bahwa didalam rangkaian hadist diatas tdk disebutkan bahwa Nabi benar2 mendoakan org buta itu. Yg disebutkan didalam riwayat itu adalah bahwa setelah org buta itu pergi ke tempat wudhu’, Rasul kembali mengajar para sahabat hingga org buta itu datang lagi dalam keadaan sdh bisa melihat sebagaimana disebutkan oleh perawi hadist diatas :
“Lalu laki2 buta itu melaksanakan petunjuk Rasul, dan demi Alloh kita belum berpisah dan belum lama dalam majelis Rasul, tiba2 laki2 itu kembali datang ke majelis dan telah bisa melihat seakan2 sebelumnya tdk pernah terkena kebutaan sama sekali”.

Dalam hal ini, al Syaukani mengatakan:
“Hadist ini menjadi dalil bolehnya bertawassul dengan rasul kepada ALloh dengan keyakinan bahwa yg memberi dan menolak secara hakiki adalah alloh. Sesuatu yg kehendaki alloh akan terjadi. Sesuatu yg tdk dikhendaki alloh tdk akan terjadi” (tuhfat al dzakirin, hal. 180)




Pengirim: amir - Kota:
Tanggal: 21/6/2013 Terkait terlarang melakukan shafar dalam rangka ibadah kecuali menuju ketiga masjid. bagaimana mungkin antum cuma menjelaskan bahwa itu hanya keutamaan ketiga masjid tersebut?

Pemahaman yang saya pegang adalah ber shafar dalam rangka menuju ke suatau masjid saja terlarang, toh apalagi sebagian dari kita bersusah payah melakukan wisata ziaroh makam.. yang sebenarnya amalan ini hanya sebagai zikrul maut.
Wallahu a'lam.

- sdh ane jelaskan diatas. dzikrul maut? apa definisi dzikrul maut menurut anda?

 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Semoga Akhi Amir mau menjawab pertanyaan: Apa definisi Dzikul Maut itu sendiri ?

11.
Pengirim: winbby  - Kota: yogyakarta
Tanggal: 8/10/2013
 
Assalamualaikum pak kyai..semoga dirahmati ALLAH SWT.aamiin..
maaf pak kyai saya kurang setuju jika bapak memperbolehkan tawassul perantara org yg sudah meninggal.karena kita manusia mengalami dua kehidupan.sebelum mati(dunia) dan sesudah mati(akhirat).Jelas kita semua tahu bahwa setelah mati Allah akan membangkitkan kita semua dihari kiamat dan masing2 mempertanggungjawabkan amal perbuatannya masing2(diri pribadi)..jadi bagi saya org yg sdh meninggal tdk bisa dijadikan perantara,krn setelah maut mnjemput,amalan kitapun tertutup hingga hari kebangkitan untuk dipertanggungjawabkan..bgm mungkin mereka bisa menyampaikan doa kita ke Allah sdngkan amalan mereka sdh tertutup??sedangkan kita semua tahu,bahwa hanya Rasull SAW sajalah yg mampu memberikan syafaat atau menolong umatnya ,itupun nanti setelah kehidupan diakhirat.Ingatlah Allah SWT tdk suka sesatu yg berlebihan dalam beribadah,apabila yakin dan sesuai hadits dan Quran,lakukan.apabila ragu, tinggalkan.semua kembali ke Quran apabila ragu dan harapkan kebenaran  
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Yang jadi masalah untuk memahami praktek Tawassul ini adalah karena akhi hanya berusaha memahami ajaran agama ini berdasarkan pemikiran akhi sendiri, dan akhi tidak mau merujuk kepada pemahaman para ulama Salaf pakar agama yang sudah menjadi rujukan umat Islam seluruh dunia. Untuk memudahkan akhi memahami bab Tawassul, ada baiknya kami nukilkan artikel dari blog DUNIA SHOLAWAT ISLAMI sbb:

Banyak pemahaman saudara-saudara kita muslimin yang perlu diluruskan tentang tawassul, tawassul adalah berdoa kepada Allah dengan perantara amal shalih, orang shalih, malaikat, atau orang-orang mukmin.

Tawassul kepada Rasulullah disebutkan dalam beberapa ayat Al-Qur’an, misalnya, firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 64, yang artinya:
“Dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya Jikalau mereka ketika Menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” Dalam ayat ini, dijelaskan bahwa Allah SWT mengampuni dosa-dosa orang yang dhalim, disamping do’a mereka tetapi ada juga wasilah (do’anya) Rasulullah SAW.Soal tawassul seperti itu, disebutkan pula dalam tafsir Ibnu Katsir, “Berkata Al-Imam Al-Hafidz As-Syekh Imaduddin Ibnu Katsir, menyebutkan segolongan ulama’ di antaranya As-Syekh Abu Manshur As-Shibagh dalam kitabnya As-Syaamil dari Al-Ataby; berkata: saya duduk di kuburan Nabi SAW. maka datanglah seorang Badui dan ia berkata: Assalamu’alaika ya Rasulullah! Saya telah mendengar Allah berfirman yang artinya;
Walaupun sesungguhnya mereka telah berbuat dhalim terhadap diri mereka kemudian datang kepadamu dan mereka meminta ampun kepada Allah, dan Rasul memintakan ampun untuk mereka, mereka pasti mendapatkan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang; dan saya telah datang kepadamu (kekuburan Rssulullah) dengan meminta ampun akan dosaku dan memohon syafa’at dengan wasilahmu (Nabi) kepada Allah, kemudian ia membaca syair memuji Rasulullah, kemudian orang Badui tadi pergi, maka saya ketiduran dan melihat Rasulullah dalam tidur saya, beliau bersabda, “Wahai Ataby temuilah orang Badui tadi sampaikan kabar gembira bahwa Allah telah mengampuni dosanya.”

Tawassul merupakan hal yang sunnah, dan tak pernah ditentang oleh Rasul saw., tak pula oleh Ijma Sahabat radhiyallahuanhum, tak pula oleh Tabiin, dan bahkan para Ulama dan Imam-Imam besar Muhadditsin, mereka berdoa tanpa perantara atau dengan perantara, dan tak ada yang menentangnya, apalagi mengharamkannya, atau bahkan memusyrikkan orang yang mengamalkannya.

Pengingkaran hanya muncul pada abad ke 20 ini, dengan munculnya sekte Wahabi Salafi sesat yang memusyrikkan orang-orang yang bertawassul, padahal Tawassul adalah sunnah Rasul saw., sebagaimana hadits shahih dibawah ini :
"Wahai Allah, Demi orang-orang yang berdoa kepada Mu, demi orang-orang yang bersemangat menuju (keridhoan) Mu, dan Demi langkah-langkahku ini kepada (keridhoan) Mu, maka aku tak keluar dengan niat berbuat jahat, dan tidak pula berniat membuat kerusuhan, tak pula keluarku ini karena Riya atau sumah.. hingga akhir hadits. (HR Imam Ahmad, Imam Ibn Khuzaimah, Imam Abu Naiem, Imam Baihaqy, Imam Thabrani, Imam Ibn Sunni, Imam Ibn Majah dengan sanad Shahih). Hadits ini kemudian hingga kini digunakan oleh seluruh muslimin untuk doa menuju masjid dan doa safar.

Tujuh Imam Muhaddits meriwayatkan hadits ini, bahwa Rasul saw. berdoa dengan Tawassul kepada orang-orang yang berdoa kepada Allah, lalu kepada orang-orang yang bersemangat kepada keridhoan Allah, dan barulah bertawassul kepada Amal shalih beliau saw. (demi langkah2ku ini kepada keridhoan Mu).

Siapakah Muhaddits?, Muhaddits adalah seorang ahli hadits yang sudah hafal minimal 40.000 (empat puluh ribu) hadits beserta hukum sanad dan hukum matannya, betapa jenius dan briliannya mereka ini dan betapa luasnya pemahaman mereka tentang hadist Rasul saw., sedangkan satu hadits pendek, bisa menjadi dua halaman bila disertai hukum sanad dan hukum matannya.

Lalu hadits di atas diriwayatkan oleh tujuh Muhaddits, apakah kiranya kita masih memilih pendapat madzhab sesat yang baru muncul di abad ke 20 ini, dengan ucapan orang-orang yang dianggap muhaddits padahal tak satupun dari mereka mencapai kategori Muhaddits , dan kategori ulama atau apalagi Imam Madzhab, mereka hanyalah pencaci, apalagi memusyrikkan orang-orang yang beramal dengan landasan hadits shahih. Masih banyak hadits lain yang menjadi dalil tawassul adalah sunnah Rasululloh saw, sebagaimana hadits yang dikeluarkan oleh Abu Nu'aim, Thabrani dan Ibn Hibban dalam shahihnya, bahwa ketika wafatnya Fathimah binti Asad (Bunda dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw, dalam hadits itu disebutkan Rasul saw. rebah/bersandar dikuburnya dan berdoa : "Allah Yang Menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Hidup tak akan mati, ampunilah dosa Ibuku Fathimah binti Asad, dan bimbinglah hujjah nya (pertanyaan di kubur), dan luaskanlah atasnya kuburnya, Demi Nabi Mu dan Demi para Nabi sebelum Mu, Sungguh Engkau Maha Pengasih dari semua pemilik sifat kasih sayang.",Maka jelas sudah dengan hadits ini pula bahwa Rasululloh saw. bertawassul di kubur, kepada para Nabi yang telah wafat, untuk mendoakan Bibi beliau saw. (Istri Abu Thalib).

Demikian pula tawassul Sayyidina Umar bin Khattab ra. Beliau berdoa meminta hujan kepada Allah : Wahai Allah.. kami telah bertawassul dengan Nabi kami (saw.) dan Engkau beri kami hujan, maka kini kami bertawassul dengan Paman beliau (saw.) yang melihat beliau (saw.), maka turunkanlah hujan". maka hujanpun turun. (Shahih Bukhari hadits no.963 dan hadits yang sama pada Shahih Bukhari hadits no.3508).

Umar bin Khattab ra melakukannya, para sahabat tak menentangnya, demikian pula para Imam-Imam besar itu tak satupun mengharamkannya, apalagi mengatakan musyrik bagi yang mengamalkannya, hanyalah pendapat sekte sesat ini yang memusyrikkan orang yang bertawassul, padahal Rasululloh saw. sendiri bertawassul.

Apakah mereka memusyrikkan Rasululloh saw.? dan Sayyidina Umar bin Khattab ra bertawassul, apakah mereka memusyrikkan Umar?, Naudzubillah dari pemahaman sesat ini.

Mengenai pendapat sebagian dari mereka yang mengatakan bahwa tawassul hanya boleh pada orang yang masih hidup, maka entah darimana pula mereka mengarang persyaratan tawassul itu, dan mereka mengatakan bahwa orang yang sudah mati tak akan dapat memberi manfaat lagi, pendapat yang jelas-jelas datang dari pemahaman yang sangat dangkal, dan pemikiran yang sangat buta terhadap kesucian tauhid. Jelas dan tanpa syak bahwa tak ada satu makhlukpun dapat memberi manfaat dan mudharrat terkecuali dengan izin Allah SWT, lalu mereka mengatakan bahwa makhluk hidup bisa memberi manfaat, dan yang mati mustahil?, lalu dimana kesucian tauhid dalam keimanan mereka?Tak ada perbedaan dari yang hidup dan yang mati dalam memberi manfaat kecuali dengan izin Allah,

Yang hidup tak akan mampu berbuat terkecuali dengan izin Allah, dan yang mati pun bukan mustahil memberi manfaat bila dikehendaki Allah. karena penafian kekuasaan Allah SWT atas orang yang mati adalah kekufuran yang jelas.Ketahuilah bahwa tawassul bukanlah meminta kekuatan orang mati atau yang hidup, tetapi berperantara kepada keshalihan seseorang, atau kedekatan derajatnya kepada Allah SWT, sesekali bukanlah manfaat dari manusia, tetapi dari Allah Robbil alamin, yang telah memilih orang tersebut hingga ia menjadi shalih, hidup atau mati tak membedakan Kudrat ilahi atau membatasi kemampuan Allah, karena ketakwaan mereka dan kedekatan mereka kepada Allah tetap abadi walau mereka telah wafat.Contoh lebih mudah nya sbb, anda ingin melamar pekerjaan, atau mengemis, lalu anda mendatangi seorang saudagar kaya, dan kebetulan mendiang tetangga anda yang telah wafat adalah abdi setianya yang selalu dipuji oleh si saudagar, lalu anda saat melamar pekerjaan atau mungkin mengemis pada saudagar itu, anda berkata : "Berilah saya tuan.. (atau) terimalah lamaran saya tuan, saya mohon.. saya adalah tetangga dekat fulan.

Bukankah ini mengambil manfaat dari orang yang telah mati?, bagaimana dengan pandangan bodoh orang yang mengatakan orang mati tak bisa memberi manfaat??, jelas-jelas saudagar akan sangat menghormati atau menerima lamaran pekerjaan anda, atau memberi anda uang lebih, karena anda menyebut nama orang yang ia cintai, walau sudah wafat, tapi kecintaan si saudagar akan terus selama saudagar itu masih hidup, pun seandainya ia tak memberi,

Namun harapan untuk dikabulkan akan lebih besar, lalu bagaimana dengan Arrahmaan Arrhiim, Yang Maha Pemurah dan Maha Menyantuni? dan tetangga anda yang telah wafat tak bangkit dari kubur dan tak tahu menahu tentang lamaran anda pada si saudagar.


12.
Pengirim: onemiz  - Kota: Bengkalis
Tanggal: 6/3/2014
 
sangat memberi pencerahan,,,trimakasih 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Alhamdulillah

 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2014 Oleh Pejuang Islam