URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
Hari ini: Kamis, 28 Agustus 2014 - Pejuang Islam, melestarikan kemurnian Ahlussunnah wal Jamaah
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Sekilas Profil
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV NU GARIS LURUS
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
GURU PENGAJAR vs GURU PENDIDIK 
  Penulis: Pejuang Islam  [12/8/2014]
   
KEBENARAN ITU SEBUAH KENISCAYAAN 
  Penulis: Pejuang Islam  [9/8/2014]
   
DUNIA YANG RENTA 
  Penulis: Pejuang Islam  [8/8/2014]
   
Luthfi Bashori Surati Kapolda.  
  Penulis: Pejuang Islam  [4/8/2014]
   
KHILAFAH ISLAMIYAH, ISIS...?  
  Penulis: Pejuang Islam  [4/8/2014]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Kamis, 28 Agustus 2014
Pukul:  
Online Sekarang: 12 users
Total Hari Ini: 627 users
Total Pengunjung: 1614086 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
KUBURAN AMBLAS, PERTANDA ALLAH MURKA  
Penulis: Pejuang Islam [ 13/4/2013 ]
 
KUBURAN AMBLAS, PERTANDA ALLAH MURKA

Luthfi Bashori

Seringkali masyarakat Indonesia salah kaprah dalam memahami istilah `wali`. Dalam definisi syariat: Wali adalah kekasih Allah. Seorang wali tidak akan bermaksiat kepada Allah. Seorang wali tidak akan melanggar perintah Allah. Jika ada orang ahli bermaksiat serta gemar melanggar perintah dan larangan Allah, niscaya tidak akan menjadi kekasih Allah. Karena Allah itu, laa yakmurukum bis suu-i wal fakhsyaa-i wal munkari wal baghi (Allah tidak memerintahkan kalian berbuat kejahatan, kekejian, kemunkaran dan kemaksiatan).

Namun, sebagian masyarakat terkadang memaknai `wali` itu sebagai orang sakti yang dapat melakukan apa saja, hingga tampak berperilaku nyeleneh, atau tidak lumrah dilakukan oleh umat Islam pada umumnya. Bahkan terkadang umat salah bersikap, seperti terhadap orang yang melawan syariat Islam pun tiba-tiba dianggap wali dan diyakini kebenaran sepak terjangnya, karena terlanjur mendapat julukan `wali`.

Contohnya, jika ada orang yang berpenampilan agamis, seperti senang menggunakan pakaian islami, dengan aksesoris yang tidak umum dipakai masyarakat, lantas ia melakukan hal-hal yang berlawanan dengan kebiasaan pada umumnya, hingga yang tampak pada dirinya adalah sifat nyeleneh atau tampak aneh, maka dengan serta merta masyarakat akan menyebutnya sebagai `wali`, sekalipun orang itu tidak jelas aqidahnya, asal usulnya, apalagi bagaimana keabsahan ibadahnya.

Konon ada seorang yang terlanjur dikenal sebagai tokoh Islam dan diyakini sebagai seorang `wali`, sekalipun ia tidak pernah shalat fardlu lima waktu, kecuali hanya kadang-kadang saja jika ia anggap penting, demi kelanggengan kedudukannya di mata masyarakat, bahkan banyak perilakunya yang bertentangan dengan syariat Islam.

Antara lain, ia melanggar ayat Alquran secara terang-terangan, pada firman Allah yang artinya:

Dan sesungguhnya Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al-Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir saat mereka mengadakan ritual menyembah tuhan mereka), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka (dalam kemusyrikan). Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik (yang duduk dalam acara ritual orang kafir) dan orang-orang kafir, di dalam Jahannam. (QS. Annisa, 40).

Sang tokoh, justru ikut hadir dalam natalan yang digelar di gereja oleh kaum Nasrani musuh-musuh Allah. Bahkan dalam satu acara, sang tokoh yang diwalikan ini ikut dibaptis oleh pendeta wanita yang datang dari luar negeri. Videonya pun sudah beredar di internet.

Yang lebih runyam, tatkala ia melanggar aqidah tauhid, yaitu melecehkan ayat-ayat Alquran, namun masyarakat masih saja mengagung-agungkannya dan meyakininya sebagai `wali`.

Jika diteliti, ternyata konon, berita kewaliannya itu sengaja dihembuskan oleh media massa demi keuntungan kenaikan oplah secara bisnis dengan mengangkat topik itu.

Adanya peristiwa semacam ini adakalanya karena `wali` imitasi yang bersangkutan, memiliki `keramat gandul`, yaitu lantaran kebesaran nama orang tua, atau kakek moyang atau marganya, lantas dimanfaatkan media massa demi kepentingan bisnisnya.

Misalnya, media kerap kali membuat istilah-istilah baru yang terkesan dibuat-buat, seperti Fulan anak mantan menteri agama, atau Fulan cucu pendiri NU, atau Fulan dari keluarga darah biru, dan seterusnya. Demikianlah salah satu modus media massa dalam memoles seseorang yang banyak bermaksiat kepada Allah berproses menjadi `wali` imitasi di hadapan publik.

Sayangnya, kebanyakan bangsa Indonesia ini masih percaya 100 % terhadap pemberitaan media massa dengan tanpa diteliti ulang atau disaring lagi, maka berita-berita itupun langsung ditelan mentah-mentah, apalagi jika berbau infotaiment.

Termasuk juga berita kewalian seseorang yang dalam kesehariannya tidak bersyariat secara baik dan benar, namun tetap dielu-elukan sebagai seorang wali. Bahkan saat meninggalpun ia tetap diagung-agungkan hingga terkesan dikultuskan.

Keanehan semacam ini benar-benar terjadi. Jika konon di jaman Nabi terdahulu terdapat seorang kaya bernama Qarun yang kekayaannya sangat melimpah ruah, namun ia sangat dhalim terhadap orang lain, serta berani ingkar tehadap agama Allah karena mengikuti ajakan setan. Maka Allah pun murka terhadapnya hingga Allah memerintahkan bumi untuk menelannya.

Maka bumi pun atas ijin Allah, menarik Qarun hingga dirinya amblas terkubur ditelan bumi. Kondisi kuburan Qarun yang amblas itu pertanda dahsyatnya kemurkaan Allah kepadanya, lantaran Qarun sudah menjadi kekasih setan (walinya setan) dan melawan perintah Allah.

Nah, di jaman edan ini, jika ada kuburan seorang tokoh yang amblas, maka oleh keterbalikan logika masyarakat maupun kesalahkaprahan umat Islam kalangan awam dalam memaknai arti wali, justru kuburan yang amblas itu dianggap sebagai kuburan wali keramat, yang perlu untuk diziarahinya.

Padahal, kemurkaan Allah terhadap kemunkaran Qarun yang ditampakkan dengan amblasnya kuburan Qarun itu, adalah sebagai peringatan dari Allah kepada umat manusia. Artinya, jika mereka melanggar perintah dan larangan Allah, maka Allah tidak akan segan-segan mengamblaskan kuburannya.

Nah, peristiwa kuburan amblas di muka bumi ini, tentu karena Allah murka terhadap penghuninya, dan kemungkinan besar karena konon penghuninya tidak mengikuti perintah Allah dan tidak menjauhi larangan-larangan-Nya.

Semoga kuburan kita dan anak cucu kita tidak ada yang amblas, sekalipun hanya sejengkal.
   
 Isikan Komentar Anda
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
 
 
1.
Pengirim: rahman  - Kota: bandung
Tanggal: 14/4/2013
 
ya begitulah "wali nyeleneh" tersebut. bahkan dijadikan alat propaganda bagi aliran paling sesat yaitu JIL.
Tapi ustadz saya ingin bertanya, ciri-ciri seorang wali ALLAH yang asli seperti apa ya? 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
1. Tidak melanggar aqidah islamiyah.

2. Mengamalkan syariat islamiyah.

3. Istiqamah dalam beribadah kepada Allah.

4. Namun, terkadang ada kondisi, di saat Allah mencabut akal pikiran-seorang wali, karena sedang dalam situasi istighraq (tenggelam) dalam mengingat Allah, maka ia pun lupa terhadap kehidupan duniawi, bahkan hingga tidak tahu nilai mata uang, tidak tahu makna pangkat kedudukan dan jabatan politik, atau tidak tahu tentang banyak hal yang sifatnya dunawi semata kecuali dirinya hanya mengingat Allah dan hal-hal yang berkaitan dengan ibadah kepada Allah.

5. Namun, manusia pada umumnya tidak mudah mengenal terhadap hakikat seseorang itu apakah termasuk wali Allah atau bukan, hingga dikatakan: laa ya'riful waliy illal waliy (Tidak mudah mengetahui seorang wali kecuali oleh kalangan para wali itu sendiri).

2.
Pengirim: boy aeMan  - Kota: surabaya
Tanggal: 15/4/2013
 
amiiinnn ya Robb... 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Taqabbalallah minna wa minkum.

3.
Pengirim: Abul Bashar  - Kota: Palangka Raya
Tanggal: 15/4/2013
 
Ternyata dia penerus hikmah si Qarun. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Agar disadari.

4.
Pengirim: m Ali alawi  - Kota: p Bun Kalteng
Tanggal: 15/4/2013
 
Ust stlh sy baca penjelasan Ust sepertinya mengarah Päda Satu org. Dan sepertinya Ust Jg menvonis org tersebut mendapatkan murka Dari Allah . Padahal Kita Jg Gak tahu akhir Dari kehidupan seseorang apakah husnul khatimah atau tidak ? sebelumnya sy ucapkan Trim atas jawabannya.  
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Mengapa Sidi Jenar dihukum mati oleh para Walisong? Karena beliau-beliau itu menerapkan kaedah: Al-islam yahkum bid dhawahir (Islam itu menerapkan hukum secara dhahir).

Karena para Walisongo ini konsisten dengan penerapan syariat yang wajib diamalkan oleh setiap muslim, maka sembilan tokoh Islam penyebar agama di Indonesia itu diangkat menjadi wali kekasih Allah.

Jadi hukumilah sesuatu itu dengan dhahir syariat yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW dan telah dicontohkan oleh Walisongo.

Semoga kuburan kita tidak amblas, walau hanya sejengkal...!

5.
Pengirim: Abduh  - Kota: Bangkalan
Tanggal: 22/4/2013
 
mohon maaf sebelumnya ammi, jika dikait-kaitkan dengan kejadiannya Qarun benar juga sih. Tapi saya minta dalil yang menunjukkan bahwa kuburan yang amblas pertanda bahwa Allah murka pada penghuninya, baik Qur'an atau Hadits. (kuburan salah satu kerabat saya amblas, jadi khawatir saya ammi) 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Selagi semasa hidup tidak banyak melakukan kemaksiatan, khususnya kemaksiatan aqidah seperti ikut natalan di gereja, hobi mengundang Barongsai, ikut komunitas Lintas Agama Muslim-Non Muslim, hingga kawan2nya setianya banyak dari kalangan orang-orang kafir, maka mudah-mudahan diampuni oleh Allah.

6.
Pengirim: imam  - Kota: malang
Tanggal: 24/4/2013
 
kuburam ablas ya karena alam masak dihubungkan Allah murka wes terlalu banyak analisa masih banyak yg lebih penting umat ini yg dibahs masalah kuburan ambalas tdk ada hubungan sama Allah 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Mudah2an kuburan kami dan handai taulan kami tidak amblas. Qarun dan harta bendanya telah amblas dimakan bumi karena Allah murka kepadanya.

7.
Pengirim: Sardi  - Kota: Surabaya
Tanggal: 24/4/2013
 
Yang tahu Wali adalah Wali jadi yang menghakimi seseorang wali atau bukan adalah Hakim Wali 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Benar, bukan media massa atau orang2 awam.

8.
Pengirim: Sari Koncer  - Kota: Gresik
Tanggal: 24/4/2013
 
Zaman sekarang banyak yg ingin menjadi Tuhan salahsatunya manusia yg menulis postingan ini. Ketika ditanya apakah ada dalil al-qur'an dan al-hadits yg valid tentang TANDA MURKANYA ALLOH TERHADAP AMBLASNYA KUBURAN. KENAPA TIDAK BISA MENJAWAB.???

BISANYA CUMA FITNAH. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kalau anda sudah bisa baca Alquran, coba baca surat Alqashas ayat 76. Apa anda juga berharap kelak kuburan anda ikut amblas seperti yang diriwayatkan dalam ayat tersebut.

Semoga kelak kuburan kami dan handai taulan kami tidak amblas.

9.
Pengirim: midi  - Kota: banjarmasin
Tanggal: 24/4/2013
 
berarti mbah wali madzub yg kbanyakan melanggar syariat (dlm pandangan zahir) itu juga dikatakan wali2an??? 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Arti majdzub yaitu maslubul 'aqli (kesadarannya dicabut oleh Allah). Maka orang yang majdzub tidak tahu kehidupan duniawi karena keasyikannya dalam berhubungan dg Allah. Di saat seperti itulah orang madjdzub menjadi rufi'al qalam (amalan dhahirnya tidak dicatat oleh malaikat) seperti juga amalan anak kecil atau orang pikun yang tidak dicatat oleh malaikat, alias tidak terkena peraturan hukum syariat.

Orang majdzub itu tidak memiliki nafsu politik, jabatan, keorganisasian serta nafsu duniawi lainnya. Sekalipun diiming-iming jadi ketua RT, RW, Lurah, Camat, Bupati, Gubernur, Menteri bahkan menjadi Presiden pun tidak ada hasrat sama sekali karena jabatan-jabatan itu hanya martabat duniawi semata.

Jika didapati perilaku orang majdzub itu tampaknya melanggar syariat, maka sesungguhnya beliau itu sedang asyik berkomunikasi dengan Allah sehingga Allah mencabut keterikatan akalnya dengan urusan duniawi yang fana/rusak ini.

Wallahu a'lam.

10.
Pengirim: hery  - Kota: JAKARTA
Tanggal: 29/4/2013
 
tidak semua diartikan scara goib begitu kawan. kalau ternyata keadaan pemakaman pas musim hujan, dan hujan terus menerus, dgn keadaan kontur tanah tertentu, bisa jadi ambles, krn blum padat atau papan penyangga hancur. katakanlah kalau ada tsunami diaceh berarti apakah org2 aceh itu bejat ?????? krn anda sepadankan dgn air bah yg menghukum sebuah kaum dimasa nabi Nuh.anda harus hati2 kawan. mana hukuman dan mana kenyataan geografis. kita berbaik sangka sajalah trhadap sesama muslim. gak usah provokatif. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
ITU SIH KASUSNYA LAIN dan KAJIANNYA JUGA LAIN. Makanya anda baca dulu surat Alqashas ayat 76 agar nyambung dengan artikel kami.

Kebetulan nih .. habis baca artikel menarik untuk anda cermati sbb:

[ppiindia] KH Mas Subadar: Para Kiai NU Kecewa Dengan Gus Dur

faris ahmad Wed, 06 Aug 2008 00:02:13 -0700.

KH Mas Subadar

Pengasuh Pesantren Raudlatul Ulum Besuk Pasuruan

“Kiai NU Kecewa dengan Gus Dur”

Bagi warga nahdliyyin di Jawa Timur nama KH. Mas Subadar cukup disegani. Kiai Subadar adalah tokoh NU Jawa Timur yang bersuara keras agar organisasi Nahdlatul Ulama dibersihkan dari unsur-unsur
Jaringan Islam Liberal (JIL), organisasi yang mendapat donasi asing untuk
menjajakan ‘virus Sepilis’ (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme), yang
mewabah di kalangan anak-anak muda NU.

Kiai Subadar juga tegas menyatakan, perempuan tak diperbolehkan menjadi kepala negara. Ia juga tokoh yang dikenal keras
melawan pemikiran Gus Dur. Ketegasan inilah yang membuat alumunus Pesantren
Lirboyo, Kediri, ini disegani di kalangan massa dan elit nahdliyyin.

Kini di tengah konflik yang terus mendera di partai berbasis massa NU, Kiai Subadar menyuarakan keprihatinannya. Bagaimana
sikapnya menghadapi pemilu 2009 ini dan bagaimana seharusnya warga nahdliyyin
memilih pemimpinnya? Berikut perbincangannya dengan kontributor Al-Mujtama’ Faris Khoirul Anam, yang berlangsung di rumahnya, Besuk, Pasuruan, jawa Timur (24/7):

Bagaimana sikap para Elit NU
mengahadapi Pemilu 2009?

Kalau NU dikaitkan dengan
Pemilu, institusinya jauh tidak ada hubungan. NU adalah organisasi sosial
keagamaan. Pemilu sendiri produk partai politik. Jadi jauh. Kalau nahdhiyyin
atau umatnya, itu lain. Ya paling-paling NU menginstruksikan jangan sampai warga NU ribut, itu sudah
maksimal.

Adapun dengan partai politiknya institusi NU tidak ada kaitannya. Kalau umatnya, ya memang partai politik yang berbasis NU ini banyak. Cuma yang paling dimaui oleh nahdhiyyin di
Indonesia umumnya, dan Jawa Timur khususnya, itu kalau dulu PKB, yang lebih dulu lagi PPP. Kalau hari
ini ada tanda-tanda, PKNU. Kenapa saya katakan begitu? PKB ternyata ikut
langsung Pilgub Jatim, sambutannya kok sangat minim sekali. Calon yang diajukan
PKB perolehan suaranya sangat minim sekali. Ini ada tanda-tanda nahdhiyin sudah tidak seperti dulu pada
PKB. Sekarang menaruh hati pada PKNU. Ya maklum, secara kebetulan para kiai
sepuh se-Jawa Timur ini bisa dibilang 90 persen masuk ke PKNU. Pondok-pondok
besar se Jawa Timur ini 90 persen masuk PKNU. Saya itu paling bisa merasakan ya
dalam (hasil) pilgub Jatim ini. Ini suatu gambaran. Partai terbesar di Jatim,
hanya dapat tujuh persen. Itu sudah merupakan tanda, oh rupanya saat ini sudah kurang diminati oleh warga NU.

Kenapa suara nahdhiyyin tidak mengerucut pada calon dari PKB?

Ya itu dari perjalanan PKB
sendiri. Sampean kan tahu, PKB carut
marut seperti ini. Bukan kesalahan umatnya, tapi kesalahan PKB sendiri. Lha,
siapa yang mau ikut barang yang
carut marut seperti itu.

Achsan (Achmadi-Suhartono, calon PKB dalam pilgub Jatim) kan didukung Gus
Dur, apa ini juga menunjukkan figur Dus Dur juga melemah di kalangan nahdhiyyin
Jatim?

Ya termasuk, tidak seperti dulu lagi. Jadi sepertinya Gus Dur sekarang tidak seperti Gus Dur dulu.

Bedanya?

Ya ini kenyataannya. Pilgub
ini sudah menjadi jawaban. Ya, mungkin perjalannya beliau, membawa partainya
jadi kayak begini menjadikan umatnya tidak karuan lagi. Kalau ada bus selip
yang pertama kali kita salahkan kan supirnya.

Kesalahan supir itu apa saja menurut
kiai?

Ya banyak sekali. Yang jelas,
sampai beberapa kiai sepuh loncat dan bikin partai baru ya kan gara-gara itu
juga. Antara lain, sewenang-wenangnya. Lagi-lagi pembekuan, lagi-lagi pemecatan. Ini kan
sudah nggak enak toh ini.

Selain dalam hal politik, dalam hal
keagamaan?

Ya bagaimana seorang ahlussunnah wal jama’ah kok mendukung Ahmadiyah. Orang Ahlussunnah wal Jama’ah kok senangnya ke Vatikan. Ini kan bagaimana?

Para kiai sudah sering kecewa dengan
pernyataan Gus Dur?

Ya jelas. Siapa tidak kecewa
kalau ada Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) lalu
ditolak. Ini kan suatu pukulan kepada
para kiai-kiai yang ingin menjadikan syariat Islam ini berjalan di bumi
Indonesia. Tidak membuat negara Islam, tapi berjalan di bumi Indonesia.

Apa bisa diterjemahkan, PKNU akan memperjuangkan berjalannya syariat Islam
di bumi Indonesia?

Mestinya begitu. Apa artinya
keluar (dari PKB, red) kalau nggak begitu. Kita tidak membuat negara
Islam. Tapi bagaimana (syariat Islam) melembaga. Kalau bisa nanti waktu puasa
dengan sadar orang itu malu akan buka warung. Kan bagus itu. Hari Jumat malu
tidak shalat Jumat. Seperti hari
raya itu kan melembaga. Semua datang,
semua berduyun-duyun ke masjid. Mudah-mudahan pada akhirnya nanti shalat Jumat seperti itu juga.

Di kalangan nahdhiyyin sekarang, ada yang masih pro Gus Dur?

Mesti. Di dunia ini nggak ada orang yang nggak ada pengikutnya.

Motivasinya?

Ya nggak tahu, tanyakan pada mereka. Kan di dunia ini seperi pasar. Pasar itu
jual apa saja kan laku tho. Mulai yang manis sampai yang pahit kan laku. Mulai
dari yang paling gembuk (lunak, red)
sampai yang atos (keras, red) dijual di pasar laku.

Sebenarnya bagaimana para kiai di Jawa Timur memandang Gus Dur?

Ya jawabannya, sampai ada partai PKNU. Itu cukup menjadi jawaban. Sampai calon Gubernurnya nggak dapat
sambutan. Ya itu jawabannya.
PKB begitu besarnya kok cuma dapat
sekian persen. Itu kan cukup menjadi
suatu gambaran. Pertanyaan sampean
dijawab dua fakta tadi.

Kemarin (Rabu, 23/7) Choirul Anam (Ketua PKNU) menemui Gus Dur, isunya kok mau menggandeng Gus Dur lagi itu gimana kiai?

Menggandeng apa? Menarik Gus
Dur ke PKNU nggak bisa. PKNU bukan
punyanya Anam.

Kiai dengan tegas menolak?

Jelas. Kalau tidak ingin ada
kerusakan dua kali atau nasibnya seperti PKB. Tidak hanya saya saja, semua
kiai. Entah kalau Anam mau ikut PKB-nya Gus Dur, bisa itu, he he he.

Keberadaan Gus Dur di tengah nahdhiyyin, bila disimpulkan, menguntungkan atau justru merugikan?

Saya tidak mengatakan menguntungkan atau merugikan. Yang jelas, partainya tidak bisa mengegolkan
calonnya. Apa untung apa rugi seperti itu?

Sekarang nahdhiyyin punya banyak
pilihan partai, bagaimana para kiai NU menyikapi dan mengarahkan warganya?

Yang jelas 90 persen para kiai
sepuhnya sudah masuk PKNU. Kalau bicara tentang kiai ya langsung dengan
santrinya sekaligus. Kan gitu toh.

Meski Anda sekarang sudah di PKNU, melihat konflik internal di PKB?

Ya kasihan, tetap. Orang sama-sama Islam-nya. Kasihan juga saya.

Atau kapasitas sebagai kiai tidak bisa ikut mendamaikan?

Ada apa saya mengurusi orang
lain. Kalau (konfliknya antar) nahdhiyyin
lain lagi bagi saya. Tapi kalau partai ada apa saya ngurusi partai lain.
Orang partai merangkap kan nggak
boleh. Kalau konfliknya di NU bisa, karena NU bukan partai.

Para kiai sudah banyak mengingatkan
Gus Dur?

Waduh. Sudah terlambat kalau itu ditanyakan sekarang.

Dalam hal apa mungkin bisa dicontohkan?

Mulai dari penyimpangannya dalam PKB, sudah cukup betul peringatan dan saran kiai. Sudah cukup.

Sekarang bisa dikata “putus asa” begitu untuk mengingatkan?

Bukan putus asa. Lha kita sekarang sudah punya urusan sendiri sekarang. Sudah nggak akan ngurusi barang lain sudah.

Dalam hal keagamaan, misalnya Gus Dur membela Ahmadiyah, bagaimana sekarang
alternatif cara mengingatkan Gus Dur?

Pernyataan-pernyataan kiai orang Ahmadiyah itu orang murtad. Jadi Ahmadiyah itu tidak berhak menyandang
gelar Islam. Makanya langsung dalam rukun Islam, murtad Ahmadiyah itu.

Tidak bisa dipungkiri, Gus Dur mengundang pro dan kontra di antara para kiai NU, bagaimana Anda memandangnya?

Prihatin. Kenapa kok ada orang macam gitu.

Tentang fenomena liberalisme yang konon banyak dimotori anak-anak muda NU?

NU itu lahir untuk membentengi
ahlussunnah wal jama’ah. Sedang
semacam JIL itu bertentangan jauh dengan ahlussunnah wal jama’ah. Demikian juga radikalisme juga jauh dengan NU. Jadi yang satu
terlalu ke timur, yang satu terlalu ke barat. Yang satu terlalu ke utara, yang
satu terlalu ke selatan. Sama-sama menyimpang dari NU itu.

Fenomena apa ini?

Karena bodohnya. Kenapa kok nggak tahu ahlussunnah wal jama’ah. Orang NU kok nggak tahu ahlussunnah wal
jama’ah, kan bodoh namanya. Bukan karena pandainya, tapi karena bodohnya.
Bodoh kepada ahlussunnah wal jama’ah.

Mereka alumni-alumni pesantren dan
putra-putra kiai...

Walaupun putranya sahabat Nabi.

Bila dikaitkan dengan Gus Dur, anak-anak muda di JIL sangat mengidolakan
Gus Dur...

Itu terserah. Itu tanyakan
pada mereka, apa yang dimau mereka. Ya dari kebodohannya tentang ahlussunnah
wal jama’ah.

Umat membaca Gus Dur sering membela kepentingan Barat, menjadi anggota
Yayasan Shimon Perez dan sebagainya, dia dimanfaatkan atau sengaja masuk ke
situ?

Tanyakan saja pada orangnya.
Saya nggak tahu apa maksudnya. Yang
jelas itu keliru.

Kapan Kiai terakhir kali kontak dengan Gus Dur?

Lama sudah. Lebih dari dua tahun. Sejak nylentang-nylentang ini.

Dulu KH As’ad Syamsul Arifin Situbondo sempat mufaraqah pada kemimpinan NU
Gus Dur yang dianggap imamnya sudah “kentut”, berarti perlawanan dari dulu
sudah ada?

Ya kalau tidak berbeda pendapat ada apa mufaraqah. Yang jelas itu ada beda pendapat.

Kiai yang tidak mufaraqah, bukan berarti setuju dengan Gus Dur?

Belum tentu. Mungkin ada orang yang ngempet (nahan diri, red).

Anda dulunya termasuk yang ngempet?

Ya. Sebenarnya saya itu punya
sejarah, pernah jauh sekali dengan Gus Dur. Tapi permusuhan dalam mimbar saja.
Itu berlangsung sekitar 15 tahun lamanya. Kemudian akan lahir PKB ini, saya
punya perhitungan, terlalu lama orang NU tidak berpolitik. Sampai saya punya
gagasan, akhirnya saya sadar, karena saking lamanya orang NU dijepit, sehingga
perlu adanya pemimpin. Ketika ssaya mencetuskan itu di depan orang, semua
tertawa. Kenapa ini? orang saya dikenal bermusuhan dengan Gus Dur. Saya
beralasan, insya Allah, kalau partai ini besar, Gus Dur akan nurut sama kiai.
Perhitungan saya seperti itu. Ternyata mula-2 bagus. Perhitungan saya nggak keliru. Dan saya
waktu itu, kalau saya munculkan begini
begini, sehingga Gus Dur sangat dekat ke saya. Saya memang punya keinginan
untuk membesarkan partai baru, PKB ini. Akhirnya sedikit demi sedikit,
sewenang-wenang mencobak-cabik. Akhirnya saya keluar. Saya nggak mau.

Di PKB waktu itu posisi Anda?

Saya selamanya nggak pernah jadi pengurus partai politik. Di PKNU, terpaksa karena untuk mendirikan. Dulu saya akitivis PPP,
nggak pernah jadi pengurus, saya Cuma
jadi pembantu. Di PKB juga seperti itu, jadi pembantu. Oleh Gus Dur disuruh
jadi dewan Syuro, nggak mau saya. Dua
kali saya diminta. Di PKNU terpaksa, karena masuk jadi deklarator 17 kiai itu.
Tapi ya bukan pengurus di lapangan, hanya mustasyar atau penasehat. Yang paling tinggi kan mustasyar, kemudian syuro, baru tanfidz.

Awal mendeklarasikan PKNU ada
komentar khusus dari Gus Dur?

Nggak dengar saya. Cuma yang jelas yang mendirikan PKNU ini dimusuhi. Jelas itu.

Dekat dengan Gus Dur praktis berapa
tahun?

Sejak berdirinya PKB hingga
sehabis MLB di Jogja. Itu mulai. Itu penghabisannya Gus Dur nurut kiai.

Menurut Anda, lebih efektif mana mendakwahi Gus Dur dengan mendekatinya atau seperti sekarang ini?

Saya kalau efektifnya nggak tahu. Yang jelas sudah pernah kumpul kok nggak menguntungkan rasanya.

Kalau jauh seperti ini?

Yang jelas saya nggak diriwuk’i (direpotkan), saya nggak dibawa-bawa. Lebih baik saya membesarkan PKNU ini.

Dulu sempat ada fatwa bughat ketika Gus Dur diturunkan?

Itu lain. Apalagi Gus Dur,
Megawati diturunkan saya fatwa bughat. Padahal saya kan menolak pencalonan
Mega. Haram perempuan mencalonkan presiden, dan memilih presiden perempuan juga haram. Tapi kalau terpaksa jadi harus diikuti. Dalam ajaran Islam seperti itu,
kalau ada pemimpin yang sudah jadi, karena kekuatannya dia dipilih orang
banyak, harus tunduk. Siapa yang akan menurunkannya dosa. Saya bicara, siapa
yang akan menurunkan Mega dosa. Inilah uniknya agama Islam. Hebatnya ajaran
Islam. Jadi Islam itu nggak senang
kisruh. Kalau sudah dipilih orang harus ditaati. Tapi kalau ingin mengajukan,
wanita jangan. Tapi kalau sudah jadi, wajib diikuti.

Meskipun Indonesia tidak menganut Syariat Islam secara institusional?

Iya, pokoknya siapa yang
memimpin negara. Pokoknya jangan negara kafir lho ya, itu siapa yang sudah
ditetapkan menjadi penguasa, haram
diotak-atik. Jangan diturunkan, dosa. Kecuali kalau dia mengajak pada
kekufuran, itu wajib diturunkan. Kalau masih mengajak pada maksiat, nggak boleh diturunkan. Nasihati saja.

Ketika itu tidak ada pembenaran untuk
menurunkan Gus Dur?

Tidak ada, menurut syariat lho ya.

Gus Dur mendapatkan penghargaan dari AS dalam bidang perdamaian, tapi untuk
mendamaikan partainya nggak bisa?

Gus Dur itu katanya tokoh
demokrasi, tapi nyatanya nggak
demokrasi. Itu kan ajaib. Kan
terkenal katanya tokoh demokrasi, tapi dia sendiri nggak demokrasi.
Pembekuan-pembekuan itu kan tidak demokrasi namanya.

Untuk 2009, harapannya untuk warga
NU?

Pertama, supaya mengutamakan
pembelaan terhadap keadilan, kejujuran, dan kebenaran. Kedua, ciptakan bangsa
dan negara ini sejuk, aman, damai, tapi tidak mengurangi dinamisasi. Sejuk tapi
dinamis. Damai tapi dinamis. Ketiga, supaya nanhdhiyyin
ini berpikir betul mana yang cocok dengan ajaran ahlussunnah wal jama’ah.


Biodata:

TTL : Besuk Pasuruan, Agustus 1942

Jabatan : Pengasuh Pesantren Raudlatul Ulum Besuk Pasuruan,
Mustasyar PKNU

Pendidikan : Pesantren Lirboyo Kediri (1959-1962)

Putra : 9 (1 almarhum)
Cucu : 13 orang.

Pendiri pesantren Raudhatul
ulum adalah KH Ali Murtadho, tahun 1881. Penerus kedua ayah saya, KH Badar.
Diganti oleh menantunya, KH Mashadi. Kemudian diganti oleh KH Ahmad Jufri,
mertua saya, adik KH Ali Murtadho. Pengganti KH Ahmad Jufri, saya yang
menantunya yang sekaligus cucu KH Ali Murtadho. Sehingga kemudian saya dikenal dengan nama Muhammad Subadar. Nama saya sendiri Muhammad. Untuk “Mas”, itu
panggilan untuk anak kiai, seperti Gus. Saya juga nggak tahu, siapa dulu waku
mondok yang pertama kali manggil saya Mas Subadar.

11.
Pengirim: aurel  - Kota: mojokerto
Tanggal: 20/12/2013
 
maaf yaa akhii, ana ga sependapat dgn dgn pemikiran thoghut sperti Akhii, dr faktor geologi, jika sebuah tanah gundukan baru diguyur hujan terus menerus slama 3 hari, apa tidak menyebabkan erosi n amblas? jika ga percaya, monggoh akhi bentuk sebuah tanah n akhi terus siram air di atas tanah tsb, apa yg terjadi? maaf banget lhoo ya, yg bisa menentukan azab/nikmat jasad fulan itu hanya Allah, bagaimana jika ana memmetaforakan ketika si fulan meninggal, langit ikut menangisi fulan? atas kehendak allah jg, ga ada yg tahu Akhii, so jangan ngaco ya? percuma jika dikarunai ilmu agama tapi hati masih dipenuhi kebencian n dengki, hanya akan membakar semua kebajikan yg akhii buat, n satu lagi Qarun itu terjadi di masa Nabi Musa as, bukan nabi muhammad saw, mohon agar diteliti biar tidak terjadi pembodohan publik, wassalam 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Yang dinamakan PEMBODOHON PUBLIK itu jika ada Figur yang sering melawan dan menentang Syariat, bahkan kerap melecehkan agama, malah justru 'DIDAPUK' sebagai WALI oleh kalangan media cetak maupun elektronik, sehingga masyarakat awwam pun mengekor media, bahkan nyaris mengkultuskannya.

Salah satu bukti PEMBODOHAN PUBLIK adalah kerjaan media umum yang selalu mengelabuhi umat Islam, dengan cara mencantumkan: Fulan, CUCU pendiri jam'iyyah ini. Di sisi lain, media umum malahan justru tidak pernah menyebut nama KH. Yusuf Hasyim, PUTRA pendiri jam'iyyah ini.

Mana yang lebih berhak, mengangkat kehormatan di level ANAK KANDUNG apa CUCU, padahal hidup satu masa, dan sang Anak adalah tokoh masyarakat?

Tentunya ini hanyalah intrik-intrik semata, sayangnya banyak masyarakat awwam yang tidak mengerti permainan politik semacam ini.

12.
Pengirim: herry  - Kota: jakarta
Tanggal: 26/12/2013
 
Murka Allah terhadap murtadin sudah terbukti. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Semoga Allah melindungi kita dan keluarga kita dari segala mara bahaya di dunia, alam kubur hingga akhirat nanti.

13.
Pengirim: Adi candra  - Kota: Tebing tinggi sumut
Tanggal: 29/12/2013
 
Jadi gmn pula hukumnya kalau kluarga mertua sy byk yg kafir nasrani,tpi kmi tdk putus silaturahmi,kalo kmi lbrn mrk dtg,juga acra kluarg yg lain,bgitu juga kalo mrk thn baruan kmi pasti dtg kruma opung kmi yg nasrani,mertua sy mualaf taat ibadah,di saat kami kumpul sering kali kluarga mertua sy berdoa di adapan kami yg muslim 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kepada orang tua atau mertua yg non muslim maka wajib tetap menghormati dan menuruti perintahnya selagi bukan urusan agama. Namun jika diperintahkan untuk mengikuti ritual agamanya, seperti menghadiri natalan, atau diperintah mengamini doa-doanya, maka wajib menghindar dan menolaknya.

14.
Pengirim: nishfulqolby.blogspot.com  - Kota: Genggong, Pajarakan, Probolinggo
Tanggal: 16/2/2014
 
di desa saya ada kuburan yang amblas karena kayunya emang rapuh, kalau pakek baja/coran kemungkinan besar tidak akan amblas... 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Mudah2an Allah mengampuninya.

15.
Pengirim: thukul bengkring awake  - Kota: jayapura
Tanggal: 23/3/2014
 
apakah benar itu 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Ya

16.
Pengirim: Muhammad Abdul Azis  - Kota: Malang
Tanggal: 11/4/2014
 
Ada sebuah hadits yang kurang lebih artinya demikian "Barang siapa yang takut kepada ALLAH SWT, pasti semua makluk akan takut kepada orang tersebut".

Kemungkinan besar dulu si penghuni kuburan semasa hidupnya di dunia sering menerjang2 larangan ALLAH SWT, lantas bumi (mahluk) pun jadi murka kepada si penghuni kuburan!! 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Ya begitulah kurang lebihnya.

17.
Pengirim: hamba allah  - Kota: jakarta
Tanggal: 14/4/2014
 
Asslkm. wr. wb. pak, bunyi dari ayat al qashash itu "Sesungguhnya Karun termasuk kaum Musa[2], tetapi dia berlaku zalim terhadap mereka[3], dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat[4]. (Ingatlah) ketika kaumnya[5] berkata kepadanya, "Janganlah engkau terlalu bangga[6]. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang membanggakan diri". di ayat ini tidak menjelaskan kuburan amblas pertanda Allah murka, saya juga kurang suka dengan gus dur, tapi untuk kuburan amblas itu kita tidak boleh mengambil kesimpulan pada ayat itu bahwa kuburan amblas itu menjelaskan bahwa pertanda Allah murka, apakah ada firman atau hadist lain yang menjelaskan hal tersebut?
terima kasih
wasslkm. wr. wb. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM


Qarun adalah keponakan Nabi Musa. Ia sungguh kaya. Allah Ta’ala telah memberinya harta yang sangat melimpah. Bahkan kunci-kunci perbendaharaannya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. Ada yang mengatakan bahwa kunci-kunci tersebut terbuat dari kulit yang dibawa oleh enam puluh kuda. Wallahu a’lam.

Meskipun memiliki kekayaan sebanyak itu, Qarun tidaklah bersyukur pada Allah. Bahkan jauh dari itu. Qarun menjadi orang yang sombong dan terlalu berbangga hati.

“Janganlah kamu terlalu bangga,” kata penasehat dari kalangan kaumnya. “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.”

“Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku,” jawab Qarun. Qarun merasa tidak membutuhkan nasehat mereka. Bahkan Qarun bersikeras bahwa dirinya termasuk orang-orang yang disayangi Allah. Menurutnya, itu terbukti dari segala kekayaan yang ada pada dirinya.

Padahal Allah telah menghancurkan umat-umat terdahulu karena dosa dan kesalahan mereka, sementara umat-umat itu lebih kuat dan lebih banyak harta dan keturunannya daripada Qarun. Sekiranya apa yang dikatakan Qarun adalah benar, niscaya Allah tidak menyiksa seorang pun yang lebih banyak hartanya daripada Qarun. Allah Ta’ala berfirman: “Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (Al-Quran Surat Al-Mukminun: 55-56).

Begitulah Qarun yang sombong dan berlebihan. Apabila Qarun keluar dari rumahnya, maka dia akan keluar dengan paras dan dandan yang luar biasa megahnya, yaitu mengenakan pakaian dan kendaraan mewah serta memakai banyak pengawal.

Mereka yang memuja-muja keindahan kehidupan dunia, akan berangan-angan memiliki apa yang dimiliki Qarun. Mereka berkata, “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.”

Sementara para ulama yang memiliki pemahaman yang benar dan perilaku zuhud akan berkata, “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh.”

Suatu waktu, Saat Qarun keluar menemui kaumnya dengan mengenakan perhiasannya, maka ia melintasi Nabi Musa yang tengah menasehati kaumnya.

Nabi Musa bertanya, “Apa yang mendorongmu untuk melakukan hal ini?”

“Wahai Musa, engkau telah diberikan kelebihan berupa kenabian, sedangkan aku telah diberi kelebihan berupa harta kekayaan. Jika kamu mau, silahkan kamu keluar dan berdoa memohonkan keburukan atas diriku atau aku yang akan mendoakan keburukan atas dirimu,” jawab Qarun menantang.

Maka Musa dan Qarun keluar di hadapan kaumnya.

“Siapa yang lebih dulu berdoa, kamu atau aku?” tanya Nabi Musa.

“Aku akan berdoa terlebih dahulu,” jawab Qarun.

Lalu Qarun berdoa keburukan untuk Nabi Musa, namun tidak dikabulkan.

Kemudian Nabi Musa berkata, “Apakah sekarang giliranku berdoa?”

“Ya,” jawab Qarun.

Maka Nabi Musa berdoa, “Ya Allah, perintahkanlah kepada bumi untuk mentaatiku hari ini.”

Maka Allah mewahyukan kepada Nabi Musa, “Sesungguhnya aku telah melakukannya.”

Kemudian Nabi Musa berkata, “Hai bumi, telanlah mereka.”

Pada saat itu, bumi langsung menelan mereka sampai pada mata kaki mereka.”

Kemudian Nabi Musa berkata lagi, “Hal bumi, telanlah mereka.”

Maka bumi langsung menelan mereka sampai pada lutut mereka. Kemudian sampai pada pundaknya. Selanjutnya Nabi Musa berkata, “Ambillah semua simpanan dan harta kekayaan mereka.”

Maka bumi itu langsung menelannya sedang mereka dalam keadaan menyaksikannya. Setelah itu, Musa mengisyaratkan dengan tangannya seraya berkata, “Lenyapkanlah semua Bani Lawa.”

Maka bumi pun langsung menenggelamkan mereka semua. Mereka ditenggelamkan sampai ke bumi lapisan ke tujuh.

Setelah semuanya itu terjadi, maka orang-orang yang pernah berharap dapat menjadi seperti Qarun, langsung menyesal dan bersyukur kepada Allah. “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya. Kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya kepada kita, maka benar-benar Dia telah membenamkan diri kita juga. Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari nikmat Allah.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Ankabut ayat 39-40): “Dan juga Qarun, Fir’aun, dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong di muka bumi. Dan tiadalah mereka orang-orang yang luput dari kehancuran itu. maka masing-masing mereka itu Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur. Dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi. Dan di antara mereka juga ada yang kami tenggelamkan. Dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Sumber: Kisah Para Nabi, Oleh Ibnu Katsir)

 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2014 Oleh Pejuang Islam