URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
Hari ini: Selasa, 2 September 2014 - Pejuang Islam, melestarikan kemurnian Ahlussunnah wal Jamaah
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Sekilas Profil
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV NU GARIS LURUS
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
SINKRETISME MEMBAHAYAKAN AKIDAH ISLAM 
  Penulis: Pejuang Islam  [20/8/2014]
   
AYOO PERBUDAK DUNIA... ! 
  Penulis: Pejuang Islam  [18/8/2014]
   
JENJANG PERKEMBANGAN ANAK 
  Penulis: Pejuang Islam  [16/8/2014]
   
GURU PENGAJAR vs GURU PENDIDIK 
  Penulis: Pejuang Islam  [12/8/2014]
   
KEBENARAN ITU SEBUAH KENISCAYAAN 
  Penulis: Pejuang Islam  [9/8/2014]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Selasa, 2 September 2014
Pukul:  
Online Sekarang: 11 users
Total Hari Ini: 693 users
Total Pengunjung: 1630909 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
DALIL TAHLILAN & AMALAN ASWAJA LAINNYA 
Penulis: Pejuang Islam [ 29/11/2012 ]
 
DALIL TAHLILAN & AMALAN ASWAJA LAINNYA

Luthfi Bashori

Banyak dari para pengunjung yang ingin mendapatkan dalil-dalil bolehnya tahlilan, agar dalam mengamalkannya lebih mantap dan lebih yaqin jika amalan warga Aswaja itu memang benar-benar  sesuai dengan tuntunan syariat mengikuti para ulama salaf Ahlus sunnah wal jamaah. Maka kami nukilkan artikel berikut ini, insyaallah sangat membantu:

Tahlilan, Maulidan, yasinan, kok dianggap Bid`ah, Kenapa, Alasanya, Dalilnya ?

(Temonsoejadi)
 
 
Bismillahirrahmanirrahim.

Kawanku semua yang dirahmati Allah, banyak seakali diantara kita yang membidahkan acara tahlilan dan yasinan, acara tahlilan hari ke 7, 40, 100 dan 1000. padahal tahlilan dan yasinan adalah tuntunan para wali songo, orang yang sangat berjasa besar dalam penyebaran islam di indonesia, dakwah mereka melalui kultural dan budaya, mendekati dari hati ke hati sehingga orang berbondong-bondong masuk islam karena keihlasana hatinya bukan sebuah keterpaksaan. untuk itu yang masih mengganggap itu sesat dan akan masuk neraka, alangkah baiknya kita kaji dimana sesatnya…? dalilnya kuat gak? tafsiranya sesuai gak… sanadnya ada gak?  ato sekedar menafsirkan dan menyomot dalil yang gak jelas. ingat ulama itu pewaris para nabi, ilmu para walisanga jauh lebih tinggi daripada ilmu kita, dan jasa mereka sangat besar , kita pun gak mampu menyamainya? lantas apakah kita serta merta membidahkan apa yang mereka ajarkan? sungguh sombongnya kita, jika demikian…

Mari kita kaji bersama, saya sangat senang berdiskusi… ayo kita berdiskusi, jangan cuma asal ikut sana, ikut sini..  tanpa tahu dari mana asalanya.. sepeti mengikuti gerakan Wahabi yang berkembang di Indonesia yg berasal dari Arab Saudi. Tujuan mereka ingin mengajarkan pemurnian Islam versi mereka, versi mereka lho, bukan mengikuti rosulullah to maghdab 4, sementara ajaran lain dianggap tidak benar dan harus diperangi. aliran Wahabi cukup berbahaya dan mengancam kelangsungan hidup Islam. Sebab aliran ini banyak menjalakan amalan-amalan yang justru tidak sejalan dengan ajaran Islam.

Perlu diingat saja. AL Hafidh adalah Ahli hadits yg hafal lebih dari 100.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya, dan Al Hujjah adalah yg hafal lebih dari 300.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya, sebagaimana Imam Nawawi yg telah melebih derajat Al hujjah sehingga digelari Hujjatul Islam, demikian pula Hujjatul Islam Imam Ghazali, demikian pula Hujjatul Islam Imam Ibn Hajar AL Asqalaniy dan banyak lagi, dan Imam Ahmad bin Hanbal (hambali) ia hafal 1 juta hadits berikut sanad dan hukum matannya, dan ia adalah Murid Imam Syafii, dan ia berkata : “tak kulihat seorangpun lebih menjaga hadits seperti Imam Syafii.

Wahabi itu tak satupun yg sampai jadi ahli hadits.

Mereka juga tak punya sanad, berkata para ahli hadits: “Tiada ilmu tanpa sanad” kita ahlussunnah waljamaah tak mau ilmu yg tak ada sanadnya, kita bicara syariah kita punya sanad, kita bicara tauhid kita punya sanad, kita bicara hadits kita punya sanad kepada para ahli hadits, kita punya sanad kepada Imam Bukhari, kita punya sanad kepada Kutubussittah, kita bicara fiqih madzhab kita punya sanad kepada Imam Imam Madzhab.

Mereka wahabi itu tak punya sanad, hanya nukil nukil dari buku, lalu mengaku sebagai ahli hadits, padahal dalam pendapat para ahli hadits tidak diterima ucapan nukil nukil, mesti ada sanad periwayatnya, menurut para ahli hadits tak bisa kita shalat lihat dari buku, tapi mesti : “aku rukuk melihat si fulan seperti ini ruku’nya, dan aku tahu dia orang terpercaya, aku tahu dia shalih, aku tahu dia berilmu, aku tahu dia tsiqah, aqil,. baligh, dan rasyiid (bisa dipercaya untuk diikuti), dan aku tahu bahwa dia itu ruku’nya mengikuti gurunya, si fulan, yg juga orang mulia, dan gurunya itu rukuk mengikuti gurunya lagi yaitu…., demikian hingga Rasulullah saw.

Dengan cara ini baru ruku kita diterima, kalau tak punya riwayat maka dhoif, omongannya tak didengar, fatwanya tertolak, dan ucapannya tak bisa dijadikan rujukan fatwa, inilah keadaan kita ahlussunnah waljamaah, kita lihat guru kita, bukan nukil dari buku, demikian dalam pelbagai ibadah kita punya guru, berbeda dengan mereka, tak punya guru, hanya nukil nukil dari buku lalu berfatwa, lalu yg lucu, mereka mengaku merekalah madzhab ahlul hadits ,ini seperti orang yg membuka kursus meenjahit padahal ia sendiri tak tahu menjahit itu apa.

Maka berhati-hatilah kawan atas dampak ajaran wahabi yangt berada diindonesia.. yang selalu membidahkan segala aspek maslah… mari kita kaji dulu bersama sebuah kisah menarik bacalah dengan seksama…….

Di sebuah desa di daerah Banyuwangi, terdapat seorang Kyai yang cukup disegani dan memiliki lembaga pendidikan dengan jumlah santri yang cukup banyak, sebut saja Kyai Fulan. Kyai Fulan, tampaknya kurang begitu puas dengan ilmu yang diperoleh dari berbagai pondok pesantren yang pernah ia singgahi waktu muda dulu. Dia mempunyai seorang putra yang ia gadang-gadang menjadi penggantinya kelak jika ia sudah menghadap Sang Pencipta.

Sebagai calon pengganti si Anak -sebut saja Gus Zaid- ia ‘titipkan’ pada lembaga-lembaga pendidikan agama yang dibilang favorit di negeri ini. Dikatakan favorit, karena lembaga ini dikelola dengan manajemen yang rapi, dan moderen, juga ditangani oleh guru-guru yang ‘alim’ lulusan universitas-universitas di Arab Saudi, negara tempat Islam dilahirkan.

Saat Gus Zaid masih dalam penyelesaian pendidikannya di lembaga favorit itu, Kyai Fulan wafat. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Gus Zaid pun diminta pulang oleh keluarganya.

Seperti lazimnya adat kalangan NU, upacara pemakaman Kyai Fulan dilakukan dengan tradisi-tradisi yang indentik dengan kalangan nahdliyin. Ketika Gus Zaid sampai di rumah dan melihat acara pemakaman yang sedang berlangsung, ia kaget dan menahan amarah, karena semua acara yang dilaksanakan dianggapnya bid’ah. Tapi saat ini ia mampu bersabar.

Saat seorang Kyai tetangga yang juga teman Kyai Fulan, –sebut saja Kyai Umar– memberikan sambutan atas nama wakil tuan rumah, ketika jenazah akan diberangkatkan, setelah bicara ini dan itu, ia menyampaikan bahwa nanti malam sampai malam ke-7 kematian Kyai Fulan akan diadakan acara tahlilan setelah maghrib. Mendengar hal itu, Gus Zaid yang semenjak kedatangannya sudah memendam amarah dan kebencian, tanpa ba bi bu, ia langsung menyambar mikrofon dari Kyai Umar dan berkata: “Tidak ada tahlil bagi bapakku malam nanti. Tahlil adalah bid’ah dan doa orang yang masih hidup untuk orang yang telah meninggal dunia tidak sampai, wa an laysa lil insani illa ma sa’a. Sekian terima kasih!”. Lalu ia berikan lagi mikrofon itu kepada Kyai Umar.

Para pelayat tersentak kaget. Kyai Umar hanya tersenyum dan melanjutkan sambutannya. “Benar saudara-saudaraku sekalian, wa an laysa lil insani illa ma sa’a. Karena Gus Zaid sudah mengatakan demikian, maka nanti malam dan seterusnya tahlil tidak diadakan. Sekarang mari kita berdoa semoga Kyai Fulan di siksa dalam Kubur!. Semoga dosa-dosa tidak terampuni, semoga dia menjadi bahan bakar api neraka dan tidak pernah dimasukkan ke dalam Surga!”.

Para pelayat serentak meneriakkan, “Amiiiiin!”.

Gus Zaid: “?????”. “Kok mendoakan begitu untuk bapakku”.

Kyai Umar dengan enteng menjawab: “Kan Allah berfirman, wa an laysa lil insani illa ma sa’a?”.

Gus Zaid: Ya sudah nanti malam tahlilan…..!


Sampainya Do’a Kepada Orang Yg Sudah Meninggal

Fadhilatusy Syaikh asy-Sya’raawi dalam himpunan fatwanya “al-Fatawa” mukasurat 201-202 menyatakan seperti berikut:-

•    Telah disebut oleh asy-Syaikh al-’Adawi rhm. dalam “Masyaariqul Anwaar” bahawasanya:- “Telah sepakat atas sampainya (pahala) sedekah kepada si mati. Tidak ada bezanya sama ada sedekah tersebut dilakukan jauh dari kubur si mati atau dekat. Dan demikian jugalah pada doa dan istighfar.” Dan telah berkata al-Imam al-Qurthubi bahawa telah ijma` sekalian ulama atas sampainya (pahala) sedekah kepada orang-orang mati, dan demikian pula perkataannya pada bacaan al-Quran, doa dan istighfar yang dikuatkannya dengan hadis: ” Dan setiap ma’ruf itu adalah sedekah“. Demikian lagi dikuatkannya dengan hadis Junjungan s.a.w.: ” Orang mati itu di dalam kuburnya seperti orang lemas yang meminta-minta pertolongan. Dia menunggu doa berhubungan dengannya daripada saudaranya atau sahabatnya, maka mendapat doa tersebut adalah lebih baik baginya dari dunia seisinya.” Dan juga dalil atas sampainya pahala tadi ialah hadis Junjungan s.a.w.: “Sesiapa yang melalui perkuburan lalu membaca Suratul Ikhlash 11 kali, kemudian dihadiahkan pahalanya kepada orang-orang mati, dikurniakan pahala baginya sebanyak bilangan orang-orang mati tersebut.” Adalah al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata:- “Apabila kamu memasuki kawasan perkuburan, maka kamu bacalah al-Fatihah dan al-Mu`awwidzatain dan Suratul Ikhlash dan kamu jadikanlah pahala yang sedemikian itu buat ahli kubur tersebut, maka bahawasanya pahala tersebut sampai kepada mereka.”

Tok Syaikh Daud al-Fathani pula dalam “Bughyatuth Thullab” juzuk 2 mukasurat 33 menulis:-

•    (Faedah) Telah datang daripada salaf bahawasanya barangsiapa membaca surah Qul Huwa Allahu Ahad sebelas kali dan dihadiahkan pahalanya bagi ahli kubur , diampun Allah ta`ala dosanya dengan sebilang-bilang orang yang mati di dalam kubur itu dan riwayat yang lain diberi akan dia pahala sebilang orang yang mati padanya.

Sa’ad Azzanjani meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah RA dengan hadits marfu’:

BARANG SIAPA MEMASUKI PEKUBURAN KEMUDIAN MEMBACA FATIHAH,QUL HUWALLOHU AHAD,ALHA KUM ATTAKATSUR KEMUDIAN DIA BERKATA: YA ALLAH AKU MENJADIKAN PAHALA BACAAN KALAMMU INI  UNTUK AHLI KUBUR DARI ORANG-ORANG MU’MIN,MAKA AHLI KUBUR ITU AKAN MENJADI PENOLONGNYA NANTI DI HADAPAN ALLAH SWT…..

Abdul Azizi Shahib Al-kholllal meriwayatkan dengan sanadnya dari Anas dalam hadits  marfu’:

NABI SAW BERSABDA:

BARANGSIAPA YANG MEMASUKI PEKUBURAN KEMUDIAN DIA MEMBACA YASIN, MAKA ALLAH AKAN MERINGANKAN SIKSAAN MEREKA,DAN DIA AKAN MENDAPATKAN PAHALA AHLI KUBUR TERSEBUT…...

Kawanku semua yang baik.
Ada orang yang bertanya kepada habieb lutfi pekalongan. Saya pernah membaca buku yang menyatakan sesatnya tarekat dan mengharamkan membaca sholawat. Saya bingung, bagaimana mungkin sebuah komunitas zikir disebut sesat. Alasannya, tak ada tuntunan Rasulullah. Saya semakin bingung lagi. Pertanyaan saya, begitu sempitkah ajaran Islam itu sehingga semuanya harus mengikuti Rasulullah? Menurut saya, tarekat juga membaca wirid yang diajarkan Rasulullah. Dan menurut sebuah hadist, Allah swt dan malaikat pun bersholawat kepada Rasulullah saw. Hanya karena dikelompokkan dan kemudian berzikir secara bersamaan dalam sebuah kelompok disebut sesat dan bid’ah? Mohon penjelasan, apa batasan bid’ah itu? Apakah juga untuk semua hal, termasuk wirid secara bersama-sama? Terima kasih. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Jabir Ibnu Hayyan

Jawaban habieb:

Islam adalah agama yang universal. Ini dapat dibuktikan dengan keuniversalan Al-Qur’an. Orang yang mempelajari Al-Qur’an atas dasar keuniversalannya justru akan selalu melihat bahwa manusia perlu dimodernisasikan. Untuk itu paling tidak diperlukan dan dibekali ilmu yang cukup dalam mempelajari Al-Qur’an.

Islam itu luwes. Sebab kejadian yang tidak terjadi di zaman Rasulullah bisa saja terjadi di zaman para sahabat. Demikian pula, kejadian yang tidak terjadi di zaman sahabat, bisa terjadi di zaman tabi’in yaitu orang-orang yang hidup pada generasi setelah para sahabat Nabi (saw), dan begitupun seterusnya.

Mestinya para ulama itu dapat memberikan jawaban sesuai dengan generasinya karena adanya sebuah perkembangan zaman. Namun itu bukan berarti bahwa Al-Qur’an tidak bisa menjawab persoalan. Al-Qur’an siap menjawab persoalan sepanjang masa. Tapi siapakah yang sanggup memberi penjelasan jika tanpa dibekali ilmu Al-Qur’an yang cukup.

Misalnya saja, pada zaman Rasulullah, pencangkokan mata, ginjal dan sebagainya belum terjadi. Namun, kemungkinan ilmu-ilmu untuk mencangkok sudah ada. Tapi peristiwa itu secara syariat di zaman Rasul belum ada. Mungkin saja terjadi di suatu zaman, contohnya ada seseorang memerlukan kornea mata, dan ahli medis siap untuk melakukannya sebagai sebuah ikhtiar. Untuk orang yang bersangkutan, apakah ini tidak dibenarkan?

Untuk masalah zikir, siapa yang bilang tidak ada ajaran tentang zikir dari Rasulullah. Misalnya, satu Hadist Qudsi -Hadist yang diyakini sebagai firman Allah, bukan ucapan Nabi (saw)- menyebutkan, diriwayatkan oleh Imam Ali Ridha, “Kalimat La ilaha Illallah itu benteng-Ku. Barang siapa mengucapkan kalimat La ilaha Illallah berarti orang itu masuk ke dalam pengayoman-Ku (dalam benteng-Ku). Dan barang siapa yang masuk ke dalam benteng-Ku, berarti amanlah mereka dari siksa-Ku.” Apakah ini tidak bisa dianggap sebagai tuntunan?

Selanjutnya, mohon maaf, sebelum Anda ikut-ikutan mengatakan bahwa tarekat itu sesuatu yang bid’ah, ada baiknya Anda mempelajari dulu perihal tarekat. Setelah itu melaksanakan ajaran dalam tarekat tersebut dalam kehidupan Anda sehari-hari. Jadi bukan hanya bersumberkan pada pertanyaan tadi. Lebih dari itu, melaksanakan tarekat sesuai ajaran dan kaidah yang ada dalam tarekat. Nanti Anda akan langsung mengetahui, termasuk siapa ulama-ulama itu, tepat atau tidak bila seorang ulama itu telah mengatakannya sebagai bid’ah.

Apakah sejauh itu prasangka kita pada ulama-ulama? Seolah-olah ulama-ulama itu tidak mengerti dosa, dan hanya kita sendiri yang mengerti bid’ah?

Harap diingat, melihat figur jangan sampai dijadikan ukuran. Sebab sebuah figur belum merupakan orang yang alim. Makanya syarat orang yang mengikuti tarekat itu, haruslah mengetahui arkan al-iman (rukun iman) dan Islam. Mengetahui batalnya shalat, rukun shalat, rukun wudhu, batalnya wudhu, dan sebagainya. Juga mengetahui sifat-sifat Allah yang wajib dan yang jaiz, juga tahu sifat para rasul, membedakan barang halal dan haram. Setelah itu baru dipersilahkan mengikuti tarekat. Itulah dasar kita masuk tarekat. Bukan suatu yang bersifat ikut-ikutan. Sedangkan orang yang masuk terkadang tertarik oleh sebuah ritus, termasuk mendekatkan diri pada ulama. Tetapi di dalam dirinya masih ada banyak kekurangan, sehingga apa yang sebenarnya bukan merupakan ajaran sebuah tarekat, terpaksa dilakukan. Seperti, kita menjalankan tarekatnya namun justru meninggalkan yang wajib. Sekali lagi harus diingat, tarekat adalah buah shalat. Bukan sebaliknya.
 
 Kawanku semua yang baik.
Tahlil telah menjadi perdebatan yang sampai sekarang belum belum menacpai kesepakatan. Tanpa ikut berpolemik, sedikit kami urai permasalahan tahlil dan tawassul yang menurut sebagian orang dianggap bid’ah dan syirik.

Arti tahlil secara lafdzi adalah bacaan kalimat Thayyibah (لااله الا الله). Namun kemudian kalimat tahlil menjadi sebuah istilah dari rangkaian bacaan beberapa dzikir, alqur’an dan do’a tertentu yang dibaca untuk mendo’akan orang yang sudah mati. Ketika diucapkan kata-kata tahlil pengertiannya berubah seperti itu.

Tahlil pada mulanya ditradisikan oleh Wali Sanga. Seperti yang telah kita ketahui, yang paling berjasa menyebarkan ajaran Islam di indonesia adalah Wali Sanga. keberhasilan da’wah Wali Sanga ini tidak lepas dari cara dakwahnya yang mengedepankan metode kultural atau budaya. Wali Sanga mengajarkan nilai-nilai Islam secara luwes mereka tidak secara frontal menentang tradisi tradisi hindu yang telah mengakar kuat di masyarakat, namun membiarkan tradisi itu berjalan hanya saja isinya diganti dengan nilai nilai islam, tradisi dulu bila ada orang mati maka sanak famili dan tetangga berkumpul dirumah duka yang dilakukan bukannya mendo’akan simati malah bergadang dengan bermain judi atau mabuk mabukan.

Wali Sanga tidak serta merta membubarkan tradisi tersebut, masyarakat dibiarkan tetap berkumpul namun acaranya diganti dengan mendoakan pada mayit, jadi tahlil dengan pengertian diatas sebelum Wali Sanga tidak dikenal.

1. Kalau begitu Tahlil itu bid’ah! Setiap perbuatan bid’ah sesat ! setiap sesat masuk neraka?
Tunggu dulu, anda berada didepan Komputer ini juga bid’ah sebab tidak pernah di kerjakan oleh nabi S A W kalau begitu anda sesat dan masuk neraka? Akal sesat pasti menolak logika seperti ini. it’s jangan salah menafsirkan bid’ah….

Ulama membagi bid’ah menjadi dua ,bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah , sedangkan bid’ah hasanah sama sekali tidak sesat meskipun tidak pernah dikerjakan oleh nabi jadi ukurannya bukan pernah dikerjakan oleh nabi atau tidak , namun lebih luas dari itu, apakah sesuai dengan syariat atau tidak ! yang dimaksudkan syariat disini tentu saja dalil dalil alquran sunnah ,atsarus shahabah , Ijma’ dan qiyas . jika melakukan sesuatu yang bertentangan dengan dalail dalil tersebut maka sesat.

Sekarang kita lihat apakah dalam tahlil ada yang bertentangan dengan syari’at ? tidak ada, tahlil adalah serangkaian kalimat yang berisi dzikir, bacaan alqur’an, yang disusun untuk sekedar mudah untuk di ingat, biasanya dibaca secara berjemaah yang pahalanya dihadiahkan pada mayit , rangkaian bacaan yang ada mempunyai keutamaan yang mempunyai dasar yang kuat, dari sisi ini jelas tahlil tidak ada yang bertentangan dengan syariat.

Jika yang dipermasalahkan adalah sampai dan tidaknya pahala maka perdebatan tidak akan menemui ujng usai, sebab itu masalah khilafiyah dengan argumen masing masing ada yang mengatakan pahalanya bisa sampai ada yang mengatakan tidak, pendeknya ulama’ sepakat, untuk tidak sepakat  ya sudah jangan dipermasalahkan lagi. itu urusanmu….

Hemat kita urusan pahala adalah hak prerogatif Allah yang tidak bisa di interfensi oleh siapapun. Kita yang membaca tahlil esensinya kan berdo’a semoga pahala bacaan kita disampaikan kepada mayit.

Lepas dari Khilafiyah itu KH Sahal Mahfud, kajen berpendapat bahwa acara tahlilan yang sudah mentradisi hendaknya terus dilestarikan sebagai salah satu budaya yang bernilai islami dalam rangka melaksanakan ibadah sosial sekaligus meningkatkan dzikir kepada Allah.

2. Hukum memberi jamuan dalam tahlilan
Memberi jamuan yang biasa diadakan ketika ada orang mati, itu diperbolehkan. Banyak dari kalangan ulamaa yang mengatakan bahwa semacam itu termasuk ibadah yang terpuji dan , memang, dianjurkan dengan berbagai alasan. Karena hal itu, kalau ditilik dari segi jamuannya adalah termasuk sadaqah”yang, memang, dianjurkan oleh agama menurut kesepakatan ulama’. — yang pahalanya dihadiyahkan pada orang telah mati. Dan lebih dari itu, ada tujuan lain yang ada di balik jamuan tersebut, yaitu,(1) ikramud dlaif (memulyakan tamu) (2) bersabar menghadapi musibah. (3) tidak menampakkan rasa susah dan gelisah kepada orang lain. Ketiga masalah tersebut, semuanaya, termasuk ibadah dan perbuatan taat yang diridlai oleh Allah AWT serta pelakunya akan mendapatkan pahala yang besar.

Dengan catatan biaya jamuan tersebut tidak diambilkan dari harta ahli waris yang berstatus mahjuralaih. Apabila biaya jamuan tersebut diambilakan harta ahli waris yang berstatus mahjuralaih.(seperti anak yatim), maka hukumnya tidak bolehkan.

Nah jika harus jual barang berharga dan segala macemnya gimane,?
Bukan tahlilanya yang salah, cara orang tersebut menyikapi hakekat tahlilan yang harus diluruskan, itulah yang menjadi polemik masyarakat saat ini..

Namun demikian shadakah itu sama sekali tidak mengurangi nilai pahala sedekah yang pahalanya dihadiahkan pada mayit seperti penjelasan diatas. ada beberapa ulama’ seperti Syaikh nawawi syaikh isma’il dan lain lain menyatakan, bersedekah untuk orang yang telah meninggal dunia itu sunnah(matlub). Cuma hal itu tidak boleh disengaja dikaitkan dengan hari hari yang telah mentradisi di suatu komunitas masyarakat. Malah jika acara tersebut dimaksudkan untuk meratapi mayit, maka haram.

Ma`khod : Nihayatuz zain(281) , I`anatut talibin 11/166

والتصدق عن الميت بوجو شرعي مطلوب ولا يتقيد بكونه فى سبعة ايام او اكثر او اقل وتقييد بعض الايام من العوائد فقط كما افتى بذلك السيد احمد دحلان وقد جرت عادة الناس بالتصدق عن الميت فىثالث من موته وفىسابع وفى تمام العشرين وفى الاربعين وفى المائة وبعد ذلك يفعل كل سنة حولا فى يوم الموت كما افاده شيخنا يوسف السنبلاوى اما الطعام الذى يجتمع عليه الناس ليلة دفن الميت المسمى بالوحشة فهو مكروه مالم يكن من مال اليتام والا فيحرم كذافى كشف اللثام
نهاية الزين 33281
ومنها مسألة مهمة ولأجلها كانت هذه الرسالة. وهي ما يصنعه أهل الميت من الوليمة ودعاء الناس اليها للأكل. فان ذلك جائز كما يدل عليه الحديث المذكور بل هو قربة من القرب لأنه اما أن يكون بقصد جصول الأجر والثواب للميت وذلك من أفضل القربات التي تلجق الميت باتفاق. واما أن يكون بقصد اكرام الصيف والتسلي عن المصاب وبعدا عن اطظهار الحزن وذلك أيصا من القربات والطعاب التي يرضاها رب العالمين وثيب فاعلها ثوابها عظيما وسواء كان ذلك يوم الوفات عقب الدفن كما فعلته زوجة الميت المذكورة فى الحديث أو بعد ذلك وفى الحديث نص صريح فى مشروعية ذلك. الى قوله
وهذا كله كما هو ظاهر فيما اذا لم يوص الميت باتخاذ الطعام واطعامه للمعزين الحاضرين والا فيجب ذلك عملا بوصيته وتطون الوصية معتبرة من الثلث أي ثلث تركة الميت قال فى التحفة-ج 3 ص 208.
قرة العين بفتاوى الشيخ اسماعيل الزين 175 -181

Sahabatku yang dirahmati Allah.
Kata “tahlilan “ memang didalam masa rosul tidak ada, tapi apa yang dibaca didalam tahlilan Rosul mencontohkannya, nah inilah tuntunan, istilahnya memang belum ada, tapi isinya sudah dari dulu Rosul menyuruh kita mengerjakannya, itulah karena pandainya para ulama dalam menyusun suatu isitlah (tahlilan) kemudian mengumpulkan bacaan Al Qur’an, Dzikir, Tasbih, Tahmid, Tahlil, Shalawat dan bacaan lainnya. Dengan kata lain mengadakan acara Tahlilan dengan tujuan untuk memohon kepada Allah SWT., agar kerabat atau keluarga yang telah dipanggil kehadirat-Nya mendapatkan ampunan dan tempat yang layak disisi-Nya, serta berbahagia di alam kubur sana.

Lihatlah satu isinya, secara dzahir saja isi daripada tahlilan tersebut sangat baik, karena berisi bacaan-bacaan dari Al Qur’an dan surat-surat yang sudah terkenal tentang fadhilah atau keutamaan surat tersebut, contohnya surat alfatihah..

Diriwayatkan oleh sayyidina Ibnu Abbas dalam kitab Shahih Muslim :

أَبْشِرْ بِنُوْرَيْنِ اُوْتِيْتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِىٌ قَبْلَكَ فَاتِحَةُ الْكِتَابِ وَخَوَاتِيْمُ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا اِلاأَعْطَيْتُهُ [2

“Bergembiralah engkau (Muhammad SAW) dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu dan beleum pernah diterima oleh nabi sebelummu yakni surat Al Fatihah dan beberapa ayat terakhir surat Al Baqarah. Tidaklah kamu membaca satu huruf dari keduanya kecuali engkau akan diberi imbalannya. (Shahih Muslim, 1339)

Selain dari surat Al Fatihah masih banyak lagi surat-surat dalam bacaan tahlil yang terkenal akan fadhilah atau keutamaan surat tersebut, seperti surat Al Ikhlas, Al Falaq, Annas dan juga surat Yasin. Disamping itu tahlilan juga memuat do’a-do’a yang diajarkan oleh Rasulullah,

Dalam hal ini, siapa yang cerdas jawabnya jelas para ulama, yang lebih paham tentang alquran dan hadist, yang karena kecerdasaan ingin memudahkan bagi orang awam agar selalu mengerjakan amalan baik yang dirangkum dalam wadah tahlilan yang isinya semua dicontohkan rosul saw. mulane yuk do ngaji, ngilangke kebodohan, ngerisiki ati, golek ridhane gusti illahi robby..

Dahulu ketika ada salah seorang meninggal dunia, maka yang dilakukan oleh keluarga, kerabat dan para tetangga adalah meratapi si mayit dan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak baik, seperti bermain kartu, judi dan minum-minuman. Setelah para muballegh datang secara berangsur-angsur, kemudian mereka berusaha dengan sabar dan perlahan-lahan diajak membaca atau mengucapkan kalimah thayyibah dan bacaan-bacaan lainnya. apakah ini tidak baik, jelas ini baik sekali, bagaimana jika tradisi meratapi si mayit dan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak baik, seperti bermain kartu, judi dan minum-minuman tidak diganti dengan membaca kalimat thayyibah dan doa2 yang baik ?, bisa dipastikan tradisi buruk itu akan diteruskan sampai generasi sekarang, tak bisa membayangkan..

Apa sih tahlilan itu ?

Kata tahlil atau tahlilan secara bahasa berasal dari bahasa arab dengan fiil madhi هلل ، يهلل ، تهليلا yang artinya mengucapkan kalimah thayyibah لا اله الا الله .  dengan kata lain yaitu “pengakuan seorang hamba yang mengi’tikadkan bahwa tiada tuhan yang wajib di sembah kecuali Allah semata” Sedangkan menurut istilah tahlilan artinya “bersama-sama mengucapkan kalimah thayyibah dan berdo’a bagi orang yang sudah meninggal dunia.

Dalam uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa tahlil adalah bersama-sama melakukan do’a bagi orang yang sudah meninggal dunia yang dilakukan di rumah-rumah, musholla, surau atau majlis-majlis dengan harapan semoga diterima amalnya dan diampuni dosanya oleh Allah SWT. yang sebelumnya diucapkan beberapa kalimah thayyibah, tahmid, tasbih, tahlil dan ayat-ayat suci Al Qur’an.

Indonesia merupakan salah satu Negara yang memiliki bermacam-macam budaya, salah satunya adalah tahlilan. Hal tersebut yang telah dipaparkan oleh almarhum KH. Muchit Muzadi, yang mengatakan petikan hadits, “Waladun Shalihun Yad’u lahu” (anak shaleh yang mendoakan orang tuanya) ini dirangkaikan atau direalisasikan dengan tradisi yang ada di Indonesia. Khususnya di daerah Jawa apabila ada tetangga, kerabat atau saudara yang meninggal dunia, maka para tetangga atau kerabat biasanya “jagongan” (berbincang-bincang). Dengan jagongan itu mereka membicarakan orang, terus “keademen” (kedinginan), mereka cari minuman yang hangat-hangat sambil main kartu dan lain-lain. Tradisi itu berlangsung lama, hingga ketika para mubaligh Islam, Walisongo atau kyai, menerapkan “yad’u lahu” ini dirangkaikan dengan jagongan dan “mele’an” (begadang), yang memang prosesnya lama. Kemudian yang dulunya melean dilakukan dengan minum-minuman dan main kartu kemudian diganti dengan bacaan-bacaan Al Qur’an dan do’a-do’a hingga kemudian muncul apa yang dikenal saat ini dengan istilah tradisi ritual tahlilan

Kecerdasan para mubaligh dan keahlian dalam berdialog dan negosiasi dengan agama dan tradisi lokal. Sehingga Islam mudah diterima di Indonesia dengan baik dan bertahan lama, tidak seperti di sebagian Negara eropa yang perkembangan Islam dilakukan dengan cara peperangan, walaupun hasilnya cepat atau maksimal tapi kekuasaan Islam didaerah tersebut tidak berlangsung lama. Seperti di Spanyol, Turki dan lain-lain

Seringkali terjadi ekses (berlebih-lebihan) di dalam pelaksanaan tahlilan, baik mengenai “frekuensi”-nya maupun suguhannya atau ekses dalam sikap batinnya (seperti merasa sudah pasti amal orang yang ditahlili diterima Allah SWT dan segala dosanya sudah diampuni oleh-Nya, kalau sudah ditahlili atau dihauli). Sikap “memastikan” inilah yang bertentangan dengan syari’at agama. Ekses-ekses inilah yang harus menjadi garapan wajib para pemimpin umat, untuk meluruskannya. Memang masih banyak amalan-amalan kaum muslimin yang belum sesuai benar dengan ajaran Islam. Sedangkan agama Islam sudah sempurna, tetapi dalam kenyataanya kebanyakan pengamalan kaum muslimin tidak sesempurna Islam itu. Maka dari itulah tahlilan sering jadi bahan perdebatan bagi kelompok yang tidak setuju dengan tahlilan ataupun kelompok pembaharu yang sengaja ingin membumi hanguskan acara ritual tahlilan karena dianggap sesat, bid’ah dan tidak mempunyai landasan-landasan yang kuat.

Dalam Artikel karangan Drs. KH. Ahmad Masduqi yang berjudul “Ahlu Sunnah Wal Jama’ah dan Ijtihad” Ritual Tahlilan atau upacara selametan untuk orang yang meninggal, biasanya dilakukan pada hari pertama kematian sampai hari ke-tujuh atau bahasa jawanya mitung dina, selanjutnya dilakukan pada hari ke-40, ke-100, ke-satu tahun pertama, kedua, ketiga dan seterusnya, dan ada juga yang melakukan pada hari 1000. Dalam upacara dihari-hari tersebut, keluarga si mayyit mengundang orang untuk membaca beberapa ayat dan surat Al Qur’an, dan szikir seperti : tahlil, tasbih, tahmid, shalawat dan do’a-do’a, pahala bacaan Al Qur’an dan dzikir tersebut dihadiahkan kepada si mayit. Menurut penyelidikan para ahli, upacara tersebut diadopsi oleh para da’I terdahulu dari upacara kepercayaan animisme, agama budha dan hindu yang kemudian diganti dengan ritual yang diambil dari Al Qur’an dan Hadits.

Menurut kepercayaan Animisme, Hinduisme dan Budhisme bila seseorang meninggal dunia, maka ruhnya akan datang kerumah pada malam hari mengunjungi keluarganya. Jika dalam rumah tadi tidak ada orang ramai yang berkumpul-kumpul mengadakan upacara-upacara sesaji, seperti membakar kemenyan, dan sesaji kepada yang ghaib atau ruh-ruh ghaib, maka ruh orang mati tadi akan marah dan masuk (sumerup) kedalam jasad orang yang masih hidup dari keluarga si mayyit. Maka untuk itu semalaman para tetangga dan kawan-kawan atau masyarakat tidak tidur, membaca mantera-mantera atau sekedar berkumpul-kumpul. Hal seperti itu dilakukan pada malam pertama kematian, selanjutnya malam ketiaga, ketujuh, ke-100, satu tahun, dua tahun dan malam ke-1000. ٍSetelah orang-orang yang mempunyai kepercayaan tersebut masuk islam, mereka tetap melakukan upacara-upacara tersebut. Sebagai langkah awal, para da’I terdahulu tidak memberantasnya tetapi mengalihkan dari upacara yang bersipat Hindu dan Budha itu menjadi upacara yang bernafaskan islam. Sesaji diganti dengan nasi dan lauk-pauk untuk shadaqah. Mantera-mantera diganti dengan dzikir, do’a dan bacaan-bacaan Al Qur’an. Upacara seperti ini kemudian dinamakan Tahlilan yang sekarang telah membudaya pada sebagian besar masyaraka

Sebelum agama Hindu, Budha dan Islam masuk ke Indonesia, kepercayaan yang dianut bangsa Indonesia antara lain adalah paham animisme. Menurut paham ini ruh dari orang-orang yang sudah mati itu sangat menentukan bagi kebahagiaan dan kecelakaan orang-orang yang masih hidup di dunia ini. Disamping itu bangsa-bangsa yang menganut paham Animisme ini juga berkeyakinan bahwa ruh orang yang sedang mengalami kematian itu tidak senang untuk meninggalkan alam dunia ini sendirian tanpa teman, dan ingin mengajak anggota keluarganya yang lain.

Untuk itu agar anggota keluarga yang mati itu tidak mengajak keluarga yang lain, maka anggota keluarga yang ditinggal mati itu melakukan hal-hal yang antara lain sebagai berikut:

1. Menyembelih binatang ternak seperti : kerbau, sapi, kambing, babi atau ayam milik si mayyit, agar nyawa binatang tersebut menemani ruh si mayyit, agar ruh si mayyit tidak marah kepada anggota keluarganya.

2. Setelah tiga hari dari kematian, yaitu saat si mayyit yang sudah ditanam di dalam kubur mulai membengkak, di tempat tidur orang yang mati bagi orang jawa di atas buffet yang telah dipasang fotto dari orang yang mati bagi orang cina, diberikan sesaji agar ruh dari orang yang mati tidak marah, demikian pula pada hari ketujuh, keempat puluh, keseratus, satu tahun, dua tahun dan keseribu dari hari kematian.

3. Bagi orang cina, anggota keluarga yang mati itu diinapkan di rumah duka beberapa hari lamanya dan selama itu papan nama dari rumahnya disilang dengan kertas hitam atau lainya untuk mengenalkan kepada ruh si mayyit bahwa rumahnya adalah yang papan namanya diberi silang. Dan setelah si mayyit dikubur, maka tanda silang tersebut di buang, dengan maksud agar apabila ruh si mayyit tersebut pulang kerumahnya, ruh itu tersesat tidak dapat masuk kedalam rumahnya, sehingga tidak dapat menggangu anggota keluarganya.

4. Bagi orang jawa ada yang menyebarkan beras kuning dan uang logam di depan mayyit sewaktu mayyit dibawa ke pekuburan dengan maksud untuk memberitahukan kepada si mayyit bahwa jalanya dari rumah sampai ke pekuburan adalah yang ada beras kuning dan uang logam. Sehingga jika ruh si mayyit ingin pulang kerumah untuk menggangu anggota keluarganya dia tersesat, sebab beras kuning dan uang logam di jalan yang dilaluinya sudah tidak ada lagi Karena beras kuningnya sudah di makan oleh ayam atau burung, sedang uang sudah diambil oleh anak-anak. Adapula yang mengeluarkan jenazah dari rumah tidak boleh melalui pintu rumah, tetapi harus dibobolkan pagar rumah yang segera ditutup kembali setelah jenazah dibawa ke kubur dan lainnya lagi dengan maksud agar ruh si mayyit tidak dapat lagi kembali ke rumah.

Pada waktu agam Hindu dan Budha masuk di Indonesia, kedua agama ini tidak dapat merubah tradisi yang telah dilakukan oleh bangsa Indonesia yang berpaham animisme tersebut, sehingga tradisi tersebut berlangsung terus sampai saat agama Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh para penganjur Islam yang kemudian terkenal dengan nama Wali Songo.

Pada saat Wali Songo datang, tradisi bangsa Indonesia yang telah berurat berakar setelah ratusan dan bahkan mungkin ribuan tahun lamanya, tidak diberantas, tapi hanya diarahkan dan dibimbing sedemikian rupa, sehingga tidak bertentangan dengan pokok-pokok ajaran Islam.

Dengan demikian ritual Tahlil khususnya yang ada di Indonesia, adalah hasil dari negosiasi antara agama pribumi dengan agama Islam yang datang kemudian, , yang dilakukan oleh para ulama dan wali songo, dan mereka tentunya mengerti akan kondisi bangsa Indonesia. karena manusia dimanapun selalu dipengaruhi oleh lingkunganya.

Cara mudah untuk memahami islam adalah berfikir.
Cobalah engkau berfikri sejenak, isi tahlilan ini, dimana letak tercelanya....

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اّلتَّهْلِيْل
إِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمِ وَأَلِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَأَوْلادِهِ وَذُرِّيَاتِهِ. الفاتحة………..
ثُمَّ إلِىَ حَضْرَةِ إِخْوَانِهِ مِنَ الانبِيَاءِ وَالمُرْسَلِيْنَ وَالاوْلِيَاءِ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابعِيْنَ وَالْعُلَمَاءِ الْعَامِلِيْنَ وَالْمُصَنِّفِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَالْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ خُصُوْصًا سَيِّدِنَا الشَّيْخ عَبْدُالْقَادِرْ الَجَيْلانِى. الفاتحة………………………
ثُمَّ إِلَى جَمِيْعِ أَهْلِ الْقُبُوْرِمِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسلِمَاتِ وَِالمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ مِنْ مَشَارِقِ الارْضِ إلى مَغَارِبِهَا بَرِّهَا وََبَحْرِهَا خُصْوُصًا إلى أبَائِنَا وَأُمَهَاتِنَا وَأَجْدَادِنَا وَجَدَاتِنَا وَمَشِّايَخِنَا وَمَشَايِخِ مَشَايِخِنَا وَأَسَاتِذَاتِنَا وَأَسَاتِذَةِ أَسَاتِذَتِنَا وَلِمَنْ إِجْتِمَعِنَا هَاهُنَا بِسَبَبِهِ. الفاتحة……………………

Dan ada juga yang setelah membaca surat Al Fatihah dilanjutkan dengan membaca Surat Yasin kemudian dilanjutkan dengan surat yang ada dibawah ini.
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4) لأإله إلاالله X 1
لأإلَهَ إلااللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلِلَهِ الْحَمْدُ بِسْمِ اللهِ الْرَّحْمَنِ الْرَّحِيْمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5)
لأإلَهَ إلااللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلِلَهِ الْحَمْدُ بِسْمِ اللهِ الْرَّحْمَنِ الْرَّحِيْمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6)
لأإلَهَ إلااللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلِلَهِ الْحَمْدُ بِسْمِ اللهِ الْرَّحْمَنِ الْرَّحِيْمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (1) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (2) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (3) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (4) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (5) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ (6) غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)
الم (1) ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3) وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآَخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (4) أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (5) وَإِلَهُكُمْ إِلَهُ وَّاحِدْ, لَااِلَهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمَنِ الْرَّحِيْمِ
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ (255) لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (284) آَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آَمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (285) لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (286)
إِرْحَمْنَا يَاأَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهَ عَلَيْكُم أهْلَ الْبَيْتِ إنَّهُ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. إنَمَا يُرِيْدُ اللهِ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهَّرُكُمْ تَطْهِيْرَا.إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (56)اَللَّهُمَّ صَلِّى أَفْضَلَ الصَلَاةِ عَلَى أَسْعَدِ مَخْلُوقَاتِكَ نُوْرِ الْهُدَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. عَدَدَ مَعْلُوْمَاتِكَ وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ كُلَّمَا ذَكَرَكَ الذَّاكِرُوْنَ. وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِكَ الْغاَفِلُوْنَ . اَللَّهُمَّ صَلىِّ اَفْضَلَ الصَّلَاةِ عَلَى أَسْعَدِ مَخْلُوْقَاتِكَ شَمْسِ الضُّحَى سَيِّدِنَا وَمَوْلانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَدَدَمَعْلُوْمَاتِكَ وَمِدَادَكَلِمَاتِكَ كُلَّمَا ذَكَرَكَ الذَاكِرُوْنَ. وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِكَ الْغَافِلُوْنَ اَللهَّمَ صَلِّى أَفْضَلَ الصَّلَاةِ عَلَى أَسْعَدِ مَخْلُوْقَاتِكَ بَدْرِ الدُّجَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَدَدَ مَعْلُوْمَاتِكَ وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ كُلَّمَا ذَكَرَكَ الذَاكِرُوْنَ . وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِكَ الْغَافِلُوْنَ . وَسَلَِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَعََالىَ عَنْ سَادَاتِنَا أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ . حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الوَكيِلْ. نِعْمَ الَموْلَى وَنِعْمَ النَّصِير. وَلَاحَوْلَ وَلَاقُوَّةَ إلابِاللهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ . أَسْتَغْفِرُاللهَ العَظِيْمِ .3X
أَفْضَلُ الذِكْرِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ :
لاإله إلاألله ……..حَيٌّ مَوْجُوْد
لاإله إلاألله ……..حَيٌّ مَعْبُوْد
لاإله إلاألله ……..حَيٌّ باَق
لاإله إلاألله ….. X 100
لاإله إلاألله محمد رسولالله
أللهم صلى على سيدنا محمد, أللهم صلى عليه وسلم X 3
أللهم صلى على سيدنا محمد يارب صل عليه وسلم X1
سبحان الله وبحمده . سبحان الله العظيم …….. X7
سبحان الله وبحمده . سبحان الله العظيم وبحمده ….. X3. أللهم صل على حبيبك سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم ……… X 3
. أللهم صل على حبيبك سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وبرك وسلم أجمعين . الفاتحة ………….
دعا الفاتحة
بِسْمِ اللهَِ الرَحْمَنِ الرَحيْمِ الَحَمْدُ لِلَهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ . اَلَّلهُمَّ صَلِّى عَلَى سَيِّدِنّا مُحَمَّدٍ فِي الاَوَّلِيْنَ . وَصَلِّ وَسَلِّم عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِي الاَخِرِيْنَ. . وَصَلِّ وَسَلِّم عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِي المَلَاءاِلاَعْلَى إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ . اَللَّهُمَّ اجْعَلْ وَاَوْصِلْ ثَوَابَ مَاقَرَأْنَاهُ مِنَ القُرْأَنِ العَظِيْمِ . وَمَا قُلْنَا مِنْ قَوْلِ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَمَا سَبَّحْنَاهُ وَبِحَمْدِهِ . وَمَا صَلَّيْنَاُه عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم فِى هَذَا المَجْلِسِ المُبَارَك , هَدِيَّةً وَاصِلَةً , وَرَحْمَةً نَازِلَةً , وَبَرَكَةََ شَامِلَةً , وَصَدَقَةً مُتَقَبَّلَةً , نُقَدِّمَ ذَلِكَ وَنُهْدِيْهِ اِلَى حَضْرَةِ سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِيْنَا وَقُرَّةِ أَعْيُنِنَا مُحَمَّدٍ صَلَى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . ثُمَّ إِلَى أَرْوَاحِ أَبَائِهِ وَإِخْوَانِهِ مِنَ الاَنِبيَاءِ وَالمُرْسَلِيْنَ . صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَمُهَُ عَلَيْهِ وَعَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ .وَإِلَى رُوْحِ أَلِ كُلِّ وَالصَحَابَةِ وَالقَرَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَّابِعِ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَاِن إِلَى يَوْمِ الدَّيْنِ . ثُمَّ إِلَى جَمِيْعِ أَهْلِ القُبُوَْرِ مِنَ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمًؤْمِنَاتِ الاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالَامْوَاتِ مِنْ مَشَارِقِ الاَرْضِ إِلَى مَغَارِبِهَابَرِّهَا وَبَحْرِهَا خُصُوصًا إِلَى أَبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَأَسَاتِذَتِنَا وَأَسَاتِذَةِ أَسَاتِذَتِنَا وَلِمَنِ اجْتَمَعْنَا هَاهُنَا بِسَبَبِهِ وَلِاَجْلِهِ اَللَّهُمَّ اغْفِرْلَهُ (لها / لهم ) وَارْحَمْهُ (لها / لهم ) وَعَافِهِ (لها/ لهم ) وَعْفُ عَنْهُ (لها / لهم ) وَوَالِدِيْنَا وَوَالِدِيْهِمْ وَأُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ . اَللَّهُمَّ اجْبُرْانكِسَارَنَا وَاقْبَلِ اعتِذَارَنَا واَخْتِمْ باِلصَّالِحَاتِ أَعْمَالَنَا وَعَلَى الاِيْمَانِ وَالاِسْلَامِ جَمِيْعًا تَوَفنَّاَ . وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا . وَلَاتُخَيِّبْنَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ . وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ . سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمِّا يَصِفُوْنَ . وَسَلَامٌ عَلَى المُْرسَلِيْنَ وَ الْحَمْدُ لِلَهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ . الفاتحة…………………

Dalam uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa tahlil adalah perkara yang baik (khair) bukan perkara yang buruk (sayyiah) karena berisikan shalawat, tasbih, tahmid, tahlil dan do’a-do’a yang bagus serta tahlil juga bisa melatih lisan untuk selalu berdzikir kepada Allah

Beberapa keutamaan tahlilan yang populer

1. Surat Al Fatihah

روى مسلم في (صحيحه) سنده, عن ابن عباس رضى الله عنهما قال: بينما جبريل قاعد عند النبي صلى الله عليه وسلم سمع نقيضا من فرقه , فرفع رأسه فقال : ((هذا باب من السماء فتح اليوم لم يفتح قط الا اليوم . فنزل منه ملك فقال: هذا ملك نزل الى الارض لم ينزل قط الا اليوم . فسلم وقال: أبشر بنورين أوتتهما لم يؤتهما نبي قبلك , فاتحة الكتاب وخواتيم سورة البقرة . لن تقرأ بحرف منهما الا أعطيتها)).[52]

“Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata, ketika Malaikat Jibril duduk bersama Nabi SAW, beliau mendengae suara pintu terbuka dari atasnya. Kemudian Nabi SAW menengadahkan kepala. Malikat Jibril AS lalu berkata, pada hari ini pintu langit dibuka dan belum pernah dibuka sebelumnya. Malaikat turun kebumi yang tidak pernah turun kecuali hari ini. Ia kemudian mengucapakan salam kepana Nabi SAW seraya berkata, bergembiralah engakau (Muhammad SAW) dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu dan belum pernah diterima oelh Nabi sebelumnya, yakni surat Al Fatehah dan beberapa ayat terakhir Surat Al Baqarah. Tidaklah kamu membaca satu huruf dari keduanya kecuali engkau akan diberi imbalanya.”

وروى البخري في (صحيحه) بسنده, عن أبي سعيد ابن المعلى رضي الله عنه قال : كنت أصلى, فدعانى النبي صلى الله عليه وسلم فلم أجبه,
 قلت: يارسول الله إني كنت أصلى, قال : ألم يقل الله (استجيبوا لله وللرسول إذا دعاكم) ثم قال : الا أعلمك أعظم سورة في القرأن قبل أن تخرج من المسجد. فأخذ بيذي, فلما أردنا أن تخرج قلت: يا رسول الله . إنك قلت :لأعلمنك أعلم سورة في القرأن , قال: (الحمد لله رب العالمين) هي السبع المثاني والقرأن العظيم اللذي أوتيته)[54]

“Diriwayatkan dari Abi Sa’id Bin Ma’ali RA, ia berkata, ketika saya sedang shalat, kemudian Nabi SAW memanggil saya kemudian saya tidak menemui Nabi, kemudian saya berkata, ya Rasulallah sesungguhnya saya telah melakukan shalat, kemudian Nabi berkata, bukankah Allah telah berfirman “Istajibu lillahi Wa lirrosuli ida dakum” kemudian Nabi Berkata, maukah kamu saya ajarkan surat yang agung yang ada dalam Al Qur’an sebelum kamu keluar dari masjid”, sambil memegangi tanganku. Kemudian ketika saya hendak keluar maka saya berkata kepada rosul bahwa engakau mau mengajarkan surat kepada saya, maka rasul menjawab, yaitu “Al Hamdu lillahi Rabbil Alamin”. Dia adalah tuju ayat yang diulang-ulang dan juga Al Qur’an yang paling agung yang diberikan kepadaku”.

2.    Surat Al Ikhlas

روى البخرى فى (صحيحه) بسنده عن أبى سعيد الخذرى رضي الله عنه أن رجلا سمع رجلا يقرأ : (قل هو الله أحد) يرددها فلما أصبح جاء إلى النبي صلى الله عليه وسلم فذكر له ذلك وكأن الرجل يتقالها . فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم (والذي نفسي بيده إنها لتعدل ثلث القرأن)[55]

“Ada seorang laki-laki mendengar seseoarang laki-laki lain yang sedang membaca surat Al Ikhlas dengan berulang-ulang, tatkala pagi hari, laki yang mendengar itu mendatangi rosul dan menyebutkan demikian seakan-akan laki-laki tersebut menganggap remeh terhadap surat Al Ikhlas maka Rasul menjawab Demi Dzat yang jiwaku dalam kekuasaanya, sesungguhnya Al Ikhlas dapat membandingi sepertiga Al Qur’an.”

3. Surat Al Falaq dan Surat An Nas

وروي الترمذي بسنده عن عقبه بن عامر الجهنى رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (قد أنزل علي أيات لم ير مثلهن : قل أعوذ برب الناس. إلى أخر السورة . و قل أعوذ برب الفلق. إلى أخر السورة)[56]

“Imam At Tirmidzi meriwayatkan dengan sanadnya dari Uqbah Bin Amir Al Juhni RA. dari Nabi SAW. Nabi bersabda : Sesungguhnya Allah telah menurunkan kepadaku beberapa Ayat yang Nabi belum melihat yang menyerupainya (yang menyamainya ) yaitu: Surat Annas dan Surat Al Falaq”.

4. Bacaan Laa Ilaaha Il lallah

Pada sub bab pembahasan isi, bacaan Tahlil sudah sedikit disinggung tentang keutamaan kalimah Thayyibah, bahwa kalimat tersebut adalah sebaik baiknya dzikir seperti yang diriwayatkan oleh Shahbat Jabir Bin Abdillah. Selain dari pada keutamaan tersebut, Kalimah Thayyibah juga memiliki keutamaan yang lain diantaranya; Hadis yang diriwayatkan oleh shahabat Abu Hurairah ra.

وروى الترمذي بسنده عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَا قَالَ عَبْدٌ لا إله إلا الله قَطٌّ مُْحلِصًا إلا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ حَتَّى تُفْضِي إلى العرشِ مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرَ. [57]

“Tidaklah seorang hamba mengucapkan Laa Ilaa Ha Illallah dengan penuh keikhlasan melainkan akan dibukakan baginya pintu-pintu langit sehingga Laa Ilaa Ha Illallah dilaporkan keatas selama ia menjauhi dosa-dosa besar.”

Masih banyak lagi keutaman daripada kalimah Thayyibah tersebut.

Dalil alquran dan hadist

DALIL DARI ALQURAN

Seperti yang tersebut didalam Al Qur’an:

1. Qs. Muhammad 19

وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

“dan mohonlah ampunnan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.”[66]

Dari ayat tersebut menerangkan bahwa orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan mendapatkan manfaat dari istighfar orang mukmin lainnya.

2. Qs. Al Nuh 28

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا تَبَارًا

“Ya tuhanku ampunilah aku. Ibu bapakku, orang yang masuk kerumahku dengan beriman, serta semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zhalim itu selain kebinasaan.”[67]

3. Qs. Ibrohim 40-41

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ (40) رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ (41)

“Ya tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya tuhan kami, perkenankanlah do’aku . Ya tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab.”[68]

4. Qs. Al Hasyr 10

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan anshar), mereka berdo’a, ya tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya tuhan kami, sesungguhnya Engkau MahaPenyantun lagi Maha Penyayang.”[69]

5. Qs. At Tur 21

وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“dan orang-orang yang beriman, serta anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap mausia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”[70]

Mengenai ayat ini Syekh ‘Alauddin Ali Bin Muhammad Bin Ibrahim Al Baghdadi memberikan penjelasan sebagai berikut:

“kami menyamakan anak-anak mereka yang kecil dan yang dewasa dengan keimanan orang tua mereka. Yang dewasa dengan keimanan mereka sendiri, sementara yang kecil dengan keimanan orang tuanya. Keislaman seorang anak yang masih kecil diikutkan pada salah satu dari kedua orang tuanya. (kami menyamakan kepada mereka keturunan mereka) artinya menyamakan orang-orang mukmin di surga sesuai dengan derajat orang tua mereka, meskipun amal-amal mereka tidak sesuai dengan derajat orang tua mereka, meskipun amal-amal mereka tidak sampai pada derajat amal orang tua mereka. Hal itu sebagai penghormatan kepada orang tua mereka agar mereka senang. Keterangan ini diriwayatkan dari Ibn Abbas ra.”[71]

6. Al-Baqarah : 186

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“dan apabila hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memnuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran .“[72]

Beberapa ayat dan keterangan tersebut menjadi bukti nyata bahwa orang yang beriman tidak hanya memperoleh pahala dari perbuatannya sendiri. Mereka juga dapat merasakan manfaat amaliyah orang lain.

DALIL DARI HADIST

Selain dalil dari Al Qur’an yang menerangkan bahwa, orang yang sudah meninggal dunia dapat merasakan manfaat amaliyah orang lain, dalam hadispun tedapat keterangan yang menyatakan hal tersebut. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Shahabat Abu Hurairah ra.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِذَا صَلَّيْتُمْ عَلَى الْمَيِّتِ فَأَخْلِصُوْا لَهُ الدُّعَاَء (سنن الترمذى رقم 2784)

“Dari Abu Hurairah RA, Aku mendengar Rosulullah SAW bersabda, Jika kamu semua menshalati mayit, maka berdo’alah dengan ikhlas untuknya. (Sunan Al Tirmidzi, 2784)”[73]
Hadist tersebut secara jelas menerangkan bahwa Rosulullah SAW memerintahkan kepada umat islam untuk mendo’akan orang yang sudah meninggal dunia dengan tulus ikhlas. Hal ini berarti bahwa do’a yang dibaca dengan ikhlas dapat bermanfaat bagi mayit yang dimaksud. Juga hadits lain menerangkan bahwa Rosul pernah mendo’akan orang yang sudah mati seperti hadits yang diriwayatkan oleh Auf bin Malik ra.

عَنْ عَوْفٍ بْنٍ مَالِكِ رَضِيَ اللهُ عَنْهَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلًّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى جَنَازَةٍ فَحَفِظْتُ مِنْ دُعَائِهِ وَهُوَ يَقُوْلُ اَللَّهُمَّ اغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَاَكْرِمْ نُرُلَهُ وَوَسِعْ مَدْخَلَهُ وَاَغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالْثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْاَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ وَاَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَاَهْلًا خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةًَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ (صحيح مسلم, رقم ..16)

“Diriwayatkan dari Auf bin Malik RA, ia berkata, Rasulullah SAW pernah menshalati jenazah dan saya hafal do’a Rasulullah SAW tersebut. Do’a yang beliau baca adalah, Ya Allah, ampunillah dosanya, kasihanilah dia, selamatkanlah dan maafkanlah dia. Ya Allah, baguskanlah tempat kembalinya, luaskanlah kediamanya, bersihkanlah ia dengan air dan embun, bersihkanlah ia dari dosa-dosanya, sebagaimana Engkau membersihkan baju putih nan suci dari kotoran. Berilah ia rumah yang lebih bagus, karuniakanlah isteri yang lebih baik dari isterinya (ketika di dunia), masukanlah ia kedalam surga, dan selamatkanlah ia dari siksa kubur dan siksa api neraka.”[74]

Hadits tersebut menerangkan bahwa Rasulullah SAW pernah mendo’akan orang yang sudah mati dan memohon agar dosanya diampuni. Maka semakin jelaslah orang yang sudah meninggal dunia dapat memperoleh manfaat dari amal orang-orang yang masih hidup.

اَنَّ عَائِسَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا سَأَلَتِ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ أَقُوْلُ إِذَا اسْتَغْفَرْتُ لِاَهْلِ الْقُبُوْرِقَالَ قُوْلِى اَلسَّلَامُ عَلَى أَهْلِ الْدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ وَإنَّا إنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُوْنَ (صحيح مسلم, رقم 1619)

“Sesungguhnya ‘Aisyah RA bertanya kepada Rasulullah SAW, apa yang harus dibaca ketika kami memohon ampun bagi ahli kubur? Rasulullah SAW menjawab, Ucapkanlah, Salam sejahtera atas engkau semua wahai ahli kubur dari golongan mukminin dan muslimin, semoga Allah SWT melimpahkan Rahmat-Nya bagi orang-orang yang mendahului serta orang-orang yang datang kemudian dari kami. Dan Insya Allah kami akan menyusul kalian.”[75]

Hadits diatas menerangkan bahwa Rasulullah menganjurkan untuk ziarah kubur dan mengucapkan salam kepada ahli kubur serta mendo’akannya dan ada juga hadits yang menerangkan bahwa Rasulullah SAW sering ziarah kemaqam baqi’. Bisa dipahami dari penjelasan tersebut, bahwa ahli kubur dapat mendengar salam dari orang yang mengucapkan salam kepada ahli kubur tersebut dan memperoleh manfaat dari do’a tersebut.

عن عثمان بن عفان رضي الله عنه قال كان النبي صلى الله عليه وسلم إذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ اِسْتَغْفِرُوا لاَخِيْكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالْتَّثْبِيْتِ فَاِءنَّهُ الآنَ يُسْأَلُ (سنن ابي داود, رقم 2804 )

“Dari Usman bin Affan, ia berkata jika Nabi Muhammad SAW selesai menguburkan jenazah, beliau berdiri didekat kubur lalu bersabda, hendaklah kamu sekalian memintakan ampunan bagi saudaramu (yang meninggal ini) baginya karena saat ini dia sedang ditanya oleh malaikat.”[76]

عَنْ عَائِسَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ رَجُلا أَتَى النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ أُمِّىْ أُفْتُلِتَتْ َنفْسُهَا وَلَمْ تُوْصِ وَأَظَنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ أَفَلَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا ؟ قَالَ نَعَمْ (صحيح مسلم , رقم 1672 )

“Dari ‘Aisyah RA, seseorang laki-laki bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, Ibu saya meninggal dunia secara mendadak dan tidak sempat berwasiat. Saya menduga seandenya dia dapat berwasiat, tentu ia akan bersedekah. Apakah ia akan mendapat pahala jika saya bersedekah atas namanya ? Nabi Muhammad SAW menjawab, “Ya”.”[77]

عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَبْرَيْنِ فَقَالَ إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيْرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لا يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ وَأَمَّا الاخَرُ فَكَانَ يَمْشِى بِالنَّمِيْمَةِ ثُمَّ أَخَذَ جَرِيْدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةٍ , قَالُوا يَا رَسُولُ الله لِمَ فَعَلْتَ هَذَا ؟ قَالَ لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَالَمْ يَيْبَسَا (صحيح البخارى, رقم 209)

“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, ia berkata, suatu hari Nabi SAW berjalan melewati dua pemakaman. Kemudian beliau bersabda, kedua orang yang berada dalam kuburan ini sekarang sedang disiksa. Namun keduanya disiksa bukan karena dosa besar. Yang satu disiksa karena ia kencing dan tidak menutup auratnya. Dan yang lain disiksa karena suka mengadu domba. Lalu Nabi SAW mengambil pelapah kurma dan membelahnya menjadi dua, kemudian menancapkanya diatas kubur masing-masing. Para shahabat bertanya, mengapa engkau melakukan hal tersebut ? Nabi SAW menjawab, semoga keduanya mendapatkan keringanan siksa selama pelepah kurma ini belum kering.”[78]

عَنْ مَعْقِلٍ بْنِ يَسَارٍ أَنَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَيس قَلْبُ اٍلقُرْأَنِ لا يَقْرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيْدُ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَالدَّارَ الاخِيْرَةَ إلا غُفِرَ لَهُ وَاقْرَؤُهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ (مسند احمد بن حنبل , رقم 1941 )

“Diriwayatkan dari Ma’kil bin Yasar RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, surat yasin adalah intisari Al Qur’an. Tidaklah seseorang membacanya dengan mengharap rahmat Allah SWT kecuali Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya. Maka bacalah surat Yasin atas orang-orang yang telah meninggal diantara kamu sekalian.”[79]

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ . قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ دَخَلَ الْمَقَابِرَ ثُمَّ قَرَأَ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدْ وَأِلَهُكُمُ الْتَكَاثُرُ ثُمَّ قَالَ إِنِّي جَعَلْتُ ثَوَابَ مَا قَرَأْتُ مِنْ كَلَامِكَ لاَهْلِ الْمَقَابِرِ مِنَ اْلمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ كَانُوْا شُفَعَاءَ لَهُ إِلَى اللهِ تَعَالَى (أخرجه أبو القاسم الزنجاني , حول خصائص القرأن : 46

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, barang siapa memasuki pemakaman lalu membaca sura Al Fatihah, Al Ikhlas dan At Takatsur, lalu berdo’a, Aku hadiahkan bacaan yang aku baca dari firman-Mu untuk semua Ahli Qubur dari kalangan mukmiin dan mukminat, maka semua ahli qubur itu akan memberikan syafa’at (pertolongan) kepada orang yang membaca surat tersebut.”[80]

كَانَتِ الاَنْصَارُ إِذَا مَاتَ لَهُمُ الْمَيِّتُ اخْتَلَفُوْا عَلَى قَبْرِهِ يَقْرَؤُنَ عِنْدَهُ الْقُرْأَنَ (الروح: 11 )

“Jika ada shahabat dikalangan Anshar meninggal dunia, mereka berkumpul di depan kuburnya sambil membaca Al Qur’an.”[81]

Demikianlah beberapa Hadits yang bisa Disebutkan dalam penulisan risalah ini, tentunya masih banyak sekali dalil-dalil dari hadits yang menjelaskan bahwa amaliyah orang yang masih hidup dapat bermanfaat bagi orang yang sudah meninggal dunia, dan dengan disebutkannya beberapa dalil dari hadits yang tersebut diatas penulis berharap bagi para pembaca ketika melakukan ritual tahlil tidak lagi mersa bimbang dan khawatir kalau-kalau perbuatan tersebut sia-sia.

sungguh hanya orang-orang yang paham mendalam alquran dan hadist sajalah yang bisa demikian, itulah hebatnya para ulama, maka telitilah kawan, kajilah, maka engkau kan dapatkan kebenaran-kebenaran.. jangan gunakan nafsumu, maupun kebodohan-kebodohanmu…

Beberpa pendapat tentang tahlilan

1. Pendapat Almarhum KH. Muchit Muzadi dalam artikelnya yang berjudul “Tidak Mungkin Agama Terlepas dari Tradisi Lokal” yang termuat dalam majalah Afkar sebagai berikut: “bagaimana sebenarnya pandangan Nahdlatul Ulama terhadap tradisi local ? NU termasuk organisasi Islam yang bisa menerima tradisi lokal. Bahkan bisa dikatakan lebih bisa menerima tradisi lokal ketimbang beberapa organisasi islam yang lain. “Agama apa sih yang bisa diterapkan tanpa pengaruh dan percampuran dengan tradisi lokal ? itu tidak mungkin. Karena agama itu untuk manusia dan manusia dimanapun selalu dipengaruhi oleh lingkungannya”.Dengan dicontohkan “waladun shalihun ya’du lahu” di Indonesia waladun shalihun dirangkaikan dengan cara ritual tahlilan.

2. Imam Al Syaukani mengatakan bahwa setiap perkumpulan yang didalamnya dilaksanakan kebaikan, misalnya membaca Al Qur’an, Dzikir dan Do’a, itu adalah perbuatan yang dibenarkan meskipun tidak pernah dilaksanakan pada masa Rosulullah. Begitupula tidak ada larangan untuk menghadiahkan pahala bacaan Al Qur’an atau lainnya kepada orang yang sudah meninggal dunia.

3. Imam Ibnu Taymiah Syaikhul Islamnya Salafiyyin (Wahabi) suatu ketika pernah ditanya, apakah bacaan keluarga mayyit, tasbih, tahmid, takbir, tahlil jika dihadiahkan pahalanya untuk si mayyit akan sampai atau tidak? Maka beliau menjawab: “akan sampai bacaan keluarga si mayyit seperti bacaan tasbih, tahmid, tahlil dan seluruh jenis dzikir kepada Allah jika dihadiahkan kepada mayyit akan sampai”

4.  Masih banyak lagi…

Kawanku semua yang dirahmati Allah.
Pada hakikatnya majelis tahlil atau tahlilan adalah hanya nama atau sebutan untuk sebuah acara di dalam berdzikir dan berdoa atau bermunajat bersama. nah kan sudah jelas…. hanya sebuah nama...  Yaitu berkumpulnya sejumlah orang untuk berdoa atau bermunajat kepada Allah SWT dengan cara membaca kalimat-kalimat thayyibah seperti tahmid, takbir, tahlil, tasbih, Asma’ul husna, shalawat dan lain-lain. apakah itu salah? apakah itu bidah? jelas tidak kawan….

Maka sangat jelas bahwa majelis tahlil sama dengan majelis dzikir, hanya istilah atau namanya saja yang berbeda namun hakikatnya sama. (Tahlil artinya adalah lafadh Laa ilaaha illallah) Lalu bagaimana hukumnya mengadakan acara tahlilan atau dzikir dan berdoa bersama yang berkaitan dengan acara kematian untuk mendoakan dan memberikan hadiah pahala kepada orang yang telah meninggal dunia ? Dan apakah hal itu bermanfaat atau tersampaikan bagi si mayyit ?

Menghadiahkan Fatihah, atau Yaasiin, atau dzikir, Tahlil, atau shadaqah, atau Qadha puasanya dan lain lain, itu semua sampai kepada Mayyit, dengan Nash yang Jelas dalam Shahih Muslim hadits no.1149, bahwa “seorang wanita bersedekah untuk Ibunya yang telah wafat dan diperbolehkan oleh Rasul saw”, dan adapula riwayat Shahihain Bukhari dan Muslim bahwa “seorang sahabat menghajikan untuk Ibunya yang telah wafat”, dan Rasulullah SAW pun menghadiahkan Sembelihan Beliau SAW saat Idul Adha untuk dirinya dan untuk ummatnya, “Wahai Allah terimalah sembelihan ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan dari Ummat Muhammad” (Shahih Muslim hadits no.1967).

Dan hal ini (pengiriman amal untuk mayyit itu sampai kepada mayyit) merupakan Jumhur (kesepakatan) Ulama seluruh madzhab dan tak ada yang memungkirinya apalagi mengharamkannya, dan perselisihan pendapat hanya terdapat pada madzhab Imam Syafi’i, bila si pembaca tak mengucapkan lafadz : “Kuhadiahkan”, atau wahai Allah kuhadiahkan sedekah ini, atau dzikir ini, atau ayat ini..”, bila hal ini tidak disebutkan maka sebagian Ulama Syafi’iy mengatakan pahalanya tak sampai.

Jadi tak satupun ulama ikhtilaf dalam sampai atau tidaknya pengiriman amal untuk mayiit, tapi berikhtilaf adalah pada Lafadznya. Demikian pula Ibn Taimiyyah yang menyebutkan 21 hujjah (dua puluh satu dalil) tentang Intifa’ min ‘amalilghair (mendapat manfaat dari amal selainnya).

Mengenai ayat yang artinya: “DAN TIADALAH BAGI SESEORANG KECUALI APA YG DIPERBUATNYA, maka Ibn Abbas ra menyatakan bahwa ayat ini telah mansukh dengan ayat yang artinya “DAN ORANG ORANG YG BERIMAN YG DIIKUTI KETURUNAN MEREKA DENGAN KEIMANAN”,

Mengenai hadits yang mengatakan bahwa bila wafat keturunan adam, maka terputuslah amalnya terkecuali 3 (tiga), shadaqah Jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan anaknya yang berdoa untuknya, maka orang orang lain yang mengirim amal, dzikir dll untuknya ini jelas jelas bukanlah amal perbuatan si mayyit, karena Rasulullah SAW menjelaskan terputusnya amal si mayyit, bukan amal orang lain yang dihadiahkan untuk si mayyit, dan juga sebagai hujjah bahwa Allah memerintahkan di dalam Al Qur’an untuk mendoakan orang yang telah wafat : “WAHAI TUHAN KAMI AMPUNILAH DOSA-DOSA KAMI DAN BAGI SAUDARA-SAUDARA KAMI YG MENDAHULUI KAMI DALAM KEIMANAN”, (QS Al Hasyr-10).

Mengenai rangkuman tahlilan itu, tak satupun Ulama dan Imam Imam yang memungkirinya, siapa pula yang memungkiri muslimin berkumpul dan berdzikir?, hanya syaitan yang tak suka dengan dzikir. Didalam acara Tahlil itu terdapat ucapan Laa ilaah illallah, tasbih, shalawat, ayat qur’an, dirangkai sedemikian rupa dalam satu paket dengan tujuan agar semua orang awam bisa mengikutinya dengan mudah, ini sama saja dengan merangkum Al Qur’an dalam disket atau CD, lalu ditambah pula bila ingin ayat Fulani, silahkan Klik awal ayat, bila anda ingin ayat azab, klik a, ayat rahmat klik b, maka ini semua dibuat buat untuk mempermudah muslimin terutama yang awam. Atau dikumpulkannya hadits Bukhari, Muslim, dan Kutubussittah, Alqur’an dengan Tafsir Baghawi, Jalalain dan Ilmu Musthalah, Nahwu dll, dalam sebuah CD atau disket, atau sekumpulan kitab, bila mereka melarangnya maka mana dalilnya ?, Munculkan satu dalil yang mengharamkan acara Tahlil?, (acara berkumpulnya muslimin untuk mendoakan yang wafat) tidak di Al Qur’an, tidak pula di Hadits, tidak pula di Qaul Sahabat, tidak pula di kalam Imamulmadzahib, hanya mereka saja yang mengada ada dari kesempitan pemahamannya.

Mengenai 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari, atau bahkan tiap hari, tak ada dalil yang melarangnya, itu adalah Bid’ah hasanah yang sudah diperbolehkan , justru kita perlu bertanya, ajaran muslimkah mereka yang melarang orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, siapa yang alergi dengan suara Laa ilaaha illallah kalau bukan syaitan dan pengikutnya ?, siapa yang membatasi orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, muslimkah?, semoga Allah memberi hidayah pada muslimin, tak ada larangan untuk menyebut Laa ilaaha illallah, tak pula ada larangan untuk melarang yang berdzikir pada hari ke 40, hari ke 100 atau kapanpun, pelarangan atas hal ini adalah kemungkaran yang nyata.

Bila hal ini dikatakan merupakan adat orang hindu, maka bagaimana dengan computer, handphone, mikrofon, dan lainnya yang merupakan adat orang kafir, bahkan mimbar yang ada di masjid masjid pun adalah adat istiadat gereja, namun selama hal itu bermanfaat dan tak melanggar syariah maka boleh boleh saja mengikutinya, sebagaimana Rasul saw meniru adat yahudi yang berpuasa pada hari 10 muharram, bahwa Rasul saw menemukan orang yahudi puasa dihari 10 muharram karena mereka tasyakkur atas selamatnya Musa as, dan Rasul saw bersabda : Kami lebih berhak dari kalian atas Musa as, lalu beliau saw memerintahkan muslimin agar berpuasa pula” (HR Shahih Bukhari hadits no.3726, 3727).
Sebagaimana pula diriwayatkan bahwa Imam Masjid Quba di zaman Nabi saw, selalu membaca surat Al Ikhlas pada setiap kali membaca fatihah, maka setelah fatihah maka ia membaca AL Ikhlas, lalu surat lainnya, dan ia tak mau meninggalkan surat al ikhlas setiap rakaatnya, ia jadikan Al Ikhlas sama dengan Fatihah hingga selalu berdampingan disetiap rakaat, maka orang mengadukannya pada Rasul saw, dan ia ditanya oleh Rasul saw : Mengapa kau melakukan hal itu?, maka ia menjawab : Aku mencintai surat Al Ikhlas. Maka Rasul saw bersabda : Cintamu pada surat Al ikhlas akan membuatmu masuk sorga” (Shahih Bukhari).

Maka tentunya orang itu tak melakukan hal tsb dari ajaran Rasul saw, ia membuat buatnya sendiri karena cintanya pada surat Al Ikhlas, maka Rasul saw tak melarangnya bahkan memujinya. Kita bisa melihat bagaimana para Huffadh (Huffadh adalah Jamak dari Al hafidh, yaitu ahli hadits yang telah hafal 100.000 hadits (seratus ribu) hadits berikut sanad dan hukum matannya) dan para Imam imam mengirim hadiah pada Rasul saw :

Berkata Imam Alhafidh Al Muhaddits Ali bin Almuwaffiq rahimahullah : “aku 60 kali melaksanakan haji dengan berjalan kaki, dan kuhadiahkan pahala dari itu 30 haji untuk Rasulullah saw”.

Berkata Al Imam Alhafidh Al Muhaddits Abul Abbas Muhammad bin Ishaq Atssaqafiy Assiraaj : “aku mengikuti Ali bin Almuwaffiq, aku lakukan 7X haji yang pahalanya untuk Rasulullah saw dan aku menyembelih Qurban 12.000 ekor untuk Rasulullah saw, dan aku khatamkan 12.000 kali khatam Alqur’an untuk Rasulullah saw, dan kujadikan seluruh amalku untuk Rasulullah saw”.

Ia adalah murid dari Imam Bukhari rahimahullah, dan ia menyimpan 70 ribu masalah yang dijawab oleh Imam Malik, beliau lahir pada 218 H dan wafat pada 313H

Berkata Al Imam Al Hafidh Abu Ishaq Almuzakkiy, aku mengikuti Abul Abbas dan aku haji pula 7X untuk rasulullah saw, dan aku mengkhatamkan Alqur’an 700 kali khatam untuk Rasulullah saw. (Tarikh Baghdad Juz 12 hal 111).

Seseorang bertanya kepada habieb munzir Almusyawwa
MOhon habib memberikan penjelasan mengenai kutipan al Umm imam Syafi’i ini,
Imam Asy Syafi’I, yakni seorang imamnya para ulama’, mujtahid mutlak, lautan ilmu, pembela sunnah dan yang khususnya di Indonesia ini banyak yang mengaku bermadzhab beliau, telah berkata dalam kitabnya Al Um (I/318) :

”Aku benci al ma’tam yaitu berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui kesedihan .”

Dari pernyataan Imam Syafi’i di atas, beliau menerangkan bahwa berkumpul di rumah ahli mayit (meskipun menurut kebiasaan) akan memperbaharui kesedihan (dengan kata lain, si pemilik rumah, yg anggota keluarganya wafat, akan merasa sedih lagi, meskipun tidak mesti menangis). JANGAN SALAH, ini bukan berarti kalau tidak sedih boleh dilakukan. Sama sekali tidak! Perkataan Imam Syafi’I diatas tidak menerima pemahaman terbalik atau mafhum mukhalafah.

Dari beberapa sumber referensi, aku dapatkan pengertian bahwa : ” beliau (imam Syafi’i) dengan tegas MENGHARAMKAN berkumpul-kumpul di rumah keluarga/ahli mayit. Ini baru berkumpul saja, bagaimana kalau di sertai dengan apa yang kita namakan disini sebagai Tahlilan ?”

Sementara itu, Imam Ibnul Qayyim, di kitabnya Zaadul Ma’aad (I/527-528) menegaskan bahwa berkumpul-kumpul (dirumah ahli mayit ) dengan alasan untuk ta’ziyah dan membacakan Qur’an untuk mayit adalah ” Bid’ah ” yang tidak ada petunjuknya dari Nabi SAW.
Bahkan para ulama/imam empat (Imam Malik, Syafi’i, Hanafi dan Hambali) sepakat dengan melarang hal tersebut (tahlilan). Mereka berempat tidak berselisih/berbeda pendapat tentang larangan hal tersebut melainkan dalam masalah tingkatannya, haram atau makruh saja. Dan tidak ada seorangpun dari mereka yang mengatakan bolehnya tahlilan. Bahkan para sahabat g menggolongkan hal tersebut sebagai niyahah/ratapan terhadap si mayit. Dan ulama telah sepakatkan keharaman niyahah.

Dengan demikian, TAHLILAN BUKANLAH AJARAN ISLAM…melainkan adopsi dari agama Hindu. Aku yakin para Wali Sanga mempunyai alasan tertentu mengapa beliau2 tidak menghapus budaya ini. Salah satu alasan yg aku ketahui adalah untuk memudahkan penyebaran agama Islam. Sebagaimana diketahui, masyarakat Indonesia (terutama Jawa) sangat mencintai budayanya (bahkan cintanya berlebihan).
Wallahu a’lam

Jawaban Habieb Munzir atas pertanyaannya itu..
Anugerah dan Cahaya Rahmat Nya semoga selalu menerangi hari hari anda,
Saudaraku yg kumuliakan, sebenarnya sudah jelas, bahwa ucapan Imam Syafii itu diselewengkan maknanya oleh mereka, “Ma’tam” adalah perkumpulan ratapan dan tangisan, orang orang Jahiliyah jika ada yg mati di keluarga mereka maka mereka membayar para “penangis” untuk meratap dirumah mereka, semacam adat istiadat mereka seperti itu, memang sudah ada orangnya, sebagaimana masa kini ada group Band penghibur, dimasa lalu juga ada Group penangis, khusus untuk meratap dirumah duka.

Ini yg tidak disukai oleh Imam Syafii, dan tentunya Imam syafii mengetahui bahwa hal itu buruk dan dimasa beliau masih ada sisa sisanya yaitu tidak meratap dan menjerit2, tapi disebut perkumpulan Duka,

Namun beliau tak menjatuhkan hukum haram, akan tetapi makruh, karena Ma’tam yg ada dimasa beliau sudah jauh berbeda dg Ma’tam yg dimasa Jahiliyah, karena jika Ma’tam yg dimasa jahiliyah sudah jelas jelas haram, dan beliau melihat dimasa beliau masih ada sisa sisa perkumpulan tangisan dirumah duka, maka beliau memakruhkannya.

Kalimat “benci/membenci” pada lafadh para muhadditsin yg dimaksud adala “Kariha/yakrahu/Karhan” yg berarti Makruh.,

Makruh mempunyai dua makna, yaitu : makna bahasa dan makna syariah. Makna makruh secara bahasa adalah benci, makna makruh dalam syariah adalah hal hal yg jika dikerjakan tidak mendapat dosa, dan jika ditinggalkan mendapat pahala.

Sang penulis menyelewengkan ucapan Imam Syafii yg mengatakan bahwa hal itu Makruh, justru Imam syafii tidak menjatuhkan hukum haram, karena jika haram maka beliau tak akan menyebut membenci, tapi haram secara mutlak,  sebab dalam istilah para ahli hadits jika bicara tentang suatu hukum, maka tak ada istilah kalimat benci, senang, ngga suka, hal itu tak ada dalam fatwa hukum, namun yg ada adalah keputusan hukum, yaitu haram, makruh, mubah, sunnah, wajib. Maka jika ada fatwa para Imam dalam hukum, tidak ada istilah benci/suka, tapi hukumlah yg disampaikan, maka jelas sudah makna ucapan imam syafii itu adalah hukumnya, yaitu makruh, bukan haram karena menurut kaidah ushul bahwa semua imam dan ulama dan siapapun, tak berhak memberi pendapat pada suatu hukum dg perasaan, tapi mereka jika berhadapan dg hukum mestilah fatwa syariah yg disampaikan, bukan perasaan benci, senang dll, karena hal itu bukan dalil.

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,

KENDURI ARWAH, TAHLILAN & YASINAN MENURUT ULAMA

Limpahan kebahagiaan dan kasih sayang Nya swt semoga selalu tercurah pada hari hari anda,

Saudaraku yg kumuliakan,
Hal itu merupakan pendapat orang orang yg kalap dan gerasa gerusu tanpa ilmu, kok ribut sekali dengan urusan orang yg mau bersedekah pada muslimin?,

عن عائشة أن رجلا أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال ثم يا رسول الله إن أمي افتلتت نفسها ولم توص وأظنها لو تكلمت تصدقت أفلها أجر
إن تصدقت عنها قال نعم

Dari Aisyah ra bahwa sungguh telah datang seorang lelaki pada nabi saw seraya berkata : Wahai Rasulullah, sungguh ibuku telah meninggal mendadak sebelum berwasiat, kukira bila ia sempat bicara mestilah ia akan bersedekah, bolehkah aku bersedekah atas namanya?, Rasul saw menjawab : “Boleh” (Shahih Muslim hadits no.1004).

Berkata Al Hafidh Al Imam Nawawi rahimahullah :

وفي هذا الحديث أن الصدقة عن الميت تنفع الميت ويصله ثوابها وهو كذلك باجماع العلماء وكذا أجمعوا على وصول الدعاء

“Dan dalam hadits ini (hadits riwayat shahih muslim diatas) menjelaskan bahwa shadaqah untuk mayit bermanfaat bagi mayit, dan pahalanya disampaikan pada mayyit, demikian pula menurut Ijma (sepakat) para ulama, dan demikian pula mereka bersepakat atas sampainya doa doa” (syarh Imam Nawawi ala shahih muslim juz 7 hal 90)

Maka bila keluarga rumah duka menyediakan makanan dengan maksud bersedekah maka hal itu sunnah, apalagi bila diniatkan pahala sedekahnya untuk mayyit, demikian kebanyakan orang orang yg kematian, mereka menjamu tamu2 dengan sedekah yg pahalanya untuk si mayyit, maka hal ini sunnah.

Lalu mana dalilnya yg mengharamkan makan di rumah duka?
Mengenai ucapan para Imam itu, yg dimaksud adalah membuat jamuan khusus untuk mendatangkan tamu yg banyak, dan mereka tak mengharamkan itu :

Perlu diketahui bahwa Makruh adalah jika dihindari mendapat pahala dan jika dilakukan tidak mendapat dosa.

1. Ucapan Imam nawawi yg anda jelaskan itu, beliau mengatakannya tidak disukai (ghairu Mustahibbah), bukan haram, tapi orang wahabi mencapnya haram padahal Imam Nawawi mengatakan ghairu mustahibbah, berarti bukan hal yg dicintai, ini berarti hukumnya mubah, dan tidak sampai makruh apalagi haram, dan yg dimaksud adalah mengundang orang dengan mengadakan jamuan makanan (ittikhaadzuddhiyafah), beda dengan tahlilan masa kini bukanlah jamuan makan, namun sekedar makanan ala kadarnya saja, bukan Jamuan, hal ini berbeda dalam syariah, jamuan adalah makan besar semacam pesta yg menyajikan bermacam makanan, ini tidak terjadi pada tahlilan manapun dimuka bumi, yg ada adalah sekedar besek atau sekantung kardus kecil berisi aqua dan kue kue atau nasi sederhana sekedar sedekah pada pengunjung, maka sedekah pada pengunjung hukumnya sunnah.
2. Imam Ibnu Hajar Al Haitsamiy menjelaskan adalah :

من جعل أهل الميت طعاما ليدعوا الناس إليه بدعة منكرة مكروهة

“mereka yg keluarga duka yg membuat makanan demi mengundang orang adalah hal Bid’ah Munkarah yg makruh” (bukan haram)

Semoga anda mengerti bahasa, bahwa jauh beda dengan rumah duka yg menyuguhkan makanan untuk tamu yg mengucapkan bela sungkawa, jauh berbeda dengan membuat makanan demi mengundang orang agar datang, yg dilarang (Makruh) adalah membuat makanan untuk mengundang orang agar datang dan meramaikan rumah, lihat ucapan beliau, bid;ah buruk yg makruh.., bukan haram, jika haram maka ia akan menyebutnya : Bid’ah munkarah muharramah, atau cukup dengan ucapan Bid’ah munkarah, maka itu sudah mengandung makna haram, tapi tambahan kalimat makruh, berarti memunculkan hukum sebagai penjelas bahwa hal itu bukan haram,

Entahlah para wahabi itu tak faham bahasa atau memang sengaja menyelewengkan makna, sebab keduanya sering mereka lakukan, yaitu tak faham hadits dan menyelewengkan makna.

Dalam istilah istilah pada hukum syariah, sungguh satu kalimat menyimpan banyak makna, apalagi ucapan para Muhaddits dan para Imam, dam hal semacam ini sering tak difahami oleh mereka yg dangkal dalam pemahaman syariahnya,

3. Ucapan Imam Ibnu Abidin Al-Hanafy menjelaskan “Ittikhadzuddhiyafah”, ini maknanya “membuat perjamuan besar”, misalnya begini : Gubernur menjadikan selamatan kemenangannya dalam pilkada dengan “Ittikhadzuddhiyafah” yaitu mengadakan perjamuan. Inilah yg dikatakan Makruh oleh Imam Ibn Abidin dan beliau tak mengatakannya haram, kebiasaan ini sering dilakukan dimasa jahiliyah

4. Imam Ad-Dasuqi Al-Maliki berkata berkumpulnya orang dalam hidangan makan makan dirumah mayit hukumnya Bid’ah yg makruh. (Bukan haram tentunya), dan maksudnya pun sama dg ucapan diatas, yaitu mengumpulkan orang dengan jamuan makanan, namun beliau mengatakannya makruh, tidak sampai mengharamkannya. Orang orang wahabi menafsirkan kaliamt “makruh”adalah hal yg dibenci, tentu mereka salah besar, karena imam imam ini berbicara hukum syariah bukan bicara dicintai atau dibenci.

5. Syaikh An-Nawawi Al-Banteni rahimahullah menjelaskan adat istiadat baru berupa “Wahsyah” yaitu adat berkumpul dimalam pertama saat mayyit wafat dengan hidangan makanan macam macam, hal ini makruh, (bukan haram).

Mengenai ucapan secara keseluruhan, yg dimaksud makruh adalah sengaja membuat acara “jamuan makan” demi mengundang tamu tamu, ini yg ikhtilaf ulama antara mubah dan makruh, tapi kalau justru diniatkan sedekah dengan pahalanya untuk mayyit maka justru Nash Shahih Bukhari dan Shahih Muslim diatas telah memperbolehkannya bahkan sunnah.

Tentunya bila mereka (keluarga mayyit) meniatkan untuk sedekah yg pahalanya untuk mereka sendiripun maka tak ada pula yg memakruhkannya bahkan mendapat pahala jika dilakukan.

Yg lebih baik adalah datang dan makan tanpa bermuka masam dan merengut sambil berkata haram..haram… dirumah duka (padahal makruh), tapi bawalah uang atau hadiah untuk membantu mereka.

Pelarangan / pengharaman untuk tak menghidangkan makanan dirumah duka adalah menambah kesusahan keluarga duka, bagaimana tidak?, bila keluarga anda wafat lalu anda melihat orang banyak datang maka anda tak suguhkan apa2..?, datang dari Luar kota misalnya, dari bandara atau dari stasion luar kota datang dg lelah dan peluh demi hadir jenazah, lalu mereka dibiarkan tanpa seteguk airpun..???, tentunya hal ini sangat berat bagi mereka, dan akan sangat membuat mereka malu.

Di dalam Ushul dijelaskan bahwa Mandub, hasan, annafl, sunnah, Mustahab fiih (mustahibbah), Muragghab fiih, ini semua satu makna, yaitu yutsab ala fi’lihi walaa yu’aqabu alaa tarkihi (diberi pahala bila dilakukan dan tidak berdosa jika ditinggalkan).

Imam Nawawi mengatakan hal itu ghairu mustahibbah, yaitu bukan hal yg bila dilakukan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak mendapat dosa, maka jatuhlah derajatnya antara mubah dan makruh,

Imam Nawawi tidak mengucapkan haram, karena bila haram beliau tak payah payah menaruh kata ghairu mustahibbah dlsb, beliau akan berkata haram mutlaqan (haram secara mutlak), namun beliau tak mengatakannya,

Mengenai kata “Bid’ah” sebagaimana mereka menukil ucapan Imam Nawawi, fahamilah bahwa Bid;ah menurut WAHABI sangat jauh berbeda dengan BID’AH menurut Imam Nawawi, Imam Nawawi berpendapat Bid’ah terbagi lima bagian, yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram (rujuk Syarh Nawawi ala Shahih Muslim Juz 6 hal 164-165).

Maka sebelum mengambil dan menggunting Ucapan Imam Nawawi, fahami dulu apa maksud bid’ah dalam ta’rif Imam Nawawi, barulah bicara fatwa Bid’ah oleh Imam Nawawi,
bila Imam Nawawi menjelaskan bahwa dalam Bid’ah itu ada yg Mubah dan yg makruh, maka ucapan “Bid’ah Ghairu Mustahibbah” bermakna Bid’ah yg mubah atau yg makruh, kecuali bila Imam Nawawi berkata “Bid’ah Muharramah” (Bid’ah yg haram).

Namun kenyataannya Imam Nawawi tidak mengatakannya haram, maka hukumnya antara Mubah dan makruh.

Untuk Ucapan Imam Ibn Hajar inipun jelas, beliau berkata Bid’ah Munkarah Makruhah, (Bid’ah tercela yg makruh), karena Bid;ah tercela itu tidak semuanya haram, sebagaimana masa kini sajadah yg padanya terdapat hiasan hiasan warna warni membentuk pemandangan atau istana istana dan burung burung misalnya, ini adalah Bid’ah buruk (munkarah) yg makruh, tidak haram untuk memakainya shalat, tidak batal shalat kita menggunakan sajadah semacam itu, namun Bid;ah buruk yg makruh, tidak haram, karena shalatnya tetap sah.

Hukum darimana makruh dibilang haram?, makruh sudah jelas makruh, hukumnya yutsab ala tarkihi wala yu’aqabu ala fi’lihi (mendapat pahala bila ditinggalkan dan tidak mendapat dosa bila dilakukan),

Yg dimakruhkan adalah menyiapkan makanan untuk mengundang orang, beda dengan orang datang lalu shohibul bait menyuguhi.

Berkata Shohibul Mughniy :

فأما صنع أهل الميت طعاما للناس فمكروه لأن فيه زيادة على مصيبتهم وشغلا لهم إلى شغلهم وتشبها بصنع أهل الجاهلية

Bila keluarga mayyit membuat makanan untuk orang, maka makruh, karena hal itu menambah atas musibah mereka dan menyibukkan, dan meniru niru perbuatan jahiliyah.
(Almughniy Juz 2 hal 215)

Lalu shohibul Mughniy menjelaskan kemudian :

وإن دعت الحاجة إلى ذلك جاز فإنه ربما جاءهم من يحضر ميتهم من القرى والأماكن البعيدة ويبيت عندهم ولا يمكنهم إلا أن يضيفوه

Bila mereka melakukannya karena ada sebab/hajat, maka hal itu diperbolehkan, karena barangkali diantara yg hadir mayyit mereka ada yg berdatangan dari pedesaan, dan tempat tempat yg jauh, dan menginap dirumah mereka, maka tak bisa tidak terkecuali mereka mesti dijamu (Almughniy Juz 2 hal 215)

(disini hukumnya berubah, yg asalnya makruh, menjadi Mubah bahkan hal yg mulia, karena tamu yg berdatangan dari jauh, maka jelaslah kita memahami bahwa pokok permasalahan adalah pada keluarga duka dan kebutuhan tamu,

Dijelaskan bahwa yg dimaksud adat jahiliyyah ini adalah membuat jamuan besar, mereka menyembelih sapi atau kambing demi mengundang tamu setelah ada kematian, ini makruh hukumnya, sebagian ulama mengharamkannya, namun beda dengan orang datang karena ingin menjenguk, lalu sohibulbait menyuguhi ala kadarnya, Bukan kebuli dan menyembelih kerbau, hanya besek sekedar hadiahan dan sedekah. baiklah jika sebagian saudara kita masih belum tenang maka riwayat dibawah ini semoga dapat menenangkan mereka :
dari Ahnaf bin Qeis ra berkata : “Ketika Umar ra ditusuk dan terluka parah, ia memerintahkan Shuhaib untuk membuat makanan untuk orang orang” (AL Hafidh Al Imam Ibn Hajar pd Mathalibul ‘Aliyah Juz 1 hal 199 no.709, dan ia berkata sanadnya Hasan).

Dari Thaawus ra : “Sungguh mayyit tersulitkan di kubur selama 7 hari, maka merupakan sebaiknya mereka memberi makan orang orang selama hari hari itu” (Diriwayatkan Oleh Al Hafidh Imam Ibn Hajar pd Mathalibul ‘Aliyah Juz 1 hal 199 dan berkata sanad nya Kuat

Mengenai pengadaan makanan dan jamuan makanan pada rumah duka telah kuat dalilnya sebagaimana sabda Rasul saw : “Buatlah untuk keluarga Jakfar makanan sungguh mereka telah ditimpa hal yg membuat mereka sibuk” (diriwayatkan oleh Al Imam Tirmidziy no.998 dg sanad hasan, dan di Shahih kan oleh Imam Hakim Juz 1/372)

Demikian pula riwayat shahih dibawah ini :

فلما احتضرعمر أمر صهيبا أن يصلي بالناس ثلاثة أيام ، وأمر أن يجعل للناس طعام فيطعموا حتى يستخلفوا إنسانا ، فلما رجعوا من الجنازة جئ بالطعام ووضعت الموائد ، فأمسك الناس عنها للحزن الذي هم فيه ، فقال العباس بن عبد المطلب : أيها الناس ! إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قد مات فأكلنا بعده وشربنا ومات أبو بكر فأكلنا بعده وشربنا وإنه لابد من الاجل فكلوا من هذا الطعام ، ثم مد
العباس يده فأكل ومد الناس أيديهم فأكلوا

Ketika Umar ra terluka sebelum wafatnya, ia memerintahkan pada Shuhaib untuk memimpin shalat, dan memberi makan para tamu selama 3 hari hingga mereka memilih seseorang, maka ketikan hidangan hidangan ditaruhkan, orang orang tak mau makan karena sedihnya, maka berkatalah Abbas bin Abdulmuttalib ra : Wahai hadirin.., sungguh telah wafat Rasulullah saw dan kita makan dan minum setelahnya, lalu wafat Abubakar ra dan kita makan dan minum sesudahnya, dan ajal itu adalah hal yg mesti, maka makanlah makanan ini..!”, lalu beliau ra mengulurkan tangannya dan makan, maka orang orang pun mengulurkan tangannya masing masing dan makan.

(Al fawaidussyahiir Li Abi Bakar Assyafii juz 1 hal 288, Kanzul ummaal fii sunanil aqwaal wal af’al Juz 13 hal 309, Thabaqatul Kubra Li Ibn Sa’d Juz 4 hal 29, Tarikh Dimasyq juz 26 hal 373, Al Makrifah wattaarikh Juz 1 hal 110)

Kini saya ulas dengan kesimpulan :

1. membuat jamuan untuk mengundang orang banyak dg masakan yg dibuat oleh keluarga mayyit hukumnya makruh, walaupun ada yg mengatakan haram namun Jumhur Imam dan Muhadditsin mengatakannya Makruh.

2. membuat jamuan dengan tujuan sedekah dan pahalanya untuk mayyit hukumnya sunnah, sebagaimana riwayat Shahih Bukhari seorang wanita mengatakan pada Nabi saw bahwa ibuku wafat, dan apakah ibuku mendapat pahala bila aku bersedekah untuknya?, Rasul saw menjawab : Betul (Shahih Bukhari hadits no.1322), bukankah wanita ini mengeluarkan uangnya untuk bersedekah..?,

3. menghidangkan makanan seadanya untuk tamu yg datang saat kematian adalah hal yg mubah, bukan makruh, misalnya sekedar teh, atau kopi sederhana.

4. Sunnah Muakkadah bagi masyarakat dan keluarga tidak datang begitu saja dg tangan kosong, namun bawalah sesuatu, berupa buah, atau uang, atau makanan.

5. makan makanan yg dihidangkan oleh mereka tidak haram, karena tak ada yg mengharamkannya, bahkan sebagaimana riwayat yg akan saya sebutkan bahwa Umar bin Khattab ra memerintahkan tuk menjamu tamunya jika ia wafat

6. boleh saja jika keluarga mayyit membeli makanan dari luar atau ketring untuk menyambut tamu tamu, karena pelarangan akan hal itulah yg akan menyusahkan keluarga mayyit, yaitu memasak dan merepotkan mereka.

7. makruh jika membuat hidangan besar seperti hidangan pernikahan demi menyambut tamu dirumah duka

Mengenai fatwa Imam Syafii didalam kitab I’anatutthaalibin, yg diharamkan adalah Ittikhadzuddhiyafah, (mengadakan jamuan besar), sebagaimana dijelaskan “Syara’a lissurur”, yaitu jamuan makan untuk kegembiraan, namun bila diniatkan untuk sedekah, walau menyembelih seribu ekor kerbau selama 40 hari 40 malam atau menyembelih 1.000 ekor kambing selama 100 hari atau bahkan tiap hari sekalipun, hal itu tidak ada larangannya, bahkan mendapat pahala.

MENGIRIM PAHALA DAN BACA’AN KEPADA MAYIT

1. Ucapan Imam Nawawi dalam Syarah Nawawi Ala shahih Muslim Juz 1 hal 90 menjelaskan :

من أراد بر والديه فليتصدق عنهما فان الصدقة تصل الى الميت وينتفع بها بلا خلاف بين المسلمين وهذا هو الصواب وأما ما حكاه أقضى القضاة أبو الحسن الماوردى البصرى الفقيه
الشافعى فى كتابه الحاوى عن بعض أصحاب الكلام من أن الميت لا يلحقه بعد موته ثواب فهو مذهب باطل قطعيا وخطأ بين مخالف لنصوص الكتاب والسنة واجماع الامة فلا التفات اليه ولا تعريج عليه وأما الصلاة والصوم فمذهب الشافعى وجماهير العلماء أنه لا يصل ثوابها الى الميت الا اذا كان الصوم واجبا على الميت فقضاه عنه وليه أو من أذن له الولي فان فيه قولين للشافعى أشهرهما عنه أنه لا يصلح وأصحهما ثم محققى متأخرى أصحابه أنه يصح وستأتى المسألة فى كتاب الصيام ان شاء الله تعالى
وأما قراءة القرآن فالمشهور من مذهب الشافعى أنه لا يصل ثوابها الى الميت وقال بعض أصحابه يصل ثوابها الى الميت وذهب جماعات من العلماء الى أنه يصل الى الميت ثواب جميع العبادات من الصلاة والصوم والقراءة وغير ذلك وفى صحيح البخارى فى باب من مات وعليه نذر أن ابن عمر أمر من ماتت أمها وعليها صلاة أن تصلى عنها وحكى صاحب الحاوى عن عطاء بن أبى رباح واسحاق بن راهويه أنهما قالا بجواز الصلاة عن الميت وقال الشيخ أبو سعد عبد الله بن محمد بن هبة الله بن أبى عصرون من أصحابنا المتأخرين فى كتابه الانتصار الى اختيار هذا وقال الامام أبو محمد البغوى من أصحابنا فى كتابه التهذيب لا يبعد أن يطعم عن كل صلاة مد من طعام وكل هذه إذنه كمال ودليلهم القياس على الدعاء والصدقة والحج فانها تصل

Berkata Imam Nawawi : “Barangsiapa yg ingin berbakti pada ayah ibunya maka ia boleh bersedekah atas nama mereka (kirim amal sedekah untuk mereka), dan sungguh pahala shadaqah itu sampai pada mayyit dan akan membawa manfaat atasnya tanpa ada ikhtilaf diantara muslimin, inilah pendapat terbaik, mengenai apa apa yg diceritakan pimpinan Qadhiy Abul Hasan Almawardiy Albashriy Alfaqiihi Assyafii mengenai ucapan beberapa Ahli Bicara (semacam wahabiy yg hanya bisa bicara tanpa ilmu) bahwa mayyit setelah wafatnya tak bisa menerima pahala, maka pemahaman ini Batil secara jelas dan kesalahan yg diperbuat oleh mereka yg mengingkari nash nash dari Alqur’an dan Alhadits dan Ijma ummat ini, maka tak perlu ditolelir dan tak perlu diperdulikan.

Namun mengenai pengiriman pahala shalat dan puasa, maka madzhab Syafii dan sebagian ulama mengatakannya tidak sampai kecuali shalat dan puasa yg wajib bagi mayyit, maka boleh di Qadha oleh wali nya atau orang lain yg diizinkan oleh walinya, maka dalam hal ini ada dua pendapat dalam Madzhab Syafii, yg lebih masyhur hal ini tak sampai, namun pendapat kedua yg lebih shahih mengatakan hal itu sampai, dan akan kuperjelas nanti di Bab Puasa Insya Allah Ta’ala.

Mengenai pahala Alqur’an menurut pendapat yg masyhur dalam madzhab Syafii bahwa tak sampai pada mayyit, namun adapula pendapat dari sahabat sahabat Syafii yg mengatakannya sampai, dan sebagian besar ulama mengambil pendapat bahwa sampainya pahala semua macam ibadah, berupa shalat, puasa, bacaan Alqur’an, ibadah dan yg lainnya, sebagaimana diriwayatkan dalam shahih Bukhari pada Bab : “Barangsiapa yg wafat dan atasnya nadzar” bahwa Ibn Umar memerintahkan seorang wanita yg wafat ibunya yg masih punya hutang shalat agar wanita itu membayar(meng qadha) shalatnya, dan dihikayatkan oleh Penulis kitab Al Hawiy, bahwa Atha bin Abi Ribah dan Ishaq bin Rahawayh bahwa mereka berdua mengatakan bolehnya shalat dikirim untuk mayyit, telah berkata Syeikh Abu Sa’ad Abdullah bin Muhammad bin Hibatullah bin Abi Ishruun dari kalangan kita (berkata Imam nawawi dengan ucapan : “kalangan kita” maksudnya dari madzhab syafii) yg muta’akhir (dimasa Imam Nawawi) dalam kitabnya Al Intishar ilaa Ikhtiyar bahwa hal ini seperti ini. (sebagaimana pembahasan diatas), berkata Imam Abu Muhammad Al Baghawiy dari kalangan kita dalam kitabnya At Tahdzib : Tidak jauh bagi mereka untuk memberi satu Mudd untuk membayar satu shalat (shalat mayyit yg tertinggal) dan ini semua izinnya sempurna, dan dalil mereka adalah Qiyas atas Doa dan sedekah dan haji (sebagaimana riwayat hadist2 shahih) bahwa itu semua sampai dengan pendapat yg sepakat para ulama. (Syarh Nawawi Ala Shahih Muslim Juz 1 hal 90)

Maka jelaslah sudah bahwa Imam Nawawi menjelaskan dalam hal ini ada dua pendapat, dan yg lebih masyhur adalah yg mengatakan tak sampai, namun yg lebih shahih mengatakannya sampai,

Tentunya kita mesti memilih yg lebih shahih, bukan yg lebih masyhur, Imam nawawi menjelaskan bahwa yg shahih adalah yg mengatakan sampai, walaupun yg masyhur mengatakan tak sampai, berarti yg masyhur itu dhoif, dan yg shahih adalah yg mengatakan sampai, dan Imam Nawawi menjelaskan pula bahwa sebagian besar ulama mengatakan semua amal apahal sampai.

Inilah liciknya orang orang wahabi, mereka bersiasat dengan “gunting tambal”, mereka menggunting gunting ucapan para imam lalu ditampilkan di web web, inilah bukti kelicikan mereka, Saya akan buktikan kelicikan mereka :

Lalu berkata pula Imam Nawawi :

أن الصدقة عن الميت تنفع الميت ويصله ثوابها وهو كذلك باجماع العلماء وكذا أجمعوا على وصول الدعاء وقضاء الدين بالنصوص الواردة في الجميع ويصح الحج عن الميت اذا كان حج الاسلام وكذا اذا وصى بحج التطوع على الأصح عندنا واختلف العلماء في الصوم اذا مات وعليه صوم فالراجح جوازه عنه للأحاديث الصحيحة فيه
والمشهور في مذهبنا أن قراءة القرآن لا يصله ثوابها وقال جماعة من أصحابنا يصله ثوابها وبه قال أحمد بن حنبل

“Sungguh sedekah untuk dikirimkan pada mayyit akan membawa manfaat bagi mayyit dan akan disampaikan padanya pahalanya, demikian ini pula menurut Ijma (sepakat) para ulama, demikian pula mereka telah sepakat atas sampainya doa doa, dan pembayaran hutang (untuk mayyit) dengan nash2 yg teriwayatkan masing masing, dan sah pula haji untuk mayyit bila haji muslim, demikian pula bila ia berwasiat untuk dihajikan dengan haji yg sunnah, demikian pendapat yg lebih shahih dalam madzhab kita (Syafii), namun berbeda pendapat para ulama mengenai puasa, dan yg lebih benar adalah yg membolehkannya sebagaimana hadits hadits shahih yg menjelaskannya,

Yang masyhur di kalangan madzhab kita bahwa bacaan Alqur’an tidak sampai pada mayyit pahalanya, namun telah berpendapat sebagian dari ulama madzhab kita bahwa sampai pahalanya, dan Imam Ahmad bin Hanbal berpegang pada yg membolehkannya” (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 7 hal 90)

Dijelaskan pula dalam Almughniy :

ولا بأس بالقراءة ثم القبر وقد روي عن أحمد أنه قال إذا دخلتم المقابر اقرؤوا آية الكرسي وثلاث مرار قل هو الله أحد الإخلاص ثم قال اللهم إن فضله لأهل المقابر وروي عنه أنه قال القراءة ثم القبر بدعة وروي ذلك عن هشيم قال أبو بكر نقل ذلك عن أحمد جماعة ثم رجع رجوعا أبان به عن نفسه فروى جماعة أن أحمد نهى ضريرا أن يقرأ ثم القبر وقال له إن القراءة ثم القبر بدعة فقال له محمد بن قدامة الجوهري يا أبا عبد الله ما تقول في مبشر فلهذا قال ثقة قال فأخبرني مبشر عن أبيه أنه أوصى إذا دفن يقرأ عنده بفاتحة البقرة وخاتمتها وقال سمعت ابن عمر يوصي بذلك قال أحمد بن حنبل فارجع فقل للرجل يقرأ

“Tidak ada larangannya membaca Alqur’an dikuburan , dan telah diriwayatkan dari Ahmad bahwa bila kalian masuk pekuburan bacalah ayat alkursiy, lalu Al Ikhlas 3X, lalu katakanlah : Wahai Allah, sungguh pahalanya untuk ahli kubur”.

Diriwayatkan pula bahwa bacaan Alqur’an di kuburan adalah Bid’ah, dan hal itu adalah ucapan Imam Ahmad bin hanbal, lalu muncul riwayat lain bahwa Imam Ahmad melarang keras hal itu, maka berkatalah padanya Muhammad bin Qudaamah : Wahai Abu Abdillah (nama panggilan Imam Ahmad), apa pendapatmu tentang Mubasyir (seorang perawi hadits), Imam Ahmad menjawab : Ia Tsiqah (kuat dan terpercaya riwayatnya), maka berkata Muhammad bin Qudaamah sungguh Mubasyir telah meriwayatkan padaku dari ayahnya bahwa bila wafat agar dibacakan awal surat Baqarah dan penutupnya, dan bahwa Ibn Umar berwasiat demikian pula!”, maka berkata Imam Ahmad :”katakana pada orang yg tadi kularang membaca ALqur’an dikuburan agar ia terus membacanya lagi..”. (Al Mughniy Juz 2 hal : 225)

Dikatakan dalam Syarh AL Kanz :

وقال في شرح الكنز إن للإنسان أن يجعل ثواب عمله لغيره صلاة كان أو صوما أو حجا أو صدقة أو قراءة قرآن ذلك من جميع أنواع البر ويصل ذلك إلى الميت وينفعه ثم أهل السنة انتهى والمشهور من مذهب الشافعي وجماعة من أصحابه أنه لا يصل إلى الميت ثواب قراءة القرآن وذهب أحمد بن حنبل وجماعة من العلماء وجماعة من أصحاب الشافعي إلى أنه يصل كذا ذكره النووي في الأذكار وفي شرح المنهاج لابن النحوي لا يصل إلى الميت عندنا ثواب القراءة على المشهور والمختار الوصول إذا سأل الله إيصال ثواب قراءته وينبغي الجزم به لأنه دعاء فإذا جاز الدعاء للميت بما ليس للداعي فلأن يجوز بما هو له أولى ويبقى الأمر فيه موقوفا على استجابة الدعاء وهذا المعنى لا يختص بالقراءة بل يجري في سائر الأعمال والظاهر أن الدعاء متفق عليه أنه ينفع الميت والحي القريب والبعيد بوصية وغيرها وعلى ذلك أحاديث كثيرة

“Sungguh boleh bagi seseorang untuk mengirim pahala amal kepada orang lain, shalat kah, atau puasa, atau haji, atau shadaqah, atau Bacaan Alqur’an, dan seluruh amal ibadah lainnya, dan itu boleh untuk mayyit dan itu sudah disepakati dalam Ahlussunnah waljamaah.

Namun hal yg terkenal bahwa Imam Syafii dan sebagian ulamanya mengatakan pahala pembacaan Alqur’an tidak sampai, namun Imam Ahmad bin hanbal, dan kelompok besar dari para ulama, dan kelompok besar dari ulama syafii mengatakannya pahalanya sampai, demikian dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Al Adzkar, dan dijelaskan dalam Syarh Al Minhaj oleh Ibn Annahwiy : “tidak sampai pahala bacaan Alqur’an dalam pendapat kami yg masyhur, dan maka sebaiknya adalah pasti sampai bila berdoa kepada Allah untuk memohon penyampaian pahalanya itu, dan selayaknya ia meyakini hal itu karena merupakan doa, karena bila dibolehkan doa tuk mayyit, maka menyertakan semua amal itu dalam doa tuk dikirmkan merupakan hal yg lebih baik, dan ini boleh tuk seluruh amal, dan doa itu sudah Muttafaq alaih (tak ada ikhtilaf) bahwa doa itu sampai dan bermanfaat pada mayyit bahkan pada yg hidup, keluarga dekat atau yg jauh, dengan wasiat atau tanpa wasiat, dan dalil ini dengan hadits yg sangat banyak” (Naylul Awthar lil Imam Assyaukaniy Juz 4 hal 142, Al majmu’ Syarh Muhadzab lil Imam Nawawiy Juz 15 hal 522).

Kesimpulannya bahwa hal ini merupakan ikhtilaf ulama, ada yg mengatakan pengiriman amal pada mayyit sampai secara keseluruhan, ada yg mengatakan bahwa pengiriman bacaan Alqur’an tidak sampai, namun kesemua itu bila dirangkul dalam doa kepada Allah untuk disampaikan maka tak ada ikhtilaf lagi.

Kita semua dalam tahlilan itu pastilah ada ucapan : Allahumma awshil, tsawabaa maa qaraa’naa minalqur’anilkarim… dst (Wahai Allah, sampaikanlah pahala apa apa yg kami baca, dari alqur’anulkarim…dst). Maka jelaslah sudah bahwa Imam Syafii dan seluruh Imam Ahlussunnah waljamaah tak ada yg mengingkarinya dan tak adapula yg mengatakannya tak sampai.

Kita ahlussunnah waljamaah mempunyai sanad, bila saya bicara fatwa Imam Bukhari, saya mempunyai sanad guru kepada Imam Bukhari,

Bila saya berbicara fatwa Imam Nawawi, saya mempunyai sanad guru kepada Imam Nawawi, bila saya berbicara fatwa Imam Syafii, maka saya mempunyai sanad Guru kepada Imam Syafii.

Demikianlah kita ahlussunnah waljamaah, kita tak bersanad kepada buku, kita mempunyai sanad guru, boleh saja dibantu oleh Buku buku, namun acuan utama adalah pada guru yg mempunyai sanad.

Kasihan mereka mereka yg keluar dari ahlussunnah waljamaah karena berimamkan buku,
agama mereka sebatas buku buku, iman mereka tergantung buku, dan akidah mereka adalah pada buku buku.

Jauh berbeda dengan ahlussunnah waljamaah, kita tahu siapa Imam Nawawi, Imam Nawawi bertawassul pada nabi saw, Imam nawawi mengagungkan Rasul saw, beliau membuat shalawat yg dipenuhi salam pada nabi Muhammad saw, ia memperbolehkan tabarruk dan ziarah kubur, demikianlah para ulama ahlussunnah waljamaah.

Sabda Rasulullah saw : “Sungguh sebesar besar kejahatan muslimin pada muslimin lainnya, adalah yg bertanya tentang hal yg tidak diharamkan atas muslimin, menjadi diharamkan atas mereka karena ia mempermasalahkannya” (shahih Muslim hadits no.2358)

Menentukan jumlah hari (7 hari, 40, 100, setahun, 1000, dsb)

Pemilihan waktu dalam dzikir, doa maupun tilawah adalah sesuatu yang mubah saja karena dzikir, doa dan tilawah bisa dilakukan kapan pun. Memang ada waktu-waktu yang lebih dianjurkan semisal berdoa setelah shalat, membaca Al-Kahfi di malam Jum’ah, berdzikir di akhir malam dsb, namun hal itu tidak berarti bahwa dzikir di waktu lain itu tidak dianjurkan atau malah dilarang. Demikian pula menentukan dzikir di hari ke 1, 5, 7, 8, 15 dsb adalah hal mubah sepanjang tidak dijadikan pandangan keharusan karena memang tidak ada kewajiban ataupun anjuran untuk menetapkan jumlah hari tertentu. Penetapan hari 3, 7, 40, 100, 1000 hari dst sebetulnya tidak begitu saja ditetapkan, namun berdasarkan pada riwayat-riwayat meskipun memang dha’if sanadnya. Tetapi kedha’ifan tersebut tidak lantas mengubah hukum penetapan hari yang mubah menjadi makruh atau haram kecuali dianggap suatu keharusan.

Memang tidak dipungkiri bahwa sebagian masyarakat kita memahami penetapan jumlah hari ini sebagai keharusan akibat faktor gengsi atau pengajaran yang keliru dari para tokoh agama setempat. Hal ini harus diperbaiki agar tidak menimbulkan madharat apalagi jika dikaitkan dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk membuat acara, padahal tujuan dari penetapan waktu-waktu tsb lebih pada upaya untuk secara konsisten mendoakan orang tua yang telah meninggal sebagai salah satu jalan pahala yang tetap mengalir setelah seseorang wafat. Bisa kita saksikan di masyarakat kita ada keluarga yang sampai harus menjual harta hanya untuk membuat acara 40 hari padahal kehidupan mereka sendiri compang-camping penuh kekurangan. Imbas-imbas buruk ini harus dikikis tanpa perlu menggeneralisasikan bahwa penetapan waktu itu membawa madharat bagi keluarga si mayyit.

Hukum dalam fiqh itu sarat dengan perbedaan pendapat (ikhtilaf) dan perbedaan ini juga ditemui dalam hukum membaca Alquran bagi wanita haid. Adapun fatwa keharaman membaca Alqur’an saat haid adalah fatwa yang masyhur dalam madzhab Syafi’i. Sedang fatwa dalam madzhab Hanafi, Maliki dan Hanbali bercabang dalam 2 pandangan, ada yang mengharamkan dan sebagian menganggapnya boleh.

Telah berkata Ibnu ‘Umar, sabda Nabi s.a.w. : „Tidak boleh membaca Qur’an orang yang junub dan tidak boleh (pula) perempuan yang berhaidl”. (H.R. Abu Dawud, Turmudzi dan Ibnu Majah). Hadits ini dishahihkan Imam Turmudzi namun dianggap dhaif oleh kebanyakan ahli hadits.

Namun pandangan yang menetapkan hukum haram bagi wanita haid untuk membaca Alquran disamping mempertimbangkan hadits di atas juga mengambil qiyas dengan keharaman membaca Quran saat junub yang keharamannya lebih disepakati para ulama. Mengingat tingkat hadats saat haid dan nifas lebih tinggi dari junub maka sudah sewajarnya hal yang diharamkan bagi orang junub lebih kuat keharamannya bagi wanita haid.

Meski demikian, fatwa yang mengharamkan membaca Alquran pun memberikan pengecualian untuk hal-hal tertentu, a.l. :

1. Bacaan Alquran yang sudah lazim tidak dianggap Alquran karena berfungsi sebagai dzikir atau doa. Misalnya bacaan basmalah sebelum makan, istirja’ (innaa lillaahi dst) saat ada musibah, doa sapu jagad (rabbanaa aatinaa fiddunyya dst).

2. Bacaan Alquran untuk kepentingan dirasah (pembelajaran) yang sifatnya dharury (wajib dikuasai segera) semisal bacaan fatihah untuk kepentingan shalat.

Karenanya untuk kasus belajar membaca Alquran yang sifatnya tidak dharury menurut hemat saya lebih baik dihentikan sementara. Dengan pertimbangan bahwa meskipun tidak mengesampingkan adanya pendapat bolehnya membaca Quran bagi wanita haid, khuruj minal khilaf (keluar dari perbedaan) dengan mengambil fatwa yang lebih berhati-hati layak untuk diutamakan. Apalagi belajar dalam hal ini sifatnya anjuran sehingga wajar dikalahkan demi menghindari keharaman.

Bisa dikatakan demikian, namun budaya yang bermaterikan nilai ibadah semisal bacaan Alquran dan dzikir tentu merupakan kebaikan sesuai dengan perintah untuk melazimkan (membiasakan) ibadah meskipun hanya sesuatu yang kecil. Hanya pemahaman yang banyak dikelirukan adalah anggapan bahwa 100 hari atau setahun, dll itulah yang dianggap ibadah padahal ibadah yang sesungguhnya adalah tilawah, dzikir dan doa. Sering di kampung kalau ditanya : bikin acara apa? maka jawabannya nyatus (100 hari) atau haul (setahun) dengan anggapan bahwa nyatus dan haul itulah yang bernilai ibadah. Padahal itu hanya penetapan momen/waktu yang mubah, sedang ibadah sesungguhnya adalah dzikir, doa, dsb yang pelaksanaannya tidak mesti menunggu momen tertentu tetapi selayaknya dilakukan secara istiqamah setiap saat.

Membaca yasin atau surah tertentu

Membaca Alquran sama halnya dengan dzikir, ia sunnah dibaca kapan saja di mana saja dengan sedikit pembatasan, semisal haram bagi wanita haid/nifas atau orang sedang junub (hadats besar), makruh dibaca di tempat yang sering kotor seperti WC. Selebihnya tidak ada pembatasan waktu maupun tempat. Yasin adalah bagian dari Alquran yang tentunya hukum membacanya sama dengan membaca Alquran.

Kaitannya dengan bacaan yasin untuk jenazah, sunnahnya adalah saat ada seseorang menjelang skaratul maut, keluarga/handai taulan hendaknya membacakannya surah yasin bukan saat sudah meninggal, akan tetapi apabila surah yasin dibaca saat seseorang sudah meninggal itu juga tidak mengapa dan hukum sunnahnya mengikuti kesunnahan umum membaca Alquran meski tidak mendapatkan sunnah khusus bacaan saat orang sakaratul maut.

Kalau ada yang berkata membaca tahlil/yasin bid’ah karena tidak dilakukan Rasulullah maka pernyataan tersebut terhapuskan oleh perintah berdzikir/tilawah Quran yang bersifat umum. Artinya membaca Alquran (termasuk yasin) dan dzikir (termasuk tahlil) selamanya adalah sunnah, kapan saja dan dimana saja kecuali ada dalil qath’i tentang pelarangannya dari Quran atau hadits seperti larangan bagi wanita haid.

Adapun mengkhususkan yasin atau surat yang dibaca memang tidak dianjurkan dan makruh jika memang hanya surat tertentu itu saja yang dibaca tanpa pernah membaca surah lain dalam Alquran. Perlu digarisbawahi bahwa hukum makruh tersebut bukan dalam bacaan yasinnya namun pada tindakan “pengkhususannya”. Sedang bacaan yasinnya tetap sunnah sebagaimana hukum umum membaca Alquran. Karena itu pengkhususan yang biasa dilakukan di wilayah kita bukanlah hal terlarang, apalagi hal itu dilakukan dengan pertimbangan bahwa masyarakat yang belum mampu membaca surah lain sebaik yasin. Tentu tetap perlu mengembangkan pembelajaran kepada masyarakat namun hal tersebut bisa saja dilakukan dengan jalur lain semisal melalui kajian-2 tajwid dan qira’ah.

Tambahan catatan kecil :

•  Tahlilan adalah bersama-sama melakukan do’a bagi orang yang sudah meninggal dunia yang dilakukan di rumah-rumah, musholla, surau atau majlis-majlis dengan harapan semoga diterima amalnya dan diampuni dosanya oleh Allah SWT. yang sebelumnya diucapkan beberapa kalimah thayyibah, tahmid, tasbih, tahlil dan ayat-ayat suci Al Qur’an

•    Tahlilan bukanlah bid’ah, karena tahlil sebenarnya do’a yang bisa dilakukan oleh semua kalangan baik secara perindividu ataupun jama’ah, tetapi karena di Indonesia tahlilan terbiasa dilakukan secara berjama’ah, maka menjadi kebiasaan atau adat. Seperti dalam ushul fiqhnya “Al Adatu Muhkamatun” kebiasaan bisa dijadikan hukum.

•    Tahlilan juga merupakan wahana silaturrahmi yang bisa mengeratkan tali persaudaraan antara sesama ummat islam.

•    Tahlilan juga bisa menjadi pelipur hati bagi keluarga yang sedang terkena musibah.
sedikit saran bagi yang sering menyelisih tentang tahlilan

1.    selalu mengintropeksi diri, apakah sudah benar perbuatan kita sesuai dengan tuntutan Rosulullah ataukah belum sesuai, karena tidak dibenarkan kita selalu mencari-cari kesalahan orang lain atau golongan lain.

2.    telitilah, kajialah, belajarlah lagi dan lagi, sering kebenaran itu menyentuh hatimu, coba telitilah tahlilan secara adil

3.    Biasakanlah lisan kita untuk selalu berdzikir dengan kalimat Tahlil, Tahmid, Tasbih dan Takbir. karena lisan yang terbiasa digunakan untuk berdzikir dapat mencerminkan hati yang bersih. Dan dengan harapan ketika ruh terlepas dari jasad kita kata yang terakhir diucapkan adalah kalimat tahlil.

4.  Yuk podo ngaji bareng-bareng, maring para kyai, para ulama,

5.  Jangan merasa paling benar, sehingga sering menghujat dan menyalahkan yang lain.

6. Islam itu cahaya, maka jadikanlah ia cahaya penerang untuk didunia dan akheratmu bagaimana kawan, masih ada yang membidahkah sesat tahlilan dan yasinan… padahal banyak sekali manfaatnya…semoga Allah ilhamkan pemahaman yg dalam bagi yang masih dangkal pemahaman ilmunya…

Mari kita terus mengkaji ilmu Allah untuk mengkuatkan iman dan akidah kita, masih kurang jelas…silahkan download ini saja..

Download Ebook dalil tahlilan (PDF, 727.21 KB) :

•    4shared [dot] com
•    Mediafile [dot] com
•    Ziddu [dot] com

   
 Isikan Komentar Anda
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
 
 
1.
Pengirim: Madyan  - Kota:
Tanggal: 29/11/2012
 
Luar biasa uraian ini...jaami' Maa'ni' (saya suka bagian cerita Gus Banyuwangi)

Allah yuthowwil Baqo'akum, wa yanfa'ana bi 'ulumikum
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Alhamdulillah.

2.
Pengirim: assiddiqqi  - Kota: jepara
Tanggal: 30/11/2012
 
alhamdullillah...dengan sangat jujur tulisan ini bagus sekali..situs ini bisa membawa kami kejalan yang tidak membimbangkan hati..terima kasih ustadz,secara tidak langsung situs ini banyak menyadarkan saudaraa kami termasuk saya yang dulunya anti yasin dan tahlil(anti NU).tapi sekarang kami sangat paham  
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Mudah-mudahan bermanfaat untuk umat.

3.
Pengirim: Dwi  - Kota: Surabaya
Tanggal: 30/11/2012
 
Mudah mudahan dg keterangan diatas oleh Allah semakin dimantapkan Manah & hati kita dg mengamalkan Yasinan, Tahlilan, Istighfar dan Sholawatan yg selama ini kita tradisikan. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Amiin ya rabbal 'alamiin.

4.
Pengirim: Alfian Dwi  - Kota: SuraDarjo
Tanggal: 30/11/2012
 
Alhamdulillah, terima kasih tadz., sudah dijabarkan secara lengkap di artikel kali ini ., InsyaAllah akan saya copy kan untuk referensi bagi anggota Jamaah Tahlil, Yasin, Maulid dst, InsyaAllah akan bermanfaat.  
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kami persilahkan, mudah-mudahan bermanfaat untuk umat.

5.
Pengirim: ikwan djody  - Kota: malang
Tanggal: 1/12/2012
 
Kita Kembalikan smua kepada Al-quran dan hadist dgn perawi yg jelas dan diakui keshahihannya.
Tahlil sdh jelas tradisi dari wali songo bukan dari Nabi dan para sahabatnya, tuntunannya saja tidak ada, seperti sholat, puasa, zakat, haji dsb yg sangat jelas tuntunannya. Tahlil Jangan dijadikan pembenaran dengan alasan pelestarian budaya bernilai islam untuk melaksanakan ibadah sosial dan dzikir.
ibadah sosial yg sangat benar adalah sholat jamaah 5waktu dimasjid, makmurkan masjid, berdzikir dan mendoakan orang tua baik yg masih ad maupun yg sdh meninggal secara individu.
Fakta saat ini jika ad tahlil org miskin dengan sajian seadanya apakah seramai dengan tahlil org kaya dengan sajian lengkap?? Ini bukti nilai dan tujuan tahlil sdh menyimpang dr niat semula, karena bukan dari Al-quran dan hadist yg shahih, jika segala sesuatu berasal dari Al-quran dan hadist yg shahih saya pastikan tidak akan berubah sedikitpun nilai dan tujuannya.
Maaf jika ad yg tidak berkenan, yg benar dari Allah SWT, yg salah dari saya, jazakumullah 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Ini kan retorika anda semata, karena anda sendiri tidak memahami Alquran dan Hadits, makanya anda mengatakan tidak ada tuntunan Tahlilan dari Alquran dan Hadits.

Padahal dalil tuntunan tahlilan dari Alquran dan Hadits itu benar-benar ada, dan yang memahaminya adalah orang-orang yang mendalami ilmu Alquan dan Hadits itu sendiri, bukan kalangan awwam seperti anda.

Nabi AAW bersabda ; Man sanna fil islaami sunnatan hasanatan faluhuu ajruhaa waajru man 'amila biha.... dst. Ini termasuk dalil dari haditsnya yang benar.

6.
Pengirim: zahroh  - Kota: surabaya
Tanggal: 1/12/2012
 
Gimana tanggapan kiyai orang2 yg anti tahlil menggunakan
MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU) untuk menyerang nahdiyin banyak di berbagai blog
sep[erti dibawah ini...mohon penjelasannya dri kiai
KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926

TENTANG

KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH

TANYA :

Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

JAWAB :

Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu. [1]

KETERANGAN :

Dalam kitab I’anatut Thalibin Kitabul Janaiz:

“MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN ( YANG DILARANG ).”

Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan :

“Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan tentang yang dilakukan pada hari ketiga kematian dalam bentuk penyediaan makanan untuk para fakir dan yang lain, dan demikian halnya yang dilakukan pada hari ketujuh, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta’ziyah jenazah.

Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak? Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya.”

Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BID’AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (rastsa’).

Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal “OCEHAN” ORANG-ORANG BODOH (yaitu orang-orang yang punya adat kebiasaan menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh, dst-penj.), agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi r terhadap seseorang yang batal (karena hadast) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.

Tirkah tidak boleh diambil / dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris).

SELESAI, KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926

§ REFERENSI : Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), halaman 15-17), Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.

§ CATATAN : Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa bacaan atau amalan yang pahalanya dikirimkan/dihadiahkan kepada mayit adalah tidak dapat sampai kepada si mayit. Lihat: Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim 1 : 90 dan Takmilatul Majmu’ Syarah Muhadzab 10:426, Fatawa al-Kubro (al-Haitsami) 2:9, Hamisy al-Umm (Imam Muzani) 7:269, al-Jamal (Imam al-Khozin) 4:236, Tafsir Jalalain 2:19 Tafsir Ibnu Katsir ttg QS. An-Najm : 39, dll.



Imam An-Nawawi رحمه الله berkata di dalam Syarah Muslim 1: 90:

"Adapun bacaaan Al-Qur'an (yang pahalanya dikirimkan kepada mayit), maka yang mashyur dalam madzhab Syafi'i, adalah tidak dapat sampai kepada mayit yang dikirimi. Adapun dalil Imam Syafi'i dan pengikutnya adalah firman Allah QS.An-Najm : 39: "Dan seseorang tidak akan memperoleh, melainkan pahala usahanya sendiri" dan sabda Rasulullah r, "Apabila manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah amal usahanya, kecuali tiga hal yaitu: sedakah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shaleh yang berdoa untuknya."



Lihat juga: Raudhatut Thalibin, Imam An-Nawawi 2:145, Mughnil Muhtaj 1: 268, Hasyiyatul Qalyubi 1: 353, Al-Majmu' Syarah Muhadzab 5: 286, Al- Fiqhu Alal Madzahibil Arba'ah 1:539, Fathul Qadir 2:142, Nailul Authar 4:148. Berkata Imam Asy-Syafi’i رحمه الله di dalam Al-Umm 1: 248:

"Aku membenci ma'tam, yaitu berkumpul-kumpul (di rumah keluarga mayit), meskipun di situ tidak ada tangisan, karena hal itu malah akan menimbulkan kesedihan baru."



Lebih lanjut di Kitab I'anatut Thalibin, Syarah Fathul Mu'in, juz 2, hal.145 disebutkan:

“Ya, apa yang dikerjakan orang, yaitu berkumpul-kumpul di rumah keluarga mayit dan dihidangkannya makanan untuk itu, adalah termasuk BID'AH MUNGKARAT yang bagi orang yang memberantasnya akan diberi pahala."  
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
BERIKUT NUKILAN ARTIKEL KARANGAN USTAD MOHAMMAD IDRUS RAMLI, SALAH SATU PENGURUS PBNU BIDANG BAHTSUL MASAIL :

Pada tanggal 23 Juli 2011, penulis mengisi acara Daurah pemantapan Ahlussunnah Wal-Jama’ah di Pondok Pesantren Sunan Pandan Aran, Sleman Yogyakarta yang diasuh oleh KH. Mu’tashim Billah Mufid. Dalam acara tersebut, salah seorang peserta mengajukan pertanyaan kepada penulis tentang hukum selamatan kematian, di mana dalam selebaran Manhaj Salaf, media siluman kaum Wahabi, selamatan atau suguhan makanan kematian dianggap haram secara mutlak. Selebaran tersebut banyak melakukan pelintiran dan distorsi terhadap pernyataan para ulama madzhab Syafi’i dalam kitab-kitab fiqih mu’tabaroh. Ulama menyatakan makruh, selebaran tersebut merubahnya menjadi haram.

Oleh karena itu, catatan ini akan mengupas secara ringkas tentang hukum suguhan kematian menurut para ulama. Suguhan makanan yang dibuat oleh keluarga duka cita kepada orang-orang yang berta’ziyah, diperselisihkan di kalangan ulama menjadi 3 pendapat. Pertama, pendapat yang menyatakan makruh. Pendapat ini diikuti oleh mayoritas ulama madzhab empat, seperti dikutip oleh Syaikh al-Bakri dalam kitab I’anah al-Thalibin dengan mengutip fatwa gurunya, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan berikut ini:

مَا يَفْعَلُهُ النَّاسُ مِنَ اْلاِجْتِمَاعِ عِنْدَ أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصُنْعِ الطَّعَامِ مِنَ الْبِدَعِ الْمُنْكَرَةِ (2/145) وَفِيْ حَاشِيَةِ الْعَلاَّمَةِ الْجَمَلِ عَلَى شَرْحِ الْمَنْهَجِ وَمِنَ الْبِدَعِ الْمُنْكَرَةِ وَالْمَكْرُوْهِ فِعْلُهَا مَا يَفْعَلُهُ النَّاسُ مِنَ الْوَحْشَةِ وَالْجُمَعِ وَاْلأَرْبَعِيْنَ بَلْ كُلُّ ذَلِكَ حَرَامٌ إِنْ كَانَ مِنْ مَالِ مَحْجُوْرٍ أَوْ مِنْ مَيِّتٍ عَلَيْهِ دَيْنٌ أَوْ يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ ضَرَرٌ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ اهـ (2/146) وَلاَ شَكَّ أَنَّ مَنْعَ النَّاسِ مِنْ هَذِهِ الْبِدْعَةِ الْمُنْكَرَةِ فِيْهِ إِحْيَاءٌ لِلسُّنَّةِ وَإِمَاتَةٌ لِلْبِدْعَةِ وَفَتْحٌ لِكَثِيْرٍ مِنْ أَبْوَابِ الْخَيْرِ وَغَلْقٌ لِكَثِيْرٍ مِنْ أَبْوَابِ الشَّرِّ فَإِنَّ النَّاسَ يَتَكَلَّفُوْنَ تَكَلُّفًا كَثِيْرًا يُؤَدِّيْ إِلَى أَنْ يَكُوْنَ ذَلِكَ الصُّنْعُ مُحَرَّمًا (2/146).

“Apa yang dilakukan oleh manusia berupa berkumbul di rumah keluarga duka cita dan menyediakan makanan adalah termasuk perbuatan bid’ah yang munkar. Dalam Hasyiyah al-Jamal diterangkan, “Di antara bid’ah yang munkar adalah tradisi selamatan (kenduri) kematian yang disebut wahsyah, juma’, dan arba’in (nama-nama tradisi di Hijaz). Bahkan semua itu dihukumi haram apabila makanan tersebut diambil dari harta mahjur ‘alaih (orang yang belum dibolehkan mentasarufkan hartanya seperti anak yang belum dewasa), atau harta si mati yang memiliki hutang, atau dapat menimbulkan madarat pada si mati tersebut dan sesamanya.” Tidak diragukan lagi bahwa mencegah manusia dari bid’ah yang munkar ini, dapat menghidupkan sunnah, mematikan bid’ah, membuka sekian banyak pintu-pintu kebaikan dan menutup sekian banyak pintu-pintu kejelekan. Karena manusia yang melakukannya telah banyak memaksakan diri yang membawa pada hukum keharaman.” (Syaikh al-Bakri, I’anah al-Thalibin, juz 2 hal. 145-146).

Demikian fatwa Sayyid Ahmad Zaini Dahlan al-Syafi’i yang dikutip oleh Syaikh al-Bakri dalam I’anah al-Thalibin. Kesimpulan dari fatwa tersebut adalah sebagai berikut. Pertama, selamatan pada hari kematian, sampai hari ketujuh dan hari empat puluh adalah makruh, apabila makanan yang disediakan berasal dari harta keluarga si mati. Kedua, selamatan tersebut bisa menjadi haram, apabila makanan disediakan dari harta mahjur ‘alaih (orang yang tidak boleh mengelola hartanya seperti anak yatim/belum dewasa), atau dari harta si mati yang mempunyai hutang, atau dapat menimbulkan madarat dan sesamanya. Demikian kesimpulan fatwa Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan yang bermadzhab Syafi’i. Fatwa yang sama juga dikemukakan oleh ulama madzhab Hanafi, Maliki dan Hanbali. Meski demikian, apabila makanan yang disediakan kepada penta’ziyah tersebut berasal dari bantuan para tetangga, maka status hukum makruhnya menjadi hilang dan berubah menjadi tidak makruh. Hal ini seperti dikemukakan oleh Syaikh Abdul Karim Bayyarah al-Baghdadi, mufti madzhab Syafi’i di Iraq, dalam kitabnya Jawahir al-Fatawa. Dalam hal ini, ia berkata:

اِنِ اجْتَمَعَ الْمُعِزُّوْنَ الرُّشَدَاءُ وَأَعْطَى كُلٌّ مِنْهُمْ بِاخْتِيَارِهِ مِقْدَارًا مِنَ النُّقُوْدِ أَوْ جَمَعُوْا فِيْمَا بَيْنَهُمْ مَا يُكْتَفَى بِهِ لِذَلِكَ الْجَمْعِ مِنَ الْمَأْكُوْلاَتِ وَالْمَشْرُوْبَاتِ وَأَرْسَلُوْهُ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ أَوْ إِلَى أَحَدِ جِيْرَانِهِمْ وَتَنَاوَلُوْا ذَلِكَ بَعْدَ الْوُصُوْلِ اِلَى مَحَلِّ التَّعْزِيَةِ فَلاَ حَرَجَ فِيْهِ هَذَا وَاللهُ الْهَادِيْ إِلَى الْحَقِّ وَالصَّوَابِ.

“Apabila orang-orang yang berta’ziyah yang dewasa berkumpul, lalu masing-masing mereka menyerahkan sejumlah uang, atau mengumpulkan sesuatu yang mencukupi untuk konsumsi perkumpulan (selamatan kematian) berupa kebutuhan makanan dan minuman, dan mengirimkannya kepada keluarga si mati atau salah satu tetangganya, lalu mereka menjamahnya setelah sampai di tempat ta’ziyah itu, maka hal tersebut tidak mengandung hukum kesulitan (tidak apa-apa). Allah lah yang menunjukkan pada kebenaran.” (Jawahir al-Fatawa, juz 1, hal. 178).

Kedua, pendapat yang menyatakan boleh atau mubah. Pendapat ini diriwayatkan dari Khalifah Umar, Sayyidah Aisyah dan Imam Malik bin Anas. Riwayat dari Khalifah Umar bin al-Khatthab disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar sebagai berikut:

عَنِ الْأَحْنَفِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ كُنْتُ أَسْمَعُ عُمَرَ رضي الله عنه يَقُوْلُ لاَ يَدْخُلُ أَحَدٌ مِنْ قُرَيْشٍ فِيْ بَابٍ إِلَّا دَخَلَ مَعَهُ نَاسٌ فَلاَ أَدْرِيْ مَا تَأْوِيْلُ قَوْلِهِ حَتَّى طُعِنَ عُمَرُ رضي الله عنه فَأَمَرَ صُهَيْبًا رضي الله عنه أَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثَلاَثًا وَأَمَرَ أَنْ يُجْعَلَ لِلنَّاسِ طَعَاماً فَلَمَّا رَجَعُوْا مِنَ الْجَنَازَةِ جَاؤُوْا وَقَدْ وُضِعَتِ الْمَوَائِدُ فَأَمْسَكَ النَّاسُ عَنْهَا لِلْحُزْنِ الَّذِيْ هُمْ فِيْهِ. (المطالب العالية، 5/328).

“Dari Ahnaf bin Qais, berkata: “Aku mendengar Umar berkata: “Seseorang dari kaum Quraisy tidak memasuki satu pintu, kecuali orang-orang akan masuk bersamanya.” Aku tidak mengerti maksud perkataan beliau, sampai akhirnya Umar ditusuk, lalu memerintahkan Shuhaib menjadi imam sholat selama tiga hari dan memerintahkan menyediakan makanan bagi manusia. Setelah mereka pulang dari jenazah Umar, mereka datang, sedangkan hidangan makanan telah disiapkan. Lalu mereka tidak jadi makan, karena duka cita yang menyelimuti.” (Al-Hafizh Ibnu Hajar, al-Mathalib al-‘Aliyah, juz 5 hal. 328).

Hal yang sama juga dilakukan oleh Sayyidah Aisyah, istri Nabi SAW. Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya:

عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهَا كَانَتْ إِذَا مَاتَ الْمَيِّتُ مِنْ أَهْلِهَا فَاجْتَمَعَ لِذَلِكَ النِّسَاءُ ثُمَّ تَفَرَّقْنَ إِلاَّ أَهْلَهَا وَخَاصَّتَهَا أَمَرَتْ بِبُرْمَةٍ مِنْ تَلْبِيْنَةٍ فَطُبِخَتْ ثُمَّ صُنِعَ ثَرِيْدٌ فَصُبَّتْ التَّلْبِيْنَةُ عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَتْ كُلْنَ مِنْهَا فَإِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ اَلتَّلْبِيْنَةُ مُجِمَّةٌ لِفُؤَادِ الْمَرِيْضِ تُذْهِبُ بَعْضَ الْحُزْنِ. رواه مسلم.

“Dari Urwah, dari Aisyah, istri Nabi SAW, bahwa apabila seseorang dari keluarga Aisyah meninggal, lalu orang-orang perempuan berkumpul untuk berta’ziyah, kemudian mereka berpisah kecuali keluarga dan orang-orang dekatnya, maka Aisyah menyuruh dibuatkan talbinah (sop atau kuah dari tepung dicampur madu) seperiuk kecil, lalu dimasak. Kemudian dibuatkan bubur. Lalu sop tersebut dituangkan ke bubur itu. Kemudian Aisyah berkata: “Makanlah kalian, karena aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Talbinah dapat menenangkan hari orang yang sedang sakit dan menghilangkan sebagian kesusahan.” (HR. Muslim [2216]).

Dua hadits di atas mengantarkan pada kesimpulan bahwa pemberian makanan oleh keluarga duka cita kepada orang-orang yang berta’ziyah tidak haram. Khalifah Umar berwasiat, agar para penta’ziyah diberi makan. Sementara Aisyah, ketika ada keluarganya meninggal, menyuruh dibuatkan kuah dan bubur untuk diberikan kepada keluarga, orang-orang dekat dan teman-temannya yang sedang bersamanya. Dengan demikian, tradisi pemberian makan kepada para penta’ziyah telah berlangsung sejak generasi sahabat Nabi SAW.

Demikian pula Imam Malik bin Anas, pendiri madzhab Maliki, berpandangan bahwa hidangan kematian yang telah menjadi tradisi masyarakat dihukumi jaiz (boleh), dan tidak makruh. Dalam konteks ini, Syaikh Abdullah al-Jurdani berkata:

يَجُوْزُ مِنْهُ مَا جَرَتْ بِهِ الْعَادَةُ عِنْدَ الْإِماَمِ مَالِكٍ كَالْجُمَعِ وَنَحْوِهَا وَفِيْهِ فُسْحَةٌ كَمَا قَالَهُ الْعَلاَّمَةُ الْمُرْصِفِيُّ فِيْ رِسَالَةٍ لَهُ.

“Hidangan kematian yang telah berlaku menjadi tradisi seperti tradisi Juma’ dan sesamanya adalah boleh menurut Imam Malik. Pandangan ini mengandung keringanan sebagaimana dikatakan oleh al-Allamah al-Murshifi dalam risalahnya.” (Syaikh Abdullah al-Jurdani, Fath al-‘Allam Syarh Mursyid al-Anam, juz 3 hal. 218).

Ketiga, pendapat yang mengatakan sunnat. Pendapat ini diriwayatkan dari kaum salaf sejak generasi sahabat yang menganjurkan bersedekah makanan selama tujuh hari kematian untuk meringankan beban si mati. Dalam hal ini, al-Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam kitab al-Zuhd:

عَنْ سُفْيَانَ قَالَ قَالَ طَاوُوْسُ إِنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُوْنَ فِيْ قُبُوْرِهِمْ سَبْعاً فَكَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ أَنْ يُطْعَمَ عَنْهُمْ تِلْكَ الْأَياَّمَ.

“Dari Sufyan berkata: “Thawus berkata: “Sesungguhnya orang yang mati akan diuji di dalam kubur selama tujuh hari, karena itu mereka (kaum salaf) menganjurkan sedekah makanan selama hari-hari tersebut.”

Hadits di atas diriwayatkan al-Imam Ahmad bin Hanbal dalam al-Zuhd, al-Hafizh Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Auliya’ (juz 4 hal. 11), al-Hafizh Ibnu Rajab dalam Ahwal al-Qubur (32), al-Hafizh Ibnu Hajar dalam al-Mathalib al-‘Aliyah (juz 5 hal. 330) dan al-Hafizh al-Suyuthi dalam al-Hawi lil-Fatawi (juz 2 hal. 178). Menurut al-Hafizh al-Suyuthi, hadits di atas diriwayatkan secara mursal dari Imam Thawus dengan sanad yang shahih. Hadits tersebut diperkuat dengan hadits Imam Mujahid yang diriwayatkan oleh Ibnu Rajab dalam Ahwal al-Qubur dan hadits Ubaid bin Umair yang diriwayatkan oleh Imam Waki’ dalam al-Mushannaf, sehingga kedudukan hadits Imam Thawus tersebut dihukumi marfu’ yang shahih.

Demikian kesimpulan dari kajian al-Hafizh al-Suyuthi dalam al-Hawi lil-Fatawi. Tradisi bersedekah kematian selama tujuh hari berlangsung di Kota Makkah dan Madinah sejak generasi sahabat, hingga abad kesepuluh Hijriah, sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh al-Suyuthi.

Berdasarkan paparan di atas, dapat kita simpulkan bahwa tradisi hidangan makanan dari keluarga duka cita untuk orang-orang yang berta’ziyah masih diperselisihkan di kalangan ulama salaf sendiri antara pendapat yang mengatakan makruh, mubah dan sunnat. Di antara mereka tidak ada pendapat yang menyatakan haram. Bahkan untuk selamatan tujuh hari, berdasarkan riwayat Imam Thawus, justru dianjurkan oleh kaum salaf sejak generasi sahabat dan berlangsung di Makkah dan Madinah hingga abad kesepuluh Hijriah. Wallahu a’lam.

7.
Pengirim: riehul firdaus  - Kota: Sidoarjo
Tanggal: 2/12/2012
 
Tahlil-nya ada, ustad. Yg nggak ada atau belum ketemu adl dalil hadits ttg praktek di zaman Nabi. Maksudnya bukan cuma yg berhenti pd tabiin Thawus seorang, yg mengabarkan bw mayat itu mengalami hal2 berat di hr 1-7. Ada nggak yg nyebut selamatan (yg diisi doa & tahlil) pd hr ke-40, 100, 1000 yg dari khasanah sahabat? Yg dilakukan sahabat Nabi?

Dalil2 normatif itu bbuuuaaanyyaaak. Tp belum juga ketemu dalil praktek oleh Nabi Muhammad tentang perbuatan itu tadi.

Kalau begitu siapa yang beretorika? 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Wah, rupanya anda termasuk penganut inkarus sunnah, padahal Nabi SAW bersabda adalam hadits shahih riwayat Imam Muslim :

عَنْ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْبَجَلِيِّ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ r مَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مَنْ بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ. رواه مسلم

“Jarir bin Abdullah al-Bajali radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang memulai perbuatan baik dalam Islam, maka ia akan memperoleh pahalanya serta pahala orang-orang yang melakukannya sesudahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa yang memulai perbuatan jelek dalam Islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang melakukannya sesudahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka.” (HR. Muslim [1017]).

Mengenai 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari, atau bahkan tiap hari, tak ada dalil yg melarangnya, itu adalah Bid’ah hasanah yg sudah diperbolehkan oleh Rasulullah saw, justru kita perlu bertanya, ajaran muslimkah mereka yg melarang orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, siapa yg alergi dengan suara Laa ilaaha illallah kalau bukan Iblis dan pengikutnya ?, siapa yg membatasi orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, muslimkah?, semoga Allah memberi hidayah pada muslimin, tak ada larangan untuk menyebut Laa ilaaha illallah, tak pula ada larangan untuk melarang yg berdzikir pada hari ke 40, hari ke 100 atau kapanpun, pelarangan atas hal ini adalah kemungkaran yg nyata. Bila hal ini dikatakan merupakan adat orang hindu, maka bagaimana dengan computer, handphone, mikrofon, dan lainnya yg merupakan adat orang kafir, bahkan mimbar yg ada di masjid masjid pun adalah adat istiadat gereja, namun selama hal itu bermanfaat dan tak melanggar syariah maka boleh boleh saja mengikutinya, sebagaimana Rasul saw meniru adat yahudi yg berpuasa pada hari 10 muharram, (shahih Bukhari) bahwa Rasul saw menemukan orang yahudi puasa dihari 10 muharram karena mereka tasyakkur atas selamatnya Musa as, dan Rasul saw bersabda : Kami lebih berhak dari kalian atas Musa as, lalu beliau saw memerintahkan muslimin agar berpuasa pula” (HR Shahih Bukhari hadits no.3726, 3727) Kita bisa melihat bagaimana para Huffadh dan para Imam imam mengirim hadiah pd Rasul saw : • Berkata Imam Alhafidh Al Muhaddits Ali bin Almuwaffiq rahimahullah : “aku 60 kali melaksanakan haji dengan berjalan kaki, dan kuhadiahkan pahala dari itu 30 haji untuk Rasulullah saw”. • Berkata Al Imam Alhafidh Al Muhaddits Abul Abbas Muhammad bin Ishaq Atssaqafiy Assiraaj : “aku mengikuti Ali bin Almuwaffiq, aku lakukan 7X haji yg pahalanya untuk Rasulullah saw dan aku menyembelih Qurban 12.000 ekor untuk Rasulullah saw, dan aku khatamkan 12.000 kali khatam Alqur’an untuk Rasulullah saw, dan kujadikan seluruh amalku untuk Rasulullah saw, ia adalah murid dari Imam Bukhari rahimahullah, dan ia memiliki 70 ribu masalah yg dijawab oleh Imam Malik, beliau lahir pada 218 H dan wafat pada 313H • Berkata Al Imam Al Hafidh Abu Ishaq Almuzakkiy, aku mengikuti Abul Abbas dan aku haji pula 7X untuk rasulullah saw, dan aku mengkhatamkan Alqur’an 700 kali khatam untuk Rasulullah saw. (Tarikh Baghdad Juz 12 hal 111).

8.
Pengirim: riehul firdaus  - Kota: Sidoarjo
Tanggal: 2/12/2012
 
Nabi Muhammad tidak pernah selamatan kematian model 7-4-100-1000 hari, tp di sini dicarikan dalil pembenarnya. Meski makalahnya panjang lebar, isinya ya cuma pembenaran yg dicari2 kelewat jauh guna mendukung selamatan kematian model itu.

Kini sudah diakui bahwa itu berasal dr Hindu-Budha. Ini sudah lumayan. Kemarin2 nggak ada pengakuan soal “mewarisi Hindu-Budha” itu. Sekarang itu diakui sebagai ijtihad yang jempol. Toh ijtihad yg salah sudah bernilai satu....

Sekarang sudah pula merujuk Walisongo — ini perkembangan baru lagi. Perkembangan yang sy kira "kontra-produktif", karena Walisongo itu cerita mitos bin legenda yang kabur, yg nggak bisa dipertanggung-jawabkan akurasinya. Mosok Islam yang sudah sempurna mau bersandar pd mitos2 abu2 semacam itu... Yg bener aja ustadz 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Masih banyak amalan umat Islam dewasa ini yang dapat dikategorikan sebagai perilaku bid`ah hasanah, baik yang diamalkan oleh umat Islam Ahlussunnah wal jamaah maupun oleh kelompok Wahhabi/Salafi.

Dikatakan bid`ah dikarenakan tidak pernah dilaksanakan oleh Nabi SAW sendiri, maupun oleh para shahabat secara tekstual. Sedangkan dikatakan hasanah, karena tidak bertentangan dengan larangan Alquran dan hadits Nabi SAW, serta masih dalam batas kontektual dari ayat Alquran maupun hadits Nabi.

Jika saja setiap amalan yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi SAW dihukumi sesat, maka tokoh-tokoh Wahhabi/Salafi juga tentunya termasuk golongan sesat dikarenakan oleh perilaku mereka sendiri.

Bahkan bid`ah yang paling sesat, tentunya adalah perilaku menimbulkan permusuhan dan perpecahan di kalangan umat Islam, dengan menuduh umat Islam yang berbeda pendapat sebagai golongan sesat, padahal hanya karena perbedaan dalam masalah furu`iyyah ijtihadiyyah (non prinsip dan non aqidah) yang diperkenankan oleh agama. Kebiasaan buruk semacam inilah yang menjadi ciri khas kelompok Wahhabi/Salafi. Semoga hati mereka diberi hidayah oleh Allah.

Coba perhatikan, pernahkan Nabi SAW melaksanakan shalat baik fardhu maupun sunnah dengan hanya memakai celana panjang dan baju koko sebatas lutut, sebagaimana pakaian adat masyarakan Pakistan, dengan meningalkan qamis dan jubbah ? Berpakaian semacam itu, di Indonesia kini menjadi salah satu ciri khas pakaian penganut Wahhabi/Salafi. Jelaslah pakaian shalat semacam ini termasuk Bid`ah juga, untunglah warga mayoritas penganut Sunni Syafi`i masih menghukuminya sebagai bid`ah hasanah.

Khusus bid`ah hasanah tentang masalah melafadzkan niat puasa secara bersama dan terdengar jelas, sebagaimana yang dilakukan para jamaah tarawih setelah menyelesaikan shalat witir, amalan ini tidaklah mengganggu orang lain, karena kebiasaan masyarakat Indonesia tidak ada seorangpun yang shalat sendiri-sendiri di masjid/mushalla saat dilaksanakan jamaah shalat tarawih. Jadi, waktu membaca niat tersebut benar-benar dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh jamaah yang hadir di masjid/mushalla itu, maka secara otomatis tidak bersamaan dengan seseorangpun yang sedang melaksanakan shalat dan tidak mengganggu siapapun.

Tentang masalah mengeraskan suara saat membaca niat (Attalaffudzu bin niyyah), banyak kalangan ulama yang memperbolehkan dan menganjurkannya namun bukan mewajibkannya, antara lain disebutkan di dalam kitab :
1). Hawaasyi Assyarwani juz 2 halaman 12.
2). Asnal mathalib juz 1 hal 225
3). Syarhul bahjatil wardiyyah juz 1 hal 402
4). Tuhfatul Muhtaaj fi Syarhil minhaaj juz 2 hal 477
5). Mughnil muhtaaj juz 1 hal 258
6). Fiqhul ibadaat- Syafi`i juz 1 hal 104
7). Haasyiatul jamal juz 1 hal 372
8). dan lain sebagainya.

Jika diteliti dengan seksama, masih banyak perilaku bid`ah hasanah yang hingga kini terus diamalkan oleh umat Islam, baik dari kalangan Ahlus sunnah maupun kelompok Wahhabi sendiri, antara lain :
- Berjamaah shalat tahajjud sebulan suntuk yang dikhususkan mulai awwal hingga bulan Ramadhan seperti yang dilakukan di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram saat ini.
- Ucapan: Shalaatul Qiyaami atsaabakumullah, sebelum shalat tahajjud di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram tersebut, termasuk bid`ah hasanah yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para shahabat.
- Memberi predikat terhadap sebuah hadits dengan derajat shahih, hasan, dhaif, mutawatir dan ahad. Baik Nabi SAW dan para shahabat tidak pernah melakukan hal semacam itu.
- Berdakwah menggunakan media radio,kaset,CD,TV, internet dan media cetak termasuk bid`ah hasanah.
- Membagi-bagi tauhid menjadi Tauhid Rububiyah, Uluhiyah, Asma wa shifat sebagaimana yang diajarkan oleh tokoh-tokoh Wahhabi/Salafi ini jelas-jelas bid`ah yang tidak ada tuntunanya baik dari Alquran maupun hadits Nabi SAW, namun tidaklah dikatakan jelek.
-Mendirikan ormas seperti NU, Muhammadiyyah, Al-irsyad, Salafi Indonesia, Jamaah Tabligh, dsb termasuk bid\`ah hasanah.
- Mendirikan sekolah formal dengan sistem klasikal termasuk bid`ah hasanah.
- Penulisan Alquran menjadi buku dan diperbanyak lewat pecatakan, serta pemberian harakatnya termasuk bid`ah hasanah.
- Pengelompokan hadits shahih dalam satu buku karangan seperti kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim termasuk bid`ah hasanah.
-Penerjemahan Alquran ke berbagai bahasa, seperti yang diterbitkan oleh Depag, termasuk bid`ah hasanah, bahkan di Indonesia, terjemahan Depag ini dijadikan kitab rujukan oleh banyak pihak, termasuk oleh kelompok Wahhabi/Salafi Indonesia.
- Tentunya masih banyak contoh yang lainnya jika diteliti satu persatu.
Kaum muslimin Indonesia sebagai mayoritas penganut Sunni Syafi`i, sangat perlu melestarikan ajaran ulama salaf Ahlus sunnah, khususnya yang berasal dari ajaran para ulama bermadzhab Syafi`i.

Perlu diingat, bumi Indonesia adalah bumi Sunni Syafi`i, bumi yang diislamkan oleh para walisongo, yaitu tokoh sembilan ulama yang mengajarkan fiqih Islam menurut madzhab Syafi`i, untuk dilaksanakan sehari-hari oleh bangsa Indonesia.

Saat umat Islam dipimpin oleh para walisongo, tidak pernah terjadi pertentangan, percekcokan, perpecahan dan perselisihan paham sedikitpun. Mereka sangat utuh, menyatu padu dalam membangun kultur Islam bagi bangsa Indonesia. Saat itu umat Islam benar-benar dapat merajut sebuah persatuan yang saling menghormati sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah, wa`tashimu bi hablillahi jamii`an walaa tafarraqu.

Sebagai contoh, pada setiap datang bulan Ramadhan, para walisongo mengajarkan shalat tarawih dua puluh rakaat secara berjamaah di masjid dan mushalla, yaitu dimulai sejak memasuki awwal bulan Ramadhan hingga akhir bulan puasa tersebut. Dengan ajaran para walisongo ini maka seluruh umat Islam di Indonesia saat itu pun mengamalkannya secara serentak dan seragam.
Dalam melaksanakan ibadah shalat tarawih di bulan Ramadhan, para walisongo mengikuti bid`ah hasanah yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khatthab dan dilanjutkan hingga di jaman Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA sebagai Khalifah ke empat. Yaitu shalat tarawih dua puluh rakaat, yang dilakukan secara berjamaah selama sebulan suntuk. Amalan semacam ini juga ternyata terus dilestarikan oleh para ulama berikutnya secara estafet, bahkan hingga kini, bid`ah hasanah rintisan Sayyidina Umar ini tetap dijaga di Madinah dan diamalkan di Masjid Nabawi dan di Masjidil haram Makkah.
Siapapun orangnya, dari manapun madzhabnya, termasuk pengikut Wahhabi sekalipun, seperti Syeikh Bin Baz dan teman-temannya, jika menjadi imam shalat tarawih di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, maka harus melestarikan bid`ah hasanah yang diprakarsai oleh Sayyidina Umar bin Khatthab ini, sekalipun Nabi SAW sendiri tidak pernah melakukan tarawih berjamaah sebulan suntuk di bulan Ramadhan. Bahkan Khalifah Abu Bakar juga tidak pernah shalat tarawih berjamaah menjadi satu di Masjid Nabawi selama sebulan suntuk.

Sesuai dengan riwayat-riwayat hadits shahih, Nabi SAW melaksanakan shalat tarawi berjamaah di Masjid hanya beberapa hari saja. Tidak ada satupun riwayat yang menerangkan Nabi SAW pernah berjamaah tarawih sebulan suntuk. Karena itu Sayyidina Umar bin Khatthab melegitimasi shalat berjamaah tarawih dua puluh rakaat sebulan suntuk yang beliau rintis dengan pengakuan jujurnya : Ni`matil bid`atu hadzihi (inilah bid`ah yang terbaik/hasanah).

Apakah Sayyidina Umar harus dihukumi dhalalah/sesat karena dianggap melawan ajaran Nabi SAW ? Tidak ada seorang Islam pun penganut Ahlus sunnah wal jamaah yang berpendapat semacam itu. Nabi SAW sudah berwasiat : Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap sunnahku dan sunnah Alkhulafaurrasyidun setelahku.

Para Ulama bersepakat bahwa Sayyidina Umar bin Khattab sebagai khalifah ke dua, adalah figur yang sangat `alim dalam memahami makna yang tersirat dalam hadits Nabi SAW : Kullu bid`atin dhalalah, yaitu haruslah diartikan: SEBAGIAN BID`AH ITU ADALAH SESAT. Dengan pengertian ini, maka tidak ada seorangpun dari kalangan ulama Ahlus sunnah wal jamaah yang berpendapat bahwa seluruh bid`ah itu sesat, kecuali kelompok minoritas kalangan Wahhabi/Salafi saja.

Kenyataannya, shalat tarawih secara berjamaah yang dilakukan di Masjid Nabawi dan masjid-masjid lainnya selama sebulan suntuk dari awwal sampai akhir bulan Ramadhan, menurut Sayyidina Umar sendiri termasuk bid`ah, tetapi yang nikmat/hasanah. Di samping itu, dikatakan bid`ah hasanah karena tidak ada larangan secara jelas baik di dalam Alquran maupun hadits Nabi SAW.

Masih banyak lagi macam-macam bid`ah hasanah yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi SAW, namun tetap dilestarikan di Makkah dan Madinah serta di masjid-masjid lainnya, termasuk oleh tokoh-tokoh Wahhabi/Salafi sendiri. Antara lain, mengkhatamkan Alquran dalam shalat tarawih, dan membagi menjadi sekian juz pada tiap harinya, hingga pada akhir Ramadhan dapat mengadakan khataman Alquran.

Termasuk juga membaca doa khatmil Quran dalam shalat di akhir Ramadhan. Bahkan sebagian imam Masjid Nabawi dan Masjidil Haram juga ada yang menangis-nangis tatkala membaca doa di saat shalat witir pada Akhir Ramadhan. Sekalipun perilaku ini termasuk bid`ah karena tidak pernah diamalkan oleh Nabi SAW dan Alkhulafaurrasyidun, namun dapatlah dikategorikan sebagi bid`ah hasanah.

Di Indonasia juga banyak amalan bid`ah hasanah, yang perlu dilestarikan oleh umat Islam yang mayoritas menjadi penganut Sunni Syafi`i, sekaligus penerus ajaran para walisongo. Amalan-amalan itu antara lain, membaca doa pujian seperti yang dilakukan para jamaah dalam menyela-nyelai shalat tarawih dengan menyebut nama Nabi SAW dan Alkhulafaurrasyidun setiap usai shalat dua rakaat.

Demikian juga dengan doa tarawih, doa witir, serta bersama-sama membaca niat puasa dengan suara jelas dan sedikit keras. Semua itu haruslah diyakini sebagai bid`ah hasanah, tanpa harus takut dituduh sesat (bid`ah dhalalah) oleh kelompok manapun, termasuk oleh tokoh-tokoh Wahhabi/Salafi. Karena mereka juga hakikatnya sama-sama melakukan bid`ah hasanah, minimal saat melaksanakan shalat tarawih berjamaah sebulan suntuk di masjid/mushalla.

9.
Pengirim: aldy  - Kota: pontianak
Tanggal: 2/12/2012
 
Lha wong tatacara aqiqah saja ada dalilnya, masak selamatan kematian cuma bersandar pd dasar2 yang umum-normatif, lalu diterapkan secara khusus & detil menunjuk ke angka2 istimewa hr ke 7, 40, 100, 1000 hari.

Kalau untuk itu anda mendasarkan diri pd Walisongo, ada problem besar di sini:

(1) Akurasi tentang kisah Walisongo sendiri,

(2) Kalau toh itu akurat, bagaimana dengan konteksnya yang kini sudah berbeda! 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Ternyata anda sudah mengingkari hadits shahih riwayat Imam Muslim :

Dari Jarir bin Abdullah radhiyallaHu ‘anHu, ia berkata,

“Kami berada di sisi Rasulullah ketika hari mulai siang. Lalu ada beberapa orang yang datang dengan tanpa alas kaki, compang – camping, berjubah robek, sambil menyandang pedang, yang umumnya mereka berasal dari suku Mudhar, bahkan semuanya dari suku Mudhar. Maka berubahlah wajah Rasulullah karena melihat kemiskinan mereka. Kemudian beliau masuk ke rumah lalu keluar lagi. Beliau menyuruh Bilal agar menyerukan adzan, Bilal pun menyerukan adzan …Maka datanglah seorang laki – laki dari kaum Anshar dengan membawa satu kantong (makanan) yang hampir tidak muat dibawa dengan telapak tangannya, bahkan tidak mampu. Lalu orang – orang menyusul berdatangan membawa sedekah hingga aku lihat dua tumpuk makanan dan pakaian, sehingga aku lihat wajah Rasulullah berseri – seri keemasan. Lalu Rasulullah bersabda,

‘Man sanna fil islaami sunnatan hasanatan falaHu ajruHa wa ajru man ‘amila biHa ba’daHu’

‘Barangsiapa merintis suatu sunnah yang baik dalam Islam maka dia mendapat pahala amalan itu.

Berikut artikel yang pernah kami muat di situs ini yang rupanya anda kurang rajin membacanya:
APA TAHLILAN HARI KE 7 & 40 MELAWAN SYARIAT ?

Luthfi Bashori

Dewasa ini, banyak tuduhan negatif dari kaum Wahhabi terhadap umat Islam yang mengadakan tahlilan dan kirim doa kepada ahli kubur, yang dilaksanakan pada hari ke 1, 2, 3 atau hingga hari ke 7, dan pada hari ke 40, 100, 1000, atau pelaksanaan haul tahunan. Kaum Wahhabi mengatakan bahwa waktu-waktu yang dipilih itu adalah hasil konversi dari adat istiadat Hindu yang diadopsi oleh para pengamalnya. Karena itulah kaum Wahhabi melarang kelompoknya mengikuti tradisi Hindu tersebut.

Untuk menyanggah tuduhan Wahhabi ini sangatlah mudah. Adat istiadat yang tidak bertentangan dengan ajaran syariat Islam, maka boleh saja diadopsi oleh umat Islam. Contoh, kebiasaan bercelana panjang (pantalon) dengan memakai baju hem dan berdasi adalah adat istiadat si penjajah Belanda sang penyebar agama Kristren di Indonesia. Mereka jika mengadakan ritual agama Kristen di dalam gereja juga menggunakan celana panjang.

Konon, sebagian ulama di masa penjajahan, sempat mengharamkan penggunaan celana panjang bagi umat Islam, dengan dalil man tasyabbaha biqaumin fahuwa minhum (barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari golongan mereka). Karena bercelana pantalon saat itu menyerupai kaum Kristen Belanda, maka dihukumi haram.

Namun pada akhir perkembangan, budaya bercelana panjang pantalon sudah menjadi budaya masyarakat muslim Indonesia, bahkan banyak sekali yang melaksanakan shalat pun dengan menggunakan celana panjang (pantalon).

Dasi pun kini sudah menjadi seragam para pegawai perkantoran, maupun anak-anak pelajar sekolah formal setingkat SD, SLTP dan SLTA. Dasi juga menjadi hal yang tidak pernah dipermasalkan oleh kaum Wahhabi.

Jika diteliti secara jujur, tidak sedikit kaum Wahhabi Indonesia yang menggunakan celana panjang pantalon dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat berfatwa di kalangan kelompoknya, bahkan anak-anak mereka juga dimasukkan sekolah formal dengan menggunakan seragam wajib berdasi.

Nabi SAW sendiri mengadopsi adat istiadat kaum Yahudi dalam melaksanakan puasa sunnah `Asyura, tapi ditambahi 1 hari (tanggal 9-10 atau 10-11 Muharram) agar tidak sama dengan puasanya Yahudi.

Sebagaimana dalam sejarah disebutkan, tatkala Nabi SAW masuk kota Madinah, beliau SAW mendapati kaum Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Lantas beliau SAW bertanya mengapa mereka berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Kaum Yahudi menjawab : Kami berpuasa karena syukur kepada Allah atas diselamatkannya Nabi Musa dari kejaran Firaun pada tanggal 10 Muharram.. ! Maka Nabi SAW mengatakan : Sesungguhnya kami lebih berhak bersyukur kepada Allah atas hal itu dari pada kalian .. !

Kemudian Nabi SAW perintah kepada umat Islam : Shuumuu yauma `Aasyuura wakhaaliful yahuud, shuumu yauman qablahu au yauman bakdahu (Berpuasa `Asyuura-lah kalian, tapi berbedalah dengan kaum Yahudi, berpuasa jugalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya). HR. Bukhari & Muslim.

Baju koko juga dari budaya China yang mayoritas masyarakatnya beragama Khong hu cu dan Atheis, tapi kini menjadi trend sebagai baju muslim dunia. Kubah masjid dulunya berasal dari kubah gereja kemudian dirubah bentuknya menjadi kubah yang stupa, padahal bentuk stupa juga menjadi salah satu adat rumah ibadah Budha. Sedangkan menara masjid diadopsi dari menara kaum Majusi penyembah api, demikian dan sebagainya.

Karena semua adat istiadat tersebut di atas, tidak bertentangan dengan subtansi syariat, maka hukumnya boleh-boleh saja. Apalagi umat Islam mengisi hari-hari kematian keluarganya pada hari ke 1, 2, 3, 7, 40, 100, 1000, dan haul tahunan, yang sangat berbeda dengan adat kaum Hindu. Umat Islam mengisinya dengan menbaca Yasin, Shalawat kepada Nabi SAW, dzikir-dzikir yang diajarkan Nabi SAW, berdoa mohon ampunan kepada Allah untuk ahli kubur, dan bersedekah. Jadi sudah sesuai dengan perintah Nabi SAW. Bahkan semua isi amalan Tahlilan itu subtansinya adalah pengamalan ajaran Alquran dan Hadits Nabi SAW.

Jika diteliti dengan seksama, masih banyak perilaku bid`ah yang hingga kini terus diamalkan oleh kelompok Wahhabi sendiri, antara lain :
- Berjamaah shalat tahajjud sebulan suntuk yang dikhususkan mulai awwal hingga bulan Ramadhan seperti yang dilakukan di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram saat ini.
- Ucapan: Shalaatul Qiyaami atsaabakumullah, sebelum shalat tahajjud di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram tersebut, termasuk bid`ah hasanah yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para shahabat.
- Memberi predikat terhadap sebuah hadits dengan derajat shahih, hasan, dhaif, mutawatir dan ahad. Baik Nabi SAW dan para shahabat tidak pernah melakukan hal semacam itu.
- Berdakwah menggunakan media radio,kaset,CD,TV, internet dan media cetak termasuk bid`ah hasanah.
- Membagi-bagi tauhid menjadi Tauhid Rububiyah, Uluhiyah, Asma wa shifat sebagaimana yang diajarkan oleh tokoh-tokoh Wahhabi/Salafi ini jelas-jelas bid`ah yang tidak ada tuntunanya baik dari Alquran maupun hadits Nabi SAW, namun tidaklah dikatakan jelek.
-Mendirikan ormas seperti NU, Muhammadiyyah, Al-irsyad, Salafi Indonesia, Jamaah Tabligh, dsb termasuk bid\`ah hasanah.
- Mendirikan sekolah formal dengan sistem klasikal termasuk bid`ah hasanah.
- Penulisan Alquran menjadi buku dan diperbanyak lewat pecatakan, serta pemberian harakatnya termasuk bid`ah hasanah.
- Pengelompokan hadits shahih dalam satu buku karangan seperti kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim termasuk bid`ah hasanah.
-Penerjemahan Alquran ke berbagai bahasa, seperti yang diterbitkan oleh Depag, termasuk bid`ah hasanah, bahkan di Indonesia, terjemahan Depag ini dijadikan kitab rujukan oleh banyak pihak, termasuk oleh kelompok Wahhabi/Salafi Indonesia.
- Tentunya masih banyak contoh yang lainnya jika diteliti satu persatu.
Kaum muslimin Indonesia sebagai mayoritas penganut Sunni Syafi`i, sangat perlu melestarikan ajaran ulama salaf Ahlus sunnah, khususnya yang berasal dari ajaran para ulama bermadzhab Syafi`i.

Perlu diingat, bumi Indonesia adalah bumi Sunni Syafi`i, bumi yang diislamkan oleh para walisongo, yaitu tokoh sembilan ulama yang mengajarkan fiqih Islam menurut madzhab Syafi`i, untuk dilaksanakan sehari-hari oleh bangsa Indonesia.

Saat umat Islam dipimpin oleh para walisongo, tidak pernah terjadi pertentangan, percekcokan, perpecahan dan perselisihan paham sedikitpun. Mereka sangat utuh, menyatu padu dalam membangun kultur Islam bagi bangsa Indonesia. Saat itu umat Islam benar-benar dapat merajut sebuah persatuan yang saling menghormati sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah, wa`tashimu bi hablillahi jamii`an walaa tafarraqu.

Sebagai contoh, pada setiap datang bulan Ramadhan, para walisongo mengajarkan shalat tarawih dua puluh rakaat secara berjamaah di masjid dan mushalla, yaitu dimulai sejak memasuki awwal bulan Ramadhan hingga akhir bulan puasa tersebut. Dengan ajaran para walisongo ini maka seluruh umat Islam di Indonesia saat itu pun mengamalkannya secara serentak dan seragam.
Dalam melaksanakan ibadah shalat tarawih di bulan Ramadhan, para walisongo mengikuti bid`ah hasanah yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khatthab dan dilanjutkan hingga di jaman Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA sebagai Khalifah ke empat. Yaitu shalat tarawih dua puluh rakaat, yang dilakukan secara berjamaah selama sebulan suntuk. Amalan semacam ini juga ternyata terus dilestarikan oleh para ulama berikutnya secara estafet, bahkan hingga kini, bid`ah hasanah rintisan Sayyidina Umar ini tetap dijaga di Madinah dan diamalkan di Masjid Nabawi dan di Masjidil haram Makkah.
Siapapun orangnya, dari manapun madzhabnya, termasuk pengikut Wahhabi sekalipun, seperti Syeikh Bin Baz dan teman-temannya, jika menjadi imam shalat tarawih di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, maka harus melestarikan bid`ah hasanah yang diprakarsai oleh Sayyidina Umar bin Khatthab ini, sekalipun Nabi SAW sendiri tidak pernah melakukan tarawih berjamaah sebulan suntuk di bulan Ramadhan. Bahkan Khalifah Abu Bakar juga tidak pernah shalat tarawih berjamaah menjadi satu di Masjid Nabawi selama sebulan suntuk.

Sesuai dengan riwayat-riwayat hadits shahih, Nabi SAW melaksanakan shalat tarawi berjamaah di Masjid hanya beberapa hari saja. Tidak ada satupun riwayat yang menerangkan Nabi SAW pernah berjamaah tarawih sebulan suntuk. Karena itu Sayyidina Umar bin Khatthab melegitimasi shalat berjamaah tarawih dua puluh rakaat sebulan suntuk yang beliau rintis dengan pengakuan jujurnya : Ni`matil bid`atu hadzihi (inilah bid`ah yang terbaik/hasanah).

Apakah Sayyidina Umar harus dihukumi dhalalah/sesat karena dianggap melawan ajaran Nabi SAW ? Tidak ada seorang Islam pun penganut Ahlus sunnah wal jamaah yang berpendapat semacam itu. Nabi SAW sudah berwasiat : Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap sunnahku dan sunnah Alkhulafaurrasyidun setelahku.

Para Ulama bersepakat bahwa Sayyidina Umar bin Khattab sebagai khalifah ke dua, adalah figur yang sangat `alim dalam memahami makna yang tersirat dalam hadits Nabi SAW : Kullu bid`atin dhalalah, yaitu haruslah diartikan: SEBAGIAN BID`AH ITU ADALAH SESAT. Dengan pengertian ini, maka tidak ada seorangpun dari kalangan ulama Ahlus sunnah wal jamaah yang berpendapat bahwa seluruh bid`ah itu sesat, kecuali kelompok minoritas kalangan Wahhabi/Salafi saja.

Kenyataannya, shalat tarawih secara berjamaah yang dilakukan di Masjid Nabawi dan masjid-masjid lainnya selama sebulan suntuk dari awwal sampai akhir bulan Ramadhan, menurut Sayyidina Umar sendiri termasuk bid`ah, tetapi yang nikmat/hasanah. Di samping itu, dikatakan bid`ah hasanah karena tidak ada larangan secara jelas baik di dalam Alquran maupun hadits Nabi SAW.

Masih banyak lagi macam-macam bid`ah hasanah yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi SAW, namun tetap dilestarikan di Makkah dan Madinah serta di masjid-masjid lainnya, termasuk oleh tokoh-tokoh Wahhabi/Salafi sendiri. Antara lain, mengkhatamkan Alquran dalam shalat tarawih, dan membagi menjadi sekian juz pada tiap harinya, hingga pada akhir Ramadhan dapat mengadakan khataman Alquran.

Termasuk juga membaca doa khatmil Quran dalam shalat di akhir Ramadhan. Bahkan sebagian imam Masjid Nabawi dan Masjidil Haram juga ada yang menangis-nangis tatkala membaca doa di saat shalat witir pada Akhir Ramadhan. Sekalipun perilaku ini termasuk bid`ah karena tidak pernah diamalkan oleh Nabi SAW dan Alkhulafaurrasyidun, namun dapatlah dikategorikan sebagi bid`ah hasanah.

Di Indonasia juga banyak amalan bid`ah hasanah, yang perlu dilestarikan oleh umat Islam yang mayoritas menjadi penganut Sunni Syafi`i, sekaligus penerus ajaran para walisongo. Amalan-amalan itu antara lain, membaca doa pujian seperti yang dilakukan para jamaah dalam menyela-nyelai shalat tarawih dengan menyebut nama Nabi SAW dan Alkhulafaurrasyidun setiap usai shalat dua rakaat.

Demikian juga dengan doa tarawih, doa witir, serta bersama-sama membaca niat puasa dengan suara jelas dan sedikit keras. Semua itu haruslah diyakini sebagai bid`ah hasanah, tanpa harus takut dituduh sesat (bid`ah dhalalah) oleh kelompok manapun, termasuk oleh tokoh-tokoh Wahhabi/Salafi. Karena mereka juga hakikatnya sama-sama melakukan bid`ah hasanah, minimal saat melaksanakan shalat tarawih berjamaah sebulan suntuk di masjid/mushalla.

10.
Pengirim: Dwi  - Kota: Surabaya
Tanggal: 3/12/2012
 
Bismillah..saya rasa kurang benar bilamana berpendapat Yasinan dan Tahlilan tidak ada tuntunan dlm Alquran & Hadist. Justru kalo kita kaji semuanya bersumber dari Keduanya contoh: 1. Iqroul Yasin alaa mautakum 2. Afdholu zdikkri laa ilaa haillallah...
Nah cuman disini dikemas dengan kumpulan kumpulan, makanya disebut Yasinan dan Tahlilan.
Sedangkan tujuannya sdh jelas: untuk berzikir kpd Allah, arep arep ya si mayit diringankan siksanya dan diampuni dosanya oleh Allah dan jg ajang silaturrohmi dg para tetangga.
Wallahu a'lam bissowab 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Akhi adalah seorang sunni yang benar-benar sunni, jadi memahami kebenaran hadits-hadits Nabi SAW dengan pemahaman yang tidak sekaku kaum Wahhabi. Alhamdulillah.

Biasa lah mereka yang selalu koar-koar menuduh Tahlilan itu Bid'ah dengan alasan karena Rasul SAW tidak mengamalkannya / mencontohkannya, hakikatnya mereka sendiri juga mengamalkan banyak amalan yang Rasul SAW sendiri tidak pernah melakukannya / mencontohkannya. sebut saja bid'ahnya berdakwah lewat internet. Rasul SAW dan para salaf tidak pernah main internet. Lantas apa dalil secara tekstual dari Alquran maupun Haditsnya hingga kaum Wahhabi membolehkan main internet

11.
Pengirim: riehul firdaus  - Kota: Sidoarjo
Tanggal: 4/12/2012
 
Amalan selamatan yg diisi tahlil & doa, itu bagus. Tp kalau dilaksanakan pd hr ke 7-40-100-1000 itu mrp TANDA-TANYA-BESAR krn hal itu copas Hindu... Perbuatan spt itu hakikatnya adl menganggap Nabi Muhammad lupa & khilaf shg tidak ngajarkan itu!! Lalu siapa yg ingat? Jadinya yg dianggap ingat adl pedande alias brahmana alias pendeta Hindu itu, shg mrk yg anda ikuti...!!  
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Wah, kayaknya ilmu anda lebih hebat dari ilmu para ulama salaf saja, belajar agama dimana anda ini ?

“Telah berkata Imam Ahmad bin Hanbal radhiyallaah ‘anhu di dalam kitabnya yang menerangkan tentang kitab zuhud: Telah menceritakan kepadaku Hasyim bin Qasim sambil berkata: Telah menceritakan kepadaku al-Asyja’i dari Sufyan sambil berkata: Telah berkata Imam Thawus (ulama besar zaman Tabi’in, wafat kira-kira tahun 110 H / 729 M): Sesungguhnya orang-orang yang meninggal akan mendapat ujian dari Allah dalam kuburan mereka selama 7 hari. Maka, disunnahkan bagi mereka yang masih hidup mengadakan jamuan makan (sedekah) untuk orang-orang yang sudah meninggal selama hari-hari tersebut.

Telah berkata al-Hafiz Abu Nu’aim di dalam kitab Al-Jannah: Telah menceritakan kepadaku Abu Bakar bin Malik, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan kepadaku Ubay, telah menceritakan kepadaku Hasyim bin al-Qasim, telah menceritakan kepadaku al-Asyja’i dari Sufyan sambil berkata: Telah berkata Imam Thawus: Sesungguhnya orang-orang yang meninggal akan mendapat ujian dari Allah dalam kuburan mereka selama 7 hari. Maka, disunnahkan bagi mereka yang masih hidup mengadakan jamuan makan (sedekah) untuk orang-orang yang sudah meninggal selama hari-hari tersebut.”

Selain itu, di dalam kitab yang sama jilid 2 halaman 194 diterangkan sebagai berikut:
ان سنة الاطعام سبعة أيام بلغنى أنهامستمر الى الأن بمكة و المدينة فالظاهر أنها لم تترك من عهد الصحابة الى الأن و انهم أخذوها خلفا عن سلف الى الصدر الأول

Artinya:
“Sesungguhnya, kesunnahan memberikan sedekah makanan selama tujuh hari merupakan perbuatan yang tetap berlaku sampai sekarang (yaitu masa Imam Suyuthi abad ke-9 H) di Mekkah dan Madinah. Yang jelas kebiasaan tersebut tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat sampai sekarang, dan tradisi tersebut diambil dari ulama salaf sejak generasi pertama, yaitu sahabat.”

Jadi, kesimpulannya amalan-amalan yang umum dilakukan oleh masyarakat muslim tradisional di Indonesia tersebut sudah ada landasannya dari kalangan salaf ash-sholih. Dan bukan bid’ah madzmuumah/dholaalah.

12.
Pengirim: ahmad  - Kota: Jember
Tanggal: 4/12/2012
 
Pengirim: ikwan djody - Kota: malang
Tanggal: 1/12/2012

Kita Kembalikan smua kepada Al-quran dan hadist dgn perawi yg jelas dan diakui keshahihannya.
Tahlil sdh jelas tradisi dari wali songo bukan dari Nabi dan para sahabatnya, tuntunannya saja tidak ada, seperti sholat, puasa, zakat, haji dsb yg sangat jelas tuntunannya. Tahlil Jangan dijadikan pembenaran dengan alasan pelestarian budaya bernilai islam untuk melaksanakan ibadah sosial dan dzikir.
ibadah sosial yg sangat benar adalah sholat jamaah 5waktu dimasjid, makmurkan masjid, berdzikir dan mendoakan orang tua baik yg masih ad maupun yg sdh meninggal secara individu.
Fakta saat ini jika ad tahlil org miskin dengan sajian seadanya apakah seramai dengan tahlil org kaya dengan sajian lengkap?? Ini bukti nilai dan tujuan tahlil sdh menyimpang dr niat semula, karena bukan dari Al-quran dan hadist yg shahih, jika segala sesuatu berasal dari Al-quran dan hadist yg shahih saya pastikan tidak akan berubah sedikitpun nilai dan tujuannya.
Maaf jika ad yg tidak berkenan, yg benar dari Allah SWT, yg salah dari saya, jazakumullah
====================
Tahlil itu bukan tradisi wali9 tapi tradisi Rasul dan para sahabatnya. Anda bisa membedakan antara tahlil dan tahlilan apa tdk?
Didaerah saya, tahlilan antara orang miskin dan orang kaya relatif sama. Mungkin lebih banyak yg hadir karena si kaya banyak kenalannya drpd si miskin. Kembangkanlah budaya baik sangka kepada sesama muslim.

Tahlilan adalah majelis dzikir, dan setahu saya hanya syetan yang benci majelis dzikir.
Maaf jika ad yg tidak berkenan, yg benar dari Allah SWT, yg salah dari saya, jazakumullah
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Ya memang ada lorang-orang yang tidak senang terhadap majelis dzikir, bahkan merasa terganggu dengan keberadaan majelis dzikir.

13.
Pengirim: ahmad  - Kota: jember
Tanggal: 4/12/2012
 
Pengirim: zahroh - Kota: surabaya
Tanggal: 1/12/2012

Gimana tanggapan kiyai orang2 yg anti tahlil menggunakan
MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU) untuk menyerang nahdiyin banyak di berbagai blog
sep[erti dibawah ini...mohon penjelasannya dri kiai
KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926

TENTANG

KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH

TANYA :

Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

JAWAB :

Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu. [1]

KETERANGAN :

Dalam kitab I’anatut Thalibin Kitabul Janaiz:

“MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN ( YANG DILARANG ).”

Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan :

“Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan tentang yang dilakukan pada hari ketiga kematian dalam bentuk penyediaan makanan untuk para fakir dan yang lain, dan demikian halnya yang dilakukan pada hari ketujuh, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta’ziyah jenazah.

Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak? Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya.”

Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BID’AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (rastsa’).

Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal “OCEHAN” ORANG-ORANG BODOH (yaitu orang-orang yang punya adat kebiasaan menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh, dst-penj.), agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi r terhadap seseorang yang batal (karena hadast) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.

Tirkah tidak boleh diambil / dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris).

SELESAI, KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926

§ REFERENSI : Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), halaman 15-17), Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.

§ CATATAN : Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa bacaan atau amalan yang pahalanya dikirimkan/dihadiahkan kepada mayit adalah tidak dapat sampai kepada si mayit. Lihat: Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim 1 : 90 dan Takmilatul Majmu’ Syarah Muhadzab 10:426, Fatawa al-Kubro (al-Haitsami) 2:9, Hamisy al-Umm (Imam Muzani) 7:269, al-Jamal (Imam al-Khozin) 4:236, Tafsir Jalalain 2:19 Tafsir Ibnu Katsir ttg QS. An-Najm : 39, dll.



Imam An-Nawawi رحمه الله berkata di dalam Syarah Muslim 1: 90:

"Adapun bacaaan Al-Qur'an (yang pahalanya dikirimkan kepada mayit), maka yang mashyur dalam madzhab Syafi'i, adalah tidak dapat sampai kepada mayit yang dikirimi. Adapun dalil Imam Syafi'i dan pengikutnya adalah firman Allah QS.An-Najm : 39: "Dan seseorang tidak akan memperoleh, melainkan pahala usahanya sendiri" dan sabda Rasulullah r, "Apabila manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah amal usahanya, kecuali tiga hal yaitu: sedakah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shaleh yang berdoa untuknya."



Lihat juga: Raudhatut Thalibin, Imam An-Nawawi 2:145, Mughnil Muhtaj 1: 268, Hasyiyatul Qalyubi 1: 353, Al-Majmu' Syarah Muhadzab 5: 286, Al- Fiqhu Alal Madzahibil Arba'ah 1:539, Fathul Qadir 2:142, Nailul Authar 4:148. Berkata Imam Asy-Syafi’i رحمه الله di dalam Al-Umm 1: 248:

"Aku membenci ma'tam, yaitu berkumpul-kumpul (di rumah keluarga mayit), meskipun di situ tidak ada tangisan, karena hal itu malah akan menimbulkan kesedihan baru."



Lebih lanjut di Kitab I'anatut Thalibin, Syarah Fathul Mu'in, juz 2, hal.145 disebutkan:

“Ya, apa yang dikerjakan orang, yaitu berkumpul-kumpul di rumah keluarga mayit dan dihidangkannya makanan untuk itu, adalah termasuk BID'AH MUNGKARAT yang bagi orang yang memberantasnya akan diberi pahala."
======================
Makruh itu bukan haram. Lalu apa yang dipersoalkan???
Mengapa menyoalkan sesuatu yang tidak menimbulkan dosa???

Dan perlu diketahui bahwa Tidak semua kaum salaf memakruhkan sajian makanan yang dibuat oleh keluarga si mati untuk orang-orang yang berta’ziyah. Dalam masalah ini ada khilafiyah di kalangan mereka. Pandangan-pandangan tersebut antara lain sebagai berikut ini:
Pertama, riwayat dari Khalifah Umar bin al-Khatthab yang berwasiat agar disediakan makanan bagi mereka yang berta’ziyah. Al-Hafizh Ibnu Hajar meriwayatkan:
عَنِ الْأَحْنَفِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ كُنْتُ أَسْمَعُ عُمَرَ  يَقُوْلُ لاَ يَدْخُلُ أَحَدٌ مِنْ قُرَيْشٍ فِيْ بَابٍ إِلَّا دَخَلَ مَعَهُ نَاسٌ فَلاَ أَدْرِيْ مَا تَأْوِيْلُ قَوْلِهِ حَتَّى طُعِنَ عُمَرُ  فَأَمَرَ صُهَيْبًا  أَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثَلاَثًا وَأَمَرَ أَنْ يُجْعَلَ لِلنَّاسِ طَعَاماً فَلَمَّا رَجَعُوْا مِنَ الْجَنَازَةِ جَاؤُوْا وَقَدْ وُضِعَتِ الْمَوَائِدُ فَأَمْسَكَ النَّاسُ عَنْهَا لِلْحُزْنِ الَّذِيْ هُمْ فِيْهِ. (المطالب العالية، 5/328).
“Dari Ahnaf bin Qais, berkata: “Aku mendengar Umar berkata: “Seseorang dari kaum Quraisy tidak memasuki satu pintu, kecuali orang-orang akan masuk bersamanya.” Aku tidak mengerti maksud perkataan beliau, sampai akhirnya Umar ditusuk, lalu memerintahkan Shuhaib menjadi imam sholat selama tiga hari dan memerintahkan menyediakan makanan bagi manusia. Setelah mereka pulang dari jenazah Umar, mereka datang, sedangkan hidangan makanan telah disiapkan. Lalu mereka tidak jadi makan, karena duka cita yang menyelimuti.” (Al-Hafizh Ibnu Hajar, al-Mathalib al-‘Aliyah, juz 5 hal. 328).
Kedua, tradisi kaum salaf sejak generasi sahabat yang bersedekah makanan selama tujuh hari kematian untuk meringankan beban si mati. Dalam hal ini, al-Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam kitab al-Zuhd:
عَنْ سُفْيَانَ قَالَ قَالَ طَاوُوْسُ إِنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُوْنَ فِيْ قُبُوْرِهِمْ سَبْعاً فَكَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ أَنْ يُطْعَمَ عَنْهُمْ تِلْكَ الْأَياَّمَ.
“Dari Sufyan berkata: “Thawus berkata: “Sesungguhnya orang yang mati akan diuji di dalam kubur selama tujuh hari, karena itu mereka (kaum salaf) menganjurkan sedekah makanan selama hari-hari tersebut.”
Hadits di atas diriwayatkan al-Imam Ahmad bin Hanbal dalam al-Zuhd, al-Hafizh Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Auliya’ (juz 4 hal. 11), al-Hafizh Ibnu Rajab dalam Ahwal al-Qubur (32), al-Hafizh Ibnu Hajar dalam al-Mathalib al-‘Aliyah (juz 5 hal. 330) dan al-Hafizh al-Suyuthi dalam al-Hawi lil-Fatawi (juz 2 hal. 178).
Menurut al-Hafizh al-Suyuthi, hadits di atas diriwayatkan secara mursal dari Imam Thawus dengan sanad yang shahih. Hadits tersebut diperkuat dengan hadits Imam Mujahid yang diriwayatkan oleh Ibnu Rajab dalam Ahwal al-Qubur dan hadits Ubaid bin Umair yang diriwayatkan oleh Imam Waki’ dalam al-Mushannaf, sehingga kedudukan hadits Imam Thawus tersebut dihukumi marfu’ yang shahih. Demikian kesimpulan dari kajian al-Hafizh al-Suyuthi dalam al-Hawi lil-Fatawi.
Tradisi bersedekah kematian selama tujuh hari berlangsung di Kota Makkah dan Madinah sejak generasi sahabat, hingga abad kesepuluh Hijriah, sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh al-Suyuthi.
Ketiga, pendapat Imam Malik bin Anas, pendiri madzhab Maliki, bahwa hidangan kematian yang telah menjadi tradisi masyarakat dihukumi jaiz (boleh), dan tidak makruh. Dalam konteks ini, Syaikh Abdullah al-Jurdani berkata:
يَجُوْزُ مِنْهُ مَا جَرَتْ بِهِ الْعَادَةُ عِنْدَ الْإِماَمِ مَالِكٍ كَالْجُمَعِ وَنَحْوِهَا وَفِيْهِ فُسْحَةٌ كَمَا قَالَهُ الْعَلاَّمَةُ الْمُرْصِفِيُّ فِيْ رِسَالَةٍ لَهُ.
“Hidangan kematian yang telah berlaku menjadi tradisi seperti tradisi Juma’ dan sesamanya adalah boleh menurut Imam Malik. Pandangan ini mengandung keringanan sebagaimana dikatakan oleh al-Allamah al-Murshifi dalam risalahnya.” (Syaikh Abdullah al-Jurdani, Fath al-‘Allam Syarh Mursyid al-Anam, juz 3 hal. 218).
Berdasarkan paparan di atas, dapat kita simpulkan bahwa tradisi hidangan makanan dari keluarga duka cita untuk orang-orang yang berta’ziyah masih diperselisihkan di kalangan ulama salaf sendiri antara pendapat yang mengatakan makruh dan pendapat yang mengatakan tidak makruh. Bahkan untuk selamatan tujuh hari, berdasarkan riwayat Imam Thawus, justru dianjurkan oleh kaum salaf sejak generasi sahabat dan berlangsung di Makkah dan Madinah hingga abad kesepuluh Hijriah.

Tentang imam syafi’i:
Kaitannya dengan pengiriman hadiah pahala tahlilan kepada mayit, memang ada
riwayat yang sangat populer dari al-Imam al-Syafi’i, bahwa beliau berpendapat,
hadiah pahala bacaan al-Qur’an tidak sampai kepada mayit. Namun sebagian
besar pengikut madzhabnya, berpendapat bahwa hadiah pahala bacaan al-
Qur’an sampai kepada mayit. Pendapat ini sesuai dengan pendapat al-Imam
Ahmad bin Hanbal dan lain-lain. Oleh karena itu, siapapun tidak bisa menggugat
pengikut madzhab al-Syafi’i yang melakukan tradisi pengiriman hadiah pahala
bacaan al-Qur’an dan lain-lain kepada mayit, selama mereka mengikuti pendapat
lain yang dipandang lebih kuat dalilnya.

Dalam mengikuti pola bermadzhab dengan mengikuti madzhab salah satu imam
mujtahid, misalnya mayoritas umat Islam Indonesia mengikuti madzhab al-Syafi’i,
tidak berarti kita menyembah al-Imam al-Syafi’i, dengan artian mengikuti seluruh
pendapat beliau 100 % mulai dari A sampai Z.

Para ulama kita, yang menuntun kita mengikuti madzhab al-Imam al-Syafi’i
mengajarkan agar kita bermadzhab secara selektif dan korektif. Hal ini yang kita
istilahkan dengan madzhab secara manhaji, atau bermadzhab dengan cerdas.


 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Sangat mudah untuk memahami tanggapan akhi Ahmad bagi yang hatinya bersih dan tidak su-uddzan kepada umat Islam. Namun bagi yang memiliki hati yang dibangun atas kebencian terhadap umat Islam, maka pasti akan menilai amalan umat Islam juga dengan penuh kebencian.

14.
Pengirim: AHMAD  - Kota: jember
Tanggal: 4/12/2012
 
Pengirim: riehul firdaus - Kota: Sidoarjo
Tanggal: 2/12/2012

Tahlil-nya ada, ustad. Yg nggak ada atau belum ketemu adl dalil hadits ttg praktek di zaman Nabi. Maksudnya bukan cuma yg berhenti pd tabiin Thawus seorang, yg mengabarkan bw mayat itu mengalami hal2 berat di hr 1-7. Ada nggak yg nyebut selamatan (yg diisi doa & tahlil) pd hr ke-40, 100, 1000 yg dari khasanah sahabat? Yg dilakukan sahabat Nabi?

Dalil2 normatif itu bbuuuaaanyyaaak. Tp belum juga ketemu dalil praktek oleh Nabi Muhammad tentang perbuatan itu tadi.

Kalau begitu siapa yang beretorika?
=====================
Anda bicara budaya apa substansi?
Jika yang anda bicarakan dalil maka akan coba saya tanggapi.

dalam Islam sendiri, tradisi selamatan tujuh hari telah ada sejak generasi
sahabat Nabi SAW.. Al-Imam Sufyan, seorang ulama salaf berkata: "Dari Sufyan,
bahwa Imam Thawus berkata, "Sesungguhnya orang yang meninggal akan diuji
di dalam kubur selama tujuh hari, oleh karena itu mereka (kaum salaf)
menganjurkan bersedekah makanan untuk keluarga yang meninggal selama
tujuh hari. tersebut." (HR al-Imam Ahmad dalam al-Zuhd al-Hafizh Abu Nu'aim,
dalam Hilyah al-Auliya’ juz 4, hal 11 dan al-Hafizh Ibn Hajar dalam al-Mathalib al-
'Aliyah, juz5, hal 330).

berkaitan dengan tradisi tahlilan, itu bukan tradisi Indonesia atau
Jawa. Kalau kita menyimak fatwa Syaikh Ibn Taimiyah al-Harrani, tradisi tahlilan
telah berkembang sejak sebelum abad ketujuh Hijriah, Dalam kitab Majmu'
Fatawa Syaikh al-Islam Ibn Taimiah disebutkan:
"Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah ditanya, tentang seseorang yang memprotes ahli
dzikir (berjamaah) dengan berkata kepada mereka, "Dzikir kalian ini bid'ah,
mengeraskan suara yang kalian lakukan juga bid'ah". Mereka memulai dan
menutup dzikirnya dengan al-Qur'an, lalu mendo’akan kaum Muslimin yang
masih hidup maupun yang sudah meninggal. Mereka mengumpulkan antara
tasbih, tahmid, tahlil, takbir, hauqalah (laa haula wa laa quwwata illa billaah) dan
shalawat kepada Nabi SAW. Lalu Ibn Taimiyah menjawab: "Berjamaah dalam
berdzikir, mendengarkan al-Qur'an dan berdoa adalah amal shaleh, termasuk
qurbah dan ibadah yang paling utama dalam setiap waktu. Dalam Shahih al-
Bukhari, Nabi SAW bersabda, "Sesungguhrrya Allah memiliki banyak Malaikat
yang selalu bepergian di muka bumi. Apabila mereka bertemu dengan
sekumpulan orang yang berdzikir kepada Allah, maka mereka memanggil,
"Silahkan sampaikan hajat kalian", lanjutan hadits tersebut terdapat redaksi,
"Kami menemukan mereka bertasbih dan bertahmid kepada-Mu"... Adapun
memelihara rutinitas aurad (bacaan-bacaan wirid) seperti shalat, membaca Qur'an, berdzikir atau berdoa, setiap pagi dan sore serta padi sebagian waktu
malam dan lain-lain, hal ini merupakan tradisi Rasulullah SAW dan hambahamba
Allah yang saleh, zaman dulu dan sekarang.” (Majmu’ Fatawa Ibn
Taimiyah, juz 22, hal. 520)

DAN MESKIPUN selamatan (yg diisi doa & tahlil) pd hr ke-40, 100, 1000 TIDAK DILAKUKAN PADA MASA SAHABAT ITU APA EFEKNYA?
APAKAH SESUATU YG TDK DILAKUKAN OLEH SAHABAT ITU PASTI MUNKAR?

Dalam sebuah hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim dijelaskan:
“Dari Ibnu Umar , beliau berkata: “Nabi  selalu mendatangi Masjid Quba setiap hari Sabtu dengan berjalan kaki dan berkendaraan.” Abdullah bin Umar  juga sering melakukannya.”
Mengomentari hadits tersebut, al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fath al-Bar :
“Hadits ini, dengan jalur-jalurnya yang berbeda-beda, mengandung petunjuk atas bolehnya menentukan sebagian hari-hari tertentu dengan sebagian amal saleh dan melakukannya secara terus menerus. Hadits ini juga mengandung petunjuk bahwa larangan bepergian menuju selain ketiga masjid itu bukan larangan yang mengharamkan.” (Al-Hafizh Ibnu Hajar, Fath al-Bari, juz 3 hal. 69).
Pernyataan al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani di atas mengantarkan kita pada kesimpulan, bolehnya menentukan hari-hari tertentu seperti hari ke-40, 100, 1000, setahun dan lain sebagainya dengan amal saleh tertentu dan melakukannya secara terus menerus

 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kami teruskan kepada Mas Riehul firdaus, mudah-mudahan dapat belajar dengan baik.

15.
Pengirim: ahmad  - Kota: jember
Tanggal: 4/12/2012
 
engirim: riehul firdaus - Kota: Sidoarjo
Tanggal: 2/12/2012

Nabi Muhammad tidak pernah selamatan kematian model 7-4-100-1000 hari, tp di sini dicarikan dalil pembenarnya. Meski makalahnya panjang lebar, isinya ya cuma pembenaran yg dicari2 kelewat jauh guna mendukung selamatan kematian model itu.

Kini sudah diakui bahwa itu berasal dr Hindu-Budha. Ini sudah lumayan. Kemarin2 nggak ada pengakuan soal “mewarisi Hindu-Budha” itu. Sekarang itu diakui sebagai ijtihad yang jempol. Toh ijtihad yg salah sudah bernilai satu....

Sekarang sudah pula merujuk Walisongo — ini perkembangan baru lagi. Perkembangan yang sy kira "kontra-produktif", karena Walisongo itu cerita mitos bin legenda yang kabur, yg nggak bisa dipertanggung-jawabkan akurasinya. Mosok Islam yang sudah sempurna mau bersandar pd mitos2 abu2 semacam itu... Yg bener aja ustadz
======================
Sebagaiman yang telah saya jelaskan sebelumnya bahwa Riwayat thawus tsb menjelaskan bahwa tradisi selamatan selama tujuh hari telah
berjalan sejak generasi sahabat Nabi Sudah barang tentu, para sahabat dan
genetaj salaf tidak mengadopsinya dari orang Hindu. Karena orang-orang Hindu
tidak ada di daerah Arab.

Dan seandainya tradisi selamatan tujuh hari tersebut diadopsi dari tradisi Hindu,
maka hukumnya jelas tidak haram, bahkan bagus untuk dilaksanakan,
mengingat acara dalam kedua tradisi tersebut sangat berbeda. Dalam selamatan
tujuh hari, kaum Muslimin berdzikir kepada Allah. Sedangkan orang Hindu
melakukan kemungkaran. Dalam hadits shahih Rasulullah bersabda:
Riwayat di atas menjelaskan bahwa tradisi selamatan selama tujuh hari telah
berjalan sejak generasi sahabat Nabi Sudah barang tentu, para sahabat dan
genetaj salaf tidak mengadopsinya dari orang Hindu. Karena orang-orang Hindu
tidak ada di daerah Arab.
Dan seandainya tradisi selamatan tujuh hari tersebut diadopsi dari tradisi Hindu,
maka hukumnya jelas tidak haram, bahkan bagus untuk dilaksanakan,
mengingat acara dalam kedua tradisi tersebut sangat berbeda. Dalam selamatan
tujuh hari, kaum Muslimin berdzikir kepada Allah. Sedangkan orang Hindu
melakukan kemungkaran. Dalam hadits shahih Rasulullah bersabda:
"Dari Ibn Mas'ud Rasulullah SAW bersabda: "Orang yang berdzikir kepada Allah
di antara kaum yang lalai kepada Allah, sederajat dengan orang yang sabar di
antara kaum yang melarikan diri dari medan peperangan." (HR. al-Thabarani
dalam al-Mu’jam al-Kabir dan al-Mu’jam al-Ausath. Alhafizh al-Suyuthi menilai
hadits tersebut shahih dalam al-Jami’ al-Shaghir).
Dalam acara tahlilan selama tujuh hari kematian, kaum Muslimin berdzikir
kepada Allah, ketika pada hari tersebut orang Hindu melakukan sekian banyak
kemungkaran. Betapa indah dan mulianya tradisi tahlilan itu. Dan seandainya
tasyabuh dengan orang Hindu dalam selamatan tujuh hari tersebut
dipersoalkan, Rasulullah SAW telah mengajarkan kita cara menghilangkan
tasyabuh (menyerupai orang-orang ahlul kitab) yang dimakruhkan dalam agama,
Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah SAW bersabda:
“Ibn Abbas berkata: "Setelah Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura dan
memerintahkan kaum Muslimin juga berpuasa, mereka berkata: “Wahai
Rasulullah, hari Asyura itu diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani."
Rasulullah SAW menjawab: "Kalau begitu, tahun depan, kita berpuasa pula
tanggal sembilan." Ibn Abbas berkata: 'Tahun depan belum sampai ternyata
Rasulullah SAW telah wafat" (HR. Muslim dan Abu Dawud).
Dalam hadits di atas, para sahabat menyangsikan perintah puasa pada hari
Asyura, di mana hari tersebut juga diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan
Nasrani. Sementara Rasulullah SAW telah menganjurkan umatnya agar selalu
menyelisihi (mukhalafah) orang-orang Yahudi dan Nasrani. Temyata Rasulullah
memberikan petunjuk, cara menyelisihi mereka, yaitu dengan berpuasa sejak
sehari sebelum Asyura, yang disebut dengan Tasu'a', sehingga tasyabbuh
tersebut menjadi hilang.

RIEHUL FIRDAUS TUDUH KH. LUTHFI BASHORI MENCARI-CARI DALIL PEMBENARAN TAHLIL

Para ulama membenarkan tradisi Tahlilan berkembang sampai sekarang, karena tradisi Tahlilan tidak bertentangan dengan ajaran Islam, dan menemukan dalil yang kuat bagi berlangsungnya Tahlilan. Dan perlu diketahui bahwa dalam menghukumi suatu kejadian, seorang ulama yang menguasai ilmu fiqih dan syariah secara mendalam, dengan lamanya bergelut dengan kajian ilmu fiqih dan syariah, sehingga ilmu fiqih membentuk karakter jiwa dan logika berpikirnya, seringkali mampu menangkap hukum persoalan yang dihadapi sebelum menemukan dalilnya. Hal ini tidak jarang terjadi di kalangan para ulama sejak masa Rasulullah .
Al-Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya berikut ini:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ عُمَرُ وَافَقْتُ رَبِّي فِي ثَلَاثٍ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ اتَّخَذْنَا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى فَنَزَلَتْ{وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى}وَآيَةُ الْحِجَابِ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ أَمَرْتَ نِسَاءَكَ أَنْ يَحْتَجِبْنَ فَإِنَّهُ يُكَلِّمُهُنَّ الْبَرُّ وَالْفَاجِرُ فَنَزَلَتْ آيَةُ الْحِجَابِ وَاجْتَمَعَ نِسَاءُ النَّبِيِّ  فِي الْغَيْرَةِ عَلَيْهِ فَقُلْتُ لَهُنَّ{عَسَى رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبَدِّلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ}فَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ
“Anas berkata bahwa Umar berkata, "Aku mendapatkan persetujuan Tuhanku dalam tiga hal. Aku (Umar) berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau kita jadikan maqam Ibrahim sebagai tempat shalat?” Turunlah ayat, “Dan, jadikanlah sebagian maqam Ibrahim sebagai tempat shalat.” Dan, ayat hijab (bertirai) di mana aku berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau engkau perintahkan istri-istrimu berhijab karena mereka diajak bercakap-cakap oleh orang yang baik dan orang yang jahat? Turunlah ayat hijab. Dan, istri-istri Nabi . bersepakat untuk cemburu kepada beliau, lalu aku berkata kepada mereka, “Jika beliau menceraikan kalian, boleh jadi Tuhannya akan menggantinya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kalian.” Maka, turunlah ayat ini." (HR. al-Bukhari [402] dan Muslim [2399]).
Dalam hadits di atas, diterangkan bagaimana sahabat Umar, mengusulkan sesuatu kepada Rasulullah , yang belum pernah dijelaskan dalam al-Qur’an dan Sunnah, kemudian al-Qur’an turun merespon dan membenarkan usulan Umar.
Suatu ketika sahabat Abdullah bin Mas’ud ditanya tentang status mahar seorang istri yang dinikahi oleh seorang laki-laki tanpa menyebut maharnya dalam akad, kemudian laki-laki itu meninggal dunia. Lalu Ibnu Mas’ud menjawab, bahwa wanita tersebut berhak mendapatkan mahar seperti yang diperoleh kaum wanita dari kalangan keluarganya, tidak kurang dan tidak lebih, ia juga berhak memperoleh bagian harta warisan dari peninggalan suaminya dan harus melakukan iddah. Ibnu Mas’ud berkata: “Jika pendapatku ini benar, berarti dari Allah, dan jika salah, berarti dari diriku secara pribadi dan dari syetan, sedangkan Allah dan Rasul-Nya berlepas diri darinya.” Kemudian beberapa orang dari suku Asyja’ menyampaikan kepada Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah  pernah memutuskan dalam kasus Barwa’ binti Wasyiq seperti keputusan Ibnu Mas’ud. Akhirnya Ibnu Mas’ud merasa senang dengan hal itu.
Kemampuan menangkap suatu hukum sebelum mengetahui dalil ini, mendapat legitimasi dari sebuah hadits Nabi :
عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  اِتَّقُوْا فِرَاسَةَ الْمُؤْمِنِ فَإِنَّهُ يَنْظُرُ بِنُوْرِ اللهِ ثُمَّ قَرَأَ { إِنَّ فِيْ ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِلْمُتَوَسِّمِيْنَ }
“Dari Abu Sa’id al-Khudri, berkata: “Rasulullah  bersabda: “Takutlah kamu kepada firasat seorang mukmin, karena ia memandang sesuatu dengan cahaya Allah. Kemudian Nabi  membaca ayat: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda.” (HR. al-Tirmidzi [3127]).

Berdasarkan paparan di atas, seorang ulama yang menguasai ilmu fiqih dan syariah secara mendalam, tidak dicela memutuskan suatu hukum berdasarkan pandangan dan ijtihadnya yang bersifat subyektif, sebelum mengetahui dalilnya, asalkan ia memang benar-benar alim dan menguasai seluk beluk ilmu agama. Hal ini sebagaimana banyak dipaparkan dalam kitab-kitab hadits, dan dikupas secara mendalam oleh Syaikh Ibnu Qayyim al-Jauziyah, ulama panutan kaum Wahabi, dalam kitabnya I’lam al-Muwaqqi’in dan al-Thuruq al-Hukmiyyah

Harusnya anda mengajukan data yang dapat dipercaya bahwa tradisi Tahlilan bersumber dari tradisi non-Islam. Dari aspek mana, anda mengatakan bahwa tradisi Tahlilan bersumber dari tradisi non-Islam? Jika yang anda maksudkan adalah tradisi pengiriman pahala kepada orang yang meninggal, maka hal ini sama sekali bersumber dari Islam, bukan dari non Islam. Para ulama yang mengatakan sampainya kiriman pahala kepada orang yang meninggal tidak pernah berdalil dengan ajaran non-Islam. Semuanya berdasarkan al-Qur’an dan hadits.
Jika yang anda maksudkan, adalah pelaksanaan ritual Tahlilan selama tujuh hari dengan memberi makan kepada orang yang ta’ziyah, maka acara tujuh hari ini telah berlangsung sejak generasi sahabat Nabi , sebagaimana kami paparkan pada bagian di atas, dan berlangsung di Hijaz (Makkah dan Madinah) hingga abad ke-10 Hijriah.
Jika yang anda maksudkan adalah komposisi bacaan dalam Tahlilan yang mencampur antara ayat al-Qur’an, tasbih, tahmid, takbir, tahlil dan shalawat kepada Nabi , maka hal ini juga ada tuntunannya dari hadits-hadits shahih seperti telah saya paparkan sebelumnya.

 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kami teruskan kepada Mas Riehul firdaus.

16.
Pengirim: ahmad  - Kota: jember
Tanggal: 4/12/2012
 
Pengirim: aldy - Kota: pontianak
Tanggal: 2/12/2012

Lha wong tatacara aqiqah saja ada dalilnya, masak selamatan kematian cuma bersandar pd dasar2 yang umum-normatif, lalu diterapkan secara khusus & detil menunjuk ke angka2 istimewa hr ke 7, 40, 100, 1000 hari.

Kalau untuk itu anda mendasarkan diri pd Walisongo, ada problem besar di sini:

(1) Akurasi tentang kisah Walisongo sendiri,

(2) Kalau toh itu akurat, bagaimana dengan konteksnya yang kini sudah berbeda!
=====================
Aqidah itu berbeda dengan permaslaah fiqh. Apa yang dimaksud aqidah???
Persoalan tahlilan adalah persoalan budaya yg anda permsalahkan, padahal tdk ada aktivitas didalam tahlilan yg bertentangan dg Islam.

Akurasi apa yg anda maksud???
Keturunan para wali masih lestari hingga saat ini. Apanya yang berbeda? Saya kira jika anda orang yg berilmu maka anda tdk akan mempersoalkan konteksnya karena silahkan anda buktikan kemungkaran tahlilan, ketidak sesuaian tahlilan dg islam, dll. Janganlah anda melarang suatu hal yg Alloh dan Rasul tidak melarangnya, apalagi Alloh dan Rasul menganjurkannya.
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Seringkali kaum Wahhabi sengaja melupakan subtansi permasalahan yang dibicarakan, malah terjebak hanya pada permasalahan perbedaan metode saja. Apalagi hanya mempermasalhkan pada hal-hal yang bukan prinsip agama (aqidah), namun hanya masalah khilafiyah furu`iyyah yang dibesar-besarkan.

Barangkali karena mereka memang tidak memiliki amalan keslaman yang memadai, jadinya `kuper` dalam memahami menyikapi amalan umat Islam itu sendiri.

17.
Pengirim: ahmad  - Kota: probolinggo wez
Tanggal: 4/12/2012
 
Pengirim: riehul firdaus - Kota: Sidoarjo
Tanggal: 4/12/2012

Amalan selamatan yg diisi tahlil & doa, itu bagus. Tp kalau dilaksanakan pd hr ke 7-40-100-1000 itu mrp TANDA-TANYA-BESAR krn hal itu copas Hindu... Perbuatan spt itu hakikatnya adl menganggap Nabi Muhammad lupa & khilaf shg tidak ngajarkan itu!! Lalu siapa yg ingat? Jadinya yg dianggap ingat adl pedande alias brahmana alias pendeta Hindu itu, shg mrk yg anda ikuti...!!
====================
Argument apa ini yg anda keluarkan??? Kok kayak anak ga lulus kuliah???
Apa relevansi Rasul lupa/khilaf dengan tahlilan???

Perlu anda ketahui bahwa Sesuatu yang tidak pemah dikerjakan oleh Rasulullah SAW, atau para sahabat dan ulama salaf itu belum tentu
dilarang atau tidak boleh. Berdasarkan penelitian terhadap hadits-hadits Nabi
SAW, al-Hafizh Abdullah al-Ghumari menyimpulkan, bahwa sesuatu yang
ditinggalkan oleh Rasulullah SAW mengandung beberapa kemungkinan:
Pertama, Nabi SAW meninggalkannya karena tradisi di daerah beliau
tinggal. Nabi SAW pernah disuguhi daging biawak yang dipanggang. Lalu Nabi
M bermaksua menjamahnya dengan tangannya. Tiba-tiba ada orang berkata kepada beliau: "Itu daging biawak yang dipanggang." Mendengar perkataan itu,
Nabi SAW tidak jadi memakannya. Lalu beliau ditanya, "Apakah daging tersebut
haram?" Beliau menjawab: "Tidak haram, tetapi, daging itu tidak ada di daerah
kaumku, sehingga aku tidak selera." Hadits ini terdapat dalam Shahih al-Bukhari
dan Muslim.
Kedua, Nabi SAW meninggakannya karena lupa. Suatu ketika Nabi SAW
lupa meninggalkan sesuatu dalam shalat. Lalu beliau ditanya, "Apakah terjadi
sesuatu dalam shalat?" Beliau menjawab: "Saya juga manusia, yang bisa lupa
seperti halnya kalian. Kalau aku lupa meninggalkan sesuatu, ingatkan aku."
Ketiga, Nabi SAW meninggalkannya karena khawatir diwajibkan atas
umatnya. Seperti Nabi SAW meninggalkan shalat tarawih setelah para sahabat
berkumpul menunggu untuk shalat bersama beliau.
Keempat, Nabi SAW meninggalkannya karena memang tidak pemah
memikirkan dan terlintas dalam pikirannya. Pada mulanya Nabi SAW berkhutbah
dengan bersandar pada pohon kurma dan tidak pemah berpikir untuk membuat
kursi, tempat berditi ketika khutbah. Setelah sahabat mengusulkannya, maka
beliau menyetujuinya, karena dengan posisi demikian, suara beliau akan lebih
didengar oleh mereka. Para sahabat juga mengusulkan agar mereka membuat
tempat duduk dari tanah, agar orang asing yang datang dapat mengenali beliau,
dan temyata beliau menyetujuinya, padahal belum pernah memikirkannya.
Kelima, Nabi M meninggalkannya karena hal tersebut masuk dalam
keumuman ayat-ayat al-Qur'an dan hadits-haditsnya, seperti sebagian besar
amal-amal mandub (sunnat) yang beliau tinggalkan karena sudah tercakup
dalam firman Allah :
"Lakukanlah kebaikan, agar kamu menjadi orang-orang yang beruntung."
(QS. al-Hajj: 77).
Keenam, Nabi SAW meninggalkannya karena menjaga perasaan para
sahabat atau sebagian mereka. Nabi bersabda kepada Aisyah: "Seandainya
kaummu belum lama meninggalkan kekufuran, tentu Ka'bah itu aku bongkar lalu
aku bangun sesuai dengan fondasi yang dibuat oleh Nabi Ibrahim karena orangorang
Quraisy dulu tidak mampu membangunnya secara sempuma." Hadits ini
terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim. Nabi SAW tidak merekonstruksi
Ka'bah karena menjaga perasaan sebagian sahabatnya yang baru masuk Islam
dari kalangan penduduk Makkah.
Kemungkinan juga Nabi SAW meninggalkan suatu hal karena alasanalasan
lain yang tidak mungkin diuraikan semuanya di sini, tetapi dapat diketahui
dari meneliti kitab-kitab hadits. Belum ada suatu hadits maupun atsar yang menjelaskan bahwa Nabi SAW meninggalkan sesuatu karena hal itu
diharamkan.
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kami teruskan kepada Mas Riehul firdaus, mudah-mudahan dapat belajar dengan baik.

18.
Pengirim: riehul firdaus  - Kota: Sidoarjo
Tanggal: 4/12/2012
 
Apa di sana ada bukti nash/dokumen Arab gundul atau apa yg menunjukkan bw Nabi Muhammad selamatan tahlilan 7, 40, 100, 1000 hr pasca kematian? Kalau iya, pasti banyak fisbuker bersedia datang! [Meskipun sy belum tentu bisa. Kenapa? Aq hrs ksana bersm muhrimku, mas.]

Tapi, tunggu dulu! Itulah kuncinya. Begitu ada nash yg menunjukkan Nabi (atau sahabat) berselamatan tahlilan 7, 40, 100, 1000 hr pasca kematian, diskusi qt ini tuntas. Tamat!

Sebaliknya, kalau nash terbaik hanya hadits yg bersandar pd tabiin Thawus, diskusi masih akan berlanjut...

Sampai kapan? Sampai anda semua mengakui bw:

(1) Thawus pun hanya tahlilan yg berisi doa2 suci sampai hr ke-7 saja. Thawus nggak ngurus hr ke-40, 100, 1000 dst.

(2) "Ijtihad" (kalau boleh disebut dmk) selamatan tahlil 7, 40, 100, 1000 hr pasca kematian itu adl ijtihad yg menyalahi syar'i. Bahkan menyalahi Keputusan Muktamar NU, yg menyebutnya maksimal makruh.
makruh itu sgt di benci syri'at 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
1. Yang perlu anda perdalam untuk memahami syariat Islam adalah, bahwa tidak semua amalan syariat itu harus ada nash langsung atau contoh langsung dari Nabi SAW, karena Nabi SAW sendiri yang membuka pintu ijtihad, dan Nabi SAW tidak pernah menutupnya, karena itu simaklah dialog Nabi SAW dengan shahabat Muadz, ketika di utus ke Yaman menjadi Gubernur di sana:

NABI SAW : Bagaimana engkau memberi keputusan jika dihadapkan kepadamu sesuatu yang harus diberi keputusan ?

MU`ADZ : : Aku akan putuskan dengan Kitab Allah.

NABI SAW : Jika engkau tidak dapatkan dalam kitab Allah ?

MU`ADZ : Dengan Sunnah Rasulullah.

NABI SAW : Jika tidak ada dalam sunnah Rasulullah?

MU`ADZ : Aku akan berijtihad dengan pendapatku dan seluruh kemampuanku.

NABI SAW (merasa lega): Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah ( Muadz) dalam hal yang diridhai oleh Rasulullah SAW.
(HR.Ahmad, Turmudzi, Abu Daud).

Tidak ada ijtihad para ulama dalam tahlilan yang menyalahi syar`i.

2. Kalau anda tidak mau menjawab pertanyaan kami yang satu ini, maka komentar anda untuk berikutnya tidak akan kami muat. Pertanyaan kami : Apa ada dalil nash yang langsung dari Nabi SAW (secara tekstual) tentang BOLEHNYA anda menggunakan INTERNET dalam diskusi ini ? Perlu anda ketahui Nabi SAW tidak pernah BERDISKUSI lewat INTERNET, jadi INTERNET ini juga hukumnya bid`ah, apalagi INTERNETt ini adalah produk BUDAYA KAFIR BARAT.

Jadi anda adalah pelaku bid`ah yang mengikuti adat Kafir Barat.

19.
Pengirim: riehul firdaus  - Kota: Sidoarjo
Tanggal: 4/12/2012
 
Sudah kubilang kmrn: "dalil maksimal adl yg bersandar pd tabiin Thawus"! Phal Thawus HANYA menyebut bw dlm kurun waktu 7 hr pertama itulah mayit mengalami ujian...
dan Thawus tidak pernah nyebut hr 40-100-1000. Kenapa skr di Jawa ditambah2i dg pelbagai dalih? Apa di Timur Tengah aa model spt itu? Nggak ada kan? Kalau mau tidak terlalu serius begini: Emangnya nggak cukup ujian selama 7 hari? Emangnya ada ujian ulangan segala pd hari ke 40 lalu 100 lalu 1000? 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Anda sendiri belum bisa menjawab pertanyaan kami, mengapa anda sekarang mengikuti Trend Budaya Kafir Barat, dengan menggunakan INTERNET untuk DISKUSI AGAMA, ini adalah perbuatan Bid`ah yang anda lakukan, dan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi SAW secara langsung dan tidak ada Nash Alquran maupun hadits shahihnya yang terang-terangan memperbolehkan penggunaan INTERNET untuk DISKUSI AGAMA.

20.
Pengirim: riehul firdaus  - Kota: Sidoarjo
Tanggal: 4/12/2012
 
mana pernyataan ulama salaf yg menyebut angka2 cantik 40-100-1000 hari itu". Tidak ada!!! Pdhal di situlah inti masalahnya: itulah hr2 keramat utk memberi sesaji yg sangat animis-Hinduis! Yg sekarang kelihatan adl justru ente [Afdel, Fino dll] yg TIDAK PERCAYA kpd ulama salaf, mengangggap seolah beliau2 semua lupa thd "angka2 cantik itu", lalu skr ente menambahkannya sendiri... 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Trus apa ada fatwa ulama salaf yang memperbolehkan anda meniru Budaya Kafir main INTERNET ini, apalagi jika sudah merasa paling benar seperti yang anda lakukan ? Coba sebutkan di kitab mana, karangan siapa, halaman berapa BOLEH-nya ber-internet-an ?

21.
Pengirim: Rika  - Kota: surabaya
Tanggal: 4/12/2012
 
Wirid yasin alias tahlilan rame rame di larang dalam Islam karena Rasul bersabda :Apabila kamu mendengar orang membaca Alquran maka diam dan dengarkanlah.Rasul bukan menyuruh menbaca keras keras dan secara beramai ramai 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Wah mana nash-nya yang jelas-jelas Nabi SAW melarang Tahlilan dan Yasinan besama-sama itu ?

Apa Nabi SAW pernah mengatakan: Tahlialan dan Yasinan bersama-sama itu hukumnya haram !

Dimana Mbak kitabnya, karangan siapa, halaman berapa? tolong serbutkan dengan jelas !

jangan-jangan anda akan mengarang/membuat hadits baru yaa ?

Kalau dalil yang anda nukil itu bukanlah dalil nash yang melarang Tahlialn dan Yasinan bersama. Hanya saja ilmu untuk memahami dalil nash yang anda miliki itu masih tampak mentah.

22.
Pengirim: riehul firdaus  - Kota: Sidoarjo
Tanggal: 4/12/2012
 
Yg membuat dunia kian galau adl: tahu banyak hadits, paham baca Kitab Kuning — tp kok nggak punya kemampuan berpikir kritis. Bisanya cm ngikut ustadz, nggak berani berbeza pendapat dg lingkungannya... Mungkinkah selama ini hanya menelan mentah Ta’limun Muta’alim, nggak menerima Washaya? 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Umat Islam sangat galau, karena ternyata banyak Kaum Wahhabi seperti anda yang selalu koar-koar anti Bid`ah dengan pengertian Bid`ah secara sempit, yaitu segala sesuatu yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi SAW, maka anda hukumi bid`ah, padahal anda sendiri dan kaum semua Wahhabi justru adalah pelaku Bid`ah.

- Anda sering lihat TV yang banyak kemaksiatannya, padahal Nabi SAW tidak punya TV.

- Anda naik mobil umum yang di dalamnya campur lelaki dan wanita, padahal Nabi SAW tidak pernah naik mobil, apalagi campur lelaki dan wanita.

- Anda menggunakan HP, padahal Nabi SAW tidak pernah menggunakan HP.

- Anda belanja di Swalayan, padahal Nabi SAW tidak penah ke Swalayan.

- Dan sebagainya, dari bid`ah-bid`ah yang anda lakukan di jaman sekarang, yang semuanya itu tidak pernah dilakukan / dicontohkan oleh Nabi SAW.

- Oh yaa, maaf anda ini lelaki apa perempuan yaa, kok nama anda terkesan BID'AH, gak jelas lelaki/perempuannya... !

23.
Pengirim: rahman  - Kota: bandung
Tanggal: 4/12/2012
 
Bagus ustazd! hajar terus para WAHABI (Wabah Hantu Bid'ah) mereka yang sebenarnya para ahlul bid'ah yang menghancurkan barisan umat Islam 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Satu pun tidak ada dari kalangan Wahhabi yang mampu menjawab pertanyaan warga Aswaja : Apa ada Nash sharih (tekstual hadits) yang memperbolehkan kaum Wahhabi menggunakan INTERNET dan alat-alat modern lainnya yang tidak ada di jaman Nabi SAW.

Paling-paling jawaban Wahhabi hanya beretorika semata : Bid'ah itu dibagi dua, BID'AH DINIYAH dan BID'AH DUNIAWIYAH, lantas berargumen: Amalan semacam Tahlilan adalah Bid'ah Diniyah yang haram dikerjakan, sedangkan amalan semacam menggunakan Internet adalah Bid'ah Duniawiyah yang boleh dikerjakan.

Padahal Nabi SAW, para shahabat dan para ulama Salaf sama sekali tidak pernah membagi Bid'ah menjadi : BID'AH DINIYAH dan BID'AH DUNIAWIYAH. Jadi pembagian yang dilakukan oleh kaum Wahhabi ini justru INTI dari BID'AH itu sendiri. Mereka berargumen hanya menggunakan rasio belaka tanpa didasari tekstual dalil syar'i dari Alquran dan Hadits yang selalu mereka tuntut kepada warga Aswaja saat mereka berkoar-koar pura-pura menjadi orang yag paling bersih dari perbuatan Bid'ah itu sendiri.

24.
Pengirim: mbah rekso wargo  - Kota: Yogyakarta
Tanggal: 4/12/2012
 
Alhamdulillah,,,,,mudh"an bermanfaat bagi kita semua 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Semoga Amalan Aswaja akan selalu jaya di bumi Nusantara.

25.
Pengirim: ahmad  - Kota: jember
Tanggal: 5/12/2012
 
1. Apa di sana ada bukti nash/dokumen Arab gundul atau apa yg menunjukkan bw Nabi Muhammad selamatan tahlilan 7, 40, 100, 1000 hr pasca kematian? Kalau iya, pasti banyak fisbuker bersedia datang! [Meskipun sy belum tentu bisa. Kenapa? Aq hrs ksana bersm muhrimku, mas.] Tapi, tunggu dulu! Itulah kuncinya. Begitu ada nash yg menunjukkan Nabi (atau sahabat) berselamatan tahlilan 7, 40, 100, 1000 hr pasca kematian, diskusi qt ini tuntas. Tamat! Sebaliknya, kalau nash terbaik hanya hadits yg bersandar pd tabiin Thawus, diskusi masih akan berlanjut... Sampai kapan? Sampai anda semua mengakui bw: (1) Thawus pun hanya tahlilan yg berisi doa2 suci sampai hr ke-7 saja. Thawus nggak ngurus hr ke-40, 100, 1000 dst. (2) "Ijtihad" (kalau boleh disebut dmk) selamatan tahlil 7, 40, 100, 1000 hr pasca kematian itu adl ijtihad yg menyalahi syar'i. Bahkan menyalahi Keputusan Muktamar NU, yg menyebutnya maksimal makruh. makruh itu sgt di benci syri'at
- Mengenai 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari, atau bahkan tiap hari, tak ada dalil yang melarangnya? Tunjukkan dalil yg melarangnya?
Kenapa anda melarang suatu hal yg Alloh dan RasulNya sendiri tdk melarangnya?
Apakah anda mau jadi Nabi baru?
justru kita perlu bertanya, ajaran muslimkah mereka yang melarang orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, siapa yang alergi dengan suara Laa ilaaha illallah kalau bukan syaitan dan pengikutnya ?, siapa yang membatasi orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, muslimkah?, semoga Allah memberi hidayah pada muslimin, tak ada larangan untuk menyebut Laa ilaaha illallah, tak pula ada larangan untuk melarang yang berdzikir pada hari ke 40, hari ke 100 atau kapanpun, pelarangan atas hal ini adalah kemungkaran yang nyata.

Bila hal ini dikatakan merupakan adat orang hindu, maka bagaimana dengan computer, handphone, mikrofon, dan lainnya yang merupakan adat orang kafir, bahkan mimbar yang ada di masjid masjid pun adalah adat istiadat gereja, namun selama hal itu bermanfaat dan tak melanggar syariah maka boleh boleh saja mengikutinya, sebagaimana Rasul saw meniru adat yahudi yang berpuasa pada hari 10 muharram, bahwa Rasul saw menemukan orang yahudi puasa dihari 10 muharram karena mereka tasyakkur atas selamatnya Musa as, dan Rasul saw bersabda : Kami lebih berhak dari kalian atas Musa as, lalu beliau saw memerintahkan muslimin agar berpuasa pula” (HR Shahih Bukhari hadits no.3726, 3727).

Sebagaimana pula diriwayatkan bahwa Imam Masjid Quba di zaman Nabi saw, selalu membaca surat Al Ikhlas pada setiap kali membaca fatihah, maka setelah fatihah maka ia membaca AL Ikhlas, lalu surat lainnya, dan ia tak mau meninggalkan surat al ikhlas setiap rakaatnya, ia jadikan Al Ikhlas sama dengan Fatihah hingga selalu berdampingan disetiap rakaat, maka orang mengadukannya pada Rasul saw, dan ia ditanya oleh Rasul saw : Mengapa kau melakukan hal itu?, maka ia menjawab : Aku mencintai surat Al Ikhlas. Maka Rasul saw bersabda : Cintamu pada surat Al ikhlas akan membuatmu masuk sorga” (Shahih Bukhari).

Maka tentunya orang itu tak melakukan hal tsb dari ajaran Rasul saw, ia membuat buatnya sendiri karena cintanya pada surat Al Ikhlas, maka Rasul saw tak melarangnya bahkan memujinya.

2. Sudah kubilang kmrn: "dalil maksimal adl yg bersandar pd tabiin Thawus"! Phal Thawus HANYA menyebut bw dlm kurun waktu 7 hr pertama itulah mayit mengalami ujian... dan Thawus tidak pernah nyebut hr 40-100-1000. Kenapa skr di Jawa ditambah2i dg pelbagai dalih? Apa di Timur Tengah aa model spt itu? Nggak ada kan? Kalau mau tidak terlalu serius begini: Emangnya nggak cukup ujian selama 7 hari? Emangnya ada ujian ulangan segala pd hari ke 40 lalu 100 lalu 1000?
- Kalo bicara ilmu dien itu tdk dikenal dalil maksimal dan minimal mas. Anda belajar dari mana kok mengenal dalil maksimal dan minimal. Ada hadist shahih + pendapat ulama ya kita ikuti, kan seperti itu? Tidak ada batasan maksimal dan minimal. Rupanya anda hendak jadi muhaddist.

Dan sebaiknya anda membaca komentar saya yg sebelumnya dan tdk mengulangi argumentasi2 anda yg sdh terjawab ini.

Sebagaiman yang telah saya jelaskan sebelumnya bahwa Riwayat thawus tsb menjelaskan bahwa tradisi selamatan selama tujuh hari telah
berjalan sejak generasi sahabat Nabi Sudah barang tentu, para sahabat dan
genetaj salaf tidak mengadopsinya dari orang Hindu. Karena orang-orang Hindu
tidak ada di daerah Arab.

Dan seandainya tradisi selamatan tujuh hari tersebut diadopsi dari tradisi Hindu,
maka hukumnya jelas tidak haram, bahkan bagus untuk dilaksanakan,
mengingat acara dalam kedua tradisi tersebut sangat berbeda. Dalam selamatan
tujuh hari, kaum Muslimin berdzikir kepada Allah. Sedangkan orang Hindu
melakukan kemungkaran. Dalam hadits shahih Rasulullah bersabda:
"Dari Ibn Mas'ud Rasulullah SAW bersabda: "Orang yang berdzikir kepada Allah
di antara kaum yang lalai kepada Allah, sederajat dengan orang yang sabar di
antara kaum yang melarikan diri dari medan peperangan." (HR. al-Thabarani
dalam al-Mu’jam al-Kabir dan al-Mu’jam al-Ausath. Alhafizh al-Suyuthi menilai
hadits tersebut shahih dalam al-Jami’ al-Shaghir).

Dalam acara tahlilan selama tujuh hari kematian, kaum Muslimin berdzikir
kepada Allah, ketika pada hari tersebut orang Hindu melakukan sekian banyak
kemungkaran. Betapa indah dan mulianya tradisi tahlilan itu. Dan seandainya
tasyabuh dengan orang Hindu dalam selamatan tujuh hari tersebut
dipersoalkan, Rasulullah SAW telah mengajarkan kita cara menghilangkan
tasyabuh (menyerupai orang-orang ahlul kitab) yang dimakruhkan dalam agama,

Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah SAW bersabda:
“Ibn Abbas berkata: "Setelah Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura dan
memerintahkan kaum Muslimin juga berpuasa, mereka berkata: “Wahai
Rasulullah, hari Asyura itu diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani."
Rasulullah SAW menjawab: "Kalau begitu, tahun depan, kita berpuasa pula
tanggal sembilan." Ibn Abbas berkata: 'Tahun depan belum sampai ternyata
Rasulullah SAW telah wafat" (HR. Muslim dan Abu Dawud).

Dalam hadits di atas, para sahabat menyangsikan perintah puasa pada hari
Asyura, di mana hari tersebut juga diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan
Nasrani. Sementara Rasulullah SAW telah menganjurkan umatnya agar selalu
menyelisihi (mukhalafah) orang-orang Yahudi dan Nasrani. Temyata Rasulullah
memberikan petunjuk, cara menyelisihi mereka, yaitu dengan berpuasa sejak
sehari sebelum Asyura, yang disebut dengan Tasu'a', sehingga tasyabbuh
tersebut menjadi hilang

3. mana pernyataan ulama salaf yg menyebut angka2 cantik 40-100-1000 hari itu". Tidak ada!!! Pdhal di situlah inti masalahnya: itulah hr2 keramat utk memberi sesaji yg sangat animis-Hinduis! Yg sekarang kelihatan adl justru ente [Afdel, Fino dll] yg TIDAK PERCAYA kpd ulama salaf, mengangggap seolah beliau2 semua lupa thd "angka2 cantik itu", lalu skr ente menambahkannya sendiri..
- Baca komentar saya lg. dan tanggapi itu jika anda mampu

4. Yg membuat dunia kian galau adl: tahu banyak hadits, paham baca Kitab Kuning — tp kok nggak punya kemampuan berpikir kritis. Bisanya cm ngikut ustadz, nggak berani berbeza pendapat dg lingkungannya... Mungkinkah selama ini hanya menelan mentah Ta’limun Muta’alim, nggak menerima Washaya?
- Sebenarnya yg tdk mampu berfikir kritis adalah anda yg terbukti tdk mampu mmbatalkan hujjah2 kami.
Dalam sebuah hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim dijelaskan:
selalu mendatangi Masjid Quba, beliau berkata: “Nabi “Dari Ibnu Umar setiap hari Sabtu dengan berjalan kaki dan berkendaraan.” Abdullah bin juga sering melakukannya.”Umar
Mengomentari hadits tersebut, al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fath al-Bar :
“Hadits ini, dengan jalur-jalurnya yang berbeda-beda, mengandung petunjuk atas bolehnya menentukan sebagian hari-hari tertentu dengan sebagian amal saleh dan melakukannya secara terus menerus. Hadits ini juga mengandung petunjuk bahwa larangan bepergian menuju selain ketiga masjid itu bukan larangan yang mengharamkan.” (Al-Hafizh Ibnu Hajar, Fath al-Bari, juz 3 hal. 69).
Pernyataan al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani di atas mengantarkan kita pada kesimpulan, bolehnya menentukan hari-hari tertentu seperti hari ke-40, 100, 1000, setahun dan lain sebagainya dengan amal saleh tertentu dan melakukannya secara terus menerus
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kami posting untuk Riehul, semoga bermanfaat untuk umat.

26.
Pengirim: aris  - Kota: Prob
Tanggal: 5/12/2012
 
Saya mungkin bisa sedikit mengingatkan kepada kaum wahhabi (riehul firdaus):
PERLU ANDA KETAHUI BAHWA SESUATU YANG TIDAK PEMAH DIKERJAKAN OLEH RASULULLAH SAW, ATAU PARA SAHABAT DAN ULAMA SALAF ITU BELUM TENTU DILARANG ATAU TIDAK BOLEH. FAHAM ANDA???!!!

 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Benar, tidak ada dalil yang melarang tahlilan pada hari ke 1, 2, 3, 7, 40. Jadi gak perlu takut kepada kaum Wahhabi.

27.
Pengirim: riehul firdaus  - Kota: Sidoarjo
Tanggal: 5/12/2012
 
jawaban sy sederhana: Dua hal itu (internet, mobil, satelit dg pemilihan hari2 bertahlil kenduren) berada di ranah yg berbeda; keduanya tidak analog. Yg satu adl progres sejarah akal-budi manusia, yg satunya ketetapan fiqiyah.

Thd progres sejarah, tidak ada nashnya dr Nabi karena itu berlakunya untuk semua manusia. Sedangkan ketentuan fiqiyah itu hanya untuk umat Islam -- itulah yg nashnya qt perlukan. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Anda ini sedang membahas ilmu agama apa ilmu umum? kalau anda membicarakan ilmu agama, maka harus ada dasar syar'inya dari Alquran dan Hadits, tidak cukup hanya dg logika pemikiran dan retorika seperti yag anda paparkan, maka paparan anda ini adalah Bid'ah.

Pemaparan anda ini sih hanya pemikiran anda semata, kami tidak butuh pemikiran anda, yang kami butuhkan mana tekstual dalil nash syar'inya dari Alquran atau Haditsnya tentang pembagian seperti yang anda paparkan.

Rupanya anda sudah merasa berhak membuat Syariat Baru dengan paparan anda yang berani membagi : Kalau proses sejarah itu bebas diamalkan tanpa harus ada tekstual dalil, sedangkan yang fiqhiyah harus ada contoh dari Nabi SAW secara langsung.

Sekali lagi di kitab mana disebutkan adanya tekstual dalil nash syar'i untuk pembagian seperti paparan anda ini ? Karangan siapa kitabnya? Halaman berapa ? Status dalilnya itu apa shahih apa hasan apa dhaif ?

Kalau anda tidak dapat menyebutkan dalil nash syar'inya maka sungguh anda telah membuat BID'AH TERBARU dan TERKINI.

Sekali lagi, kalau anda hanya bisa beretorika seperti paparan anda yang 'BID'AH itu, dan anda tidak mau menjawab sesuai pertanyaan kami ini (mana dalil nash syar'inya, di kitab apa disebutkan, karangan siapa, halaman berapa, status dalilnya apa?), maka komentar anda tidak akan kami muat. Kami tunggu jawaban anda...!

28.
Pengirim: Dwi  - Kota: Surabaya
Tanggal: 5/12/2012
 
Bismillah...untuk kaum wahhabi, apakah tidak cukup peringatan dari Allah karena kekakuan dan kesalahan sampean sampean, konon di kubah masjid nabawi ada mayit yg melekat disana sampai sekarang masih ada..konon orang tsb dulunya ingin menghancurkan kubah dan masjid Rasullah SAW..tetapi oleh Allah di adzab dg tersambar petir sehingga tidak ada satupun orang yg sanggup menurunkannya sampai sekarang. itulah peringatan thd oeang2 wahabi yang ngelamak dateng kanjeng Nabi SAW. Audzubbillah min su'u akhlaq. Allahumma Sholli Alaa Muhammad... 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Disambar geledek pun... belum tentu mereka bisa memahami syariat Islam dengan baik dan benar, karena hati mereka tertutup kedengkian terhadap umat Islam.

29.
Pengirim: aswaja  - Kota: prob
Tanggal: 5/12/2012
 
BANYAK PERKARA BARU YANG TIDAK DICONTOHKAN OLEH RASUL
“Abdurrahman bin Abi Laila berkata: “Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam, bila seseorang datang terlambat beberapa rakaat mengikuti shalat
berjamaah, maka orang-orang yang lebih dulu datang akan memberi isyarat
kepadanya tentang rakaat yang telah dijalani, sehingga orang itu akan
mengerjakan rakaat yang tertinggal itu terlebih dahulu, kemudian masuk ke
dalam shalat berjamaah bersama mereka. Pada suatu hari Mu’adz bin Jabal
datang terlambat, lalu orang-orang mengisyaratkan kepadanya tentang jumlah
rakaat shalat yang telah dilaksanakan, akan tetapi Mu’adz langsung masuk
dalam shalat berjamaah dan tidak menghiraukan isyarat mereka, namun setelah
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selesai shalat, maka Mu’adz segera
mengganti rakaat yang tertinggal itu. Ternyata setelah Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam selesai shalat, mereka melaporkan perbuatan Mu’adz bin Jabal
yang berbeda dengan kebiasaan mereka. Lalu beliau shallallahu alaihi wa sallam
menjawab: “Mu’adz telah memulai cara yang baik buat shalat kalian.” Dalam riwayat Mu’adz bin Jabal, beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda; “Mu’adz
telah memulai cara yang baik buat shalat kalian. Begitulah cara shalat yang
harus kalian kerjakan”. (HR. al-Imam Ahmad (5/233), Abu Dawud, Ibn Abi
Syaibah dan lain-lain. Hadits ini dinilai shahih oleh al-Hafizh Ibn Daqiq al-’Id dan
al-Hafizh Ibn Hazm al-Andalusi).

Hadits ini menunjukkan bolehnya membuat perkara baru dalam ibadah, seperti
shalat atau lainnya, apabila sesuai dengan tuntunan syara’. Dalam hadits ini,
Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak menegur Mu’adz dan tidak pula berkata,
“Mengapa kamu membuat cara baru dalam shalat sebelum bertanya
kepadaku?”, bahkan beliau membenarkannya, karena perbuatan Mu’adz sesuai
dengan aturan shalat berjamaah, yaitu makmum harus mengikuti imam. Dalam
hadits lain diriwayatkan:
“Rifa’ah bin Rafi’ radhiyallahu anhu berkata: “Suatu ketika kami shalat bersama
Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ketika beliau bangun dari ruku’, beliau berkata:
“sami’allahu liman hamidah”. Lalu seorang laki-laki di belakangnya berkata:
“rabbana walakalhamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fih”. Setelah
selesai shalat, beliau bertanya: “Siapa yang membaca kalimat tadi?” Laki-laki itu
menjawab: “Saya”. Beliau bersabda: “Aku telah melihat lebih 30 malaikat
berebutan menulis pahalanya”. (HR. al-Bukhari [799]).

Kedua sahabat di atas mengerjakan perkara baru yang belum pernah
diterimanya dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, yaitu menambah bacaan dzikir
dalam i’tidal. Ternyata Nabi shallallahu alaihi wa sallam membenarkan perbuatan
mereka, bahkan memberi kabar gembira tentang pahala yang mereka lakukan,
karena perbuatan mereka sesuai dengan syara’, di mana dalam i’tidal itu tempat
memuji kepada Allah.

 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Untuk Riehul firdaus, kami tunggu dalil nash qath`i dari Alquran atau Hadits tentang pemaparanya bahwa : Kalau proses sejarah itu bebas diamalkan tanpa harus ada tekstual dalil, sedangkan yang fiqhiyah harus ada contoh dari Nabi SAW secara langsung. Di kitab mana, karangan siapa, halaman berapa, status dalilnya gimana ?

30.
Pengirim: fendik  - Kota: kraksaan
Tanggal: 5/12/2012
 
BERARTI RIEHUL FIRDAUS MENGANGGAP SAHABAT UMAR DAN USTMAN ADALAH PELAKU BID’AH.

Sahabat umar membuat ibadah baru yakni shalat tarawih sebulan penuh. Sedangkan ustman menambahkan adzan jumat menjadi 2x. Apakah sayyidina Umar dan sayyidina Ustman tidak memahami pembagian proses sejarah dan ketetapan fiqhiyyah seperti yg anda fahami? Apakah anda lebih pintar dari Sayyidina Umar dan Sayyidina Utsman?

 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Riehul firdaus adalah pelaku bid`ah dan tidak konsisten dengan keyakinannya sendiri.

31.
Pengirim: Rika  - Kota: surabaya
Tanggal: 5/12/2012
 
dari dulu saya juga tau hujjah kalian yg didasarkan pada Imam Syafi'i dan Imam Nawawi, mengenai tanggapan imam Nawawi di dalam memahami hadits "man sanna fil islam...." juga kami paham, mengenai bantahan kalian terhadap ungkapan Imam Malik yg menolak bid'ah hasanah yg di kutip oleh Imam Asy Syathibi dalam Al-I'tisham juga kami tau mbak,,tapi kami berhati-hati,,karena antara bid'ah dg 'urf itu beda2 tipis, dan pemahaman kita dalam hal ini sedikit berbeda, mbak sudah pernah belajar Ushul Fiqh?? anda tau alasan Imam Syafi'i menolak istihsan ?? 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Maaf, ini komentar pertanyaan dan pernyataan, ditujukan kepada siapa yaaa, mohon yang jelas agar tidak menjadi syubhat.

32.
Pengirim: riehul firdaus  - Kota: Sidoarjo
Tanggal: 5/12/2012
 
Afwn yg ini harus di jawab
huuff nyata benar gagal membaca teks. Ini baru membaca teks! Belum sampai membedah makna!

Mari sy tunjukkan kalimat ini aja:
(a) Rupanya anda sudah merasa berhak membuat Syariat Baru dengan paparan anda yang berani membagi : (b) Kalau proses sejarah itu bebas diamalkan tanpa harus ada tekstual dalil, sedangkan yang fiqhiyah harus ada contoh dari Nabi SAW secara langsung.

Di bagian (a) shohibusstatus menyimpulkan saya membikin “syariat baru” – itu istilah dia. Lalu di bagian (b) si Afdel salah membaca tulisan sy. Sy menyebut PROGRES, tp oleh dia dibaca PROSES. Di bagian (b) itu juga mrp kesimpulan melenceng dr shohibusstatus

Progres (= kemajuan) sejarah akal budi itu berlangsungnya belakangan dan mengenai seluruh umat manusia. Contohnya adl penemuan lampu pijar atau penemuan internet. Yg terkena progres itu semua manusia, ya Muslim atau bukan. Sedangkan ketentuan fiqiyah itu yg terkena ya Muslim saja.

Lain kali baca baik2

Oh ya, renungkanlah ttg: (1) bgm sabda Nabi ttg puasa Asyuura; (2) apakah Nabi kenduren-tahlil pasca wafatnya sahabat Hamzah pd hr ke-7-40-100-1000 harinya... 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM

Ngelees lagii, dasar Wahhabi... !

Anda tidak berhasil menjawab tantangan kami untuk menghadirkan dalil-dalil syar'i yang kami minta.

jadi, sekali lagi kami katakan, ocehan anda ini tidak berdasarkan dalil syar'i, nash sharih, tekstual Alquran maupun Hadits, jadi hanya semata-mata pemikiran anda semata yang benar-benar BID`AH karena Nabi SAW tidak pernah membagi-bagi seperti itu. Jadi paparan anda sama sekali tidak 'Ngaruh' untuk warga Aswaja.

Kami persilahkan anda terus menggonggong, kafilah tahlilan 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 40, 100, 1000 hari milik warga Aswaja yang kami kemas secara syar'i, akan tetap jalan dan lestari sepanjang masa. Pasti amalan ini akan kami pertahankan demi anak cucu.

Yang perlu anda cacat : Anda sebagai penganut Wahhabi, selalu mengatakan amalan Aswaja sebagai amalan BID`AH karena tidak ada tuntunan langsung dari Nabi SAW, sekalipun Nabi SAW sendiri yang membuka lebar-lebar pintu ijtihad dan pintu ijihad itu tidak pernah ditutup.

Sedangkan anda sendiri telah berbuat BID`AH dengan membagi-bagi amalan seperti yang anda paparkan, padahal jelas-jelas Nabi SAW tidak pernah membagi-bagi amalan seperti paparan anda, dan itu anda lakukan demi pembenaran bagi keyakinan anda sendiri, dan anda merasa sangat benar dengan BID`AH yang anda lakukan itu. Ya itulah profil anda sebagai kaum Wahhabi yang selalu meletakkan diri sebagai musuh Aswaja.

Rupanya ini kiriman terakhir anda yang dapat kami posting di situs Ahlus sunnah wal jamaah ini.

Anda boleh saja berkoar-koar di Situs-situs Wahhabi saja, dan itu adalah tempat anda yang sebenarnya, dan jangan mengotori Situs Ahlus sunnah wal jamaah yang kami kelola dengan retorika wahhabiyah, karena anda bukan warga Aswaja.

33.
Pengirim: Rif'at  - Kota: Jak-ut
Tanggal: 7/12/2012
 
Assalaamu'alaikum,
Kepada Riehul Firdaus yang “pandai” :
Pemikiran dan kritis anda sbg orang berpendidikan memang bagus, tapi anda tidak bisa menghargai pendapat orang lain yang sesungguhnya mereka tidak menyalahi syari'at. Kami tidak pernah menyalahkan model anda dalam melakukan ibadah misalnya, tetapi yang jadi permasalahan di sini adalah ketika golongan anda menyalahkan/ membid'ahkan (buruk) beberapa kegiatan ibadah yang kami lakukan. Coba anda berpikirlah kritis sbg orang berpendidikan tanpa membenarkan pemikiran golongan anda semata, pastinya anda akan mengetahui dan bisa memahami bahwa hal itu adalah boleh. Contoh dari orang tua saya : “Ketika saya kecil ada kaum/ golongan di luar aswaja yang tata caranya berbeda dengan kami, sehingga saya tanyakan ke ayah saya kenapa modelnya ga sama dengan kita? Jawab ayah saya sangat santun, bahwa cara seperti itu juga boleh dan tidak melanggar sari’at itu juga benar ga salah”. Mungkin anda harusnya bisa berpikir kritis bagaimana menghargai pendapat orang lain tanpa menyalahkannya yang jika anda mungkin diajak diskusi pastinya ilmu agama anda cukup dangkal karena hanya bisa berpikir logika anda semata, semampu anda memahami tekstual tanpa ada ilmu dasar bagaimana cara memahami teks/ gaya bahasa yang berbeda dengan kita dan lain sebagainya.
Ketika kaum anda menyalahkan amalan kami, dengan menyebarkannya keras-keras, apalagi dengan berbagai media, maka menjadikan kaum aswaja antipasti terhadap pemikiran kaum anda yang dangkal. Menurut saya, pada umunya orang wahabi adalah orang awam ilmu agama, tetapi belajar islam hanya membaca, dipikir dan dipahami dengan kemampuannya sendiri kemudian ketika melihat orang lain yang berbeda maka dia katakan bid’ah. Itulah yang terjadi dan umum di lingkungan perkantoran, kampus dan lain-lain. Mari kita saling berprasangka baik, walana a’maluna walakum a’malukum.
Wassalaamu’alaikum
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Hanya sekedar mengingatkan artikel kami di kolom ini juga yang berjudul :

ANZUN WALAU THAARAT

Judul di atas artinya : `Kambing sekalipun ia terbang`.

Hikayat ini mempunyai makna, betapa jeleknya sifat tidak mau mengalah sekalipun demi kebenaran, atau alangkah buruknya sifat merasa paling benar sendiri dan menganggap semua orang yang tidak sepaham dengan dirinya pasti salah.

Konon ada dua orang bersahabat, sebut saja Armin dan Halim yang sedang berselisih pendapat. Armin terkenal sebagai sosok yang tidak pernah mau mengakui kesalahan dirinya saat dia berulah. Sekalipun disodorkan kepadanya bukti-bukti kongkrit atas kesalahannya, Armin selalu saja bersikeras jika dirinya tidak pernah berbuat salah.

Suatu saat Armin dan Halim berjalan di pinggir padang pasir. Tiba-tiba mereka mendapati seekor binatang yang tampak ada depan mereka, dengan jarak yang cukup jauh, namun masih dapat terjangkau oleh penglihatan mata, sehingga binatang itu tidak mudah untuk diketahui secara pasti tentang jenisnya.

Armin : Wahai kawanku, aku melihat ada seekor kambing di depan kita yang sedang mencari makan dicelah bebatuan.

Halim : Wah, menurut perkiraanku, itu bukan kambing, melainkan seekor burung besar yang sedang mengais makanan di sekitar gundukan batu, karena ia memiliki leher yang cukup panjang.

Armin : Loh, kamu ini gimana sih...? Itu kan jelas-jelas kambing, kok kamu bilang burung, mana ada burung se besar itu ?

Halim : Kalau jenis burung padang pasir itu, bahkan ada yang lebih besar dari yang engkau lihat, coba engkau perhatikan ia sedang mengepakkan sayapnya.

Armin : Itu sih bukan mengepakkan sayapnya, tetapi mengibaskan ekornya, karena ia adalah seekor kambing, dan kalau kamu tidak percaya, ayo kita dekati.

Maka atas kesepakatan berdua, mereka pun bergegas mendatangi binatang itu sambil terus berdebat yang tidak ada ujung pangkalnya.

Demikianlah, tatkala sampai batas sekitar lima puluh meter dari tempat tujuan, tiba-tiba saja binatang tersebut terbang tinggi meninggalkan mereka karena takut didekati manusia. Sejurus kemudian terdengar suara Halim agak sedikit lantang.

Halim : Aku kan sudah bilang, binatang itu adalah burung raksasa padang pasir, karena itu ia terbang, dan takut terhadap kedatangan kita.

Armin : Hai kawan, aku bilang sekali lagi, binatang itu adalah KAMBING, sekalipun ia terbang...!!

Halim hanya bisa tersenyum kecut mrndengar jawaban Armin yang sifatnya tidak pernah mau mengakui kesalahannya.

Demikianlah kisah fiktif ini sebagai pelajaran bagi para pembaca, betapa jeleknya sifat merasa dirinya paling benar dan menganggap orang lain selalu salah.

Dewasa ini benyak bermunculan manusia-manusia yang memiliki sifat `anzun walau thaarat`. Seperti adanya kelompok yang selalu menuduh masyarakat dengan tuduhan sesat atau bid`ah, karena diangggap mengamalkan suatu amalan yang tidak sepaham dengan keyakinannya, sekalipun amalan masyarakat itu memiliki dasar yang kuat baik dari Alquran maupun Hadits shahih, namun tetap divonis sesat, bid`ah dhalalah, dan yang semisalnya.

Karena para penuduh itu memiiliki sifat `anzun walau thaarat`, maka tidak mudah untuk menyadarkan dan memberi pengertian kepada kelompok ini, bahwa amalan masyarakat yang sudah menjadi tradisi turun temurun di kalangan umat Islam, pada dasarnya memiliki dasar syar`i yang kuat dan shaih, sebut saja amalan tahlilan, talqin mayyit, istighatsah, pembacaan maulid Nabi SAW, dan seterusnya.

Jadi, yang menghalangi kelompok penuduh ini untuk dapat menerima argumentasi syar`i dari masyarakat pada umumnya, dengan lapang dada dan penuh bijaksana adalah penyakit sifat `anzun walau thaarat`.

ANEH TAPI NYATA.

34.
Pengirim: riehul firdaus  - Kota: Sidoarjo
Tanggal: 7/12/2012
 
Mohon bgi yg pux blog ini di posting..to tanggapi..
Pengirim: Rif'at - Kota: Jak-ut
Tanggal: 7/12/2012

Assalaamu'alaikum,
Kepada Riehul Firdaus yang “pandai” :
Pemikiran dan kritis anda sbg orang berpendidikan memang bagus, tapi anda tidak bisa menghargai pendapat orang lain yang sesungguhnya mereka tidak menyalahi syari'at. Kami tidak pernah menyalahkan model anda dalam melakukan ibadah misalnya, tetapi yang jadi permasalahan di sini adalah ketika golongan anda menyalahkan/ membid'ahkan (buruk) beberapa kegiatan ibadah yang kami lakukan dst.
=============================
Terimakasih sobat Rif'at atas catatannya untuk sy. Ijinkan sy menanggapi.

(1) Anda ssgnya belum tahu apa faham kegamaan sy, tp anda sdh langsung menganggap sy berfaham X, lalu habis2an menyerang faham X itu hanya krn melihat bbrp cirinya tampak ada pd sy;

(2) Pdhal yg sy lakukan adl memberi warning setelah mempelajari sejarah agama2 samawi, yg sy lihat dg “berjarak” & dg membuat rekonstruksi sejarahnya;

(3) Justru krn melihat scr kritis, sy sampai ke kesimpulan adanya gugusan penyakit (=sindrom) dlm agama2 itu. Tanpa pikiran kritis, niscaya sy hanya akan spt anda, yakni tenggelam dalam kesalahan berpikir otoritatif, hanya membenarkan apa yg disampaikan oleh pemegang otoritas belaka (spt ulama, guru, kyai) seraya melestarikan kemalasan berpikir sebegitu parahnya;

(4) Krn menganggap sy pemegang faham X, maka anda menyalahkan sy atas kesalahan orang lain yg sy tdk tahu menahu atau sy tdk ikut bertanggungjawab thdnya;

(5) Jika anda mengajak sy berprasangka baik, tentunya anda sdh menerapkan itu utk diri sendiri. Cobalah sekali-dua utk benar2 menganggap sy bermaksud baik, lalu lihatlah apa yg terjadi;

(6) Sesekali pula gunakan pikiran anda scr adil & sebebas Imam Ghazali. Insya Allah, pikiran yg “bebas lemak” itu akan barokah bagi Islam – dan bagi komunitas anda yg sebagian besar enggan keluar dr kejumudan. Toh sebagian kecil tmn2 anda sdh naik ke atas pelangi atau melihat matahari, dan tdk lagi spt katak di bawah tempurung lagi.

Wama umiru illa liya'budullaha mukhlisiina lahuddiin.

Wassalamu’alaikum.  
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Sekali lagi yang menjadi masalah adalah, bahwa anda dengan seenaknya menuduh warga Aswaja dalam kejumudan berpikir yang kata anda karena hanya mengikuti ulama. Padahal Nabi SAW sendiri yang mengatakan Al-ulama-u waratsatul anbiya (para ulama itu adalah pewaris ilmu para Nabi).

Anda kemarin selalu minta dalil qath`i (contoh langsung dari Nabi SAW) untuk amalan Aswaja seperti ritual tahlilan, sedangkan anda sendiri tidak dapat menghadirkan satupun dalil qath`i yang kami minta sebagai penguat apa yang anda dakwakan 'sebagai sebuah kebenaran' (menurut versi anda), yaitu isi retorika anda kemarin.

Padahal Islam (Allah dan Rasul-Nya) tidak mengajarkan ajaran Islam ini sekaku yang anda pahami. Karena keluwesan itu pula Islam dapat berkembang di segala jaman dan lestari hingga kini. Perkembangan agama Islam se antero dunia ini juga tidak lepas dari keluwesan amalan umat Islam yang tidak jumud dan tidak kaku seperti yang anda tuduhkan.

Lucunya, anda berdalil dengan berkembangnya pemikiran Imam Ghazali untuk menghantam komunitas Aswaja, padahal Imam Ghazali sendiri banyak mengembangakan pemikiran dan amaliah itu hanya berdasarkan kontekstual dalil Alquran dan Hadits, bukan dari tekstualnya (contoh langsung dari Nabi SAW)

Seperti Imam Ghazali saat membagi Tingkatan Taubat yang tidak berdasarkan Tekstual Dalil /Contoh langsung dari Nabi SAW, tapi justru dari ijtihad Imam ghazali sendiri dengan menggunakan kontekstual dalil-dalil syar'i :

Tingkatan Taubat menurut Imam Ghazali adalah sbb:

Pertama: bertaubatnya seseorang dan istiqomahnya ia di jalan Allah hingga akhir hayatnya.Sehingga ia disebut As-Sabiq Bil Khairat yang artinya mampu merubah perilaku buruk dengan kebaikan. inilah taubat yang sebenarnya/Taubat Nashuha yang insyaAllah akan mendapat ridha Allah dalam kehidupannya baik di dunia maupun di akherat.

Kedua: Orang yang bertaubat dari dosa besar,tetapi dalam perjalanan taubatnya selalu mendapat ujian hingga tidak sengaja ia terjatuh dalam dosa,tetapi hatinya senantiasa sedih dan menyesal sehingga ia berusaha memperbarui tindakannya dengan memperbaiki niatnya.

Ketiga: orang yang bertaubat untuk beberapa lama tapi kemudian hawa nafsu mengalahkannya sehingga ia berbuat dosa lagi. Namun demikian ia masih mau melakukan amal shaleh,ia masih meminta pertolongan Allah agar mampu mengendalikan hawa nafsunya.

Keempat: orang yang bertaubat hanya sebentar saja,tapi kemudian berbuat dosa lagi tanpa dibarengi penyesalan sedikitpun,bagaikan orang lalai bahwa ia telah bertaubat. Pada tingkatan ini ditakutkan orang bisa meninggal dalam keadaan su’ul khatimah.Yaitu ajal menjemputnya saat ia melakukan dosa, bukan saat ia bertaubat.

Pendapat Imam Ghazali ini jelas-jelas tidak ada 'tuntunan langsung' secara tekstual baik dari Alquran maupun Hadits'

Demikian juga yang dilakukan oleh para ulama Aswaja selama ini dalam memahami agama Islam, para ulama banyak bersandar pada kontekstual dalil untuk menjalankan ibadah kepada Allah. Jadi
tidak sekaku yang anda pahami.

Sekali lagi, jika mau main kaku-kakuan seperti tuntutan anda terhadap amalan tahlilan untuk hari ke 7, 40, 100, 1000 pasca wafat si mayyit, anda minta agar ada contoh langsung dari Nabi SAW, maka kami juga menuntut anda untuk menghadirkan contoh langsung (tekstual hadist) dari Nabi SAW tentang pembagian anda sbb:
____________
Dua hal itu (internet, mobil, satelit dg pemilihan hari2 bertahlil kenduren) berada di ranah yg berbeda; keduanya tidak analog. Yg satu adalah progres sejarah akal-budi manusia, yg satunya ketetapan fiqiyah. Terhadap progres sejarah, tidak ada nashnya dr Nabi karena itu berlakunya untuk semua manusia. Sedangkan ketentuan fiqiyah itu hanya untuk umat Islam.
______________
He he he, nyatanya anda sedikitpun tidak pernah mampu menghadirkan satupun tekstual dalil yang kami minta. Malah anda bisanya cuma 'ngeles' sana 'ngeles' sini, seperti main teka-teki dan debat kusir.

Arti 'ngeles' itu adalah menghindar dari subtansi yang dibahas, gitu looh !

35.
Pengirim: Rika  - Kota: surabaya
Tanggal: 8/12/2012
 
WAHABI VS ABU NAWAS

Wahabi 1 :

Jangan melakukan suatu ibadah yang nggak ada contoh dari Rasulullah s.a.w

Abu Nawas : Kalo gitu jangan ente dengerin kutbah jum'at dengan Bahasa Indonesia



Wahabi 2 :

Semua amalan itu tertolak kalau nggak ada contoh dari Rasulullah

Abu Nawas : Kalo gitu ente jangan lakukan shalat tarawih sebulan penuh di mesjid



Wahabi 3 :

Islam itu sudah sempurna nggak perlu di tambah2 lagi

Abu Nawas : Kalo gitu nggak usah banyak omong, Islam kan sudah sempurna nggak perlu lagi di tambah2 ajaran aneh wahabi



Wahabi 4 :

Kubah kuburan wali harus di rubuhkan karena berpotensi syirik di sembah2

Abu Nawas : Kenapa hanya kubah kuburan doang yg di rubuhkan, sekalian aja tebang semua pohon didunia, ratakan gunung2, goa2, laut, semuanya juga berpotensi syirik



Wahabi 5 :

Tassawuf itu ajaran baru karena Rasulullah nggak pernah menyebut sufi

Abu Nawas : kalau gitu nggak usah belajar hadits karena istilah2 muhaddits pun Rasulullah gak pernah sebut



Wahabi 6 :

Jangan percaya ulama, ulama itu nggak ada yg maksum, yg maksum cuma Rasulullah

Abu Nawas : Kalau gitu nggak usah pakai hadits, karena semua hadits di riwayatkan para ulama



Wahabi 7 :

Maulid itu bid'ah nggak boleh di lakukan

Abu Nawas : Kalau gitu besok anak ente lahir nggak usah senyum senang karena itu bagian dari perayaan kelahiran



Wahabi 8 :

Indonesia ini negara thaghut

Abu Nawas : Kalau gitu nggak usah tinggal di Indonesia



Wahabi 9 :

Aqidah Asy'ariyyah itu sesat

Abu Nawas : Kalau gitu nggak usah pakai kitab Ibnu Hajar Al Asqalani



Wahabi 10 :

Imam Syafii itu nggak maksum

Abu Nawas : Apa lagi antum..... 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Abu Nawas memang Oyee ... !

36.
Pengirim: Rif'at  - Kota: Jak-ut
Tanggal: 9/12/2012
 
Assalaamu’alaikum
Mohon maaf jika saya menyebut anda berfaham X, karena umumnya mereka yang mengingkari/ membid’ahkan ajaran Aswaja adalah sama dengan pemikiran dari golongan mereka. Kalau memang tidak, alchamdulillaah berarti anda tidak membenci ajaran kami.

“Warning” kalau saya tidak salah maksudnya adalah tanda peringatan hati-hati, jika tidak hati2 jadinya terjerumus atau sesat, bukan begitu? Waduh-waduh, bahaya donk… (maaf jika salah). Mohon tidak menyalahkan kyai, ulama' kami, karena mereka adalah ahlinya yang setiap hari hidupnya belajar semua tentang islam, tidak seperti kita yang sibuk memikirkan dunia yang jika diprosentasekan akan jauh timpang kemana-mana.

Ketika anda mempelajari agama samawi, pastinya anda membaca, memahami sesuai dengan kemampuan anda, dan karangan siapa buku itu saya juga tidak tahu. Yang jadi pertanyaan saya, adakah guru yang membantu anda untuk mempelajarinya? Jika memang ada sampaikah dia hingga Rasulullah? Karena ini berkaitan dengan agama samawi. Jika memang tidak, nah itulah yang saya maksud bahwa ”mereka belajarnya hanya membaca, memahami teks dengan pemikirannya sendiri, sehingga berkesimpulan menyalahkan orang lain yang berbeda dengan pemahamannya”. Sedangkan ilmu kita dijaman sekarang ini jauh berbeda dengan pemikiran ulama’-ulama’ terdahulu yang mereka disamping mempunyai sifat sangat menghargai perbedaan pendapat dg ketentuannya masing masing, juga konsen terhadap ilmu agama islam. Seberapakah kemampuan kita? Astaghfirulloohaladziim. Jika saya boleh asumsikan ibarat kita mau berkendara menuju suatu tempat, kita mencari jalan sendiri, tanya sana-sini (yang ditanya pun sepengetahuan dia semata) akhirnya kita jalan sendiri sepengetahuan dan kemampuan kita, ya jadinya nayasar kemana-mana membuat jalan baru lagi tanpa tahu sampainya kapan? Wallahu a’lam.

Hal ini yang nantinya akan timbul pemahaman-pemahaman islam model baru yang banyak melenceng kemana-mana. Jika anda masih muda, saya percaya bahwa memang anak muda berpikirnya kritis dan semangat dalam memahami dan mempelajari suatu ajaran, tetapi mari belajar memahami, menghargai pendapat orang lain yang mereka juga tidak salah. Jika anda dewasa, pastilah model pemikiran dan sifat kedewasaan anda dalam diskusi akan terjaga dengan baik. “Sesekali pula gunakan pikiran anda scr adil & sebebas Imam Ghazali. Insya Allah, pikiran yg “bebas lemak” itu akan barokah bagi Islam”, mohon dikembalikan lagi… karena memang begitulah kita bermaksud menasihati yang baik tanpa berkaca terlebih dulu.
Mari kita belajar agama islam dengan guru yang runtutannya nyambung dengan nabiyyullah Muhammad SAW (Allahumma Sholli wasalllim ‘alaihi).
Artikel yang bagus Ammy, mantab buat bekal diskusi, Maturnuwuun.
Wassalaamu’alaikum.
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Benar, idzaa wusshidal amru ilaa ghairi ahlihi fantadziris saa'ah (jika suatu masalah -dlm bab ini, urusan agama- diserahkan kepada selain ahlinya, maka tunggu saja kehancurannya.

37.
Pengirim: Fadil  - Kota: surabaya
Tanggal: 10/12/2012
 
ustadz
Sy mempersoalkan keabsahan kenduri-tahlil itu. Dan, sejauh ini sy belum menemukan alasan sy untuk menggugurkan yang sy persoalkan itu.

Skr sy ajak antum bergeser sedikit, bukan pd yang kemarin qt debatkan, tp tentang dampak sosial-ekonominya. Sy mendengar khaul agung Sunan Ampel selama 3 hr 3 malam memakan biaya ratusan juta rupiah. Kenduri-tahlil yg pernah dilakukan di Jawa saja, taruhlah selama 10 tahun terakhir, biayanya scr kolektif berlipat2 dibanding khaul Sunan Ampel itu!

Maksudnya “scr kolektif” adl semua pengeluaran utk amalan itu yang dilakukan semua kaum muslimin dijumlahkan jd satu. Jadi termasuk untuk 1000 hr Pakdhe sy ditambah famili antum dtambah siapa saja orang Islam yang melakukannya.

Itulah “biaya” yang dikeluarkan oleh kaum muslimin di Indonesia.

Qt juga tidak bisa menutup mata thd kisah2 sedih semacam: Si Suta tdk bisa meneruskan sekolah krn 3 ekor sapinya digunakan utk selamatan sampe 1000 hr bapaknya. Si Naya skr jadi TKI krn keluarganya nggak bisa kasih biaya sekolah ... Si Dadap skr ikut famili merantau ke kota krn... dst dst.

Lepas dr ketentuan bw “jika orang tidak mampu tetap memaksa diri mengada2kan, mk hal itu haram dilakukan”, toh orang2 teruuus saja melakukan.

Semua itu “yg disalahkan” adl “ijtihad” kenduri-tahlil 7-40-100-1000 hari yang sejak berpekan2 sy persoalkan legalitasnya.

ustad
Itulah problem qt, problem umat Islam. Ini bukan problem NU atau Muhammadiyah. Ini problem umat Islam di Indonesia! Ini problem qt semua!
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Alhamdulillah, setelah akhi mempersoalkan keabsahan kenduri-tahlil itu, ternyata sejauh ini akhi belum menemukan alasan untuk menggugurkan yang akhi persoalkan itu. Yaa memang itulah subtansi yang sedang kita bahas, karena Nabi SAW juga bersabda:

قال صلى الله عليه وآله وسلم: ((ما أحل الله فهو حلال، وما حرَّم فهو حرام، وما سكت عنه فهو عفوٌ، فاقبلوا من الله عافيته، فإن الله لم يكن لينسى شيئاً)) أخرجه البزار والطبراني من حديث أبي الدرداء بسند حسن.
وروى الترمذي وابن ماجة من حديث سلمان رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم: ((الحلال ما أحل الله، والحرام ما حرَّم الله في كتابه، وما سكت عنه فهو مما عفا عنه))، وللحديث طرق أخرى. وهذا كما لا يخفى مؤيد لدليل الأصل وهو الجواز.

Mudah-mudahan akhi termasuk muslim yang mampu membaca kitab 'gundul' sesuai sabda Nabi SAW yang asli murni (bukan kelas terjemahan) ini agar aqidah akhi lebih mantap mengadakan kenduri dan Tahlilan.

Berbicara subtansi hukum, jangan dicampuradukkan dengan pelanggaran yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Banyak dari masyarakat kita, keluarga kita, bahkan diri kita sendiri yang hampir tiap hari melanggar syariat Islam, seperti tidak menutup aurat, melihat acara televisi yang syarat berbau maksiat, kemaksiatan ikhtilath lelaki dan wanita di tempat umum, dan masih banyak yang lainnya.

Bahkan termasuk yang lebih wajib kita perjuangkan adalah pemberlakuan syariat Islam di negeri kita ecara legal formal.

Diamnya kita terhadap kemaksiatan dhahir juga termasuk dosa yang terus bertumpuk dari waktu ke waktu.

Coba akhi komentari artikel kami berikut dengan gentel dan jujur:

ADA BID`AH DHALALAH, KOK GAK DIBERANTAS YAA OLEH WAHHABI ?

Di Indonesia saat ini banyak kejadian aneh, terutama yang terjadi di lingkungan masyarakat Islam. Tatkala kaum muslimin dan muslimat sedang berusaha menjalin silaturrahim di kampung-kampung, untuk mengikat tali persaudaraan sesama muslim, salah satunya dengan cara mengadakan majelis dzikir, semacam yasinan atau shalawatan atau membaca sejarah hidup Nabi SAW, maka kaum Wahhabi pun bangkit untuk mengintimidasi kegiatan kaum muslimin dan muslimat ini, dengan terang-terangan kaum Wahhabi mencaci-maki dan menuduh sesat (Bid`ah) kepada para jamaah yasinan, shalawatan dan pembacaan sejarah hidup Nabi SAW dalam buku maulid. Bahkan kaum Wahhabi dengan seriusnya berusaha membubarkan kegiatan-kegiatan keislaman yang rutin diadakan di kampung-kampung tersebut.

Padahal, kegiatan majelis dzikir dan majelis ta`lim yang diadakan semacam ini sangat bermanfaat bagi umat Islam, karena di samping bernilai ibadah sunnah, juga dapat dijadikan filter bagi kehidupan sehari-hari yang dewasa ini semakin banyak dan komplek kejadian di luar kontrol moral keagamaan dan kemasyarakatan.

Di bawah ini ada beberapa perilaku yang benar-benar termasuk bid`ah dhalahah dan tidak dapat dipungkiri oleh siapapun, namun sayangnya tidak ada gerakan sedikitpun dari kaum Wahhabi untuk memberantasnya secara riil sekalipun atas nama PEMBERANTASAN BID`AH DHALALAH.

PERTAMA : Acara Miss Waria Remaja Jakarta di tahun ke-4. Berikut komentar panitia pelaksananya:

Kita senang melakukan ini dengan lancar. Kami sempat khawatir karena pekan kemarin terjadi pembubaran paksa (oleh FPI) acara seperti ini di Jakarta, kata pelaksana Miss Waria Remaja Jakarta, Luluk Suherman di sela-sela pelaksanaan acara di GOR Grogol, Jakarta Barat, Jumat (7/12/2012) malam.

Menurut Luluk, acara kali ini merupakan pemilihan Miss Waria Remaja Jakarta di tahun ke-4. Sementara untuk kategori remaja yakni yang di bawah 30 tahun. Definisi remaja di bawah 30 tahun, jawab Luluk saat wartawan melihat para peserta terlihat bukan remaja lagi.

KE DUA : Indonesia menjadi salah satu negara yang mengikuti ajang Miss Universe 2012 yang digelar di Las Vegas. Maria Selena adalah Putri Indonesia 2012 yang turut meramaikan ajang tersebut.

Di ajang itu Maria pun tampil seksi. Dalam foto yang diunggah Pageant News, Jumat (7/12/2012) ia terlihat mengenakan tank top hitam bermotif bunga dan underwear senada.

Maria terlihat tersenyum manis saat berpose. Puteri Indonesia asal Jawa Tengah itu tampak berpose di depan kolam.

Ajang Miss Universe ke-61 itu bakal digelar 19 Desember 2012 di PH Live, Planet Hollywood Resort & Casino, Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat. 89 negara turut mengirimkan wakilnya dalam ajang tersebut.

KE TIGA : Pergelaran festival musik dance terbesar di Indonesia `Djakarta Warehouse Project 2012` siap digelar keempat kalinya malam ini, Jumat (07/12/2012). Festival tahunan ini akan menampilkan DJ internasional dan lokal.

Kali ini, pagelaran itu menghadirkan Paul Van Dyk, Avicii, Markus Schulz, Porter Robinson, Calvin Harris dan beberapa Dj lokal seperti Dj Hogi (Future10), Dj Anton, Dj Winky dan Dj Indonesia bertaraf international Angger Dimas.

Festival itu menampilkan berbagai jenis genre seperti Trance, Mash up, R n B, Progressive, Dutch Step. Pantaun detikHOT, arena Istora Senayan kini sudah dipenuhi oleh anak muda yang ingin melihat Paul Van Dyk cs.

Panggung megah pun sudah terlihat. Terdapat 3 stage yakni Ismaya Live, Djarum Super MLD dan panggung Heineken.

"Kalau kita lihat tahun sebelumnya, ke depannya bisa mengalahkan Zouk Out dari jumlah penduduknya kita banyak dan lokasi kita strategis," ujar Edward Kurniadi, Brand Marketing Djarum Super MLD saat berbincang di Aria Cafe, Senayan, Jakarta, Selasa (4/12/2012).

KE EMPAT : Grup vokal B3 turut hadir dalam acara Kardashian Kollection for Dorothy Perkins di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (6/12/2012). Widi, Nola, dan Cynthia Lamusu pun berpose di depan kamera dengan dibalut dress seksi dari Kardashian Kollection.

KE LIMA : Shahrukh Khan (SRK) siap kembali menghibur para penggemar Indonesia di Sentul International Convention Center (SICC) pada Sabtu (8/12/2012). Sebelum konser, penyanyi asal India itu pun menggelar jumpa pers hari ini di Hotel Shangri-La, Jakarta.

KE ENAM : Dan even-even semisalnya yang bertentangan secara nyata dengan syariat Islam dan tidak pernah ada di jaman Nabi SAW, atau di jaman Alkhulafaur rasyidun, maupun di jaman para ulama salaf.

Aneh tapi nyata aqidah kaum Wahhabi ini, terhadap masyarakat yang mengadakan Majelis Dzikir untuk mendekatkan diri kepada Allah, berusaha dibubarkan dengan tuduhan Bid`ah Dhalalah, sedangkan terhadap kelompok yang benar-benar mengadakan even kemaksiatan secara riil, justru dibiarkan bahkan nyaris ‘dipelihara’.

38.
Pengirim: riehul firdaus  - Kota: Sidoarjo
Tanggal: 10/12/2012
 
kentara sekali ingin menunjukkan bw yg pux blog paham ilmu. Itu dibuktikannya dg menjabarkan pendapat Imam Ghazali. Sy tdk ingin menyangkal “keilmuan” dia. Sy cuma komen ringkas sj: “Gak nyambung, sobat!”

rupanya bermaksud menunjukkan salahnya sy dengan cara meminta sy menunjukkan dalil/teks/nash dr Nabi utk sesuatu yang memang tidak ada dalilnya krn mrp “urusan duniamu”. Cara menalar anda ini mrp cara berpikir yang salah! Sy akan tunjukkan “kejedug”-nya logika dia.

Mari qt lihat bentuk representasinya yg lebih sederhana:

“Fani menyatakan bw si Fulan naik sepeda ke sekolah pd hr Senin itu. Rif'at menyatakan bw Fani salah dan bw si Fulan tidak naik sepeda ke sekolah pd hari Senin itu krn Fani tidak bisa memintal kain!”

Itulah cara si Rif'at menalar yg sungguh “post-mo”! Mestinya, yg harus dicermati adalah klaim sy (=Fani) apakah benar si Fulan naik sepeda ke sekolah. Mestinya dia membawa bukti bw pd hari yang dimaksud itu si Fulan naik mobil atau becak!

Jadi bukan dg argumen menggantang asap, yg menurut peribahasa: jauh panggang dr api.

Mestinya yg dia lakukan adl memboyong kesini semua dalil qathi yg pernah sy minta, yang menunjukkan bw Nabi Muhammad melakukan kenduri tahlil 7-40-100-pendak & 1000 hari untuk pamanda Nabi, Hamzah, atau utk para syuhada & sahabat yang sudah wafat.

Itu saja. Tidak dengan mengalihkan isue model politisi keblinger itu.

Tindakan shohibusstatus itu, dlm istilah anak muda sekarang adl: “Joko Sembung makan tomat — Gak nyambung, sobat!”
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Anda inilah figur Wahhabi tukang ngeles yang karena tidak dapat menghadirkan dalil pembagian Bid`ah menjadi dua versi Wahhabi, maka anda berusaha mempengaruhi pembaca lewat retorika yang juga tanpa dalil-dalil syar'i, coba perhatikan komentar anda berikut :

____
kentara sekali ingin menunjukkan bw yg pux blog paham ilmu. Itu dibuktikannya dg menjabarkan pendapat Imam Ghazali. Sy tdk ingin menyangkal “keilmuan” dia. Sy cuma komen ringkas sj: “Gak nyambung, sobat!” dst...
_____

Sebenarnya yg ga nyambung dengan syariat itu anda. sekarang titik poinnya, apakah amalan tahlilan tsb melanggar syariat? Apa yg dilanggar? Apa karena rasul belum melakukannya?

BANYAK PERKARA BARU YANG TIDAK DICONTOHKAN OLEH RASUL

“Abdurrahman bin Abi Laila berkata: “Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, bila seseorang datang terlambat beberapa rakaat mengikuti shalat berjamaah, maka orang-orang yang lebih dulu datang akan memberi isyarat kepadanya tentang rakaat yang telah dijalani, sehingga orang itu akan mengerjakan rakaat yang tertinggal itu terlebih dahulu, kemudian masuk ke dalam shalat berjamaah bersama mereka. Pada suatu hari Mu’adz bin Jabal datang terlambat, lalu orang-orang mengisyaratkan kepadanya tentang jumlah rakaat shalat yang telah dilaksanakan, akan tetapi Mu’adz langsung masuk dalam shalat berjamaah dan tidak menghiraukan isyarat mereka, namun setelah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selesai shalat, maka Mu’adz segera mengganti rakaat yang tertinggal itu. Ternyata setelah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selesai shalat, mereka melaporkan perbuatan Mu’adz bin Jabal yang berbeda dengan kebiasaan mereka. Lalu beliau shallallahu alaihi wa sallam menjawab: “Mu’adz telah memulai cara yang baik buat shalat kalian.” Dalam riwayat Mu’adz bin Jabal, beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda; “Mu’adz telah memulai cara yang baik buat shalat kalian. Begitulah cara shalat yang harus kalian kerjakan”. (HR. al-Imam Ahmad (5/233), Abu Dawud, Ibn Abi Syaibah dan lain-lain. Hadits ini dinilai shahih oleh al-Hafizh Ibn Daqiq al-’Id dan al-Hafizh Ibn Hazm al-Andalusi). Hadits ini menunjukkan bolehnya membuat perkara baru dalam ibadah, seperti shalat atau lainnya, apabila sesuai dengan tuntunan syara’. Dalam hadits ini, Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak menegur Mu’adz dan tidak pula berkata, “Mengapa kamu membuat cara baru dalam shalat sebelum bertanya kepadaku?”, bahkan beliau membenarkannya, karena perbuatan Mu’adz sesuai dengan aturan shalat berjamaah, yaitu makmum harus mengikuti imam. Dalam hadits lain diriwayatkan: “Rifa’ah bin Rafi’ radhiyallahu anhu berkata: “Suatu ketika kami shalat bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ketika beliau bangun dari ruku’, beliau berkata: “sami’allahu liman hamidah”. Lalu seorang laki-laki di belakangnya berkata: “rabbana walakalhamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fih”. Setelah selesai shalat, beliau bertanya: “Siapa yang membaca kalimat tadi?” Laki-laki itu menjawab: “Saya”. Beliau bersabda: “Aku telah melihat lebih 30 malaikat berebutan menulis pahalanya”. (HR. al-Bukhari [799]). Kedua sahabat di atas mengerjakan perkara baru yang belum pernah diterimanya dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, yaitu menambah bacaan dzikir dalam i’tidal. Ternyata Nabi shallallahu alaihi wa sallam membenarkan perbuatan mereka, bahkan memberi kabar gembira tentang pahala yang mereka lakukan, karena perbuatan mereka sesuai dengan syara’, di mana dalam i’tidal itu tempat memuji kepada Allah.

قال صلى الله عليه وآله وسلم: ((ما أحل الله فهو حلال، وما حرَّم فهو حرام، وما سكت عنه فهو عفوٌ، فاقبلوا من الله عافيته، فإن الله لم يكن لينسى شيئاً)) أخرجه البزار والطبراني من حديث أبي الدرداء بسند حسن.
وروى الترمذي وابن ماجة من حديث سلمان رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم: ((الحلال ما أحل الله، والحرام ما حرَّم الله في كتابه، وما سكت عنه فهو مما عفا عنه))، وللحديث طرق أخرى. وهذا كما لا يخفى مؤيد لدليل الأصل وهو الجواز.

Mudah-mudahan anda termasuk yang mampu membaca kitab 'gundul' sesuai sabda Nabi SAW yang asli murni ini (bukan kelas terjemahan) ini agar aqidah anda lebih mantap mengadakan Tahlilan, karena ya inilah salah satu dalil qath'i yang anda minta.


39.
Pengirim: aris  - Kota: prob
Tanggal: 12/12/2012
 
Fadil
(Kota: surabaya )
ustadz Sy mempersoalkan keabsahan kenduri-tahlil itu. Dan, sejauh ini sy belum menemukan alasan sy untuk menggugurkan yang sy persoalkan itu. Skr sy ajak antum bergeser sedikit, bukan pd yang kemarin qt debatkan, tp tentang dampak sosial-ekonominya. Sy mendengar khaul agung Sunan Ampel selama 3 hr 3 malam memakan biaya ratusan juta rupiah. Kenduri-tahlil yg pernah dilakukan di Jawa saja, taruhlah selama 10 tahun terakhir, biayanya scr kolektif berlipat2 dibanding khaul Sunan Ampel itu! Maksudnya “scr kolektif” adl semua pengeluaran utk amalan itu yang dilakukan semua kaum muslimin dijumlahkan jd satu. Jadi termasuk untuk 1000 hr Pakdhe sy ditambah famili antum dtambah siapa saja orang Islam yang melakukannya. Itulah “biaya” yang dikeluarkan oleh kaum muslimin di Indonesia. Qt juga tidak bisa menutup mata thd kisah2 sedih semacam: Si Suta tdk bisa meneruskan sekolah krn 3 ekor sapinya digunakan utk selamatan sampe 1000 hr bapaknya. Si Naya skr jadi TKI krn keluarganya nggak bisa kasih biaya sekolah ... Si Dadap skr ikut famili merantau ke kota krn... dst dst. Lepas dr ketentuan bw “jika orang tidak mampu tetap memaksa diri mengada2kan, mk hal itu haram dilakukan”, toh orang2 teruuus saja melakukan. Semua itu “yg disalahkan” adl “ijtihad” kenduri-tahlil 7-40-100-1000 hari yang sejak berpekan2 sy persoalkan legalitasnya. ustad Itulah problem qt, problem umat Islam. Ini bukan problem NU atau Muhammadiyah. Ini problem umat Islam di Indonesia! Ini problem qt semua!

- belum menemukan alasan sy untuk menggugurkan yang sy persoalkan itu??? Apa yang anda persoalkan???

Terkait dengan sebagian orang yang memaksakan diri dengan mencati hutangan uang untuk acara tahlilan, ini sebenarnya bukan problem tahlilannya. Banyak juga orang yang sampai mencari hutangan untuk kesenangan keluarganya, dan bukan untuk tahlilan.

Dan yang perlu diterangkan, tahlilan itu tidak wajib menyuguhkan makanan mewah kepada penta’ziyah. Seadanya saja untuk menghormati tamu. NU pun tak pernah memberikan standar2 makanan untuk disuguhkan kepada penta’ziyah karena itu sesuai dengan kemampuan dan keinginan mreka sendiri. Suta, Naya, dan Dadap pasti sudah mempunyai pertimbangan, sebaiknya anda klarifikasi terhadap ketiga org tsb. Didaerah saya, jika ada tahlilan maka seadanya saja, bahkan secangkir teh pun cukup.
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Alhamdulillah, hidangan ilmu dari Sdr. Aris ini bisa menambah wawasan untuk kita semua, khususnya untuk Fadil.

40.
Pengirim: ahmad  - Kota: prob
Tanggal: 12/12/2012
 
Saya kira semua argument wahhabi / salafi sudah dipatahkan oleh para komentator. Ngomong sama mereka sepertinya tidak nyambung. Mereka bilang amalan tahlilan itu dilarang karena Rasul tidak melakukan tahlilan, namun disisi lain banyak amaliah para sahabat yg Rasul sendiri tidak juga melakukannya, baik pada saat Rasul masih hidup, maupun setelah Rasul wafat. Makanya untuk kaum wahabi/salafi belajar dulu yang bener. Kalo anda-anda sekalian ini hendak dialog/forum terbuka maka kami siap bertemu secara diamteral dengan anda-anda sekalian. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Ya itulah yang belum banyak mereka pelajari, karena umumnya yang terkena 'Virus Wahhabi' adalah yang kurang aktif mengaji kitab 'gundul' dari para ulama Aswaja, yaa mungkin juga agak kesulitan.

41.
Pengirim: Rif'at  - Kota: Jakarta Utara
Tanggal: 12/12/2012
 
Assalaamu’alaikum,

Terimakasih mas riehul atas logika berpikirnya, tapi saya juga jadi ga nyambung dengan komentar anda. Tapi memang saya akui jika anda jauh lebih cerdas dan pandai daripada saya dengan gaya bahasa anda yang intelek.
Yang pasti begini, mari kita beretika dengan gaya bahasa yang santun, berani menerima kelebihan dan kekurangan, melihat siapa yang diajak berdiskusi dan lain sebagainya. Bolehlah anda seorang yang berpendidikan nan pandai serta kritis dalam menanggapi sebuah tulisan/ artikel, tetapi gaya bahasanya diatur, kata-katanya yang baik dan sekiranya sopan, kan enak nantinya yang diajak diskusi.
Yang jawab nya saja sudah baik sekali dengan nash yang jelas, jangan dibalas dengan gaya bahasa yang kurang cakap begitu mas. Coba dijawab dulu pertanyaan Ustd Luthfi yang diminta, apa yang bisa anda tulis?
Saya merasa tertarik menulis disini ketika kalimat anda menyinggung atau mungkin meremehkan tentang kyai, ulama dan usatadz kami. Mohon tidak mengulanginya lagi. Mohon maaf, ya beginilah memang orang yang mempunyai pemikiran-pemikiran seperti anda, ga pernah ngaji, baru baca tekstual tentang agama dengan kemampuan sendiri, langsung deh yang lain dianggap salah.
Mohon maaf lagi, anda kan di sidoarjo berarti orang jawatimur ya?. Setahu saya jawa itu punya etika/ sopan santun yang bagus dalam berbicara dan sebagainya, tapi kenapa anda tidak ya? Mohon direnungkan kalimat ini “ Sesungguhnya rasul itu diutus untuk menyempurnakan ahlaq yang mulia” bukan begitu Ammy? (mohon dikoreksi jika salah ammy). Jadi tanda tanya besar buat Riehul Firdaus? “Warning”
Maturnuwuun.

Wassalaamualaikum,
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Artikel yang kami posting, adalah untuk penguat bagi aqidah warga Aswaja, yang selalu dijadikan 'pesakitan' dari kelompok non Aswaja. Mereka menuduh, seakan-akan semua amalan warga Aswaja itu sudah divonis sesat, maka tatkala kami menerangkan satu persatu dalil mu`tabarah bagi amalan Aswaja, tiba-tiba saja non Aswaja merasa terusik, kebakaran jenggot dan 'marah-marah'. Anehnya jika kami minta kepada mereka untuk menghadirkan dalil qath`i sebagai pembenaran terhadap apa yang mereka tuduhkan/dakwahkan, maka tidak satupun kalangan non Aswaja yang mampu menghadirkannya, yaa begitulah watak kaum Wahhabi selama ini. Ayoo baca artikel kami: ANZUN WALAU THAARAT.

42.
Pengirim: assiddiqqi  - Kota: jepara
Tanggal: 22/1/2013
 
terus berjuang ustadz..jelas sekali orang2 anti tradisi karena mereka2 di majlis tidak pernah banyak belajar pemahaman Al qyran dan hadist..mereka hanya membahas masalah2 itu2 ja(seperti katak dalam tempurung),mereka susah sekali sadar ustadz karena mereka banyak melupakan guru, lebih memilih guru buku(padahal belajar tanpa guru yang jelas disitu adalah setan),mereka jarang berdzikir maka dari itu wahabi hanya mempunyai iman sampai kerongkongan(hatinya keras, pendek akal, tidak luman, raja tega, sombong, tidak mempunyai taklim ke orang yang lebih tua, suka merendahkan sesama muslim, dan pembuat perpecahan) ini semua merupakan sifat setan...terus berjuang ustadz mereka (wahabi, ldii, jil) sebetulnya bodoh cuma yang ditahu hanya hadist masalh bidah saja hukum yang lain wahabi hanya suka nebak2 saja..terus berjuang ustadz sampai akhir jaman
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Semoga Allah memberi hidayah mereka.

43.
Pengirim: temonsoejadi  - Kota: kota para wali
Tanggal: 2/2/2013
 
alhamdulillah
semoga bermanfaat. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Amiiin.

44.
Pengirim: Saleem  - Kota:
Tanggal: 29/3/2013
 
Orang yang belajar tanpa ada guru yang membimbingnya,maka yang menjadi gurunya adalah Saytan. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Benar, jaman sekarang banyak orang yg mendakwahkan diri menjadi mujtahid yg berani mengambil dalil langsung dari Alquran & Hadits dg pemahaman dari dirinya sendiri tanpa guru yg membimbing, makanya banyak timbul aliran sesat dimana-mana.

45.
Pengirim: ummatin  - Kota: lamongan
Tanggal: 1/5/2013
 
alhamdulillah trima kasih ustadz,, skarang jd tau, dan juga dapat bahan buat karya ilmiyah.... :-) 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Alhmdulillah. Mudah2an bermanfaat.

46.
Pengirim: agus_qays@yahoo.com  - Kota: taramma
Tanggal: 9/8/2013
 
Dari uraian di atas kok masih belu saya temui syarat di bolehkanya tahlilan 3.7.40 dst, walau saya masih cetek ilmu tapi kok masih belum meyakinkan kalimat pengartian dari perintah atau ajaran tahlil, , sepertinya mengada ada,dan mengkait kaitkan,,, palagi kisah wali indonesia itu jaman di sekolah diajarkan para wali masih mencampur agama ialam dan hindu agar bisa berjalan dulu aga ajaran ini 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kasihan anda yang masih cetek ilmunya, jadi cetek pula pemahamannya terhadap agama, apalagi kalau kurang rajin membaca artikel-artikel kami yang terkait beserta komentar-komentarnya di Situs ini. Hingga sudah sekian kali kami sampaikan, tapi anda masih saja belum paham-paham. Nah, berikut kami copaskan artikel lain yang terkait dari googlel, sekedar untuk mengajari anda agar anda banyak membaca ajaran agama ini dari sumber Non Wahhabi juga:
Tahlil 7 Hari
Ade Humaidi
Kebiasaan mengadakan haul yang intinya hendak mengirim hadiah bacaan-bacaan al-Qur’an, tahlil, dan doa-doa kepada si mayit dengan disesuaikan pada hitungan hari-hari tertentu mengandung dua substansi permasalahan.
Pertama, sampai tidaknya pahala yang dihadiahkan kepada almarhum.
Kedua, menepatkan acara pada hitungan hari-hari tertentu, misal ke-7, ke-40, ke-100, ke-1000, dan mengulang tiap tahunnya, apakah seperti ini bid’ah?
Jawaban permasalahan pertama, sampai tidaknya pahala yang dikirim kepada si mayit, sebagian besar ulama keempat mazhab (Malikiyah, Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Hanbaliyah) berpendapat sampai pahalanya bacaan-bacaan baik al-Qur’an, tahlil, dan doa-doa lainnya. Bahkan amal apa saja yang baik dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt, seperti bersedekah, infaq, dll, bila diniati ganjarannya untuk orang yang telah meninggal, ganjaran itu akan sampai dan bermanfaat buat si mayit.
Pendapat-pendapat itu didasarkan pada ayat-ayat dan hadis:
1. Ayat ke 10 surat al-Hasyr.
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”
2. Ayat ke 19 surat Muhammad.
” Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal”
3. Hadis “idzaa maata al-insaan inqatha’a ‘amaluhu illa min tsalaatsin, shadaqatin jaariyatin au ‘ilmin untafa’u bihii au waladin shaalihin yad’uu lahu”
(Kematian seseorang menyebabkan terputusnya segala amal perbuatannya [tidak ada pengaruhnya pada dia] kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang saleh yang mendoakannya) [HR. Muslim].
4. Hadis “man zaara qabra waalidaihi faqara’a ‘indahu –au ‘indahumaa– yaasiin ghufira lahu” (Barang siapa menziarahi qubur kedua orang tuanya, lantas membacakan untuk keduanya surat Yasin, maka terampuni kedua orang tuanya” [HR. Ibnu 'Addiy].
5. Hadis kisah seseorang yang tanya kepada Nabi :
“kaana lii abawaani ubirruhumaa haala hayaatihimaa, fakaifa lii ubirruhumaa ba’da mautihimaa?”
(Saat kedua orang tuaku masih hidup saya selalu memuliakannya, lantas bagaimana saya bisa berbuat baik/memulyakannya setelah wafatnya?).
Dijawab oleh Nabi:
“inna al-birr ba’da al-maut an tushalliya lahumaa ma’a shalaatika wa tashuuma lahumaa ma’a shiyaamika.”
([Kamu bisa] memulyakannya dengan menghadiahkan pahala salat-salatmu dan pahala puasa-puasamu) [HR. al-Daaruquthniy].
6. Hadis “iqra’uu ‘alaa mautaakum yaasiin” (Bacakanlah untuk ahli qubur kalian surat Yasin” [HR. Abu Dawud].
Jawaban permasalahan yang kedua, soal waktu, yakni kenapa ditepatkan pada hari ke-7, ke-40, dstnya.
Pertama-tama, mari kita bahas terlebih dahulu “apa itu bid’ah” secara istilah (terminologi). Definisi bid’ah yang paling terkenal di kalangan ulama adalah yang diberikan oleh Imam al-Syatibiy, yaitu “suatu tata cara di dalam agama yang diciptakan untuk menandingi (tata cara beribadah yang sesuai) syari’ah.
Kemudian untuk mengetahui dan menguji apakah tahlil pada hari-hari ke-7, ke-40, dstnya termasuk bid’ah atau tidak, kita masukkan permasalahan tersebut dalam rumus diatas lewat pertanyaan berikut:
1. Apakah perbuatan menyesuaikan acara pengiriman bacaan Qur’an, tahlil, doa, dan lain-lain dengan hitungan hari tertentu itu termasuk rangkaian ibadah tahlil?
2. Apakah penentuan hari ke-7, ke-40, ke-100 dstnya hanya sekedar kebiasaan saja dan bukan termasuk rangkaian ritual tahlil itu sendiri?
3. Adakah keyakinan bahwa acara tahlil itu harus dilakukan tepat pada hari-hari ke-7, ke-40, ke-100, dstnya (seperti menyembelih hewan kurban harus pada tanggal 10/11/12/13 bulan Dzulhijjah) sehingga seandainya dilakukan diluar hari-hari itu tahlil menjadi tidak sah dan pahalanya tidak sampai?
Sepanjang pengetahuan kami penentuan pelaksanaan tahlil pada hitungan hari-hari tertentu itu bukanlah bagian yang tidak terpisahkan dari ritual tahlil itu sendiri. Itu hanya berdasar kebiasaan saja (adat bukan ibadat) dan bukan bagian intern dari ibadah pengiriman pahala bacaan dan doa, sehingga seandainya dilaksanakan di luar hari-hari itu tetap sah dan biasa-biasa saja.
Orang-orang yang tahu tetap berpendirian bahwa tindakan menyesuaikan acara tahlil pada hari-hari tertentu itu tidak merupakan bagian atau suatu bentuk ibadah. Karena yang dimaksud ibadah disitu adalah tahlil itu sendiri. Jika demikian, maka tindakan menyesuaikan hari untuk acara tahlil itu tentu tidak bisa dianggap sebagai bid’ah.


47.
Pengirim: eliza finansih  - Kota: palembang
Tanggal: 31/8/2013
 
subhanallah, islam itu indah, dan saya setuju dakwah itu jauh lebih adem dengan cara kontektual bukan tektual saja. dalm islam memahami jangan terlalu dangkal,,, perlu ilmu,, barokallah ustad. syukron 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Semoga bermanfaat.

48.
Pengirim: Yayat hidayat  - Kota: Surabaya
Tanggal: 19/11/2013
 
Uraian ini sangat bermanfaat bagi kalangan nahdiyin, karena kondisi saat ini masih banyak jamaah kalangan nahdiyin jika di tanya dalil Tahlil aja mereka kelabakan, seharusnya dalam pengajian pengajian kalangan nahdiyin selalu di perbanyak uraian tentang ubudiyahnya kalangan nahdiyin dg dalil -dalinya ok syukron.....
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Semoga bermanfaat untuk umat.

49.
Pengirim: Dani 4ja  - Kota: pelaihari
Tanggal: 27/2/2014
 
Selaku orang awam, dan sebagai warga nahdhiyyin, saya sangat senang dengan adanya situs ini karena banyak memberikan pencerahan kepada umat islam, menampilkan dalil2 yang mudah dipahami, dan menyikapi perbedaan2 pendapat dengan tepat. Bahkan perbedaan2 pendapat inilah yang menjadi dayak tarik saya untuk sedikit berkomentar bahwa:
1. Yang bisa menilai secara jujur tentang kebenaran sesuatu adalah hati.
2. Hati ini hanya akan tentram dengan kebenaran2 dan akan gelisah karena suatu kesalahan.
3. Hati jualah yang tahu golongan mana yang membuat tentram umat islam selama ini, dan golongan mana yang membuat resah umat islam akhir2 ini.
Hanya itu komentar saya.
Semoga situs ini dan pengelolanya mendapat Ridho dan ma'unah dari ALLAH SWT. Aamiin..
Terimakasih. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Amiin ya rabbal alamiin

50.
Pengirim: seppudin hidayat  - Kota: kemranjen
Tanggal: 27/5/2014
 
janganlah kita sekali-sekali mengucapkan tahlil itu bidngah
karena rosulullah saw bersabda"do'akan lah orang-orang yang telah mendahului kita yaitu telah meninggal dunia dengan cara mendo'akan beliau"
:-)
:-)
:-) 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Alhamdulillah.. Aswaja harus bangkit melawan Wahhabi

51.
Pengirim: hmjn wan  - Kota: Surabaya
Tanggal: 25/8/2014
 
Ass. Wr. Wb.
Dengan mempertajam perbedaan, tak ubahnya seseorang yang suka menembak burung di dalam sangkar. Padahal terhadap Al-Qur’an sendiri memang terjadi perbedaan pendapat. Oleh sebab itu, apabila setiap perbedaan itu selalu dipertentangkan, yang diuntungkan tentu pihak ketiga. Atau mereka sengaja mengipasi ? Bukankah menjadi semboyan mereka, akan merayakan perbedaan ?
Kalau perbedaan itu memang kesukaan Anda, salurkan saja ke pedalaman kepulauan nusantara. Disana masih banyak burung liar beterbangan. Jangan mereka yang telah memeluk Islam dicekoki khilafiyah furu’iyah. Bahkan kalau mungkin, mereka yang telah beragama tetapi di luar umat Muslimin, diyakinkan bahwa Islam adalah agama yang benar.
Ingat, dari 87 % Islam di Indonesia, 37 % nya Islam KTP, 50 % penganut Islam sungguhan. Dari 50 % itu, 20 % tidak shalat, 20 % kadang-kadang shalat dan hanya 10 % pelaksana shalat. Apabila dari yang hanya 10 % yang shalat itu dihojat Anda dengan perbedaan, sehingga menyebabkan ragu-ragu dalam beragama yang mengakibatkan 9 % meninggalkan shalat, berarti ummat Islam Indonesia hanya tinggal 1 %. Terhadap angka itu Anda ikut berperan, dan harus dipertanggung jawabkan kepada Allah SWT. Astaghfirullah.
Wass. Wr. Wb.
hmjn wan@gmail.com
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM

ASLI MUSLIM INDONESIA PRODUK SUNNI SYAFI`I
Penulis: H. Luthfi Bashori [ 8/3/2009 ]
ShareThis Facebook Tweet LinkedIn Email

Dalam panduan buku sejarah yang dipelajari di sekolah-sekolah negeri diterangkan, bahwa masuknya Islam ke Indonesia itu dibawa oleh para pedagang dari Gaujarat India. Sebenarnya, mereka adalah para ulama yang datang ke Indonesia untuk berdakwah secara murni. Namun karena melihat sektor perdagangan lebih memungkinkan untuk dijadikan batu loncatan dalam mengenal kultur masyarakat, maka dari sektor inilah para ulama asal Gaujarat tersebut memulai langkah dakwahnya.

Jika ditarik garis ke atas dari segi nasab, ternyata para ulama asal Gaujarat yang dimaksudkan adalah keturunan dari bangsa Arab yang hidup di negeri Yaman, tepatnya dari daerah Hadramaut. Umat Islam di daerah Hadramaut ini mayoritas bermadzhab Sunni Syafi`i (beraqidah Ahlussunnah wal Jama`ah dan beribadah menggunakan tatacara madzhab Syafi`i).
Bermula dari para ulama asal Hadramaut, mereka menyebarkan agama Islam ke wilayah Asia lewat sektor perdagangan. Pada akhirnya mereka masuk ke negeri India. Umumnya para ulama asal Hadramaut ini datang tanpa disertai keluarga, hingga akhirnya mereka melaksanakan pernikahan asimilasi dengan para wanita setempat, dan melahirkan para ulama dari pernikahan campur berdarah Arab-Gaujarat. Islam pun berkembang di Gaujarat dengan nuansa madzhab Sunni-Syafi`i. Pada era berikutnya para ulama dari keturunan asimilasi Arab-Gaujarat inilah yang membawa Islam ke Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Karena masuknya Islam ke Indonesia juga dibawa para ulama asal Arab-Gaujarat, dan diperkenalkan kepada masyarakat melewati sektor perdagangan, serta pernikahan asimilasi dengan wanita Indonesia, maka Islam asli Indonesia pun bermadzhab Sunni Syafi`i. Demikian ini selaras dengan Islam yang ada di Hadramaut Yaman sebagai induk utama. Bukti riil yang tidak bisa dipungkiri, adalah masih banyak penduduk Indonesia hingga saat ini yang beretnis Arab, namun lebih dominan menggunakan bahasa Indonesia. Mereka pun masih memiliki datuk-datuk yang berada di Hadramaut.
Etnis Arab yang berada di Indonesia sering disebut dengan istilah kalangan Habaib dan Masyayekh. Atau dalam kontek ini lebih tepat disebut sebagai warga Arab-Indonesia. Demikian ini, karena mereka memiliki silsilah nasab atau garis keturunan dari pihak ayah yang bersambung kepada kakek moyangnya di Hadramaut, tetapi perilaku, adat, serta bahasa mereka lebih dominan Indonesia. Bahkan tidak jarang di kalangan warga Arab-Indonesia yang hanya bisa berbahasa Indonesia, dan meninggalkan bahasa kakek moyangnya. Menurut sejarah, bahwa Wali Songo termasuk warga Arab-Indonesia keturunan Hadramaut, karena itu dakwah yang disampaikan oleh Wali Songo berafiliasi kepada madzhab Sunni Syafi`i.

Di awal-awal agama Islam dianut oleh bangsa Indonesia, maka seluruh umat Islam yang pada akhirnya menjadi penduduk mayoritas negara ini berwarna satu yaitu bermadzhab Sunni Syafi`i. Karena menganut satu madzhab, maka tidak banyak terjadi permasalahan di dalam tubuh umat Islam di negeri tercinta Indonesia. Mereka menyatu dalam persatuan yang kompak, saling bahu membahu membentuk karakter bangsa Indonesia. Demikianlah, hingga datang Belanda yang berusaha menjajah bangsa Indonesia dari segala sektor termasuk pada bidang keagamaan.

Karena pengaruh penjajah Belanda yang sengaja berusaha memecah belah umat Islam, mulailah bermunculan beberapa perbedaan pendapat di antara tokoh-tokoh Islam. Bahkan perbedaan tersebut berpengaruh pula di kalangan awam umat Islam. Lebih parah lagi, di saat penjajah Belanda telah pulang ke negara asalnya, mereka menyisakan warisan perpecaha di kalangan umat Islam, dengan bermunculannya aliran demi aliran yang menyebar di kalangan umat Islam di luar kontek Sunni Syafi`i.
Bahkan tidak jarang aliran yang baru bermunculan, tiba-tiba berusaha menafikan eksistensi madzhab Sunni Syafi`i, dalam menjalankan amaliyah sehari-hari bagi individu setiap muslim, amaliyah keluarga muslim, keyakinan masyarakat muslim, bahkan tatacara mengatur kehidupan bernegara sebaris dengan ajaran syariat Islam dalam koridor Sunni Syafi’i.
Namun berkat rahmat dan pertolongan Allah, mayoritas umat Islam Indonesia hingga kini tetap bermadzhab Sunny Syafi`i, bahkan tetap mendominasi kependudukan di negeri ini. Maka sudah sewajarnya jika para pelaku roda pemerintahan dewasa ini, menjadikan madzhab Sunni Syafi`i sebagai madzhab resmi bangsa Indonesia. Dengan tujuan agar kesatuan dan kebersatuan umat dapat terwujud kembali seperti di saat awal bangsa Indonesia memeluk agama Islam.

- See more at: http://www.pejuangislam.com/main.php?prm=karya&var=detail&id=11#sthash.Lz84Aot4.dpuf

 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2014 Oleh Pejuang Islam