URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV ONLINE
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
MENJELANG MUNCUNYA DAJJAL 
  Penulis: Pejuang Islam  [7/11/2019]
   
NIHIL ILMU AGAMA, MENGURUSI AGAMA 
  Penulis: Pejuang Islam  [4/11/2019]
   
AKHLAK TERBAIK ORANG MUKMIN 
  Penulis: Pejuang Islam  [3/11/2019]
   
RUWAIBIDHAH, AWAM YANG BERBICARA AGAMA 
  Penulis: Pejuang Islam  [2/11/2019]
   
BERUSAHA LANTAS BERTAWAKAL  
  Penulis: Pejuang Islam  [31/10/2019]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Minggu, 17 November 2019
Pukul:  
Online Sekarang: 5 users
Total Hari Ini: 204 users
Total Pengunjung: 4679318 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
IKUT TAHLILAN YOOK ... ! 
Penulis: Pejuang Islam [ 8/10/2010 ]
 
IKUT TAHLILAN YOOK ... !

Luthfi Bashori

Asli kata Tahlilan adalah bacaan tahlil atau membaca Laa ilaaha illallah. Barangsiapa yang mengharamkan orang membaca tahlil dalam konteks ini, bisa-bisa menjadi murtad, keluar dari agama Islam.

Sedangkan tahlilan dalam pengertian umum adalah, sekelompok orang yang membaca kumpulan doa, berupa bacaan surat Alfatihah, surat Yaasiin, surat Al-ikhlas, Alfalaq, Annaas, lafadz tasbih (subhanallah), lafadz hamdalah (alhamdulillah), lafadz hauqalah (laa haula walaa quwwata illaa billah), bacaan istighfar, shalawat kepada Nabi SAW, dan doa maupun dzikir lainnya, kemudian tak jarang pula dirangkai dengan kegiatan majlis ta`lim, serta mengamalkan hadits ith`aamut tha`aam (bershadaqah makanan) kepada orang yang dikenal maupun yang belum dikenal.

Kalau demikian, siapa gerangan yang berani melarang orang-orang yang mengadakan tahlilan ? Kiranya hanya golongan kaum fasiq sajalah yang berani mengharamkan umat Islam untuk melaksanakan tahlilan.

* Tidak beriman kepada Allah orang yang berani mengharamkan bacaan surat Alfatihah.
* Tidak beriman kepada Allah orang yang berani mengharamkan
bacaan surat Yaasiin, surat Al-ikhlas, surat Alfalaq dan surat Annaas.
* Tidak beriman kepada Allah orang yang berani mengharamkan bacaan tasbih (subhanallah).
* Tidak beriman kepada Allah orang yang berani mengharamkan
bacaan hauqalah (la haula wala quwwata illa billah)
* Tidak beriman kepada Allah orang yang berani mengharamkan
bacaan shalawat kepada Nabi SAW.
* Tidak beriman kepada Allah orang yang berani mengharamkan
shadaqah memberi makan tamu baik yang dikenal maupun yang belum dikenal.
* Tidak beriman kepada Allah orang yang berani mengharamkan
pelaksanaan majlis ta`lim.

Jadi, tidak beriman kepada Allah orang yang berani mengharamkan TAHLILAN, karena tahlilan adalah membaca kalimat-kalimat thayyibah yang seluruh komponen isinya adalah kumpulan doa, dzikir, shalawat, shadaqah dan belajar ilmu agama, yang semuanya itu adalah perintah Allah dan Rasul-Nya.

Di sisi lain, Allah berfirman dalam surat Alhasyr/10, yang artinya : Dan orang-orang yang datang (hidup) sesudah mereka (kaum Muhajirin da Anshar), mereka (para tabi`in dan para generasi sesudahnya) berdoa, Wahai Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami (kalangan para shahabat baik yang masih hidup maupun yang telah wafat) yang telah beriman terlebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.

Ayat ini menerangkan bahwa orang yang telah wafat, semisal kalangan para shahabat, dapat mengambil manfaat bacaan doa dan istighfar dari doa orang-orang yang masih hidup baik dari kalangan para tabi`in maupun dari umat Islam dewasa ini.

Bahkan ayat ini adalah bukti kongkrit dan dalil yang nyata, tentang bolehnya membaca istighfar yang diperuntukkan bagi para mayyit yang telah mendahului.

Mendoakan orang lain baik yang masih terikat hubungan kerabat, seperti doa orangtua untuk anaknya, atau doa anak untuk orangtuanya, maupun yang tidak terikat hubungan kerabat, sangatlah dianjurkan oleh Allah, bahkan para Nabi pun selalu mendoakan umatnya, dan tidak membatasi khusus yang masih hidup saja, tetapi untuk seluruh umatnya baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat, baik yang terikat hubungan kerabat maupun orang lain dalam hubungan nasab.

Doa Nabi Nuh AS : Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, dan orang-orang yang masuk ke rumahku dengan beriman, serta orang-orang lelaki dan perempuan yang beriman. Janganlah engkau tambahkan bagi orang-orang yang dzalim itu kecuali kebinasaan. (QS. Annuh 28)

Doa Nabi Ibrahim AS : Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku, orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua orangtuaku, serta seluruh orang-orang mukmin pada hari perhitungan nanti.

Wah, berarti Nabi Nuh AS dan Nabi Ibrahim AS melegalitas tahlilan, karena subtansinya sama, yaitu sama-sama mendoakan orang lain, baik untuk yang masih hidup maupun yang sudah wafat, bahkan yang belum lahir sekalipun, selagi beriman kepada Allah maka akan mendapatkan manfaat dari doanya beliau berdua, `alaihimas salaam.

Demilian juga tujuan umat Islam mengadakan tahlilan, adalah untuk memohonkan ampunan dan mendoakan kebaikan bagi kerabatnya yang telah wafat mendahului mereka, serta membaca doa untuk para hadirin yang masih hidup, dan diamini bersama-sama secara kompak.

Dari Abu Hurairah RA, beliau mendengarkan Nabi SAW bersabda : Jika kalian menyalati mayyit, maka doakanlah mayyit itu dengan penuh ikhlas. (HR. Attirmidzi).

Imam Muslim dalam kitab hadits shahihnya (1618), meriwayatkan dari Sayyidah `Aisyah RA, beliau menceritakan :

Sesungguhnya Rasulullah SAW keluar ke makam Baqi` pada akhir malam di saat giliran menginap di rumahnya. Kemudian Rasulullah SAW mengucapkan : Assalamu `alaikum, semoga keselamatan tetap atas kalian semua, Wahai penghuni tanah makam kaum muslimin, pasti akan datang janji (Allah) untuk kalian sekalipun diakhirkan, dan insyaallah kami akan menyusul kalian semua. Ya Allah, berilah ampunan bagi Ahli Baqi` Algharqad.

Lihatlah Nabi SAW juga mendoakan para mayyit penghuni makam Baqi`, sama dengan umat Islam yang mengadakan tahlilan untuk mendoakan para mayyit yang telah mendahului wafat.

Imam Bukhari pun tak mau kalah meriwayatkan hadits bernomer 2563, tentang pentingnya bershadaqah yang pahalanya dapat dikirimkan untuk mayyit :

Dari Ibnu Abbas RA, ada seorang lelaki bertanya kepada Nabi SAW :
Wahai Rasulullah SAW, ibu saya telah meninggal dunia, apakah beliau akan mendapatkan kemanfaatan jika saya bershadaqah untuknya ? Nabi SAW menjawab : Ya ...! Orang itu mengatakan : Saya mempunyai kebun, maka saya mohon kepadamu Wahai Rasulullah, untuk menjadi saksi, bahwa sekarang saya menyadaqahkan kebun ini atas nama ibu saya ...!

Dalam kegiatan Tahlilan juga diajarkan shadaqah makanan kepada para tamu, dan pahalanya diperuntukkan untuk mayyit yang ditahlili.

Sebuah ilustrasi : Ada seorang muslim yang menyembeleh ayam dengan mengucapkan bismillahir rahmanir rahim dan disaksikan oleh seorang ustadz. Setelah ayam dimasak lantas disuguhkan kepada sang ustadz, dan beliaupun ditanya : Apa hukumnya daging ayam yang disuguhkan kepadanya itu?

Sang Ustadz yang terkenal cermat itupun menjawab : Hukumnya sih, bisa halal bisa haram.

Tentu saja si penyembeleh menjadi penasaran atas jawabannya : Kok bisa Ustadz ?

Sang Ustadz menimpali : Jika ayam ini asli hak milikmu, dan tadi saat kamu menyembelehnya sudah sesuai dengan tuntunan syariat, maka hukumnya halal, bahkan halalan thayyiban. Tapi, jika ayam ini adalah hasil curian, maka bagaimanapun caramu menyembeleh, yaa tetap saja haram.

Si penyembelehpun manggut-manggut tanda setuju, dan semakin tahu bagaimana tata cara memberlakukan suatu hukum halal dan haram dalam kehidupan sehari-hari, berkat pelajaran singkat dari sang Ustadz. Alangkah bahagianya si penyembeleh itu mempunyai seorang Ustadz yang begitu arif dan bijak, serta penuh kehati-hatian.

Demikian juga tentunya dalam pelaksanaan Tahlilan, maka hukum Tahlilan bisa menjadi haram, jika dalam pelaksanaannya itu bertentangan dengan syariat Islam, misalnya acara Tahlilannya didahului dengan undian togel, sedangkan suguhan minumannya terdiri dari bir arak yang memabukkan, kemudian doa dan dzikirnya diganti lagu dangdut dan tari jaipong, dan biaya konsumsi suguhannya diambil dari harta warisan si mayyit yang belum dibagikan kepada ahli warisnya. Tentu saja Tahlilan semacam ini hukumnya adalah Bid`ah Dhalalah, yang sangat sesat, haram, haram dan haram yang tidak dapat ditolelir.

Tapi, melaksanakan Tahlilan, kirim pahala untuk si mayyit yang jauh dari kemaksiatan, bahkan penuh dengan nilai ibadah kepada Allah, semisal semua yang dibaca dalam acara Tahlilan mencakup surat Alquran, Shalawat kepada Nabi SAW, bacaan tahlil, tasbih, tahmid, hauqalah, hamdalah, istighfar, shadaqah makanan dengan harta yang halal, karena hak milik sendiri si tuan rumah, lebih-lebih berasal dari shadaqah para sanak famili dan tetangga secara ikhlas, bukan diambil dari harta warisan si mayyit yang belum dibagi kepada ahli warisnya, serta ditutup dengan mengadakan kajian ilmiah majlis ta`lim, maka acara Tahlilan yang sudah ditradisikan oleh warga Ahlus sunnah wal jamaah ini, hukumnya adalah : HALALAN THAYYIBAN, BOLEH, BAIK, BAHKAN SUNNAH, karena bertujuan mengamalkan ayat-ayat suci Alquran dan Hadits-hadits shahih.

Maka, jika ada kaum Wahhabi yang mengharamkan Tahlilan dan menghukuminya sebagai amalan yang Bid`ah Dhalalah dan sesat, itu hanyalah karena `kekuperan` mereka dalam memahami apa subtansi Tahlilan yang sebenarnya, dan yang jelas karena kesempitan dan kedangkalan mereka semata dalam memahami ayat-ayat Alquran dan Hadits-hadits shahih.

Padahal masih banyak dalil-dalil Alquran dan hadits-hadits selain yang tertera di atas. Jika diulas, semuanya menunjukkan dalil kebolehan bahkan kesunnahan umat Islam mengadakan acara Tahlilan untuk mengenang kebaikan para mayyit serta mengirim pahala doa bagi mereka.

Namun karena keterbatasan media, maka cuplikan di atas sudah dianggap cukup mewakili yang lainnya.

Jadi, hakikatnya bukan karena hukum Tahlilan itu termasuk dalam rana khilafiyah antar para ulama salaf. Apalagi menurut Imam Thawus, bahwa kegiatan Tahlilan dan kirim doa kepada mayyit ini sudah diamalkan oleh para shahabat dan diabadikan oleh para tabi`in serta para ulama salaf Ahlus sunnah wal jamaah, bahkan hingga kini lestari di kalangan umat Islam mayoritas.
   
 Isikan Komentar Anda
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
 
 
1.
Pengirim: husniyah  - Kota: cepu,jatim
Tanggal: 3/9/2010
 
mau ngopi ini ke fb gmn ya?
saya seneng sekali dpt penjelasan ini,
dr dl ini sgt di perdebatkan,
bny yg ini bid'ah krn nabi tdk melaksanakan tahlil,
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kami persilahkan, selagi bermanfaat untuk umat Islam.

2.
Pengirim: Warok Jogorogo XV  - Kota: Jakarta
Tanggal: 8/9/2010
 
Subhanalloh walaillaha ilallohu Allohu akbar... Sebagai warga NU saya sangat-sangat bangga dng Ustadz, ya seperti inilah seharusnya Ulama-ulama NU. Terus terang makin hari makin susah menemukan Ulama NU yg sangat NU, istiqomah dng Aswaja, mempertahankan tradisi NU yg Islami, anti wahabi dan yg tak kalah pentingnya adlah anti liberalisme. Khusus liberalisme sungguh sangat memprihatinkan krn sudah menikam NU terlalu dalam. JIL yg dimotori anak2 muda alumni universitas2 di amerika sangat2 bernafsu menguasai NU.. Klo sudah bisa menguasai mereka akan berbuat apa saja ! Dng saya berkunjung ke web ini saya seperti menemukan secercah harapan akan masa depan NU kita Ustadz.. Semoga orang2 seperti Ustadz ini bisa membersihkan NU dari Liberalisme (JIL).. amin ya mujibathissyailin.. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Mohon doa dan kunjungan secara istiqomah, agar web ini terus dapat bertahan. Amiin.

3.
Pengirim: heru  - Kota: jakarta
Tanggal: 21/9/2010
 
shahih, insya Allah...  
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Alhamdulillah.

4.
Pengirim: Ipoeng  - Kota: Surabaya
Tanggal: 24/9/2010
 
Luar biasa ...
Sangat jelas pencerahannya ...
Mo tanya Ustadz,
Sebenarnya siapakah pencetus pertama kalinya acara "tahlilan" ini ...

Terimakasih , 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Mohon maaf, tidak semua pertanyaan kami bisa menjawabnya. Mudah-mudahan akhi dapatkan jawabannya dari sumber lain. Yang jelas ajaran Islam asli Indonesia itu bermadzhab Sunni Syafi'i yang dibawah oleh Walisongo. Jadi, untuk kegiatan Tahlilan versi Indonesia tentu adalah hasil didikan para Walisongo.

5.
Pengirim: belajar_islam  - Kota: malang
Tanggal: 29/9/2010
 
maaf saya ingin belajar.... ada yang bilang bahwa yang tidak boleh bukanlah bacaan ayat2 sucinya, tapi cara melakukannya...
misalnya itu dilakukan sendiri-sendiri di rumah maka itu boleh dan insyaAlloh berpahala... bagaimana ustadz... saya jadi bingung....? 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Tanyakan dulu kepada kaum Wahhabi, apa benar yang ditentang itu cuma MRTODE/CARA MELAKUKANNYA ? Jika benar seperti itu, berarti betapa banyaknya Kaum Wahhabi mengamalkan BID'AH itu sendiri, jika mengikuti definisi BID'AH menurut Wahhabi, yaitu melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi SAW adalah Bid'ah dhalalah/sesat (termasuk METODE/CARA, bukan subtansi amalannya). Coba perhatikan,pernahkan Nabi SAW berdakwah dengan METODE penyebaran bulletin, metode internetisasi, siaan radio? Atau pernahkah Nabi SAW menjalani hidup maupun berdakwah dengan metode naik mobil, memperkeras suara dalam menyampaikan dakwah dengan metode sound syistem, metode makan dengan sendok, metode berumah tangga dengan mencari hiburan bersama keluarga melihat TV, metode komunikasi dengan umatnya dengan menggunakan telpun/HP. Masih banyak lagi jika ditulis, termasuk berdakwah dengan metode mendirikan Ormas NU, Muhammadiyah, Al-irsyad, PERSIS, Salafi Indonesia, berbagai nama perkumpulan yang ada di kalangan umat Islam saat ini dengan almamaternya masing-masing. Wah, terlalu banyak amalan umat Islam, mulai dari cara sandang papan pangan, bahkan beribadah sunnah. Nabi SAW tidak pernah melaksanakan shalat taraweh sebulan suntuk dibulan Ramdhan, dan merekam bacaan surat sang imam taraweh menjadi kasset untuk berdakwah, bahkan amalan tokoh-tokoh Wahhabi Saudi Arabiyah yang mengadakan jamaah shalat Tahajjud sebulan suntuk di bulan Ramadhan juga jelas-Jelas BID'AH karena tidak pernah diamalkan oleh Nabi SAW juga para Shahabat. Dsb?

6.
Pengirim: fuad  - Kota: kediri
Tanggal: 30/9/2010
 
alhamdulillah...saya hamba Alloh dan Umat Rosullulloh yang masih menuntut ilmu... mantap pak Ustadz dalilnya... subhanalloh...  
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Mudah-mudahan manfaat untuk umat Islam

7.
Pengirim: fahry  - Kota: Palu
Tanggal: 1/10/2010
 
Alhamdulillah, Dapet ilmu lagi tentang pemehaman Tahlilan yang menurut kaum Wahabi bid'ah. Ternyata semua tdk betul dari mereka (kaum Wahabi).Amin Ya ALLOH diberi kefahaman Ilmu. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Mudah-mudahan dapat membantu umat Islam.

8.
Pengirim: A.Salman al farisi  - Kota: gresik
Tanggal: 3/10/2010
 
allah yubarik fii wa fiikum 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Amiin

9.
Pengirim: Hamba Allah yang Netral  - Kota: surabaya
Tanggal: 4/10/2010
 
Assalau'alaikum Wr Wb. Maaf ust. apakah acara pada hari 1,2,3,7, 40, 100, 1000 untuk yang meninggal itu bukankah peninggalan Umat Hindu yang juga ada di kitabsucinya. Mohon penjelasan, karena diHindu juga ada ajaran peringatan 1,2,3,7, 40, 100, 1000 tersebut. Mohon maaf jika ada sesuatu yang tidak berkenan, terima kasih Ustadz...Wss Wr Wb 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kalau masalah tahlilan ke 1, 2, 3, 7, 40, 100 dan 1000 hari sebagian pendapat mengatakan konversi dari budaya Hindu/Budha, maka Rasulullah SAW sendiri mengambil budaya Yahudi puasa Asyura dijadikan puasa sunnah bulan Muharram itu, hanya ditambahi 1 hari (9-10 Muharram). Baju koko yang diistilahkan sebagai busana muslim juga dari China non muslim, bahkan menjadi trend baju muslim dunia. Kubah masjid asal sejarahnya dari kubah gereja, dan menara masjid berasal dari budaya tempat penyembah api.
Jadi, tahlilan yang perlu dilestarikan haruslah ditinjau dari subtansi amalan itu sendiri, yang ternyata sangat syar'i.

10.
Pengirim: Mirza  - Kota: Singosari
Tanggal: 5/10/2010
 
Al-muhaafadhatu 'alaa qadiimi As-Shalih, wal akhdu bil jadiidil Ashlah... 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Alhamdulillah.

11.
Pengirim: Kacung Ngaran  - Kota: Jakarta
Tanggal: 20/10/2010
 
Ada dua kaidah penting dalam beragama yang perlu diketahui oleh kaum
muslimin.

Yang pertama, dalam masalah ibadah, segala bentuk ibadah asalnya semuanya
adalah haram, tidak boleh dilakukan, kecuali ada dalil (dasar) yang
menjelaskannya. Saya ulangi, semua bentuk ibadah adalah tidak boleh
dilakukan atau terlarang kecuali ada dalil (dasar) yang menjelaskannya dari
ayat Al Qur'an atau pun dari hadits yang shahih. Oleh karena itu dalam
masalah ibadah tidak boleh ada kreativitas atau innovasi. Bentuk - bentuk
ibadah dari zaman Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam sampai sekarang
tidak berubah dan sampai kiamat pun tidak berubah. Bentuk - bentuk ibadah
tidak boleh ada penambahan atau pengurangan. Ambil misal, shalat subuh itu
dua raka'at dari sejak zaman Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam sampai
sekarang dan sampai hari kiamat pun jumlahnya tetap tidak berubah, yaitu dua
raka'at.
Dalam kaitannya dengan masalah ibadah ini, maka seorang muslim perlu sekali
menuntut ilmu. Sehingga dia bisa membedakan dan mengetahui mana ibadah -
ibadah yang memang ada dasarnya dari Al Qur'an dan hadits yang shahih dan
mana ibadah - ibadah yang dibuat - buat oleh orang - orang yang tidak ada
dasarnya.


Yang kedua, dalam masalah keduniaan, semuanya adalah boleh kecuali ada dalil
yang melarangnya. Dalam masalah keduniaan ini berkebalikan dengan masalah
agama yang telah saya sebut di atas. Yaitu dalam masalah keduniaan semuanya
boleh dilakukan kecuali ada dalil (dasar) yang melarangnya. Dalam masalah
keduniaan ini dibolehkan adanya kreativitas atau innovasi. Oleh karena itu
hal - hal yang bersifat keduniaan itu selalu berubah dan berkembang dari
sejak zaman Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam sampai sekarang. Contoh
dalam masalah jual beli, maka segalanya boleh dilakukan kecuali kalau ada
larangan yang menjelaskannya, yaitu misalnya tidak boleh riba, tidak boleh
mengurangi timbangan, tidak boleh menyembunyikan cacat pada barang dagangan,
dll.

Dari dua kaidah ini insya Allah kita bisa memahami permasalahan agama
sekarang. Seandainya datang kepada kita suatu masalah agama, misal bagaimana
hukumnya suatu perkara, maka tinggal kita kembalikan kepada dua kaidah ini
terlebih dahulu. Bila ia memang masalah ibadah maka perlu ada dalil (dasar)
dari Al Qur'an dan Assunnah (hadits) yang shahih yang menjelaskannya
sehingga kita tahu dan yakin bahwa amalan ibadah tersebut memang
diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Sekarang ukhti tinggal membedakan, berdzikir masalah ibadah atau masalah
keduniaan?
Kemudian motor, mobil, HP dll masalah ibadah atau masalah keduniaan?
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
1. Alhamdulillah, Tahlilan itu adalah ibadah sunnah yang ada dalilnya, antara lain : Dari Ma'qal bin Yasar Almuzani dari Nabi SAW bersabda : Iqra-uu Yaasiin 'alaa mautaakum (Bacakan surat Yasin untuk para mayyit kalian) HR. Annasa-i dan lainnya. Maka dalam ritual Tahlilan warga Aswaja membaca surat Yasin (Yasinan) untuk para mayyit, persis dengan perintah hadits.

Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW : Jika wafat anak Adam (seseorang) maka putuslah amalannya kecuali dari tiga hal : Sedekah Jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakan dirinya. (HR. Muslim). Maka dalam tahlilan, para anak shaleh dan handai taulan kalangan Aswaja berniat mengirim pahala baca kalimat lailaha illallah (tahlil), subhanallah, alhamdulillah, shalawat kepada Nabi SAW, bacaan Alquran, yang semua isinya adalah berdoa untuk para mayyit, sesuai ajaran Nabi SAW.

Masih banyak dalil shahih bolehnya tahlilan, tapi dua hadits ini cukup untuk mendasari apa yang dimaksud oleh Kacung Ngaran, Alhamdulillah, IKUT TAHLILAN YOOK, MUMPUNG KETEMU DALILNYA.

Lah, yang jadi sekarang jadi masalah, apa Kacung bisa memberikan dalil syar'i dari Alquran maupun Hadits (di copy paste-kan juga boleh koook) bahwa apa ada ayat Alquran atau Hadits yang secara tekstual yang mengatakan bahwa Bid'ah itu dibagi dua, ada yang bid'ah keduniaan (duniawiyah) dan bid'ah ibadah (diniayah). Paling-paling hanya taqlid pemahaman kepada tokoh-tokoh Wahhabi yang tidak ada dalil Alquran maupun Haditsnya.

Nah, ternyata mendikripsikan Bid'ah menjadi duniawiyah dan diniyah seperti yang dilakukan Kacung Ngaran dan Cs-nya adalah perbuatan Bid'ah itu sendiri, dan menurut Wahhabi SEMUA BID'AH ITU DHALALAH/SESAT. Padahal belajar/mengajar ilmu agama itu termasuk kegiatan majelis ta'lim yang tergolong salah satu bentuk ibadah kepada Allah.

12.
Pengirim: Kacung Ngaran  - Kota: Jakarta
Tanggal: 21/10/2010
 
Al Allamah Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa`di rahimahullah memaparkan tentang bid`ah : "Bid`ah adalah perkara yang diada-adakan dalam agama. Sesungguhnya agama itu adalah apa yang datangnya dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana termaktub dalam Al Qur'an dan As Sunnah. Dengan demikian apa yang ditunjukkan oleh Al Qur'an dan As Sunnah itulah agama dan apa yang menyelisihi Al Qur'an dan As Sunnah berarti perkara itu adalah bid`ah. Ini merupakan defenisi yang mencakup dalam penjabaran arti bid`ah. Sementara bid`ah itu dari sisi keadaannya terbagi dua :

Pertama : Bid`ah I'tiqad (bid`ah yang bersangkutan dengan keyakinan)
Bid`ah ini juga diistilahkan bid`ah qauliyah (bid`ah dalam hal pendapat) dan yang menjadi patokannya adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan dalam kitab sunan :
"Umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya berada dalam neraka kecuali satu golongan".
Para shahabat bertanya : "Siapa golongan yang satu itu wahai Rasulullah ?.
Beliau menjawab : "Mereka yang berpegang dengan apa yang aku berada di atasnya pada hari ini dan juga para shahabatku".

Yang selamat dari perbuatan bid`ah ini hanyalah ahlus sunnah wal jama`ah yang mereka itu berpegang dengan ajaran Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan apa yang dipegangi oleh para shahabat radliallahu anhum dalam perkara ushul (pokok) secara keseluruhannya, pokok-pokok tauhid , masalah kerasulan (kenabian), takdir, masalah-masalah iman dan selainnya.

Sementara yang selain mereka dari kelompok sempalan (yang menyempal/keluar dari jalan yang benar) seperti Khawarij, Mu`tazilah, Jahmiyah, Qadariyah, Rafidhah, Murji`ah dan pecahan dari kelompok-kelompok ini , semuanya merupakan ahlul bid`ah dalam perkara i`tiqad. Dan hukum yang dijatuhkan kepada mereka berbeda-beda, sesuai dengan jauh dekatnya mereka dari pokok-pokok agama, sesuai dengan keyakinan atau penafsiran mereka, dan sesuai dengan selamat tidaknya ahlus sunnah dari kejelekan pendapat dan perbuatan mereka. Dan perincian dalam permasalahan ini sangatlah panjang untuk dibawakan di sini.

Kedua : Bid`ah Amaliyah (bid`ah yang bersangkutan dengan amalan ibadah)
Bid`ah amaliyah adalah penetapan satu ibadah dalam agama ini padahal ibadah tersebut tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan perlu diketahui bahwasanya setiap ibadah yang tidak diperintahkan oleh Penetap syariat (yakni Allah ta`ala) baik perintah itu wajib ataupun mustahab (sunnah) maka itu adalah bid`ah amaliyah dan masuk dalam sabda nabi shallallahu alaihi wasallam :
"Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak di atas perintah kami maka amalannya itu tertolak".
Karena itulah termasuk kaidah yang dipegangi oleh para imam termasuk Imam Ahmad rahimahullah dan selain beliau menyatakan :
"Ibadah itu pada asalnya terlarang (tidak boleh dikerjakan)"

Yakni tidak boleh menetapkan/mensyariatkan satu ibadah kecuali apa yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Dan mereka menyatakan pula :
"Muamalah dan adat (kebiasaan) itu pada asalnya dibolehkan (tidak dilarang)"

Oleh karena itu tidak boleh mengharamkan sesuatu dari muamalah dan adat tersebut kecuali apa yang Allah ta`ala dan rasul-Nya haramkan. Sehingga termasuk dari kebodohan bila mengklaim sebagian adat yang bukan ibadah sebagai bid`ah yang tidak boleh dikerjakan, padahal perkaranya sebaliknya (yakni adat bisa dilakukan) maka yang menghukumi adat itu dengan larangan dan pengharaman dia adalah ahlu bid`ah (mubtadi). Dengan demikian, tidak boleh mengharamkan satu adat kecuali apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Dan adat itu sendiri terbagi tiga :
Pertama : yang membantu mewujudkan perkara kebaikan dan ketaatan maka adat seperti ini termasuk amalan qurbah (yang mendekatkan diri kepada Allah).
Kedua : yang membantu/mengantarkan kepada perbuatan dosa dan permusuhan maka adat seperti ini termasuk perkara yang diharamkan.
Ketiga : adat yang tidak masuk dalam bagian pertama dan kedua (yakni tidak masuk dalam amalan qurbah dan tidak pula masuk dalam perkara yang diharamkan) maka adat seperti ini mubah (boleh dikerjakan). Wallahu a`lam.*****
(Al Fatawa As Sa`diyah, hal. 63-64 sebagaimana dinukil dalam Fatawa Al Mar'ah Al Muslimah)

 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Abdurrahman Nashir Assa'di, adalah pelaku bid'ah, karena dia berani membagi-bagi definisi Bid'ah. Padahal Nabi SAW dan para Shahabat tidak pernah membagi-bagi bid'ah seperti yang dipaparkan Abdurrahman Nashir Assa'di. Tidak ada satu ayat Alquran maupun satu hadits shahih pun yang membagi Bid'ah versi Wahhabi. Nabi SAW hanya mengatakan wa kullu bid'atin dhalalah. Untung saja kaum Aswaja masih mentolelir argument Abdurrahman Nashir, karena masih dapat dikategorikan sebagai Bid'ah Hasanah.

Kalau dalilnya sekedar argument dari kontekstual ayat Alquran maun hadits, maka apa bedanya dengan amalan warga Aswaja yang juga menggunakan kontenkstual ayat Alquran maupun Hadits. Karena seluruh umat Islam di masa kini pasti banyak yang mengamalkan amalan yang tidak pernah dilakukan di jaman Nabi SAW dan para shahabat, maka perlu diselaraskan antara amalan umat Islam dengan kontekstual ayata maupun Hadits.

Tapi, sayangnya tidak ada satupun yang mengaku dirinya adalah pelaku Bid'ah karena amalannya tidak pernah dilakukan di jaman Nabi SAW maupun shahabat. Apalagi jika yang melakukannya itu dari kelompok yang kaku dalam menerjemahkan Bid'ah dan menganggap SEMUA BID'AH itu sesat.

Coba diteliti, masih banyak amalan umat Islam dewasa ini yang dapat dikategorikan sebagai perilaku bid`ah tapi yang hasanah (baik), sekalipun tidak pernah dilakukan oleh para shahabat, baik yang diamalkan oleh umat Islam Ahlussunnah wal jamaah maupun oleh kelompok Wahhabi.

Dikatakan bid`ah dikarenakan tidak pernah dilaksanakan oleh Nabi SAW sendiri, maupun oleh para shahabat secara tekstual. Sedangkan dikatakan hasanah, karena tidak bertentangan dengan larangan Alquran dan hadits Nabi SAW, serta masih dalam batas kontektual dari ayat Alquran maupun hadits Nabi.

Bahkan bid`ah yang paling sesat, tentunya adalah perilaku kaum Wahhabi yang menimbulkan permusuhan dan perpecahan di kalangan umat Islam, dengan menuduh umat Islam yang berbeda pendapat sebagai golongan sesat, padahal hanya karena perbedaan dalam masalah furu`iyyah ijtihadiyyah (non prinsip dan non aqidah) yang diperkenankan oleh agama. Kebiasaan buruk semacam inilah yang menjadi ciri khas kelompok Wahhabi. Semoga hati mereka diberi hidayah oleh Allah.

Coba perhatikan, pernahkan Nabi SAW melaksanakan shalat baik fardhu maupun sunnah dengan hanya memakai celana panjang dan baju koko sebatas lutut, sebagaimana pakaian adat masyarakan Pakistan, dengan meningalkan qamis dan jubbah ? Berpakaian semacam itu, di Indonesia kini menjadi salah satu ciri khas pakaian penganut Wahhabi. Jelaslah pakaian shalat semacam ini termasuk Bid`ah juga, untunglah warga mayoritas penganut Sunni Syafi`i masih menghukuminya sebagai bid`ah hasanah.

Contoh bid'ah lain yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Wahhabi dan kaumnya dewasa ini adalah :

- Berjamaah shalat tahajjud sebulan suntuk yang dikhususkan mulai awwal hingga akhir bulan Ramadhan seperti yang dilakukan dan diimami oleh tokoh-tokoh Wahhabi di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram.

- Ucapan: Shalaatul Qiyaami atsaabakumullah, sebelum shalat tahajjud di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram tersebut, termasuk bid`ah hasanah yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para shahabat.

- Berdakwah menggunakan media radio, kaset, CD,TV, internet dan media cetak termasuk bid`ah hasanah.

- Membagi-bagi tauhid menjadi Tauhid Rububiyah, Uluhiyah, Asma wa shifat sebagaimana yang diajarkan oleh tokoh-tokoh Wahhabi ini jelas-jelas bid`ah yang tidak ada tuntunanya baik dari Alquran maupun hadits Nabi SAW yang sharih.

- Mendirikan ormas seperti NU, Muhammadiyyah, Al-irsyad, Salafi Indonesia, Jamaah Tabligh, dsb termasuk bid`ah hasanah.

- Mendirikan sekolah formal dengan sistem klasikal termasuk bid`ah hasanah.

- Penulisan Alquran menjadi buku dan diperbanyak lewat pecatakan, serta pemberian harakatnya termasuk bid`ah hasanah.

- Memberi predikat terhadap sebuah hadits dengan derajat shahih, hasan, dhaif, mutawatir dan ahad. Baik Nabi SAW dan para shahabat tidak pernah melakukan hal semacam itu.

- Pengelompokan hadits shahih dalam satu buku karangan seperti kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim termasuk bid`ah hasanah.

-Penerjemahan Alquran ke berbagai bahasa, seperti yang diterbitkan oleh Depag, termasuk bid`ah hasanah, bahkan di Indonesia terjemahan Depag ini dijadikan kitab rujukan oleh banyak pihak, termasuk oleh kelompok Wahhabi / Salafi Indonesia .

- Tentunya masih banyak contoh yang lainnya jika diteliti satu persatu.

13.
Pengirim: Kacung Ngaran  - Kota: Jakarta
Tanggal: 21/10/2010
 
Dari Ibunda kaum muminin, Ummu Abdillah Aisyah rodhiyallohu anha, dia berkata: Rosululloh shollallohu alaihi wasallam pernah bersabda: Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu (amalan) dalam urusan (agama) kami yang bukan dari kami, maka (amalan) itu tertolak. (HR. Bukhori dan Muslim). Dan dalam riwayat Muslim: Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka itu tertolak.
Kedudukan hadits
Hadits ini sangat agung kedudukannya karena merupakan dasar penolakan terhadap seluruh bentuk bidáh yang menyelisihi syariát, baik bidáh dalam aqidah, ibadah, maupun muámalah.
Bidáh
Bidáh memiliki 2 tinjauan secara lughah dan secara syarí. Bidáh secara lughah berarti segala sesuatu yang tidak ada contoh atau tidak ada yang mendahuluinya pada masanya. Adapun bidáh secara syarí adalah seperti yang didefinisikan oleh para ulama, yaitu yang memenuhi 3 kriteria sebagai berikut:
1. Dilakukan secara terus menerus.
2. Baru, dalam arti tidak ada contohnya.
3. Menyerupai syariát baik dari sisi sifatnya atau atsarnya. Dari sisi sifat maksudnya seperti sifat-sifat syariát yaitu sudah tertentu waktu, tempat, jenis, jumlah, dan tata caranya. Dari sisi atsarnya maksudnya diniati untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencari pahala. Bidáh termasuk jenis Dosa Besar, karena merupakan amal kemaksiatan namun mengharapkan pahala.
Mashalihul Mursalah
Kalau seseorang tidak benar-benar memahami hakikat bidáh maka dia bisa rancu dengan sesuatu yang disebut Mashalihul Mursalah. Sepintas, antara bidáh dan Mashalihul Mursalah ada kemiripan, namun hakikatnya berbeda. Adapun perbedaannya adalah sebagai berikut :
1. Mashalihul Mursalah terjadi pada perkara duniawi atau pada sarana (wasilah) demi penjagaan lima maqosid syariát yaitu agama, jiwa, harta, keturunan, dan akal. Sementara bidáh terjadi pada ibadah atau ghayah.
2. Mashalihul Mursalah tidak ada tuntutan untuk dikerjakan pada masa Nabi shallallaahu álaihi wa sallam, adapun bidáh tuntutan untuk dikerjakannya sudah ada pada masa Nabi shallallaahu álaihi wa sallam.
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Pada firman Allah yang berbunyi : Waja`alna minal maa-i KULLA syai-in hayyin. Lafadz KULLA disini, haruslah diterjemahkan dengan arti : SEBAGIAN. Sehingga ayat itu berarti: Kami ciptakan dari air sperma, SEBAGIAN makhluq hidup.

Karena Allah juga berfirman menceritakan tentang penciptaan jin Iblis yang berbunyi: Khalaqtani min naarin. Artinya : Engkau (Allah) telah menciptakan aku (iblis) dari api.

Dengan demikian, ternyata lafadl KULLU, tidak dapat diterjemahkan secara mutlaq dengan arti : SETIAP/SEMUA, sebagaimana umumnya jika merujuk ke dalam kamus bahasa Arab umum, karena hal itu tidak sesuai dengan kenyataan. 

Demikian juga dengan arti hadits Nabi SAW : Fa inna KULLA BID`ATIN dhalalah,. Maka harus diartikan: Sesungguhnya SEBAGIAN dari BID`AH itu adalah sesat. 

Kulla di dalam Hadits ini, tidak dapat diartikan SETIAP/SEMUA BID`AH itu sesat, karena Hadits ini juga muqayyad atau terikat dengan sabda Nabi SAW yang lain: Man sanna fil islami sunnatan hasanatan falahu ajruha wa ajru man `amila biha. Artinya : Barangsiapa memulai/menciptakan perbuatan baik di dalam Islam, maka dia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya. (HR. Muslim).

Jadi jelas, ada perbuatan baru yang diciptakan oleh orang-orang di jaman sekarang, tetapi dianggap baik oleh Nabi SAW, dan dijanjikan pahala bagi pencetusnya, serta tidak dikatagorikan BID`AH DHALALAH. 

Sebagai contoh dari man sanna sunnatan hasanah (menciptakan perbuatan baik) adalah saat Hajjaj bin Yusuf memprakarsai pengharakatan pada mushaf Alquran, serta pembagiannya pada juz, ruku`, maqra, dll yang hingga kini lestari, dan sangat bermanfaat bagi seluruh umat Islam. Untuk lebih jelasnya, maka bidah itu dapat diklasifikasi sebagai berikut : Ada pemahaman bahwa Hadits KULLU BID`ATIN DHALALAH diartikan dengan: SEBAGIAN BID`AH adalah SESAT, yang contohnya :

1. Adanya sebagian masyarakat yang secara kontinyu bermain remi atau domino setelah pulang dari mushalla.
2. Adanya kalangan umat Islam yang menghadiri undangan Natalan. 3. Adanya beberapa sekelompok muslim yang memusuhi sesama muslim, hanya karena berbeda pendapat dalam masalah-masalah ijtihadiyah furu`iyyah (masalah fiqih ibadah dan maamalah), padahal sama-sama mempunyai pegangan dalil Alquran-Hadits, yang motifnya hanya karena merasa paling benar sendiri.

Perilaku semacam ini dapat diidentifikasi sebagai BID`AH DHaLALAH). 

Ada pula pemahaman yang mengatakan, bahwa amalan baik yang terrmasuk ciptaan baru di dalam Islam dan tidak bertentangan dengan syariat Islam yang sharih, maka disebut SANNA (menciptakan perbuatan baik).

Contohnya: Adanya sekelompok orang yang mengadakan shalat malam (tahajjud) secara berjamaah setelah shalat tarawih, yang khusus dilakukan pada bulan Ramadhan di Masjidil Haram dan di Masjid Nabawi, seperti yang dilakukan oleh tokoh-tokoh beraliran Wahhabi Arab Saudi semisal Syeikh Abdul Aziz Bin Baz dan Syeikh Sudaisi Imam masjidil Haram, dll. Perilaku ini juga tergolong amalan BID`AH karena tidak pernah dilakukan oleh Nabi SAW, tetapi dikatagorikan sebagai BIDAH HASANAH atau bidah yang baik. 

Melaksanakan shalat sunnah malam hari dengan berjamaah yang khusus dilakukan pada bulan Ramadhan, adalah masalah ijtihadiyah yang tidak didapati tuntunannya secara langsung dari Nabi SAW maupun dari ulama salaf, tetapi kini menjadi tradisi yang baik di Arab Saudi.

Dikatakan Bidah Hasanah karena masih adanya dalil-dalil dari Alquran-Hadits yang dijadikan dasar pegangan, sekalipun tidak didapat secara langsung/sharih, melainkan secara ma`nawiyah. Antara lain adanya ayat Alquran-Hadits yang memeerintahkan shalat sunnah malam (tahajjud), dan adanya perintah menghidupkan malam di bulan Ramadhan. 

Tetapi mengkhususkan shalat sunnah malam (tahajjud) di bulan Ramadhan setelah shalat tarawih dengan berjamaah di masjid, adalah jelas-jelas perbuatan BID`AH yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi SAW dan ulama salaf. Sekalipun demikian masih dapat dikatagorikan sebagai perilaku BID`AH HASANAH. 

Demikian juga umat Islam yg melakukan pembacaan tahlil atau kirim doa untuk mayyit, melaksanakan perayaan maulid Nabi SAW, mengadakan isighatsah, dll, termasuk BIDAH HASANAH. Sekalipun amalan-amalan ini tidak pernah dilakukan oleh Nabi SAW, namun masih terdapat dalil-dalil Alquran-Haditsnya sekalipun secara manawiyah.

Contoh mudah, tentang pembacaan tahlil (tahlilan masyarakat), bahwa isi kegiatan tahlilan adalah membaca surat Al-ikhlas, Al-falaq, Annaas. Amalan ini jelas-jelas adalah perintah Alquran-Hadits. Dalam kegiatan tahlilan juga membaca kalimat Lailaha illallah, Subhanallah, astaghfirullah, membaca shalawat kepada Nabi SAW, yang jelas- jelas perintah Alquran-Hadits. Ada juga pembacaan doa yang disabdakan oleh Nabi SAW : Adduaa-u mukhkhul ibadah. Atrinya : Doa itu adalah intisari ibadah.

Yang jelas, bahwa menhadiri majelis ta`lim atau majlis dzikir serta memberi jamuan kepada para tamu, adalah perintah syariat yang terdapat di dalam Alquran-Hadits.

Hanya saja mengemas amalan-amalan tersebut dalam satu rangkaian kegiatan acara tahlilan di rumah-rumah penduduk adalah BID`AH, tetapi termasuk bidah yang dikatagorikan sebagai BID`AH HASANAH. Hal itu, karena senada dengan shalat sunnah malam berjamaah yang dikhususkan di bulan Ramadhan, yang kini menjadi kebiasaan tokoh-tokoh Wahhabi Arab Saudi. 

Nabi SAW dan para ulama salaf, juga tidak pernah berdakwah lewat pemancar radio atau menerbitkan majalah dan bulletin. Bahkan pada saat awal Islam berkembang, Nabi SAW pernah melarang penulisan apapun yang bersumber dari diri beliau SAW selain penulisan Alquran. Sebagaiman di dalam sabda beliau SAW : La taktub `anni ghairal quran, wa man yaktub `anni ghairal quran famhuhu. Artinya: Jangan kalian menulis dariku selain alquran, barangsiapa menulis dariku selain Alquran maka hapuslah.

Sekalipun pada akhir perkembangan Islam, Nabi SAW menghapus larangan tersebut dengan Hadits : Uktub li abi syah. Artinya: Tuliskanlah hadits untuk Abu Syah. Meskipun sudah ada perintah Nabi SAW untuk menuliskan Hadits, tetapi para ulama salaf tetap memberi batasan-batasan yang sangat ketat dan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh para muhadditsin.

Fenomena di atas sangat berbeda dengan penerbitan majalah atau bulletin. Dalam penulisan artikel untuk majalah atau bulletin, penulis hanyalah mencetuskan pemahaman dan pemikirannya, tanpa ada syarat-syarat yang mengikat, selain masalah susunan bahasa. Jika memenuhi standar jurnalistik maka artikel akan dimuat, sekalipun isi kandungannya jauh dari standar kebenaran syariat. .

Contohnya, dalam penulisan artikel, tidak ada syarat tsiqah (terpercaya) pada diri penulis, sebagaimana yang disyaratkan dalam periwayatan dan penulisan Hadits NabiSAW. Jadi sangat berbeda dengan penulisan Hadits yang masalah ketsiqahan menjadi syarat utama untuk diterima-tidaknya Hadits yang diriwayatkannya. Namun, artikel majalah atau bulletin dan yang semacamnya, jika berisi nilai-nilai kebaikan yang sejalan dengan syariat, dapat dikatagorikan sebagai BIDAH HASANAH, karena berdakwah lewat majalah atau bulletin ini, tidka pernah dilakukan oleh Nabi SAW maupun oleh ulama salaf manapun. Namun karena banyak manfaat bagi umat, maka dapat dibenarkan dalam ajaran Islam, selagi tidak keluar dari rel-rel syariat yang benar.


14.
Pengirim: Kacung Ngaran  - Kota: Jakarta
Tanggal: 21/10/2010
 
Kalau Shadaqah makanan kepada para tamu, dan pahalanya diperuntukkan untuk mayyit yang ditahlili bisa menambah amal si mayyit berarti semua orang berduit bisa masuk surga, krn ahli waris si mayyit yg kaya raya bisa mengadakan tahlilan jutaan kali untuk mengirim pahala???  
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Loh, apa orang kaya tidak boleh masuk sorga ? Ini aturan dari mana dan apa ada dalilnya ? Sayyidina Utsman dan Sayyidah Khadijah yang termasuk konglomerat-nya para shahabat, apa juga dilarang masuk sorga ? Istighfarlah wahai kaum Wahhabi jika anda mempunyai asumsi seperti itu !

Siapa saja boleh masuk sorga asalkan memenuhi syarat yang telah ditentukan oleh Allah dan Rasulullah SAW, baik yang kaya atau yang miskin, atau yang berpangkat maupun rakyat jelata, selagi muslim, mu'min, mengamalkan syariat, dan ahli taqwa kepada Allah hingga wafatnya, maka berhak masuk sorga, tentunya dengan seijin Allah
Rupanya Kacung Ngaran tidak tahu Hadits shahih : Dzahaba ahlud dutsuur bil ujuur.

Terus, berani-beraninya Kacung Ngaran melawan hadits Nabi SAW tentang shadaqah untuk mayyit sbb : Seorang lelaki berkata kepada Nabi SAW : Wahai Rasulullah, ibuku meninggal dunia tiba-tiba, dan aku lihat seandainya ia sempat bicara, tentu ia akan bersedekah. Bolehkah aku bersedekah atas namanya (ibu) ? Nabi menjawab : Boleh. Lelaki itu bertanya : Apakah Ibu saya mendapatkan pahala sedekah saya itu ? Nabi SAW menjawab : Ya. (HR. Bukhari - Muslim)

Nabi SAW saja mengijinkan seseorang untuk bersedekah bagi mayyit, mengapa Kacung Ngarah si Wahhabi kok melarangnya ?

Nangudzubillahi min dzalik.

15.
Pengirim: Kacung Ngaran  - Kota: Jakarta
Tanggal: 21/10/2010
 
Memang ana seorang yg dhoif yg terus menerus mencari ilmu, kebenaran, ridho dan rahmat Allah, serta safaat Rasulullah SAW. Ana berusaha untuk tidak memvonis seseorang dan tidak pernah melarang seseorang beramal, apalagi melawan Rasulullah SAW. Sebagai seorang yg berfikir ana akan selalu bertanya mengapa? Kenapa? dsb. Apabila ada dalil yg valid ana akan rujuk. Sami'naa wa atho'naa. Ana membaca dalam Al Qur'an.Yaitu bahwasanya seseorang tidak dapat memikul dosa orang lain dan bahwasannya seorang manusia tidak akan memperoleh selain apa yang telah diusahakannya?
(QS.An-Najm:38-39)

Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan (QS. Yaasiin:54)

Ia mendapat pahala (dari kebaikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya (QS. Al Baqaraah 286).
Menurut pemahaman ana membaca Yaasin itu sangat baik dan berpahala, tapi apabila dilakukan semua orang dalam satu majelis, lalu siapa yg mendengarkan? Allah berfirman " Jika dibacakan ayat-ayatKU, dengarlah dan simaklah dengan seksama, semoga engkau mendapat rahmat. Allahu a'lam.
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Praktek di lapangan bagi keluarga yang mengadakan Tahlilan, saat mereka mengundang kaum lelaki, maka para ibu yang menyiapkan sedekah makanan dan duduk di dalam rumah, sambil menunggu waktu yang tepat untuk mengeluarkan sedekahnya, adalah termasuk kelompok umat Islam yang mendengarkan bacaan surat Yaasiin yang dikumandangkan oleh jamaah lelaki yang suaranya diperkeras dengan suond syistem.

Jadi perintah baca Yaasiin untuk mayyit sudah terlaksana, dan perintah mendengarkan Alquran yang tengah dibaca juga sudah terpenuhi. Gampang kok jawabannya kalau mau memikir dengar jernih tanpa menyimpan rasa kebencian terhadap para pengamal ibadah sunnah Tahlilan.

IKUT TAHLILAN YOOK !

16.
Pengirim: Kacung Ngaran  - Kota: Jakarta
Tanggal: 22/10/2010
 
Ana mau belajar dan beribadah dg sebaik-baiknya, krn itu akan terus mencari ilmu dan kebenaran, menggapai ridho dan rahmat Allah, serta mengharapkan safaat Rasullullah SAW. Selain dg iman ana juga berupaya berpikir sehingga selalu bertanya apa. bagaimana, mengapa? dsb sehingga tidak bertaklid buta. Kalau ada dalil yg valid dan sudah diverifikasi ana akan rujuk. Sami'naa wa atho'naa. Menyangkut sedekah mayyit mohon tanggapan dg Firman Allah dalam Al Qur'an. Yaitu, bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya? (QS. An-Najm:38-39)

Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan (QS. Yaasiin:54)

Ia mendapat pahala (dari kebaikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya (QS. Al Baqaraah 286). Membaca Yaasin jelas berpahala, tetapi apabila dibaca bersamaan dalam satu majelis, lalu siapa yg mendengarkan? Padahal Allah berfirman dalam Surah Al A'Raaf :204 "Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang. Semoga kamu mendapat rahmat"

 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Banyak jawaban untuk menerangkan surat Annajm pada ayat wa an laisa lil insani maa sa'aa (sesungguhnya tidaklah seseorang itu kecuali hanyalah akan mendapatkan balasan dari amal perbuatannya sendiri) seperti yang ditanyakan Kacung Ngaran, karena sudah keseringan dibahas oleh para santri yang terbisa membaca kitab 'gundul' (tanpa harakat) dengan keterangan yang jelas dan gamblang. Tapi seringkali orang awam merasa bingung memahami ayat ini. Antara lain :

1. Sesuai dengan pemberiataan isi ayat, bahwa aturan itu berlaku bagi umatnya Nabi Ibrahim dan Nabi Musa (fi shuhufi ibraahiima wa muusa). Sedangkan dalam syariat Nabi Muhammad SAW ayat tersebut sudah dimansukh oleh ayat wa alhaqnaa dzurriyyatahum (dan Kami masukkan sorga anak cucu mereka), artinya karena kebaikan amalan orang-orang tua, maka Allah berkenan memasukkan anak cucu orang-orang shalih itu ke dalam sorga), demikian ini menurut tafsir Shahabat Abdullah bin Abbas RA.

2. Ibnu Taimiyah sendiri menerangkan ada 21 jawaban tentang ayat wa an laisa lil insaani illaa maa sa'aa, di dalam kitab Ghayatul Maksud hal 101, antara lain Ibnu Taimiyah mengatakan : man i'taqada annal insaana laa yantafi'u illaa bi'amalihi, faqad kharraqal ijmaa', wa dzaalika baathilun min wujuuhin katsiirah (barangsiapa yang meyakini bahwa manusia (termasuk mayit) itu tidak dapat mengambil manfaat (pahala dari orang lain) kecuali hanya dengan amalnya sendiri, maka ia telah melanggar (merusak) ijma' (kesepakat para shahabat/ulama) dari beberapa sudut pandang, (Ibnu Taimiyah mencontohkan) :

- Bahwasannya seseorang itu dapat mengambil manfaat dari doanya orang lain, ini termasuk mengambil manfaat dari amalan orang lain.
- Bahwa Nabi SAW kelak akan mensyafa'ati calon-calon penghuni sorga di Padang Mahsyar, kemudian mensyafa'ati kaum muslimin yang masuk neraka untuk dikeluarkan lantas dimasukkan ke dalam sorga berkat syafaat Nabi SAW. Ini juga termasuk mengambil manfaat dari amalan orang lain.
- Demikian hingga 21 keterangan dari Ibnu Taimiyah. Belum lagi keterangan para ulama mengenai arti ayat yang ditanyakan oleh Kacung Ngaran. Jadi yakinlah, bahwa masyarakat Aswaja tidak mengamalkan sesuatu amalan sunnah kecuali menggunakan dalil Alquran, Hadits dan ijtihad para ulama salaf.

Sayangnya orang di luar Aswaja, ada yang hobinya main tuduh bid'ah sesat terhadap amalan-amalan masyarakat Aswaja, dengan tuduhan ceroboh dan tanpa dasar yang benar.

IKUT TAHLILAN YOOK ... !

17.
Pengirim: Kacung Ngaran  - Kota: Jakarta
Tanggal: 28/10/2010
 
1. Ana awam soal ilmu Nasikh dan Mansukh, Asbabunnuzul dan Asbabulwurus. Mushtholah Hadits dll. Ana takut dengan ancaman Allah dalam Surah Al Mu'min ayat 4 (QS 40:4) " Maa yujaadilu fii aayaatil laahi illalladziina kafaruu " ( Tiada yg menyanggah/berdebat dalil-dalil Allah hanyalah orang-orang kafir );
2. Praktrek Yaasiinan yg ana lihat selama ini adalah:
a. Kalau pelaksanaannya di Masjid semua orang membacanya, tidak peduli ada atau tidak yg mendengarkankannya;
b. Kalau di rumah, maka ibu2 yg di dapur ada yg ikut membaca, ada yg ngerumpi atau mengobrol, tidak peduli ada atau tidak yg mendengarkannya. Atau ibu-ibu dari rumahnya masing-masing sudah membawa makanan untuk dibagikan setelah acara.Dipimpin oleh seseorang mereka membaca Surah Yaasin dll tanpa peduli ada atau tidak yg mendengarkan. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
1. Anda ngaku jadi orang awwam yang tidak mengerti ilmu Nasikh, Mansukh, Asbabun nuzul, Asbabul wurud, lantas anda mengprotes para Ulama sekelas Shahabat Ibnu Abbas, Shahabat Nabi SAW yang terkenal Ahli Tafsir Alquran dan sangat memahami seluk beluk Alquran dan Hadits, apa gak lucu anda ini ?

Ibaratnya, anggap saja anda sudah terbiasa jika kepala anda pusing anda minum obat bodrex dan sembuh. Suatu saat anda sakit kepala, sudah berobat bodrex berkali-kali tapi nggak sembuh-sembuh. Terus oleh keluarga anda diperiksakan ke dokter spesialis, dan dokter menvonis : ada virus ganas di kepala anda yang harus di obati dengan beberapa obat (selain bodrex), tapi anda menolak perintah dokter itu dengan mengatakan:

Pak Dokter, saya ini orang awwam, saya nggak ngerti urusan virus ganas dan tetekbengeknya, pokoknya saya hanya percaya dan yakin kalau kepala pusing itu obatnya cuma bodrex, jadi saya jangan dipaksa minum obat-obatan selain bodrex, apalagi obat yang belum perrnah saya dengan namanya !

2. Apa ada satu saja, dari tekstual ayat Alquran atau Hadits yang melarang orang membaca Yasin secara bersama-sama, baik di rumah maupun di masjid ? Anda ini kayaknya mau ngaku jadi nabi saja, berani membuat larangan agama dari pikiran anda sendiri tanpa ada literatur dalil Alquran dan Haditsnya ! Lah wong Nabi SAW saja sudah perintah secara mutlak : Iqrauu yaasiin 'ala mautaakum, Bacalah oleh kalian surat Yasin untuk para mayyit kalian (HR. Abu Dawud, 3/489).

Nabi SAW perintah dengan shighat jama' (jangan-jangan anda nggak ngerti maknanya shighat), yaitu perintah kepada kelompok banyak, dan Nabi SAW tidak membatasi semisal: Bacalah surat Yasin (tapi, kalau baca, sendiri-sendiri loh) untuk para mayyit kalian ! Justru sabda Nabi SAW : Bacalah oleh kalian surat Yasin untuk para mayyit kalian !

3. Anda tidak tahu dengan persis praktek di lapangan, karena belum apa-apa saja anda sudah anti pati dengan Yasinan dan Tahlilan, bagaimana anda tahu yang sejatinya, selain perkiraan anda semata.

18.
Pengirim: ahmad  - Kota: probolinggo
Tanggal: 3/11/2010
 
Kacung Ngaran, Sy tdk perlu menanggapi semua artikel yg mngkin hasil copasan anda tsb sebab trlalu meluas jd masalahnya gampang kabur. Yg fokus dulu kpd suatu masalah baru nanti berjalan ke masalah yg lain yg anda pertentangken.

Oia, Allah berfirman dalam Surah Al A'Raaf :204 "Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang. Semoga kamu mendapat rahmat" itu bukan suatu larangan utk ngaji bareng2. pemikiran nte tu tdk bs dipertanggungjawabkan scara ilmiyyah. Makna yg dimaksud dp firman Allah diatas adalah bila ada org yg mmbc quran sdangkan org lainnya tdk ikut mmbc bersama org tsb, maka yg tdk ikut mmbaca dianjurkan utk mndengarkan serta mmperhatikan bacaan quran tsb agar mreka jg mndpt pahala dan rahmat dr Allah. Jd bkn brrti ayat tsb melarang prg bersma2 mmbc quran dlm kmpulan majlis dzikir! Krn cukup melimpah hadist shohih yg mnjanjiken pahala bg org yg mmbca quran baik itu dibaca scara berkelompok maupun perorangan, srta tdk ada nash baik dlm quran wal hadist yg mlarang pmbacaan quran scara bersama2! Malah justru mndapat pahala!

Kelihatan skali kedangkala pemahaman anda yg hanya memelototi quran tanpa melirik hadis2 shahih. Say mau nanya pake logika gampangan aja, jika ada orang ngaji, apa orang yg mendengar suara orang ngaji tsb HARAM beraktivitas selain mendengarkan lantuan pembacaan ayat quran tsb???

Renugnkan hadist berikut:
Al-Baihaqiy meriwayatkan hadis dari Anas bin Malik ra bahwa Rasul- Allah saw. bersabda:

                   ( )

Sungguhlah aku berdzikir menyebut (mengingat) Allah swt. bersama jamaah usai sholat Shubuh hingga matahari terbit, itu lebih kusukai daripada dunia seisinya.
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kami posting untuk Kacung Ngaran. Kepada pengunjung kami mohon maaf jika ada huruf yang terkirim dengan tulisan hijaiyyah, namun tidak dapat tampil sempurna, karena terkendala teknis sistem komputer kami yang sangat terbatas.

19.
Pengirim: ahmad  - Kota: probolinggo
Tanggal: 3/11/2010
 
ane tentu lebih senang lagi apabila para pemberi komentar menulis nama dan alamatnya dengan lengkap agar di antara kita bisa terus bersilaturrahmi (terutama si KACUNG NGARAN). Tidak perlu menggunakan nama samaran agar tidak terkesan takut menyampaikan kebenaran. Jika kita benar kenapa harus takut? Sebagai seorang muslim yang beriman, yang harus kita takuti hanyalah Allah SWT semata.
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Sdr. Ahmad, janganlah heran jika di dunia ini ada orang-orang yang terbiasa menyembunyikan diri dengan nama samaran. Hal semacam itu sudah lumrah di kalangan oleh 'para teroris', baik terosis fisik maupun teroris aqidah umat.

Imam Nawawi mendiskrepsikan DOSA : Suatu perbuatan yang engkau lakukan, dan engkau tidak senang / merasa khawatir banyak orang yang mengetahuinya.

20.
Pengirim: Kacung Ngaran  - Kota: Jakarta
Tanggal: 4/11/2010
 
Memang ana cuma bisanya hanya banyak mencopas, menyalin atau copy paste, karena tidak punya kesanggupan untuk mengemukakan pendapat dan argumen, kecuali pertanyaan kritis bila ada yg belum sreg di hati dan pikiran.
Apalah arti sebuah nama, cukuplah sebagai hamba Allah saja, yang penting ana berniat untuk tidak berbuat kejahatan (lebih2 menjadi teroris seperti yg difitnahkan) dan mencari kebenaran yang hakiki untuk mencapai ridho dan rahmat Allah SWT serta safaat Rasulullah SAW
Ana copy paste lagi perkataan Ali Bin Abi Thalib yg antum sitir undhur maa qaal wa laa tandhur man qaal (perhatikan isi nasehatnya, jangan dilihat siapa yang berbicara).
Yg ana utamakan adalah dakwah, dengan tidak ada suasana kebathinan rasa permusuhan, dendam, sakit hati, emosional, menuduh, memfitnah yang jauh dari akhlak atau prilaku seorang muslim. Ana berusaha tidak mengira-ngira atau berprasangka, setiap yg ana pertanyakan ana lihat fakta dan kenyataan.

Ana tidak mau memperdebatkan Surah Al ARaaf ayat 204, apakah itu perintah atau anjuran karena ana takut dengan ancaman Allah dalam Surah Al Mumin ayat 4 (QS 40:4)  Maa yujaadilu fii aayaatil laahi illalladziina kafaruu . ( Tiada yg menyanggah/berdebat dalil-dalil Allah hanyalah orang-orang kafir );
Allah berfirman Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya . (Q.S Al Israa[17]:36)
Firman Allah SWT Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (malaikan Raqib dan Atid) . (Q.S Qaaf[50]:18)
Rasulullah SAW bersabda  Barangsiapa yg menuduh seorang muslim secara dusta, maka Allah akan menempatkannya di tanah lumpur neraka sehingga dia mencabut ucapannya.. (H.R Abu Dawud : 3597, Ahmad 11/70, al-Hakim dalam al-Mustadrak 11/27 dan beliau menshahihkannya);

Diriwayatkan dari Abu Umamah., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda;  Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapat petunjuk kecuali karena mereka gemar berdebat  Kemudian Rasulullah membacakan ayat, Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar . (Az-Zukhruf: 58). (Hasan, HR Tirmidzi [3253], Ibnu Majah [48], Ahmad [V/252-256], dan Hakim [II/447-448])
Rasulullah SAW bersabda " Hati-hatilah kamu terhadap prasangka, karena sesungguhnya prasangka itu sedusta-dusta omongan ". (Riwayat Bukhari)
Rasulullah SAW bersabda " Kalau kamu akan menyangka, maka jangan kamu nyatakan.". (Riwayat Thabarani)
Dan diriwayatkan pula oleh Jabir, ia berkata:
Kami pernah di tempat Nabi s.a.w. kemudian menghembuslah angin berbau busuk. Lalu bertanyalah Nabi:  Tahukah kamu angin apa ini? Ini adalah angin (bau) nya orang-orang yang mengumpat arang-orang mu'min ". (Riwayat Ahmad dan rawi-rawinya kepercayaan)




 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Baguslah kalau anda mengutip beberapa riwayat hadits, sehingga kami bisa titip pesan kepada anda, agar tidak ada lagi kaum Wahhabi ataupun siapapun adanya yang usil dan berprasangka buruk kepada warga Sunni Syafi'i pengikut ajaran Islam yang dibawa oleh para Walisongo -dengan segala bentuk ritual ibadahnya- sebagai kelompok ahli bid'ah sesat. Karena prasangka-prasangka buruk yang dituduhkan kepada kami itu, semuanya sudah kami berikan dalil Alquran - Haditsnya.

Tentu karena keterbatasan media ini, maka tidak perlu kami cantumkan semua dalil yang mendukung amalan kami, namun cukup satu dua dalil saja, selebihnya bagi yang membutuhkan tambahan dalil, maka Markaz Pejuang Islam terbuka 24 jam untuk dikunjungi.
Kami kutip nukilan anda, untuk kami sampaikan kepada kaum Wahhabi dan kepada pihak mana saja yang merasa keberatan dengan ajaran Islam yang diajarkan oleh para Walisongo Penyebar Islam pertama kali di Indonesia, yang mengadopsi madzhab Sunni Syafi'i, dan dianut oleh mayoritas umat Islam Indonesia, sbb :

Rasulullah SAW bersabda  Barangsiapa yg menuduh seorang muslim secara dusta, maka Allah akan menempatkannya di tanah lumpur neraka sehingga dia mencabut ucapannya.. (H.R Abu Dawud : 3597, Ahmad 11/70, al-Hakim dalam al-Mustadrak 11/27 dan beliau menshahihkannya);

Diriwayatkan dari Abu Umamah., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda;  Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapat petunjuk kecuali karena mereka gemar berdebat  Kemudian Rasulullah membacakan ayat, Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar . (Az-Zukhruf: 58). (Hasan, HR Tirmidzi [3253], Ibnu Majah [48], Ahmad [V/252-256], dan Hakim [II/447-448])
Rasulullah SAW bersabda " Hati-hatilah kamu terhadap prasangka, karena sesungguhnya prasangka itu sedusta-dusta omongan ". (Riwayat Bukhari)
Rasulullah SAW bersabda " Kalau kamu akan menyangka, maka jangan kamu nyatakan.". (Riwayat Thabarani)
Dan diriwayatkan pula oleh Jabir, ia berkata:
Kami pernah di tempat Nabi s.a.w. kemudian menghembuslah angin berbau busuk. Lalu bertanyalah Nabi:  Tahukah kamu angin apa ini? Ini adalah angin (bau) nya orang-orang yang mengumpat orang-orang mu'min ". (Riwayat Ahmad dan rawi-rawinya kepercayaan)


21.
Pengirim: Kacung Ngaran  - Kota: Jakarta
Tanggal: 6/11/2010
 
Ach sewot lagi, payah.
Rasulullah SAW berdakwah tidak pernah lelah walaupun dihujat, diludahi, mau dibunuh, dikata-katai gila dsb.
Sudah ana sampaikan berkali-kali, ana ini org awam dan dhoif yg ingin mencari kebenaran, ridho dan rahmat ALLAH SWT, serta safaat Rasulullah SAW. Rupanya ada dendam, benci, dan sakit hati di dalam diri anda. Pencerahan "tawaashau bil haqqi wa tawaashau bishshabri" mungkin tidak ana temukan di web ini, goodbye.
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Penyair mengatakan :
Idza nathaqas safiihu falaa tujibhu # fakhairun min ijaabatihis sukuutu.

Apabila mendengar olokan para pencaci, maka janganlah dijawab # karena jawaban yang terbaik untuk mereka adalah mengabaikannya.

Untuk berikutnya, jika ada komentar-komentar yang bersifat menghujat, maka tidak akan kami posting. Kami sarankan anda dan para pencaci serta penghujat lainya, untuk menggunakan media FB, karena di dunia FB memang pasarannya untuk saling menghujat. Situs Pejuang Islam sebaiknya kita manfaatkan untuk adu argumentasi bagi yang ingin berdiskusi ilmiah, bukan menvonis pihak lain dengan standart pemahaman dirinya.

22.
Pengirim: ahmad  - Kota: probolinggo
Tanggal: 8/11/2010
 
Kacung, nampak dari tulisan anda bahwa logika anda adalah Logika Perasaan dan gak bakal berjalan dengan baik di Logika Akademisi

Alitiraf sayyidul adillah(pengakuan adalah sebaik-baik argument)
Anda yang mengaku ilmu dangkal kenapa koq langsung menghukumi. Khan kalau ilmu dangkal harusnya ngecek dulu, paling gak tanya yang lebih pinter, bukan malah SOK PINTER!

Nt ama gerombolan pengikut sekte Wahabisme sama aja, alih-alih menjawab artikel eh bisanya cuman ngomong ngalor ngidul hingga nampak sekali bahlulnyagak malu nt? Suruh ustadz2 Wahaby menjawab, kita nanggung meladeni orang macam nt atau Bims..
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kami tampung semua macam logika, tapi kami tangguhkan pembicaraan yang tidak mengarah kepada meteri yang kami posting, dan kami lebih mengedepankan pembahasan Ilmiah sesuai tema terkait.

23.
Pengirim: Ksatria  - Kota: Banjar
Tanggal: 4/12/2010
 
Menurut pendapat ana soal tahlilan 7, 40, 100, 1000, ini tidak sesat dan boleh namun ini bukan merupakan sunah nabi yg menjadi bagian dari syariat akan tetapi jika dianggap sunah atau bagian yg disyariatkan nabi maka hukumnya haram, kembali kemasalah definisi bid'ah yaitu merubah syariat yg tlah ditetapkan/ mengada ada sesuatu yg bertentangan dgn Al-qur'an hadits. sesuai dalil sesuatu bid'ah adalah sesat. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Tidak semua bid'ah itu sesat bung...! Coba kita perhatiakan pada firman Allah yang berbunyi : Waja`alna minal maa-i KULLA syai-in hayyin. Lafadz KULLA disini, haruslah diterjemahkan dengan arti : SEBAGIAN. Sehingga ayat itu berarti: Kami ciptakan dari air sperma, SEBAGIAN makhluq hidup.

Karena Allah juga berfirman menceritakan tentang penciptaan jin Iblis yang berbunyi: Khalaqtani min naarin. Artinya : Engkau (Allah) telah menciptakan aku (iblis) dari api.

Dengan demikian, ternyata lafadl KULLU, tidak dapat diterjemahkan secara mutlaq dengan arti : SETIAP/SEMUA, sebagaimana umumnya jika merujuk ke dalam kamus bahasa Arab umum, karena hal itu tidak sesuai dengan kenyataan. 

Demikian juga dengan arti hadits Nabi SAW : Fa inna KULLA BID`ATIN dhalalah,. Maka harus diartikan: Sesungguhnya SEBAGIAN dari BID`AH itu adalah sesat. 

Kulla di dalam Hadits ini, tidak dapat diartikan SETIAP/SEMUA BID`AH itu sesat, karena Hadits ini juga muqayyad atau terikat dengan sabda Nabi SAW yang lain: Man sanna fil islami sunnatan hasanatan falahu ajruha wa ajru man `amila biha. Artinya : Barangsiapa memulai/menciptakan perbuatan baik di dalam Islam, maka dia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya. 

Jadi jelas, ada perbuatan baru yang diciptakan oleh orang-orang di jaman sekarang, tetapi dianggap baik oleh Nabi SAW, dan dijanjikan pahala bagi pencetusnya, serta tidak dikatagorikan BID`AH DHALALAH. 

Sebagai contoh dari man sanna sunnatan hasanah (menciptakan perbuatan baik) adalah saat Hajjaj bin Yusuf memprakarsai pengharakatan pada mushaf Alquran, serta pembagiannya pada juz, ruku`, maqra, dll yang hingga kini lestari, dan sangat bermanfaat bagi seluruh umat Islam.

Untuk lebih jelasnya, maka bid'ah itu dapat diklasifikasi sebagai berikut : Ada pemahaman bahwa Hadits KULLU BID`ATIN DHALALAH diartikan dengan: SEBAGIAN BID`AH adalah SESAT, yang contohnya :
1. Adanya sebagian masyarakat yang secara kontinyu bermain remi atau domino setelah pulang dari mushalla.
2. Adanya kalangan umat Islam yang menghadiri undangan Natalan. 3. Adanya beberapa sekelompok muslim yang memusuhi sesama muslim, hanya karena berbeda pendapat dalam masalah-masalah ijtihadiyah furu`iyyah (masalah fiqih ibadah dan mu'amalah), padahal sama-sama mempunyai pegangan dalil Alquran-Hadits, yang motifnya hanya karena merasa paling benar sendiri. Perilaku semacam ini dapat diidentifikasi sebagai BID`AH DHaLALAH). 

Ada pula pemahaman yang mengatakan, bahwa amalan baik yang terrmasuk ciptaan baru di dalam Islam dan tidak bertentangan dengan syariat Islam yang sharih, maka disebut SANNA (menciptakan perbuatan baik). Contohnya:

Adanya sekelompok orang yang mengadakan shalat malam (tahajjud) secara berjamaah setelah shalat tarawih, yang khusus dilakukan pada bulan Ramadhan di Masjidil Haram dan di Masjid Nabawi, seperti yang dilakukan oleh tokoh-tokoh beraliran Wahhabi Arab Saudi semisal Syeikh Abdul Aziz Bin Baz, Syeikh Sudaisi Imam masjidil Haram, dll.

Perilaku ini juga tergolong amalan BID`AH karena tidak pernah dilakukan oleh Nabi SAW, tetapi dikatagorikan sebagai BIDAH HASANAH atau bidah yang baik. 

Melaksanakan shalat sunnah malam hari dengan berjamaah yang khusus dilakukan pada bulan Ramadhan, adalah masalah ijtihadiyah yang tidak didapati tuntunannya secara langsung dari Nabi SAW maupun dari ulama salaf, tetapi kini menjadi tradisi yang baik di Arab Saudi.

Dikatakan Bidah Hasanah karena masih adanya dalil-dalil dari Alquran-Hadits yang dijadikan dasar pegangan, sekalipun tidak didapati secara langsung/sharih, melainkan secara ma`nawiyah. Antara lain adanya ayat Alquran-Hadits yang memerintahkan shalat sunnah malam (tahajjud), dan adanya perintah menghidupkan malam di bulan Ramadhan. 

Tetapi mengkhususkan shalat sunnah malam (tahajjud) di bulan Ramadhan setelah shalat tarawih dengan berjamaah di masjid, adalah jelas-jelas perbuatan BID`AH yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi SAW dan ulama salaf. Sekalipun demikian masih dapat dikatagorikan sebagai perilaku BID`AH HASANAH. 

Demikian juga umat Islam yg melakukan pembacaan tahlil atau kirim doa untuk mayyt, baik itu pada hari ke 1, 2, 3, 7, 40, 100, 1000 atau melaksanakan perayaan maulid Nabi SAW, mengadakan isighatsah, dll adalah termasuk BIDAH HASANAH.

Sekalipun amalan-amalan ini tidak pernah dilakukan oleh Nabi SAW, namun masih terdapat dalil-dalil Alquran-Haditsnya sekalipun secara manawiyah.

Contoh mudah, tentang pembacaan tahlil (tahlilan masyarakat), bahwa isi kegiatan tahlilan adalah membaca surat Al-ikhlas, Al-falaq, Annaas. Amalan ini jelas-jelas adalah perintah Alquran-Hadits.

Dalam kegiatan tahlilan juga membaca kalimat Lailaha illallah, Subhanallah, astaghfirullah, membaca shalawat kepada Nabi SAW, yang jelas- jelas perintah Alquran-Hadits.

Dalam Tahlilan, ada juga pembacaan doa, padahal sesuai disabdakan oleh Nabi SAW : Adduaa-u mukhkhul ibadah. Atrinya : Doa itu adalah intisari ibadah.

Yang jelas, bahwa menhadiri majelis ta`lim atau majlis dzikir serta memberi jamuan kepada para tamu, adalah perintah syariat yang terdapat di dalam Alquran-Hadits.

Hanya saja mengemas amalan-amalan tersebut dalam satu rangkaian kegiatan acara tahlilan di rumah-rumah penduduk adalah BID`AH, tetapi termasuk BID`AH HASANAH.

Hal itu senada juga dengan shalat sunnah malam berjamaah yang dikhususkan di bulan Ramadhan, yang kini menjadi kebiasaan tokoh-tokoh Wahhabi Arab Saudi. 

Nabi SAW dan para ulama salaf, juga tidak pernah berdakwah lewat pemancar radio atau menerbitkan majalah dan bulletin. Bahkan pada saat awal Islam berkembang, Nabi SAW pernah melarang penulisan apapun yang bersumber dari diri beliau SAW selain penulisan Alquran.

Sebagaiman di dalam sabda beliau SAW : La taktub `anni ghairal quran, wa man yaktub `anni ghairal quran famhuhu. Artinya: Jangan kalian menulis dariku selain Alquran, barangsiapa menulis dariku selain Alquran maka hapuslah. Sekalipun pada akhir perkembangan Islam, Nabi SAW menghapus larangan tersebut dengan Hadits : Uktub li abi syah. Artinya: Tuliskanlah hadits untuk Abu Syah. 

Meskipun sudah ada perintah Nabi SAW untuk menuliskan Hadits, tetapi para ulama salaf tetap memberi batasan-batasan yang sangat ketat dan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh para muhadditsin.

Fenomena di atas sangat berbeda dengan penerbitan majalah atau bulletin.
 Dalam penulisan artikel untuk majalah atau bulletin, penulis hanyalah mencetuskan pemahaman dan pemikirannya, tanpa ada syarat-syarat yang mengikat, selain masalah susunan bahasa. Jika memenuhi standar jurnalistik maka artikel akan dimuat, sekalipun isi kandungannya jauh dari standar kebenaran syariat. 

Contohnya, dalam penulisan artikel, tidak ada syarat tsiqah (terpercaya) pada diri penulis, sebagaimana yang disyaratkan dalam periwayatan dan penulisan Hadits NabiSAW.

Jadi sangat berbeda dengan penulisan Hadits yang masalah ketsiqahan menjadi syarat utama untuk diterima-tidaknya Hadits yang diriwayatkannya.

Namun, artikel majalah atau bulletin dan yang semacamnya, jika berisi nilai-nilai kebaikan yang sejalan dengan syariat, dapat dikatagorikan sebagai BIDAH HASANAH, karena berdakwah lewat majalah atau bulletin ini, tidka pernah dilakukan oleh Nabi SAW maupun oleh ulama salaf manapun. Namun karena banyak manfaat bagi umat, maka dapat dibenarkaan dalam ajaran Islam, selagi tidak keluar dari rel-rel syariat yang benar.                                         

24.
Pengirim: agus prasetiya  - Kota: probolinggo
Tanggal: 23/12/2010
 
asslm.wr.wb
pak ustad gmn tnggapan anda tentang muktamar NU yg prtm kali d Surabaya yang ktanya dlm muktamar itu d jlskn bahwa selamatan itu bid'ah,ne saya dengar dr radio org wahhabi 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Pembacaan hasil muktamar NU itu banyak yang sudah dipotong-potong oleh Wahhabi, sehingga terkesan NU menghukumi bid'ah sesat terhadap selamatan/tahlilan. Biasa lah kerjaan Wahhabi kayak gitu, jangankan hasil muktamar NU, lah kitab-kitab ulama salaf saja sudah banyak yang dipotong sana-sini oleh Wahhabi, karena dianggap tidak cocok dengan aqidah mereka, lantas dimasukkan ke Maktabah Syamilah dan diinternetkan.

25.
Pengirim: rivan  - Kota: Jakarta
Tanggal: 17/1/2011
 
assalamu'alaikum
ustadz bagaimana dgn perkataan Imam syafii dlm kitab 'ianatut thalibin..yg mengatakan bahwa
apa yg dilakukan manusia dgn berkumpul di rumah keluarga si mati dan menyediakan makanan adalah termasuk perbuatan bid'ah yang mungkar? bagaimanakah ini? 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Jika disertai dengan niyahah maka hukumnya Bid'ah sesat. Niyahah adalah sengaja menangis-nangis dengan meraung-raung saat menyebut kematian si mayyit seperti yg jadi adat China (tangisan China), atau menyobek-nyobek baju, memukul-mukul tubuh dan menyumpah-nyumpah kematian seperti yang dilakukan oleh kaum Syiah. Tapi, jika yg dilakukan adalah membaca surat Yasin, kalimat thayyibah seperti subhanalllah walhamdulillah walailaha illallah, allahu akbar. Surat2 Alquran, dan mendoakan mayyit agar diampuni oleh Allah, maka jelas-jelas adalah amalan yang terpuji. Bahkan banyak dalil Alquran dan Hadits shahih yang memerintahkannya.

26.
Pengirim: assiddiqqi  - Kota: jepara
Tanggal: 27/1/2011
 
untuk saudara kacung..sudah jelas kalau dalam pembahasan ini anda yang mulai menyanggah, memfitnah, membenci, dan membunuh perasaan anda sendiri..

kenapa saudara kacung malah menuduh ustadz basori yang memfitnah, benci. saudara sadarlah menghormati pendapat ulama yang berbeda dengan anda.
anda seorang yang pintar dan cerdas, anda seorang alim ulama yang jeli tapi iman anda seakan2 hanya sampe di kerongkongan saja. masalah furufiya itu sama2 benar, yang salah adalah hati seseorang yang benci dan memutar balikkan alquran dan hadist.

saya saarankan kacung untuk mempelajari alquran n hadist dengan benar.
saudara kacung jika masih belum puas kami bersedia menyediakan tempat untuk bermusyawarah membahas alquran n hadist. kami siap untuk itu.
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Mudah-mudahan masih ada respon positif dari Kacung Marjan.

27.
Pengirim: ramadi  - Kota: belinyu
Tanggal: 26/11/2011
 
pk ustadz tidak satupun ummat islam yang melarang pembacaan lafaz tahlilan,..
tapi tidakkan pak ustadaz lebih mendalami Al-qur'an Surah An-Naml: 80
Yasin: 69-70
An-Najm: 38-39
dan Pendapat imam syafii yang merupakan mahzab sebagian umat islam di indonesia sendiri ???
Tidaklah haram apa - apa yang mereka baca, namun haram tersebut datang karna perbuatan yang mereka kerjakan, yang lebih mudah disebut haram perbuatan!! 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
1. Umat Islam yang mengamalkan TAHLILAN untuk saudaranya yang sudah wafat, apalagi jika dilakukan di rumah duka itu (bukan dikuburan) tidak sedang berbicara dengan mayyit, tetapi mereka mendoakan para mayyit agar amalan ibadah mayyit itu diterima oleh Allah, dan dosa-dosanya diampuni.

2. Ayat innaka laa tusmi'ul mautaa, (sesungguhnya engkau tidak dapat menjadikan orang-orang mati itu mendengar) jelas-jesas tidak relevan untuk menolak IKUT TAHLILAN YOOK ! karena konteksnya berbeda.

3. Ayat litundzira man kaana hayyan (supaya engkau memberi peringatan kepada orang yang hidup), menurut Ahli Tafsir : yang hidup hatinya), karena banyak orang kafir sekalipun orangnya masih hidup, tapi hatinya sudah mati, maka orang kafir jenis ini sudah dihukumi mati, sekalipun mereka masih dapat berjalan-jalan di pertokoan. Ayat ini juga tidak relevan untuk menolak IKUT TAHLILAN YOOK ! Karena tidak ada korelasinya.

3. Ayat wa allaa taziru waaziratun wizra ukhraa (bahwasannya orang yang berdosa itu tidak akan memikul dosanya orang lain), sekali lagi tidak ada korelasinya dengan IKUT TAHLILAN YOOK ! Ikut mendoakan sang mayyit yook, agar amal kebajikannya diterima oleh Allah, ikut memohonkan ampunan kepada Allah bagi sang mayyit yook, agar dosa-dosanya diampuni oleh Allah.

4. Ayat wa an laisa lil insaani illaa maa sa'aa (dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakan). Akhi perlu tahu bahwa ayat ini konon termaktub sebagai syariat Nabi Musa dan Nabi Ibrahim, coba perhatikan pada 3 ayat sebelumnya, bahwa sifatnya ini Allah menginformasikan kepada umat jaman Nabi Muhammad SAW tentang salah satu bentuk syariat Nabi Musa dan Nabi Ibrahim: am lam yunabba' bimaa fi suhufi muusaa wa ibraahiimal ladzii waffaa (ataukah belum diberitakan (kepada orang-orang yang berpaling dari Alquran) apa-apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji ? Yaitu bahawasnnya orang yang berdosa itu tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasannya seseorang itu tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.

Ayat ini tidak turun untuk umatnya Nabi Muhammad SAW yang mana syariat Nabi Muhammad SAW sangat berbeda dengan syariat nabi-nabi terdahulu. Syariat shalatnya Nabi Musa dan Nabi Isa misalnya adalah menghadap ke Baitul maqdis / Baitu lahmin (Betlehem), sedangkan syariatnya Nabi Muhammad SAW shalat wajib menghadap Ka'bah.

Perlu akhi ketahui bahwa syariatnya Nabi Muhammad SAW tentang bolehnya orang Islam yang masih hidup mendoakan orang Islam yang sudah wafat, tertulis dalam firman Allah : walladziina jaa-uu min ba'dihim yaquuluuna rabbanaghfir lanaa wa li ikhwaaninal ladziina sabaquunaa bil iimaan (dan orang-orang (para Tabi'in dan Tabiut tabi'in, dst) yang datang sesudah priode mereka (kaum Muhajirin dan Anshar) memohon: Wahai Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilan saudara-saudara kami yang telah beriman mendahului kami (baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat, karena kenyataannya di jaman para Tabi'in apalagi para Tabi'ut tabi'in, maka banyak kaum Muhajirin dan Anshar yang telah wafat ). Lihat tafsir surat Alhasyr 10.

Jadi, gugatan akhi dari awwal sampai akhir sebagaimana tercantum di atas, bukanlah dasar yang benar untuk menolak IKUT TAHLILAN YOOK... !

28.
Pengirim: Ahmad alQuthfby  - Kota: Probolinggo
Tanggal: 28/11/2011
 
ramadi - Kota: belinyu
Tanggal: 26/11/2011 pk ustadz tidak satupun ummat islam yang melarang pembacaan lafaz tahlilan,..
tapi tidakkan pak ustadaz lebih mendalami Al-qur'an Surah An-Naml: 80
Yasin: 69-70
An-Najm: 38-39
dan Pendapat imam syafii yang merupakan mahzab sebagian umat islam di indonesia sendiri ???
Tidaklah haram apa - apa yang mereka baca, namun haram tersebut datang karna perbuatan yang mereka kerjakan, yang lebih mudah disebut haram perbuatan!!
-----------------------------------------
Waduh-waduh rupa-rupanya banyak yg kerasukan doktrinasi wahhabi…..
Surah an-Najm tersebut sangat tdk tepat + salah kaprah + tdk cermat + tdk pintar, jika dijadikan sbg dalil utk menolak adanya hadiah pahala/manfaat utk si mayyit. Bila kaum wahabi konsisten dan konsekwen, maka dg penafsiran kaum wahabi juga harus mengatakan bahwa semua amalan muslimin yg masih hidup baik itu dari anaknya atau orang lain tdk bs memberi manfaat atau sayafaat kepada si mayit. Apalagi menurut pakar tafsir sejak 1400 tahun silam, sayyidina ibn abbas, menyatakan bahwa surah an-Najm tersebut dinasakh dengan surah at-Thur ayat 21. mau melawana pakar tafsir ibn abbas yg memang oleh Rasul dilegitimasi sbg pemegang ilmu tentang qur’an..?

Al-Hafizh Syamsuddin bin Abdul Wahid al-Maqdisi berkata dalam risalahnya tentang sampainya pahala bacaan al-Qur’an kepada orang yang meninggal, bahwa mayoritas ulama telah menjawab argumentasi Imam al-Syafi’i di atas dengan beberapa hujjah berikut ini:
Pertama, ayat QS. al-Najm : 39 telah di-nasakh (diganti status hukumnya) dengan ayat:
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ. (الطور : 21).
“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka.” (QS. al-Thur : 21).
Ayat ini menerangkan, bahwa Allah memasukkan anak cucu ke surga karena kesalehan leluhurnya.

Kedua, ayat QS. al-Najm : 39 di atas khusus bagi kaum Nabi Ibrahim  dan Nabi Musa . Sedangkan umat Islam, akan memperoleh apa yang mereka usahakan sendiri dan yang diusahakan orang lain untuk mereka sebagaimana dikatakan oleh Ikrimah.

Ketiga, yang dimaksud dengan manusia dalam QS. al-Najm : 39 tersebut adalah orang kafir. Sedangkan orang mukmin akan memperoleh pahala yang diusahakannya sendiri dan yang diusahakan orang lain untuknya, sebagaimana dikatakan oleh al-Rabi’ bin Anas.

Keempat, seorang manusia memang hanya akan memperoleh pahala dari apa yang diusahakannya sendiri berdasarkan keadilan Tuhan. Akan tetapi jika melihat anugerah Tuhan, boleh saja Allah menambah pahalanya dengan apa yang diusahakan orang lain untuknya sesuai dengan yang dikehendaki-Nya, sebagaimana dikatakan oleh al-Husain bin al-Fadhal.

Kelima, huruf jar lam dalam kalimat lil-insan bermakna ‘ala, yaitu manusia hanya akan disiksa karena apa yang diusahakannya. Jadi ayat tersebut berkaitan dengan siksa, bukan pahala.

Sedangkan ayat2 lain yg maz ramadi nukil itu tdk nyambung alias tdk tepat jika ayat2 diatas dijadikan hujjah. Ayat2 buat org kafir jgn diperuntukkan terhadap kaum muslim.

Pendapat imam syafi’I yg mana?
Tidak ada pernyataan Imam Syafi’i maupun para ulama besar pengikut madzhabnya seperti Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Imam Ibnu Katsir, Imam ar-Ramli dan lain-lain yang menghukumi Tahlilan dan Yasinan sebagai perbuatan haram dan bid’ah. Seharusnya mas ramadi juga mengajukan data-data bahwa Imam Syafi’i dan para ulama besar pengikut madzhabnya menghukumi haram dan bid’ah terhadap Tahlilan dan Yasinan.


 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Tambahan ilmu yang bermanfaat untuk akhi Ramadi, Belinyu. Mudah-mudahan dapat mencerahkan hati dan aqidahnya.
IKUT TAHLILAN YOOK !

29.
Pengirim: Din Hikmah  - Kota: kaliwungu - kendal
Tanggal: 20/3/2012
 
Dari dulu wahabi bisa nya cuman mencaci, menghujat, mengkafirkan, dan selalu merasa benar dalam aqidah..

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah memperingatkan:

أَيُّمَا رَجُلٍ قَالَ لأَخِيهِ يَا كَافِرُ . فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا

“Siapa saja yang mengatakan kepada saudaranya, “Wahai kafir”, maka ucapan tersebut pasti kembali kepada salah seorang dari keduanya.”
[HR. Al-Bukhari (6103, 6104) dan Muslim (225)]

Juga sabda Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam:

لاَ يَرْمِى رَجُلٌ رَجُلاً بِالْفُسُوقِ ، وَلاَ يَرْمِيهِ بِالْكُفْرِ ، إِلاَّ ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ ، إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِك

“Tidaklah seorang menuduh orang lain dengan kefasikan dan kekafiran, kecuali akan kembali kepada penuduhnya apabila orang yang dituduh tidak seperti itu.”
[HR. Al-Bukhari (5698)]

Juga sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

وَمَنْ دَعَا رَجُلاً بِالْكُفْرِ أَوْ قَالَ عَدُوَّ اللَّهِ. وَلَيْسَ كَذَلِكَ إِلاَّ حَارَ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang memanggil seseorang dengan kekafiran, atau mengatakan, “Wahai musuh Allah”, padahal tidak seperti itu, maka (ucapan tersebut) kembali kepadanya.”
[HR. Muslim (226)]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadits ini sebagai peringatan keras kepada setiap muslim, jangan sampai menuduh saudara muslimnya dengan kekafiran atau kefasikan.”
[Lihat Fathul Bari (10/466)]

Al-Imam Ibnu Daqiqil ‘Ied rahimahullah berkata, “Ini adalah ancaman besar bagi siapa yang mengkafirkan seorang muslim padahal dia tidak kafir.” [Lihat Ihkamul Ahkam (hal. 420)]

Semoga Semua antek-antek Wahabi bisa sadar..Amiin..

http://www.dinhikmah.com/
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Mudah-mudahan mereka sadar dengan sebaik-baik kesadaran, setelah membaca hadits-hadits Nabi SAW di atas.

30.
Pengirim: santri mbeling  - Kota: ponorogo
Tanggal: 15/7/2012
 
syukron ...ilmunya,,,sy dulu prnh belajar ngaji di ponpes salaffiyah curah kates jember..teman2 yg mgkn alumni ponpes curah kates jember tlg hub sy .mksh 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Silaturrahim membawa berkah.

31.
Pengirim: Om Anas  - Kota: SBY
Tanggal: 14/10/2012
 
Tidak usah bertele-tele. Mudah saja....
1. Kenapa Manusia terbaik, yang paling sholeh, yang paling taqwa, yang paling ikhlas, yang paling berilmu yaitu Rosulullaah SAW tidak melakukan tahlilan dihari 3,7,40,100 dll? Ingat pertanyaanya : MENGAPA BELIAU TIDAK MELAKUKANNYA ???? Sedang ketika itu dijumpai ada sahabat yang meninggal dunia, bahkan anak Rosulullaah SAW meninggal tidak ada acara tersebut. MENGAPA BELIAU TIDAK MELAKUKANNYA ????
2. Mengapa pula para sahabat yang jumlahnya ribuan tidak ada satupun yang melakukan ritual itu ????
3. Mengapa pula IMAM2 KITA YANG EMPAT TIDAK ADA YANG MELAKUKANNYA ????
4. Jika daun kurma diyakini bisa meringankan siksa kubur maka alangkah senangnya orang yang dikubur di daerah kebun kurma, karena tdk kering2. Bukan begitu maksudnya tapi baca dgn seksama kisah tersebut.
5. Klo permasalahan ini dibuka lebar saya kuatir orang semakin malas ibadah dan rajin maksiat sebab hanya menyandarkan pada banyak hadiah yg datang. Klo begitu klo para koruptor mati mereka tenang2 saja, kan duitnya bisa untuk undang jutaan orang untuk mendoakannya. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Memang tidak perlu bertele-tele, kami aktif melaksanakan Tahlilan, nyekar bunga dan baca Alquran di kuburan juga karena tidak ada satupun larangan dari Alquran maupun Hadits, bahkan Nabi SAW membuka luas wilkayah untuk kami itu. Sabda beliau SAW : Maa taraktuhu lakum fahuwa afwun (amalan baik yang aku tinggalkan itu maka diperkenankan untuk kalian), karena itu yang rajin baca artikel-artikel Pejuang Islam dengan hati terbuka dan ikhlas, pasti banyak manfaat untuk akhi.

Ya akhi, Nabi SAW dan para shahabat juga tidak pernah berdakwah dan berdiskusi agama lewat dunia maya, karena silaturrahim lewat dunia maya ini bid'ah, namun akhi dan kaum Wahhabi lainnya tampak sangat gemar dengan dunia maya, padahal Nabi SAW dan para shahabat tidak pernah mengamalkannya, jadi mengapa akhi kok gemar ?

32.
Pengirim: aris  - Kota: Majalengka
Tanggal: 15/10/2012
 
tanggapan untuk Anas-SBY

Tidak usah bertele-tele. Mudah saja....
1. Kenapa Manusia terbaik, yang paling sholeh, yang paling taqwa, yang paling ikhlas, yang paling berilmu yaitu Rosulullaah SAW tidak melakukan tahlilan dihari 3,7,40,100 dll? Ingat pertanyaanya : MENGAPA BELIAU TIDAK MELAKUKANNYA ???? Sedang ketika itu dijumpai ada sahabat yang meninggal dunia, bahkan anak Rosulullaah SAW meninggal tidak ada acara tersebut. MENGAPA BELIAU TIDAK MELAKUKANNYA ????
- Sesuatu yang tidak pemah dikerjakan oleh Rasulullah SAW, atau para sahabat dan ulama salaf itu belum tentu dilarang atau tidak boleh. Didalam agama itu mengharamkan sebuah perbuatan adalah berdasarkan quran dan hadist, bukan berdalil karena Rasul tidak melakukannya.

2. Mengapa pula para sahabat yang jumlahnya ribuan tidak ada satupun yang melakukan ritual itu ????
- idem dg jawaban diatas pada poin 1

3. Mengapa pula IMAM2 KITA YANG EMPAT TIDAK ADA YANG MELAKUKANNYA ????
- idem dg jawaban diatas pada poin 1

4. Jika daun kurma diyakini bisa meringankan siksa kubur maka alangkah senangnya orang yang dikubur di daerah kebun kurma, karena tdk kering2. Bukan begitu maksudnya tapi baca dgn seksama kisah tersebut.
- silahkan kuburan keluarga anda ditanami pohon kurma. Memang begitu maksudnya. Terus menurut anda apa maksudnya?

5. Klo permasalahan ini dibuka lebar saya kuatir orang semakin malas ibadah dan rajin maksiat sebab hanya menyandarkan pada banyak hadiah yg datang. Klo begitu klo para koruptor mati mereka tenang2 saja, kan duitnya bisa untuk undang jutaan orang untuk mendoakannya.
- Memang mendoakan itu berdalil. Boleh saja anda berasumsi seperti itu. Jadi untuk masalah koruptor terampuni dosanya oleh karena doa para undangam, maka itu menjadi hak prerogratif Alloh, sudah bukan lagi menjadi ranah urusan kita. Kalo tidak diampuni, maka itu juga Alloh yang menentuken.

 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Ini juga ada faedah pendewasaan berpikir bagi Om Anas dari akhi Aris, semoga bermanfaat.

33.
Pengirim: Uci  - Kota: Bekasi
Tanggal: 8/11/2012
 
Siapa bilang nasi itu haram
Siapa bilang goreng ikan itu haram
Siapa bilang teh manis itu haram
tapi kalau disalah gunakan dipakai nyuguh para arwah yang sudah meninggal atau untuk nyuguhin tuan Brosman penjaga jalan tol apa masi halal ? 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Maaf, tulisan anda tidak jelas arahnya kemana.

34.
Pengirim: Uci  - Kota: Bekasi
Tanggal: 12/11/2012
 
Pejuang Islam yang saya hormati
Pertama saya menanggapi tulisan anda dengan dasar adits Rosulallah Salallahu Alaihi Wasalama dari Ibunda kaum mu’minin, Ummu Abdillah ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha, dia berkata: ”Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: ”Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu (amalan) dalam urusan (agama) kami yang bukan dari kami, maka (amalan) itu tertolak.” (HR. Bukhori dan Muslim). Dan dalam riwayat Muslim: “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka itu tertolak.”
Bahwa sesungguhnya :
1. Rosul SAW mempunyai 11 orang istri dan 1 orang budak ( Maria al Qabtiyya ) serta 7 orang anak yang terdiri dari 3 orang laki laki yaitu Al- Qasim , Abdullah, dan Ibrahim dan 4 orang perempuan yang dengan kehendak Allah ketiga anak laki laki yang amat disayangi Rasul SAW wafat saat masih kecil .
Apakah dengan wafatnya satu per satu putra kesayangan Rasulallah SAW, Rasul mencontohkan kepada kita umatnya untuk mengadakan tahlilan bagi putra putranya ?

2. Dan pada tanggal 10 Ramadhan bertepatan dengan tahun ke 10 kenabian yaitu pada 619 Masehi wafatlah seorang mujahidah suci yang sabar dan teguh imannya yaitu Sayyidah Siti Khadijah binti Khuwailid dan dimakamkan didataran tinggi Makkah yang disebut al-Hajun beliau adalah istri kesayangan Rasullah SAW yang dinikahinya pada 595 Masehi yang pada saat itu Rasulallah SAW berusia 25 tahun dan Siti Khadijah binti Khuwailid bin As’ad bin Abdul Uzza bin Qushai berumur 40 tahun .
Betapa berduka citanya Rasulallah SAW saat itu dan apakah dengan wafatnya Khadijah Rasulallah SAW mengadakan tahlilan yang pahalanya diperuntukkan bagi Istri kesayangan

3. Selanjutnya pada tahun ke 11 hijriyah yakni pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal Rasulallah tercinta Muhammad Salallahu Alaihi Wasalam bin Abdullah pada usia 63 tahun Betapa bersedihnya Aisyah binti Abubakar RA istri yang selalu mendapingi dan banyak meriwayatkan hadits2 Rasulallah, serta Abubakar sidik RA yang selain sahabat, Abubakar sidik RA juga adalah orang tua Rasulallah setelah Abdullah ( mertua ), Umar bin Khatab RA selain sahabat, juga orang tua setelah Abdullah dan Abubakar Sidik ( mertua ) beserta para sahabat Hulafaurrasyidin lainnya, betapa bersedih dan berdukanya mereka ditinggal Rasulallah Al Amin tercinta
Apakah dengan wafatnya Rasulallah SAW Aisah RA Istri beliau dan para sahabat Hulafaurrasyidin mengadakan tahlilan untuk Rasulallah ?

ternyata dari ketiga peristiwa yang memilukan Beliu ini baik Rosul atau istri Rosul Aisah dan para sahabat Hulafaur rasyiddin tidak ada menyontohkan kepada kita untuk acara bertahlilan seperti yang hanya di Indonesia dan Malaysia kadang kita lihat oleh karena ternyata bahwa acara tahlilan itu adalah tuntunan walisongo yang mengadopsi dari ritual orang2 hindu dan budha hanya kita apakah akan mengikuti tuntunan Rosul atau tuntunan walisanga.

Masalah keimanan saya sangat setuju dengan pendapat anada tentang :
Tidak beriman kepada Allah orang yang berani mengharamkan bacaan surat Alfatihah.
* Tidak beriman kepada Allah orang yang berani mengharamkan
bacaan surat Yaasiin, surat Al-ikhlas, surat Alfalaq dan surat Annaas.
* Tidak beriman kepada Allah orang yang berani mengharamkan bacaan tasbih (subhanallah).
* Tidak beriman kepada Allah orang yang berani mengharamkan
bacaan hauqalah (la haula wala quwwata illa billah)
* Tidak beriman kepada Allah orang yang berani mengharamkan
bacaan shalawat kepada Nabi SAW.
* Tidak beriman kepada Allah orang yang berani mengharamkan
shadaqah memberi makan tamu baik yang dikenal maupun yang belum dikenal.
* Tidak beriman kepada Allah orang yang berani mengharamkan
pelaksanaan majlis ta`lim.
hanya saja bukan Fatihahnya atau bacaanYasinnya dan lain sebagainya yang saya tidak setuju tapi penggunaanya hal itu sama seperti dukun lepus yang berusaha meramal nasib pasiennya dengan mengunakan ayat2 Al Qur'an jadi bukan membaca ayat qur'annya yang saya tidak setuju tapi penggunaanya untuk hal2 yang bertentangan dengan yang dituntun Rosul.

 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM

Pejuang Islam yang saya hormati Pertama saya menanggapi tulisan anda dengan dasar adits Rosulallah Salallahu Alaihi Wasalama dari Ibunda kaum mu’minin, Ummu Abdillah ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha, dia berkata: ”Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: ”Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu (amalan) dalam urusan (agama) kami yang bukan dari kami, maka (amalan) itu tertolak.” (HR. Bukhori dan Muslim). Dan dalam riwayat Muslim: “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka itu tertolak.” =============== Apa semua yg tdk ada perintahnya tertolak??? Banyak hal yg tdk diperintah Rasul, namun dilakukan oleh para sahabat. Dalam kitab Majmu' Fatawa Syaikh al-Islam Ibn Taimiah disebutkan: "Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah ditanya, tentang seseorang yang memprotes ahli dzikir (berjamaah) dengan berkata kepada mereka, "Dzikir kalian ini bid'ah, mengeraskan suara yang kalian lakukan juga bid'ah". Mereka memulai dan menutup dzikirnya dengan al-Qur'an, lalu mendo’akan kaum Muslimin yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Mereka mengumpulkan antara tasbih, tahmid, tahlil, takbir, hauqalah (laa haula wa laa quwwata illa billaah) dan shalawat kepada Nabi SAW. Lalu Ibn Taimiyah menjawab: "Berjamaah dalam berdzikir, mendengarkan al-Qur'an dan berdoa adalah amal shaleh, termasuk qurbah dan ibadah yang paling utama dalam setiap waktu. Dalam Shahih al- Bukhari, Nabi SAW bersabda, "Sesungguhrrya Allah memiliki banyak Malaikat yang selalu bepergian di muka bumi. Apabila mereka bertemu dengan sekumpulan orang yang berdzikir kepada Allah, maka mereka memanggil, "Silahkan sampaikan hajat kalian", lanjutan hadits tersebut terdapat redaksi, "Kami menemukan mereka bertasbih dan bertahmid kepada-Mu"... Adapun memelihara rutinitas aurad (bacaan-bacaan wirid) seperti shalat, membaca'a Bahwa sesungguhnya : 1. Rosul SAW mempunyai 11 orang istri dan 1 orang budak ( Maria al Qabtiyya ) serta 7 orang anak yang terdiri dari 3 orang laki laki yaitu Al- Qasim , Abdullah, dan Ibrahim dan 4 orang perempuan yang dengan kehendak Allah ketiga anak laki laki yang amat disayangi Rasul SAW wafat saat masih kecil . Apakah dengan wafatnya satu per satu putra kesayangan Rasulallah SAW, Rasul mencontohkan kepada kita umatnya untuk mengadakan tahlilan bagi putra putranya ? 2. Dan pada tanggal 10 Ramadhan bertepatan dengan tahun ke 10 kenabian yaitu pada 619 Masehi wafatlah seorang mujahidah suci yang sabar dan teguh imannya yaitu Sayyidah Siti Khadijah binti Khuwailid dan dimakamkan didataran tinggi Makkah yang disebut al-Hajun beliau adalah istri kesayangan Rasullah SAW yang dinikahinya pada 595 Masehi yang pada saat itu Rasulallah SAW berusia 25 tahun dan Siti Khadijah binti Khuwailid bin As’ad bin Abdul Uzza bin Qushai berumur 40 tahun . Betapa berduka citanya Rasulallah SAW saat itu dan apakah dengan wafatnya Khadijah Rasulallah SAW mengadakan tahlilan yang pahalanya diperuntukkan bagi Istri kesayangan 3. Selanjutnya pada tahun ke 11 hijriyah yakni pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal Rasulallah tercinta Muhammad Salallahu Alaihi Wasalam bin Abdullah pada usia 63 tahun Betapa bersedihnya Aisyah binti Abubakar RA istri yang selalu mendapingi dan banyak meriwayatkan hadits2 Rasulallah, serta Abubakar sidik RA yang selain sahabat, Abubakar sidik RA juga adalah orang tua Rasulallah setelah Abdullah ( mertua ), Umar bin Khatab RA selain sahabat, juga orang tua setelah Abdullah dan Abubakar Sidik ( mertua ) beserta para sahabat Hulafaurrasyidin lainnya, betapa bersedih dan berdukanya mereka ditinggal Rasulallah Al Amin tercinta Apakah dengan wafatnya Rasulallah SAW Aisah RA Istri beliau dan para sahabat Hulafaurrasyidin mengadakan tahlilan untuk Rasulallah?. ternyata dari ketiga peristiwa yang memilukan Beliu ini baik Rosul atau istri Rosul Aisah dan para sahabat Hulafaur rasyiddin tidak ada menyontohkan kepada kita untuk acara bertahlilan seperti yang hanya di Indonesia dan Malaysia. ================ "Sesuatu yang tidak pemah dikerjakan oleh Rasulullah SAW, atau para sahabat dan ulama salaf itu belum tentu dilarang atau tidak boleh. Tradisi mirip tahillan telah ada sejak generasi sahabat Nabi SAW.. Al-Imam Sufyan, seorang ulama salaf berkata: "Dari Sufyan, bahwa Imam Thawus berkata, "Sesungguhnya orang yang meninggal akan diuji di dalam kubur selama tujuh hari, oleh karena itu mereka (kaum salaf) menganjurkan bersedekah makanan untuk keluarga yang meninggal selama tujuh hari. tersebut." (HR al-Imam Ahmad dalam al-Zuhd al-Hafizh Abu Nu'aim, dalam Hilyah al-Auliya’ juz 4, hal 11 dan al-Hafizh Ibn Hajar dalam al-Mathalib al- 'Aliyah, juz5, hal 330) Karena ternyata bahwa acara tahlilan itu adalah tuntunan walisongo yang mengadopsi dari ritual orang2 hindu dan budha hanya kita apakah akan mengikuti tuntunan Rosul atau tuntunan walisanga. Masalah keimanan saya sangat setuju dengan pendapat anada tentang : Tidak beriman kepada Allah orang yang berani mengharamkan bacaan surat Alfatihah. * Tidak beriman kepada Allah orang yang berani mengharamkan bacaan surat Yaasiin, surat Al-ikhlas, surat Alfalaq dan surat Annaas. * Tidak beriman kepada Allah orang yang berani mengharamkan bacaan tasbih (subhanallah). * Tidak beriman kepada Allah orang yang berani mengharamkan bacaan hauqalah (la haula wala quwwata illa billah) * Tidak beriman kepada Allah orang yang berani mengharamkan bacaan shalawat kepada Nabi SAW. * Tidak beriman kepada Allah orang yang berani mengharamkan shadaqah memberi makan tamu baik yang dikenal maupun yang belum dikenal. * Tidak beriman kepada Allah orang yang berani mengharamkan pelaksanaan majlis ta`lim. hanya saja bukan Fatihahnya atau bacaanYasinnya dan lain sebagainya yang saya tidak setuju tapi penggunaanya hal itu sama seperti dukun lepus yang berusaha meramal nasib pasiennya dengan mengunakan ayat2 Al Qur'an jadi bukan membaca ayat qur'annya yang saya tidak setuju tapi penggunaanya untuk hal2 yang bertentangan dengan yang dituntun Rosul. =============== Dalam tahlilan tdk ada ajaran yg bertentangan dengan tuntunan Rosul, bahkan sesuai dengan tuntunan rasul. 'Tidaklah sekelompok orang yang duduk sambil berzikir kepada Allah kecuali para malaikat akan mengelilinginya, rahmat kasih sayang Allah akan meliputinya, ketenangan akan diturunkan kepadanya dan Allah akan menyebut-nyebut mereka dihadapan makhluk yang ada disisiNya". (HR Ahmad, Muslim, al-Tirmidzi, Ibn Majah, Ibnu Abi Syaibah dan al-Baihaqi dari Abi Hurairah dan Abi Sa'id al- Khudri). Ada perbedaan antara tradisi Hindu dengan Tahlilan. Dalam tradisi Hindu, selama tujuh hari dari kematian, biasanya diadakan ritual selamatan dengan hidangan makanan yang diberikan kepada para pengunjung, disertai dengan acara sabung ayam, permainan judi, minuman keras dan kemungkaran lainnya. Sedangkan dalam tahlilan, tradisi kemungkaran seperti itu jelas tidak ada. Dalam tradisi Tahlilan, diisi dengan bacaan al-Qur'an, dzikir bersama kepada Allah SWT serta selamatan (sedekah) yang pahalanya dihadiahkan kepada mayit. Jadi, antara kedua tradisi tersebut jelas berbeda. Sedangkan berkaitan dengan acara tujuh hari yang juga menjadi tradisi Hindu, dalam Islam sendiri, tradisi selamatan tujuh hari telah ada sejak generasi sahabat Nabi SAW.. Al-Imam Sufyan, seorang ulama salaf berkata: "Dari Sufyan, bahwa Imam Thawus berkata, "Sesungguhnya orang yang meninggal akan diuji di dalam kubur selama tujuh hari, oleh karena itu mereka (kaum salaf) menganjurkan bersedekah makanan untuk keluarga yang meninggal selama tujuh hari. tersebut." (HR al-Imam Ahmad dalam al-Zuhd al-Hafizh Abu Nu'aim, dalam Hilyah al-Auliya’ juz 4, hal 11 dan al-Hafizh Ibn Hajar dalam al-Mathalib al- 'Aliyah, juz5, hal 330). Riwayat di atas menjelaskan bahwa tradisi selamatan selama tujuh hari telah berjalan sejak generasi sahabat Nabi Sudah barang tentu, para sahabat dan genetaj salaf tidak mengadopsinya dari orang Hindu. Karena orang-orang Hindu tidak ada di daerah Arab. Dan seandainya tradisi selamatan tujuh hari tersebut diadopsi dari tradisi Hindu, maka hukumnya jelas tidak haram, bahkan bagus untuk dilaksanakan, mengingat acara dalam kedua tradisi tersebut sangat berbeda. Dalam selamatan tujuh hari, kaum Muslimin berdzikir kepada Allah. Sedangkan orang Hindu melakukan kemungkaran. Dalam hadits shahih Rasulullah bersabda: "Dari Ibn Mas'ud Rasulullah SAW bersabda: "Orang yang berdzikir kepada Allah di antara kaum yang lalai kepada Allah, sederajat dengan orang yang sabar di antara kaum yang melarikan diri dari medan peperangan." (HR. al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir dan al-Mu’jam al-Ausath. Alhafizh al-Suyuthi menilai hadits tersebut shahih dalam al-Jami’ al-Shaghir). Dalam acara tahlilan selama tujuh hari kematian, kaum Muslimin berdzikir kepada Allah, ketika pada hari tersebut orang Hindu melakukan sekian banyak kemungkaran. Betapa indah dan mulianya tradisi tahlilan itu. Dan seandainya tasyabuh dengan orang Hindu dalam selamatan tujuh hari tersebut dipersoalkan, Rasulullah SAW telah mengajarkan kita cara menghilangkan tasyabuh (menyerupai orang-orang ahlul kitab) yang dimakruhkan dalam agama, Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah SAW bersabda: “Ibn Abbas berkata: "Setelah Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan kaum Muslimin juga berpuasa, mereka berkata: “Wahai Rasulullah, hari Asyura itu diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani." Rasulullah SAW menjawab: "Kalau begitu, tahun depan, kita berpuasa pula tanggal sembilan." Ibn Abbas berkata: 'Tahun depan belum sampai ternyata Rasulullah SAW telah wafat" (HR. Muslim dan Abu Dawud). Dalam hadits di atas, para sahabat menyangsikan perintah puasa pada hari Asyura, di mana hari tersebut juga diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Sementara Rasulullah SAW telah menganjurkan umatnya agar selalu menyelisihi (mukhalafah) orang-orang Yahudi dan Nasrani. Temyata Rasulullah memberikan petunjuk, cara menyelisihi mereka, yaitu dengan berpuasa sejak sehari sebelum Asyura, yang disebut dengan Tasu'a', sehingga tasyabbuh tersebut menjadi hilang.

35.
Pengirim: orang awam  - Kota: jakarata
Tanggal: 5/6/2013
 
pernah ada seorang yang mensurvey tentang tahlilan ini di daerah bintaro, kesimpulannya seseorang minimal menghabiskan uang sekitar 7 juta rupiah untuk acara2 tersebut mulai dari proses kematian (sholatin mayit dapet beras, amplop utk ustad, berkat tahlilan dst) sampai tahlilannya, sehingga sangat memberatkan untuk orang yg kondisi ekonominya sulit, ditambah lagi ketika orang tidak tahlilan maka akan dimusuhi tetangganya dianggap wahabi sehingga banyak org yg mengutang untuk tahlilan.

contoh seorang tukang ojek yg kehilangan mata pencahariannya karena musti menjual motornya untuk membiayai tahlilan kematian keluarganya.

jadi dari segi dunia sudah jelas tahlilan ini sebenarnya meresahkan alias komoditi , ustad dan jamaah yg demen amplop dan berkat. dari segi agama selain mengikuti pola (agama hindu hitungan hari 7, 40,100), juga jelas mematikan sunnah , memberi makan kepada org yg kesusahan (hadist keluarga ja'far).

apalagi nabi dan para sahabatnya bahkan imam2 mazhab tidak pernah menjalankannya.

alasannya cuman satu untuk melestarikan tahlilan adalah tahlilan ini bagus bagi ustad2 kampung yg demen amplop yg takut kehilangan mata pencahariannya dan jamaah yg demen makan berkat dari org yg kesusahan.

wallahul musta'an. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Lah, yang mensurvey-nya itu orang Wahhabi awam (tida mengerti ilmu), yaa passti saja tidak cocok dengan realita yang ada. Bahkan ada kemungkinan besar pensurvey-nya yang Wahhabi awam itu, sebenarnya mau menulis Tujuh Ratus Ribu, karena dia awam terhadap hitung-hitungan maka ditulis Tujuh Juta. Karena yang menerima hasil survey-nya juga orang awam, maka berita itu ditelan mentah-mentah, lantas dikarenakan tingkat intelektual penerimanya juga masih awam maka dia juga berani berkoar-koar dan membantah hukum syariat, hanya berdasar survey-nya orang awam. Mudah-mudahan Allah berkenan mengampuninya, sekalipun keyakinannya itu sangat bertentangan dengan syariat, karena keawamannya.

36.
Pengirim: gusjan  - Kota: nganjuk
Tanggal: 20/8/2013
 
Di postingan sebelah ada yg komen, kl TAHLIL an untuk membedakan hewan dan manusia..

sy jawab sederhana....

1, Kalau anda non muslin, gk masalah
2. Kalau anda muslim, sungguh.., anda mengatakan, Tahlilan untuk mebedakan manusia dan hewan.
sy suka membaca sejarah apa saja, termasuk sejarah kehidupan Rosululloh SAW. Beliau memiliki 6 anak. Pertama laki2 bernama Qosim (meninggal sewaktu masih kecil), yang empat orang perempuan, termasuk Fatimah dan yg terakhir Ibramim (meninggal sewaktu masih kecil).
Ketika Nabi masih hidup, putra-putri beliau yg meninggal tidak satupun di TAHLILI, kl di do'akan sudah pasti, karena mendo'akan orang tua, mendo'akan anak, mendo'akan sesama muslim amalan yg sangat mulia.
Kalau sdr sebelah mengatakan Tahlilan untuk menbedakan hewan dan manusia, sungguh..., secara tdk langsung, sadar atau tdk sadar.., anda mengatakan anak2 Nabi SAW yg meninggal semua hewan. Padahal ketika putra beliau QOSIM, IBRAHIM dan beberapa putri beliau meninggal, beliau masih hidup, kecuali FATIMAH. FATIMAH meninggal tdk berapa lama setalah NABI SAW wafat.

Ketika NABI wafat, tdk satu sahabatpun yg TAHLILAN untuk NABI,
padahal ABU BAKAR adalah mertua NABI,
UMAR bin KHOTOB mertua NABI,
UTSMAN bin AFFAN menantu NABI 2 kali malahan,
ALI bin ABI THOLIB menantu NABI.
Apakah para sahabat BODOH....,
Apakah para sahabat menganggap NABI hewan.... (menurut kalimat sdr sebelah)
Apakah Utsman menantu yg durhaka.., mertua meninggal gk di TAHLIL kan...
Apakah Ali bin Abi Tholib durhaka.., mertua meninggal gk di TAHLIL kan....
Apakah mereka LUPA ada amalan yg sangat baik, yaitu TAHLIL an koq NABI wafat tdk di TAHLIL i..

Saudaraku semua..., sesama MUSLIM...
saya dulu suka TAHLIL an, tetapi sekarang tdk pernah sy lakukan. Tetapi sy tdk pernah mengatakan mereka yg tahlilan berati begini.. begitu dll. Para tetangga awalnya kaget, beberapa dr mereka berkata:" sak niki koq mboten nate ngrawuhi TAHLILAN Gus.."
sy jawab dengan baik:"Kanjeng Nabi soho putro putrinipun sedo nggih mboten di TAHLILI, tapi di dongak ne, pas bar sholat, pas nganggur leyeh2, lan sakben wedal sak saget e...? Jenengan Tahlilan monggo..., sing penting ikhlas.., pun ngarep2 daharan e..."
mereka menjawab: "nggih Gus...".

sy pernah bincang-bincang dg kyai di kampung saya, sy tanya, apa sebenarnya hukum TAHLIL an..?
Dia jawab Sunnah.., tdk wajib.
sy tanya lagi, apakah sdh pernah disampaikan kepada msyarakat, bahwa TAHLILAN sunnah, tdk wajib...??
dia jawab gk berani menyampaikan..., takut timbul masalah...
setelah bincang2 lama, sy katakan.., Jenengan tetap TAHLIl an silahkan, tp cobak saja disampaikan hukum asli TAHLIL an..., sehingga nanti kita di akhirat tdk dianggap menyembunyikan ILMU, karena takut kehilangan anggota.., wibawa dll.

Untuk para Kyai..., sy yg miskin ilmu ini, berharap besar pada Jenengan semua...., TAHLIL an silahkan kl menurut Jenengan itu baik, tp sholat santri harus dinomor satukan..
sy sering kunjung2 ke MASJID yg ada pondoknya. tentu sebagai musafir saja, rata2 sholat jama'ah nya menyedihkan.
shaf nya gk rapat, antar jama'ah berjauhan, dan Imam rata2 gk peduli.
selama sy kunjung2 ke Masjid2 yg ada pondoknya, Imam datang langsung Takbir, gk peduli tentang shaf...

Untuk saudara2 salafi..., jangan terlalu keras dalam berpendapat...
dari kenyataan yg sy liat, saudara2 salfi memang lebih konsisten.., terutama dalam sholat.., wabil khusus sholat jama'ah...
tapi bukan berati kita meremehkan yg lain.., kita do'akan saja yg baik...
siapa tau Alloh SWT memahamkan sudara2 kita kepada sunnah shahihah dengan lantaran Do'a kita....

demikian uneg2 saya, mohon maaf kl ada yg tdk berkenan...
semoga Alloh membawa Ummat Islam ini kembali ke jaman kejayaan Islam di jaman Nabi..., jaman Sahabat.., Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in
Amin ya Robbal Alamin.... 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Maklumat untuk dipahami seluruh kaum Wahhabi, bahwa TAHLILAN itu adalah sinonim dengan YASINAN. Sedangkan Nabi SAW perintah secara mutlak tanpa batasan apapun: Iqra-uu yaasiin ‘alaa mautaakum (Bacakan surat Yasin untuk mayit kalian) HR. Abu Dawud. Nabi SAW tidak pernah membatasi kapan saja waktunya membaca surat Yasin untuk mayit dan bagaimana caranya, apakah harus dibaca sendirian atau dengan berjamaah, di kuburan atau di rumah, yang penting untuk setiap mayit dari keluarga umat Islam, maka berhak mendapatkan bacaan surat Yasin sesuai perintah Nabi SAW.
Jadi, bagi kalangan yang keberatan dengan kegiatan Yasinan/Tahlilan karena ketidaktahuan dan minimnya ilmu agama, maka sama saja dengan memprotes perintah Nabi SAW ini. Yang menuduh Yasinan/Tahlilan itu bid’ah sesat, berarti secara vulgar juga menuduh Nabi SAW berbuat Bid’ah Sesat.
Orang Indonesia itu sudah terbiasa memberi istilah terhadap sesuatu yang dianggap mudah bagi lisan mereka, hingga istilah barunya itu (walau terkadang salah) seringkali lebih masyhur daripada yang semestinya. Contoh kongkrit, seringkali ada pembeli yang mengatakan: Pak, saya beli aqua merek Ades…! Padahal yang benar : Pak, saya beli air minum kemasan merek Ades…! Karena Aqua dan Ades itu sama-sama merek dagang. Seperti juga mengatakan : Pak, saya beli Sanyo yang merek Shimizu…! (maksudnya adalah pompa air merek Shimizu). Karena Sanyo sendiri adalah salah satu merek pompa air yang kenamaan.
Tapi yaa itulah lisan orang Indonesia. Jadi, jika ada yang terus menyalahkan lisan bangsa Indonesia, yaa jadi ‘guru keliling’ saja secara nasional dari Sabang sampai Merauke dan masuk setiap rumah warga untuk benah-benah semua istilah yang sudah terlanjur masyhur itu. Termasuk istilah Tahlilan jauh lebih terkenal dibanding Yasinan untuk mayit sesuai perintah Nabi SAW.
Bacaan-bacaan yang selalu dibaca dalam acara Tahlilan yaitu:
1. Membaca Surat Al-Fatihah.
Dalil mengenai keutaman Surat Al Fatihah:
Sabda Rosululloh SAW.
Artinya: "Dari Abu Sa`id Al-Mu'alla radliallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda kepadaku: "Maukah aku ajarkan kepadamu surat yang paling agung dalam Al-Qur'an, sebelum engkau keluar dari masjid?". Maka Rasulullah memegang tanganku. Dan ketika kami hendak keluar, aku bertanya: "Wahai Rasulullah! Engkau berkata bahwa engkau akan mengajarkanku surat yang paling agung dalam Al-Qur'an". Beliau menjawab: "Al-Hamdu Lillahi Rabbil-Alamiin (Surat Al-Fatihah), ia adalah tujuh surat yang diulang-ulang (dibaca pada setiap sholat), ia adalah Al-Qur'an yang agung yang diberikan kepadaku".
(Hadits riwayat: Al-Bukhari).
2. Membaca Surat Yasin.
Dalil mengenai keutamaan Surat Yasin.
Sabda Rosuululloh SAW
“Artinya”Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu., ia berkata: "Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa membaca surat Yasin di malam hari, maka paginya ia mendapat pengampunan, dan barangsiapa membaca surat Hamim yang didalamnya diterangkan masalah Ad-Dukhaan (Surat Ad-Dukhaan), maka paginya ia mendapat mengampunan". (Hadits riwayat: Abu Ya'la). Sanadnya baik. (Lihat tafsir Ibnu Katsir dalam tafsir Surat Yaasiin)
Rosululloh SAW juga bersabda,
Artinya“ Dari Ma'qil bin Yasaar radliallahu 'anhu, ia berkata: Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Bacalah Surat Yaasiin atas orang mati kalian" (Hadits riwayat: Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah).
Sabda Rosululloh SAW,
Artinya“ Dari Ma'qil bin Yasaar radliallahu 'anhu, sesungguhnya Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: Surat Al-Baqarah adalah puncak Al-Qur'an, 80 malaikat menyertai diturunkannya setiap ayat dari surat ini. Dan Ayat laa ilaaha illaa Huwa Al-Hayyu Al-Qayyuumu (Ayat Kursi) dikeluarkan lewat bawah 'Arsy, kemudian dimasukkan ke dalam bagian Surat Al-Baqarah. Dan Surat Yaasiin adalah jantung Al-Qur'an, seseorang tidak membacanya untuk mengharapkan Allah Tabaaraka wa Ta'aalaa dan Hari Akhir (Hari Kiamat), kecuali ia diampuni dosa-dosanya. Dan bacalah Surat Yaasiin pada orang-orang mati kalian".
(Hadits riwayat: Ahmad)
3. Membaca Surat Al-Ikhlash.
Dalil mengenai keutamaan Surat Al-Ikhlash.
Rosululloh SAW bersabda,
Artinya“ Dari Abu Said Al-Khudriy radliallahu 'anhu, ia berkata: Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya: "Apakah kalian tidak mampu membaca sepertiga Al-Qur'an dalam semalam?". Maka mereka merasa berat dan berkata: "Siapakah di antara kami yang mampu melakukan itu, wahai Rasulullah?". Jawab beliau: "Ayat Allahu Al-Waahid Ash-Shamad (Surat Al-Ikhlash maksudnya), adalah sepertiga Al-Qur'an"
(Hadits riwayat: Al-Bukhari).
Imam Ahmad meriwayatkan:
Artinya“ Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam mendengar seseorang membaca Qul huwaAllahu Ahad (Surat Al-Ikhlash). Maka beliau bersabda: "Pasti". Mereka (para sahabat) bertanya: "Wahai Rasulullah, apa yang pasti?". Jawab beliau: "Ia pasti masuk surga".
(Hadits riwayat: Ahmad).
4. Membaca Surat Al-Falaq
5. Membaca Surat An-Naas
Dalil keutamaan Surat Al-Falaq dan An-Naas.
Artinya“ Dari Aisyah radliallahu 'anhaa, "bahwasanya Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bila merasa sakit beliau membaca sendiri Al-Mu`awwidzaat (Surat Al-Ikhlas, Surat Al-Falaq dan Surat An-Naas), kemudian meniupkannya. Dan apabila rasa sakitnya bertambah aku yang membacanya kemudian aku usapkan ke tangannya mengharap keberkahan dari surat-surat tersebut".
(Hadits riwayat: Al-Bukhari).
6. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 1 sampai 5
7. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 163
8. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 255 (Ayat Kursi)
9. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 284 sampai akhir Surat.
Dalil keutamaan ayat-ayat tersebut:
Artinya"Dari Abdullah bin Mas'ud radliallahu 'anhu, ia berkata: "Barangsiapa membaca 10 ayat dari Surat Al-Baqarah pada suatu malam, maka setan tidak masuk rumah itu pada malam itu sampai pagi, Yaitu 4 ayat pembukaan dari Surat Al-Baqarah, Ayat Kursi dan 2 ayat sesudahnya, dan 3 ayat terakhir yang dimulai lillahi maa fis-samaawaati..)" (Hadits riwayat: Ibnu Majah).
10. Membaca Istighfar ,
Dalil keutamaan membaca istighfar:
Allah SWT berfirman:
"Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat". (QS. Huud: 3)
Sabda Rosululoh SAW.
“ Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu : Aku mendengar Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Demi Allah! Sungguh aku beristighfar (memohon ampun) dan bertaubat kepadaNya lebih dari 70 kali dalam sehari". (Hadits riwayat: Al-Bukhari).
Sabda Rosululloh SAW.
“ Dari Al-Aghar bin Yasaar Al-Muzani radliallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Wahai manusia! Bertaubatlah kepada Allah. Sesungguhnya aku bertaubat kepadaNya seratus kali dalam sehari". (Hadits riwayat: Muslim).
11. Membaca Tahlil : لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ
12. Membaca Takbir : اَللهُ أَكْبَرُ
13. Membaca Tasbih : سُبْحَانَ اللهِ
14. Membaca Tahmid : الْحَمْدُ للهِ
Dalil mengenai keutamaan membaca tahlil, takbir dan tasbih:
Sabda Rosululloh SAW.
Artinya“ Dari Jabir bin Abdullah radliallahu 'anhumaa, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Sebaik-baik Dzikir adalah ucapan Laa ilaaha illa-Llah, dan sebaik-baik doa adalah ucapan Al-Hamdi li-Llah". (Hadits riwayat: At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Sabda Rosululloh SAW.
Artinya“ Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu, dari Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Ada dua kalimat yang ringan di lidah, berat dalam timbangan kebaikan dan disukai oleh Allah Yang Maha Rahman, yaitu Subhaana-Llahi wa bihamdihi, Subhaana-Llahi Al-'Adzim".( Hadits riwayat: Al-Bukhari, Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah).
Sabda Rosululloh.
Artinya“ Dari Abu Dzar radliallahu 'anhu, dari Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda: "Bahwasanya pada setiap tulang sendi kalian ada sedekah. Setiap bacaan tasbih itu adalah sedekah, setiap bacaan tahmid itu adalah sedekah, setiap bacaan tahlil itu adalah sedekah, setiap bacaan takbir itu adalah sedekah, dan amar makruf nahi munkar itu adalah sedekah, dan mencukupi semua itu dua rakaat yang dilakukan seseorang dari sholat Dluha.” (Hadits riwayat: Muslim).
Satu hal yang harus diingat, bahwa menjadikan tahlilan / yasinan sebagai icon tudingan bid’ah , telah menyebabkan kaum muslimin lalai terhadap masalah-masalah yang lebih penting dan prinsipil, seperti pemikiran aqidah yang jelas-jelas kebid’ahan dan kesesatanya yang juga berkembang pada hari ini. Kaum muslimin lalai bahwa di negeri ini ajaran syi’ah dan ahmadiyah terus merangkak maju dan berkembang dengan doktrin dan komunitasnya yang semakin hari semakin kuat.
Kaum muslimin juga lalai bahwa kesesatan dan kemusyrikan yang hakiki di abad modern ini, yakni materialisme dan hedonisme, telah menggerogoti ketauhidan dan arti nilai ketuhanan yang bersemayam di hati manusia secara luas. Kaum muslimin juga lalai bahwa saat ini banyak sekali muncul kelompok-kelompok sempalan yang mengusung pemahaman sesat dan sangat jauh dari ajaran Islam yang sebenarnya seperti jama’ah salamullah, agama baha’iyah ingkarus sunah dan lain-lainya.
Mudah-mudahan tulisan yang sangat sederhana ini bisa mengembalikan semangat kaum muslimin yang setuju dengan YASINAN DAN TAHLILAN,dan bagi kaum muslimin yang ANTI YASINAN alias TAHLILAN, mudah-mudahan bisa menjaga amanah Allah yang berupa lidah, sehingga ia tidak menjadi sebab binasanya sang pemilik lidah itu sendiri.
Wallahu a’lamu bisshowab.

37.
Pengirim: Achmad alQuthfby  - Kota: Probolinggo
Tanggal: 22/8/2013
 
Baik kami akan menanggapi beberapa komentar WAHABI GUSJAN yang menurut kami memiliki muatan bobot/muatan ilmiyyah:

WAHABI GUSJAN:
Ketika Nabi masih hidup, putra-putri beliau yg meninggal tidak satupun di TAHLILI, kl di do'akan sudah pasti, karena mendo'akan orang tua, mendo'akan anak, mendo'akan sesama muslim amalan yg sangat mulia.

SUNNI:
Sesuatu yang tidak pemah dikerjakan oleh Rasulullah SAW, atau para sahabat dan ulama salaf itu belum tentu dilarang atau tidak boleh. Jika memang apa-apa yang tidak dikerjakan pada zaman Rasul itu dihukumi haram, maka silahkan saja datangkan dalilnya??? Jika tidak ada dalilnya maka mengapakah anda menghukumi haram atau bid’ah hal-hal yang Rasul dan para Sahabatnya tidak pernah mengharam atau membid’ahkannya???

WAHABI GUSJAN:
Ketika NABI wafat, tdk satu sahabatpun yg TAHLILAN untuk NABI,
padahal ABU BAKAR adalah mertua NABI,
UMAR bin KHOTOB mertua NABI,
UTSMAN bin AFFAN menantu NABI 2 kali malahan,
ALI bin ABI THOLIB menantu NABI.
Apakah para sahabat BODOH....,
Apakah para sahabat menganggap NABI hewan.... (menurut kalimat sdr sebelah)
Apakah Utsman menantu yg durhaka.., mertua meninggal gk di TAHLIL kan...
Apakah Ali bin Abi Tholib durhaka.., mertua meninggal gk di TAHLIL kan....
Apakah mereka LUPA ada amalan yg sangat baik, yaitu TAHLIL an koq NABI wafat tdk di TAHLIL i..

SUNNI:
Berdasarkan penelitian terhadap hadits-hadits Nabi
SAW, al-Hafizh Abdullah al-Ghumari menyimpulkan, bahwa sesuatu yang
ditinggalkan oleh Rasulullah SAW mengandung beberapa kemungkinan:
Pertama, Nabi SAW meninggalkannya karena tradisi di daerah beliau
tinggal. Nabi SAW pernah disuguhi daging biawak yang dipanggang. Lalu Nabi
M bermaksua menjamahnya dengan tangannya. Tiba-tiba ada orang berkata kepada beliau: "Itu daging biawak yang dipanggang." Mendengar perkataan itu,
Nabi SAW tidak jadi memakannya. Lalu beliau ditanya, "Apakah daging tersebut
haram?" Beliau menjawab: "Tidak haram, tetapi, daging itu tidak ada di daerah
kaumku, sehingga aku tidak selera." Hadits ini terdapat dalam Shahih al-Bukhari
dan Muslim.
Kedua, Nabi SAW meninggakannya karena lupa. Suatu ketika Nabi SAW
lupa meninggalkan sesuatu dalam shalat. Lalu beliau ditanya, "Apakah terjadi
sesuatu dalam shalat?" Beliau menjawab: "Saya juga manusia, yang bisa lupa
seperti halnya kalian. Kalau aku lupa meninggalkan sesuatu, ingatkan aku."
Ketiga, Nabi SAW meninggalkannya karena khawatir diwajibkan atas
umatnya. Seperti Nabi SAW meninggalkan shalat tarawih setelah para sahabat
berkumpul menunggu untuk shalat bersama beliau.
Keempat, Nabi SAW meninggalkannya karena memang tidak pemah
memikirkan dan terlintas dalam pikirannya. Pada mulanya Nabi SAW berkhutbah
dengan bersandar pada pohon kurma dan tidak pemah berpikir untuk membuat
kursi, tempat berditi ketika khutbah. Setelah sahabat mengusulkannya, maka
beliau menyetujuinya, karena dengan posisi demikian, suara beliau akan lebih
didengar oleh mereka. Para sahabat juga mengusulkan agar mereka membuat
tempat duduk dari tanah, agar orang asing yang datang dapat mengenali beliau,
dan temyata beliau menyetujuinya, padahal belum pernah memikirkannya.
Kelima, Nabi M meninggalkannya karena hal tersebut masuk dalam
keumuman ayat-ayat al-Qur'an dan hadits-haditsnya, seperti sebagian besar
amal-amal mandub (sunnat) yang beliau tinggalkan karena sudah tercakup
dalam firman Allah :
"Lakukanlah kebaikan, agar kamu menjadi orang-orang yang beruntung."
(QS. al-Hajj: 77).
Keenam, Nabi SAW meninggalkannya karena menjaga perasaan para
sahabat atau sebagian mereka. Nabi bersabda kepada Aisyah: "Seandainya
kaummu belum lama meninggalkan kekufuran, tentu Ka'bah itu aku bongkar lalu
aku bangun sesuai dengan fondasi yang dibuat oleh Nabi Ibrahim karena orangorang
Quraisy dulu tidak mampu membangunnya secara sempuma." Hadits ini
terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim. Nabi SAW tidak merekonstruksi
Ka'bah karena menjaga perasaan sebagian sahabatnya yang baru masuk Islam
dari kalangan penduduk Makkah.
Kemungkinan juga Nabi SAW meninggalkan suatu hal karena alasanalasan
lain yang tidak mungkin diuraikan semuanya di sini, tetapi dapat diketahui
dari meneliti kitab-kitab hadits. Belum ada suatu hadits maupun atsar yang menjelaskan bahwa Nabi SAW meninggalkan sesuatu karena hal itu
diharamkan.

 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Sumbangsih ilmu dari Ust. Achmad alQuthfby sangat bermanfaat untuk gusjan dan seluruh kaum Wahhabi yang lagi baca artikel ini. Syukran katsiran.

38.
Pengirim: Kyai  - Kota: probolinggo
Tanggal: 22/8/2013
 
WAHABI GUSJAN:
Ketika NABI wafat, tdk satu sahabatpun yg TAHLILAN untuk NABI,
padahal ABU BAKAR adalah mertua NABI,
UMAR bin KHOTOB mertua NABI,
UTSMAN bin AFFAN menantu NABI 2 kali malahan,
ALI bin ABI THOLIB menantu NABI.
Apakah para sahabat BODOH....,
Apakah para sahabat menganggap NABI hewan.... (menurut kalimat sdr sebelah)
Apakah Utsman menantu yg durhaka.., mertua meninggal gk di TAHLIL kan...
Apakah Ali bin Abi Tholib durhaka.., mertua meninggal gk di TAHLIL kan....
Apakah mereka LUPA ada amalan yg sangat baik, yaitu TAHLIL an koq NABI wafat tdk di TAHLIL i..

SUNNI:
Ini termasuk ketidak tahuan anda terhadap dalil-dalil shahih dan anda dikibuli oleh para misionaris Wahabi. Silahkan membaca argumentasi dari Guru saya Achmad alQuthfby diatas -semoga anda bisa sadar & bertaubat-

Saya juga mau bertanya kepada anda dengan 2 pertanyaan:
Pertama:
Apakah Rasul pernah menghimpun al Quran pada satu mushaf?
Mengapa Sayidina Abu Bakar menghimpun al-Qur’an, apakah Sayyidina Abu Bakar merasa lebih pintar dari Nabi?
Apakah Rasul lupa dan lalai terhadap penghimpunan al Quran tersebut?

Kedua:
Apakah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah shalat tarawih
secara berjamaah penuh satu bulan ramadhan?
Apakah Rasul secara rutin melakukan shalat tharawih tiap malam?
Apakah Rasul mengumpulkan para jama’ah untuk melakukan shalat tharawih?
Apakah pada masa Khalifah Abu Bakar radhiyallahu’anhu melakukan shalat tharawih seperti pada zaman Khalifah Umar bin Khaththab?
Apakah Khalifah Abu Bakar lupa dengan ibadah yang mulia Shalat Tharawih seperti pada zaman Khalifah Umar?
Mengapa Khalifah Umar radhiyallahu’anhu mengumpulkan mereka untuk melakukan shalat tarawih pada seorang imam dan menganjurkan mereka untuk melakukannya. Khalifah Umar menginstruksikan shalat tarawih secara berjamaah?
Apakah khalifah Umar lebih pintar dari Rasul dan Khalifah Abu Bakar?

Ketiga:
Mengapa Sayyidina Utsman menambah adzan Jum’at menjadi dua kali?
Mengapa Pada Zaman Rasul, Abu Bakar, dan Umar adzan Jum’at dikumandangkan hanya 1 kali?
Apakah umar lebih pintar dari Rasul, Abu Bakar, dan Umar?
Apakah Rasul, Abu Bakar, dan Umar lalai dari perkara mulia penambahan adzan tsb?

Silahkan jawab jika anda benar-benar wahabi!
Jangan mau dibodohi argumentasi emperan ala wahabi!

 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Terima kasih ilmunya, sangat bermanfaat untuk umat.

39.
Pengirim: gusjan  - Kota: Nganjuk
Tanggal: 3/9/2013
 
Alhamdulillah...., semakin bertambah ilmu,
@Ustadz Pejuang Islam
Ustadz betul, tentang kalimat yg agung yaitu TAHLIL. Tidak boleh untuk perdebatan. Baik, sy tdk akan menggunakan kalimat yg agung, yaitu TAHLIL, dalam musyawarah ini. Sebab masalah utamanya di acara RITUALAN 3,7,40,100 hari dst, pada orang yg meninggal. Saking semangatnya Ustadz, sampek ke merk SANYO. Baiklah sy minta ma'af..

@Ustadz Achmad alQuthfby
Dari uraian Ustadz Achmad alQuthfby, mengapa putra-putri
beliau wafat, Nabi SAW wafat, para sahabat wafat, para
Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in wafat, tdk 1 pun di adakan
RITUALAN 3,7,40,100 hari dst, dengan alasan sbb:

1. Masalah perbedaan TRADISI. Utadz mengkiyaskan,
masalah SYARI'AT dengan masalah makan daging biawak yg dipanggang. Baiklah. Kl yg sy terima dr pengajian2, dengan kitab2 yg shahih, dalam hal makanan, apa saja boleh kecuali yg dilarang. Sebaliknya, dalam hal SYARI'AT, peribadatan apasaja dilarang, kecuali kl ada
perintah Nabi SAW atau contoh dr Nabi SAW atau contoh dr
sahabat. Sedikit bebeda dg Ustadz.

2. Nabi lupa, ada amalan yang begitu baik, yaitu RITUALAN 3,7,40,100 hari dst. Sehingga generasi akhir2 yg justru menemukannya. Baiklah. Kl yg sy terima dr pengajian2, dengan kitab2 yg shahih, dalam hal SYARI'AT kalau NABI SAW sampek lupa, bahaya, beliau NABI. Sebab menyangkut ummat manusia, akhirat, surga dan neraka. Menurut yang kami terima dari ulama2 yang masyhur, tdk ada kemungkinan sekecil apapun dalam penyampaian SYARI'AT, Nabi kelupaan. Sedikit berbeda dg Ustadz.

3. Nabi kuatir bila diwajibkan atas ummatnya. Anggap
saja dalam hal ini betul. Kenyataan di masyarakat, acara
Ritual 3,7,40,100 dst, sdh dianggap wajib. Bahkan
melebihi agama itu sndiri. Orang tdk sholat, tdk puasa,
sepertinya biasa, tdk ada yg peduli. Tp kl gk ikut acara
Ritualan 3,7,40,100 diragukan agamanya. bahkan dicaci
maki. Dikucilkan. Dan sy belum pernah 1 x pun mendengar,
kyai/ustadz menyampaikan pd msyarakat tentang hukum
Ritualan ini. Cobak pas ada acara begitu, kyai yg jadi
imam menyampaikan, bahwa acara seperti ini tdk wajib,
jadi bapak2 tdk harus sll mengadakan. Apa berani...???
Sedikit berbeda dg Ustadz.

4. Nabi belum memikirkan/tdk pernah terlintas di hatinya. Baiklah. Kl yg sy terima dr pengajian2, dengan kitab2 yg shahih, AGAMA ini dr Alloh, bukan buatan / hasil pemikiran Nabi SAW. Nabi tdk perlu berpikir, apa yg diberikan Alloh sampaikan. Termasuk tatacaranya, bukan hasil pemikiran Nabi, tp semua SYARI'AT total dr Alloh tinggal terima. Kecuali non SYARI'AT, manusia bebas berpikir dan berkembang, misal teknologi.
Sedikit berbeda dg Ustadz.

5. Karena sudah masuk dalam keumuman ayat2 lain dalam
Quran. Baiklah. Kl yg sy terima dr pengajian2, dengan kitab2 yg shahih, masalah kematian, masalah besar. Karena menyangkut orang muslim meninggal. Pasti ada
tuntunan dan tatacara melaksanakan dg jelas. Dari talqin sebelum meninggal sampek akhir. Ini masalah besar. Lha wong masalah kecil saja, seperti BERSIN (wahing) ada
tuntunan dan tata caranya, apalagi masalah kematian,
mestinya lebih penting. Sedikit berbeda dg Ustadz.

@Kyai
Kyai betul, yg mengumpulkan mushaf jaman Khalifah Abu
Bakar dan tarawih berjamah penuh mulai jaman khalifah
Umar. Betul sekali. Kl yg sy terima dr pengajian2,
dengan kitab2 yg shahih, yg menjadi RUJUKAN..PANUTAN
dalam agama ini, NABI SAW dan SAHABAT. Apa yg dilakukan
Nabi SAW... Apa yg dilakukan Sahabat yg disetujui JUMHUR
SAHABAT.., itulah sunnah. Apakah sahabat = Nabi..??
TIDAK. Tp sahabat adalah manusia2 paling bertaqwa
setelah NABI SAW.. manusia2 paling taat dan paling cinta
dg Nabi SAW. Sehingga apa yg dilakukan dan sisepakati
JUMHUR SAHABAT, termasuk sunnah dalam ISLAM.

Baiklah, semoga Ustadz2 semua, saya dan semua kaum
muslimin sll mendapat hidayah dr Alloh SWT. Amin.
Saya undur diri dari musyawarah ini. Mohon maaf segala yg kurang berkenan
wassalaamu a'laikum. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
WAHABI GUSJAN:
Dalam hal SYARI'AT, peribadatan apa saja dilarang, kecuali kl ada perintah Nabi SAW atau contoh dr Nabi SAW atau contoh dr sahabat. Sedikit bebeda dg Ustadz.

SUNNI:
Fahami dalil yang saya nasehatkan. Dalil anda tidak mematahkan dalil kami, berarti anda mengakui bahwa dalil kami kuat. Sudah saya katakan, apa-apa yang tidak ada pada zaman rasul itu bukan berarti hukumnya TERLARANG. Sepertinya anda tidak bisa memahami omongan orang dan kelihatannya keilmuan anda sangat dangkal. Anda hanya berpendapat sesuai nafsu anda bukan berdasar dalil.

Apakah kamu sudah baca hadist:
“Rifa’ah bin Rafi’ radhiyallahu anhu berkata: “Suatu ketika kami shalat bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ketika beliau bangun dari ruku’, beliau berkata:
“sami’allahu liman hamidah”. Lalu seorang laki-laki di belakangnya berkata:
“rabbana walakalhamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fih”. Setelah selesai shalat, beliau bertanya: “Siapa yang membaca kalimat tadi?” Laki-laki itu menjawab: “Saya”. Beliau bersabda: “Aku telah melihat lebih 30 malaikat berebutan menulis pahalanya”. (HR. al-Bukhari [799]).

Sahabat di atas mengerjakan perkara baru yang belum pernah
diterimanya dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, yaitu menambah bacaan dzikir dalam i’tidal. Ternyata Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak seperti anda, Nabi bahkan membenarkan perbuatan mereka, bahkan memberi kabar gembira tentang pahala yang mereka lakukan, karena perbuatan mereka sesuai dengan syara’, di mana dalam i’tidal itu tempat
memuji kepada Allah.

WAHABI GUSJAN:
Nabi lupa, ada amalan yang begitu baik, yaitu RITUALAN 3,7,40,100 hari dst. Sehingga generasi akhir2 yg justru menemukannya. Baiklah. Kl yg sy terima dr pengajian2, dengan kitab2 yg shahih, dalam hal SYARI'AT kalau NABI SAW sampek lupa, bahaya, beliau NABI. Sebab menyangkut ummat manusia, akhirat, surga dan neraka. Menurut yang kami terima dari ulama2 yang masyhur, tdk ada kemungkinan sekecil apapun dalam penyampaian SYARI'AT, Nabi kelupaan. Sedikit berbeda dg Ustadz.

SUNNI:
Sifat lupa beliau bukan dalam hal penyampaian syariat dari Alloh, namun dalam mu’amalah beliau. Apakah Nabi itu Tuhan yang terlepas dari kealpaan?
Kenapa anda menuhankan Nabi?
Yang tidak pernah lupa itu hanya Alloh SWT.
Apa Nabi pernah melarang tahlilan???
Kenapa anda melarang sesuatu hal yang tidak dilarang oleh nabi? Apakah anda selevel nabi berani melarang sesuatu hal yg tidak dilarang nabi?

Nabi SAW tidak melaksanakan tahlilan karena memang tidak pemah memikirkan dan terlintas dalam pikirannya. Pada mulanya Nabi SAW berkhutbah dengan bersandar pada pohon kurma dan tidak pemah berpikir untuk membuat kursi, tempat berditi ketika khutbah. Setelah sahabat mengusulkannya, maka beliau menyetujuinya, karena dengan posisi demikian, suara beliau akan lebih
didengar oleh mereka. Para sahabat juga mengusulkan agar mereka membuat
tempat duduk dari tanah, agar orang asing yang datang dapat mengenali beliau, dan temyata beliau menyetujuinya, padahal belum pernah memikirkannya.

WAHABI GUSJAN:
Nabi kuatir bila diwajibkan atas ummatnya. Anggap saja dalam hal ini betul. Kenyataan di masyarakat, acara Ritual 3,7,40,100 dst, sdh dianggap wajib. Bahkan melebihi agama itu sndiri. Orang tdk sholat, tdk puasa, sepertinya biasa, tdk ada yg peduli. Tp kl gk ikut acara Ritualan 3,7,40,100 diragukan agamanya. bahkan dicaci maki. Dikucilkan. Dan sy belum pernah 1 x pun mendengar, kyai/ustadz menyampaikan pd msyarakat tentang hukum Ritualan ini. Cobak pas ada acara begitu, kyai yg jadi imam menyampaikan, bahwa acara seperti ini tdk wajib, jadi bapak2 tdk harus sll mengadakan. Apa berani...??? Sedikit berbeda dg Ustadz.

SUNNI:
Jika ada masyarakat menyatakan wajib maka itu wajib pula kita luruskan. NU tidak pernah menyatakan bahwa tahlilan itu wajib. Jika ada, silahkan hadirkan dalam kitab apa? halaman berapa? Karya siapa?. Kenapa tidak berani?.

WAHABI GUSJAN:
Nabi belum memikirkan/tdk pernah terlintas di hatinya. Baiklah. Kl yg sy terima dr pengajian2, dengan kitab2 yg shahih, AGAMA ini dr Alloh, bukan buatan / hasil pemikiran Nabi SAW. Nabi tdk perlu berpikir, apa yg diberikan Alloh sampaikan. Termasuk tatacaranya, bukan hasil pemikiran Nabi, tp semua SYARI'AT total dr Alloh tinggal terima. Kecuali non SYARI'AT, manusia bebas berpikir dan berkembang, misal teknologi. Sedikit berbeda dg Ustadz.

SUNNI:
Anda ini tidak memahami argumentasi saya. Baca baik-baik. Sudah saya jelaskan secara detil. Yang tidak pernah terlintas itu teknisnya bukan syariatnya. Tahlilan adalah majelis dizkr hanya teknisnya saja yang belum ada dizaman rasul.

WAHABI GUSJAN:
Karena sudah masuk dalam keumuman ayat2 lain dalam Quran. Baiklah. Kl yg sy terima dr pengajian2, dengan kitab2 yg shahih, masalah kematian, masalah besar. Karena menyangkut orang muslim meninggal. Pasti ada tuntunan dan tatacara melaksanakan dg jelas. Dari talqin sebelum meninggal sampek akhir. Ini masalah besar. Lha wong masalah kecil saja, seperti BERSIN (wahing) ada tuntunan dan tata caranya, apalagi masalah kematian, mestinya lebih penting. Sedikit berbeda dg Ustadz.

SUNNI:
Itu kan pendapat anda yg penuh dengan hawa nafsu, faktanya apa dalil anda mengharamkan talqin???
Apakah setiap hal yang tidak dikerjakan rasul itu menjadi terlarang???
Jika talqin masalah besar, mengapa rasul tidak melarangnya melalui hadistnya???

WAHABI GUSJAN:
betul, yg mengumpulkan mushaf jaman Khalifah Abu Bakar dan tarawih berjamah penuh mulai jaman khalifah Umar. Betul sekali. Kl yg sy terima dr pengajian2, dengan kitab2 yg shahih, yg menjadi RUJUKAN..PANUTAN dalam agama ini, NABI SAW dan SAHABAT. Apa yg dilakukan Nabi SAW... Apa yg dilakukan Sahabat yg disetujui JUMHUR SAHABAT.., itulah sunnah. Apakah sahabat = Nabi..?? TIDAK. Tp sahabat adalah manusia2 paling bertaqwa setelah NABI SAW.. manusia2 paling taat dan paling cinta dg Nabi SAW. Sehingga apa yg dilakukan dan sisepakati JUMHUR SAHABAT, termasuk sunnah dalam ISLAM. Baiklah, semoga Ustadz2 semua, saya dan semua kaum muslimin sll mendapat hidayah dr Alloh SWT. Amin. Saya undur diri dari musyawarah ini. Mohon maaf segala yg kurang berkenan wassalaamu a'laikum.

SUNNI:
Anda mengakui bahwa apa yang dilakukan sahabat itu tidak pernah dicontohkan rasul. Baik sekali. Itu artinya, apakah sahabat tidak memahami argumentasi anda? apakah sahabat tidak faham bahwa segala hal yg tdk dicontohkan rasul itu terlarang menurut anda? apakah sahabat lebih pintar dari pada rasul? dll

Jangan mundur diri dulu bung, anda tidak bisa menjawab argumentasi kami dengan baik. Silahkan kami tunggu anda kapan saja dan dimana saja. Syukur-syukur jika anda duduk dimajelis terbuka dengan kami untuk berdialog dengan santun dan disaksikan para ulama. Kami siap hadir!

(Jawaban di atas ini kami terima dari Ust. Ahmad Alquthfby, Probolinggo, terima kasih atensinya, kebetulan kami sedang full kegiatan)

40.
Pengirim: gusjan  - Kota: nganjuk
Tanggal: 5/9/2013
 
Mohon ijin untuk meluruskan saja.

Pertama:
Ustadz mengatakan keilmuan saya sangat DANGKAL. Apa yg Ustadz katakan betul. Ustadz jauh lebih berilmu dr saya.

Kedua:
Ustadz membawakan hadist dr sahabat Rifa’ah bin Rafi’ radhiyallahu anhu. Dia kan sahabat. Tulisan saya sebelumnya sdh sy sampaikan. Saya meyakini dr keterangan para ‘Ulama2 yg sdh masyhur dr kalangan salaf, RUJUKAN agama ini Nabi SAW dan para Sahabat. ‘Ijma’ Sahabat boleh dijadikan hujjah, boleh diamalkan. Makanya dalam hal Syari’at, sy sll bertanya kepada yg ahli ilmu, “apakah Nabi SAW pernah mencontohkan.., apakah Jumhur Sahabat pernah mencontohkan..” Saya sll begitu. Sehingga, segala Syari’at apapun, kl dicontohkan Nabi SAW.., atau dicontohkan Sahabat dan disepakati Jumhur Sahabat, sy berusaha mengamalkan sebisa mungkin. Tetapi sebaliknya, Syari’at apa saja yg tdk dicontohkan Nabi SAW.., atau tdk pula dicontohkan Sahabat, maka sy tdk berani melakukan.

Ketiga:
Ustadz mengatakan, sy menuhankan Nabi SAW.
Saya tdk menuhankan Nabi SAW. Nabi SAW tetap makan dan minum dan hal2 lain sama dengan manusia. Bedanya dg manusia lain, Nabi SAW menerima wahyu dan sll dijaga oleh Alloh SWT dr kesalahan. Jadi semua perkataan Nabi SAW dan semua perbuatan Nabi SAW, sll atas bimbingan dan wahyu dr Alloh SWT. Dalam hal Syari’at apapun, sy meyakini seyakin yakinnya, Nabi SAW sdh menyampaikan semuanya dan tdk mungkin ada yg terlupakan. Jadi kl dikatakan ada Syar’iat atapun tata cara peribadatan, yg belum disampaikan Nabi SAW karena alasan Nabi SAW lupa atau belum terpikirkan oleh Nabi SAW, sy tdk sependapat.

Keempat:
Ustadz mengatakan, saya melarang Tahlil, apa saya selevel dg Nabi SAW..?? Ustadz kurang teliti membaca tulisan saya. Tdk ada 1 kata pun, sy melarang Tahlil. Saya hanya mengatakan, amalan Syari’at apapun, kl tdk ada contoh dr Nabi SAW, atau contoh dr Sahabat, saya tdk berani melakukan. Semisal acara RITUAL 3,7,40,100 dst. Tdk ada saya mengatakan saya melarang Tahlil. Mengenai saudara2 muslim yg mengamalkan RITUAL 3,7,40,100 dst, silahkan saja, itu hak masing2 orang.

Kelima:
Ustadz mengatakan: Saya mengatakan bahwa ada orang yg mewajibkan RITUALAN 3,7,40,100 dst. Saya tdk berkata begitu. Saya berkata:” Kenyataan di masyarakat, acara Ritual 3,7,40,100 dst, sdh dianggap wajib. Bahkan melebihi agama itu sndiri. Orang tdk sholat, tdk puasa, sepertinya biasa, tdk ada yg peduli. Tp kl gk ikut acara Ritualan 3,7,40,100 diragukan agamanya. bahkan dicaci maki. Dikucilkan.” Itu yg sy katakan. Ini kenyataan yg ada di masyarakat.
Keenam:
Ustadz mengatakan:” Itu kan pendapat anda yg penuh dengan hawa nafsu, faktanya apa dalil anda mengharamkan talqin???”. Silahkan dibaca lagi. Saya mengatakan. Masalah yg kecil saja, seperti BERSIN(wahing), Nabi SAW memberikan tuntunan/tatacaranya. Lebih2 masalah orang meninggal. Pastilah sdh diberi tatacara/tuntunan dari TALQIN sebelum meninggal sampek akhir. Dan tuntunan untuk kaum muslimin yg meninggal sdh ada, dan sudah di famai oleh semua kaum muslimin. Sudah masyhur.
- Talqin sebelum meninggal, sdh diberikan tuntunan dan tatacaranya. Sdh masyhur
- Memandikan jenazah, sdh diberikan tuntunan dan tatacaranya. Sdh masyhur
- Mengkafani jenazah, sdh diberikan tuntunan dan tatacaranya. Sdh masyhur
- Mensholati jenazah, sdh diberikan tuntunan dan tatacaranya. Sdh masyhur
- Menguburkan jenazah, sdh diberikan tuntunan dan tatacaranya. Sdh masyhur
- RITUALAN 3.7.40.100 dst…?? Ini yg sy maksud tdk ada tuntunan dr NABI SAW ataupun Sahabat, bukan TALQIN. Tapi menurut Ustadz, masalah RITUALAN 3.7.40.100 dst, Nabi SAW lupa menyampaikan dan belum terpikirkan oleh Nabi SAW saat itu.

Ketujuh (terakhir):
Saya ingin mengajak JUJUR kepada ummat ini, dalam hal agama (Syari’at Islam). Kita sudah sepakat, bahwa Ritualan 3,7,40,100 dst, tdk wajib (bahkan Ustadz akan meluruskan anggapan sebagian orang, yg mewajibkan Ritualan ini). Harapan saya, Ustadz berani dan jujur menyampaikan kpd ummat, ketika Ustadz diundang atau menjadi imam acara Ritualan 3,7,40,100 dst. Sampaikan saja, bahwa Ritualan seperti ini tdk wajib. Misalnya Ustadz berkata, saat acara belum dimulai “Para undangan semua…, saya akan sampaikan mengenai hukum SELAMATAN/KENDURI…, putra-putri Nabi SAW ketika wafat tdk diadakan SELAMATAN/KENDURI, ketika Nabi SAW wafat tdk diadakan SELAMATAN/KENDURI, ketika para Sahabat wafat juga tdk diadakan SELAMATAN/KENDURI. Sebetulnya acara Selamatan/Kenduri 3,7,40,100 dst tdk WAJIB. Bagi yg keluarganya meninggal kemudian tdk mengadakan SELAMATAN, silahkan tdk apa2, sebab Nabi SAW dan keluarga beliau jg tdk SEALAMATAN. Bagi kita yg mengamalkan SELAMATAN jg tdk apa2. Semua benar…”
Itulah yg sy maksud JUJUR kepada ummat, agar keyakinan/anggapan wajibnya SELAMATAN tdk terjadi di ummat ini.
Demikian, mohon ma’af segala kekurangan, wassalaamu ‘alaikum.

 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
pertanyaan anda lebih banyak ditujukan kepada Ust. Ahmad Alquthfby, maka kami persilahkan beliau meresponya.

Kami hanya ingin merespon positif pernyataan anda: Sebetulnya acara Selamatan/Kenduri 3,7,40,100 dst tdk WAJIB. Bagi yg keluarganya meninggal kemudian tdk mengadakan SELAMATAN, silahkan tdk apa2, sebab Nabi SAW dan keluarga beliau jg tdk SEALAMATAN. Bagi kita yg mengamalkan SELAMATAN jg tdk apa2. Semua benar…” Itulah yg sy maksud JUJUR kepada ummat, agar keyakinan/anggapan wajibnya SELAMATAN tdk terjadi di ummat ini. Demikian, mohon ma’af segala kekurangan, wassalaamu ‘alaikum.

Jawabazn kami > Alhamdulillah umat Islam warga Malang sebagai kota pelajar, rata-rata IQ mereka tinggi-tinggi, jadi mereka sangat paham bahwa Tahlilan itu hukumnya SUNNAH, bukan wajib, dan kami juga sudah sangat sering menerangkannya di depan Jamaah Tahlil.
Andaikan saja anda bersedia mengumpulkan jamaah Tahlil se Nganjuk, dan anda juga bersedia mendatangkan kami untuk menerangkan kepada mereka tentang hukum DISUNNAHKAN-nya Tahlilan, bukan DIWAJIBKAN, niscaya akan kami luangkan waktu untuk menyampaikannya dengan senang hati, agar pemahaman mereka sepadan dengan pemahaman umat Islam di Malang tentang DISUNNAHKANNYA TAHLILAN untuk mayit. Terima kasih.

41.
Pengirim: Kyai  - Kota: probolinggo
Tanggal: 7/9/2013
 
Pengirim: gusjan - Kota: nganjuk

Pertama:
Ustadz mengatakan keilmuan saya sangat DANGKAL. Apa yg Ustadz katakan betul. Ustadz jauh lebih berilmu dr saya.
- Iya ilmu anda dangkal. Buktinya anda tidak bisa menjawab argumentasi kami. Jawaban anda tidak berdalil tp melalui rasio dan hawa nafsu belaka, seperti Ulil Abshar Abdallah

Kedua:
Ustadz membawakan hadist dr sahabat Rifa’ah bin Rafi’ radhiyallahu anhu. Dia kan sahabat. Tulisan saya sebelumnya sdh sy sampaikan. Saya meyakini dr keterangan para ‘Ulama2 yg sdh masyhur dr kalangan salaf, RUJUKAN agama ini Nabi SAW dan para Sahabat. ‘Ijma’ Sahabat boleh dijadikan hujjah, boleh diamalkan. Makanya dalam hal Syari’at, sy sll bertanya kepada yg ahli ilmu, “apakah Nabi SAW pernah mencontohkan.., apakah Jumhur Sahabat pernah mencontohkan..” Saya sll begitu. Sehingga, segala Syari’at apapun, kl dicontohkan Nabi SAW.., atau dicontohkan Sahabat dan disepakati Jumhur Sahabat, sy berusaha mengamalkan sebisa mungkin. Tetapi sebaliknya, Syari’at apa saja yg tdk dicontohkan Nabi SAW.., atau tdk pula dicontohkan Sahabat, maka sy tdk berani melakukan.
- Berarti anda mengakui bid’ah hasanah? Alhamdulillah. Kalo anda merujuk sahabat, maka anda harus melestarikan bid’ah hasanah. Rasul tidak pernah mencontohkan kalimat I’tidal seperti didalam hadist tsb. Padahal rasul sendiri bersabda: Shollu kama ra aytumuuni usholli?. Apakah sahabat lebih pintar dari rasul? Kami hanya pengikut para sahabat yang melestariken bid’ah hasanah. Anda hanya berargumentasi sendiri tanpa menyimak dalil lawan bicara anda.

Ketiga:
Ustadz mengatakan, sy menuhankan Nabi SAW.
Saya tdk menuhankan Nabi SAW. Nabi SAW tetap makan dan minum dan hal2 lain sama dengan manusia. Bedanya dg manusia lain, Nabi SAW menerima wahyu dan sll dijaga oleh Alloh SWT dr kesalahan. Jadi semua perkataan Nabi SAW dan semua perbuatan Nabi SAW, sll atas bimbingan dan wahyu dr Alloh SWT. Dalam hal Syari’at apapun, sy meyakini seyakin yakinnya, Nabi SAW sdh menyampaikan semuanya dan tdk mungkin ada yg terlupakan. Jadi kl dikatakan ada Syar’iat atapun tata cara peribadatan, yg belum disampaikan Nabi SAW karena alasan Nabi SAW lupa atau belum terpikirkan oleh Nabi SAW, sy tdk sependapat.
- Bukankah Rasul pernah sholat dengan mengenakan sandal yang najis? Rasul juga pernah lupa untuk menggenapkan sholat Duhur empat rakaat, sehingga Sahabatnya –Dzul yadain- harus menegur kesalahan itu?

Rasul pun mengakui bahwa dirinya pernah lupa : Saya juga bisa lupa ( sengaja dilupakan oleh Allah) seperti kalian semua, jika memang saya lupa maka ingatkanlah saya ( HR BUKHORI). Ini sabda rasul bukan kata saya.


Kan anda sudah mendengar bahwa zaman kita berbeda dengan zaman nabi, apalagi terkait masalah tradisi. Apakah anda sudah memahami argumentasi saya sebelumnya? Bagaimana Rasul bisa berfikir mengenai tahlilan, karena tradisi tahlilan itu ada setelah rasul wafat? Itu adalah kreasi para ulama yang brupa majelis dzikir. Kan sudah dikatakan bahwa tahlilan itu bagian dari syariat, bukan menjadi syariat baru. Kalo secara syariat sudah sempurna. Tahlilan sangat berkesesuaian dengan syariat.

Saya juga mau bertanya kepada anda dengan 2 pertanyaan:
Pertama:
Apakah Rasul pernah menghimpun al Quran pada satu mushaf?
Mengapa Sayidina Abu Bakar menghimpun al-Qur’an, apakah Sayyidina Abu Bakar merasa lebih pintar dari Nabi?
Apakah Rasul lupa dan lalai terhadap penghimpunan al Quran tersebut?

Kedua:
Apakah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah shalat tarawih
secara berjamaah penuh satu bulan ramadhan?
Apakah Rasul secara rutin melakukan shalat tharawih tiap malam?
Apakah Rasul mengumpulkan para jama’ah untuk melakukan shalat tharawih?
Apakah pada masa Khalifah Abu Bakar radhiyallahu’anhu melakukan shalat tharawih seperti pada zaman Khalifah Umar bin Khaththab?
Apakah Khalifah Abu Bakar lupa dengan ibadah yang mulia Shalat Tharawih seperti pada zaman Khalifah Umar?
Mengapa Khalifah Umar radhiyallahu’anhu mengumpulkan mereka untuk melakukan shalat tarawih pada seorang imam dan menganjurkan mereka untuk melakukannya. Khalifah Umar menginstruksikan shalat tarawih secara berjamaah?
Apakah khalifah Umar lebih pintar dari Rasul dan Khalifah Abu Bakar?

Ketiga:
Mengapa Sayyidina Utsman menambah adzan Jum’at menjadi dua kali?
Mengapa Pada Zaman Rasul, Abu Bakar, dan Umar adzan Jum’at dikumandangkan hanya 1 kali?
Apakah umar lebih pintar dari Rasul, Abu Bakar, dan Umar?
Apakah Rasul, Abu Bakar, dan Umar lalai dari perkara mulia penambahan adzan tsb?

Silahkan sajikan jawaban anda!


Keempat:
Ustadz mengatakan, saya melarang Tahlil, apa saya selevel dg Nabi SAW..?? Ustadz kurang teliti membaca tulisan saya. Tdk ada 1 kata pun, sy melarang Tahlil. Saya hanya mengatakan, amalan Syari’at apapun, kl tdk ada contoh dr Nabi SAW, atau contoh dr Sahabat, saya tdk berani melakukan. Semisal acara RITUAL 3,7,40,100 dst. Tdk ada saya mengatakan saya melarang Tahlil. Mengenai saudara2 muslim yg mengamalkan RITUAL 3,7,40,100 dst, silahkan saja, itu hak masing2 orang.
- Argumentasi anda itu jelas mengarah kepada pengharaman tradisi tahlilan. Arah argumentasi anda apa kalo tidak mengahramkan tahlilan? Sekarang saya tanya: Apa anda mengharamkan tahlilan??? Biar clear!.
Saran saya janganlah berani melarang sesuatu hal yang Allah dan Rasul sendiri tidak melarangnya.

Kelima:
Ustadz mengatakan: Saya mengatakan bahwa ada orang yg mewajibkan RITUALAN 3,7,40,100 dst. Saya tdk berkata begitu. Saya berkata:” Kenyataan di masyarakat, acara Ritual 3,7,40,100 dst, sdh dianggap wajib. Bahkan melebihi agama itu sndiri. Orang tdk sholat, tdk puasa, sepertinya biasa, tdk ada yg peduli. Tp kl gk ikut acara Ritualan 3,7,40,100 diragukan agamanya. bahkan dicaci maki. Dikucilkan.” Itu yg sy katakan. Ini kenyataan yg ada di masyarakat.
- kenyataan yang ada dimasyarakat? Atau yang ada dibenak anda semata?
Masyarakat awam atau masyarakat ‘alim yang anda tanyakan?
Sudahkah anda melakukan survey?
Mana hasil surveynya?
Itu hanya pendapat anda yang ingin melakukan provokasi. Jika semisal adapun ‘oknum’ masyarakat yg menganggap wajib tahlilan, maka itu yg perlu kita lurusken. Dan anggapan wajib oleh mereka tsb tdk ada relevenasinya dengan kebolehan tahlilan.

Keenam:
Ustadz mengatakan:” Itu kan pendapat anda yg penuh dengan hawa nafsu, faktanya apa dalil anda mengharamkan talqin???”. Silahkan dibaca lagi. Saya mengatakan. Masalah yg kecil saja, seperti BERSIN(wahing), Nabi SAW memberikan tuntunan/tatacaranya. Lebih2 masalah orang meninggal. Pastilah sdh diberi tatacara/tuntunan dari TALQIN sebelum meninggal sampek akhir. Dan tuntunan untuk kaum muslimin yg meninggal sdh ada, dan sudah di famai oleh semua kaum muslimin. Sudah masyhur.
- Talqin sebelum meninggal, sdh diberikan tuntunan dan tatacaranya. Sdh masyhur
- Memandikan jenazah, sdh diberikan tuntunan dan tatacaranya. Sdh masyhur
- Mengkafani jenazah, sdh diberikan tuntunan dan tatacaranya. Sdh masyhur
- Mensholati jenazah, sdh diberikan tuntunan dan tatacaranya. Sdh masyhur
- Menguburkan jenazah, sdh diberikan tuntunan dan tatacaranya. Sdh masyhur
- RITUALAN 3.7.40.100 dst…?? Ini yg sy maksud tdk ada tuntunan dr NABI SAW ataupun Sahabat, bukan TALQIN. Tapi menurut Ustadz, masalah RITUALAN 3.7.40.100 dst, Nabi SAW lupa menyampaikan dan belum terpikirkan oleh Nabi SAW saat itu.
- Silahkan baca jawaban saya sebelumnya diatas. Dan lebih jelasnya, bahwa ritual tahlilan itu memang tidak ada pada zaman rasul, dan hal yg tdk ada pada zaman rasul itu tdk serta merta menjadi terlarang. Ini yg perlu anda fahami dan simak baik!!! Jangan seperti org tolol yg berargumen sendiri tanpa menyanggah dalil lawab bicara, itu pertanda anda mengakui argumentasi kami. Ritual tahlilan baru terfikirkan setelah rasul wafat, karena itu berupa tradisi baru hasil kreasi para ulama yg berkesesuaian dengan syariat. Jika anda hendak mengaharamkan ritual tahlilan, maka silahkan anda hadirkan dalilnya. Mana dalilnya?. Dalil itu quran dan hadist.
Banyak hal baru yang tidak terfikirkan oleh rasul dan dilakukan oleh para sahabat, bukankah itu sebuah bid’ah? Akan tetapi bid’ah hasanah. Makanya mari lestarikan bid’ah hasanah.

Ketujuh (terakhir):
Saya ingin mengajak JUJUR kepada ummat ini, dalam hal agama (Syari’at Islam). Kita sudah sepakat, bahwa Ritualan 3,7,40,100 dst, tdk wajib (bahkan Ustadz akan meluruskan anggapan sebagian orang, yg mewajibkan Ritualan ini). Harapan saya, Ustadz berani dan jujur menyampaikan kpd ummat, ketika Ustadz diundang atau menjadi imam acara Ritualan 3,7,40,100 dst. Sampaikan saja, bahwa Ritualan seperti ini tdk wajib. Misalnya Ustadz berkata, saat acara belum dimulai “Para undangan semua…, saya akan sampaikan mengenai hukum SELAMATAN/KENDURI…, putra-putri Nabi SAW ketika wafat tdk diadakan SELAMATAN/KENDURI, ketika Nabi SAW wafat tdk diadakan SELAMATAN/KENDURI, ketika para Sahabat wafat juga tdk diadakan SELAMATAN/KENDURI. Sebetulnya acara Selamatan/Kenduri 3,7,40,100 dst tdk WAJIB. Bagi yg keluarganya meninggal kemudian tdk mengadakan SELAMATAN, silahkan tdk apa2, sebab Nabi SAW dan keluarga beliau jg tdk SEALAMATAN. Bagi kita yg mengamalkan SELAMATAN jg tdk apa2. Semua benar…”
Itulah yg sy maksud JUJUR kepada ummat, agar keyakinan/anggapan wajibnya SELAMATAN tdk terjadi di ummat ini.
Demikian, mohon ma’af segala kekurangan, wassalaamu ‘alaikum

- Anda siapa hendak mengatur? Haha.. lucu anda..
Perkataannya bukan seperti itu, tapi harusnya kayak bgini:
“Para undangan semua…, saya akan sampaikan mengenai hukum tahlilan. Tahlilan itu bagian dari majelis dzikir, tidak diwajibkan namun sangat dianjurkan karena sesuai dengan sunnah-sunnah nabi. Sebagai kau muslim, tentu saja kita harus gemar terhadap sunnah-sunnah nabi terutama mengenai dzikir. Bagi orang yg menyalahkan tahlilan, silahkan saja karena itu menjadi privasi masing2. Namun orang yg menyalahkan tahlilan adalah org yg benci terhadap sunnah rasul yakni dzikr. Hanya syetan yang tidak suka kepada orang yg berdzikr. Mari kita lestarikan budaya tahlilan ini dan menjaganya dengan segenap kemampuan kita. Hadits-hadits Rasulullah  cukup banyak yang menganjurkan dzikir bersama. Antara lain hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim berikut ini:
عن أبي هريرة  قال قال رسول الله  إِنَّ للهِ مَلَائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللهَ تَنَادَوْا هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ قَالَ فَيَحُفُّونَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا قَالَ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ مِنْهُمْ مَا يَقُولُ عِبَادِي قَالُوا يَقُولُونَ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيُمَجِّدُونَكَ قَالَ فَيَقُولُ هَلْ رَأَوْنِي قَالَ فَيَقُولُونَ لَا وَاللهِ مَا رَأَوْكَ قَالَ فَيَقُولُ وَكَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي قَالَ يَقُولُونَ لَوْ رَأَوْكَ كَانُوا أَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً وَأَشَدَّ لَكَ تَمْجِيدًا وَتَحْمِيدًا وَأَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيحًا قَالَ يَقُولُ فَمَا يَسْأَلُونِي قَالَ يَسْأَلُونَكَ الْجَنَّةَ قَالَ يَقُولُ وَهَلْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَا وَاللهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُ فَكَيْفَ لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصًا وَأَشَدَّ لَهَا طَلَبًا وَأَعْظَمَ فِيهَا رَغْبَةً قَالَ فَمِمَّ يَتَعَوَّذُونَ قَالَ يَقُولُونَ مِنْ النَّارِ قَالَ يَقُولُ وَهَلْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَا وَاللهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَوْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ مِنْهَا فِرَارًا وَأَشَدَّ لَهَا مَخَافَةً قَالَ فَيَقُولُ فَأُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ قَالَ يَقُولُ مَلَكٌ مِنْ الْمَلَائِكَةِ فِيهِمْ فُلَانٌ لَيْسَ مِنْهُمْ إِنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ قَالَ هُمْ الْجُلَسَاءُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ
“Dari Abu Hurairah  berkata: “Rasulullah  bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki banyak malaikat yang selalu mengadakan perjalanan, mereka senantiasa mencari orang-orang yang berdzikir. Apabila mereka mendapati satu kaum sedang berdzikir kepada Allah, maka mereka akan saling berseru: “Mintalah hajat kalian.” Beliau melanjutkan: “Lalu para malaikat itu mengelilingi dengan sayap-sayapnya hingga memenuhi jarak antara mereka dengan langit dunia.” Beliau melanjutkan: “Lalu Tuhan mereka menanyakan mereka padahal Dia lebih mengetahui dari pada mereka: “Apa yang dikatakan oleh hamba-hamba-Ku?” Para malaikat itu menjawab: “Mereka mensucikan, membesarkan, memuji dan mengagungkan-Mu.” Allah bertanya lagi: “Apakah mereka pernah melihat-Ku?” Para malaikat itu menjawab: “Demi Allah, mereka tidak pernah melihat-Mu.” Allah bertanya lagi: “Bagaimana seandainya mereka pernah melihat-Ku?” Para malaikat itu menjawab: “Seandainya mereka pernah melihat-Mu, tentu mereka akan lebih bersungguh-sungguh beribadah, mengagungkan dan semakin banyak mensucikan-Mu.” Allah bertanya lagi: “Apa yang mereka minta kepada-Ku?” Para malaikat itu menjawab: “Mereka memohon surga-Mu.” Allah bertanya lagi: “Apakah mereka sudah pernah melihat surga-Ku?” Para malaikat itu menjawab: “Belum wahai Tuhan kami.” Allah bertanya lagi: “Bagaimana jika mereka telah melihat surga-Ku?” Para malaikat itu menjawab: “Tentu mereka akan lebih bersungguh-sungguh memohon dan menginginkannya.” Allah bertanya lagi: “Dari apakah mereka memohon perlindungan-Ku?” Para malaikat itu menjawab: “Dari neraka-Mu.” Allah bertanya lagi: “Apakah mereka sudah pernah melihat neraka-Ku?” Para malaikat itu menjawab: “Demi Allah, mereka belum pernah melihat neraka-Mu.” Allah bertanya lagi: “Bagaimana seandainya mereka pernah melihat neraka-Ku?” Para malaikat itu itu menjawab: “Tentu mereka akan semakin lari dan takut pada neraka itu.” Beliau melanjutkan: “Kemudian Allah berfirman: “Saksikanlah oleh kalian, bahwa Aku sudah mengampuni mereka.” Beliau melanjutkan lagi, “Lalu sebagian malaikat itu berkata: “Wahai Tuhan kami! Di antara mereka terdapat si Fulan, ia bukanlah termasuk orang-orang yang berdzikir, hanya saja ia kebetulan datang karena ada keperluan (duduk bersama mereka).” Lalu Allah menjawab: “Mereka adalah kaum yang tidak akan sengsara orang yang ikut duduk bersama mereka.” (HR. al-Bukhari [6408] dan Muslim [4854]).
Mengomentari hadits di atas, al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata dalam Fath al-Bari:
وَفِي الْحَدِيْثِ فَضْلُ مَجَالِسِ الذِّكْرِ وَالذَّاكِرِيْنَ وَفَضْلُ اْلاِجْتِمَاعِ عَلَي ذَلِكَ وَاَنَّ جَلِيْسَهُمْ يَنْدَرِجُ مَعَهُمْ فِيْ جَمِيْعِ مَا يَتَفَضَّلُ اللهُ تَعَالَى بِهِ عَلَيْهِمْ اِكْرَامًا لَهُمْ وَلَوْ لَمْ يُشَارِكْهُمْ فِيْ أَصْلِ الذِّكْرِ.
“Hadits tersebut mengandung keutamaan majelis-majlis dzikir, orang-orang yang berdzikir dan keutamaan berkumpul untuk berdzikir, orang yang duduk bersama mereka, akan masuk dalam golongan mereka dalam semua apa yang Allah anugerahkan kepada mereka, karena memuliakan mereka, meskipun ia tidak mengikuti mereka dalam berdzikir.” (Al-Hafizh Ibnu Hajar, Fath al-Bari, juz 11 hal. 213).
Dalam hadits lain juga diterangkan:
عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ إِنَّا لَعِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ  إِذْ قَالَ هَلْ فِيْكُمْ غَرِيْبٌ يَعْنِيْ أَهْلَ الْكِتَابِ قُلْنَا لاَ يَا رَسُوْلَ اللهِ فَأَمَرَ بِغَلْقِ الْبَابِ فَقَالَ ارْفَعُوْا أَيْدِيَكُمْ فَقُوْلُوْا لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ فَرَفَعْنَا أَيْدِيَنَا سَاعَةً ثُمَّ وَضَعَ رَسُوْلُ اللهِ  يَدَهُ ثُمَّ قَالَ الْحَمْدُ للهِ اللّهُمَّ إِنَّكَ بَعَثْتَنِيْ بِهَذِهِ الْكَلِمَةِ وَأَمَرْتَنِيْ بِهَا وَوَعَدْتَنِيْ عَلَيْهَا الْجَنَّةَ إِنَّكَ لاَ تُخْلِفُ الْمِيْعَادَ ثُمَّ قَالَ أَبْشِرُوْا فَإِنَّ اللهَ قَدْ غَفَرَ لَكُمْ. (رواه أحمد والحاكم والطبراني والبزار).
“Syaddad bin Aus berkata, “Kami bersama Rasulullah , tiba-tiba beliau berkata, “Apakah di antara kalian ada orang asing (ahli kitab)?” Kami menjawab, “tidak ada wahai Rasulullah.” Lalu beliau memerintahkan agar mengunci pintu dan berkata, “Angkatlah tangan kalian, lalu katakan Laa ilaaha illallaah!” Kami mengangkat tangan beberapa saat, kemudian Rasulullah meletakkan tangannya. Lalu bersabda, “Alhamdulillah. Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengutusku membawa kalimat tauhid ini, Engkau memerintahkannya kepadaku dan menjanjikanku surga karenanya, sesungguhnya Engkau tidak akan menyalahi janji.” Kemudian beliau bersabda, “Bergembiralah, sesungguhnya Allah telah mengampuni kalian.” (HR. Ahmad, al-Hakim, al-Thabarani dan al-Bazzar).

Demikian, mohon ma’af segala kekurangan, wassalaamu ‘alaikum

 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Semoga bermanfaat untuk Gusjan dan seluruh umat Islam.

42.
Pengirim: abdul aziz  - Kota: sampang
Tanggal: 23/2/2015
 
Assl mualikim pak ustad sy mau nanyak bagaimana hukumnya orang yg nyedot air dari sumur pakai sanyo sedangkan listriknya mencuri bagaimana hasil airnya itu apa boleh di minum atau tidak mohon penjelasannya terima kasih 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Semoga diampuni seluruh dosanya.

Hakikatnya, fasilitas pengadaan air dan hal-hal yang sifatnya untuk kepentingan umum lainnya untuk masyarakat itu adalah kewajiban pemerintah, bukan masyarakatnya yang membeli kepada pemerintah.

43.
Pengirim: abd aziz  - Kota: sampang
Tanggal: 24/2/2015
 
Terima kasih ustad atas penjelasannya semoga bermanfaat amin  
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Amiiin

 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2009-2019 Oleh Pejuang Islam