URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV GARIS LURUS
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [27/8/2017]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [27/8/2017]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [27/8/2017]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [27/8/2017]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [27/8/2017]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Rabu, 20 September 2017
Pukul:  
Online Sekarang: 6 users
Total Hari Ini: 596 users
Total Pengunjung: 3592314 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
TERKIKISNYA UKHUWWAH ISLAMIYAH DI AKHIR ZAMAN 
Penulis: Pejuang Islam [ 2/7/2017 ]
 
TERKIKISNYA UKHUWWAH ISLAMIYAH DI AKHIR ZAMAN

Luthfi Bashori


Nabi Muhammad SAW bersabda, “Kalian akan mengikuti (meniru) gaya hidup orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sedikit demi sedikit sehingga seandainya mereka masuk ke dalam lubang biawak pun, niscaya kalian mengikutinya.”

Kami (Shahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi atau Nasrani?”
Rasulullah SAW menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. Bukhari - Muslim).

Menurut firman Allah SWT dalam surat Albaqarah, bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani itu selama-lamanya tidak akan tinggal diam terhadap umat Islam, sehingga kaum muslimin akan mengikuti millah (agama/perilaku/adat istiadat) mereka. Maka kuatnya pengaruh millah Yahudi dan Nasrani terhadap umat Islam khususnya terhadap kalangan yang lemah imannya, kini sangat terbukti, karena sudah banyak orang-orang yang menampakkan identitas muslim, namun lebih akrab bergaul dengan kelompok Yahudi dan Nasrani, atau mengikuti kebiasaan tata cara bermasyarakat dengan gaya kaum Yahudi dan Nasrani, hingga dalam adat istiadat pun mereka  terpengaruh kebudayaan kaum Yahudi dan Nasrani itu.

Umumnya kelompok-kelompok semacam ini sudah tidak merasa risih lagi jika harus berkolaborasi dalam kegiatan ritual bersama kaum Yahudi maupun Nasrani, dan ini sekarang sudah terjadi di berbagai belahan dunia. Adapun alasan mereka saat melakukan penyimpangan terhadap ajaran syariat ini, mereka berdalih demi terciptanya ukhuwwah wathaniah atau ukhuwwah basyariyah, namun sayangnya, mereka melakukannya dengan sangat berlebih-lebihan, hingga tak jarang perilaku mereka itu dapat menggerus kepentingan berukhuwwah dengan sesama umat Islam yang semestinya lebih wajib untuk diutamakan.

Karena menjalin ukhuwwah islamiyah adalah perintah syariat dengan dalil yang jelas, sebagaimana tertera dalam Alquran:

إِنَّمَا الْمًؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوْا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ  وَاتَّقُوْا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin (muslim) adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah kedua saudara kalian, dan bertakwalah kalian  kepada Allah agar kalian  mendapatkan rahmat.” (QS. Alhujurat, 10).

Juga dalam sabda Rasulullah SAW:

لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا

“Kalian tidak masuk surga hingga kalian beriman dan belum sempurna keimanan kalian hingga  kalian saling mencintai.” (HR. Muslim).

الْمُسْلِمُ أَخُو لْمُسْلِمِ لَايَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِى حَا جَةِ أَخَيَهِ  كَانَ اللهُ فِى حا جَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَتً مِنْ كرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Orang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, ia tidak akan menganiayanya dan tidak akan menyerahkannya (kepada musuh). Barangsiapa ada (membantu) dalam keperluan saudaranya maka Allah ada di dalam keperluannya. Barangsiapa menghilangkan suatu kesukaran dari orang muslim, maka Allah akan menghilangkan satu kesukaran yang ada pada hari Qiamat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi (aibnya) pada hari Qiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sedangkan menjalin ukhuwwah wathaniyah dan basyariyah, ini adalah hasil ijtihad dan tidak ada dalil qaht’i (secara pasti dari Alquran dan Hadits) yang mengikat secara langsung, sekalipun boleh-boleh saja dilakukan, asalkan porsinya tidak melebihi dari perintah Allah dan Rasul-Nya dalam menjalin Ukhuwwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim).

Misalnya, larangan bagi para penggiat ukhuwwah wathaniyah dan basyariyah untuk menjalankan aktifitasnya bersama non muslim, jika mereka tidak dapat berdamai dengan sesama muslim, demi menjalin kehangatan ukhuwwah islamiyah (dengan sesama muslim), apalagi jika perseteruannya dengan sesama muslim itu hanya karena beda baju partai dan ormas atau beda wilayah domisili.

Berpolemik dalam rana khilafiyah (perbedaan pendapat) tentang masalah furu’ (cabang agama) yang menjadi wilayah ijtihadiyah, itu boleh saja terjadi, dan itulah sunnatullah yang ada sejak jaman para shahabat. Namun adanya khilafiyah ini seharusnya tidak menjadi penghalang dalam menciptakan persaudaraan sesama muslim, hingga menafikan kewajiban berukhuwwah islamiyah.

Khilafiyah yang terjadi karena hasil ijtihad itu boleh disampaikan dimana saja berada, selagi masih dalam koridor pembahasan ilmiah, sebagaimana telah dicontohkan dalam kitab-kitab para ulama Salaf, yaitu seringnya terjadi di antara mereka adanya perselisihan pendapat dalam urusan ijtihadiyah, terutama dalam bidang ilmu fiqih. Perbedaan pendapat semacam itu justru dapat memperkaya khazanah keilmuan bagi umat Islam.

Kecuali jika terjadinya khilafiyah itu dalam urusan ushuluddin atau pokok-pokok agama atau aqidah ketauhidan. Maka tidak ada kompromi terhadap aliran sesat bagi intern umat Islam, apalagi jika kesesatannya itu sudah keluar dari wilayah keislaman.

Sayangnya saat ini ada beberapa tokoh dari kalangan penggiat ukhuwwah wathaniyah dan basyariyah, yang lebih aktif memperjuangkan kepentingan kaum Yahudi dan Nasrani serta kepentingan kaum non muslim lainnya, yang melebihi dari kewajiban memperjuangkan kepentingan umat Islam itu sendiri, hingga mereka berani melanggar ketentuan hukum Alquran dan Hadits secara terang-terangan, bahkan berani menampakkan sikap yang berseberangan dengan umat Islam demi ambisi hidupnya untuk memperoleh pujian dan fasilitas dari kalangan non muslim.  

"Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (syariat yang benar)" dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka (Yahudi dan Nasrani) setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. Al Baqarah 120).

Jika Allah sudah tidak menjadi pelindung lagi, lantas kepada siapakah mereka akan minta perlindungan?

Rasulullah SAW bersabda:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، كَيْفَ تَقُولُ فِي رَجُلٍ أَحَبَّ قَوْمًا وَلَمْ يَلْحَقْ بِهِمْ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

Dari Ibnu Mas`ud ia berkata: "Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah SAW lalu berkata: "Ya Rasulullah, bagaimanakah pendapatmu mengenai seorang yang mencintai sesuatu kaum, tetapi tidak pernah menemui kaum itu?" Rasulullah bersabda: "Seorang itu (akan dikumpulkan) beserta orang yang dicintainya.” (HR. Bukhari – Muslim).

Artinya, siapa saja mencintai sesama muslim itu maka di akhirat kelak akan dikumpulkan bersama umat Islam, sedangkan yang mencintai kalangan non muslim juga akan dikumpulkan bersama kaum kafir.

   
 Isikan Komentar Anda
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
 
 
 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2009-2017 Oleh Pejuang Islam