URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
Hari ini: Jumat, 31 Oktober 2014 - Pejuang Islam, melestarikan kemurnian Ahlussunnah wal Jamaah
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Sekilas Profil
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV NU GARIS LURUS
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
Ucapan dan Perbuatan yang Menyebabkan Kemurtadan (1) 
  Penulis: Pejuang Islam  [12/10/2014]
   
Seseorang Itu Tidak Dilihat Dari Pakaiannya 
  Penulis: Pejuang Islam  [5/10/2014]
   
BAHAYA MENYAKITI TENTANGGA 
  Penulis: Pejuang Islam  [3/10/2014]
   
BERMANFAAT BAGI EMPAT KETURUNAN 
  Penulis: Pejuang Islam  [3/10/2014]
   
KISAH AL-‘UTBI DALAM BERTAWASSUL 
  Penulis: Pejuang Islam  [22/9/2014]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Jumat, 31 Oktober 2014
Pukul:  
Online Sekarang: 21 users
Total Hari Ini: 606 users
Total Pengunjung: 1873183 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - BUKU TAMU
 
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
 
1.
Pengirim: Hambah Alloh  - Kota: Depok
Tanggal: 31/10/2014
 
Assalammualikum,
"Innalilahiwainnalillahirojiun"
Imam besar masjid istiqlal sekaligus pakar hadis dan anggota MUI,
dukung ahok jadi gubernur dan menyalahkan umat islam yg menolak ahok, juga mendukung pelarangan qurban disekolah kata dia di arab saudi saja ada tempat khusus untuk memotong hewan kurban.
Astaqfirlooh alazim... 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Semoga Allah melindungin umat Islam dari pemimpin dhaalun mudhillun (sesat dan menyesatkan)

2.
Pengirim: Jaka  - Kota: Kaltim
Tanggal: 31/10/2014
 
Assalamualaikum wr wb
Pak kyai yg saya hormati saya ingin bertanya benarkah pemahaman saya tentang takdir ini.
Bahwa segala sesuatu yg kita pilih dan kita perbuat ini hakikatnya sudah ditetapkan Allah. Hanya saja Allah menetapkannya tidak dgn memaksa manusia utk memilih ini itu atau melakukan ini itu. Takdir itu terjadi berdasarkan apa2 yg dipilih manusia.
Benarkah pemahaman saya ini dan mohon dikoreksi bila ada yg salah. Terima kasih pak kyai. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Allah menentukan segala macam yang ada di dunia, termasuk perilaku manusia. Namun Allah tetap memberi kesempatan manusia untuk berikhtiyar (berusaha), jika ikhtiyarnya manusia itu ternyata mencocoki kehendak Allah dan Allah berkenan merubah apa yang telah ditentukan sebelumnya, tentu Allah berkuasa untuk melakukannya, dan yang semacam itu sangat mudah bagi Allah.

3.
Pengirim: Ahmad Rovicky  - Kota: Surabaya
Tanggal: 31/10/2014
 
Assalamualaikum kyai .. Dzikir untuk membrshkan hati itu apa aja kyai. Mohon 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Memperbanyak istighfar

4.
Pengirim: edi w  - Kota: samarinda kaltim
Tanggal: 30/10/2014
 
Assalammualaikum, yai aqiqoh yg menurut sunah gmana? Matur nuwun  
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Dalil melakukan aqiqah adalah sunnah, berdasarkan hadits berikut:

Telah berkata Amr ibnu al Ash bahwa nabi pernah bersabda :Barangsiapa suka akan mengaqiqahkan anaknya, maka kerjakanlah. (HR. Ahmad, Abu Daud, Nasai dan Mundziri)

Adapun sunnahnya aqiqah adalah pada hari ke tujuh dari hari lahir anak tersebut, berdasarkan riwayat ini:

Telah berkata Aisyah : Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam itu pernah mengaqiqahkan untuk Hasan dan Husin pada hari ke tujuhnya…(HR. Ibnu Hibban, Hakim, dan Baihaqi)


وَعَنْ سَمُرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( كُلُّ غُلَامٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ, تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ, وَيُحْلَقُ, وَيُسَمَّى ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيّ

Telah berkata Samurah : Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda : Tiap-tiap anak itu tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih untuk dia pada hari ketujuhnya, dan dihari itu ia diberi nama dan dicukur rambut kepalanya.(HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah, Baihaqi dan Hakim).

Jika aqiqah itu dilakukan pada sebelum hari ke tujuhnya atau pada hari sesudahnya, sekalipun bertahun-tahun itu tetap saja boleh dilakukan sesuai dg hadits:

Telah berkata Abu Buraidah : Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda :

Aqiqah itu disembelih pada hari ke tujuhnya, atau ke empat belasnya, atau ke dua puluh satunya. (HR. Baihaqi dan Thabrani)

Telah berkata Anas : Bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam itu pernah mengaqiqahkan untuk dirinya setelah menjadi Rasul. (HR. Baihaqi, Bazzar, Muhammad bin Abdul Malik bin Aiman, Thabrani dan Khallal)

Jika ada pihak yang mengikari hadits-hadits tersebut dan mengatakan bahwa sanadnya lemah (dhaif), maka menurut mayoritas para ulama Ahlus sunnah, boleh umat Islam itu mengamalkan hadits dhaif untuk fadhailul a-mal, seperti mengakhirkan Aqiqah karena kondisi keuangan keluarga.

Hanya kaum Wahhabi saja yg tidak memperbolehkannya.

5.
Pengirim: Ahmad Hanafi  - Kota: malang
Tanggal: 30/10/2014
 
Assalamualaikum Al ustadz KH. Lutfi Bashori

Ana mau bertanya tentang sujud syahwi, bagaimanakah cara sujud syahwi yg benar. dan apa sajakah sebab2 orang harus melakukan sujud syahwi,
syukron ustadz. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
1. Salah dalam rukun fi-li (gerakan) shalat.
2. Lupa tidak baca tahiyyay awwal.
3. Kekurangan dan kelebihan rukun fi-li.
4. Lupa terhadap rukun qouli (bacaan wajib).

Jika rukun-rukun yg salah itu sudah dibenahi (diulang) maka disunnahkan sujud sahwi sebelum salam, atau jika sujud sahwinya lupa sebelum salam, maka boleh juga setelah salam jika waktunya masih dekat dg salam (belum pindah posisi duduk dan belum banyak melakukan gerakan di luar shalat)

6.
Pengirim: Bayu  - Kota: Depok
Tanggal: 30/10/2014
 
Ass, Ustad, kami izin memposting artikel ini di fanspage kami NU Garis Lurus.
Sekalian juga izin keridhoan ustad terhadap fanspage kami. Atas perhatiaannya kami ucapkan terima kasih..

ID fanspage kami @[467428066729602:] 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
1. Mohon identitas Admin-nya dicantumkan secara jelas, jadi para membernya tahu jika tulisan-tulisan di group FB NU Garis Lurus itu bukan menjadi tanggungjawab kami.

2. Mohon tidak memposting foto-foto kami khususnya yang sudah menjadi icon Situs Pejuang Islam, NU Garis Lurus ini, yang sekira cepat disalahpahami oleh banyak pihak, bahwa Fanpage NU Garis Lurus itu adalah milik kami pribadi.

3. Kami persilahkan hanya mengcopy artikel-artikel kami secara lengkap dengan identitas pengarang, dan ini berlaku untuk umum.

4. Tidak menyandingkan tulisan kami dengan tulisan yang rawan dinisbatkan kepada kami, seperti artikel AHOK BOLEH JADI PRESIDEN DENGAN LIMA SYARAT, dengan tidak dicantumkan nama asli penulisnya, sehingga masyarakat menyangka bahwa artikel itu adalah tulisan kami pribadi, karena dimuat di Fanpage NU Garis Lurus, hingga sampai saat ini menimbukkan fitnah terhadap kami pribadi.

5. Mohon Adminnya secara jujur mengumumkan bahwa group itu tidak terkait secara langsung dengan kami pribadi, namun sekedar untuk meneruskan artikel-artikel yang kami posting di Situs Resmi Pejuang Islam NU Garis Lurus.

6. Mohon mengirim nomer HP Admin ke nomer HP kami 081333007321, untuk komunikasi lebih lanjut.

Semoga mendapat ridha dari Allah.

7.
Pengirim: darmawan widyantoro  - Kota: kec.kotagajah kab. lampung tengah
Tanggal: 30/10/2014
 
Benar atau tidak pemahaman/aliran yg membagi tingkat keimanan menjdi: syariat, tareqat, hakikat dan marifat? 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kalau pemahamannya itu benar, tapi banyak aliran yang salah praktek, yaitu beranggapan jika sudah menjalankan tareqat/hakikat/marifat, maka boleh meninggalkan syariat (misalnya boleh nggak shalat), padahal tidak ada derajat iman seseorang yang melebihi keimanan Nabi Muhammad SAW, sedangkan Nabi SAW itu tetap shalat lima waktu.

Biasanya, aliran yang menyalahgunakan pembagian seperti itu dalam prakteknya, cenderung mengaku-ngaku jadi wali, dan beranggapan jika seseorang sudah menjadi wali maka bebas dari kewajiban bersyariat (shalat/zakat/puasa Ramadhan).

Padahal para Walisongo itu tetap mengamalkan syariat, bahkan mereka menghukum mati Sidi Jenar karena berpaham salah seperti yg kami terangkan di atas.

Aliran sesat model Sidi Jenar namanya MANUNGGALING KAWULO GUSTI.

8.
Pengirim: Iwan Harli  - Kota: Malang
Tanggal: 29/10/2014
 
dalam islam, apakah boleh mempelajari ilmu Syamsul Maarif??
jika boleh apakah perlu guru untuk mempelajarinya ???

sukron 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Perlu guru yang mumpuni di bidang itu.

Banyak orang awwam yang membacanya asal-asalan tanpa bimbingan guru, akibatnya jiwanya tidak kuat dan pikirannya menjadi labil, lantas dalam keadaan labil seperti itu, iapun mudah dirasuki bangsa jin.

Jika tidak menemukan pakar pengusir jin yang merasukinya itu, maka rawanlah otaknya menjadi tidak waras alias gila.

Semoga Allah melindungi kita semua.

9.
Pengirim: Ahmad Rovicky  - Kota: Surabaya
Tanggal: 28/10/2014
 
Apakah bisa dikatakan rezeki uang hasil judi? Makasi 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
ADA REZEKI HALAL, KOK MEMILIH YANG HARAM


Luthfi Bashori

Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a suatu saat akan masuk ke masjid. Saat berada di halaman, beliau mendapati seorang lelaki yang berada di situ, ibarat juru parkir di masa kini, lantas beliau berkata kepada lelaki yang berdiri di depan pintu masjid itu, ‘’Peganglah keledaiku.’’ Lantas beliau masuk masjid untuk shalat. Namun, ternyata lelaki tadi justru mencuri penutup mulut keledai itu dan pergi meninggalkannya.

Kemudian Sayyidina Ali keluar sedangkan di tangannya sudah disiapkan uang dua dirham untuk memberi imbalan kepada lelaki itu sebagia upah karena telah memegangi keledainya.

Akan tetapi beliau mendapati di halaman masjid tidak seorang pun yang memegang keledainya, bahkan penutup mulut keledai itu pun sudah hilang. Maka Sayyidina Ali menaiki keledainya dan pulang ke rumahnya. Saat tiba di rumah, beliau memanggil pelayannya dan memberikan uang dua dirham itu kepada si pelayan untuk membeli penutup mulut keledainya.

Ternyata si pelayanan itu mendapati penutup mulut keledai milik Sayyidina Ali itu di pasar. Rupanya, si pencuri itu telah menjualnya dengan harga dua dirham. Kemudian Sayyidina Ali r.a. berkata kepada pelayannya: Sesungguhnya seorang hamba terkadang menghalangi dirinya dari rezeki halal karena tidak sabar, dan ia hanya mendapat apa yang telah di tetapkan baginya (alias uang haram).

Seandainya lelaki itu mau sabar, semestinya ia akan menerima upah dari Sayyidina Ali uang dua dirham yang halal. Akan tetapi karena ia tidak sabar, maka ia mencuri penutup mulut keledai itu dan menjualnya ke pasar seharga dua dirham yang haram hukumnya.

Contoh kejadian di atas tentunya hanyalah sekelumit gambaran, bahwa ternyata banyak sekali karakter manusia yang lebih mengedepankan hawa nafsunya daripada meyakini bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Pemberi rezeki bagi seluruh hamba-Nya.

Secara jelas Allah menyebutkan dalam firman-Nya pada surat Huud, ayat 6 yang artinya:
Dan tidak ada suatu binatang/makhluk melata pun (termasuk manusia) di muka bumi, melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia Maha Mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

Jadi, pada hakikatnya setiap orang itu telah ditentukan nominal rezekinya, hanya saja adakalanya orang itu mengambil jatah rezekinya secara halal, namun tak jarang orang itu mengambil jatah rezekinya dengan cara yang haram.

Sedangkan berapa jumlah nominal rezeki seseorang itu dan kapan saja rezekinya dapat dinikmati, maka tentunya urusan ini adalah menjadi rahasia Allah semata. Jika saja Allah telah menentukan bahwa hari ini Dia tidak akan memberikan rezeki-Nya pada seseorang, maka dikejar kemanapun dan dengan cara apapun, pasti orang tersebut tidak akan mendapatkan jatah rezekinya itu. Sebaliknya, jika Allah menghendaki bahwa hari ini ada pembagian rezeki bagi seseorang, maka sekali pun orang itu tidur lelap di atas ranjang, maka pasti rezekinya itu akan datang sendiri kepadanya, tanpa harus bersusah payah mengejarnya.

Contoh kongkrit, ada kalanya Allah menggerakkan hati seseorang untuk mengadakan selamatan keluarga dengan cara kirim makanan (berkatan) kepada para tetangganya, di sisi lain Allah telah menentukan adanya pembagian rezeki berupa kiriman makanan (berkatan) itu bagi para tetangganya. Maka sekalipun ada tetangga yang ternyata sedang tidur lelap di atas ranjang, ia pun akan mendapatkan jatah rezekinya yang berupa kiriman makanan (berkatan) itu, tanpa harus susah-susah mencarinya.

Sekalipun demikian, Allah memberi kesempatan kepada setiap orang agar berikhtiar dan berusaha untuk mencari rezekinnya masing-masing, karena min sunnatillah la yaf’alu syaian illa bi asbab (dari kebiasaan Allah tidak akan menentukan sesuatu kecuali ada penyebabnya terlebih dahulu). Sebabnya Allah memberikan rezeki kepada seseorang itu karena umumnya orang tersebut telah berikhtiar dan berusaha mencari rezekinya itu.

Sekalipun Allah adalah Dzat Yang Maha Mampu untuk memberi rezeki kepada seseorang hanya berdasarkan kehendak-Nya, kun fayakuun (Jadilah, maka terjadilah apa yang Dia kehendaki). Namun karena kebiasaan Allah untuk menentukan sesuatu itu berdasarkan adanya suatu sebab, maka setiap orang harus mencari penyebab yang sangat memungkinkan Allah akan membagi rezeki-Nya kepada dirinya. Misalnya, dengan sebab bekerja yang halal, maka sangat memungkinkan Allah akan membagi rezeki-Nya yang halal untuk para pekerja itu.

- See more at: http://www.pejuangislam.com/main.php?prm=karya&var=detail&id=700#sthash.r7fCDIMj.dpuf

10.
Pengirim: darmawan widyantoro  - Kota: kec.kotagajah kab. lampung tengah
Tanggal: 28/10/2014
 
Bolehkah dzikir dengan hanya menyebut lafadz "Allah"? 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Boleh, dan tidak ada satupun dalil yang melarangnya.


First <<  1 [ 2 ] [ 3 ] [ 4 ] [ 5 ] [ 6 ] [ 7 ] [ 8 ] [ 9 ] [ 10 ] [ 11 ] [ 12 ] [ 13 ] [ 14 ] [ 15 ]   >> Last

 
  Situs © 2014 Oleh Pejuang Islam