URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
Hari ini: Sabtu, 20 Desember 2014 - Pejuang Islam, melestarikan kemurnian Ahlussunnah wal Jamaah
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Sekilas Profil
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV NU GARIS LURUS
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
AJARAN ULAMA SALAF, HENDAKLAH DIAMALKAN OLEH UMAT 
  Penulis: Pejuang Islam  [7/12/2014]
   
PEMIMPIN BAIK vs PEMIMPIN JAHAT 
  Penulis: Pejuang Islam  [3/12/2014]
   
SYAHADAT SYIAH TIDAK SAMA DENGAN SYAHADAT MUSLIM 
  Penulis: Pejuang Islam  [29/11/2014]
   
MENGHORMAT PARA TAMU 
  Penulis: Pejuang Islam  [28/11/2014]
   
GROUP PEJUANG ASWAJA GARIS LURUS 
  Penulis: Pejuang Islam  [26/11/2014]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Sabtu, 20 Desember 2014
Pukul:  
Online Sekarang: 15 users
Total Hari Ini: 1049 users
Total Pengunjung: 2121087 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - BUKU TAMU
 
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
 
1.
Pengirim: alex  - Kota: jakarta
Tanggal: 17/12/2014
 
assalamualaikum ustadz..

apa hukumnya acara 7 bulanan yang dilakukan untuk anak yang msh di kandung?
apakah ada hadist atau ayat di al quran yang menerangkang tentang acara tersebut.??

dan bagaimana kalo saya tidak melakukan acara tersebut apakah akan berpengaruh dengan kelancaran bersalin istri saya ?

terima kasih ustadz untuk jawabannya 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
1. Banyak amalan ibadah sunnah umat Islam yang tidak berdasarkan tekstual dalil Alquran maupun Hsdits Nabi SAW, dan yang demikian ini boleh menurut syariat, contohnya ibadah sunnah berdakwah lewat internet.

2.Walimatul hamli/selamatan tingkepan adalah salah satu wujud tahadduts bin ni’mah yakni memperlihatkan rasa syukur atas kenikmatan/ kegembiraan yang dianugerahkan oleh Allah SWT. berupa jabang bayi yang berada dalam janin yang selama ini menjadi dambaan pasangan suami dan isteri.
Ulama’ salaf memfatwakan : setiap ada suatu kenikmatan/kegembiraan disunatkan mengadakan selamatan/bancaan mengundang sanak tetangga dan teman-teman sebagaimana yang ditulis oleh syaikh Abd. Rahman Al-Juzairi dalam kitabnya “al-fiqhu alal madzahibil arba’ah” juz II hal. 33 :
الشَّافِعِيَّةُ قَالُوْا: يُسَنُّ صُنْعُ الطَّعَامِ وَالدَّعْوَةُ إِلَيْهِ عِنْدَ كُلِّ حَادِثِ سُرُوْرٍ، سَوَاءٌ كَانَ لِلْعُرْسِ أَوْ لِلْخِتَانِ أَوْ لِلْقُدُوْمِ مِنَ السَّفَرِ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا ذُكِرَ. اهـ
Artinya :
“Ulama Syafi’iyyah (pengikut madzhab Syafi’i) berpendapat : disunatkan membuat makanan dan mengundang orang lain untuk makan-makan, sehubungan dengan datangnya suatu kenikmatan/kegembiraan, baik itu acara temantenan, khitanan, datang dari bepergian dan lain sebagainya”.
Wal-hasil, para warga yang hendak mengadakan walimatul hamli sudah barang tentu harus menata hatinya dengan niatan yang benar dan mempunyai sikap arif dan bijak dalam memilih dan memilah di antara beberapa hidangan dan sajian tersebut, mana yang bisa diselaraskan dengan syari’at dan mana yang tidak, mana yang masih dalam koridor akidah islamiyah dan mana yang tidak

2.
Pengirim: ardie  - Kota: Tanggamus, Lampung.
Tanggal: 17/12/2014
 
Assalamualaikum, Wr. Wb.

bagaimana hukumnya ijazah hasil mencontek untuk persyaratan kerja atau meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Karena disekolah saya dulu, saat ujian kelulusan (Ujian Nasional) kami diberi isian jawaban oleh kepala sekolah dan guru di tempat saya sekolah. Bahkan dibeberapa sekolah pun ada yang demikian. Sedangkan ini menjadi persyaratan penting bagi yang ingin melamar kerja atau mendaftar di perguruan tinggi. Terimakasih. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
1. Semoga Allah mengampuni kita semuanya.

2. Urusan ijazah sekolahan itu bukanlah teemasuk syarat yg ditentukan oleh syariat Islam. Begitu banyaknya orang Islam yg tidak mengandalkan ijazah sekolah untuk mencari nafkah.

3. Baik urusan ijazah sekolah maupun KTP tidak ada hubungannya sah atau tidaknya suatu pekerjaan. Yang menjadi standar sah tidaknya pekerjaan adalah ijab qabulnya, dan sistem yang diberlakukannya, jika tidak bertentangan dengan syariat maka hukumnya sah, dan jika bertentangan dengan syariat maka tidak sah.

4. Himbauan, belajarlah kejujuran sejak dini, dan ajarkanlah kepada keluarga untuk berbuat jujur, semoga menjadi kebaikan bersama.

Wallahu a lam.

3.
Pengirim: harli  - Kota: Malang
Tanggal: 16/12/2014
 
asalamualaikum wr wb.
adakah Doa agar orang yang kita cintai bisa mencintai saya juga?
padahal saya sudah berusbaha semampu saya..

 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
1. Mohon maaf, pertanyaannya kurang jelas, orang yg dicintai itu pacarnya (yg hukumnya berdosa) atau kawan sesama muslim atau familinya ?

2. Jika kawan sesama muslim atau familinya dg tujuan silaturrahim, maka bisa dicoba dg banyak membaca: Allahumma shalli alaa sayyidina muhammad, wa alaa AALI sayyidina Muhammad. Di saat membaca AALI maka hatinya berniat untuk orang yg maksudkan.

Semoga membawa kebaikan.

4.
Pengirim: harun  - Kota: semarang
Tanggal: 15/12/2014
 
Assalamulaikum
pak yai
mau tanya lagi nih Aswaja tu artiny apa ya aku tau klau ahli sunnah wal jamaah (mkasutnya gmn?) perngertian secara detail
aku ikt Aswaja tapi blm paham arti dari itu menyeluruh
syukron 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
ASWAJA adalah singkatan dari Ahlus Sunnah wal Jamaah.
SEKILAS PANDANG MENGENAI AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH
Penulis: H.M. Luthfi Bashori

Membahas Ahlus Sunnah wal Jamaah (aswaja) akan membutuhkan curahan perhatian dan konsentrasi penuh, apabila ingin memahaminya secara detail dan sempurna. Karena pembahasan tentang aswaja dapat berorientasi terhadap berbagai macam tinjauan, perumusan dan pemahaman, sesuai dari sudut mana memandangnya.

Tinjauan pertama, aswaja diartikan sebagai suatu kajian ilmiah yang bisa dipelajari lewat literatur-literatur. Kedua, aswaja merupakan suatu keyakinan yang bertempat jauh di lubuk hati, yang mewarnai perilaku hidup seseorang. Ketiga, aswaja bisa dipandang sebagai wadah bagi berkumpulnya individu yang mengarah kepada satu misi yang disepakati. Dan masih banyak lagi rumusan pengertian dan pemahaman aswaja menurut titik pandang tertentu yang selama ini terus berkembang di kalangan masyarakat.

Bentuk dari perkembangan rumusan pengertian dan pemahaman aswaja ditandai dengan banyaknya ORMAS (Organisasi Massa) yang sering mengklaim atau mengatasnamakan dirinya sebagai ormas aswaja. Tempat pendidikan semacam pesantren, madrasah diniyah, madrasah dengan kurikulum formal dan majlis taklim juga banyak yang memasang label aswaja sebagai asas organisasi. Bahkan menjamurnya orsospol / partai politik di era reformasi ini juga tak luput dari embel-embel aswaja pada asas partai dan AD/ART-nya.
Karena setiap individu dan kelompok mempunyai kepentingan dan tinjauan yang berbeda-beda, maka pemahaman tentang aswaja juga menjadi bervariasi antara satu dengan yang lain. Bahkan terkadang di antara kelompok tersebut ada yang merasa ‘lebih aswaja’ dibanding kelompok lain. Hal ini juga sejalan dengan firman Allah yang artinya :

“Setiap kelompok pasti membanggakan ciri khas yang ada pada dirinya.”
(QS. Al mukminun, 53).

Maka, kuat/lemahnya pengakuan mereka tergantung dari kadar pemahamannya terhadap aswaja, serta penerapannya terhadap prilaku kelompok tersebut sesuai dengan kaedah-kaedah yang terkandung di dalam aswaja itu sendiri. Seorang penyair mengatakan:
Wakullun yadda’i wushlan bi Laila # wa Laila la tuqirru lahu bi dzaka
“Semuanya mengaku sebagai pecinta (kekasih ) Laila. Namun Laila tidak mengakui mereka sebagai kekasihnya”.
Syair tersebut mengisyaratkan bahwa sebaik-baik pengakuan adalah pengakuan yang disesuaikan dengan keadaan sebenarnya.

Agar kelompok-kelompok yang mengaku sebagai ‘anak buah’ aswaja bisa mengenali dirinya sendiri, apakah ia sudah sesuai dengan aswaja atau belum, maka sebagai pengenalan dasar hendaknya memperhatikan hadits nabi tentang definisi aswaja :
“Telah terpecah kaum Yahudi tujuh puluh satu golongan, dan terpecah pula kaum Nasrani menjadi tujuh puluh dua golongan, sedangkan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya berada di neraka kecuali satu golongan”. Tatkala Rasulullah SAW ditanya tentang golongan yang selamat itu, beliau SAW menjawab: “Golongan yang mengikuti perilakuku dan perilaku para shahabatku”.
Hadits ringkas dan padat ini sebenarnya mempunyai arti dan kandungan yang sangat luas, bahkan telah mencakup seluruh sendi dan pilar agama Islam. Sebab inti dari beragama Islam adalah ittiba’ (mengikut secara mutlak) kepada Rasulullah SAW.

Beberapa hal yang merupakan dari ittiba’ (mengikuti) kepada beliau SAW misalnya :

Perintah Rasulullah SAW terhadap pelaksanaan shalat yang merupakan ‘imaduddin (tiang agama) beliau SAW bersabda yang artinya : “Shalatlah seperti kalian melihat aku shalat”
Perintah menunaikan ibadah haji, sabda beliau yang artinya: mencontohlah dariku manasik haji kalian”
Dua hal di atas dikuatkan oleh ayat Alquran artinya : “Dan bagi kalian pada diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang baik” (QS. Al-ahzab,21).
Dua contoh di atas sengaja disederhanakan, namun tidak berarti meniru Rasulullah SAW hanya dalam hal-hal ibadah Mahdhah seperti itu, karena ayat tersebut di atas memberi peluang gerak yang lebih luas lagi, yaitu perintah meniru perilaku Rasulullah SAW termasuk dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berpolitik, dan bernegara.

Di samping itu, kita tidak boleh mengenyampingkan ilmu dan ajaran para shahabat Nabi SAW, di mana mereka adalah murid-murid Nabi SAW yang dalam kehidupan sehari-harinya berkiblat pada beliau SAW. Lebih-lebih lagi mereka hidup pada zaman diturunkannya Alquran. Maka secara otomatis perilaku para sahabat telah terkontrol oleh turunnya ayat Alquran maupun sabda dan pengawasan Rasulullah SAW secara langsung. Demikianlah kira-kira arti yang tersirat dalam hadits Nabi SAW di atas.

Dari sinilah individu dan kelompok yang telah mengklaim dirinya sebagai penganut aswaja, pertama harus tahu persis tentang pribadi Nabi SAW dan ajaran syariatnya secara menyeluruh dan berupaya menjalakan ajaran tersebut secara utuh, artinya menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari baik yang berkaitan dengan urusan pribadi dan keluarga, hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, baik tata cara berekonomi, sosial, politik maupun beragama.

Kedua, harus rajin mempelajari biogarafi para shahabat, ajaran dan ijtihad serta pemikiran mereka untuk diresapi dan diikuti sebagai pijakan menjalankan rotasi kehidupan secara islami yang haqiqi. Tanpa itu, pengakuan sebagai penganut aswaja, hanyalah fatamorgana belaka.


ASWAJA DAN PRILAKU UMAT DEWASA INI
( Bagian Kedua )

Apabila umat Islam sudah memahami bahwa inti dari aswaja adalah ittiba’ (mengikuti) Rasulullah SAW, maka tentunya setiap individu muslim bisa mengukur dirinya apakah sudah tepat bila ia mengaku dan menggolongkan dirinya sebagai penganut aswaja. Ataukah prilakunya telah menyimpang dari ajaran murni yang dibawa Nabi Muhammad SAW hingga keluar dari lingkup aswaja. Rasulullah SAW telah mengingatkan umatnya, sebagaimana yang diriwayatkan Ummul Mukmini ‘Aisyah ra. berkata: Rasulullah SAW bersabda: “ Barang siapa menciptakan didalam agama kami apa yang bukan termasuk agama kami, maka hal itu ditolak” ( HR. Bukhari dan Muslim).
“Berhati-hatilah kalian terhadap amal-amal ciptaan baru, karena sesungguhnya sebagian bid’ah (ciptaan baru) itu sesat” (HR. Abu Dawud dan at Tirmidzi, hadits hasan shahih)

* Sebagai keterangan ringkas, Kullu Kulliyah diartikan “seluruh” sedangkan Kullu Kulli diartikan “sebagian” (harap merujuk kepada ilmu Manteq, dan bukan dalam forum ini pembahasannya)

Jika kita merujuk kepada dua hadits di atas, maka kita akan mendapati betapa banyak amalan kaum muslimin saat ini yang ditolak oleh Islam, sebab mereka telah masuk pada wilayah bid’ah, seperti adanya sekolah dengan label Islam bahkan label aswaja, yang mencampuradukkan siswa dan siswi dalam satu kelas tanpa ada sekat/tabir. Pencampuran lelaki dan perempuan dalam satu tempat inilah di antara bid’ah yang berkembang di tengah masyarakat.

Pengertian bid’ah tidaklah mutlak harus menuju ke arah dhalalah (sesat), sebab umat Islam juga harus mengacu kepada sabda Rasulullah SAW :
“Hendaklah kalian berpeganf teguh terhadap sunnahku dan sunnah al-Khulafair Rasyidin yang mendapat petunjuk (HR. Abu Dawud dan at Tirmidzi, hadits hasan shahih)

Suatu saat, terjadi perbedaan cara melaksanakan tarawih di kalangan para shahabat, maka atas ijtihad dari sayyidina Umar bin Khattab ra, rakaat shalat tarawih ditetapkan sebanyak 20 rakaat dengan berjamaah di masjid. Kemudian sayyidina Umar bin Khattab berkomentar:
“Sebaik-baik bid’ah adalah (shalat tarawih denagan cara) ini” (HR. al-Bukhari)

Bermula dari dua riwayat di atas, para ulama membagi bid’ah menjadi dua, yaitu bid’ah hasanah dan bid’ah dlalalah.

Bid’ah hasanah adalah amalan yang baru di dalam Islam, namun jika ditilik secara detail, maka setiap bagan dari amalan tersebut masih berada dalam lingkup makna yang tersirat di dalam ayat Alquran atau Hadits.
Beberapa contoh bid’ah hasanah yang berkembang di tengah masyarakat adalah:
1.Penghormatan terhadap kelahiran Rasulullah dengan membaca maulid Diba’ dengan dilagukan. Amalan ini berasal dari perintah Alquran maupun Hadits tentang pentingnya bershalawat kepada Nabi SAW. Karena itu isi maulid Diba’ adalah bacaan shalawat kepada Nabi SAW, sedang beliau SAW juga merayakan hari kelahirannya dengan cara berpuasa pada setiap hari Senin.
2.Mengadakan tasyakkur haji dengan mengundang tetangga dan memberi mereka makan.
3.Penyambutan jamaah haji dengan diarak shalawat terbang, serta memberi makan para tamu yang ziarah haji.
4.Membaca puji-pujian kepada Rasulullah SAW dengan lagu-lagu yang dibaca sebelum shalat jamaah dimulai, atau qasidah-qasidah yang dibaca secara koor / bersama-sama yang semuanya berisi shalawat kepada Nabi SAW

Bid’ah dhalalah adalah amalan baru di dalam Islam, yang tidak ada landasan sedikitpun dari Alquran maupun Hadits, bahkan cenderung melanggar syariat Islam.

Bid’ah dlalalah yang tengah berkembang di masyarakat sangatlah banyak. Adakalanya dianggap ringan sebab tidak sampai menjurus kepada kekufuran atau kemurtadan, yaitu bid’ah yang sifatnya bertentangan dengan hukum haram, seperti mengadakan rombongan ziarah Wali Sanga dalam satu bus yang pesertanya bercampur antara lelaki dengan perempuan yang bukan mahramnya, bahkan terkadang dipimpin seorang wanita. Ziarah ke makam para shalihin hukumnya boleh, asalkan tidak melanggar ketentuan syariat Islam.

Contoh lain adalah mengadakan pengajian umum di tengah lapang, dengan pengunjung lelaki dan perempuan yang bercampur aduk tanpa pembatas. Sebelum acara inti, diselingi orkes gambus oleh fatayat, bahkan seorang mubalighah tampil sebagai pembicara, dan terkadang mengenakan baju sedikit ketat dan tipis, plus perhiasan yang sangat menarik kaum lelaki yang memandangnya.

Sudah selayaknya para pengikut aswaja menghindari bid’ah semacam di atas. Serta meemperhatikan firman Allah SWT yang artinya : Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka…………….” (An Nur : 31)

Termasuk bid’ah yang sering terjadi pada tempat-tempat pendidikan Islam saat ini adalah seorang guru lelaki dengan leluasa masuk dan mengajar pelajar putri tanpa batas sesuai ketentuan agama, atau dalam satu kantor pesantren / madrasah, atau bahkan kantor ormas Islam yang selalu menyuarakan aswaja, justru yang bertugas adalah pengurus putra dan pengurus putri dalam satu ruangan bahkan dengan leluasa berinteraksi seperti layaknya saudara se mahram. Allah SWT berfirman yang artinya :
“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka”. (Al Ahzab : 53)

Ayat ini menunjukkan bahwa hubungan antara lelaki dan perempuan yang bukan mahramnya, haruslah dibatasi dengan tabir.

Adapun bid’ah dhalalah yang sangat mengkhawatirkan dapat menjurus kepada kemurtadan dan kekufuran, juga telah banyak berkembang di kalangan umat Islam dewasa ini, yang kadangkala dilakukan secara individu maupun secara berjamaah. Sebagai contoh, seorang muslim mengucapkan dengan serius kepada non muslim, semisal : Selamat Natal, bahkan ikut bergembira dan merayakan perayaan natal tersebut baik di gereja maupun di tempat lain. Contoh lain adalah mengadakan ritual doa bersama muslim-non muslim, dengan mengamini setiap doa yang dilantunkan oleh setiap tokoh agama yang berlainan. Bid’ah mencaci-maki para shahabat Nabi SAW senabagimana yang sering dilakukan oleh pengikut aliran Syi’ah Iran. Demikian dan lain sebagainya.

5.
Pengirim: harun  - Kota: semrang
Tanggal: 14/12/2014
 
assalammulaikum

pakyai mau tnya toleransi tu pengertianya ap?

syukron?
dan cara kita toleransi dgn non muslim gmn?
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
1. Toleransi Agama artinya memcampuradukkan urusan agama yang satu dengan agama yang lain, hukumnya Haram.

2. Toleransi antar UMAT beragama, saling menghormati antar pemeluk agama-agama, menurut Islam ada batasan yang boleh dan yang haram.

3. Salah satu bentuk toleransi umat Islam terhadap non muslim yang boleh dilakukan, misalnya saling menyapa dengan tetangganya yang non muslim. Boleh bermitra dagang/kerja dengan non muslim. Tidak mengganggu tetangganya yang non muslim, selagi mereka tidak mengganggu umat Islam.

4. Salah satu bentuk toleransi umat Islam terhadap non muslim yang haram dilakukan, adalah setiap hal yang berkaitan dengan ritual agama non muslim, misalnya mengucapkan SELAMAT NATAL, atau menghadiri undangan Natal, dsb.

6.
Pengirim: aldo  - Kota: depok
Tanggal: 13/12/2014
 
salam ustad.. saya mau bertanya : yg dimaksud dengan sholat duha khusus itu seperti apa ? saya sering mendengar sholat duha khusus sering di ajarkan di pesantren-pesantren.

 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Mohon maaf, justru kami belum pernah mendengarkannya.

Ada sebagian pesantren yang mengajak para santrinya untuk shalat Dhuha berjamaah (srmestinya shalat Dhuha itu dilakukan sendiri-sendiri), namun untuk pembelajaran terhadap anak-anak kecil atau remaja, maka sebagian ulama memperbolehkan pembelajaran seperti itu, namun tetap memberi keterangan bahwa disyariatkan shalat Dhuha itu adalah sendiri-sendiri dan tidak dg berjamaah.

7.
Pengirim: harun  - Kota: semrang
Tanggal: 13/12/2014
 
assalamulaikum
apakh pak yai dukung spenuhnya Fpi?
sekrng ahok legalkan miras, trus sikap akhi gmn? syukron 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kami sangat mendukung PELENGSERAN AHOK, semoga para pejuang Islam DKI dapat menemukan cara yg sangat efektif untuk segera melengserkan Ahok.

8.
Pengirim: darma  - Kota: Batang
Tanggal: 12/12/2014
 
Assalamualaikum wr wb
romo kyai,mau tanya :
1.Berapa hadist kah yg di hafal para muhadist salaf utk mencapai derajat ahli hadist ?
2.Apakah syaikh al albany sdh memenuhi syarat sbg muhadist,krn kaum salafy/wahaby sering berpegangan kepada nya dan menyebut nya pakar bahkan ahli hadist setara dg imam imam salaf ?
syukron  
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Ada artikel yang sangat bermanfaat, silahkan baca berikut:

Siapakah yang Layak disebut Muhaddits? 1
Sebagai perbandingan salah seorang Muhaddits Indonesia, syaikh Muhammad Yasin ibn Muhammad ‘Isa al-Fadani memiliki rantaian sanad yang bersambung sampai kepada Rasululloh SAW. Sementara syaikh al Albani dapat dikatakan lebih sebagai kutu buku yang banyak menghabiskan waktu di perpustakaan untuk mempelajari hadits, ketimbang sebagai ahli hadits (Muhaddits). Sebab persyaratan untuk dapat dikatakan sebagai seorang tokoh Ahli Hadits (Muhaddits) amatlah berat.

Setidaknya ada 3 syarat menurut Imam Ibnu Hajr al Asyqolani Asy Syafi’ie :

1. Masyhur dalam menuntut ilmu hadits dan mengambil riwayat dari mulut para ulama, bukan dari kitab-kitab hadits saja.

2. Mengetahui dengan jelas Thabaqat generasi periwayat dan kedudukan mereka.

3. Mengetahui Jarah dan ta`dil dari setiap periwayat, dan mengenal mana hadits yang shahih atau yang Dhaif, sehingga apa yang dia ketahui lebih banyak dari pada yang tidak diketahuinya, juga menghapal banyak matan haditsnya.

Hadits terdiri dari dua disiplin ilmu, yaitu Ilmu Dirayat dan Ilmu Riwayat. Ilmu Dirayat lebih dikenal dengan ilmu Mushtalah Hadits yang membahas status hadits terkait sahih, hasan, dlaif atau maudlu’nya. Sementara ilmu Riwayat berkaitan dengan sanad hadits sampai kepada Rasulullah Saw. Kedua disiplin ilmu ini tidak dapat dipilih salah satunya saja bagi ahli hadits, keduanya harus sama-sama mampu dikuasai. Sebagaimana yang dikutip beberapa kitab Musthalah Hadis terkait pengakuan Imam Bukhari bahwa beliau hafal 300.000 hadis, yang 100.000 adalah sahih dan yang 200.000 adalah dlaif, maka Imam Bukhari juga hafal dengan kesemua sanadnya tersebut. (Syarah Taqrib an-Nawawi I/13)

Ilmu hadits memiliki kesamaan dengan ilmu Qira’ah al-Quran, yaitu tidak cukup dengan ilmu secara teori dari teks kitab dan tidak cukup secara otodidak, tetapi harus melalui metode ‘Talaqqi’ atau ‘transfer’ ilmu secara langsung dari guru kepada murid dalam majlis ilmu.

Al-Hafidz as-Suyuthi mengutip dari para ulama tentang ‘ahli hadis’ dan ‘al-hafidz’ :

قَالَ الشَّيْخُ فَتْحُ الدِّينِ بْنِ سَيِّدِ النَّاسِ وَأَمَّا الْمُحَدِّثُ فِي عَصْرِنَا فَهُوَ مَنِ اشْتَغَلَ بِالْحَدِيْثِ رِوَايَةً وَدِرَايَةً وَاطَّلَعَ عَلَى كَثِيْرٍ مِنَ الرُّوَاةِ وَالرِّوَايَاتِ فِي عَصْرِهِ, وَتَمَيَّزَ فِي ذَلِكَ حَتَّى عُرِفَ فِيْهِ حِفْظُهُ وَاشْتَهَرَ فِيْهِ ضَبْطُهُ. فَإِنْ تَوَسَّعَ فِي ذَلِكَ حَتَّى عَرَفَ شُيُوْخَهُ وَشُيُوْخَ شُيُوْخِهِ طَبْقَةً بَعْدَ طَبْقَةٍ، بِحَيْثُ يَكُوْنَ مَا يَعْرِفُهُ مِنْ كُلِّ طَبْقَةٍ أَكْثَرَ مِمَّا يَجْهَلُهُ مِنْهَا، فَهَذَا هُوَ الْحَافِظُ (تدريب الرّاوي في شرح تقريب النّواوي 1 / 11)

“Syaikh Ibnu Sayyidinnas berkata: Ahli hadits (al-Muhaddits) di masa kami adalah orang yang dihabiskan waktunya dengan hadits baik secara riwayat atau ilmu mushthalah, dan orang tersebut mengetahui beberapa perawi hadits dan riwayat di masanya, serta menonjol sehingga dikenal daya hafalannya dan daya akurasinya. Jika ia memiliki pengetahuan yang lebih luas sebingga mengetahui para guru, dan para maha guru dari berbagai tingkatan, sekira yang ia ketahui dari setiap jenjang tingkatan lebih banyak daripada yang tidak diketahui, maka orang tersebut adalah al-Hafidz” (Al-Hafidz as-Suyuthi, Syarah Taqrib I/11)

وَقَالَ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّيْنِ السُّبْكِي إِنَّهُ سَأَلَ الْحَافِظَ جَمَالَ الدِّيْنِ الْمِزِّي عَنْ حَدِّ الْحِفْظِ الَّذِي إِذَا انْتَهَى إِلَيْهِ الرَّجُلُ جَازَ أَنْ يُطْلَقَ عَلَيْهِ الْحَافِظُ ؟ قَالَ يُرْجَعُ إِلَى أَهْلِ الْعُرْفِ, فَقُلْتُ وَأَيْنَ أَهْلُ الْعُرْفِ ؟ قَلِيْلٌ جِدًّا, قَالَ أَقَلُّ مَا يَكُوْنُ أَنْ يَكُوْنَ الرِّجَالُ الَّذِيْنَ يَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُ تَرَاجُمَهُمْ وَأَحْوَالَهُمْ وَبُلْدَانَهُمْ أَكْثَرَ مِنَ الَّذِيْنَ لاَ يَعْرِفُهُمْ, لِيَكُوْنَ الْحُكْمُ لِلْغَالِبِ, فَقُلْتُ لَهُ هَذَا عَزِيْزٌ فِي هَذَا الزَّمَانِ (تدريب الرّاوي في شرح تقريب النّواوي 1 / 11)

“Syaikh Taqiyuddin as-Subki berkata bahwa ia bertanya kepada al-Hafidz Jamaluddin al-Mizzi tentang kriteria gelar al-Hafidz. Syaikh al-Mizzi menjawab: Dikembalikan pada ‘kesepakatan’ para pakar. Syaikh as-Subki bertanya: Siapa para pakarnya? Syaikh al-Mizzi menjawab: Sangat sedikit. Minimal orang yang bergelar al-Hafidz mengetahui para perawi hadis, baik biografinya, perilakunya dan asal negaranya, yang ia ketahui lebih banyak daripada yang tidak diketahui. Agar mengena kepada yang lebih banyak. Saya (as-Subki) berkata kepada beliau: Orang semacam ini sangat langka di masa sekarang (Abad ke 8 Hijriyah)” (Al-Hafidz as-Suyuthi, Syarah Taqrib I/11)

Lebih lanjut, mari kita perhatikan penjelasan mengenai kriteria Muhaddits ini.

Sebenarnya, syarat apa yang harus dipenuhi, hingga seseorang layak memperoleh gelar al muhaddits ini tentunya kita kembalikan kepada kriteria yang ditetapkan oleh para huffadz dan muhaditsun mengenai mereka yang layak disebut muhaddits.

Muhaddits sendiri secara bahasa adalah orang yang meriwayatkan (rawi) hadits dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. (Mu’jam Al Wasith, hal.160) Namun, dalam ilmu musthalah al hadits, ditetapkan syarat, hingga seorang perawi disebut muhaddits. Berikut ini, penulis ketengahkan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang hingga ia bisa disebut sebagai muhaddits, dengan merujuk kajian yang telah ditulis oleh Al Hafidz As Suyuthi dalam muqaddimah Tadrib Ar Rawi, (hal. 29-35).

Tatkala berbicara mengenai tingkatan penguasaan dalam ilmu hadits, Al Hafidz As Suyuthi telah membahas masalah ini dengan penjang pebar, ketika menyebutkan kriteria hafidz, muhaddits dan musnid, dengan menyebutkan; ”Ketahuilah bahwa derajat terendah dari ketiganya adalah musnid, yakna siapa yang meriwayatkan hadits dengan isnadnya, baik dia memiliki ilmu tentang hadits atau hanya sekedar meriwayatkan. Adapun muhaddits lebih tinggi dari hal ini.”

Beliau juga menukil pendapat Taj bin Yunus dalam Syarh At Ta’jiz, tentang siapa itu muhaddits, ”Siapa yang memiliki ilmu mengenai penetapan hadits dan keadilan para perawinya, karena siapa yang hanya sebatas menyimak saja, maka ia tidak termasuk alim.”

Az Zarkasyi juga menyebutkan; ”Adapun bagi para fuqaha’, muhaddits untuk mereka secara mutlak tidak diberikan, kecuali kepada mereka yang hafal matan hadits dan memiliki ilmu mengenai jarh dan ta’dil para perawinya, dan tidak hanya sebatas meriwayatkan.”

Dari beberapa paparan tersebut, menyimak merupakan syarat seseorang dalam ilmu hadits, baik musnid, muhaddits, atau hafidz. Namun, muhaddits lebih tinggi tingkatannya dibanding musnid, karena muhaddits harus memiliki pengetahuan menganai jarh wa ta’dil.

Akan tetapi, dalam keterangan di atas tidak disebutkan secara terperinci berapa jumlah hadits yang harus disimak dan dihafal, serta tingkatan pengetahuan mengenai rijal al hadits. Keterangan lebih jelas mengenai syarat-syarat seorang bisa disebut muhaddits dijelaskan oleh Tajuddin As Subki, dalam Mu`id An Ni’am; ”Sesungguhnya muhaddits adalah siapa yang tahu asanid dan ilal, nama-nama rijal, (sanad) al ali dan an nazil, hafal banyak matan, menyimak Kutub As Sittah, Musnad Ahmad, Sunan Al Baihaqi, Mu’jam At Thabarani, dan digabungkan dengannya seribu juz dari kitab-kitab hadits. Ini adalah derajat terendah.”

Sebelumnya Tajuddin As Subki juga mengkritik kelompok yang mengira sebagai muhaddits dengan hanya mengkaji Masyariq Al Anwar As Saghani dan Mashabih Al Baghawi, dengan mengatakan; ”Hal itu tidak lain karena mereka jahil terhadap hadits. Walau mereka hafal dua kitab itu di luar kepala dan digabungkan kepadanya dua kitab semisalnya, belum menjadi muhaddits, dan tidak akan pernah menjadi muhaddits, hingga onta masuk ke lubang jarum.”

Beliau melanjutkan,”Demikian pula, jika kelompok tersebut mengklaim sampai kepada derajat tinggi hadits dengan mengkaji Jami’ Al Ushul Ibnu Atsir, dengan ditambah Ulum Al Hadits Ibnu Shalah dan Taqrib wa At Taisir Imam An Nawawi, dan sejenisnya. Kemudian menyeru, “Barang siapa sampai derajat ini, maka ia adalah muhaddits dari para muhadditsun atau Bukhari zaman ini,” dan dengan lafadz-lafadz bohong sejenisnya. Sesungguhnya yang kami sebutkan ini tidak dihitung sebagai muhaddits.”

Walhasil, memang tidak mudah mencapai derajat muhaddits, sehingga kita juga tidak bisa bermudah-mudah memberikan gelar ini kepada siapa pun. Sehingga tidak memposisikan seseorang bukan pada tempatnya, apalagi dalam kedudukan ilmiah ini. Atau bahkan sekarang ada orang-orang yang hanya bermodalkan sedikit pengetahuan tentang tahqiq al-hadits (penelitian hadits) mereka dengan mudahnya mencampakkan suatu amalan ke dalam keranjang bid’ah hanya karena mereka nilai dalilnya dha’if (lemah) hingga masalah kerapkali muncul dikalangan para pelajar ilmu hadis, terutama bagi mereka yang baru merasa bisa meneliti hadits sendiri yang kemudian menambah masalah tersebut semakin tidak karuan dan lalu malah ditambah dengan mendasarinya atas penilaian hadits sebagaimana menurut Syaikh Nashiruddin al-Albani yang kredibilitasnya tidak diakui oleh para ulama hadis.

9.
Pengirim: Dicky  - Kota: surabaya
Tanggal: 11/12/2014
 
asalamualaikum wr wb.
adahkah doa untuk orang yg membenci kita jadi tidak benci?
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Jika orang itu muslim, maka perbanyak bacakan shalawat:

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد.

Pas baca: wa alaa AALI ....! diniati untuk orang yg dituju dg harapan bisa berobah mencintai kita.

10.
Pengirim: heru wahyu  - Kota: pekanbaru
Tanggal: 10/12/2014
 
Bismillahirrohmabirrohiim...

Bagaimana hukum nya memberi/mengucap salam ( ?????????? ?????????? ) kpd khalayak ramai yg Ada diantara nya non Muslim, mis memberi salam kpd murid di kelas yg kebetulan Ada murid non Muslim, atau pembawa acara memberi salam kepads hadirin yg mana Ada diantara hadirin Ada yg non Muslim, syukron  
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Jika kondisinya seperti yg dicontohkan itu termasuk yg boleh, asalkan tidak diniati salamnya khusus disampaikan kepada yg non muslim.


First <<  1 [ 2 ] [ 3 ] [ 4 ] [ 5 ] [ 6 ] [ 7 ] [ 8 ] [ 9 ] [ 10 ] [ 11 ] [ 12 ] [ 13 ] [ 14 ] [ 15 ]   >> Last

 
  Situs © 2014 Oleh Pejuang Islam