URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
Hari ini: Senin, 28 Juli 2014 - Pejuang Islam, melestarikan kemurnian Ahlussunnah wal Jamaah
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Sekilas Profil
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV NU GARIS LURUS
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
SINKRETISME MEMBAHAYAKAN AKIDAH ISLAM 
  Penulis: Pejuang Islam  [6/7/2014]
   
Penjelasan Ulama Tentang Hadist Ghadir Khum 
  Penulis: Pejuang Islam  [1/7/2014]
   
INGIN PANJANG UMUR ? 
  Penulis: Pejuang Islam  [30/6/2014]
   
JAGALAH AGAMA ALLAH, NISCAYA ALLAH MENJAGAMU 
  Penulis: Pejuang Islam  [27/6/2014]
   
Pandangan Ulama: Hukum Pengkafiran Terhadap Para Shahabat 
  Penulis: Pejuang Islam  [25/6/2014]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Senin, 28 Juli 2014
Pukul:  
Online Sekarang: 16 users
Total Hari Ini: 380 users
Total Pengunjung: 1514492 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - MEDIA GLOBAL
 
 
ARTI TRADISI ISTIHLAL (HALAL-BIHALAL) 
Penulis: Mafahim [20/9/2010]
 
ARTI TRADISI ISTIHLAL (HALAL-BIHALAL)

Memang Halal Bihalal diadakan setahun sekali, tetapi seberapa efektifkah manfaat Halal Bihalal itu sendiri? Menurut hemat kita, semua itu tergantung niat dan wujud tradisinya. Terbukti selama ini masih banyak adanya perselisihan antar anggota rumahtangga yang disertai pemutusan hubungan, boikot antar keluarga, perang saudara dan sebagainya yang berdampak negatif dan dapat mendistorsi hablun minannas (human relations) yang seharusnya harmonis. Terutama ancaman ini kini menimpa hubungan antar umat beragama, khususnya internal umat Islam sendiri.

Realitas yang terjadi belum lama berselang adalah perpecahan dalam tubuh umat Islam yang melibatkan individu kaum muslim di mana-mana. Hal ini telah berakibat pertikaian hebat, bahkan berujung pembunuhan, justru mereka itu adalah sesama saudara sedarah. Maka dalam momen Idul Fitri-lah diharapkan adanya efektivitas dari Istihlal ini. Karena masih banyak perselisihan dan pertengkaran yang terjadi di tengah-tengah kita. Maka perlu adanya peningkatan untuk memahami makna Halal Bihalal, sehingga dapat mengerti apa tujuan dan arti dari silaturahmi ini.

Bagaimana cara kita memahami secara tepat? Solusinya adalah dengan suatu usaha untuk mensosialisasi tradisi yang baik ini secara intensif, juga dituntut harus mewujudkan hidup dengan penuh cinta dan kasih sayang serta saling bahu-membahu antara satu dengan yang lain, saling menolong terhadap mereka yang membutuhkan, dan adanya kerjasama yang baik di antara kita.

Karena begitu penting makna silaturahim atau Istihlal ( tradisi Halal Bihalal ) ini untuk kemaslahatan orang banyak, maka manusia sebagai makhluk sosial yang tidak bisa berusaha penuh (maksimal) tanpa bantuan orang lain, jelas harus hidup saling memahami dan tolong-menolong. Sebab itu kita harus menjaga keharmonisan, saling menghormati yang muda kepada yang lebih tua, serta saling menyayangi yang tua kepada yang lebih muda, seperti hadis Rasulullah SAW:

ليس منا من لم يرحم صغيرنا ويوقير كبيرنا

“Bukan dari golongan kami siapa yang tidak menyayangi yang kecil dan menghormati yang besar” .( HR>=………????)

عن محمد بن جبير بن مطعم اخبره انه سمع النبي صلي الله عليه وسلم يقول لايدخل الجنة قاطع

“Bahwa sesungguhnya Jubair bin Mut`im memberitahukan kepada Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tidak masuk surga orang yang memutuskan hubungan (famili).” ( HR. ??????
عن ابي هريرة رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلي الله عليه وسلم يقول من سره ان يبسط له في رزقه وان ينسا له في اثره فليصل رحمه

“Abu Hurairah berkata: Barang siapa suka diberi keleluasaan rizkinya, dan di akhirkan ajalnya, maka sambunglah (hubungan) kekeluargaan”. ( HR> ???????

Halal Bihalal secara etimologis berarti “boleh dengan boleh”, saling menghalalkan , saling melepaskan ikatan atau saling mencairkan hubungan yang sudah membeku. Tradisi berkumpul sekelompok orang Islam di Indonesia dalam suatu tempat tertentu untuk sama-sama bersalaman sebagai ungkapan saling meminta dan memberi maaf agar sesuatu yang “haram” menjadi “halal”. Kegiatan ini diselenggarakan setelah melakukan shalat Idul Fitri. Sedangkan arti Id kembali dan fitri berarti suci kembali pada kesucian.

Sebab asal kejadian manusia itu dulu adalah suci (fitri atau tidak membawa potensi yang jahat atau merusak/dosa), maka untuk mengembalikan ke “asal” itu, selain bertaubat untuk menyambung secara positif hubungan dengan Allah (hablun minallah) juga perlu juga menjernihkan kelapaan dan kekhilafan sesama manusia dengan cara bermaaf-maafan.

Walaupun istilah Halal Bihalal ini berasal dari Bahasa Arab dan telah melembaga di kalangan penduduk Indonesia, namun tradisi ini sebenarnya tidak ada di zaman Nabi SAW, dan juga pada zaman-zaman sesudahnya. Hingga akhir abad ke-20 ini pun, baik di negara-negara Arab maupun di Negara Islam lainnya, kecuali di Indonesia, tradisi ini tidak memasyarakat atau tidak ditemukan. Adapun di Indonesia tradisi ini baru mulai berkembang dalam bentuk “upacara resmi” sekitar akhir tahun 1940-an dan mulai berkesinambungan secara luas sampai pada tahun 1950. Halal Bihalal diselenggarakan hampir oleh seluruh lapisan masyarakat muslim Indonesia, baik oleh kelompok masyarakat dari suatu daerah tertentu, keluarga besar, kelompok kerja, kelompok pengajian, kelompok profesi, organisasi sosial-politik, lembaga, perusahaan swasta maupun instansi pemerintah. Dengan demikian yang tergabung dalam beberapa kelompok yang berada dapat saja mengikuti kegiatan Halal Bihalal dalam berbagai kelompok tersebut.

Kegiatan Halal Bihalal biasanya mulai diselenggarakan oleh kelompok-kelompok masyarakat tersebut seminggu setelah Idul Fitri (lebaran) hingga bulan Syawal. Namun ada juga yang menyelenggarakan setelah bulan Syawal. Tata cara Halal Bihalal biasanya dimulai dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur`an yang ada hubungannya dengan silaturahim, ceramah tentang Halal Bihalal, saling bersalam-salaman, ramah-tamah sambil menikmati hidangan, dan menyaksikan hiburan ringan (kasidah, atraksi anak-anak, atau drama sebabak).

Acara ini (menurut Ensiklopedi Islam, PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 1999) dibiayai bersama oleh seluruh anggota jika penyelenggaraannya adalah kelompok keluarga atau organisasi, baik dalam bentuk uang tunai, peralatan, maupun konsumsinya. Tetapi bila penyelenggaraannya adalah instansi baik pemerintah ataupun swasta, dibiayai dan ditanggung oleh instansi yang bersangkutan.

Hal ini disebabkan karena acara tersebut merupakan cermin keberhasilan pimpinan instansi dalam melaksanakan pembinaan. Terhadap bawahannya, di samping acara itu sudah dianggap kewajiban instansi yang bersangkutan dalam memberikan kesejahteraan pada karyawannya. Ahmad Haydar

 
 
 
Kembali Ke Index Berita
 
 
  Situs © 2014 Oleh Pejuang Islam