URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
Hari ini: Jumat, 19 Desember 2014 - Pejuang Islam, melestarikan kemurnian Ahlussunnah wal Jamaah
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Sekilas Profil
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV NU GARIS LURUS
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
MENGHORMAT PARA TAMU 
  Penulis: Pejuang Islam  [28/11/2014]
   
GROUP PEJUANG ASWAJA GARIS LURUS 
  Penulis: Pejuang Islam  [26/11/2014]
   
MENANGKAL KEBANGKITAN PKI (BAB 4) 
  Penulis: Pejuang Islam  [25/11/2014]
   
MENANGKAL KEBANGKITAN PKI (BAB 3) 
  Penulis: Pejuang Islam  [21/11/2014]
   
MENANGKAL KEBANGKITAN PKI (BAB 2) 
  Penulis: Pejuang Islam  [17/11/2014]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Jumat, 19 Desember 2014
Pukul:  
Online Sekarang: 28 users
Total Hari Ini: 906 users
Total Pengunjung: 2114658 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - MEDIA GLOBAL
 
 
NASEHAT UNTUK PARA PEMBACA AL QURAN  
Penulis: H.M. BASORI ALWI [18/9/2009]
 
NASEHAT UNTUK PARA PEMBACA AL QURAN

Dinukil dari kitab:
Nihayatu al Qauli al Mufidi fi Ilmi at Tajwidi
Karangan :
Asy Syekh Muhammad Makki Nashr


Alih Bahasa :

H.M. BASORI ALWI


Diterbitkan oleh :

Pesantren Ilmu Al Quran (PIQ)
Jln. Raya 107/123 Singosari Malang 65153
Telp (0341) 458340-458008


KATA PENGANTAR

Beberapa teman bertanya : Bagaimana hukumnya seorang imam Jum’at membaca kalimat dalam Al Quran yang semestinya dibaca panjang satu alif atau dua harakat (seperti mat thabi’i), namun dibaca pendek (satu harakat), sah kah shalatnya dan shalat makmumnya?. Saya jawab : Itu tafsil, kalau tidak salah seperti :“Maaliki” dibaca “maliki” tidak mengapa, karena diperbolehkan dan kedua bacaan itu sama benar. Kalau salah seperti: ”Shiraatha” dibaca ”shiratha” atau “Iyyaaka” dibaca ”iyyaka” ini batal shalatnya.

Alhamdulillah sesudah itu penulis temukan suatu keterangan di dalam kitab tajwib yang mu’tabar “Nihayatu al Qouli al Mufidi fi Ilmi at Tajwidi” karangan Asy Syekh Muhammad Makki Nashr di bawah catatan “FAEDAH” sebagaimana disajikan di tulisan ini untuk jadi pegangan bagi setiap pembaca Al Quran.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua pihak di dunia dan di akhirat. Amin.
        Singosari, 8 Februari 2009

                                                                    Penulis


Bismillahirrahmanirrahim

FAEDAH

Al akhdu ‘anisy syuyukhi ‘ala nau’ain
Mengambil qiraat (mempelajarinya) dari guru-guru Al Quran ada dua macam :
Ahaduhuma an yasma’a min lisani al masyayikhi wahuwa thariqatul mutaqaddimin
Pertama : Pelajar mendengarkan bacaan/ qiraat dari lisan guru-guru. ini adalah metode ulama’-ulama’ qiraat yang terdahulu.

Wa tsanihima an yaqraa fi hadharatihim wahum yasma’unaha. Wa hadza maslak al mutaakhirin.
Kedua : Pelajar membaca al Quran di hadapan guru-guru sedang guru-guru tersebut men-dengarkannya. Ini adalah metode ulama’-ulama’ qiraat belakangan.  
Wakhtulifa ayyuhuma awla ? wal adhhar anna at thariqata al Tsaniyah bi an Nisbati ila ahli zamanina aqrabu ila alhifdhi
Diperselisihkan yang mana dari kedua metode tersebut yang paling utama?. Pendapat  yang menang bahwa metode yang kedua dalam hubungannya dengan ahli jaman kita sekarang adalah lebih dekat kepada terpeliharanya bacaan Al Quran.

Na’am al jam’u bainahuma a’la lima dzukira fi “al Mashabiih” annahu jarat as Sunnah baina al Qurra’ an yaqraa al ustadz li yusmi’a al tilmidz tsumma yaqraa al tilmidzu.
Memang, mengumpulkan antara kedua metode tersebut  adalah lebih unggul karena apa yang telah di sebutkan di dalam kitab \"Al Mashabih\", bahwasannya telah berlaku As Sunnah (tradisi) antara para Qurra’ (ahli-ahli qiraat) bahwa hendaklah guru membaca untuk memperdengarkan bacaannya kepada pelajar kemudian pelajar membacanya (menirunya).
ِLianna rasulallahi ‘alaihi as salam qaala li Ubai bin ka’abin radhiyallahu ‘anhu annallaha amarani an aqraa al quran ‘alaika.

Karena Rasulullah s.a.w. telah bersabda kepada shahabat Ubay bin Ka’ab r.a. bahwa Allah telah menyuruhku agar aku membacakan Al Quran kepadamu.

Wal muradu min qiraatihi ‘alaihi as salam ‘ala ubai ta’limuhu wa irsyaduhu wahuwa awwalu qurrai as shahabah wa asyaddahum isti’dadan li talaqqufi al quran minhu shallallahu ‘alaihi wa sallam ka talaqqufihi ‘alaihi as sholatu wa as salam min amin al wahyi falidzalika khushsha bidzalika.

Dan yang dimaksud dengan qiraat atau bacaan Nabi ‘Alaihissalam kepada Ubay adalah mengajarkannya dan memberinya petunjuk, sedang Ubay adalah orang pertama dari qari’-qari’ shahabat dan orang yang paling sangat/kuat kesiapannya untuk menangkap cepat bacaan Al Quran  dari Rasulullah s.a.w seperti beliau cepat menangkap bacaan Al Quran dari Aminul Wahyi (Malaikat Jibril). Oleh karena itu Ubay ditunjuk khusus untuk hal tersebut.
Fatanabbah ya akhi wa aiqidh himmataka wa harrik ‘azimataka wa asta’id li fahmi ma yulqa ilaika wa qabuli ma yumla ‘alaika.

Maka ingatlah engkau wahai saudaraku !, bangkitkan himmahmu, hidupkan tujuanmu dan bersiagalah untuk memahami apa yang disampaikan kepadamu serta menerima apa yang dituntunkan kepadamu.
.
Fa inna an naasa fi qiraati al quran baina muhsinin ma’jurin wa musi-in aatsimin au ma’dzurin
Karena sesungguhnya manusia  dalam bacaan Al Quran itu antara pembaca yang baik yang diberi pahala, dan pembaca yang jelek (salah) yang berdosa atau yang terhalang (karena cacat lisan atau tak mungkin belajar).
Fandhur min man anta? Fain kunta min man muhsinun fasykurillaha  ta’ala fa innaka ma’jurun.

Maka lihatlah !  termasuk orang yang mana engkau ? Kalau engkau termasuk pembaca yang baik maka bersyukurlah kepada Allah s.w.t. karena engkau diberi pahala.
 
Wa inkunta minman hua mustaghnin binafsihi mustabiddun bira’yihi wa hadsihi muttakilun ‘ala ma alifahu min hifdhihi mustakbirun an ar ruju’I ila ‘aalimin yuqifuhu ‘ala tashhihi lafdhihi fala syakka annaka maqshurun maghrurun wa musiiun aatsimun ghairu ma’dzurin.

Dan kalau engkau termasuk orang yang merasa cukup dengan diri sendiri, sewenang-wenang dengan pendapat dan perkiraannya serta berpasrah diri pada apa yang ia biasakan dari hafalannya, lagi sombong dari rujuk (tidak mau kembali) kepada seorang ‘alim yang bisa membawanya kepada koreksi lafadz bacaannya, maka tidak diragukan lagi bahwa engkau adalah seorang yang teledor, tertipu diri, dan pembaca jelek (salah) yang berdosa  tanpa diampuni.

Fainkunta min man yuthawi’uhu al lisaanu au laa yajidu man yahdihi ila as shawabi bi al bayaani. Fa’lam anna Allaha ta’ala laa yikallfu nafsan illa wus’aha, laakin  yajibu ‘alaika an tajtahida juhdaka la’allaha yuhditsu ba’da dzalika amran.

Dan jika engkau termasuk orang yang tidak cocok lisannya dengan bacaan atau tidak menemukan orang yang memberinya petunjuk kepada bacaan yang benar dengan jelas, maka ketahuilah bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali menurut kemampuannya. Akan tetapi wajiblah engkau bersungguh-sungguh dengan ketekunan-mu boleh jadi Allah akan menjadikan sesudah itu perkara (kemudahan).

Fainna al amala bi at Tajwidi fardu ‘ainin laazimun li kullai man yaqraa syaian min al quran laa siyaman fi as shalaati.
Karena sesungguhnya mengamalkan tajwid itu fardhu ‘ain yang tetap bagi setiap orang yang membaca sedikit dari Al Quran lebih-lebih di dalam shalat.
Li anna Allaha ta’ala anzalahu bi at Tajwidi haitsu qaala :” Warattil al quraana tartiilaa” ai jawwidhu tajwiidan faidza kaana at Tajwidu fardhan fiihi yakunu maa yunaafiihi wahuwa al lahnu haraaman fiihi. Intaha (Barkawi)

Karena Allah s.w.t. telah menurunkannya dengan tajwid dimana Dia berfirman : “Dan tartilkanlah Al Quran itu dengan  sesungguh-sungguh tartil”. Artinya perbaguslah baca Al Quran itu dengan sebagus-bagusnya. Maka apabila tajwid itu suatu kewajiban di dalam baca Al Quran maka apa yang menafikannya yaitu lahn (salah baca) adalah haram. (Barkawi).



TEPAT DAN SALAH BACA  DALAM AL QURAN

Dinukil dengan ringkas oleh :
H.M. BASORI ALWI
Pengasuh Pesantren Ilmu Al Quran (PIQ)

Dari Kitab
at Tabyiin fi ahkam tilawat al Kitab al Mubiin
Li as Syaikh Abdu al Lathif faayazdaryan





Diterbitkan oleh :
PESANTREN ILMU AL QURAN (PIQ)
Jl. Raya 107/123 Singosari – Malang 65153
Telp (0341) 458340 – 458008
Email:piqsgs@telkom.net


KATA PENGANTAR

Bismilllahirrahmanirrahim

Alhamdulillah, dengan rahmat dan takdir Allah s.w.t. meski dengan segala keterbatasan, saya berhasil memenuhi harapan banyak sahabat dan teman untuk menghimpun seperti risalah ini.
Meski singkat, semoga bermanfaat. Sudah barang tentu menunggu tegur sapa untuk ke sempurnaan dan kebenarannya.
Himbauan para teman dan sahabat tadi, sudi kiranya para Khatib dan Imam Jum’at dimana-pun, untuk menyempatkan diri memusyawarah-kan Qira’ahnya sebagai orang-orang yang ber-tanggungjawab soal tersebut di dunia dan di Akhirat.

Terima kasih dan mohon maaf atas segala kekurangan dan kekurangsopanan.
Singosari, 1 Juli 2002
                                     
              Penulis

MEMBACA AL QURAN DENGAN BENAR
DAN HUKUMNYA SALAH BACA

Seluruh Ulama’ (Sahabat Nabi dan lainnya) sejak turunnya Al Quran hingga kini telah berijma’ (bersepakat) bahwa membaca Al Quran dengan benar (bertajwid) adalah wajib ’ain (fardhu ‘ain). Dan membacanya dengan salah (dengan lahn) adalah haram, dan wajib diingatkan dan dibetulkan berdasarkan Hadits Nabi s.a.w. :

‘An Abii ad Darda’ radhiyallahu ‘anhu qaala : sami’a an Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam rajulan qaraa fa lahana. Qaala shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Arsyiduu akhaakum” (akhrajahu al Hakim)
Dari Abi Darda’ r.a. Ia berkata : “Nabi s.a.w. telah mendengar seorang laki-laki membaca       Al Quran lantas salah baca”. Nabi s.a.w. pun bersabda : “Berilah petunjuk saudara kalian (Betulkanlah kesalahannya).”

MACAM – MACAM LAHN

1. Jali (kesalahan yang mencolok), yang Ulama’ khusus maupun orang ‘awam biasa mengetahuinya seperti :
(an ‘amta) dibaca (‘an ‘amta) atau
(Alhamdulillahi) dibaca (Alhamdalillahi) atau
(Waladhdhaalin) dibaca (Waladdaalin) atau
(Al ladziina) dibaca (Al laziina)  dan
(Haadza) dibaca (Haazaa)
 
2. Khofi (kesalahan ringan), seperti :
 (‘Alaihim) Kasrohnya Ha’ dibaca Hem, tidak   dibaca Him.
 ( Antum) Dlommahnya Ta’ dibaca Tom, tidak dibaca Tum.
 (Qul) Dlommahnya Qof dibaca Qol, tidak dibaca Qul.

Kesalahan ini hanya diketahui oleh Ulama’ khusus yang mengerti praktek tajwid.
Termasuk Khofi, adalah :
a. Tidak membaca Ghunnah (tidak mendengung- kan bacaan yang semestinya berdengung).
b. Membaca Qoshr (1 alif) yang semestinya dibaca 3 alif, seperti :
(Waladhdhaalin) dibaca َ(Waladhdhalin) dan sebagainya.

HUKUM SHALAT BAGI ORANG
YANG LAHN/SALAH BACA AL QURAN

1. Salah baca dalam I’rab (susunan kalimat) yang merusak arti, seperti :
(Al Baariu al Mushawwiru) dibaca (Al Baariu al Mushawwaru)
 (Innama yakhsyallaaha min ‘ibaadihi al ‘ulamaa-u)
dibaca
 (Innama yakhsyallaahu min ‘ibaadihi al ‘ulamaa-a)
Adalah membatalkan shalat menurut Ulama’ terdahulu. Sedangkan Ulama’ belakangan berselisih :
a. Menurut sekelompok mereka tidak memba- talkan.
b. Menurut sekelompok yang lain, mengikuti pendapat Ulama’ terdahulu yang mem-batalkan shalat adalah yang lebih berhati-hati.
Adapun mengikuti yang tidak mem-batalkan shalat adalah memberi kelonggaran karena manusia umumnya tidak mengetahui segi-segi I’rab.
Salah I’rab juga menurut umumnya Ulama’ adalah, tidak mentasydidkan yang tasydid dan tidak memanjangkan yang panjang itu sama dengan salah di dalam I’rab seperti baca :
(Rabbi al ‘Aalamiina) dan (iyyaka na’bidu)  atau ( Waladhdhaalin) dibaca 1 alif.
Menurut kebanyakan mereka hal tersebut membatalkan shalat. Sedangkan yang Ashah (paling benar) adalah tidak merusak shalat.
2. Salah baca huruf, seperti :
 (Ash haaba as sa’iir) dibaca  (Ash haaba asy Sya’iir)
 (Al Hayyu al Qayyumu) dibaca  (Al Hayyu al Qayyamu)
  (Qaswaratun)  dibaca terbalik  (Qawsaratun)
membatalkan shalat
3. Menambah huruf, seperti :
Yaasin *  wa al Quraani al Hakiim * wa innaka lamina al mursaliina
yang betul (innaka﴿ tanpa (wawu).
(Inna sa’yakum lasyatta) dibaca ( wa innaka sa’yakum la syatta)
tanpa (wawu)  membatalkan shalat.
4. Mengurangi huruf
a. Kalau tidak merusak arti, seperti :
 (jaa-athum) dibaca   (jaa-ahum)  tidaklah membatalkan shalat.
b. Kalau merusak arti, seperti :
(wa an Nahaari idza tajalla…..maa khalaqa adz Dzakara wa al Untsa)
yang seharusnya dibaca
(wa an Nahaari idza tajalla….wamaa khalaqa adz Dzakara wa al Untsa)
ini membatalkan shalat.


HUKUM BERMAKMUM
KEPADA IMAM YANG SALAH

Menurut Ulama’ Syafi’iyah, bermakmum kepada Imam yang salah baca yang tidak merusak makna, seperti :
(Lillaahi) dibaca (Lillaahu) adalah sah shalatnya. Kalau merusak makna, seperti : (An ‘amta) dibaca            (An ‘amti atau An ‘amtu) tidaklah sah shalatnya, baik imam tadi bisa belajar atau tidak.

Adapun makmum yang Qori’ (yang baik/ benar bacaannya) tidaklah sah bermakmum kepadanya. Sedangkan imam tadi bila bisa belajar, tidak sah shalatnya, dan bila tidak bisa belajar, maka sahlah shalatnya.

Adapun imam dan makmum yang sama-sama Ummy (tidak bisa baca dengan benar) dan tidak bisa belajar, maka sahlah shalat mereka.
Orang  yang salah baca fatihah tanpa sengaja (sabqul lisan) dan tidak mengulangi lagi dengan benar, maka tidak sahlah shalatnya dan juga shalat makmumnya, jika keduanya sama-sama mengetahuinya.

Bila salah baca diluar fatihah, seperti membaca :
“ Inna Allaha bariiun min al Musyrikiina wa rasulihi”
yang semestinya dibaca (wa rasuluhu) maka sahlah shalatnya dan juga shalat makmumnya, jika keduanya tidak bisa belajar atau bodoh tentang keharaman membaca demikian itu, atau lupa kalau keduanya di dalam shalat.

Adapun lahn pada lain fatihah yang karena lupa atau karena bodoh atau karena tak mampu baca benar, maka sahlah shalatnya dan sahlah qari’-qari’ bermakmum kepadanya dengan makruh.

Semoga tulisan ini membawa manfaat dan barakah
kepada kita semua yang senantiasa mencari kebenaran. Amin.




 
 
 
Kembali Ke Index Berita
 
 
  Situs © 2014 Oleh Pejuang Islam