URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
Hari ini: Jumat, 29 Agustus 2014 - Pejuang Islam, melestarikan kemurnian Ahlussunnah wal Jamaah
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Sekilas Profil
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV NU GARIS LURUS
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
JENJANG PERKEMBANGAN ANAK 
  Penulis: Pejuang Islam  [16/8/2014]
   
GURU PENGAJAR vs GURU PENDIDIK 
  Penulis: Pejuang Islam  [12/8/2014]
   
KEBENARAN ITU SEBUAH KENISCAYAAN 
  Penulis: Pejuang Islam  [9/8/2014]
   
DUNIA YANG RENTA 
  Penulis: Pejuang Islam  [8/8/2014]
   
Luthfi Bashori Surati Kapolda.  
  Penulis: Pejuang Islam  [4/8/2014]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Jumat, 29 Agustus 2014
Pukul:  
Online Sekarang: 17 users
Total Hari Ini: 401 users
Total Pengunjung: 1616877 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - MEDIA GLOBAL
 
 
Kaligrafi, Dari Mana Asalnya?  
Penulis: N. Rahmi [18/9/2009]
 
Kaligrafi, Dari Mana Asalnya?

N. Rahmi

Apabila kita memasuki sebuah masjid, sudah pasti pandangan kita akan menyorot rangkaian tulisan Arab menghiasi dinding. Huruf-hurufnya dirangkai artistik, ornamental, dan indah. Tulisan itu menambah nuansa kesejukan tempat ibadah. Membuat para hamba yang hendak menghadap Allah merasa jenak dan betah. Itulah rangkaian tulisan indah yang dikenal dengan istilah Kaligrafi.

Ungkapan kaligrafi diambil dari bahasa Latin kalios yang berarti indah, dan graph yang berarti tulisan atau aksara. Secara umum, kaligrafi adalah kepandaian menulis elok, atau tulisan elok. Kaligrafi Islam adalah seni menulis huruf Arab yang sesuai dengan kaidah khaththiyah dan imla’iyah serta mengandung unsur spiritual yang mampu mendekatkan dan menyatukan manusia dengan alam transenden ketuhanan, yaitu Allah.

Al-Akfani mengatakan bahwa kaligrafi adalah suatu ilmu yang memperkenalkan bentuk-bentuk huruf tunggal, letak-letaknya, dan cara-cara merangkainya menjadi sebuah tulisan yang tersusun; atau apa-apa yang ditulis di atas garis-garis, bagaimana cara menulisnya dan menentukan mana yang tidak perlu ditulis; mengubah ejaan yang perlu digubah dan menentukan cara bagaimana untuk menggubahnya.

Keahlian dalam bidang kaligrafi termasuk kesenian. Seorang yang ahli dalam tulisan indah adalah seniman. Tulisan indah adalah kekayaan dan kebanggaan bagi pemiliknya. Di masa keemasan Islam, tulis indah menjadi syarat utama bagi calon pejabat sekretaris pemerintahan Islam. Dengan sendirinya tulisan Arab menjadi bagian penting dalam perkembangan kebudayaan dan peradaban Islam.

Histori Kaligrafi

Ketika manusia belum mengenal alat-alat komunikasi modern, huruf atau tulisan menjadi media pengantar yang efektif. Bahkan menjadi bagian terpenting bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Tulisan Arab yang ada saat ini sangat jauh berbeda dengan tulisan Arab dahulu.

Pada awalnya bangsa Himyar dari Yaman memiliki sejenis tulisan yang dinamakan tulisan al-masnad. Setiap hurufnya berdiri sendiri dan terpisah dari huruf lainnya. Bentuk tulisan ini bertambah lama semakin membaik, terlebih pada masa pemerintahan al-Thababi’ah. Pada waktu itu tulisan Himyar mencapai bentuknya yang indah (artistik).

Sebelum orang mengenal mesin percetakan dan mesin tulis, semua buku ditulis dengan tangan, termasuk kitab suci al-Qur’an. Al-Qur’an menjadikan kaligrafi sebagai seni Islam yang berestetika tinggi dan bersifat Ilahiyah. Keadaan ini secara tidak langsung memotivasi umat Islam untuk menyempurnakan dan memperindah bentuk tulisan Arab.

Jauh sebelum kaligrafi berkembang di negara lain, Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw. adalah orang yang lebih banyak menunjukkan dimensi batin pesan Islam. Sahabat yang sekaligus menantu Rasulullah ini dianggap sebagai peletak dasar seni seperti kaligrafi. Beliau berkata, “Keindahan tulisan adalah kefashihan tangan dan keluwesan fikiran”. Statemen Sayyidina Ali tentang filosofis tulisan indah ini memotivasi umat Islam untuk sedapat mungkin menulis dengan model yang artistik.

Selanjutnya, tradisi itu mulai marak pada masa Dinasti Bani Umayyah di Damaskus. Ada dua kaligrafer terkenal di sana, Quthbah al-Muharrir dan Khalid bin al-Hayyaj. Begitu pula pada masa Dinasti Bani Abbasiyah, lahir tokoh kaligrafer seperti Ibnu Muqlah, al-Dahhak bin Ajlan, Ishaq bin Hammad, Yusur bin Sijzi, Abu Abd Allah, Ibnu Bawwab, dan lain-lain. Mereka adalah pelopor maraknya kaligrafi.
Pada mulanya, manusia hanya menjadikan pohon papyrus sebagai media penulisan. Pada saat itu telah dikenal dua tipe tulisan, yaitu gaya Naskhi dan gaya Kufi. Dua model inilah cikal bakal perkembangan seni kaligrafi.

Gaya Kufi lebih popular digunakan di Mekah, Madinah, dan Kufah. Gaya Kufi sering ditemukan dalam bentuk pahatan atau ukiran pada makam, prasasti, dan mata uang. Pada abad ke-11 M, di Iran muncul jenis huruf Kufi yang telah mengalami perkembangan dari segi artistiknya, menjadi lebih panjang dan ramping, yang dikenal dengan sebutan Qarmithian Kufque. Model ini dianggap sebagai bentuk terbaik dari contoh tulisan khat Arab. Selanjutnya, gaya Naskhi yang berkembang hingga sekarang ternyata lebih populer dipakai di dunia Islam.

Pada abad ke-14 M, sejalan dengan kian mengglobalnya pemakaian tulisan Arab, telah membawa perubahan pada cara dan bentuk tulisan itu sendiri. Misalnya dari kota Kufah disebut dengan tulisan Kufi. Dari Baghdad disebut dengan tulisan Baghdadi. Dari Persia disebut dengan tulisan al-Farisi. Dari Spanyol disebut al-Andalusi. Sementara tulisan yang digunakan dalam administasi pemerintahan, perpustakaan, dan hiasan disebut tulisan Diwani, Naskhi, Raihani, dan lain-lain.

Seiring perkembangan penyebaran Islam, maka tulisan Arab yang kian sempurna pun turut mengalami percepatan. Tulisan Arab adalah tulisan yang fleksibel, elastis, dan berirama, sehingga mudah dikembangkan dengan berbagai variasi. Huruf demi huruf mengandung nilai keindahan, mempunyai gaya estetis yang dapat diubah dengan mudah dan indah.


Di Indonesia kaligrafi sangat berguna dalam pencarian informasi masa lampau, baik tentang masalah-masalah perkembangan masyarakat Islam Indonesia, maupun tentang tokoh-tokoh dan data tahun wafatnya. Contohnya makam Fatimah binti Maimun. Makam tertua di Indonesia yang ditemukan di Gresik, bertuliskan huruf Kufi yang memberikan bukti tertulis tentang adanya permukiman dan komunitas Islam di Gresik.

Kemudian makam Sultan Ibrahim Mansyur Shah yang terletak di komplek museum Aceh yang memakai jenis kaligrafi Tsuluts dan Naskhi. Seni kaligrafi yang ditulis seperti contoh-contoh di atas sangat kaya akan unsur ornamental yang dipahatkan pada batu, bahkan terkadang bertatawarna.

Ragam Seni Kaligrafi

Jenis seni kaligrafi sangat beragam. Sebagian ahli mengatakan bahwa jenis kaligrafi mencapai 70 ragam. Namun dari sekian itu, tidak semuanya popular. Bahkan ada di antaranya yang sudah tidak digunakan lagi. Beberapa jenis kaligrafi yang sering dijumpai sampai saat ini adalah:

    Naskhi, gaya ini dapat kita kenali bila kita membaca Al-Qur’an, dan khusus untuk menulis karya ilmiyah.
    Kufi, dilihat dari namanya, jenis tulisan ini berasal dari Kufah, Irak. Bentuknya kaku (kubistik). Biasanya tulisan ini digunakan untuk menghiasi kubah, menara, mesjid, madrasah, gedung pemerintahan, dan sebagainya.
    Riq’ah, model ini sangat cocok digunakan untuk tulisan cepat.
    Farisi, tulisan gaya Persia ini masih dipakai di India untuk menulis dalam bahasa Urdu.
    Tsulutsi, jenis ini juga digunakan pada kiswah Ka’bah yang dituliskan dengan benang emas.
    Diwani, dari modelnya yang melingkar dan halus dapat diduga model ini khusus digunakan untuk menulis hal-hal yang sangat berharga.
    Diwani Jali, merupakan model diwani dengan variasi yang lebih banyak.
    Ijazi, gaya tulisan ini adalah  perpaduan antara naskhi dan tsulutsi.

Estetika dan Spiritualitas Kaligrafi

Seni kaligrafi adalah seni merangkai garis-garis dan titik-titik dengan berbagai bentuk dan irama yang tidak pernah berhenti merangsang ingatan manusia kepada Allah. Oleh sebab itu, karena keindahan dan kelebihannya, seni kaligrafi sering diperkenalkan mulai dari perabot rumah sehari-hari sampai kepada Al-Qur’an, dan di dinding mesjid.

Kaligrafi adalah seni Islam yang sangat penting untuk dikembangkan. Begitu banyak peran seni kaligrafi dalam kehidupan sehari-hari. Kaligrafi tidak hanya sebagai penghias suatu ruang, namun lebih dari itu, kaligrafi yang berisikan kata-kata penuh hikmah yang akan mendekatkan hamba dengan Allah.

Bagi pengagumnya, kaligrafi mampu mengurangi kepenatan dari aktivitas sehari-hari, menengangkan hati, menentramkan jiwa. Selain indah, kaligrafi dapat menyuarakan wahyu Islam. Kaligrafi  cerminan dari respon seorang hamba terhadap pesan-pesan Ilahi. Kaligrafi merupakan bentuk visual dari realitas-realitas spiritual yang terkandung di dalam wahyu Islam. Kaligrafi memberi pakaian luar bagi firman Ilahi di alam nyata. Melalui penulisan dan pembacaan huruf-huruf , kata-kata, dan ayat-ayat, manusia dapat meleburkan diri dan kembali kepada Allah.

Al-Qur’an sebagai wahyu Allah yang ditulis dengan tulisan indah (kaligrafi) membantu seorang mukmin untuk merasakan esensi ketuhanan dan keagungan wahyu. Karena ayat-ayat Al-Qur’an merupakan kekuatan atau mukjizat, maka huruf-huruf dan kata-kata yang dituliskan dengan seni kaligrafi memerankan suatu mukjizat dan memperlihatkan kekuatan-kekuatan tersendiri. Setiap huruf mempunyai ‘karakter sendiri’ dan melambangkan sifat Allah.

Huruf alif dengan bentuk vertikalnya melambangkan Allah Yang Maha Kuasa dan Prinsip Transenden yang dari-Nya segala sesuatu berasal. Itulah alas an filosofis mengapa alif menjadi sumber abjad dan huruf pertama dari nama Tuhan Yang Maha Agung, yaitu Allah.
Huruf alif yang ditarik, akan mengingatkan bahwa hanya alif dari Allah yang memenuhi fikiran dan hati. Setiap titik yang terangkai, mengingatkan bahwa Allah ada dan tiada yang menyertai-Nya. Dia adalah Dzat yang sekarang, sebagai mana Dia yang dahulu. Titik menciptakan alif, dan alif menciptakan seluruh huruf lainnya. Jika titik merupakan simbol Dzat Tuhan, maka alif melambangkan Keesaan-Nya.

Huruf ba’, huruf kedua dari abjad Arab. Garis mendatarnya melambangkan daya penerimaan dan dimensi keindahan yang menyempurnakan keagungan. Dan titik yang ada di bawah ba’ melambangkan Pusat Teragung yang berasal dari-Nya segala sesuatu berasal dan pada-Nya segala sesuatu kembali.

Jika al-Qur’an adalah Kalam Allah yang dihembuskan ke dalam hati Nabi Muhammad, kemudian berlanjut ke dalam lubuk hati para sahabat, lalu pada generasi selanjutnya, maka kaligrafi merupakan gema atau respon terhadap firman Allah tersebut.

Seni kaligrafi mampu menambah estetika Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kitab suci agama Islam berisikan perintah yang harus dilaksanakan oleh manusia dan larangan yang harus dijauhi manusia, serta pedoman untuk hidup bahagia di dunia dan akhirat. Dengan memperindahnya membuktikan rasa ingin memuliakan dan menumbuhkan motivasi untuk mengamalkan seluruh isinya.

Pesan estetis-spritual yang dapat dibaca dari seni kaligrafi di antaranya, Pertama, kaligrafi dipelopori oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Kedua, kaligrafi ditulis oleh tangan-tangan manusia yang terus-menerus dipraktikkan secara sadar sebagai peniruan manusia tehadap tulisan wahyu Allah. Ketiga, kaligrafi didasari oleh ilmu pengetahuan tentang bentuk-bentuk dan irama-irama dengan ukuran yang tepat, yang setiap hurufnya dibentuk dari sejumlah titik dengan gaya pasti namun berbeda.

Bagi seorang kaligrafer, tatkala menarik sebuah garis dari kanan ke kiri, manusia sedang bergerak dari garis pinggir menuju ke hati yang juga terletak di sebelah kiri tubuh. Dengan berkonsentrasi pada bentuk penulisan kata-kata yang indah, manusia juga membawa unsur-unsur jiwanya yang bercerai-berai, kembali ke pusatnya.

Keindahan kaligrafi berasal dari sumber segala keindahan. Hati dan jiwa seorang hamba disegarkan oleh keagungan, keselarasan, irama, dan bentuk-bentuk kaligrafi yang mengelilingi kaum Muslimin. Di mana ia hidup dalam masyarakat Muslim yang mengungkapkan keindahannya pada lembaran-lembaran al-Qur’an, dinding-dinding masjid, arsitektur, permadani, dan perabot rumah tangga.

Kaligrafi sebagai induk seni suci Islam merupakan karunia Allah. Karya seni ini merupakan media bantu untuk merenungkan Yang Maha Esa.

Mengaktualisasikan kaligrafi tidak hanya mempelajari, mendalami, atau harus membuat karya kaligrafi, tetapi dapat juga dikembangkan dengan cara memiliki dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari, serta mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Dengan mempelajari kaligrafi, kita tidak hanya menghasilkan karya yang indah, menulis huruf Arab dengan baik dan benar, bahkan balasan apa yang lebih pantas bagi orang yang memelihara ayat-ayat al-Qur’an, hadis Nabi, kata-kata penuh hikmah, jika bukan pahala dan cinta dari Allah?

 
 
 
Kembali Ke Index Berita
 
 
  Situs © 2014 Oleh Pejuang Islam