KESEDIHAN BENCANA ALAM YANG DINILAI NIKMAT
Luthfi Bashori
Saat ini tengah terjadi bencana nasional berupa banjir Sumatera, letusan gunung Semeru dan sejumlah bencana alam di berbagai wilayah Indonesia yang melanda rakyat. Sekalipun pemerintah masih belum maksimal dalam membantu korban bencana, namun sudah ada sekelompok relawan yang tetap eksis dan sigap dalam membantu kebutuhan korban bencana alam tersebut.
Untuk merigankan beban psikologis korban bencana alam itu, ada baiknya umat Islam, terutama yang langsung terdampak bencana alam, untuk memahami pesan hadits Nabi SAW berikut ini.
Rasulullah SAW bersabda: “Bukan orang mukmin yang sempurna imannya, yaitu seseorang yang tidak menganggap musibah sebagai nikmat, dan kemakmuran sebagai musibah.” (HR. Imam Thabrani melalui Sayyidina ibnu ’Abbas R.A)
Di balik musibah itu terdapat nikmat, dan dibalik kemakmuran itu terdapat musibah, demikianlah menurut anggapan orang yang benar-benar sempurna imannya.
Dikatakan demikian karena tiada suatu musibah pun, baik yang paling kecil maupun yang paling besar, melainkan orang yang bersangkutan mendapat pahala dari Allah jika ia bersabar. Dan tiada suatu harta pun yang dimiliki oleh seseorang melainkan kelak di hari kiamat ia akan menjalani hisab/perhitungan tentangnya, sekalipun dari hasil yang halal, terlebih lagi jika dari hasil yang haram, maka orang yang bersangkutan akan disiksa di neraka jika melanggar syariat Allah.
Kesabaran para korban bencana alam, bagi yang ditaqdirkan wafat dan ia tetap menjaga keimanannya kepada Allah, maka akan dicatat sebagai mati syahid. Sedangkan bagi korban bencana ala yang masih bertahan hidup, jika ia sabar dalam menjalani ujian Allah yang menimpa dirinya, makai a akan mendapatkan ampunan dari Allah, serta mendapatkan pahala besar atas kesabarannya kehilangan harta, rumah, bahkan hingga kehilangan anggota keluarganya.